MasyaAllah nya taman Devri Alem di Konya. Nilai 11/10

 

Konya, 28 Mei 2022

              Hari Kamis , tanggal 26 Mei sore saya bersama teman dua teman saya, Rizki dan Azzam berangkat dari Kutahya ke Konya naik kereta. Sekitar jam 5 lewat 15 kereta berangkat terlebih dahulu kemudian transit di kota Eskisehir. Awalnya yang berangkat itu saya, Azzam, dan Revaldi. Tapi karena Revaldi ada satu kendala, jadinya tiketnya nganggur, ya udah saya kasih aja ke Rizki. Dapat tawaran jalan-jalan gratis ya tentu saja dia mau.



              Kami bertiga sampai di Eskisehir pukul 6.30 sore, sekitaran situ lah ya. Kami transit selama hampir 4 jam karena kereta ke kota Konya baru akan berangkat pukul 10. Kami bertiga rela-rela saja nunggu transit seperti ini demi dapat harga kereta murah. Karena gak ada tiket langsung Kutahya-Konya, maka beli tiketnya pun harus terpisah; Kutahya-Eskisehir, kemudian baru beli tiket jurusan Eskisehir-Konya. Berangkat dari Kutahya kami naik kereta biasa, TCDD. Sedangkan dari Eskisehir-Konya memakai Yükşek Hızlı Tren(YHT), atau Kereta Berkecepatan Tinggi. Emang cepet banget sih 250 KM/jam dan keretanya juga nyaman. Bepergian dengan kereta memang jauh lebih murah daripada bepergian di bus kalau di Turki. Saya untuk tiket PP Kutahya Konya, hanya habis 180 tl maksimal. Sedangkan kalau kita naik bis, kita bisa mengeluarkan lebih dari 350 tl untuk tiket PP nya. Ya, memang jauh banget selisihnya. Makanya gak heran, pesan tiket kereta memang harus jauh-jauh hari, kalau gak ya kehabisan seperti saya waktu di Ankara kemarin. Kami habiskan waktu transit 4 jam ini dengan bersantai di taman kota. Apalagi kan Eskisehir memang terkenal sebagai kota yang asri dan indah dengan tamannya yang ada dimana-mana. Disana kami santai, makan-makan, abis itu mabar PES😅. Kalau udah kayak gini ya mana mungkin kerasa kan waktu berjalan.

              Waktu sudah menunjukkan pukul 19.45, kami kembali ke stasiun, Setelah tas-tas kami diperiksa, kami masuk, kemudian pergi ke peron 3 yang ternyata ada pemeriksaan. Dan yang diperiksa itu Kimliknya (Kartu identitas di Turki). Waduh, kami agak khawatir waktu itu karena tiketnya masih tertulis nama Revaldi sedangkan Kimlik nya juga pakai Ikamet Revaldi. Dan benar saja, saya dan Azzam waktu menunjukkan kartu Identitas kami, tiket kami terdeteksi. Sedangkan Rizki gak dibolehin masuk karena ya kartu identitas yang dia pegang (punya dia) dengan yang terdata di tiket (punya Revaldi) itu berbeda.

              “Abi, bu bilet arkadaşımın, ama şimdi onun işi var. Bu yüzden, bu bilet, ona verdi.” Saya coba jelaskan kalau tiket ini punya temen saya, tapi karena ada pekerjaan, jadinya tiketnya dikasih ke orang lain-si Rizki maksudnya-.

              Sebelumnya di Kutahya, kami lolos tanpa masalah karena memang yang diperiksa hanya scan QR tiketnya saja. Tanpa melalui pemeriksaan kartu identitas. Sebelumnya juga, kami kan memang belum pernah memakai tiket tas nama orang lain sih. Ini hanya coba keberuntungan saja. Tapi, yang ini memang sudah atas persetujuan Revaldi sendiri. Daripada tiketnya hangus gak ada yang pakai kan Mubazir.

