Keputusan

 

Bojonegoro, 28 Juni 2021

              Unair dan Unpad sudah saya lupakan, tidak pernah saya ikuti lagi infonya. Pengumuman UMPTKIN juga sudah keluar. Saya diterima di UIN JKT prodi Hukum Tata Negara. Jadi di bulan Mei kemarin saya daftar UMPTKIN. Semacam seleksi Bersama untuk masuk UIN. Saya daftar untuk jaga asa kuliah di Indonesia. Walaupun ini jatuhnya pilihan yang paling mentok seandainya gak masuk univ prioritas yang lain.

Setelah saya selesaikan administrasi, saya kecewa. Kesal dan menyesal sekali saya waktu itu. Kenapa? Karena waktu itu saya baru tahu kalau UMPTKIN tidak menyediakan semua jurusan. Hanya jurusan-jurusan agama saja yang buka, ditambah ada beberapa saja jurusan umum. Yang otomatis, jurusan saya gak ada di daftar pilihan. Tapi karena sudah bayar 250 ribu, jadi ya saya ikut aja. Ketika tes soal, Alhamdulillah saya bisa menjawab hampir semua pertanyaannya. Karena begini, sebelumnya persiapan saya itu untuk SIMAK UI yang soalnya susah menurut saya. Maka ketika ketemu soal yang level kesulitannya dibawah itu, ya saya bisa bilang mudah. Ibarat kita udah persiapan Camping seminggu, eh ternyata jadinya cuma tiga hari. Pasti persiapan kita bakalan lebih dari cukup, bahkan ada beberapa barang yang tidak jadi dipakai. Begitupun saya, ada beberapa pelajaran yang sudah saya persiapkan, eh ternyata tidak keluar ketika UMPTKIN. Akhirnya, Alhamdulillah saya lulus. Tapi akhirnya tidak jadi saya ambil, karena saya pikir jalan kuliah saya ke Turki sangat terbuka lebar.

              Dan disinilah saya sekarang, saya putuskan untuk kuliah di luar negeri, menjemput impian saya dari kelas 4 KMI dulu (1 SMA). Saya baru saja selesai ambil kursus sebulan Bahasa Turki di Mumtaza. Baru lima hari saya berada di rumah, setelah dari Kendari. Saya langsung terbang lagi ke Bojonegoro. Saya ambil kelas Bahasa Offline saja. Selain ilmu nya lebih sampai, saya pikir relasinya juga akan lebih luas lagi.

              Saya datang kesana telat seminggu. Saya melapor dan disuruh masuk kelas yang ada di Aula. Tapi karena sobat saya, si Rizki ini kelas nya ada di masjid, ya saya ikut dia aja, hahaha. Gurunya enak ngajarnya. Karena kata dia, Bahasa Turki itu susah. Kalau gurunya ngajarnya gak enak, bisa-bisa stress. Emang benar sih, Bahasa Turki masuk ke 10 bahasa paling susah di dunia. Walaupun susah, bukan berarti gak mungkin bisa ye kan, 😉. Akhirnya saya langsung masuk ke kelas dia, perkenalan, tulis nama di absen. Saya bersyukur banget dapat kelas ini. Entah kenapa, saya malah adiksi untuk masuk kelas. Bukannya apa, karena ya isinya ketawa terus 😂. Bercanda mulu, tapi tetap belajar juga. Orang-orang di kelasnya juga mood booster semua. Asli seru!

              Dua hari saya disana, saya dijemput sama Ustad pengurus Mumtaza, katanya kelas ini kepenuhan. Jadi tiga orang dialihkan ke kelas lain. Ya Allah, padahal baru tadi sebelum istirahat ditentuin grup belajar malamnya. Dan saya berada di grup yang sangat tepat 🤣sesuai keinginan. Eh malah pindah!

              Ketika pindah, saya dapat suasana kelas yang berbeda. Kalau kelas lama itu plus di serunya. Kalau kelas baru saya plus di ilmunya. Pengajarannya lebih santai, tapi suasana belajarnya lebih serius.

              Walaupun saya pindah kelas, tapi saya tetap selalu ingin berada dalam lingkup kekeluargaan kelas saya yang lama. Akhirnya kalau mereka makan bareng, nonton bareng, foto bareng, saya ikut juga, hahaha. Jadi akhirnya saya punya dua kelas saat ini, dan hubungan pertemanan juga tetap berjalan baik semua. Alhamdulillah juga, punya dua kelas, teman makin banyak, relasi makin banyak, guru makin banyak, dan ilmu juga makin banyak tentunya. Selalu ada hikmah bagi orang yang bersyukur 🤧.

              Banyak banget keseruan yang saya dapat di tempat ini, entah dari futsal nya, keseruan di kelasnya, bahkan sampai Sholawatannya. Kalau disini biasanya waktu malam Jum’at mengadakan acara Maulid Diba’i. Isinya sholawatan serta doa-doa untuk nabi dan para auliya. Berkesan sekali sih, karena di Pondok Modern jarang ada seperti ini.

              Oh ya, satu lagi yang unik. Kami di Mumtaza ini banyak amat yang cinlok dan akhirnya jadian. Sampai-sampai teman-teman kami yang diluar bilangnya gini, “Tidak Woody, itu bukan belajar Bahasa Turki. Itu mencari jodoh dengan gaya” hahaha. Kalau saya gimana? Bisa dibilang gak sih. Tapi disini saya seenggaknya menemukan perempuan yang idaman banget. Cantik, sholihah, hafidzoh, asyik diajak ngobrol, wkwkwk. Pujian semua isinya. Seenggaknya dari dia ini saya tahu calon yang baik itu yang seperti ini. Kalau dapat dia Alhamdulillah, hahaha (tapi banyak saingan pastinya). Tapi kalau gak dapat juga ya gak apa-apa. Seengaknya sudah dapat role model nya. Ada patokan yang bagus bagi saya untuk nanti mencari pasangan. Bukan hanya cantik luar, tapi dalamnya juga cantik. Kita juga tahu diri kalau ingin dapat pasangan yang baik, maka langkahnya ya perbaiki diri sendiri dulu. Karena jodoh itu cerminan diri. Bagaimana diri kita, maka kemungkinan jodoh kita juga seperti itu. Mirip itu jodoh, kalau kata orang-orang mah. 😙

              Sampai tiba saat-saat terakhir kami di pondok Mumtaza ini. Banyak perpisahan yang akhirnya tiba. Sebelumnya, kami sebenarnya niat mau liburan bareng ke Gunung Bromo. Tapi gak jadi karena kendala sebab pandemi lagi mengganas lagi waktu itu. Sayang sekali sih, banyak yang akhirnya harus pulang pisah lebih awal karena sakit. Persiapan penampilan class meeting juga gak jadi dipake. Untung waktu itu lomba futsal class meeting bisa diadakan. Saya Alhamdulillah berhasil top skor dan kelas saya dapat juara 2. Walaupun hadiahnya gak seberapa, tapi keceriannya dapat banget waktu itu.

              Kini kami harus pulang lebih awal, melihat kondisi yang sedang merebak di sekitar sini. Walaupun sebulan, serasa setahun. Memang gak butuh waktu lama, untuk membuat kenangan manis. Keren sih, memang. Walaupun kesan pondoknya bebas, semua kembali ke diri kita masing-masing. Tapi kami benar-benar dibuat betah. Keren sih, untuk pondok Mumtaza beserta para santri kilat didalamnya. Sebulan rasa setahun. Asyik, keren, enerjik! Mumtaza bukan sekadar agensi!





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?