Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Budapest, 28 Februari 2025

            Seperti yang teman-teman tau, saya saat ini sedang menjalani studi sebagai awardee Erasmus+ di Hongaria selama satu semester ke depan. Jika kalian diterima sebagai mahasiswa Erasmus di salah satu negara Uni Eropa (EU), kalian bisa gunakan juga kesempatan ini untuk jalan-jalan sekeliling Eropa dengan Visa Schengen yang kalian punya. Apalagi jikalau kalian Erasmus dengan beasiswa (hibeli), makin besar tuh kesempatannya untuk jalan-jalan. Jadi uang beasiswanya dipakai untuk hidup sehari-hari, sedangkan tabungan yang sudah kalian sisihkan sebelum berangkat ke negara tujuan, bisa kalian gunakan untuk bersafari. Nah, sebenarnya gimana sih caranya biar bisa dapat beasiswa program pertukaran pelajar Erasmus ini? Dan gimana sih proses lengkapnya? Benefitnya apa aja? Tulisan ini akan berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini serta memberikan kalian penjelasan komprehensif tentang program Erasmus ini, dan kenapa sih kesempatan join Erasmus ini gak boleh banget kita sia-siakan. Jadi, baca sampai habis, guys!

Mari berkenalan dulu dengan program Erasmus+ ini. Erasmus+ adalah program pendidikan, pelatihan, kepemudaan, dan olahraga yang diinisiasi oleh Uni Eropa untuk meningkatkan kerjasama antar negara dan membangun komunitas akademik serta profesional yang kuat bagi negara EU dan mitranya. Selain untuk belajar secara akademik, para pemuda Eropa juga diharapkan untuk mempelajari budaya negara lainnya sebagai bagian dari upaya pengintegrasian Eropa (European Integration). Untungnya bagi kita pelajar di Turki, walaupun bukan bagian dari EU, Universitas di Turki mayoritas menjalin kemitraan dengan banyak universitas di Eropa sebagai bagian dari program Erasmus+ ini. Hal ini karena Turki berstatus sebagai Candidate Country yang sudah banyak memperoleh fasilitas dan jalinan kerjasama dengan Uni Eropa. Selain Turki dan negara kandidat Uni Eropa lainnya seperti Ukraina dan Albania, Uzbekistan dan Meksiko juga mengirim banyak mahasiswa untuk program Erasmus+ ini setiap semesternya. Bahkan, beberapa universitas di Indonesia juga sudah ada yang mengirimkan mahasiswanya untuk program ini ke banyak negara EU dan mitranya. Tapi, tentu saja kesempatannya jauh lebih kecil dari kita yang belajar di Turki. Makanya, ini kesempatan yang wajib kita manfaatkan dengan baik, guys!

Ada banyak jenis program Erasmus+ yang ditawarkan untuk para pelajar, khususnya di bidang akademik, meliputi program pertukaran pelajar seperti saya ini, program magang, Erasmus Mundus Joint Master Degree bagi mahasiswa S2, dan juga mobilitas studi bagi para dosen dan akademisi di kampus. Selain bidang akademik, ada juga bidang kepemudaan seperti Youth Exchange dan European Solidarity Corps (ESC). Tapi program-program tersebut biasanya berdurasi pendek, tidak seperti Erasmus+ bidang akademik yang bisa berdurasi berbulan-bulan. Selain yang saya sebutkan di atas, Ada juga program Erasmus yang diperuntukkan untuk pelatihan dan pengembangan profesi, serta Erasmus untuk kerjasama Internasional dan penelitian antar kampus, guna meningkatkan kualitas universitas yang ada di wilayah EU dan mitranya. Jikalau kita lihat program-program yang ditawarkan di atas, peluang kita sebagai mahasiswa Indonesia di Turki ada pada program pertukaran pelajar dan magang. Biasanya, dua program inilah yang diincar oleh para mahasiswa Indonesia di Turki. Untuk kesulitannya, tentu saja program pertukaran pelajar lebih mudah untuk didapatkan daripada program magang. Karena untuk program magang, setau saya, kita harus mencari Perusahaan tempat magang tujuan dulu yang bisa menerima kita. Dan pada proses visanya pun kadang ditolak sama kedutaan karena berbagai alasan. Maka dari itu, gak banyak orang Indonesia yang dapat kesempatan mengikuti program magang Erasmus ini.

