Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Bratislava-Praha-Wina, 6-8 Maret 2025

              Bagian Wina ini merupakan kelanjutan dari part sebelumnya, part Bratislava. Jadi, kalau belum baca, bisa baca itu dulu ya sebelum lanjut ke Part Wina ini.

            Kalau kalian masih ingat di Part Bratislava, di situ saya cerita bahwa, saya bertemu dengan seseorang dari Suriah yang tinggal di Wina, pada saat saya sedang menunggu bus keberangkatan dari Budapest ke Bratislava. Nah dia DM saya di IG, minta saya untuk kabari dia kalau sudah sampai di Wina. Dia bilang, dia mau ajak saya untuk makan bersama dengan teman-temannya ketika buka puasa nanti. Nah, di satu sisi, Jamshid dan Ahmet ternyata mereka juga berangkat ke Wina hari ini. Hemm, kayaknya gabut mereka berdua nih makanya nyusul.

            Saya sampai di Wina lebih cepat setengah jam dari seharusnya. Jam 14.45, saya sudah sampai di terminal VIB Erdberg. Dari sini, saya langsung ke tujuan pertama saya, yaitu Stephenplatz. Untuk ke sana, saya perlu naik metro U3 melewati 6 perhentian. Nah, Wina itu kan termasuk kota mahal ya. Jadi, tiket sekali naik transumnya itu aja, 2.4 Euro (43 ribu rupiah), sedangkan untuk tiket 24 jam nya, harganya 8 Euro (143 ribu rupiah). Jadi, rencana saya, bakalan beli satu tiket aja, sisanya jalan kaki. Atau kalau mau naik transum, nunggu malam dulu, biar gak ada checking (tidak untuk ditiru ya, soalnya kalau tiba-tiba ada yang periksa dan ketahuan belum beli tiket, dendanya udah pasti gede). Lagipula, hampir semua destinasi wajib Wina, berlokasi di sekitar kompleks Stephenplatz. Ngerasa gak worth it aja untuk keluar 8 Euro, hehe. Kecuali kayak kemarin di Praha kan kemana-mana tuh kita, walaupun gak ada satupun pengecekan sih.

            Tapi, 2.4 Euro itu terasa sangat worth it ketika kita keluar dari station Stephenplatz, langsung disambut dengan katedral yang keren banget. Gokil! Lagi dan lagi, arsitektur Gothic bikin saya tercengang. Dari depan, maupun dari samping, sama-sama gacor viewnya. Katedral ini bernama Katedral St. Stephen (Stephansdom), yang telah menjadi pusat spiritual dan budaya kota sejak abad ke-12. Katedral ini punya menara setinggi 136 meter di bagian selatannya, dan menara yang lebih pendek di utaranya, dikarenakan memang pembangunan menara ini tidak pernah selesai. Menara utaranya, menampung Pummerin, lonceng terbesar di Austria yang berbunyi pada acara khusus seperti tahun baru. Pummerin memiliki berat lebih dari 20.000 kg (44.380 lb), menjadikannya lonceng terbesar ketiga di Eropa. Yang terbesar, ada di Katedral Koln yang terkenal di Jerman, namanya lonceng Peter (Petersglocke). Yang bikin katedral ini unik, salah satunya adalah atap berubin mosaiknya. Atap unik ini terdiri dari 230 ribu ubin kaca warna-warni yang membentuk pola Kekaisaran Habsburg dan kota Wina. Sudut dan warnanya itu loh, unik. Kalau kalian masuk, kalian bisa lihat langit-langitnya tinggi dengan pilar batu yang megah. Interior gereja dihiasi dengan altar utama bergaya Baroque, lukisan, dan patung-patung cantik. Dalam sejarahnya, Katedral ini dibangun pertama kali pada tahun 1137 M dalam gaya Romanesque dan diperluas dalam gaya Gothic pada abad ke-14. Katedral St.Stephen sempat selamat dari berbagai perang, termasuk Perang Dunia kedua (PD II), meskipun sempat mengalami kebakaran besar pada tahun 1945. Hingga kini, katedral ini menjadi pusat Katolik di Austria, dan sering digunakan untuk berbagai acara nasional. Untuk penamaan, nama Stephan diambil dari nama Santo Stefanus, yang dihormati sebagai martir pertama dalam sejarah Kristen, yang dirajam dengan batu karena menyebarkan ajaran kristus. Maka dari itu, banyak gereja besar di Eropa dinamai menurut namanya.

