Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?
Bled, 31 Maret 2025
Selamat hari raya
Idul Fitri semuanya! Semoga ibadah teman-teman semua selama Ramadhan diterima
oleh Allah SWT. Ramadhan tahun ini walaupun jauh dari rumah, bahkan pertama
kalinya bagi saya untuk menjalani Ramadhan di negara minoritas Muslim,
Alhamdulillah banyak keberkahan terjadi. Sedikit pengalaman Ramadhan saya di
Budapest, sudah saya tulis dan bagikan di blog saya, dan masuk juga ke
publikasi Detik Hikmah h-1 lebaran (waktu Hongaria), tanggal 29 Maret yang lalu.
Nah kebetulan
lebaran tahun ini bertepatan dengan hari Minggu (di Budapest, lebaran
ditetapkan pada tanggal 30 Maret 2025, berbeda dengan Indonesia yang hari raya
nya diisbatkan pada tanggal 31 Maret 2025), yang artinya lebaran bersamaan
waktunya dengan hari libur weekend. Karena mayoritas di Eropa, termasuk di
Hongaria, gak ada libur lebaran, jadi misalnya lebaran jatuh di weekdays, ya
tetap masuk kelas setelah sholat Eid. Kecuali kalau mungkin diizinkan sama
dosen untuk gak masuk kelas di hari itu. Kalau nggak, ya terpaksa bolos.
Selepas
lebaran, apa agenda orang-orang? Tentu saja jalan-jalan. Termasuk saya yang
sudah mengatur jadwal liburan kali ini, -One-day trip ke Bled Lake, Slovenia.
Sebenarnya saya gak memasukkan Slovenia sama sekali ke dalam daftar list negara
yang ingin saya kunjungi, karena saya sendiri gak tau di Slovenia tuh ada apa.
Ketika Ramadhan
bulan Maret lalu, hampir setiap hari saya berbuka puasa di masjid, sama seperti
beberapa mahasiswa Indonesia lainnya. Di sinilah saya sering mengobrol dengan mereka,
para senior yang sudah melanglangbuana jalan-jalan di Eropa. Mereka
merekomendasikan saya untuk berkunjung ke Bled Lake, Slovenia. Tempatnya gak
terlalu jauh, transportasinya gak mahal, tapi sesuatu yang ditawarkannya luar
biasa -sebuah pemandangan alam yang sangat indah. Dari situ, saya mulai kepo
dengan kota Bled. Saya ketik di pencarian Google, Bled Lake, Wahh, bagus banget
nih! Transportasi, PP Budapest-Ljubljana naik Flix Bus hanya 20000 HUF, atau
tidak sampai 50 Euro. Dari Ljubljana ke Bled nya bisa naik bus juga, ada
keberangkatan setiap jamnya, dengan harga PP 12 Euro, sesuai apa yang ada di
website resmi mereka. Untuk makannya insyaAllah aman, bawa bekal aja dari
rumah. Penginapan? Tadinya sih mau menginap sekalian, tapi karena mau hemat
(alasan 1); juga Selasa nya mau langsung masuk kelas/kerja (alasan 2); dan untungnya ada bus malam Budapest-Ljubljana
maupun Ljubljana Budapest (alasan 3), makanya langsung pulang aja di hari Senin
malam. Oke, semua perkiraan aman nih. Tinggal eksekusi, gaskeunn!
Saya berangkat
ke Bled, bertiga. Saya sendiri, Rhiza, dan Bang Ihsan. Saya kenal bang Ihsan di
masjid Makk Utca, Masjid Turki yang menu berbukanya enak dan Salat Tarawihnya
cepat itu. Sedangkan Rhiza, saya kenal dia waktu berbuka puasa di masjid
Darussalam beberapa hari yang lalu. Setelah berbuka puasa, kami pulang bareng
ke Corvin. Di Tram, saya mengobrol dengan dia, sekaligus langsung ajak dia
untuk join ke trip Bled Lake ini. Karena ini One-day Trip dan waktunya cocok,
dia langsung mau, dong! Emang suka jalan-jalan dia. Dan Slovenia, belum masuk
ke negara yang sudah dia centang.
Kami berangkat
dari Budapest di malam hari tanggal 30 Maret, setelah di siang hari perut kami
penuh dengan masakan-masakan enak Indonesia, di acara undangan halal bihalal
masing-masing. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 6 jam, dari terminal
Nepliget, Budapest, ke terminal Central Bus Station, Ljubljana. Jadi memang pas
banget tuh jadwalnya. Jam 11 malam kita berangkat, 6 jam tidur di bus, sampai
di sana, bangun-bangun sudah jam 5. Seger dah tuh, InsyaAllah. Rencananya,
setelah sampai di sana, kami langsung ke masjid pusat Ljubljana yang katanya
itu masjid orang-orang muslim Bosnia di Slovenia. Kebetulan, letaknya gak jauh
dari terminal, jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Pukul 5 Subuh,
di kala langit masih gelap, kami sampai di tujuan. Kami diturunkan di salah
satu platform, yang terletak di luar gedung. Terminal ini terlihat
sangat kecil, mirip seperti terminal Brno yang saya sambangi di Ceko awal bulan
Maret lalu.