              Agak lama tuh saya dan Rizki nego ke petugas disana. Apalagi tinggal hitungan menit kereta kami berangkat. Saya coba ke petugas didalam mencoba menjelaskan. Dan apesnya, abla nya ini sedikit jutek dan kayak gak ngasih kami harapan. Saya makin panik karena 4 menit lagi kereta berangkat. Sedangkan Rizki masih belum tau bisa berangkat atau nggak. Saya sempat berpikir untuk belikan dia tiket balik ke Kutahya saja. Karena lebih baik satu tiket hangus daripada dua tiket kan. Apalagi keperluan saya sendiri juga urgent untuk ke Konya. Saya gak enakan karena memang saya yang ajak dia pergi. Saya yang waktu itu masih bingung nyari solusi coba minta tolong ke salah seorang petugas. Untung aja dia baik banget, petugas itu bilang bahwa dia akan menelpon atasan nya.

              Nasıl bu, abi?”, (gimana ini pak?)

              “Tamam, müdür gelecek”, katanya atasannya akan datang kesini.

              Bismillah, kami berdua coba berharap. Waktu tinggal 3 menit lagi. Kepada direkturnya, kami coba menjelaskan apa yang terjadi. Awalnya dia suruh saya untuk ganti datanya di aplikasi. Tapi setelah saya buka ternyata udah gak bisa karena waktunya sudah mepet. Akhirnya kami dibawa kedalam ke tempat abla yang jutek tadi. Dia bilang memang gak bisa. Tapi pak Müdür nya seperti kasihan pada kami berdua. Setelah berpikir sejenak, akhirnya kami dipersilahkan pergi.

“Gidebilirsiniz”, katanya. Setelah mengucapkan terima kasih, kami langsung lari naik tangga kemudian memasuki kereta. Pas ketika kami duduk di kursi, kereta pun jalan. Hampir saja! Di kereta saya terus aja kepikiran sambil tersenyum. ‘amalan apa ya yang bikin kami bisa lolos?’ tanya saya pada diri sendiri. Karena memang, aturannya kayak tidak membolehkan untuk bisa pergi. Saya memang bisa, tapi si Rizki kagak bisa. Kan gak enakan juga kalau ujungnya dia gak jadi berangkat. Padahal saya udah jamin bakalan aman. Di kereta saya benar-benar gak bisa berhenti senyum karena setelah deg-degan ketinggalan kereta, pada akhirnya bisa lewat. Saya jadi berpikir, apa Pak Direktur dulu waktu kuliah ada kenalan baik orang Indonesia ya. Hemm mungkin saja😅. Ala kulli hal Alhamdulillah. Saya juga respect banget sama pak petugas yang sudah peduli sama kami sampai mau menelpon Pak Direktur untuk datang. Alhamdulillah semuanya bisa sampai di Konya.

Jam 12 malam kurang 10, kami sampai di Konya. Kami turun dari stasiun kemudian saya telpon teman saya si Iqbal. Teman baik saya yang kuliah di Kota Konya. Katanya dia suduh nungguin diluar. Tapi kok gak ngeliat siapa-siapa kata dia. Dan setelah video call, tau-taunya kami bertiga salah turun stasiun🤣. Jadi, di Konya itu ada dua stasiun kereta; Konya Gar dan Selcuklu Gar. Nah seharusnya kami itu turunnya di stasiun Konya Gar, eh malah turunnya di Selcuklu Gar. Semuanya gara-gara saya salah memahami perkataan orang Turki yang saya tanya. Saya tanyanya, “Ini stasiun Konya kan, bukan Selcuklu?”, Nah saya dengar jawaban dia itu, “Ya, ini Konya, nanti ada satu Stasiun lagi, disitu baru Selcuklu”, berarti benar kan. Eh taunya kebalik, sebanarnya dia tuh jawab, “Bukan, Konya itu stasiun yang setelah ini. Satu stasiun lagi”. Hahahaha. Emang kemampuan listening saya masih kurang banget🤣. Ya udah dah, kena cerca saya sama Azzam dan Rizki.

Emang iya saya udah pernah ke Konya, tapi kan udah 5 bulan yang lalu, itupun naik bis🤧. Udah jam 12, jalan dah sepi banget, dan kereta juga kalau di aplikasi sudah gak ada yang lewat lagi. Masa mau naik taksi, abis berapa duit ntar tekor kita pada🤭. Akhirnya kita bertiga tetap ke durak tram-way coba keberuntungan. Siapa tau masih lewat kan. Eh taunya disitu sudah banyak orang-orang yang nunggu. Nunggu Tram-vay, bukan nungguin kami😅. Sekitar 10 menit, kereta lewat dan kami naik di Tram-vay yang sudah sepi itu. Di jalan saya sudah dimanjakan dengan kenampakan masjid dari jendela yang keren banget. Dan ternyata memang kota Konya ini terkenal dengan banyaknya masjid keren dan megah. Wajar, Konya memang seperti kota agamisnya Turki. Kota ini merupakan kota kelahiran seorang Sufi besar, Syeikh Maulana Jalaluddin Rumi. Tenang, nanti kalian akan saya ajak jalan-jalan ke makam beliau kok. Makanya baca sampai akhir ya😉.