Seperti yang saya paparkan di atas, peluang kita untuk bisa belajar di negara Eropa dengan beasiswa Erasmus sangat terbuka. Karena untuk mendapatkannya tidak sesulit program magang, makanya selain saya, ada cukup banyak juga mahasiswa Indonesia di Turki yang belajar di Eropa sebagai pelajar Erasmus. Tentunya, kami ditempatkan di negara yang berbeda-beda tergantung dengan di mana kampus kami menjalin MoU. Dan tiap universitas juga, banyaknya MoU yang dijalin untuk Erasmus ini juga beda-beda. Hal ini juga mempengaruhi peluang kalian untuk bisa pertukaran pelajar Erasmus+ ini. Karena semakin dikit MoU yang dipunyai oleh kampus kita, semakin kecil kuota yang akan tersedia untuk kita bisa Erasmus. 

Mari kita langsung lihat ke pengalaman saya sendiri. Kampus saya, Eskişehir Osmangazi Üniversitesi (ESOGÜ) merupakan salah satu kampus pengirim mahasiswa terbanyak untuk kegiatan Erasmus ini. Untuk urutan 5 besarnya sendiri sebagai berikut: Anadolu Üniversitesi, Ankara Üniversitesi, Ege Üniversitesi, Yıldız Teknik Üniversitesi, dan Sakarya Üniversitesi. Bisa dibilang, mahasiswa yang berkuliah di universitas tersebut memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bisa mengikuti kegiatan Erasmus. Di ESOGÜ, hampir semua jurusan membuka kuota untuk Erasmus setiap semesternya. Tiap-tiap jurusan biasanya mengirim antara 2-5 orang setiap satu semester sekali, dengan mayoritasnya berstatus hibeli (funded/dibiayai). Di jurusan saya, prodi Hubungan Internasional semester musim semi ini (Spring Semester), mengirim 5 orang untuk program pertukaran pelajar Erasmus+ ini. 1 orang ke Kodolanyi Janos University, Hungary yang itu saya sendiri (hibeli), 2 orang ke Academia WSB di Poland (hibeli), tapi sayang salah satu orang visanya ditolak oleh kedutaan. Dia orang Turkmenistan, teman saya di kelas. Sayang banget dia gak berangkat. Sedangkan satunya Alhamdulillah bisa berangkat. Dia orang Turki, orang dengan IPK tertinggi di kelas. 2 lagi ke Makedonia Utara, tapi yang ini hibesiz atau self-funded, yang kalau saya dapat ini sih, saya gak mau berangkat. Gak ada duitnya hehehe. Yang ada bokek pulang-pulang ya... Mana Makedonia Utara kan bukan negara Schengen Area, kan. Gimana nanti kita ke Madrid nya, hehe?

Mungkin ada yang bertanya, apakah ada perbedaan kuota antara mahasiswa lokal dan mahasiswa Internasional terkait peluang Erasmus ini? Jawabannya, tidak. Semua mahasiswa yang terdaftar di kampus, tanpa melihat kewarganegaraan, ras, agama, dan indikator sejenis lainnya. Jadi semua punya peluang yang sama besarnya untuk program ini.

Untuk bisa mendaftar program ini, kalian butuh setidaknya IPK 2,2 terhitung ketika kalian mendaftar. Kalian juga harus mengikuti ujian Bahasa Inggris yang tersedia di kampus kalian sebagai persyaratan (self-assesment test). Tiap kampus tentu mekanisme ujiannya berbeda-beda, jadi kalian harus update terus nih infonya. Biasanya sih, informasi Erasmus di-share di website International Relations Office (IRO) kampus masing-masing.