Tau gak kesan
pertama kali saya ke kota Ljubljana ini apa? Mirip Jakarta. Tentunya Jakarta di
pusat kotanya, ya. Gedung-gedung tinggi modern, jalan raya, dan perumahannya
mirip, loh. Bedanya kota ini jauh lebih sepi. Apalagi di jam 5 Subuh. Berbeda
banget sama pemandangan pusat kota Praha, Wina, ataupun Budapest yang masih
mempertahankan ciri khas arsitektur Eropa Abad Pertengahan.
Dari sana, kami
langsung jalan menuju masjid putih besar itu, yang jaraknya hanya sejauh 10
menit jalan kaki. Di Indonesia, pada jam yang sama, orang-orang sedang
merayakan lebaran Idul Fitri, makanya kami bertiga juga sambil jalan sambil
telpon keluarga masing-masing.
Saat ini,
perbedaan waktu antara Indonesia dan Eropa Tengah adalah 5 jam sejak tanggal 30
Maret dini hari jam 2 waktu setempat. Jadi, ada yang namanya Daylight saving
time (DST) yang dimana, waktu pada jam tersebut, maju satu jam, dari pukul
2 pagi, tiba-tiba berubah jadi pukul 3 pagi. Iya, waktunya dipotong selama satu
jam. Jadi, sebelum Daylight saving time ini, jarak waktu antara
Indonesia dan Eropa Tengah adalah 6 jam. Tapi, sejak tanggal 30 Maret kemaren,
karena waktunya dipotong, berubah jadi 5 jam. Peristiwa DST ini di Eropa,
biasanya terjadi pada akhir pekan (minggu) terakhir pada bulan Maret, dan akan
kembali lagi ke waktu semula pada akhir pekan (minggu) terakhir pada bulan
Oktober. Jadi, nantinya kalau udah masuk tanggal 27 Oktober 2025, perbedaan
waktunya akan balik lagi ke 6 jam dengan Indonesia. Unik, ya.
Setelah 10
menitan jalan kaki, akhirnya kami sampai di Ljubljana Mosque. Sayangnya,
masjidnya tutup. Kok bisa tutup ya, padahal ini kan pas banget waktu Subuh?
Ternyata, kalau lihat di Google, tempat yang juga merupakan pusat budaya dan
religi Islam kota Ljubljana ini, baru buka jam 8 pagi. Loh, masjid apa nih yang
ada jam buka tutupnya? At least pas waktu Salat buka dong, masa tutup? Keadaan
sekitar cukup gelap, dan gak ada orang sama sekali di sana kecuali kami. Kami
coba untuk bel beberapa pintu masuk, tapi gak ada balasan apapun. Terpaksa deh,
kami pergi dari sini.
Pilihan kami
ketika itu dua, antara balik lagi terminal dan mencari tempat salat dan
berteduh di sana (itupun kalau ada), atau pergi ke masjid lain, sekitar
setengah jam naik bus. Akhirnya kami pilih opsi kedua, yang pasti-pasti aja.
Masjid yang akan kami kunjungi ini namanya, “Slovenska Islamska skupnost
Milost” yang entah apalah artinya. Di Google, tertulis masjid ini buka 24
jam. Walaupun ukurannya jauh lebih kecil, tapi setidaknya berfungsi sebagai
masjid. Di Ljubljana, tarif naik transum untuk satu kali jalan adalah 1,30 EUR
atau sekitar 23 ribu rupiah. Berarti, untuk nanti balik lagi ke terminal, kami
bayar lagi 1,30 EUR, totalnya 2,60 EUR atau hampir 50 ribu rupiah. Di sini, gak
ada kesempatan buat nyempil gak bayar kayak di Bratislava, hehe. Soalnya
semua penumpang masuk dari pintu depan dan diawasi oleh supir, mirip seperti di
Turki.