            Di saat saya sedang foto-foto katedral ini. Abud, teman saya orang Syria ini chat saya di WA (setelah kami tukeran nomor di DM IG), dia menyuruh saya untuk datang ke Ottakering, tempat tinggalnya. Tapi, saya bilang, saya gak bisa datang ke sana (dan gak mau juga, baru aja nyampe di Stephenplatz, haha). Akhirnya, dia bilang akan nyusul saya. Dia butuh waktu 40 menit untuk ke sini, katanya. Karena memang masih lama, makanya saya santai dan jalan-jalan dulu aja di sekitar Stephenplatz ini menuju tempat lainnya.

            Saya jalan melewati Graben, salah satu jalan perbelanjaan paling terkenal di Wina, tempat luxury nya Wina ya di sini. Banyak toko barang-barang branded macam Louis Vitton, Dior, dan lain-lain di sini. Memang gak bisa dipungkiri, kesan pertama kita ke Wina, apalagi kalau tempat pertama yang dikunjungi adalah Stephenplatz, pastinya adalah, “Luxury”. Wina ini seperti simbol kemewahan. Makanya memang kotanya juga mahal. Walaupun tidak semahal Swiss atau Jerman, tapi untuk negara Eropa Tengah, Austria termasuk negara dengan biaya hidup mahal.

            Di Graben, terdapat sebuah monumen bersejarah yang bernama Plague Column (Pestsaule), salah satu ikon utama jalan ini. Monumen Baroque ini dulunya didirikan atas perintah Kaisar Leopold I sebagai tanda Syukur setelah Wina selamat dari wabah pes pada tahun 1679 M. Arsitekturnya megah, dengan patung-patung malaikat dan representasi Tritunggal (Trinitas) Mahakudus. Jadi, selain sebagai simbol kemenangan melawan wabah, monumen ini juga mencerminkan devosi (kebaktian) religius Kekaisaran Habsburg.

            Beberapa menit jalan terus ke depan, kita akan menemukan Josefsbrunnen, air mancur bersejarah yang dibangun pada abad ke-17, sebelum mengalami berbagai renovasi seiring berjalannya waktu. Sayang, ketika saya datang ke sini, air mancur nya sedang tidak mengalir. Jadi, kalau saya gak tanya chatGpt tentang Josefsbrunnen ini, saya gak bakal tau kalau ini aslinya air mancur.

            Nah, kalau kita lihat di Google Maps, ada banyak sekali istana (palace) di Wina. Tentunya kita gak bakal pergi ke semuanya, paling beberapa aja, terutama yang dekat dengan Stephenplatz. Salah satunya adalah Hofburg Palace, istana megah di Wina yang selama lebih dari 600 tahun menjadi pusat kekuasaan kekaisaran Habsburg. Dibangun pada abad ke-13 dan terus diperluas oleh berbagai penguasa, kompleks istana ini mencerminkan berbagai gaya arsitektur dari Gothic hingga Baroque. Kini, Hofburg menjadi kediaman resmi Presiden Austria dan menampung beberapa museum, termasuk Imperial Apartments, Sisi Museum, serta Austrian National Library. Jangan tanya saya isinya gimana, karena saya gak masuk. Dari luar aja, InsyaAllah cukup.

            Persis di depan Hofburg, ada salah satu tempat unik, berbentuk lubang yang berisi reruntuhan benda-benda arkeologi bersejarah. Papan penjelasannya juga diletakkan terbaring di lubang, menambah kesan unik tempat ini. Tempat ini adalah Ausgrabungen Michaelerplatz. Lokasinya terbuka di tengah alun-alun, sehingga kita bisa melihat langsung sejarah yang terhampar di bawah kaki kita. Untuk kalian pecinta sejarah, mungkin bakal suka tempat unik ini karena ia menampilkan banyak reruntuhan-reruntuhan dari masa Romawi dan Abad Pertengahan.