Dalam mendaftar, kalian perlu untuk memperhatikan berapa banyak kuota yang tersedia di jurusan kalian, berapa banyak yang diterima dengan hibeli, dan berapa banyak yang hibesiz. Lalu biasanya orang-orang yang diterima ini, IPK nya berapa. Kenapa perlu dipertimbangkan? Karena nih, misalkan dalam konteks jurusan saya di HI ESOGU, IPK di bawah 3 itu tampaknya sulit untuk bisa lulus Erasmus+. Makanya, saya baru mendaftar itu ketika IPK saya sudah menyentuh angka 3. Tapi, di banyak jurusan lain, banyak kok yang IPK di bawah 3 yang bisa berangkat. Tergantung daya saing mahasiswa di tiap jurusan. Jadi, hal ini bisa jadi perhatian teman-teman nih supaya kalian punya target tersendiri buat IPK kalian. Selain IPK, indikator penentu lainnya adalah ujian Bahasa Inggris kalian. Ini nih, yang perlu dimanfaatkan. Karena, tidak banyak mahasiswa Turki yang Bahasa Inggris nya bagus. Terutama mahasiswa di luar Ankara dan Istanbul. Jadi, walaupun mungkin kalian kalah dari segi IPK, kalian bisa menang jauh di nilai tes Bahasa Inggris.

            Di samping itu, kalian juga harus memperhatikan universitas tujuan kalian. Karena beberapa universitas hanya memberi kuota untuk semester musim semi (Spring Semester), tapi tidak menyediakan kuota di semester musim gugur (Fall Semester), begitupun sebaliknya. Selain kualitas kampus, negara tempat kampus itu berada juga penting, menurut saya. Contoh nih, kualitas kampus Erasmus di HI ESOGU yang Polandia itu, jauh lebih bagus dari kampus saya saat ini di Hongaria. Tapi, visa pelajar Hongaria itu lebih gampang untuk keluar. Seandainya saya kemarin daftar di Polandia, bisa jadi saya gak berangkat! Saya sih, prioritasnya yang penting berangkat dulu; Hibeli (fully funded); dan berada di negara wilayah Schengen Area biar bisa jalan-jalan mudah. Prioritas kita kan Santiago Bernabeu. Ingat selalu 3 M, Mekkah Madinah Madrid. Hahaha. Urusan kualitas kampus, itu belakangan. Karena kita di sini mengutamakan untuk cari pengalaman baru.

            Singkat cerita, saya diterima di program pertukaran pelajar Erasmus+ ini dengan IPK 3,14 dan nilai Bahasa Inggris 83 (C1). Setelah diterima, langkah selanjutnya apa? Tentunya, setelah pengumuman kelulusan, akan ada masa penyaringan selama beberapa minggu, bagi yang mungkin gak jadi ambil Erasmus+ karena berbagai alasan, misal karena dia hibesiz atau bentrok dengan projek dia yang lain, dipersilakan untuk mengundurkan diri. Tapi, mereka akan dikenakan pengurangan poin untuk pendaftaran mereka selanjutnya. Biasanya kalau kejadiannya seperti ini, kuotanya akan dioper ke pendaftar lainnya yang berstatus sebagai yedek atau cadangan, apabila ada seseorang yang mundur. Setelah fiksasi kandidat Erasmus+ rampung, akan ada orientasi pengarahan dari pihak IRO terkait syarat-syarat yang harus kita persiapkan, dan langkah-langkah yang perlu kita lakukan, serta berapa dana yang bakal kita dapat nanti sebagai beasiswa dari Erasmus+.   