Subuh di masjid
ini sama seperti di masjid-masjid yang ada di Turki, adzan dan salat Subuh nya
diakhirkan dari waktu yang seharusnya (kecuali Ramadhan). Jadi ketika kami
sampai, walaupun waktu seharusnya sudah lewat sekitar setengah jam, Salat Subuh
belum dilaksanakan. Makanya kami masih bisa salat Sunnah Qabliyah terlebih dahulu,
dan beristirahat sejenak sebelum iqamah dikumandangkan. Masjid ini cukup nyaman
dan hangat, para jamaahnya juga ramah, dan semuanya mengucap salam ketika masuk
ke dalam masjid. Mereka merupakan komunitas muslim Bosnia, yang tinggal di
Slovenia. Mereka-mereka ini yang saya lihat, badannya besar-besar semua, kayak
pemain UFC, haha. Walaupun badannya besar-besar, tapi hati mereka baik. Asyikk.
Ada kejadian menarik
nih pagi ini, jadi setelah Salat Subuh, orang-orang gak langsung bubar, dan
mereka mengumandangkan takbir, sebagaimana ketika kita lebaran. Setelah kami
coba terjemahkan tulisan yang ada di jam digital di dinding masjid bagian
depan, memang di situ tertulis Shalat Ied akan dilaksanakan pada pukul 7.30
(seingat saya sekitar jam segini). Loh, di sini lebarannya tanggal 31 Maret
kah? Saya tanya ke salah satu orang yang mungkin salah satu seorang pengurus
masjid, “ini kita Salat Ied kah, bukannya kemarin udah?”. Untungnya dia bisa
bahasa Inggris, dan menjawab, “Ya, hilal kemarin belum tampak kecuali di Saudi
Arabia, makanya kami memutuskan untuk menetapkan 1 Syawal di hari ini”. Hemmm,
begitu rupanya, mereka juga ternyata masih puasa kemarin. Jadi gimana nih, kita
ikut Salat Ied lagi kah?
Ujung-ujungnya,
ya kami ikut semua proses salat Ied di masjid ini, dari Salat dengan takbir 7
kali pada rakaat pertama dan 5 kali pada rakaat kedua, dilanjut dengan khutbah
berbahasa Slovenia yang saya gak mengerti sama sekali. Bahasa Slovenia,
sangatlah mirip dengan bahasa Bosnia, mereka bisa mengerti satu sama lain,
begitu kata mereka. Mungkin seperti Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu-nya
Malaysia. Setelah proses ibadah salat Ied usai, kami bersalaman satu sama lain.
Syeikh-nya, orang Bosnia berbadan besar, berkacamata, dan berjanggut putih,
mendoakan kami bertiga ketika bersalaman, agar ibadah kami selama Ramadhan
diterima dan Allah hadiahkan Jannah untuk kami di Akhirat kelak. Aamiin ya
Rabb.
Setelah
bersalam-salaman, kami berfoto bersama. Saya sempat minta dokumentasinya, tapi
anehnya yang dikasih itu video satu menit kami berpose aja, gak ada fotonya.
Hadeuh, ada-ada aja. Usai berfoto, kami meminta izin ke pengurus masjid tadi,
untuk sarapan di pojokan masjid. Ada roti tawar dan selai stroberi saja kok,
gak ada daging ataupun ayam yang mungkin bisa mengotori dan membuat masjid
berbau. Tapi dia bilang, mereka biasanya gak makan di dalam masjid. Kalau
Itikaf pun, mereka hendak sahur, sahurnya di lantai dua. Setelah bertanya ke
Syeikh, kami dipersilakan untuk naik bareng mereka ke lantai dua. Ada sesi
ngeteh bareng nih, tampaknya. Dan benar saja, kue-kue kering dihidangkan,
ditemani teh yang pastinya selalu ada. Tapi kami karena waktu sarapan kami
sekarang doang sepertinya sebelum berangkat ke Bled, kami sarapan tuh bertiga.
Dengan roti tawar, selai stroberi dan susu kental manis yang sudah saya bawa
dari rumah. Tapi kami gak lama sarapannya, gak enakan sama yang lain, merasa
diliatin kami, karena sarapan roti sendiri, haha.
Sudah pukul 8
pagi, sudah waktunya kita cabut dari sini. Tapi gimana ya, masih nanggung,
enjoy banget teh sama kue-kue keringnya. Setelah menunda-nunda sampai dua bus
lewat, kami akhirnya berpamitan jam 8.30. Semua orang yang ada di sana, dari
ujung ke ujung kami bertiga salami. Kami berterima kasih atas sambutan hangat
mereka.
Masjid ini
terletak persis di samping pemberhentian bus, jadi dari masjid pun kelihatan
bus nya sudah datang atau belum. Dari masjid sini ke pusat kota Ljubljana
memakan waktu kurang lebih 15 menit naik bus. Kami berencana untuk mengambil
jadwal keberangkatan ke Bled di jam 10 pagi. Jadi, saat ini, kami masih punya
sekitar setengah jam lebih untuk jalan-jalan sedikit kota Ljubljana.
