Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki
Budapest, 28 Februari 2025
Seperti yang teman-teman tau, saya
saat ini sedang menjalani studi sebagai awardee Erasmus+ di Hongaria selama
satu semester ke depan. Jika kalian diterima sebagai mahasiswa Erasmus di salah
satu negara Uni Eropa (EU), kalian bisa gunakan juga kesempatan ini untuk
jalan-jalan sekeliling Eropa dengan Visa Schengen yang kalian punya. Apalagi
jikalau kalian Erasmus dengan beasiswa (hibeli), makin besar tuh
kesempatannya untuk jalan-jalan. Jadi uang beasiswanya dipakai untuk hidup
sehari-hari, sedangkan tabungan yang sudah kalian sisihkan sebelum berangkat ke
negara tujuan, bisa kalian gunakan untuk bersafari. Nah, sebenarnya gimana sih
caranya biar bisa dapat beasiswa program pertukaran pelajar Erasmus ini? Dan
gimana sih proses lengkapnya? Benefitnya apa aja? Tulisan ini akan berusaha
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini serta memberikan kalian penjelasan
komprehensif tentang program Erasmus ini, dan kenapa sih kesempatan join
Erasmus ini gak boleh banget kita sia-siakan. Jadi, baca sampai habis, guys!
Mari berkenalan dulu dengan program Erasmus+ ini. Erasmus+ adalah
program pendidikan, pelatihan, kepemudaan, dan olahraga yang diinisiasi oleh
Uni Eropa untuk meningkatkan kerjasama antar negara dan membangun komunitas
akademik serta profesional yang kuat bagi negara EU dan mitranya. Selain untuk
belajar secara akademik, para pemuda Eropa juga diharapkan untuk mempelajari
budaya negara lainnya sebagai bagian dari upaya pengintegrasian Eropa (European
Integration). Untungnya bagi kita pelajar di Turki, walaupun bukan bagian dari
EU, Universitas di Turki mayoritas menjalin kemitraan dengan banyak universitas
di Eropa sebagai bagian dari program Erasmus+ ini. Hal ini karena Turki
berstatus sebagai Candidate Country yang sudah banyak memperoleh
fasilitas dan jalinan kerjasama dengan Uni Eropa. Selain Turki dan negara
kandidat Uni Eropa lainnya seperti Ukraina dan Albania, Uzbekistan dan Meksiko
juga mengirim banyak mahasiswa untuk program Erasmus+ ini setiap semesternya.
Bahkan, beberapa universitas di Indonesia juga sudah ada yang mengirimkan mahasiswanya
untuk program ini ke banyak negara EU dan mitranya. Tapi, tentu saja
kesempatannya jauh lebih kecil dari kita yang belajar di Turki. Makanya, ini
kesempatan yang wajib kita manfaatkan dengan baik, guys!
Ada banyak jenis program Erasmus+ yang ditawarkan untuk para
pelajar, khususnya di bidang akademik, meliputi program pertukaran pelajar
seperti saya ini, program magang, Erasmus Mundus Joint Master Degree bagi
mahasiswa S2, dan juga mobilitas studi bagi para dosen dan akademisi di kampus.
Selain bidang akademik, ada juga bidang kepemudaan seperti Youth Exchange dan
European Solidarity Corps (ESC). Tapi program-program tersebut biasanya
berdurasi pendek, tidak seperti Erasmus+ bidang akademik yang bisa berdurasi
berbulan-bulan. Selain yang saya sebutkan di atas, Ada juga program Erasmus
yang diperuntukkan untuk pelatihan dan pengembangan profesi, serta Erasmus
untuk kerjasama Internasional dan penelitian antar kampus, guna meningkatkan
kualitas universitas yang ada di wilayah EU dan mitranya. Jikalau kita lihat
program-program yang ditawarkan di atas, peluang kita sebagai mahasiswa
Indonesia di Turki ada pada program pertukaran pelajar dan magang. Biasanya,
dua program inilah yang diincar oleh para mahasiswa Indonesia di Turki. Untuk
kesulitannya, tentu saja program pertukaran pelajar lebih mudah untuk
didapatkan daripada program magang. Karena untuk program magang, setau saya,
kita harus mencari Perusahaan tempat magang tujuan dulu yang bisa menerima
kita. Dan pada proses visanya pun kadang ditolak sama kedutaan karena berbagai
alasan. Maka dari itu, gak banyak orang Indonesia yang dapat kesempatan
mengikuti program magang Erasmus ini.