            Untuk negara tujuan Erasmus+ ini, dibagi menjadi tiga kategori negara yang berpengaruh pada uang beasiswa yang bakal didapat. Negara-negara Eropa Barat dan sebagian Eropa Tengah, pokoknya negara-negara yang pakai Euro sebagai mata uangnya masuk ke kategori negara pertama dan kedua. Beasiswa yang akan didapat untuk mahasiswa Erasmus+ di negara-negara ini adalah sebanyak 600 Euro per bulannya. Sedangkan untuk kategori negara ketiga, mereka negara yang tidak memakai Euro sebagai mata uangnya sehingga biaya hidupnya cenderung lebih murah, seperti Hongaria, Polandia, Romania, dan Bulgaria. Atau negara yang sudah masuk ke EuroZone (mengadopsi Euro sebagai mata uang mereka) tapi masih proses adaptasi sehingga biaya hidupnya masih relatif murah, seperti Lithuania dan Kroasia. Negara-negara yang masih berstatus sebagai negara kandidat (Candidate Countries) EU, seperti Turki, Serbia, dan Makedonia Utara tentu saja masuk ke kategori ketiga karena negara-negara ini secara biaya hidup memang jauh lebih murah daripada negara Uni Eropa pada umumnya. Beasiswa yang akan didapat untuk mahasiswa Erasmus+ di negara-negara kategori ketiga ini adalah sebanyak 450 Euro per bulannya.

            Selain dari uang bulanan, kita juga akan diberi uang akomodasi untuk tiket pesawat sesuai dengan seberapa jauh jarak antara negara pengirim dengan negara tujuan. Contohnya, jarak antara Turki-Hongaria adalah sejauh 1000an KM, sehingga saya mendapat uang sejumlah 309 Euro untuk tiket PP pesawat saya. Jadi ada peruntukkannya sendiri, misal kalau jaraknya 500 sampai 1999 KM, maka dapatnya 309 Euro, kalau lebih jauh lagi, contoh untuk jarak 2000 sampai 2999 KM, maka akan dapat 395 Euro. Gitu... Jadi emang beda-beda. InsyaAllah segitu cukup ya, bahkan bakal tersisa beberapa Euro yang bisa kita pakai buat dana darurat. Angka ini bisa saja berubah ya guys, tergantung dengan perjanjian antar kampus bagaimana, jadi stay updated aja!

            Total beasiswa yang saya dapat adalah 2619 Euro, terdiri dari 450x5= 2250 Euro uang bulanan, 309 Euro uang PP pesawat, dan 60 Euro yang saya gak tau peruntukkannya kemana (mungkin bonus). Terlihat banyak, kan? Sampai kalian tau kalau di awal, kalian hanya akan mendapat 70% dari total beasiswa atau sekitar 1883 Euro saja, sedangkan 30% nya baru bisa diambil ketika kalian sudah menyelesaikan studi kalian dan kembali lagi ke Turki. Itu artinya, perbulan uang yang bisa kalian pakai adalah hanya sekitar 315 Euro saja atau sekitar 5,4 juta rupiah. Uang sewa rumah saya saja 184 Euro atau sekitar 3,1 juta rupiah. Sisanya berarti 2,3 juta rupiah sebulan kan. Untuk biaya hidup di Eropa selama sebulan, sangat sulit untuk bisa hidup dengan uang segitu, meskipun kita sangat-sangat hemat, gak pernah jajan di luar, masak di rumah terus, kayak yang saya lakukan, tetap aja kewalahan. Makanya kalian harus punya uang cadangan entah dari tabungan kalian atau dari uang kiriman bulanan ortu atau gimanalah kalian aturnya, supaya bisa menombok 30% duit beasiswa yang belum turun itu.

