Wisata kota Yunani Antik Aizanoi
Kütahya, 17
September 2022
Setelah sekitar semingguan resmi
pindah kota ke Eskişehir, pindah ke rumah yang baru, ke kampus yang baru juga, -Semoga
yang ini lebih baik lah ya-, Saya balik lagi ke Kütahya. Selain untuk mengambil
sisa barang-barang yang belum terbawa, saya juga sekalian masih latihan untuk
futsal Athan Cup bulan depan. Walaupun saya sudah pindah, tapi saya masih
pengen bela Kütahya di Athan Cup ntar. Wajar banget, latihannya udah berbulan-bulan,
udah klop permainannya, masa gak jadi ikut ya kan. Mau latihan tiap minggu
bolak-balik Eski-Kütahya pun saya gak masalah, yang penting main✊.
Hari Sabtu, jam 10-an
kami tiap persiapan Athan udah menuju stadium 30 Agustus di Kütahya, tempat
latihan rutin sendiri kami. Lapangan yang biasanya kami ambil adalah lapangan
yang buat latihannya, yang berukuran lebih kecil. Walaupun itupun udah luas
banget ya. Nah lapangan ini bisa dipakai umum. Kalo lapangan inti yang buat
main, baru gak boleh. Btw, saat ini Kütahya FC masıh di liga 3 Turki. Udah kaya Badak Lampung FC aja
masih main di divisi 3😅.
Latihan baru benar-benar dimulai
sekitar jam 11 ketika yang lain dah pada dateng, dah pada lengkap. Seperti sebelumnya,
latihan kami melakukan passing berpola. Latihan kayak gini bertujuan untuk melatih
passing supaya terukur dan gak melenceng. Selain itu juga supaya main satu-dua
nya terpadu dan lancar aliran bolanya. Walaupun saya pada awalnya sudah lupa ya
posisi sama caranya, tapi lama-lama bisa ikutin juga. Karena sudah lama juga
saya absen latihan.
Setelah kisaran 2 jam kami latihan
disertai selingan, kami istirahat tepat ketika adzan dzuhur berkumandang. Ketika
saya cek HP saya, ternyata udah banyak panggilan tak terjawab dari Rafiq sama
Rizki. Si Rafiq ini teman Angkatan saya yang kuliah di Kahramanmaraş, kota yang terkenal sama aksi es krimnya itu
loh. Kalo tau kang Es krim Turki yang sering atraksi itu, nah mereka asalnya
dari sana. Tapi katanya sih disana sendiri malah udah jarang banget yang
atraksi gitu, udah bosen kali ya. Kalo mau diatraksiin gitu biasanya di kota
besar. Saya pun pertama kali coba itu di Ankara. Ok, back to topic, jadi memang
kita udah janjian tuh pengen rame-rame ke Aizanoi. Salah satu situs bersejarah
peninggalan zaman Yunani Kuno yang masih lumayan lengkap situs-situsnya, macam
bekas theatre nya, kuil nya dan batu-batu peninggalannya. Saya sebenarnya udah
lama banget pengen kesana, tapi kurang banget info. Kesana nya naik apa, berapa
harganya. Sebelumnya taunya kesana tuh cuman bisa naik taksi, yang pastinya
mahal banget.Terakhir saya sebelumnya ada niat pergi sama saya, Insan Kamil untuk
kesana naik taxi, katanya 250 pp, perorang tapi. Padahal sebelumnya ada
teman-teman kami mereka 250 pp itu bukan per-orang tapi per-taxi. Ya gimana
lagi, gak ada transportasi umum lain yang kesana setau saya. Beberapa bulan
sebelumnya, ada beberapa teman yang kesana juga, tapi naik bis kampus. Tau-taunya
saya salah. Ternyata kesana bisa naik minibus dari otogar Kütahya.
Ongkos 40 tl sekali jalannya. Ya Allah, kenapa baru tau😑. Tapi
memang bener, yang tau info ini tuh cuman segelintir orang di Kütahya
aja. Ya si Caesardi doang kayaknya. Ngapa gak ngasih tau dari kemaren-kemaren
sih Ces😣. Hampir tekor
naik taksi.