Di pusat kota, tempat pertama yang kami kunjungi setelah McD (karena Rhiza gak bawa bekal), adalah Preseren Square, alun-alun yang terletak di pusat kota Ljubljana. Sekeliling alun-alun ini, terdapat bangunan-bangunan estetik warna-warni khas Eropa. Jadi, foto di sini pun cukup bagus hasilnya. Di Preseren Square, terdapat jembatan unik yang namanya Triple Bridge, salah satu landmark kota Ljubljana. Jembatan batu ini sudah ada sejak pertengahan abad ke-19. Awalnya, jembatan ini cuman ada satu jalan doang, tapi setelah itu, pada tahun 1929, ditambah lagi jembatan tambahan di kanan dan kirinya untuk para pejalan kaki, tentunya dengan ukuran yang lebih kecil. Jadilah, saat ini, sesuai namanya, jembatan ini punya tiga jalan. Triple Bridge merupakan ‘pintu masuk’ ke Old Town, sehingga dianggap sebagai penghubung antara bagian sejarah dan bagian modern kota Ljubljana. Orang-orang lokal biasanya menjadikan Triple Bridge ini sebagai tikum -titik kumpul- mereka, soalnya jembatan ini memang terkenal ramai dengan musik, seni, dan suasananya yang elegan. Mungkin karena kami ke sininya masih pagi, dan hari ini juga hari Senin ya, jadi nya masih cukup sepi.
Lanjut, kita ke
Dragon Bridge, salah satu landmark kota Ljubljana juga. Jembatan ini terkenal
dengan patung naga berwarna hijau di ujung keempat sisinya. Jembatan ini
dibangun pada tahun 1901 M di era Austro-Hungarian dengan gaya Art Nouveau, menjadikannya
salah satu jembatan beton bertulang pertama di Eropa. Ljubljana memang erat
kaitannya dengan naga. Menurut mitos warga setempat, dulu ada seekor naga yang
menyemburkan api dan sering memangsa apa saja yang melewati sungai Ljubljanica,
termasuk manusia. Suatu ketika, seorang pahlawan Yunani, Jason beserta
pengikutnya, melewati sungai ini dalam perjalanan mereka menuju laut Adriatik.
Rombongan Jason pun diserang oleh naga ini sehingga membuat kekacauan kala itu.
Akhirnya Jason bersama kekasihnya, Medea, memutuskan bahwa satu-satunya cara
agar selamat adalah dengan membunuh naga ini. Di malam hari, setelah melalui
perjuangan hebat, Jason berhasil membunuh naga itu setelah berhasil
menghunuskan pedangnya ke mulut naga itu. Lambat laun, naga menjadi simbol kota
Ljubljana, merepresentasikan kekuatan dan ketahanan. Bisa dilihat dari cinderamata
kota ini, banyak gantungan kunci, tempelan kulkas, maupun boneka naga. Naga
memang sudah jadi ikon yang melekat dengan kota ini.
Yups, sekarang
sudah jam 9.30 pagi, waktunya berangkat ke terminal. Memang tujuan utama kita
bukan di ibu kota nya, melainkan ke Bled. Kami tidak terlalu tertarik memang
untuk berkeliling kota Ljubljana, bahkan beberapa spot seperti Ljubljana Castle
juga kita skip. Makanya, mengunjungi sedikit isi kota saja sudah cukup
bagi kami. Biar puas-puasnya di Bled aja nanti.
Terminal kali
ini tampak hidup, gak seperti subuh saat kami sampai beberapa jam yang lalu,
sepi gak ada orang. Untuk bisa ke Bled, Selain naik bus, kalian juga bisa
memilih opsi naik kereta. Tapi, setelah kami bertanya ke petugas pun, opsi bus
masih jadi opsi paling sesuai untuk kami. Yang perlu diperhatikan adalah, pembayaran
tiket bus ini hanya bisa dilakukan dengan cash saja. Nah nah, pas banget tuh di
dalam ruangan ini ada ATM, tapi sesuai dugaan, ATM ini hanyalah “jebakan”,
karena charge nya gede beneerr. Akhirnya saya keluar melirik sekitar,
apakah ada ATM Bank konvensional di sini. Alhamdulillah ada, letaknya berada di
sebrang jalan. Saya lupa nama bank nya apa, kalau gak salah warnanya merah
muda. Di situ, biaya pemotongannya cuman 0,5 Euro aja, jauh lebih kecil dari
ATM “jebakan” itu.
Di tangan kami
sudah ada tiket PP Ljubljana-Bled. Langsung kami beli tiket PP biar gampang.
Dan untungnya, tiketnya sangat fleksibel, jadi gak terpatok ke jam tertentu,
jam berapapun kita pulang, bisa dipakai. Jam 10.06 kurang lebih, busnya datang,
agak telat. Para penumpang masuk dan bebas untuk memilih tempat duduk.