            Saya sarankan kepada kalian untuk menyiapkan uang sekitar 10 juta rupiah untuk uang tombok di awal, karena biasanya, beasiswa baru akan turun sekitar seminggu sampai dua minggu setelah keberangkatan kalian ke negara tujuan. Saya sendiri karena univ saya gak ada dormitory/asrama nya, jadinya saya sewa sharing room di apartemen gitu, mirip hostel kali ya... dan itu perlu deposit. Btw, 184 Euro sebulan udah termasuk utility fee itu hitungannya udah termasuk murah banget ya di Budapest. Deposit saya dua bulan biaya sewa berarti 184x2=364 Euro atau sekitar 6,2 juta rupiah dan baru bisa diambil kembali setelah kontrak saya usai. Kalau kalian tinggal di dormitory, harusnya biayanya bakal lebih murah. Lalu, 25 Euro atau sekitar 430 ribu rupiah untuk beli asuransi kesehatan. Untuk asuransi, saya pakai Hepiyi Sigorta dan sejauh ini, asuransi ini yang paling murah yang saya temuin. Saya nemu asuransi ini pun gak sengaja ya. Jadi kan ketika saya dan Shinn (teman Myanmar saya yang juga berangkat Erasmus ke Kodolanyi semester ini) udah deal lewat online untuk beli Sompo Insurance di WA admin salah satu broker asuransi gitu, saya diminta untuk datang ke gerai mereka untuk proses akhir di sana. Ketika sudah datang ke sana dan data saya diinput ulang di sistem, eh malah tiba-tiba biayanya update dari 41 Euro ke 60an Euro. Akhirnya kami cancel dan kami tanya harga asuransi di gerai yang gak jauh dari sana, dan di sinilah kami menemukan Hepiyi Sigorta itu.

“Kok bisa murah banget, bang?”, terkejut saya dengan harganya.

“Ya memang punya kami paling murah daripada yang lain”, jawab abang brokernya.

“Beneran lancar-lancar aja kan dengan harga segini?”, tanya saya memastikan.

“Sejauh ini sih, gak ada komplain apapun terkait asuransi kami ya.. Baik-baik aja”, jawab abangnya lagi. (Percakapan di atas sebenarnya pakai Bahasa Turki ya, hehe)

Dan memang setelah saya baca-baca ketentuan asuransinya, semuanya sesuai, EU territorial scope. Akhirnya kami deal. Alhamdulillah, gak ada kendala apa-apa sampai saat ini. Selain asuransi, sejumlah uang perlu kita persiapkan juga untuk nombokkin tiket pesawat, akomodasi domestik dari kota kita ke bandara, dan juga untuk biaya visa. Saya gak tau ya kalau negara lain, soalnya ada beberapa teman yang bilang itu gratis, tapi saya sendiri untuk visa type-D Hungary, saya membayar 135 Euro (sekitar 2,3 juta rupiah) termasuk service fee nya. Terakhir, ya buat traktir teman-teman kalian lah! Tasyakuran udah keterima Erasmus. Biar urusannya lancar sampai akhir.

            Sekarang step pertama nih yang perlu dilakukan adalah menunggu nominasyon dari pihak kampus tujuan. Mereka akan mengirimi kita melalui email beberapa berkas, informasi dan form yang harus diisi sebelum tenggat waktu tertentu. Ini penting banget! jadi harus kita perhatikan, karena ini menjadi tanggung jawab masing-masing mahasiswa. Setelah dapat LoA atau Invitation Letter dari kampus tujuan, langkah selanjutnya adalah membuat Learning Agreement di website Online Learning Agreement bagi yang kampusnya menggunakan website tersebut untuk urusan Learning Argreementnya. Bagi kampus yang tidak, maka kalian akan membuat Learning Agreement sendiri menggunakan template yang diberikan kampus. Untuk matkul/kelas yang akan kalian pilih nanti yang bakal dimasukkan ke dalam Learning Agreement ini, kalian harus konsultasikan ke Erasmus Coordinator di jurusan kalian masing-masing untuk pemilihan matkulnya. Soalnya, ECTS/AKTS (kredit pelajaran) yang didapat di Erasmus+ nanti, bakal ditransfer dan dihitung setara dengan matkul yang ditinggalkan di kampus asal. Jadi intinya, kalian gak perlu untuk perpanjang semester meskipun kalian gak ambil matkul kalian di universitas selama satu semester, karena udah diganti sama AKTS yang kalian dapatkan di kampus tempat kalian Erasmus. Soalnya, Turki sudah ikut sistem pendidikan Eropa.