            Kalau teman-teman ke sini di sore hari seperti saya, biasanya banyak kendaraan-kendaraan vintage yang lewat, juga kuda-kuda delman yang memang digunakan untuk tur wisatawan. Nah di sini tuh, kerasa banget vibes kerajaannya. Mewah banget kesannya gitu. Mobil-mobil vintage warna putih itu, dengan kuda-kuda yang menarik gerobak penumpang, dilatarbelakangi dengan arsitektur istana yang megah, berwarna putih, dengan patung pasangan yang dipahat sangat detail, memberikan lagi nilai tambahan luks tempat ini.

            Saya kemudian jalan memasuki lorong istana. Di tengah lorong kita bisa melihat kubah putih besar yang tinggi, dengan ornamen coklatnya, dan jendela-jendela bulat di setiap sisinya.  Kuda-kuda delman sering lewat masuk ke sini. Keluar dari lorong, kita akan melihat monumen Kaisar Franz II (Franz I di Austria). Monumen ini terdiri dari beberapa patung dengan posisi yang berbeda-beda, ada yang duduk dan ada yang berdiri. Patung utama di tengah, yang berdiri dengan memakai pakaian kain khas Kerajaan zaman dulu, dengan gestur yang penuh wibawa, adalah patung yang menggambarkan Kaisar Franz II. Beliau adalah kaisar terakhir dai Kekaisaran Romawi Suci, yang kemudian menjadi Franz I, Kaisar Austria pertama setelah pembubaran Kekaisaran Romawi Suci pada tahun 1806. Sedangkan patung-patung sekelilingnya, adalah empat patung alegoris yang melambangkan perdamaian (Pax), kekuatan (Fortitudo), keadilan (Justitia), dan kebijaksanaan (Sapientia). Pada bagian dasar terdapat tulisan:

“AMOREM MEUM POPULIS MEIS”

“Cintaku untuk Rakyatku”

Jalan lagi ke depan, kita sekarang ada di Heldenplatz (Plaza Pahlawan). Di sini kalian bisa lihat pemandangan sekeliling kalian itu pemandangan yang luar biasa. Kiri megah, kanan megah, depan megah, belakang, apalagi! Jadi, untuk menemani jalan-jalan sore saya kali ini, saya video call kakak saya. Bagi-bagi kemegahan, hahaha. Nah, sepanjang sore ini sampai saya kembali untuk menemui Abud, saya bakal ‘ditemani’ dengan kakak saya.

Di sebelah kiri kita saat ini adalah Neue Berg, yang merupakan bagian dari Hofburg yang memiliki koleksi museum dan perpustakaan. Jadi memang Hofburg ini sangat luas ya, guys. Sedangkan di kanan saya, dari kejauhan terlihat sebuah bangunan mirip istana bergaya Neo-Gothic yang megah. Nah kalau di depan, itu ada sebuah taman, namanya Volksgarten, yang dibaliknya, kalau kita jalan melewati taman ini, kita akan melihat Gedung Parlemen Austria, berwarna putih yang megah, terletak di sebrang jalan.

Sekarang, kita bergerak ke arah kanan kita, menuju bangunan mirip istana itu. Sekalian jalan ke sana, nanti kita akan melihat juga gedung Burgtheater, yang merupakan gedung teater nasional Austria, salah satu teater berbahasa Jerman paling bergengsi di dunia.

Burgtheater dibangun pertama kali pada tahun 1741 oleh Kaiserin Maria Theresa sebagai teater istana (Hofburgtheater), sebelum Kaisar Joseph II mengubahnya menjadi teater publik. Gedung ini diperbarui pada tahun 1888 dengan gaya arsitektur Neo-Renaissance, dirancang oleh arsitek terkenal Gottfried Semper dan Karl Freiherr von Hasenauer. Tempat ini menjadi lokasi penting bagi dunia seni maupun teater, dan karena fungsi dan nilai sejarahnya yang panjang, tempat ini menjadi salah satu ikon kota Wina.