Seperti yang saya paparkan di atas, peluang kita untuk bisa belajar
di negara Eropa dengan beasiswa Erasmus sangat terbuka. Karena untuk
mendapatkannya tidak sesulit program magang, makanya selain saya, ada cukup
banyak juga mahasiswa Indonesia di Turki yang belajar di Eropa sebagai pelajar
Erasmus. Tentunya, kami ditempatkan di negara yang berbeda-beda tergantung
dengan di mana kampus kami menjalin MoU. Dan tiap universitas juga, banyaknya MoU
yang dijalin untuk Erasmus ini juga beda-beda. Hal ini juga mempengaruhi
peluang kalian untuk bisa pertukaran pelajar Erasmus+ ini. Karena semakin dikit
MoU yang dipunyai oleh kampus kita, semakin kecil kuota yang akan tersedia
untuk kita bisa Erasmus.
Mari kita langsung lihat ke pengalaman saya sendiri. Kampus saya, Eskişehir Osmangazi Üniversitesi (ESOGÜ) merupakan salah satu kampus pengirim mahasiswa terbanyak untuk
kegiatan Erasmus ini. Untuk urutan 5 besarnya sendiri sebagai berikut: Anadolu
Üniversitesi, Ankara Üniversitesi, Ege Üniversitesi, Yıldız Teknik Üniversitesi,
dan Sakarya Üniversitesi. Bisa dibilang, mahasiswa yang berkuliah di
universitas tersebut memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bisa mengikuti
kegiatan Erasmus. Di ESOGÜ, hampir semua jurusan membuka kuota untuk Erasmus setiap semesternya.
Tiap-tiap jurusan biasanya mengirim antara 2-5 orang setiap satu semester
sekali, dengan mayoritasnya berstatus hibeli (funded/dibiayai). Di
jurusan saya, prodi Hubungan Internasional semester musim semi ini (Spring
Semester), mengirim 5 orang untuk program pertukaran pelajar Erasmus+ ini. 1
orang ke Kodolanyi Janos University, Hungary yang itu saya sendiri (hibeli),
2 orang ke Academia WSB di Poland (hibeli), tapi sayang salah satu orang
visanya ditolak oleh kedutaan. Dia orang Turkmenistan, teman saya di kelas.
Sayang banget dia gak berangkat. Sedangkan satunya Alhamdulillah bisa
berangkat. Dia orang Turki, orang dengan IPK tertinggi di kelas. 2 lagi ke Makedonia
Utara, tapi yang ini hibesiz atau self-funded, yang kalau saya
dapat ini sih, saya gak mau berangkat. Gak ada duitnya hehehe. Yang ada bokek
pulang-pulang ya... Mana Makedonia Utara kan bukan negara Schengen Area, kan.
Gimana nanti kita ke Madrid nya, hehe?
Mungkin ada yang bertanya, apakah ada
perbedaan kuota antara mahasiswa lokal dan mahasiswa Internasional terkait
peluang Erasmus ini? Jawabannya, tidak. Semua mahasiswa yang terdaftar di
kampus, tanpa melihat kewarganegaraan, ras, agama, dan indikator sejenis
lainnya. Jadi semua punya peluang yang sama besarnya untuk program ini.
Untuk bisa mendaftar program ini, kalian butuh
setidaknya IPK 2,2 terhitung ketika kalian mendaftar. Kalian juga harus mengikuti
ujian Bahasa Inggris yang tersedia di kampus kalian sebagai persyaratan (self-assesment
test). Tiap kampus tentu mekanisme ujiannya berbeda-beda, jadi kalian harus
update terus nih infonya. Biasanya sih, informasi Erasmus di-share di website
International Relations Office (IRO) kampus masing-masing.