Jam 1 saya sampai di apartemen Iqbal. Gak langsung tidur, tapi makan dulu. Ya namanya perut lapar bekas perjalanan jauh gak bisa ketolong. Datang-datang ke rumah orang, abis itu masak ayam. Emang definisi tamu beban 🤣. Canda ya ges️. Untung tuan rumah baik hati dan tidak sombong. Baru jam 2-an kami tidur. Dan benar aja kami gara-gara tidur kemalaman. Abis solat Subuh ya tidur lagi abis itu baru bangun sepenuhnya dari Kasur jam 11. Abis bangun, kami siap-siap mandi, kebetulan Iqbal juga gak sekolah karena bangun kesiangan 😅. Jadi kami ber-empat siang ini berencana Sholat Jumat di Selimiye Camii (Masjid Sulltan Salim) yang letaknya persis disebelah kompleks makam Syeikh Maulana Jalaluddin Rumi. Jadi habis sholat Jumat, kami mau mampir ziarah sekalian. Tapi sebelum itu, kami mampir dulu beli balık ekmek -roti isi ikan- dipasar arah masjid. Lumayan enak, harganya 20 tl. Masih termasuk standar kalau sekarang. Emang harganya pada naik semua sih gara-gara nilai lira turun.

Saat kami sampai ke depan masjid megah ini, tau nya masjidnya udah penuh. Terpaksa kami Shalat didepan masjid yang udah digelar sajadah disitu. Waktu itu cuacanya emang panas banget DI Konya, sekitar 30 derajat. Bayangin, Konya itu waaktu musim dingin bisa lebih dari -20 derajat dinginnya. Sekarang musim panasnya 30 derajat. Jauh banget bedanya. InsyaAllah panasnya cuaca bisa menggugurkan dosa kami, Amin.

Selesai sholat Jum’at, sesuai rencana kami ziarah ke makam Syeikh Jalaluddin Rumi. Ini kedua kalinya saya kesini. Suasananya selalu sama, memang adem banget sih. Didalam kompleks makam ini, dibagian luar ada seperti ruangan-ruangan kecil tempat barang-barang peninggalan beliau disimpan. Dari mulai pakaian, hingga alat musik. Ketika masuk ke dalam ruangan tempat makam berada, di bagian dalamnya, bisa didengar sayup-sayup musik yang menambah suasana sakral yang ada. Orang-orang berdiri didepan makam-makam para Waliyullah, mendoakan. Ada makam para murid juga beserta makam keluarga dari Syech Rumi. Dari banyaknya makam, makam paling besar tentu saja milik Sang Sufi Syech Maulana Jalaluddin Rumi. Al-fatihah untuk beliau. Kemudian jika kita masuk lagi, di tengah ruangan situ ada display yang tertulis sebagai rambut baginda nabi Muhammad SAW. Memang rambut nya tidak ditampilkan karena yang ditampilkan hanya kotak kecil saja yang dilapisi kotak kaca, tapi ini saja sudah cukup untuk membuat hati saya tuh goyang. Merinding saya, makin merindu pada beliau. Anda juga kemungkinan akan merasakan itu jika berdiri disini. Disekelilingnya, ada koleksi Al-Qur’an dari zaman ke zaman. Ya semoga disini hanya jadi tempat ziarah aja, tidak ada ghulwu dan syirik semacamnya.

