Kupas tuntas 4 hari jalan-jalan di Serbia. Ada apa aja ya?
![]() |
| Foto di depan gedung parlemen di kota Belgrade |
Serbia, 17 Februari 2023
Hari
ini beserta 4 hari kedepan kami harus happy, karena kami akan jalan-jalan ke
Serbia🥳! Perjalanan sekarang ini adalah rentetan
dari kejadian kurang mengenakkan yang kami alami di Turki beberapa minggu ini.
Nama teman-teman saya dihapus dari status kemahasiswaan di kampus. Yang
buntutnya, application izin tinggal mereka ditolak. Karena ditolak dan masa
visa sudah habis, kami terpaksa keluar dari Turki. Konsekuensi harus keluar
dari Turki ini memang biasanya dirasakan beberapa mahasiswa yang bermasalah
dengan izin tinggalnya, keadaan semacam ini biasa kami sebut dengan , “Giriş-Çıkış” atau artinya kalau di
Bahasa Indonesia “Masuk-Keluar”. Karena kejadian yang sangat tidak
mengenakkan yang terjadi pada teman-teman saya akhir-akhir ini, saya tuh sampai
ke tahap benci. Benci kuliah disini. Merasa gak worthed kuliah disini itu.
Sistemnya yang ribet, bahasanya susah, ditambah pengalaman-pengalaman gak mengenakkan seperti
ini bikin saya gak suka, bahkan benci sama negeri tempat saya berkuliah saat
ini. Ya, saya berharap seiring berjalannya waktu, rasa benci ini bisa berubah
lagi jadi cinta kembali seperti di masa-masa awal saya tiba disini. Saya tidak
akan banyak menulis tentang itu di tulisan ini. Melainkan saya akan coba tulis
di tulisan berikutnya, yang akan menyusul di waktu lain, tentang apa yang
terjadi akhir-akhir ini pada teman-teman terdekat saya. Dan kenapa saya bisa sampai punya rasa kayak gitu. So stay tuned!
Singkat
cerita, teman-teman saya dapat keputusan untuk harus keluar dari Turki dalam
waktu 10 hari, dihitung dari keputusan keluar tanggal 9 Februari sore. Awalnya
kami berencana untuk keluar ke Georgia, negara yang bagian selatannya
berbatasan dengan Turki. Melihat memang ongkosnya yang paling murah dibanding
pergi ke negara lainnya. Dan tempat destinasi yang ingin kami kunjungi juga,
yaitu Kota Batumi, terletak di tepi pantai sehingga cocok sekali jadi destinasi
liburan. Sebagai informasi, dulunya Batumi merupakan bagian dari Turki, ia
merupakan salah satu dari 3 wilayah yang biasa disebut sebagai “üç liva” yaitu kota Kars,
Ardahan dan Batumi. Istilah ini mulai dipergunakan sejak tahun 1878, dimana 3
wilayah ini sangat berusaha dipertahankan untuk tetap menjadi bagian dari
Turki. Tapi semenjak tahun 1921, melalui perjanjian Kars Antlaşması, diputuskan
kota Kars dan Ardahan menjadi bagian dari Turki, sedangkan Batumi menjadi
bagian dari Georgia.
Perjalanan
ke kota Batumi, Georgia memakan waktu kurang sekitar 17 jam naik bis dari
Ankara, biayanya pun relative masih terjangkau, untuk PP kira-kira maksimal
1300 tl, atau sekitar 1,1 juta rupiah. Visa nya pun relative murah. Untuk visa
turis, mereka mematok harga 20 USD, atau sekitar 300 ribuan aja untuk izin stay
sepanjang 30-120 hari. Nah, ketika semua sudah pas, baik dari jadwal maupun
harga, masalah terjadi di pengajuan visa. Pembuatan visa memakan waktu kurang
lebih seminggu. Jadi, kami baru bisa masuk ke Gergia paling cepat tanggal 21
Februari, sedangkan kami harus sudah keluar dari Turki tanggal 19 Februari.
Akhirnya kami putuskan untuk mengubah rute, mau gak mau ke negara lain, yang
biasanya dikunjungi orang yang kena “Giriş-Çıkış” ini, yaitu Serbia. Serbia dipilih karena negara ini free
visa untuk Indonesia. Pemberian free visa bagi turis ini, karena Indonesia
tidak mengakui kemerdekaan Kosovo. Tiket ke Serbia mencapai 4,2 juta untuk PP.
Kami dapat harga segitu karena baru memesan tiket, satu hari sebelum
keberangkatan. Kalau pesan dari jauh-jauh hari, bisa dapat harga yang jauh
lebih murah. Kami juga sebenarnya sebelumnya melihat ada seat kosong untuk
harga 3,4 juta, tapi eh kok malah waktu pembayaran malah gak bisa. Tidak
tersedia. Dan ini terjadi berulang kali di berbagai website yang saya buka.