Dalam mendaftar, kalian perlu untuk
memperhatikan berapa banyak kuota yang tersedia di jurusan kalian, berapa
banyak yang diterima dengan hibeli, dan berapa banyak yang hibesiz.
Lalu biasanya orang-orang yang diterima ini, IPK nya berapa. Kenapa perlu
dipertimbangkan? Karena nih, misalkan dalam konteks jurusan saya di HI ESOGU,
IPK di bawah 3 itu tampaknya sulit untuk bisa lulus Erasmus+. Makanya, saya
baru mendaftar itu ketika IPK saya sudah menyentuh angka 3. Tapi, di banyak
jurusan lain, banyak kok yang IPK di bawah 3 yang bisa berangkat. Tergantung
daya saing mahasiswa di tiap jurusan. Jadi, hal ini bisa jadi perhatian
teman-teman nih supaya kalian punya target tersendiri buat IPK kalian. Selain
IPK, indikator penentu lainnya adalah ujian Bahasa Inggris kalian. Ini nih,
yang perlu dimanfaatkan. Karena, tidak banyak mahasiswa Turki yang Bahasa
Inggris nya bagus. Terutama mahasiswa di luar Ankara dan Istanbul. Jadi,
walaupun mungkin kalian kalah dari segi IPK, kalian bisa menang jauh di nilai
tes Bahasa Inggris.
Di
samping itu, kalian juga harus memperhatikan universitas tujuan kalian. Karena
beberapa universitas hanya memberi kuota untuk semester musim semi (Spring
Semester), tapi tidak menyediakan kuota di semester musim gugur (Fall
Semester), begitupun sebaliknya. Selain kualitas kampus, negara tempat kampus
itu berada juga penting, menurut saya. Contoh nih, kualitas kampus Erasmus di
HI ESOGU yang Polandia itu, jauh lebih bagus dari kampus saya saat ini di
Hongaria. Tapi, visa pelajar Hongaria itu lebih gampang untuk keluar.
Seandainya saya kemarin daftar di Polandia, bisa jadi saya gak berangkat! Saya
sih, prioritasnya yang penting berangkat dulu; Hibeli (fully funded); dan
berada di negara wilayah Schengen Area biar bisa jalan-jalan mudah. Prioritas
kita kan Santiago Bernabeu. Ingat selalu 3 M, Mekkah Madinah Madrid. Hahaha. Urusan
kualitas kampus, itu belakangan. Karena kita di sini mengutamakan untuk cari
pengalaman baru.
Singkat
cerita, saya diterima di program pertukaran pelajar Erasmus+ ini dengan IPK
3,14 dan nilai Bahasa Inggris 83 (C1). Setelah diterima, langkah selanjutnya
apa? Tentunya, setelah pengumuman kelulusan, akan ada masa penyaringan selama
beberapa minggu, bagi yang mungkin gak jadi ambil Erasmus+ karena berbagai
alasan, misal karena dia hibesiz atau bentrok dengan projek dia yang
lain, dipersilakan untuk mengundurkan diri. Tapi, mereka akan dikenakan
pengurangan poin untuk pendaftaran mereka selanjutnya. Biasanya kalau
kejadiannya seperti ini, kuotanya akan dioper ke pendaftar lainnya yang
berstatus sebagai yedek atau cadangan, apabila ada seseorang yang
mundur. Setelah fiksasi kandidat Erasmus+ rampung, akan ada orientasi
pengarahan dari pihak IRO terkait syarat-syarat yang harus kita persiapkan, dan
langkah-langkah yang perlu kita lakukan, serta berapa dana yang bakal kita
dapat nanti sebagai beasiswa dari Erasmus+.