Nah, persis di sebrang Burgtheater, adalah RathausPlatz, bangunan bergaya Neo-Gothic yang saya maksud. Waktu saya ke sini, saya gak tau tempat ini apa, jadinya saya gak masuk dan pergi lebih jauh ke dalam kompleks ini. Di tambah lagi, ada konstruksi di sana yang bikin saya mengabaikan tempat ini. Saya gak tau sebelumnya, kalau RathauzPlatz ini adalah alun-alun besar, dan bangunan mirip istana ini adalah Wiener Rathaus (Balai Kota Wina). Buset ya, balai kota semegah ini. Jadi alun-alun ini biasa menjadi tempat diadakannya acara besar di Wina, seperti event natal, arena seluncur es musim dingin (Vienna Ice World), dan juga festival film outdoor yang menampilkan opera dan konser klasik. Jadi, tempat ini tuh biasanya selalu ramai dan menjadi salah satu destinasi wajib wisatawan. Tapi waktu saya kesana sih, memang gak keliatan terlalu ramai ya, mungkin karena ada konstruksi di sana, jadinya ketutupan ramainya. Atau memang lagi gak ramai aja karena konstruksi ini. Entahlah. Pokoknya kalian kalau ke Wina, ke sini juga, dan berkunjung ke balai kotanya ya!

Jalan ke arah kiri jalan, kita menuju Gedung Parlemen Austria yang megah itu. Bangunan ini memiliki gaya neoklasik, dengan fasadnya yang dihiasi dengan berbagai patung dan ukiran yang rumit. Di depan gedung, terdapat patung Air Mancur Pallas Athena, yang melambangkan kebijaksanaan dan kekuatan legislatif. Kesan gedung ini mengingatkan kita dengan bangunan-bangunan klasik Yunani kuno, karena memang desain gedung ini terinspirasi dari sana. Gedung Parlemen mereka yang megah ini, sekali lagi menambah kesan luks kota Wina. Di tempat semacam ini sih, wajib ya foto-foto. Kita stop dulu orang yang lewat buat minta tolong fotoin kita. CKRIK. Alhamdulillah, kali ini hasilnya lumayan bagus. Kameranya aja yang perlu di-upgrade, hehe.

Saya kembali lagi ke depan katedral, Abud udah datang ternyata dan telah menunggu saya beberapa menit. Dan ketika saya baru di tengah jalan, dia bilang, akan terlambat jika dia tidak pergi sekarang ke restoran. Makanya dia memutuskan untuk meninggalkan saya. Duh, gak enakan kan saya kalau gini. Ya udah, saya akhirnya nyusul dia ke restoran Suriah, beberapa pemberhentian (stop) dari Stephenplatz. Alhamdulillah, saya sampai tepat waktu sebelum adzan Maghrib.

Di sisi lain, Jamshid dan Ahmed sudah sampai di Wina. Awalnya saya ajak mereka berdua untuk bergabung dengan kami, tapi karena dirasa terlalu jauh, mereka akhirnya memutuskan untuk berbuka di tempat terdekat sekitar mereka.

Di restoran Arab ini, kami memesan banyak sekali makanan, ayam, shawarma, falafel, dan lain-lain. Di awal, kami duduk bertiga, sebelum akhirnya, ada dua orang lagi, temannya Abud yang datang. Menariknya, setelah mengobrol, saya jadi tau bahwa mereka semua pernah mengungsi di Turki, selama bertahun-tahun sebelum pindah ke Wina. Mereka cerita tentang kehidupan sulit mereka di Turki, ketika mereka sering mendapat perlakuan rasis dari penduduk sekitar. Merupakan rahasia umum, kalau orang Arab secara umum (bahkan pelajar), apalagi orang Suriah secara khusus, mendapat perilaku diskriminatif dari warga lokal. Sedangkan di Wina, mungkin mereka mendapat kehidupan lebih bebas dan nyaman ya. Saya lihat memang di Wina tuh, banyak banget orang Arab, maupun komunitas Arab di sini. Komunitas Turki juga besar di sini. Kalian bisa menemukan restoran Turki dan Restoran Arab dengan mudah di Wina. Btw, saya abis 10 EUR di sini, jadi uang pertama yang saya keluarkan untuk saya makan selama jalan-jalan tiga hari ini. Yang bikin saya menyesal adalah, kenapa waktu itu saya malu-malu buat bungkusin sisa ayam yang belum habis untuk sahur nanti malam, wkwkwk. Itu tuh bukan saya banget.

