Lebaran di Turki kayak apa ya? Emang bener sepi?
Kütahya, 15 Mei 2022
Lebaran sudah dua minggu berlalu
dan vibes nya juga sudah hilang sebenarnya. Tapi gapapa lah ya. Kali ini saya
ingin membagikan momen-momen Ramadhan dan lebaran di Idul Fitri di Turki itu
seperti apa, dan bedanya dengan Ramadhan di Indonesia bagaimana. Kebetulan saya
lebaran di kota Kutahya dan juga hampir semua hari puasa saya habiskan di kota
ini.
1.Hiasan lampu
Seminggu sebelum Ramadhan, di
Turki pasti akan banyak hiasan lampu baik di pohon, jalanan, maupun di masjid
tentunya. Langit malam pun pasti cerah dan ramai karena adanya hiasan ini.
Biasanya lampu ini membentuk tulisan bergerak yang berbunyi; ‘Hayırlı Ramazanlar’
yang artinya Selamat Ramadhan.
2.Restauran yang
masih ramai di siang hari
Ya saya hanya menyampaikan
fakta saja. Bukan rahasia lagi kalau di Turki banyak orang yang gak puasa, atau
‘mokel’ gitu😅. Walaupun di Indonesia juga ada ya pastinya,
tapi kalau di Indonesia kan kalau gak puasa tuh sembunyi-sembunyi makannya, atau
misalkan dikasih tirai gitu. Kalau di Turki tidak begitu. Bagi yang berpuasa ya
puasa, bagi yang tidak ya tidak. Tanpa ada rasa bersalah gitu 😩.
Sebenarnya, selain puasa, solat mereka juga begitu. Walaupun negara ini
mayoritasnya muslim, banyak dari mereka yang cuman Islam KTP. Orang Turki
kebanyakan lebih memperhatikan ‘larangan’ daripada ‘perintah’. Tapi ini gak bisa kita generalkan ya, masih cukup
banyak kok yang taat puasa.
3. Waktu puasa yang lama
Rata-rata puasa di Turki berdurasi 14-15 setengah jam dan akan bertambah lama setiap harinya. Misal, diawal Ramadhan,
kami di Kutahya adzan subuh dikumandangkan jam 5 lewat 10 dan berbuka puasa jam
19.30. Sedangkan di akhir bulan puasa, waktu sahur berakhir (adzan subuh) jam
04.30 dan berbuka jam 8 kurang 5. Bisa lebih cepat atau lebih lama dari itu.
Tapi Alhamdulillah tidak lebih dari 16 jam.
4.Cara bangunin Sahur
Di Indonesia biasanya banyak orang
yang membangunkan lewat toa dari masjid. Atau ada juga beberapa yang keliling
sambil bawa bedug dan teriak ‘sahur….sahur…’ gitu. Nah kalo di Turki mirip
seperti di Indonesia, biasanya ada beberapa orang yang berkeliling sambil
memukul davul (semacam drum) dijalanan. Tapi tanpa teriak ‘sahur….sahur…’. Btw,
bahasa Turkinya ‘sahur’ itu ‘sahur’ juga ya. Untuk Imsaknya juga, di Indonesia
ada yang mengumumkan di TOA masjid, ‘Imsak….Imsak..’ gitu kan. Nah kalo di
Turki, biasanya ada suara ngaji atau tarhim gitu. Untuk orang Indo yang pertama
kali puasa di Turki, itu biasanya gak sadar kalau dah imsak. Kayak saya dan
kawan-kawan saya, karena terlalu santai kami baru makan 5 menit sebelum adzan
karena gak tau kalau dah imsak. Ya udah mulut panas mau gak mau 😂.
5.Banyak Iftar gratis
Iftar atau buka puasa. Di Turki,
akan sangat mudah menemukan buka puasa gratis di berbagai tempat. Bahkan di
beberapa kota, buka puasa gratis ada setiap hari. Kalau di Kutahya, dari pihak
kampus biasanya ada tempat untuk makan berbuka puasa dan para siswanya
dipersilahkan makan disana secara gratis. Biasanya sih, ada giliran tiap
kelasnya untuk makan disana. Untuk iftar akbarnya, diadakan iftar besar-besaran
untuk penduduk kota pada tanggal 27 Ramadhan. Dan semua kota di Turki
mengadakannya. Diperuntukkan untuk siapapun tentunya.
Dibawah ini saya tampilkan suasana buka bareng waktu tanggal 27 Ramadhan kemarin di Kutahya👇
Btw, karena saya datangnya awal, langsung ketika tau ada iftar akbar gratis untuk umum ya saya langsung kesana sejam sebelum buka. Jadi kondisinya belum terlalu penuh.
6.Ngabuburit
Yang membuat ramai Ramadhan di
Indonesia adalah ngabuburit di sore hari dan banyak pasar takjil yang dibuka.
Di Turki kita gak menemukan itu. Palingan sih sebelum buka puasa, banyak
orang-orang Turki yang ke toko roti terus beli ‘Ramazan Pidesi’ atau Roti
Ramadhan- Ukurannya besar rasanya tawar. Enak kalau dikasih sambal kalau mau
jadi asin atau dicelup teh juga bisa-. Makanya, kita orang Indonesia biasanya
untuk takjil kita bikin sendiri kayak bakwan, sambal dan es buah juga. Jadi
kangen pempek pokoknya.
7.Menu berbuka dan sahur
Seperti yang kita ketahui, orang
Turki punya lidah yang berbeda dengan lidah kita. Maka gak heran menu sahur dan
berbuka kita berbeda dari mereka. Untuk sahur, mereka biasa makan
kacang-kacangan, roti, telur rebus, Tarcin, daun-daun Mint, Yogurt, Ayran dan
makanan khas Turki lainnya. Untuk makanan berbuka mereka makan roti, corba/sup
manis, dan daging ayam ataupun kambing. Disertai kurma dan manisan tentunya.