Untuk
negara tujuan Erasmus+ ini, dibagi menjadi tiga kategori negara yang
berpengaruh pada uang beasiswa yang bakal didapat. Negara-negara Eropa Barat
dan sebagian Eropa Tengah, pokoknya negara-negara yang pakai Euro sebagai mata
uangnya masuk ke kategori negara pertama dan kedua. Beasiswa yang akan didapat untuk
mahasiswa Erasmus+ di negara-negara ini adalah sebanyak 600 Euro per bulannya.
Sedangkan untuk kategori negara ketiga, mereka negara yang tidak memakai Euro
sebagai mata uangnya sehingga biaya hidupnya cenderung lebih murah, seperti
Hongaria, Polandia, Romania, dan Bulgaria. Atau negara yang sudah masuk ke EuroZone
(mengadopsi Euro sebagai mata uang mereka) tapi masih proses adaptasi sehingga
biaya hidupnya masih relatif murah, seperti Lithuania dan Kroasia.
Negara-negara yang masih berstatus sebagai negara kandidat (Candidate
Countries) EU, seperti Turki, Serbia, dan Makedonia Utara tentu saja masuk
ke kategori ketiga karena negara-negara ini secara biaya hidup memang jauh lebih
murah daripada negara Uni Eropa pada umumnya. Beasiswa yang akan didapat untuk
mahasiswa Erasmus+ di negara-negara kategori ketiga ini adalah sebanyak 450
Euro per bulannya.
Selain
dari uang bulanan, kita juga akan diberi uang akomodasi untuk tiket pesawat
sesuai dengan seberapa jauh jarak antara negara pengirim dengan negara tujuan.
Contohnya, jarak antara Turki-Hongaria adalah sejauh 1000an KM, sehingga saya mendapat
uang sejumlah 309 Euro untuk tiket PP pesawat saya. Jadi ada peruntukkannya
sendiri, misal kalau jaraknya 500 sampai 1999 KM, maka dapatnya 309 Euro, kalau
lebih jauh lagi, contoh untuk jarak 2000 sampai 2999 KM, maka akan dapat 395
Euro. Gitu... Jadi emang beda-beda. InsyaAllah segitu cukup ya, bahkan bakal
tersisa beberapa Euro yang bisa kita pakai buat dana darurat. Angka ini bisa
saja berubah ya guys, tergantung dengan perjanjian antar kampus bagaimana, jadi
stay updated aja!
Total
beasiswa yang saya dapat adalah 2619 Euro, terdiri dari 450x5= 2250 Euro uang
bulanan, 309 Euro uang PP pesawat, dan 60 Euro yang saya gak tau peruntukkannya
kemana (mungkin bonus). Terlihat banyak, kan? Sampai kalian tau kalau di awal,
kalian hanya akan mendapat 70% dari total beasiswa atau sekitar 1883 Euro saja,
sedangkan 30% nya baru bisa diambil ketika kalian sudah menyelesaikan studi
kalian dan kembali lagi ke Turki. Itu artinya, perbulan uang yang bisa kalian
pakai adalah hanya sekitar 315 Euro saja atau sekitar 5,4 juta rupiah. Uang
sewa rumah saya saja 184 Euro atau sekitar 3,1 juta rupiah. Sisanya berarti 2,3
juta rupiah sebulan kan. Untuk biaya hidup di Eropa selama sebulan, sangat
sulit untuk bisa hidup dengan uang segitu, meskipun kita sangat-sangat hemat,
gak pernah jajan di luar, masak di rumah terus, kayak yang saya lakukan, tetap
aja kewalahan. Makanya kalian harus punya uang cadangan entah dari tabungan
kalian atau dari uang kiriman bulanan ortu atau gimanalah kalian aturnya,
supaya bisa menombok 30% duit beasiswa yang belum turun itu.