Beberapa menit setelah itu, Jamshid menelpon saya, dia sedang bersama dengan Ahmed sekarang, menuju Stephenplatz. Dia mengabari saya kalau mereka tadi berbuka di masjid Baitul Ma’mur, tak jauh dari pusat kota. Padahal, Abud dan teman-temannya bilang, kalau tahun ini, masjid-masjid tidak ada yang menyelenggarakan free iftar, tidak seperti tahun kemarin. Eh taunya, kalah informasi mereka sama dua orang ini yang baru datang. Di kota Wina, karena memiliki komunitas muslim yang cukup besar, punya masjid yang jauh lebih banyak dari Praha. Mungkin kurang lebih sebanyak yang ada di Budapest. Salah satu masjid di Wina, yang bernama Masjid As-Salam, dikelola oleh komunitas muslim Indonesia bernama Wapena (Warga Pengajian Austria). Sayangnya, hari ini, Wapena tidak sedang mengadakan free iftar. Mereka hanya mengadakan free iftar di beberapa hari Ramadhan saja, ketika pengajian diadakan. Dan taunya, pengajiannya kemarin. Hemmm. Saya jadi agak kepikiran sedikit karena taunya ada masjid free iftar ini. Harusnya saya bisa menghemat 10 EUR, hahaha. Yahh gapapa lah, saya terhitung jarang banget makan di restoran luar selama ini, apalagi ketika Ramadhan.  

Singkat cerita, saya menyusul Jamshid dan Ahmed ke Stephenplatz, sedangkan Abud dan teman-temannya, mereka pergi ke tempat lain. Abud bilang akan menyusul, setelah mereka selesai dengan urusan mereka di tempat itu. Oke lah.

Saya bertemu dengan mereka berdua di depan katedral. Setelah itu, karena Hp Ahmed lobet ya, kami mampir dulu ke salah satu restoran dan menumpang cas Hp di sana selama beberapa menit, tentunya sambil memesan minum ya.

 

 

Setelah sekitar 15 menitan di sana, kami jalan memutari Stephenplatz (kedua kalinya untuk saya). Oleh karena itu, di kali yang kedua ini, saya ingin mendatangi sekalian tempat yang belum sempat saya kunjungi tadi sore, tapi masih dalam kompleks Stephenplatz. Saya tanya chatgpt, tempat-tempat mana saja yang merupakan situs bekas pengepungan Wina oleh Kesultanan Ottoman pada abad ke-16 (Pengepungan Wina pertama, gagal), maupun pengepungan pada abad ke-17 (Pengepungan Wina kedua, hampir menang, tapi kalah saat Polandia memberikan bantuan) dulu.

Patung King Leopold I di Am Hof Square, salah satu alun-alun penting abad pertengahan, merupakan salah satu yang disarankan chatgpt untuk dikunjungi, sebagai salah satu jejak pengepungan Wina oleh Ottoman. Eh setelah saya tanya lagi, dia klarifikasi dong. Patung King Leopold I di tengah-tengah alun-alun itu, gak ada hubungannya dengan pengepungan Ottoman, melainkan didirikan atas kesyukuran karena selamat dari Perang Tiga Puluh Tahun dan berhasil memukul mundur Swedia dari kota mereka. Ngawur emang, padahal saya udah di sini.

Kalau kalian ingin mengunjungi situs-situs yang benar-benar berkaitan dengan jejak pengepungan Ottoman di Wina, kalian bisa kunjungi Türkenbefreiungsdenkmal (Turk Liberation Memorial) di Kahlenberg, dan Türkenschanzpark (sebuah taman yang dinamai parit Ottoman ("Turkenschanz") yang digunakan selama Pengepungan Wina tahun 1683). Dari 5 tempat rekomendasi chatgpt, Karlskirche dan Am Hof Square yang diklarifikasi salah jawaban. Jadi, emang harus re-check lagi, gak bisa langsung percaya apa yang dikasih tau AI ini ya. Btw, ada banyak Am Hof ya di Wina, lebih dari 10. Bisa kalian cek di Google. 