Masih bisalah ya diterima lidah kita kalo yang ini.
Kami mahasiswa Indonesia sih, gak
mengikuti. Kecuali kalau ada iftar Bersama di luar rumah, Kami tentu saja masih
masak nasi. Kemudian lauknya ditemani ayam kuah sambal seperti makanan
Indonesia pada umunya. Ya gitulah, tetap nasi andalan kami.
8. Menyambut malam lailatul Qadr
Beda sama yang lain, yang meyakini
bahwa malam lailatul Qadr itu terletak di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, tepatnya
di malam ganjilnya. Pemerintah Turki menetapkan Kadir Gecesi atau malam
lailatul Qadr itu terletak pada malam 27 Ramadhan. Maka seperti yang sudah
tertulis diatas, tanggal 27 Ramadhan akan ada iftar terbuka di setiap kota di
Turki. Biasanya di depan kantor pemerintah kota gitu. Nah setelah iftar
selesai, masyrakat akan solat maghrib, isya dan tarawih berjamaah di masjid.
Kemudian mereka akan beriktikaf pada malam ini. Di akhir acara biasanya
anak-anak akan dikasih permen oleh para orang tua.
Sayang sekali, kemarin saya gak
tau di Turki tradisinya seperti ini sehingga saya gak ikut waktu itu. Tahun
depan InsyaAllah. Oh ya, karena malam lailatul Qadr ditetapkan tanggal 27, maka
waktu beriktikaf dimasjid ketika malam hari hanya di hari itu. Biasanya selain
tanggal itu, masjid akan tutup. Kita jadi gak bisa iktikaf malam hari jadinya.
Beda seperti di Indonesia yang beberapa masjidnya akan ramai dengan jamaah yang
ber-i’tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Emang disini biasanya seperti
itu, setelah sholat biasanya masjidnya dikunci. Waktu saya kemarin tanggal 29
Ramadhan ingin I’tikaf, pengurus masjidnya bilang kalau mau, saya harus punya
izin dulu. Alhamdulillah walaupun malam gak bisa, saya masih sempat I’tikaf
syuruq -I’tikaf setelah subuh sampai waktu dhuha, dan ditutup dengan sholat
dhuha- yang pahalanya sama seperti menunaikan ibadah haji. Bersyukur sekali
saya.
9. Lebaran
Bagaimana lebaran disini? Tentunya
masih lebih ramai dan asyik di Indonesia. Disini yang saya rasakan lebaran sepi
dan tidak ramai sama sekali. Lebih tepatnya tidak terlihat. Walaupun ada
beberapa keluarga yang berkumpul di rumah-rumah kakek nenek mereka. Mereka juga
yang saya tahu ada tradisi bagi-bagi THR dan permen. Toko-toko disini banyak
yang tutup, hanya sedikit yang buka. Tradisi ziarah kubur juga saya tidak
terlalu tahu ada atau tidak di Turki ya. Kalau di Indonesia kan, kita
berbondong-bondong ziarah ke makam orang tua kita atau saudara dan kerabat kita
yang telah meninggal. Oh ya, kalau mau cari tempat yang ramai waktu lebaran,
silahkan pergi ke Hagia Sophia di Istanbul. Disana pasti ramai. Banyak juga
teman-teman saya yang berlebaran disana. Kalau saya tahun-tahun berikutnya aja
lah ya. Dan pasti akan saya tulis dan bagikan juga momennya bareng kalian.
10.Shalat Ied
Satu lagi, kalau kalian lebaran di Turki, jangan lupa ya kalau disini
sholat ied nya memakai madzhab Hanafi bukan Syafi’I yang dipakai di Indonesia.
Maka dari itu, jangan lupa baca dulu panduan sholat Ied di Turki ya kawan-kawan
biar gak salah. Soalnya teman-teman saya juga banyak yang dah rukuk duluan
padahal belum 😅. Untuk waktu pelaksanaan sih biasanya jam 6.30
mulai solat. Setelah itu ada khutbah seperti biasa. Jangan telat ya, karena
sebelum sholat gak ada suara sholawatan yang ramai seperti di Indonesia. Setau
saya, Turki punya aturan TOA masjid sendiri soalnya. Nah karena ini juga,
hampir saya masbuk karena gak dengar suara apapun dari masjid. Tau-tau Iqamah
aja😅.
Begitulah teman-teman, yang bisa
saya bagikan pengalaman Ramazan dan lebaran di Turki. Ramadhan dan Lebaran di Indonesia bisa saya
bilang jauh lebih asyik di Indonesia daripada negara lain termasuk Turki. Mau
curhat aja, saya tahun ini entah kenapa merasa kangen banget lebaran di
Indonesia walaupun tahun ini bukan pertama kalinya lebaran gak bareng keluarga.
Tapi ya gitulah, tetap semangat untuk para perantau, mereka yang bekerja dan
mereka yang menuntut ilmu yang jauh dari rumah. Ada masanya pengorbanan kita
terbayarkan kok. Yang penting kalau ada kesempatan pulang, ada duit dan ada
waktunya lebih baik kita sisihkan waktu untuk mudik dan lebaran bareng
keluarga. Karena lebaran yang paling hangat adalah lebaran Bersama keluarga
tentunya. Oke sekian dan terima kasih sudah membaca.
Wassalamualaikum Warahmatullahi wa
Barakatuh.



Komentar
Posting Komentar