            Setelah urusan Learning Agreement selesai, kalian bisa mulai mengurus Visa dan berkas-berkas lain yang dibutuhkan untuk keperluan keberangkatan. Salah satu yang terpenting adalah mengambil surat pengantar dari kampus kita berupa Hibe Sözleşmesi (Perjanjian Beasiswa/Pendanaan) untuk dibawa sebagai persyaratan Visanya nanti. Berapa total uang yang bakal kita dapat juga bakal tertera di situ sehingga kita bisa bilang kalau nanti, biaya hidup kita akan ter-cover oleh beasiswa dari Erasmus. Beberapa kedutaan mensyaratkan rekening koran sebagai dokumen tambahan. Jadi, kalau bisa, kalian siapkan aja. Untuk persyaratan visa masing-masing negara bisa dilihat di website resmi kedutaan negara masing-masing. Beberapa kedutaan memiliki partnership dengan agensi yang mengurus visa negara mereka. Biasanya sih VFS, atau kalau kedutaan Hongaria di Ankara, mereka pakai AS Visa Solution. Ini nih yang saya gak tau, jadi ketika saya dan Shinn udah stand-by lama di kedutaan untuk mengurus visa ini, eh taunya ngurus visa bukan di kedutaan, tapi di AS Visa Solution itu. Jadi semua proses pemberkasan bakal diurus di sana, kita di kedutaan cuman untuk interview aja.

            Untuk proses visa dan administrasi Erasmus ini, saya harus berterimakasih ke Shinn sih, kalau gak ada dia, entahlah, pusing sendiri saya ngurusnya. Saya apa-apa tanya dia. Banyak berkas-berkas yang gak di-mention di website AS Visa Solution, tapi mereka minta. Contohnya kayak Learning Agreement, itu wajib untuk dibawa ketika proses visa, tapi mereka gak cantumin itu di website mereka. Makanya, Shinn aja... dia bawa banyak banget berkas yang sebenarnya gak butuh-butuh amat kayak transkript dan dokumen ujian bahasa Inggris. Saya ya gak bawa itu semua, termasuk Student Document berbahasa Inggris dan rekening koran pun saya gak bawa. Diminta sih dua itu, cuman saya bilang saya gak bawa. Student Document berbahasa Inggris bisa jadi diminta oleh kedutaan. Rekening koran sendiri saya bilang, saya hibeli, jadinya sesuai yang saya baca ketentuannya, saya gak perlu bawa itu. Meskipun sih, saya rekomendasikan teman-teman untuk mempersiapkan rekening korannya, untuk jaga-jaga. Ada juga beberapa form yang biasanya perlu untuk diisi dan dibawa, jadi hal ini juga penting untuk dipersiapkan. Usahakan banget lengkapi berkas kalian selengkap-lengkapnya, juga persiapkan diri kalian untuk wawancara dengan kedutaan nanti. InsyaAllah kalau dua ini lancar, proses visa kita akan lancar juga. Sisanya, biarkan pasrahkan ke Allah aja... yang penting kita udah usaha maksimal. Mengenai hasilnya positif atau negatif, semoga memang itu yang terbaik untuk kita. Emang deg-degan parah sih soal Visa ini. Karena gak sedikit yang gagal berangkat karena visanya ditolak. Sayang banget kan kita udah usaha untuk bisa keterima di Erasmus ini, malah ditolak visanya. Tapi semisal ini terjadi kepada kalian, coba aja lagi. Atau kalau ada opsi negara lain, bisa pilih opsi itu juga.