Saya
sarankan kepada kalian untuk menyiapkan uang sekitar 10 juta rupiah untuk uang
tombok di awal, karena biasanya, beasiswa baru akan turun sekitar seminggu sampai
dua minggu setelah keberangkatan kalian ke negara tujuan. Saya sendiri karena
univ saya gak ada dormitory/asrama nya, jadinya saya sewa sharing room di
apartemen gitu, mirip hostel kali ya... dan itu perlu deposit. Btw, 184 Euro
sebulan udah termasuk utility fee itu hitungannya udah termasuk murah
banget ya di Budapest. Deposit saya dua bulan biaya sewa berarti 184x2=364 Euro
atau sekitar 6,2 juta rupiah dan baru bisa diambil kembali setelah kontrak saya
usai. Kalau kalian tinggal di dormitory, harusnya biayanya bakal lebih murah. Lalu,
25 Euro atau sekitar 430 ribu rupiah untuk beli asuransi kesehatan. Untuk
asuransi, saya pakai Hepiyi Sigorta dan sejauh ini, asuransi ini yang paling murah
yang saya temuin. Saya nemu asuransi ini pun gak sengaja ya. Jadi kan ketika
saya dan Shinn (teman Myanmar saya yang juga berangkat Erasmus ke Kodolanyi
semester ini) udah deal lewat online untuk beli Sompo Insurance di WA admin
salah satu broker asuransi gitu, saya diminta untuk datang ke gerai mereka untuk
proses akhir di sana. Ketika sudah datang ke sana dan data saya diinput ulang di
sistem, eh malah tiba-tiba biayanya update dari 41 Euro ke 60an Euro.
Akhirnya kami cancel dan kami tanya harga asuransi di gerai yang gak
jauh dari sana, dan di sinilah kami menemukan Hepiyi Sigorta itu.
“Kok bisa murah banget, bang?”, terkejut saya dengan
harganya.
“Ya memang punya kami paling murah daripada
yang lain”, jawab abang brokernya.
“Beneran lancar-lancar aja kan dengan harga
segini?”, tanya saya memastikan.
“Sejauh ini sih, gak ada komplain apapun
terkait asuransi kami ya.. Baik-baik aja”, jawab abangnya lagi. (Percakapan di
atas sebenarnya pakai Bahasa Turki ya, hehe)
Dan memang setelah saya baca-baca ketentuan asuransinya,
semuanya sesuai, EU territorial scope. Akhirnya kami deal. Alhamdulillah,
gak ada kendala apa-apa sampai saat ini. Selain asuransi, sejumlah uang perlu
kita persiapkan juga untuk nombokkin tiket pesawat, akomodasi domestik dari
kota kita ke bandara, dan juga untuk biaya visa. Saya gak tau ya kalau negara
lain, soalnya ada beberapa teman yang bilang itu gratis, tapi saya sendiri
untuk visa type-D Hungary, saya membayar 135 Euro (sekitar 2,3 juta rupiah) termasuk
service fee nya. Terakhir, ya buat traktir teman-teman kalian lah!
Tasyakuran udah keterima Erasmus. Biar urusannya lancar sampai akhir.
Sekarang
step pertama nih yang perlu dilakukan adalah menunggu nominasyon dari
pihak kampus tujuan. Mereka akan mengirimi kita melalui email beberapa berkas,
informasi dan form yang harus diisi sebelum tenggat waktu tertentu. Ini penting
banget! jadi harus kita perhatikan, karena ini menjadi tanggung jawab
masing-masing mahasiswa. Setelah dapat LoA atau Invitation Letter dari kampus
tujuan, langkah selanjutnya adalah membuat Learning Agreement di website Online
Learning Agreement bagi yang kampusnya menggunakan website tersebut untuk urusan
Learning Argreementnya. Bagi kampus yang tidak, maka kalian akan membuat Learning
Agreement sendiri menggunakan template yang diberikan kampus. Untuk matkul/kelas
yang akan kalian pilih nanti yang bakal dimasukkan ke dalam Learning Agreement
ini, kalian harus konsultasikan ke Erasmus Coordinator di jurusan kalian
masing-masing untuk pemilihan matkulnya. Soalnya, ECTS/AKTS (kredit pelajaran)
yang didapat di Erasmus+ nanti, bakal ditransfer dan dihitung setara dengan
matkul yang ditinggalkan di kampus asal. Jadi intinya, kalian gak perlu untuk
perpanjang semester meskipun kalian gak ambil matkul kalian di universitas
selama satu semester, karena udah diganti sama AKTS yang kalian dapatkan di
kampus tempat kalian Erasmus. Soalnya, Turki sudah ikut sistem pendidikan Eropa.