Wah, saya pening banget dah waktu itu, udah H-1, masih belum terpesan juga
tiketnya. Akhirnya, tanggal 16 Februari malam, saya berhasil beli juga, itu pun
kisaran jam 10 malam. Alhamdulillah, at least saya bisa tenang sedikit. Masalah
booking penginapan dan lain-lain itu bisa menyusul nantinya. Yang terpenting
tuh tiket pesawat dulu. Kami berangkat ke Serbia tanggal 17 Februari jam 6
sore, dan pulang kembali ke Turki 4 hari kemudian, tanggal 21 Februari jam 7
malam. Jadi kami bakalan disana untuk 4 hari 4 malam. Eh, iya gak sih🧐?
Malam ini akhirnya capek saya sedikit terbayar, bisa tidur dengan sumringah. Fix
nih, kami ke Serbia!
Oh
ya, saya kenapa mau bela-belain untuk berangkat ke Serbia menemani mereka,
padahal saya sendiri gak ada masalah apapun, itu karena saya merupakan penanggung
jawab mereka yang ditunjuk oleh agen. Mereka datang kesini itu dengan agensi,
dan saya sebagai penanggung jawab mereka di Eskisehir. Istilahnya sih, mentor.
Walaupun kesalahan gak di saya yang menyebabkan mereka menimpa kejadian ini,
-akan saya ceritakan di lain waktu penyebabnya- tapi saya sebagai penanggung
jawab gak akan ninggalin mereka. Mereka yang sudah jadi teman dekat saya
disini, bakalan saya bantu sebisa mungkin. Mungkin setelah dipikir, effort saya
untuk mengurus problem ini benar-benar mengorbankan waktu saya banget. Dengan
uang yang saya terima tidak begitu sebanding, mungkin. Untungnya, untuk
perjalanan ke Serbia ini, saya dibayarkan untuk tiket PP nya. Sedangkan mereka
pakai biaya sendiri. Untuk penginapan dan jajan, semua pakai uang saya sendiri.
Ya walaupun begitu, saya berpikir gak mungkin saya serahkan job ini ke orang
lain. Karena saya saat ini yang paling tau masalah mereka, dan paling kenal
mereka dibanding penanggung jawab lainnya. Akhirnya ya, saya sanggupin. Ya,
kapan lagi juga ke Serbia. Sebenarnya, negara ini gak masuk wishlist negara
yang akan saya kunjungi. Makanya bisa jadi ini yang pertama dan terakhir. Saya
pun gak tau disana ada apa. Untungnya, minggu sebelumnya, ada teman saya yang
pergi kesana untuk jalan-jalan. Jadi bisa tanya-tanya ke dia tentang destinasi
yang bisa dikunjungi, transportasi, makanan-makanannya seperti apa. Sekalian
saya pinjam kartu bis, dan kartu internet Serbia yang dia beli minggu lalu.
Saya juga gak lupa minta itinerary dia, planning jalan-jalan kemana aja
waktu kesana. Yah, saya bilang ke mereka, walaupun ke Serbia ini diluar rencana
dan aslinya merupakan “hukuman” dalam tanda kutip, tetap saja, jangan sampai 4
juta PP yang dikeluarkan itu sia-sia dan kita gak kemana-kemana. Coba bikin
uang yang dikeluarkan itu jadi worthed it dengan destinasi-destinasi
keren yang mungkin bisa dikunjungi nanti.
Tanggal
17 Februari pagi, mereka pergi ke Hoca TOMER untuk minta izin gak masuk kelas
untuk 4 hari kedepan. Mereka harus minta izin karena memang kalau sekali lagi
mereka absen dari kelas, mereka bakal mengulang lagi untuk level A2 mereka.
Sedangkan saya yang memang masih libur kuliah, ya tidur hahaha. Ini lah yang
bikin saya persiapan kurang matang, celana panjang ganti, saya gak bawa, alat
mandi juga lupa. Saya fokus ke paspor sih, ini yang gak boleh ketinggalan.
Setelah mereka sudah dapat izin, kami berangkat ke stasiun menuju Ankara.
Untungnya masih ada banyak seat kosong untuk kereta cepat jam 12:30 siang.
Jadinya kami bisa sampai di Ankara jam 2, sehingga masih banyak waktu tersisa
sebelum keberangkatan kami. Saya sebelumnya cukup khawatir tentang ini sih
memang, karena saya belum pernah ke Bandara Ankara. Jadi, ada rasa takut
ketinggalan pesawat, apalagi ini penerbangan internasional. Disamping mereka
juga harus ke imigrasi dulu untuk proses, ada hukuman dendanya ataupun tidak.