 




Setelah dirasa makin siang, kami keluar dari kompleks makam, cuaca makin panas bener dah, kami beli eskrim disekitar, untung harganya cuma 2,5 tl per top nya. 5 tl beli juga udah banyak dapatnya. Es krim dah habis, kami bertiga berpisah sama Iqbal, dia panitia lomba PPI Konya besok soalnya. Kami bertiga pergi naik tramvay lagi ke rumah teman kami, Praba. Rumahnya dekat dengan kampus Selcuk University. Oh ya, tujuan utama saya kesini sebenarnya untuk ujian YÖS -ujian masuk univ di Turki, terdiri dari tes logika dan Matematika-. FYI, gak semua univ di Turki masuknya pakai ujian, ada banyak juga yang masuk pakai berkas. Tapi karena memang salah satu univ tujuan saya itu Selcuk Univ, maka saya terpaksa ikut ujian ini. Kenapa terpaksa? Ya karena bayar, dan materi ujiannya juga lebih dari setengahnya MTK. Pelajaran yang paling saya gak suka. Maka dari itu, 2 minggu lebih sebelumnya, saya marathon full belajar MTK SMA. Setelah saya belajar, ternyata saya sadari MTK itu asyik, kalau bisa jawab soalnya🤣. Kalau gak bisa ya, gak suka juga.

Sebenarnya rencana kami sebelum ke apartemen Praba, kami mau mampir dulu ke Japon Park. Tapi karena cuacanya benar-benar panas waktu itu, jadinya kami urungkan rencana kami. Ditunda dulu lebih tepatnya. Kami sampai di rumah Praba jam 4, itu cuaca udah kayak jam 2 siangnya Indonesia. Panas dan terik campur jadi satu. Jadi ya beli eskrim lagi. Dari sesampainya di rumah Praba sampai malam hari, saya, Azzam, dan Praba sibuk membahas soal-soal YOS tahun-tahun sebelumnya. Rencana ke Japon Park pun gak jadi untuk hari ini karena besok ada ujian yang kita nilai lebih penting dan harus dipersiapkan.

Sabtu pagi jam 5, saya sudah bangun. Setelah shalat Subuh, saya lanjut lagi ngulang-ngulang materi dikit. Menghafal rumus lalu mengerjakan soal ulang, mungkin itu yang bisa saya lakukan. Sebelum berangkat jam 10, saya sempatkan telpon ibu saya untuk minta doa dapat hasil yang maksimal. Saya hanya berharap yang terbaik saja. Pukul 10.30, kami berangkat dari rumah. Jam 10.45 kami sampai depan Gedung tempat ujian tulis diadakan. Disana udah banyak juga peserta yang lain sedang menunggu. Dalam hati, “beuh banyak juga saingannya nih”. Kalau saya lulus, ada ratusan orang yang berhasil saya kalahkan.




              Jam 11, saya masuk. Ada lumayan banyak peserta asal Indonesia di ujian masuk ini. Karena memang Selcuk univ juga dikenal dengan univ bagus. Masuk dalam peringkat 20 besar di Turki dan biayanya juga cukup terjangkau. Tidak mahal-mahal amat. Btw, biaya semesteran di Turki kalau bisa dibilang lebih murah daripada biaya kuliah di Indonesia. Kehidupan, apartemennya juga jauh dari kata mahal kalau dibandingkan dengan yang selevel di Indonesia. Kertas ujian dibagikan, saat lonceng dibunyikan saya baru bulat-bulatkan Nama dan identitas lainnya. Ya Allah, sayang waktu banget ini mah. Untuk 80 soal dalam waktu 120 menit itu waktu yang singkat banget. Pengerjaan tiap soal kurang dari 2 menit. Setelah melihat soal-soalnya, saya sadari dari ujian-ujian yang pernah saya ikuti selama hidup saya, ini ujian yang paling susah😩. Jauh lebih susah dari soal-soal Latihan yang saya kerjakan. Mana soalnya susah, kerjainnya juga harus cepat. Dahlah. Ngebut dah tuh. Parahnya lewat 1 jam lebih waktu berlalu, saya belum sampai setengah pengerjaan, itupun banyak yang dilewatkan, karena ada pengurangan poin juga tiap 4 soal katanya. 5 menit lagi sebelum bel, setelah saya cek, saya ternyata baru jawab sekisar 30-an soal dari 80 soal yang tersedia. Waduh, gak lulus saya kalau gini, karena minimal poinnya itu benar soal harus lebih dari setengah yaitu 40-an soal. Sedangkan saya baru jawab sekitar 30-an dan itupun gak yakin benar semua. Ya udah, dengan buru-buru, saya asal bulat-bulatin kertas jawaban tanpa melihat soal. Beneran dah, asal buletin sambil baca bismillah saya masih ingat. B,C,E pokoknya gitu dah. Soalnya saya diamin pun gak bakal lulus saya. Pengurangan poin juga kan tiap 4 soal. Jadi saya pikir, cuma ini opsi terbaik yang saya punya disisa waktu yang ada. Hahaha, susah banget sih ini mah. Akhirnya bel berbunyi, kertas saya dikumpulkan, saya mungkin sudah membulatkan kira-kira 50-an soal dengan sekitar 10-an soal saya bulatkan asal tanpa melihat soal. Saya keluar kelas dengan rasa greget ya kan. Karena memang sesusah itu bagi saya yang awam soal MTK. Biarlah, saya pasrah aja. Kalau lulus ya Alhamdulillah, kalau tidak ya, berarti belum rezekinya ya kan. Sesimpel itu aja. Saya malah pengen cepat-cepat dapat hasilnya karena biar gak payah nunggu. Biar cepat-cepat dapat kepastian. Biar kita ada ancang-ancang persiapan kampus lain seandainya tidak lulus. Semuanya saya tawakkalkan kepada yang diatas.