Perjalanan memakan waktu kira-kira 1 jam, tentu saja waktu ini kami manfaatkan
dengan baik untuk tidur.
Bangun-bangun….MasyaAllah!
Indah banget pemandangan yang saya lihat di jendela. Sungai-sungai mengalir
dengan jernih dan tenang. Gunung-gunung biru terlihat dari kejauhan dengan
salju putih di puncaknya. Jalan-jalan dan lingkungan bersih dan rapi, indah
dipandang mata. Wah gila….. padahal belum nyampe loh ini. Masih ada sekitar 20
menitan lagi untuk kita sampai ke tempat, tapi pemandangannya udah segacor ini.
Wah-wah bakal terpesona nih sepertinya kami dengan Lake Bled.
Kami sampai di terminal terakhir Lake Bled.
Ketika turun dari bus, yang kami cari-cari pertama kali tentulah... toilet.
Awalnya kami mau menumpang toilet hotel dekat sana, tapi waktu jalan masuk, eh
dipanggil sama resepsionis. Tau kami bukan tamu hotel, dia tidak memperbolehkan
kami untuk pergi ke toilet, karena selain tamu, dilarang untuk memakai
fasilitas hotel.
Keluar lah kami
dari hotel, turun ke bawah menuruni tangga. Di sini terdapat taman dengan
beberapa bangku dan ada juga sebuah pondok (saung gitu). Dan di depan kami ada
danau besar jernih yang luar biasa indah. Indahhhh banget! Gacor! Tapiiii, yang
jadi prioritas kami saat ini ya toilet, jadinya kami jalan lagi ke depan,
menuju public toilet yang ada di sana. Toilet ini memakai mesin, yang pintu
masuknya bisa kita buka setelah memasukkan koin 1 Euro. Rhiza punya koin 1 Euro
sendiri, sedangkan kami berdua hanya punya satu koin sisa. Ya udah, koin
dimasukkan dan kami mendorong pintu masuknya barengan sehingga kami berdua bisa
masuk. Hadeuh, ada-ada aja. Untung sepi.
Danau ini benar-benar sangat indah, dan aksesnya sangat terbuka. Untuk berada sedekat ini dengan tepi danau, kami tidak dikenai biaya apapun. Memang full gratis. Ada bebek-bebek yang berenang di tepian danau, orang-orang biasanya memberi makan mereka dengan roti. Lake Bled saat ini relatif sepi, hanya ada kami dan ada satu rombongan wisatawan, sepertinya dari China. Sisanya ya hanya ada orang-orang lalu lalang saja, sedikit sekali. Mungkin karena ini hari Senin. Atau mungkin juga warga sini sudah terbiasa melihat pemandangan menakjubkan ini.
Di salah satu
sisi danau, terlihat dari bawah, Bled Castle, yang berdiri di atas bukit. Bled
Castle adalah kastil yang berusia lebih dari seribu tahun, menjadikannya kastil
tertua di Slovenia. Kehadiran kastil ini menambah keindahan pemandangan alam di
Lake Bled. Bahkan, menghabiskan waktu sore di kastil, adalah salah satu opsi
terbaik yang bisa diambil, dengan view Lake Bled dari atas.
“Yuk, ngerakit,
yuk, udah jam 12, nih”, ajak saya.
“Gas lah, kalau
gitu, yuk!”
Merakit/Ngerakit ini kata yang kami gunakan sepanjang perjalanan
ini buat menyebut “makan roti tawar dengan selai”, karena kan rotinya harus
dirakit dulu dengan selai dan susu kental manis, makanya ‘ngerakit’ kita
nyebutnya. Awalnya sih buat sebutan makan roti tawar selai aja, tapi lama
kelamaan pokoknya kalau ngajak makan, “Ngerakit, yuk!”. Ini bang Ihsan nih yang
mulai. Roman-romannya orang Bekasi, nih orang.
Saya makan dari
orderan nasi doner ayam yang saya pesan semalam, Rhiza makan burger yang dia
beli di McD, dan bang Ihsan makan nasi opor ayam dia sisa kemarin. Dia juga ada
sisa klepon isi coklat yang dibuat oleh teman-teman TKI nya di mess. Saya juga
bawa jus buah kemasan 1 literan yang ada di minimarket itu. Btw, kami makan di
pondok taman yang saya sebutkan sebelumnya di atas. Yang penting selama jaga
kebersihan sih, aman ya buat makan di sana. Soalnya malah gak boleh kalau makan
atau piknik di sekitar tepi danau.
Di Bled, ada satu
manisan khas yang terkenal enak, namanya kremna rezina atau Bled Cream Cake.