Karena takut telat
dan ditungguin sama yang lain, saya langsung mau izin pulang duluan tuh. Tapi
sebelum pulang, saya disuruh dengar pengumuman dulu. Yang bikin saya kecewa
berat sih. Langsung disampaikan bahwa, menurut peraturan Athan Cup tahun ini,
peserta harus mewakili kota sesuai dengan kampus yang tertera di Öğrenci
Belgesi(Dokumen pelajar) siswa
tersebut. Karena berhubung Öğrenci Belgesi saya sudah berubah di kampus saya yang
baru, Eskişehir Osmangazi Ünıversitesi di kota Eskişehir. Dan kota Eskişehir itu
berafiliasi dengan PPI Ankara, bukan PPI Kütahya, maka kalo saya tetep pengen
ikut Athan Cup sebagai peserta, saya cuman bisa membela PPI Ankara, ikut futsal
mereka. Karena ya tahun ini peraturan ini diperketat, gak bisa ditawar lagi.
Wah kecewa berat sih, jujur saya. Saya udah latihan lama, dan saya yakin tim
ini bakalan melaju jauh nanti waktu turnamennya ntar. Sempat speechless lama
saya, tapi saya masih ingin ikut main. Langsung saya tanyain siapa penanggung
jawab futsal PPI Ankara, saya ingin mengajukan diri. InsyaAllah saya masih
yakin punya kemampuan untuk bersaing sebagai striker. Kala itu juga saya langsung
resmi berpamitan dengan Tim Inti Futsal PPI Kütahya. Ya, gak ada yang namanya
sia-sia sih. Mungkin ini yang terbaik kali. Siapa yang tau ya kan. Setelah
semua ngomong, saya juga ngomong beberapa kalimat perpisahan lah ya, kami buat
video bareng ala-ala perpisahan gitu ya kan kalo pemain bola mau gantung sepatu
aja ini mah😅. Tapi ya saya
masih terus support sih, mereka juga sangat mumpuni secara skill, teamwork dan
mental. Masih yakin mereka bakal juara sih ini mah.
Singkat cerita,
sekitar jam 13.30 saya balik ke rumah Susilo. Di jalan juga ditelpon lagi saya.
“Ikut gak?”, tanya Rafiq. “Ikut geh, udah lama gw pengen kesana. Tungguin bentar
uy, gw masih di jalan nih 😅”, jawab saya.
Sesampainya disana, saya mandi, sholat Dzuhur, terus siap-siap berangkat. Waktu
itu kami ber-7 berangkat kesana. Saya, Riski, Rafiq, Susilo, Jeje, Egar, dan
Caesardi. Setelah bungkus makanan di Saigan Döner, tempat makan favorit kami di Kütahya, kami langsung naik bis nomor 7A ke otogar.
Kami kesana langsung memesan tiket untuk 7 orang. Jam 3 kami baru berangkat.
Perjalanan memakan waktu kisaran setengah jam lebih. 45 menit lah kira-kira. Di
tengah perjalanan saya coba ambil sedikit momen. Video gitu buat dokumentasi. Di
dalam juga kami makan döner yang sudah kami pesan sebelumnya. Sekalian juga
ketika itu juga saya langsung DM InstaGram penanggung jawab futsal PPI Ankara
mengenai ajuan saya untuk bergabung ke tim futsal mereka. Yang beberapa jam
kemudian langsung dijawab kalau mereka memang sedang melakukan seleksi juga,
tapi diprioritaskan untuk bek katanya, kalo mau, saya dipersilahkan datang hari
kamis. Saya tanpa pikir panjang langsung menyanggupi, mau ditaro di posisi mana
pun gampang, yang penting datang dulu ye kan.
Sampai disana ketika
Ashar tiba, kami sempatkan untuk ke masjid dahulu. Kemudian dari situ lanjut
jalan ke Aizanoi nya. Gak jauh-jauh amat sih, 10 menitan kira-kira jalan kaki
untuk sampai kesana. Tiket masuk ke sana gak mahal, 20 tl aja. Sebelum kesana,
kami ke shop nya dulu liat-liat oleh-oleh. Dan yups, harganya mahal semua. Saya
pun cuma sanggup beli tempelan kulkas, yang harganya masih terjangkau. Ketika
itu cuaca lumayan panas yang bikin kami cepet haus. Mana air dijual 10 tl
disitu lagi, duh😑.
Sedikit penjelasan tentang Aizanoi,
Aizanoi merupakan kota kuno yang menurut penelitian sudah mulai ditinggali sejak
tahun 2500-2800 SM. Kemudian mulai transisi ke kota Romawi pada 153 SM.