Saya juga penasaran dengan sekolah seni yang dulu menolak Hitler sih, keputusan yang memiliki Butterfly Effect sangat besar dalam sejarah dunia. Nama sekolah seni ini, the Academy of Fine Arts Vienna, salah satu sekolah seni terkemuka di Eropa. Sekolah seni ini masih aktif sampai sekarang, sebagai universitas negeri terkenal di Wina. InsyaAllah, kapan-kapan kalau ke Wina lagi, mau mampir ke sini.

Oh ya, hari ini, kami jalan-jalan bertepatan dengan Hari Wanita Sedunia. Seperti banyak yang terjadi di negara lainnya, terdapat pula demonstrasi yang dilakukan di Austria. Demonstrasi ini dilakukan oleh rakyat Austria, khususnya para wanitanya, membela hak-hak wanita, dan juga kelompok minoritas untuk diperlakukan dengan baik tanpa diskriminasi, termasuk mengangkat isu anti-semitism, anti-islamism, dan racism. Demonstrasi ini berlangsung damai dengan kawalan polisi di belakang mereka. Para demonstran berjalan melewati Gedung Parlemen, terus ke Balai Kota.

Setelah itu, kami bertiga lanjut jalan ke arah kiri kami, menuju Gedung Parlemen. Di sini saya foto lagi, tentu saja dengan kamera Hp yang lebih bagus, punya nya Jamshid, hehe. Dengan kamera ini, Alhamdulillah Gedung megah ini dapat terfoto dengan jelas. Hp saya sangat tidak bisa diandalkan untuk foto di malam hari. Harus disentuh dengan filter IG dulu, atau Adobe Lightroom, barulah bagusan dikit.

Jam setengah 10 malam, Ahmed berpamitan dengan kami. Dia pulang ke Bratislava kembali, naik kereta jam 11 malam. Sedangkan Jamshid yang naik Flix Bus, juga berangkat di jam yang sama. Stasiun jaraknya memang cukup jauh dari sini, makanya Ahmed harus pergi lebih awal. Btw, memang Ahmed sudah sampai di Wina sejak pagi, untuk interview proses tinggal dia di Eropa. Jadi, mungkin udah ke sana ke sini juga di Wina. Dia naik kereta karena dia punya tiket bulanan Bratislava-Wina (pemakaian sekali dalam batas waktu satu bulan) yang belum terpakai sampai saat ini. Biasanya memang kalau gak ada pengecekan, gak ada tandanya kalau tiketnya pernah terpakai. Jadinya selama itu, tiket ini bisa dipakai terus. Butuh hoki memang. Tapi, memang Eropa ini jarang sih pemeriksaan gini. Beda sama Turki yang sudah pasti pengecekannya rutin dan efisien. Jadi gak relate buat orang-orang yang tinggal di Turki, hehe.

Jadinya, tinggal saya sama Jamshid buat sisa jalan-jalan malam ini. Saya mengajak dia untuk pergi ke Belvedere Palace, salah satu istana megah di Wina yang terkenal dengan pemandangannya yang cantik di malam hari. Untuk ke sana, kami perlu untuk naik tramway. Sama seperti di Praha, Tramway di sini juga warnanya merah. Nah, di Tramway ini kami bertemu dengan sesama turis asal Nigeria, Dupe dan Noussa. Mereka berdua saat ini bekerja di Kantor Pusat Wise di Estonia. Dulunya, mereka lulusan S2 di negara itu, sebelum akhirnya mendapat Residence Permit jangka panjang sebagai pekerja di sana. Karena ini pula, mereka sudah mengunjungi banyak sekali negara di Eropa. Saat ini mereka sedang trip 8 hari keliling negara Eropa Tengah, termasuk nanti ke Budapest hari Kamis. Sampai saat ini, kami masih saling kontak lewat Instagram.