Setelah urusan
Learning Agreement selesai, kalian bisa mulai mengurus Visa dan berkas-berkas
lain yang dibutuhkan untuk keperluan keberangkatan. Salah satu yang terpenting
adalah mengambil surat pengantar dari kampus kita berupa Hibe Sözleşmesi
(Perjanjian Beasiswa/Pendanaan) untuk dibawa sebagai persyaratan Visanya
nanti. Berapa total uang yang bakal kita dapat juga bakal tertera di situ
sehingga kita bisa bilang kalau nanti, biaya hidup kita akan ter-cover oleh
beasiswa dari Erasmus. Beberapa kedutaan mensyaratkan rekening koran sebagai
dokumen tambahan. Jadi, kalau bisa, kalian siapkan aja. Untuk persyaratan visa masing-masing
negara bisa dilihat di website resmi kedutaan negara masing-masing. Beberapa
kedutaan memiliki partnership dengan agensi yang mengurus visa negara mereka.
Biasanya sih VFS, atau kalau kedutaan Hongaria di Ankara, mereka pakai AS Visa
Solution. Ini nih yang saya gak tau, jadi ketika saya dan Shinn udah stand-by
lama di kedutaan untuk mengurus visa ini, eh taunya ngurus visa bukan di kedutaan,
tapi di AS Visa Solution itu. Jadi semua proses pemberkasan bakal diurus di
sana, kita di kedutaan cuman untuk interview aja.
Untuk
proses visa dan administrasi Erasmus ini, saya harus berterimakasih ke Shinn sih,
kalau gak ada dia, entahlah, pusing sendiri saya ngurusnya. Saya apa-apa tanya
dia. Banyak berkas-berkas yang gak di-mention di website AS Visa
Solution, tapi mereka minta. Contohnya kayak Learning Agreement, itu wajib untuk
dibawa ketika proses visa, tapi mereka gak cantumin itu di website mereka.
Makanya, Shinn aja... dia bawa banyak banget berkas yang sebenarnya gak butuh-butuh
amat kayak transkript dan dokumen ujian bahasa Inggris. Saya ya gak bawa itu
semua, termasuk Student Document berbahasa Inggris dan rekening koran
pun saya gak bawa. Diminta sih dua itu, cuman saya bilang saya gak bawa. Student
Document berbahasa Inggris bisa jadi diminta oleh kedutaan. Rekening koran
sendiri saya bilang, saya hibeli, jadinya sesuai yang saya baca
ketentuannya, saya gak perlu bawa itu. Meskipun sih, saya rekomendasikan
teman-teman untuk mempersiapkan rekening korannya, untuk jaga-jaga. Ada juga beberapa
form yang biasanya perlu untuk diisi dan dibawa, jadi hal ini juga penting
untuk dipersiapkan. Usahakan banget lengkapi berkas kalian selengkap-lengkapnya,
juga persiapkan diri kalian untuk wawancara dengan kedutaan nanti. InsyaAllah
kalau dua ini lancar, proses visa kita akan lancar juga. Sisanya, biarkan
pasrahkan ke Allah aja... yang penting kita udah usaha maksimal. Mengenai hasilnya
positif atau negatif, semoga memang itu yang terbaik untuk kita. Emang
deg-degan parah sih soal Visa ini. Karena gak sedikit yang gagal berangkat
karena visanya ditolak. Sayang banget kan kita udah usaha untuk bisa keterima
di Erasmus ini, malah ditolak visanya. Tapi semisal ini terjadi kepada kalian,
coba aja lagi. Atau kalau ada opsi negara lain, bisa pilih opsi itu juga.