Makanan ini gampang untuk ditemukan di Bled, terutama di kafe-kafe atau toko
roti. Jadi, untuk mendeskripsikannya, Kremna Rezina ini punya lapisan krim
vanila yang tebal dan lembut, dan di atasnya ada lapisan krim kocok ringan, semuanya
ini diapit oleh dua lapisan puff pustry renyah, dan ditaburi dengan gula halus
di bagian atasnya. Jadi kalau kita pencet tuh, krim vanilanya meluber saking
banyaknya. Saya akuin, ini enak sih. Benar-benar definisi perpaduan tekstur
renyah di luar, tapi lembut dan lumer di dalam. Saya beli ini di salah satu
toko roti dan café (jadi satu), harganya 4,9 EUR (sekitar 90 ribu rupiah). Ya
sekali-kali mah worth it ini.
![]() |
| Kremna Rezina |
Awalnya, kami
rencana untuk makan manisan ini setelah selesai jalan-jalan keliling danau,
tapi setelah pertimbangan takut cafenya tutup, juga takut nanti kecapekan,
malah gak nikmat makan kuenya, jadinya abis makan siang tadi, kami melipir ke
salah satu café yang menyuguhkan pemandangan danau dari atas. Karena café ini
kehabisan Kremna Rezina, makanya saya beli di café lain, terus bawa ke sini.
Rhiza yang alergi susu (jadi dia kalau makan roti tawar pakai selai stroberi
aja, gak pake susu kental manis), beli Strudel Apel khas malang, sedangkan
bang Ihsan malah beli kentang goreng dia di warung Burger sebelah. Enak sih
tapi French Fries nya. Beberapa menit nongkrong di sisi luar café, hujan
akhirnya turun setelah dari tadi awan mendung berkumpul di langit. Hanya ada
kami bertiga saat itu yang duduk di pinggir pagar kaca, yang menyuguhi
pemandangan danau indah dari dekat itu, sisanya makan dan minum di dalam café.
Kami kemudian pindah ke sisi yang berdekatan dengan dinding kaca café, ada
tenda yang melindungi kami dari hujan di sana.
Hujan tidak
bertahan lama, hanya sekitar 15 menit. Karena sudah jam 2 siang, kami rasa
sudah saatnya mulai berkeliling danau, menuju destinasi utama kami. Jadi, di
Bled Lake, ada beberapa tempat yang bisa kalian datangi untuk menikmati
keindahan alamnya secara maksimal, yang semuanya sudah saya tandai sebagai
favorit di Google Maps. Ada Bled Castle, Gorge/Soteska Vintgar, dan Ojstrica
Viewpoint. Semuanya menawarkan pemandangan yang indah. Tapi setelah
menimbang-nimbang tenaga dan waktu, sepertinya kami harus memilih salah satu
opsi antara Soteska Vingar atau Ojstrica Viewpoint, sebelum nanti ditutup
dengan naik ke atas bukit menuju Bled Castle di sore hari, menimbang lokasi
kastil yang memang dekat terminal bus kami nanti untuk kembali ke Ljubljana.
Setelah melihat kalau Gorge/Soteska Vintgar ini terlalu jauh dan di Google juga
tulisannya tutup sementara, kami memutuskan untuk mengunjungi Ojstrica
Viewpoint saja, sekalian mengelilingi danau dari segala sisi.
Dari tempat kami
saat ini, butuh waktu hampir satu jam untuk berjalan menuju Ojstrica Viewpoint
ini. Ditambah lagi, karena tiap 15 menit sekali hujan turun, terkadang kami
harus berhenti untuk berteduh. Kami juga menyempatkan diri untuk salat di atas rerumputan
di salah satu sisi danau, tepat sebelum hujan turun lumayan lebat. Untungnya
Rhiza bawa sejadah, jadi kami tetap salat di tempat yang bersih, menghadap ke
arah danau, sesuai kiblat yang ditunjukkan website Find Qibla.
Di salah satu sisi
danau, ada tempat yang sepertinya merupakan tempat penyewaan perahu. Tapi di
sana sedang tidak ada orang, sepi. Karena sepertinya sangat estetik sekali
untuk berfoto di atas perahu ini, kami memberanikan diri untuk masuk ke area
‘parkir’ perahu-perahu kayu itu, dan naik ke atasnya. Dengan berhati-hati, satu
per satu kami berfoto dengan duduk di atas perahu tersebut, dengan pemandangan
danau yang indah di belakang kami.