Sayang sekali, Belvedere sudah tutup sejak jam 6. Hehehe, gak update info nih. Lagian, chatgpt kasih sarannya untuk mengunjungi tempat ini setelah sunset.  Kan kirain, istana terbuka kayak Hofburg Palace, ya. Taunya istana tertutup gitu, guys. Istana ini buka setiap hari untuk pengunjung dari jam 9 pagi sampai 6 sore. Dan, gak gratis ya. Ada biayanya sebesar 20 Euro. Karena tutup, terpaksa saya dan Jamshid harus cari destinasi lagi yang masih satu jalan dengan arah terminal. Sedangkan, Dupe dan Noussa, pulang ke hostel mereka. Mereka berdua akan berjumpa dengan Jamshid nanti di Bratislava, dan dengan saya ketika di Budapest. Beruntung memang ketemu orang-orang baik yang gampang akrab di trip semacam ini.

Tujuan kami saat ini, adalah Karlskirche (Karlsplatz Church). Untuk menuju ke sana, kami perlu untuk naik tramway lagi kedua kalinya. Karlskirche adalah salah satu dari banyak bangunan yang pembangunannya berkaitan dengan peristiwa wabah pes yang melanda Eropa kembali (walaupun tidak sebesar peristiwa Black Death pada abad ke-14) pada abad ke-18. Gereja ini dibangun oleh Raja Charles VI, sebagai bentuk kesyukuran atas selamatnya Wina dari wabah pes kala itu. Gereja bergaya Barok ini memiliki pengaruh arsitektur dari gabungan Romawi dan Bizantium. Fasad utamanya didominasi oleh kubah hijau besar, yang menjulang tinggi dan memberikan kesan megah. Di kedua sisi pintu masuk, terdapat dua menara berbentuk kolom spiral, yang dihiasi dengan relief yang menggambarkan kisah Santo Karolus Borromeus. Di bagian fasad gereja, terdapat tulisan bahasa Latin yang berbunyi:

"VOTA MEA REDDAM IN CONSPECTU TIMENTIUM DEUM"

"Aku akan menepati janjiku di hadapan mereka yang takut akan Tuhan"

Tulisan ini mencerminkan janji Raja Charles VI yang membangun gereja ini sebagai ungkapan syukur setelah Wina selamat dari wabah pes pada tahun 1713.

 

            Kami berdua kemudian jalan kaki selama kurang lebih 20 menit ke terminal. Saya baru sadar kalau kami berangkat dari terminal yang sama, Vienna Central Bus Terminal. Tadinya, saya kira, saya bakal berangkat dari terminal VIB Erdberg, tempat yang sama dengan kedatangan saya di Wina. Untung aja, saya cek lagi, kalau gak, bisa jadi ketinggalan bus saya malam ini. Di jalan, kami cerita banyak tentang pandangan kami terhadap banyak hal, termasuk yang menarik adalah perbincangan kami mengenai nikah muda. Ia berpendapat, bahwa islam mendorong kita untuk menikah muda, untuk menjauhi diri dari kemaksiatan. Saya setuju dengan hal itu, dengan syarat, kedua pasangan siap lahir batin, untuk pernikahan tersebut. Memang benar, pernikahan dapat memutus kita dari dosa zina, tapi tanpa bekal finansial yang cukup dan mental yang matang, pernikahan dapat memunculkan masalah-masalah baru, terutama keharmonisan keluarga itu sendiri. Saya berpendapat. Menikah muda itu disarankan untuk orang-orang yang memang sudah siap untuk mengemban tanggung jawab besar setelahnya. Saya bilang, saya gak mungkin mau untuk membuat wanita yang saya cintai, tidak bahagia, dengan menikahinya di kala finansial saya belum siap. Memang, Allah akan memperkaya kita, sebagai pasangan suami-istri, tapi sebagai manusia, kita juga perlu berikhtiar terlebih dahulu. Gak bisa asal berpangku tangan begitu saja, mengharap rezeki datang dari langit tiba-tiba turun. Jamshid setuju dengan pandangan saya tentang ini. Menikah muda, oke aja, asal kedua pasangan siap, secara lahir maupun batin. Tak perlu sangat kaya banget, mapan banget, nggak. Tapi setidaknya, punya rencana finansial yang matang. Terlebih, kita sebagai laki-laki punya kewajiban untuk menafkahi pasangan dan anak-anak kita. Tentunya, punya keluarga yang harmonis adalah impian kita semua kan? Dan perlu ikhtiar dan doa yang kuat untuk mencapai itu. Termasuk, cari pasangan yang pas tentunya, hehe. Semoga yang jadi pilihan kita sebagai pasangan nanti cocok ya. Aamiin.