Setelah proses
visa yang mendebarkan, dan visa kalian keluar (Yeayy!), beli tiket pesawat kalian
segera -biar gak mahal-mahal amat-, buka akun Euro kalian (karena dana
beasiswanya akan ditransfer pakai Euro), dan datang ke kantor IRO kampus
kalian. Kabari mereka bahwa urusan visa dan Learning Agreement kalian telah
usai. Setelah dicek dan disetujui, kita akan menandatangani Erasmus+ Öğrenci
Taahhütnamesi yang berisikan hak dan kewajiban kita selama Erasmus nanti.
Jangan sampai kalian berangkat sebelum Taahhütname ini ditandatangani,
ya!
Setelah
semua proses kita selesaikan, kita bisa mengabari koordinator Erasmus kita di
kampus tujuan bahwa kita sudah menyelesaikan semua administrasi dan akan
berangkat di hari blablabla, biasanya sih mereka ngasih formulir keberangkatan
ke kita.
Di
kampus tujuan kita nanti, biasanya ada orientasi berisi pengarahan sistem
pembelajaran kampus kepada mahasiswa Erasmus, banyak informasi yang akan
disampaikan di sana nanti, termasuk gimana mengatasinya semisal ada jadwal
matkul yang bertabrakan nanti sehingga kalian harus ubah pelajaran yang sudah kalian
pilih sebelumnya. Untuk melakukan ini, tentunya kalian harus menghubungi koordinator
Erasmus kalian di kampus asal untuk mengubah pelajaran yang dipilih. Biasanya
ini juga ada deadline nya, jadi harap diperhatikan juga.
And
after thattt..... Enjoy your Erasmus! Ada banyak banget yang bisa kalian
lakukan dan kalian dapatkan di program ini, jadi bisa banget untuk kita maksimalkan
outputnya. Belajar iya, kenalan baru iya, pengalaman baru iya, jalan-jalan juga
iya. Pokoknya banyak banget yang bisa kita ‘iya’-in. Jadi meskipun pastinya
kita bakal explore Eropa ketika Erasmus ini, tetap tujuan utama kita datang ke
sini adalah untuk belajar. Gak bisa kita ninggalin kelas begitu aja. Karena
kalau ada matkul yang gak lulus, itu bakal berdampak ke uang beasiswa 30% yang
belum cair itu. Bisa dipotong beberapa persen tergantung dari berapa matkul
yang kita gak lulus.
Setelah
program kita usai, kita bakal balik lagi ke kampus asal untuk mengumpulkan beberapa
dokumen yang diperlukan seperti Certificate of Attendance, Cap keluar masuk di
paspor, Transcript of Records dari kampus tempat kita Erasmus, Learning
Agreement (after the mobility), dan Anket online Uni Eropa. Karena saya masih on
going dan belum selesai, jadinya saya belum bisa bicara banyak tentang ini,
tapi kira-kira begitulah ya. Setelah dokumen diterima dan semua syarat
terpenuhi, barulah kita bisa mengambil sisa uang beasiswa kita.
Makanya banyak-banyak punya tabungan aja guys sebelum
Erasmus, karena banyak yang bakal kita tombokkin di awal. Dan gak perlu terlalu
pelit untuk jalan-jalan juga ya, karena mumpung kondisi masih muda, banyak kenalan
sesama mahasiswa, masih dibiayain, masih banyak waktu kosong, dan punya
Schengen Visa dengan status pelajar itu bukan kesempatan yang bakal terus-terusan
kita dapat. Kita belum tau kan kedepannya bisa balik lagi atau nggak ke negara
itu. Ya... Explore lah banyak-banyak... tapi atur budget dengan baik juga biar
gak boros-boros amat. Tentukan mana saja negara prioritas yang mau kalian
kunjungi. Yang gak terlalu menarik, skip aja. In case, kalau budget kita
terbatas. Kalau budget kalian banyak mah, explore aja banyak-banyak!
Begitu
kira-kira catatan yang bisa saya share. Semoga bermanfaat. Setiap tempat indah
yang saya datangi dan pengalaman menarik yang saya dapat, InsyaAllah bakal saya
catat dan bagikan. Supaya semua kenangan, tidak lenyap ditelan zaman, abadi
dalam tulisan.
Komentar
Posting Komentar