              Selesai ujian, saya beserta teman-teman saya yang lain. Ketika itu kami berlima balik ke rumah Praba, sholat dilanjut dengan sujud syukur apapun hasilnya, lalu makan. Selesai makan, kami langsung ke lapangan kampus, udah siap-siap kami ikut lomba main bola. Tapi telat kaminya malah. Udah main di kota lain, dah didaftarin, telat pula🤣. Maafkan kami Iqbal. Saya datang, pertandingan udah selesai satu ternyata. Dan tim saya udah main, akhirnya saya baru masuk dibabak kedua, ketika posisi tertinggal 1-0. Saya main pakai baju futsal PPI Kutahya. Saat masuk pada neriakan, “wey ada pemain naturalisasi dari Kutahya nih”🤣.  Saya coba buat peluang gol tapi sayangnya gak ada yang masuk ke gawang. Skor 1-0 bertahan sampai akhir. Sesudah itu kami main lagi, lawan tim C. Disitu saya berhasil cetak 1 assist. Kami menang 1-0. Sebenarnya masih ada satu babak lagi. Tapi ada orang lokal yang reseh padahal kami duluan yang datang kesana, terpaksa pertandingan kami sudahi. Setelah itu kami berfoto bareng. Jujur, saya masih kurang puas sih. Seandainya saya gak telat sih ini mah. Tapi, sebagai Pelepas penat setelah ujian, lumayan lah ya.

              Habis selesai main bola, kami lanjut ke tujuan kami yang dari hari sebelumnya tertunda. Yups, kita ke Japon Park! Kedua kalinya saya kesini. Pertama kali saya kesini saat musim dingin akhir desember tahun lalu. Ceritanya sudah saya tulis di cerita sebelumnya. Bisa dicek diblog ini juga ya.

 

               Sesampainya disana, matahari sudah hampir tenggelam, sekitar jam 7. Seperti biasa tempat ini indah untuk dipandang. Walaupun ternyata kurang seperti harapan karena daun-daun dipohon sudah berwarna merah tua, tidak pink lagi seperti awal musim semi kemarin. Mungkin karena musim panas yang makin dekat. Tapi tempat ini tetap indah kok. Memang didesain seperti layaknya kita sedang berada di Jepang. Upload di SG dengan menyetel soundtrack Naruto juga bisa sih ini mah

😂. Sebelum matahari terbenam kami sempatkan cetak foto didepan kastil (restoran) beserta danau didepan kastil tersebut. Kebetulan disana ada mesin foto langsung jadi. Cuma 5 tl aja untuk satu fotonya. Tapi yang bikin saya kesal itu, waktu kami berfoto, disamping kami juga ada orang yang foto-foto didepan pagar. Akhirnya dia masuk ke ujung foto kami juga. Saya juga pose gak siap karena sebelumnya berupaya buat ngomong kalo kami mau ambil foto. Tapi dah telat dah. Dahlah😅. Matahari terbenam, kami masuk kedalam restoran lalu makan. Saya, karena masih suasana akhir bulan dan gak terlalu lapar juga, cuman pesan secangkir teh aja. Jam 9 lewat, kami selesai makan, kemudian keluar bersiap pulang karena sebentar lagi ada yang kami tunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan nonton final Liga Champions. Apalagi yang maen Real Madrid. Makin semangat dah tuh. Ditambah lagi lawannya Liverpool. Beuh, pasti seru nih. Sebelum keluar, kami sempatkan ambil momen dengan foto-foto sebentar.