Populasi kota ini diperkirakan mencapai 100-120 rb orang pada abad 2-3 M.
Sekarang, peninggalannya masih bersisa sekitar 10% nya masih bisa kita lihat
saat ini. Menjadi salah satu kota antik paling penting dan paling utuh di
dunia. Gak heran, tempat ini sudah jadi situs warisan UNESCO. Kota antik ini sekarang
termasuk dalam kawasan kota Kütahya, tepatnya di daerah Cavdarhisar, sekitar 50 KM
dari pusat kota. Transportasi nya bisa melalui mini bus dari Otogar. Dengan
tarif 40 tl sekali jalannya -ini tarif bulan September-. Kota antik Aizanoi memiliki
banyak situs peninggalan yang masih cukup lengkap seperti, Kuil Zeus, Stadium-Theatre,
dan juga tempat pemandian (hammam) Romawi dan lain-lain. Tentunya sekarang gak
beroperasi karena udah berusia ribuan tahun, namun puing-puing sisanya masih
terlihat jelas hingga saat ini. Salah satu puing yang paling ikonik adalah Patung wanita besar berdiri di depan kuil, yang
merupakan bagian dari akroter. Kuil itu diyakini didedikasikan untuk Zeus
dan Sibyl. Patung ini ada di kamus Munjid. Bagi santri yang ada pelajaran
Munjidnya, pasti gak asing dengan patung ini.
Lanjut, kami pergi ke setiap
bangunan yang bisa kami kunjungi, dari kuilnya, patung munjidnya, stadium-theatre,
juga pemandian air panasnya. Foto disana tuh beuh hasilnya sangat memuaskan,
apalagi kalo kamera HP nya bagus. Kebetulan Caesardi bawa kamera pribadi dia.
Kami foto, buat video, dan foto siluet dibawah sinar matahari tenggelam. Kami habiskan
waktu sampai maghrib disana.
Berikut foto-foto kami di Aizanoi:
Setelah itu kami kembali lagi ke
tempat kami turun dari bis. Udah malam tuh posisinya, dan kayaknya gak ada minibus
yang lewat lagi. Wah, gak ada pengalaman kami kayak gini. Untungnya setelah
jalan, ternyata ada terminal di sekitar sana di kiri jalan. Kami dapat jadwal
keberangkatan jam 8 malam. Sambil menunggu, kami diajak untuk ngeteh dan
ngobrol bareng dengan lurah setempat. Umurnya sudah masuk kepala empat tapi
belum menikah. Beliau cukup ramah, teh yang kami pesan pun semuanya dia yang
bayarin. Tak kerasa jam 8, setelah foto bareng, kami pamit pulang ke kota.
Tapi ada yang lucu sekaligus apa
ya, mengherankan juga buat kami. Kan nomor nya Caesardi disimpan sama pak lurah
nya. Trus pak lurah minta nomornya Rafiq, setelah itu, di chat Rafiq nya. Rafiq
diminta ngirimin fotonya dong. Setelah ngomong ke kami, kami bilang kirim aja
foto yang rame-rame, kalo foto sendiri gak usah. Dikirim lah kan ke Pak Lurahnya.
Eh gak lama abis itu, ditelpon, setelah
ngangkat kayak ngobrol biasa aja gitu. Eh tapi malah nelpon terus menerus
dianya. Ngajak video call lagi.
“Nah loh, Fiq. Hati-hati lu.
Mungkin dia suka sama yang kekar-kekar kayak lu”, goda kami sambil ketawa🤣.
“Gak lucu woy. Eh tapi udah sampe
keterlaluan loh, liat nelpon berkali-kali loh dia”, kata Rafiq.
“Ya udah gak usah diangkat, kalau
nggak blok aja”, saran kami.
Bukannya kami yang menanggapi
berlebihan, tapi memang udah agak mengherankan aja. Ditambah yang ditanyain kan
si Rafiq doang. Jadi kami agak SUS aja gitu. 😅
Ya diluar itu, saya sangat merekomendasikan
untuk setidaknya kalo ke Kütahya, setidaknya satu kali pergi kesini. Sendiri
atau ramai-ramai, terserah aja. Ongkos 80tl pulang-pergi sangat worth it menurut
saya.
Akhir kata, sampai
jumpa di tempat menarik lainnya!
Görüşürüz!

.jpeg)

.jpeg)



.jpeg)
Komentar
Posting Komentar