Kami akhirnya
sampai di suatu titik, yang di mana untuk menuju Ojstrica, harus mendaki
sedikit tanjakan perbukitan. Bang Ihsan bilang, dia menunggu di bawah aja, lagi
pengen bengong aja di tepi danau, lagipula kakinya lagi sakit. Oke dah, gak
perlu dipaksain. Akhirnya, saya berdua dengan Rhiza yang naik ke atas. Jadi,
sebenarnya ini kami potong jalur, karena di G-Maps, kita harus ikuti jalan
memutar yang memakan waktu 20 menit. Tapi, kalau kita langsung masuk ke jalur
pendakiannya, jaraknya terpangkas jadi hanya sekitar 10 menitan. Kami
sebenarnya cuman ikut pasangan yang kami lihat menuju ke sana, sepertinya ke
Ojstrica juga.
Jalurnya gak
terlalu terjal sih, kayak kita lagi nanjak ke daerah curug aja. Walaupun
begitu, track-nya ini lumayan bikin pinggang encok sih, haha. Barulah ketika
sampai di tebing bebatuan, tempat kita harus naik ke atas untuk bisa berada di
viewpointnya, yang ini agak terjal. Tapi gak usah khawatir karena sudah ada
tali dan besi yang jadi pegangan kita ketika naik. Meskipun begitu, tetap
naiknya harus pelan-pelan dan hati-hati.
Ketika kami sampai di atas……..Wahhhhh! Gilaaa! MasyaAllah banget! Gak henti-hentinya kami memuji pemandangan seindah ini. Ini sih benar-benar worth it! Dari atas tebing ini, kalian bisa mendapatkan view terbaik Lake Bled dari atas. Tempat ini hampir meng-capture keseluruhan danau dari atas, dengan pulau di tengahnya, dan pemandangan gunung bersalju di belakangnya. Cantik banget!
Saya dan Rhiza
bergantian berfoto dan buat video singkat di tebing ini. Kurang lebih kami 15
menitan di viewpoint ini, sebelum akhirnya kami kembali turun karena
sepertinya, gak lama lagi hujan bakal turun kembali.
Dan bener, pas
ketika kami sampai di bawah, hujan kembali turun. Kami kemudian berteduh ke
sebuah pondok peminjaman perahu yang tak jauh dari tempat kami berada. Sama
kayak sebelumnya, tempat ini juga gak ada orang. Tapi, tempat ini, jauh lebih
besar karena dia ada atap kayunya. Sebenarnya dibilang pondok juga gak cocok
karena gak ada dindingnya. Di sana kami berkenalan dengan dua orang yang juga
mengikuti kami berteduh di pondok itu. Satunya orang Jepang, satu lagi orang
China. Mereka baru bertemu di Bled, sebelumnya gak kenal satu sama lain. Yang
orang Jepang, tinggal di Inggris, sedangkan yang orang China, bekerja di
Denmark.
Untuk kedua
kalinya, kami kembali nekat naik ke perahu yang terikat rantai itu dan berfoto
di atasnya. Soalnya, di sini, latar belakang alamnya jauh lebih indah dari spot
foto perahu sebelumnya. Cekrekkk! Hasil fotonya bagus banget. Thanks, buat
abang fotografi kita, Bang Ihsan.
Saat hujan
sudah mereda, kami lanjutkan perjalanan, kembali ke titik awal. Karena kalau
kita jalan terus sampai selesai satu putaran danau, jaraknya lebih jauh
dibanding kami memutar balik.
“Ngerakit lagi
yuk!”
“Yuk lah, laper
nih”
Waktu menunjukkan pukul 16.30, sudah cukup sore. Makanya wajar
kalau perlu recharge tenaga lagi. Saya kembali mengeluarkan roti tawar, susu
kental manis, jus buah, dan selai stroberi dari tas saya. Penghabisan selai
stroberi dan jus buah yang sisa sedikit. Bahkan orang yang lewat pun kami
tawari buat join, hehe. Cuman gak ada yang mau aja. “I’m Ok”
Singkat cerita,
kami sampai ke titik awal, di mana ada beberapa bebek yang berkumpul di tepi
danau. Di sini kami menghabiskan sisa roti tawar di tas saya untuk dikasih ke
bebek-bebek ini. Saya juga menawari roti tawar saya ke orang-orang lain yang
ada di situ, yang ingin interaksi dengan bebek juga, tapi gak bawa roti kayak
saya.
Rhiza katanya
mau jalan-jalan sendiri aja, menghabiskan sisa waktu sebelum kembali ke bus. Bang
Ihsan katanya mau di sini aja, mau nyantai. Saya lanjut jalan lagi, tanggung
satu destinasi lagi pengen saya selesaikan- Bled Castle. Di google, Bled Castle
akan segera tutup jam 6 sore. Setengah jam lagi. Tapi, ketika berjalan menuju
ke sana, saya berpapasan dengan dua orang Jepang dan China yang tadi itu loh.