 

              Jam 10 saya sampai, ternyata pertandingannya sempat ditunda karena masalah keamanan. ‘Alhamdulillah, bisa mandi dulu’, pikir saya. Selesai mandi saya sholat baru pasang posisi siap mendukung King Eropa, Real Madrid tentunya 😁. Waktu itu kami nobar ber-7 di kamarnya Praba. Sebagaimana diketahui bersama, pertandingan berlangsung sangat seru. Dari awal sampai akhir seru parah. Saking serunya, gak kerasa udah selesai aja. Gak ada bosen-bosennya. Ditambah lagi Real Madrid akhirnya keluar sebagai juara setelah menang 1-0 lawan Liverpool. Man of the Match tentu saja Thibaut Curtois yang telah tampil luar biasa malam ini. Ujian YOS dah kelar, ditambah Madrid Juara Champions, beuh full senyum dah😁.

              Minggu pagi, Jam 9 pagi kami sudah berjalan keluar dari apartemen. Target destinasi kami pagi ini adalah taman miniatur yang bernama 80 Binde Devr-i Alem Park yang terletak didaerah Meram/Konya. Saya sih sebenarnya yang ngajak teman-teman lain kesini, karena melihat di Story Instagram kok cakep ini tamannya. Miniatur-miniatur masjid gitu, keren. Ya udah lah saya ajak mereka. Oh ya, kali ini kami ditemenin juga sama teman-teman yang datang dari Ankara; Bu Ai, Jeihan, sama Dinul. Kami kesana ber-9 berangkat naik bus kesana dan sampai jam 11 siang. Sebelum masuk ke dalam, kami nyantai dulu sambil makan durum (kebab) di rerumputan didepan kompleks taman. Seusai makan, barulah kami masuk ke dalam. Tiket masuk nya murah banget kok, cuman 5 tl aja. (Kurang dari 5000 rupiah- per orangnya).




Dari awal masuknya aja, beuh taman ini MasyaAllah cantik banget. Sumpah keren banget taman ini demi Allah. Dari depan gerbang masuk, 10 langkah selanjutnya kita akan masuk lewat jembatan yang dibawahnya ada seperti danau buatan berwarna biru kehijau-hijauan yang cantik banget dipandang mata. Setelah lewat jembatan, sepanjang taman ini terdapat miniatur-miniatur masjid yang detail banget bentuknya. Keren! Dari Suleymaniye Cami, Taj Mahal hingga Haghia Sophia dibentuk sangat indah di taman ini. Siapa sih ini yang buat, keren banget dah! Kebanyakan memang miniatur-miniatur masjid ini berkaitan dengan kesultanan Turki Utsmani yang memang masjid-masjid pada masa itu megah-megah sekali ya kan. Dan untungnya memang cukup banyak masjid keren yang berada di Konya, seperti yang saya bilang diawal. Gak bosan-bosan kami foto disana. Mau sendiri maupun bareng-bareng. Mau berbentuk foto maupun video, kita gaskan puas-puasin karena bagus banget emang. Saya gak melebih-lebihkan karena memang sebagus itu. Lewat gerbang Rapunzel, didalamnya ada tempat yang cocok untuk jalan bareng anak-anak. Ada patung replika Superman, Shrek, dan tokoh-tokoh kartun lainnya. Disana juga ada café kecil, ada jualan es krim juga. Makan es krim lagi lah kami apalagi cuacanya terik banget. Saya sempat berpikir, kalau saya nanti diterima kuliah di kota Konya ini, tempat ini cocok banget jadi tempat healing ataupun tempat ngerjain tugas kuliah. Waktu sudah pukul 1.30, kami akhirnya harus keluar karena tuan rumah, si Iqbal juga ada acara, dan kita juga habis ini ada rencana nonton pertunjukkan tari Sema, ituloh tari yang muter-muter gak berhenti-berhenti itu. Untuk taman yang menakjubkan ini saya kasih nilai 11/10.🤩





              Kami pulang naik dolmus (sejenis angkot di Turki). Di angkot itu hanya ada kosong, hanya ada kami. Jadi serasa ini tuh angkot private. Naik dolmus, gak sumpek, kaca dibuka lalu angin semilir masuk rasanya tuh segar banget. Setelah diterpa panas dan teriknya matahari kami akhirnya mendapat  angin segar dari luar.