            Di Wina, saya gak sempat untuk beli oleh-oleh apapun. Malam yang cukup singkat. Jujur, saya di Wina gak terlalu banyak yang di cari, karena ekspektasi trip saya sudah terpenuhi sejak di Praha. Jadi, trip ke Wina hanya saya anggap sebagai pelengkap saja. Walaupun, sebenarnya Wina terlalu bagus kalau hanya sekedar dijadikan pelengkap. Trust me, Vienna is very worthy to visit, guys!

            Sebagai summary, saya ingin kasih review nilai secara singkat 3 kota yang saya datangi di trip edisi pertama ini. Bratislava, saya kasih 7/10. Saya mendapat ketenangan, persaudaraan, dan kehangatan di kota ini. Kota ini mempunyai kesan tersendiri untuk siapapun yang mengunjunginya. Praha, kota ini bisa dibilang sebagai kota tercantik di Eropa. Terlalu terburu-buru mungkin untuk menilai. But, definitely one of the best in Europe, if not the best. Keren banget. Banyak banget yang bisa kalian kunjungi dari ibukota Republik Ceko ini. Kotanya juga secara harga, gak terlalu mahal. Buat saya, saya kasih nilai 10/10 untuk kota ini. Saya menemukan keindahan, keestetikan, dan kemegahan di Praha. Wina, atau orang kita pun lebih sering menyebutnya dengan bahasa Inggrisnya, Vienna, adalah kota super cantik juga. Orang sudah pasti setuju jika mengaitkan kota ini dengan kemewahan. Luxury. Karena emang bangunan-bangunan dan istananya ituloh, 3 M: Mahal, Mewah, Mempesona. Untuk saya, kota ini 8/10. Untuk harga apa-apa, kota ini agak sedikit mahal, terutama untuk backpacker seperti saya. Kalau disandingkan bersama, urutan keindahannya seperti ini (ditambah Budapest):

Praha>Budapest>Wina>Bratislava

Yups, menurut saya, Praha lebih indah dari Budapest. Wina, walaupun cantik, tapi bagi saya, belum bisa untuk menandingi keindahan view Sungai Danube di Budapest. Sedangkan Bratislava, walaupun saya tempatkan di urutan terakhir, bukan berarti not worth to visit ya. Hanya saja, tiga kota lainnya itu too good. Kebangetan bagusnya kalau dibandingkan dengan Bratislava. Penilaian ini hanya dinilai dari perspektif sebagai traveler ya, bukan sebagai orang yang tinggal di kota-kota ini. Makanya, bisa saja penilaiannya berbeda, tergantung perspektifnya sebagai apa. Review barusan ini sifatnya sangat subjektif ya guys. Hanya pendapat saya secara pribadi. Tiap orang bisa saja punya pandangan yang berbeda. Kalau menurut kalian gimana?

            Okelah, trip saya berakhir di sini. Sebelum Subuh, saya sudah sahur di rumah. Reza seperti biasa begadang. “Loh, lu udah balik aja, bro. 3 hari cepet banget ya”, katanya. Ya lu, di kasur doang, ngab. Gimana waktu gak cepat berlalu?! Hahaha.

            Semoga teman-teman suka dengan catatan jalan-jalan saya kali ini. Semoga kalian juga mendapat kesempatan yang sama untuk bisa menikmati keindahan kota-kota cantik di Eropa Tengah seperti saya. Stay tune untuk catatan perjalanan lainnya!

 

                

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?