Mereka bilang, Bled Castle masuknya bayar sekitar 18 Euro -cukup mahal. Dan
spot foto yang bagus juga baru bisa kita akses kalau kita bayar biaya masuknya.
Mereka berdua juga menunjukkan ke saya beberapa foto yang bisa mereka ambil di
bawah kastil (tidak masuk ke dalam). Gak seindah yang bisa kita lihat di
Ojstrica. Bahkan jauhh sekali. Mungkin kalau kita foto dari spot kastilnya,
bakal lebih bagus? Entahlah. Saya juga sudah puas dengan view yang saya dapat
di Ojstrica.
“Lah, gak jadi,
bro?”, tanya bang Ihsan.
“Bayar cuy, gw
juga ketemu sama orang Jepang dan China itu, katanya bayar, dan lumayan mahal
juga. Jadi ya gak usah lah”, jawab saya.
Kami berdua
akhirnya menghabiskan sisa waktu di Café tempat saya beli Kremna Rezina tadi
siang. Bagus dan cukup murah café nya. Bang Ihsan beli Kremna Rezina buat
oleh-oleh ke teman-temannya. Saya beli Cappucino seharga 2.3 EUR, sekalian
numpang ngecas HP di sana. Di sana kami sampai jam 18.30 sore. Bang Ihsan
sampai tidur di café ini saking capeknya dia.
Bus yang kami
naiki berangkat dari tempat yang sama dengan tempat kami turun sebelumnya. Dan
kami lagi-lagi ketemuan dengan dua orang Jepang dan China tadi, kami pulang
bareng naik bus yang sama.
Di bus,
sepanjang perjalanan kami tidur. Jam 8 malam, kami tiba terminal Ljubljana.
Kami berpisah dengan mereka berdua yang belum sempat kami tanya nama, apalagi
IG nya. Malam itu, kami hanya menghabiskan malam kami di McD terminal. Saya
menumpang makan bekal spaghetti saya di sana. Gak ada jalan-jalan karena
semuanya pada capek. Sebenarnya saya masih pengen explore sedikit Ljubljana di
malam hari sih, tapi kalau sendiri malas juga.
Bus kami delay,
yang tadinya harusnya jam 22.05, malah jadi 22.45. Saya menghabiskan waktu
dengan nonton film “Escape From Alcatraz” di Netflix. Cukup bagus dan layak
ditonton, menurut saya.
Sebenarnya ada
beberapa juga destinasi alam menarik yang bisa dikunjungi di Slovenia selain
Lake Bled, seperti Gua Postojna yang indah dan salah satu gua yang paling
sering dikunjungi di Eropa; Taman Nasional Triglav yang merupakan satu-satunya
taman nasional di Slovenia; Gua Škocjan yang masuk ke situs warisan UNESCO;
Pegunungan Julian Alps yang merupakan gunung-gunung bersalju yang kita lihat
sepanjang hari ini; dan Danau Bohinj yang merupakan danau terbesar di Slovenia,
bisa jadi alternatif Bled Lake juga. Bisa kalian google foto-foto tempat cantik
ini, pastinya gak mengecewakan. Ya, lihat aja bendera Slovenia. Ada ikon gunung
logo perisau dengan gambar gunung, sungai dan bintang, kan? Ya itu memang
menunjukkan mereka punya kekayaan alam yang indah.
Andai
pengelolaan tempat wisata alam Indonesia sebagus Slovenia, tentu kita gak bakal
kalah saing. Yang bikin tambah indah tempat-tempat ini adalah bersihnya tempat
ini dari sampah dan dari ormas-ormas yang bikin kita dikit-dikit bayar itu,
padahal gak ada kontribusi apa-apa di sana. Jujur sepanjang saya jalan-jalan di
Turki dan Eropa, terutama di alamnya, gak saya temuin satupun biaya masuk,
apalagi pungli. Orang menikmati alam kok, dipatok bayaran. Masuknya ke kantong
pribadi pula?! Ya sedikit curhat lah, hehe. Kesel sih, alamnya sudah bagus, eh malah
banyak yang ‘mengotori’. Mereka hanya pikir jangka pendek, dapat bayaran
sedikit, tapi tanpa mereka sadari, wisatawan-wisatawan yang dipungli itu, kecil
kemungkinan untuk balik lagi ke sana. Coba kalau wisatawan nyaman, pasti bakal
rame juga tempat wisata itu, dan ekonomi jadi berputar kan di antara para
warga. Yahhh...Semoga kedepan kita lebih baik, ya.
Oke, guys jadi
begitu cerita liburan lebaran kali ini. Liburan selanjutnya bakal jauh lebih
panjang dan jauh lebih merogoh kantong. Tapi semoga sepadan.
See you di trip
selanjutnya!





Komentar
Posting Komentar