              Kami turun di depan Gedung tempat pertunjukan tari Sema digelar. Buat yang kesini jangan khawatir ya, karena pertunjukan ini gratis dan ada setiap minggunya. Banyak turis dalam maupun luar negeri yang biasanya datang menonton. Termasuk kami ini. Kami termasuk kedalam ataupun luar negeri kamipun tak tau 😅. Tari ini memang sudah menjadi daya Tarik budaya asli kota Konya. Yang memang dibuat pertama kali oleh Syech Maulana Jalaluddin Rumi yang katanya menari spontan ketika mendengar alunan yang keluar dari pukulan tukang pandai besi. (Sejarahnya bisa kalian lihat di Museum Panorama Konya).Tentang bagaimana tarian dan filosofinya sudah pernah saya tulis di cerita liburan Konya saya yang pertama. Atau teman-teman bisa cek postingan saya di IG bulan Januari kalau tidak salah. Disitu lengkap dijelaskan filosofi dari jubah hitam ataupun filosofi putar-putar itu apa. Go check it🥳.



              Waktu sudah menunjukkan pukul 4, kami keluar dari Gedung dan bersiap untuk destinasi selanjutnya, Sile. Satu lagi tempat keren di Konya yang layak dikunjungi, apalagi pas Sunset keren banget. Saya beserta tiga orang temen lainnya, Rizki, Praba, dan Azzam berangkat ke Sile. Sedangkan teman-teman Ankara mau ke pameran seni dan mampir di taman Jepang katanya. Soalnya mereka udah ke Sile waktu kami lagi main bola kemarin sore. Sedangkan dua orang lain, Iqbal dan Yurike mereka punya lomba yang diikuti.

              Sebelumnya kami makan kebab dan eskrim (lagi) karena lapar dan gerah karena matahari masih terik. Ada peristiwa menarik waktu kami lagi lewat didepan kompleks maulana Rumi tempat bus kami pergi menuju Sile. Disitu si Praba ingin beli es krim. Saya sebenarnya gak mau, karena sampai saat ini, saya sudah beli eskrim sekisar 5 kali hahahaha. Apa gak radang tenggorokan ini mah😅. Ya udah saya sama Rizki cuman nungguin aja dari jauh. Eh ada yang manggil kami, katanya dia mau traktir. Wih senang dong saya. Emang saya gak mau beli es krim lagi, tapi kalau ditraktir ya gaskeun hahaha. Dia bilang katanya dia ada keturunan Indonesia dari orang tua serta kakek neneknya. Mungkin dia pernah merasakan kehangatan orang Indonesia mungkin. Makanya dia mau traktir kita. Abis ditraktir es krim, saya dan Rizki diajak foto bareng. Dia termasuk masih muda, tapi sudah menikah punya istri dan anak. Teşekkürler,abi!

              Perjalanan lumayan jauh, sekitar 30 menit naik bus. Saya sebenarnya sudah ngantuk berat itu, cuman gak bisa tidur karena jalanannya belok kanan-kiri terus, jadinya ketika mau nyenyak tidur, pasti keganggu goyangan bus. Kami pun sampai disana kemudian masuk. Tidak ada bayar alias gratis disini. Didalam sudah banyak keluarga-keluarga yang sudah menggelar tikar dan sedang memanggang ayam. Memang tempat ini cocok banget dijadikan tempat piknik bareng teman maupun keluarga. Taman yang asri disertai dengan danau yang indah sangat memanjakan mata. Kami berempat menghabiskan waktu dengan bersantai direrumputan dengan makan snack yang kami beli di market. Sayang pasukan kami tidak terlalu ramai dan juga gak ada gitar juga sih, jadinya kurang rame aja gitu. Tapi gak papa, pemandangan danau apalagi pas sunset itu mantap banget. Cocok dah mengabadikan momen dengan caption, “Si paling senja” juga bisa🤣. Kalau ke tempat ini pokoknya harus rame-an, gitaran biar asyik, dan juga alat panggang kalau perlu biar puas. Gak tau ya kalau ada sewa atau nggaknya.