            Setelah proses visa yang mendebarkan, dan visa kalian keluar (Yeayy!), beli tiket pesawat kalian segera -biar gak mahal-mahal amat-, buka akun Euro kalian (karena dana beasiswanya akan ditransfer pakai Euro), dan datang ke kantor IRO kampus kalian. Kabari mereka bahwa urusan visa dan Learning Agreement kalian telah usai. Setelah dicek dan disetujui, kita akan menandatangani Erasmus+ Öğrenci Taahhütnamesi yang berisikan hak dan kewajiban kita selama Erasmus nanti. Jangan sampai kalian berangkat sebelum Taahhütname ini ditandatangani, ya!

            Setelah semua proses kita selesaikan, kita bisa mengabari koordinator Erasmus kita di kampus tujuan bahwa kita sudah menyelesaikan semua administrasi dan akan berangkat di hari blablabla, biasanya sih mereka ngasih formulir keberangkatan ke kita.

            Di kampus tujuan kita nanti, biasanya ada orientasi berisi pengarahan sistem pembelajaran kampus kepada mahasiswa Erasmus, banyak informasi yang akan disampaikan di sana nanti, termasuk gimana mengatasinya semisal ada jadwal matkul yang bertabrakan nanti sehingga kalian harus ubah pelajaran yang sudah kalian pilih sebelumnya. Untuk melakukan ini, tentunya kalian harus menghubungi koordinator Erasmus kalian di kampus asal untuk mengubah pelajaran yang dipilih. Biasanya ini juga ada deadline nya, jadi harap diperhatikan juga.

            And after thattt..... Enjoy your Erasmus! Ada banyak banget yang bisa kalian lakukan dan kalian dapatkan di program ini, jadi bisa banget untuk kita maksimalkan outputnya. Belajar iya, kenalan baru iya, pengalaman baru iya, jalan-jalan juga iya. Pokoknya banyak banget yang bisa kita ‘iya’-in. Jadi meskipun pastinya kita bakal explore Eropa ketika Erasmus ini, tetap tujuan utama kita datang ke sini adalah untuk belajar. Gak bisa kita ninggalin kelas begitu aja. Karena kalau ada matkul yang gak lulus, itu bakal berdampak ke uang beasiswa 30% yang belum cair itu. Bisa dipotong beberapa persen tergantung dari berapa matkul yang kita gak lulus.

            Setelah program kita usai, kita bakal balik lagi ke kampus asal untuk mengumpulkan beberapa dokumen yang diperlukan seperti Certificate of Attendance, Cap keluar masuk di paspor, Transcript of Records dari kampus tempat kita Erasmus, Learning Agreement (after the mobility), dan Anket online Uni Eropa. Karena saya masih on going dan belum selesai, jadinya saya belum bisa bicara banyak tentang ini, tapi kira-kira begitulah ya. Setelah dokumen diterima dan semua syarat terpenuhi, barulah kita bisa mengambil sisa uang beasiswa kita.

Makanya banyak-banyak punya tabungan aja guys sebelum Erasmus, karena banyak yang bakal kita tombokkin di awal. Dan gak perlu terlalu pelit untuk jalan-jalan juga ya, karena mumpung kondisi masih muda, banyak kenalan sesama mahasiswa, masih dibiayain, masih banyak waktu kosong, dan punya Schengen Visa dengan status pelajar itu bukan kesempatan yang bakal terus-terusan kita dapat. Kita belum tau kan kedepannya bisa balik lagi atau nggak ke negara itu. Ya... Explore lah banyak-banyak... tapi atur budget dengan baik juga biar gak boros-boros amat. Tentukan mana saja negara prioritas yang mau kalian kunjungi. Yang gak terlalu menarik, skip aja. In case, kalau budget kita terbatas. Kalau budget kalian banyak mah, explore aja banyak-banyak!

            Begitu kira-kira catatan yang bisa saya share. Semoga bermanfaat. Setiap tempat indah yang saya datangi dan pengalaman menarik yang saya dapat, InsyaAllah bakal saya catat dan bagikan. Supaya semua kenangan, tidak lenyap ditelan zaman, abadi dalam tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?