              Sebelum jam 8, kami harus sudah balik, takut ketinggalan bus. Lagipula kami setelah ini ingin ke restoran Uighur. Salah satu restoran andalan orang Asia terutama orang Indonesia. Karena rasanya enak, porsinya besar, dan harganya juga tidak terlalu mencekik walaupun diatas 30 tl ya. Tapi bakalan kenyang banget sih. Kami disini sambil ngobrol sampai jam 12 malam. Kemudian balik pulang ke apartemen Praba. Lalu tidur.

              Hari Senin, kami tidak ada niatan untuk kemana-mana. Lagipula sudah banyak tempat kami jelajahi dan semuanya bagus. Konya ini salah satu destinasi wisata recommended banget sih di Turki. Jangan lupa kesini ya! Apalagi kalian kuliah di Turki. Minimal sekali lah ya. Siang hari, kami pamitan dengan orang rumah Praba, kami menuju ke rumah Iqbal karena stasiun tempat kami berangkat juga terletak dekat sana. Sekalian istirahat juga. Kami sampai disana jam 3 siang. Dan panasnya cuaca tak tertahankan. Katanya, Konya paling panas minggu ini ya pas hari ini. Sampai di rumah Iqbal langsung santai diatas Kasur kita, sebagian pada tidur juga setalah makan. Kereta keberangkatan kami jam 18.20. Jadi ada waktu untuk ngepes dan nyantai juga. Jam 6 kami berjalan ke stasiun. Agak jauh ternyata, 15 menit jalan kaki.



              Apes, pemeriksaan identitas ada lagi. Sebelumnya saya coba untuk mengganti nama di tiket Revaldi tapi gak bisa. Yang bisa hanya ganti jadwal saja, tanpa mengganti identitas pemilik tiket. Sebelumnya saya sudah sempat berpikir beli tiket lagi tapi kami coba keberuntungan karena 80 tl juga sayang. Eh sayang sekali, karena kereta sudah mepet mau berangkat, dan ternyata si Rizki gak lolos karena kimlik berbeda dengan data pemilik tiket. Terpaksa saya tinggalkan dia karena kereta berangkat semenit lagi. Di kereta saya benar-benar agak kehilangan mood. Seandainya aja kita gak ngotot maksain. Pasti dah berangkat bareng. Tapi gak apa-apa lah ya.

“Harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan,

Bukan sebuah alasan untuk kecewa.

Segala sesuatu pasti ada hikmahnya”.

#KetinggalanKereta

              Akhirnya terpaksa hanya kami berdua yang berangkat malam itu, sedangkan si Rizki beli tiket lagi menyusul besok paginya. Di Eskisehir, saya dan Azzam kembali menunggu transit selama 4 jam dari jam 8 sampai jam 12 malam. Kami habiskan waktu dengan makan, solat, ngobrol dan baca buku. Sedangkan si Rizki yang baru jalan besok paginya jam 6, bakalan transit jam 7 nya di Eskisehir, kemudian pulang pakai tiket Revaldi yang udah saya re-schedule sebelumnya. Ke Kutahya aman InsyaAllah karena hanya ada pemeriksaan tiket aja seperti biasa.

              Konya, kota ini selalu spesial untuk saya. Dan mungkin untuk para pelajar lainnya. Transportasinya gratis(bagi pelajar), buat umum pun murah, hanya 2,5 tl. Kehidupan gak mahal. Kota besar tapi gak riweuh. Banyak tempat indah dan budaya yang bisa dikunjungi. Kota kelahiran Maulana Rumi dan tentunya banyak orang-orang spesial bagi saya di kota ini. Teman-teman saya tentunya. Kalau pasangan, belum tau dimana😅. Apapun hasil ujian YOS yang akan saya dapat, saya akan terima dengan lapang dada. Lagipula saya juga sudah berjuang sebisa saya. Bismillah kalau yang terbaik pasti dapat. Tapi kalau memang takdirnya ditempat lain, maka itu yang baik. Kadang apa yang kita inginkan, belum tentu sesuai dengan apa yang dikehendaki Sang Pencipta. Percaya saja apa yang Dia kehendaki itulah yang terbaik. InsyaAllah kalau kita ridho terhadap qodar-Nya. Maka Dia pun akan Ridho dengan kita.

              Konya, salah satu kota yang saya rekomendasikan kepada teman-teman sekalian untuk dikunjungi. Terima kasih sudah membaca dan semoga Bermanfaat 😁.

              Wassalamualaikum wr.wb

             

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?