Mungkin agak lama ya kan, tapi Alhamdulillah, proses nya cepet, dan mereka
tidak kena denda karena bisa keluar dari Turki sebelum tanggal 19 Februari.
Alhamdullah sejauh ini lancar, reservasi penginapan untuk 2 hari juga sudah
kami booking. Kami hanya ambil 2 hari untuk melihat dulu, apa penginapannya worthed
atau nggak, kalau iya, kami lanjut, kalau tidak, kami bakalan pindah. Itulah
yang kami bilang ke petugas imigrasi ketika ditanya kenapa reservasinya hanya 2
malam, padahal kami bakal stay sampai 4 hari kedepan. Oh ya, FYI untuk
teman-teman yang ingin ke bandara Ankara, bisa pergi naik bis Havaş atau Belko air dari banyak tempat; Kızılay, AŞTİ Otogar, YHT Gar maupun dari
beberapa tempat lainnya. Bisa dicek rutenya di website Belko air di
Google. Kami sendiri kemarin pake taksi sih, wkwkwk. Karena nunggu bis lama,
dan pake taksi juga 300tl sampai bandara, dibagi 5 orang jadinya patungan 60
tl. Gak jauh-jauh kalau kita pake bis soalnya. Melihat jam juga untuk
menunjukkan pukul 14.30. Nisbatan-nisbatan, ahsan-ahsan😂.
Sesudah check-in dan
mengurus administrasi di imigrasi, kami menunggu di ruang tunggu sambil main
PES di laptop. Tapi sayangnya, baterai habis sebelum kelar match nya. Oh ya,
kami ke Serbia ini berlima. Saya, dan 4 orang maba yang saya urus, Hilman,
Rama, Lutfi, dan Zulfi. Mereka udah saya anggap teman dekat.Di bandara ini, Hilman dan Rama beli rokok Marlboro double
click di duty free. Satu slop, 38 euro. Gak tau saya itu worthed atau
gak ya. Karena katanya Marlboro yang ini cuman ada di beberapa tempat doang.
Agak susah ditemuin.
Jam 18:30 pesawat
kami berangkat. Agak delay selama 20 menit. We feel excited! Seperti apa ya,
Serbia itu? Gimana ya kotanya? Bismillah, semoga memenuhi ekspektasi kami.
Perjalanan kali ini memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sebelum naik pesawat
perut saya udah benar-benar keroncongan. Untungnya di pesawat dapat konsumsi
sandwich kalkun. Lumayan lah ya. Kami naik pesawat Anadolu Jet, Turkish
Airlines. Ibaratnya, Citilink nya Garuda gitu. Yang versi
kecilnya. Sekitar jam 7 malam kami tiba di bandara Belgrade, Serbia. Disana
kami sempat di imigrasi untuk ditanya-tanya sekitar 15 menit. Kami sampaikan
kalau kami turis untuk 4 hari. Mungkin mereka bingung kali ya, ke Serbia ada
apa? Mungkin😅. Setelah dibolehkan keluar, pertama-tama kami
ke mesin exchange dulu di Bandara. Sebelumnya tanggal 16 kemarin, kami sudah
tukar dari Lira ke Euro supaya nanti ketika ditukar ke mata uang sana, charge
nya gak terlalu besar, dan lebih gampang juga. Mata uang yang dipakai disana
bernama Dinar Serbia, biasanya ditulis dengan RSD atau DIN kalau di
market-market. Mahal gak ya harga makanan-makanan disana?
Keluar dari bandara,
banyak taksi yang langsung menawarkan kami tumpangan. Tapi, karena sebelum saya
berangkat, saya sudah dikasih kartu bis oleh teman saya, ya walaupun kartunya
cuman dua buah sedangkan kami berlima, kata teman saya gapapa. Gak perlu
nge-tap, langsung duduk aja, gak akan ada yang peduli. Begitu juga yang
dilakukan orang Serbia lokal, begitu masuk, mereka langsung duduk. Kata teman
saya, kalaupun nanti diperiksa, ternyata gak ada kartu, disuruh turun doang. Ya
udah lah, karena taksi pasti bakalan mahal, karena jaraknya jauh, kami naik bis
saja. Kami juga sudah diberi tahu dengan pemilik apart kami menginap, untuk
kesana, kami tinggal naik bis nomor 72, nanti turun di pusat kota, berjalan 400
meter, lalu sampai. Btw, kami pesan apartemen di aplikasi AirBnB, per malam
berkisar 50 dolar USD. Satu kamar dengan 8 tempat tidur. Kami reservasi untuk 2
malam, karena kami ingin melihat dulu, kalau nanti sesuai harga, kami akan
lanjut, tapi kalau tidak, kami akan pindah cari tempat lain.
Singkat cerita, kami
naik bis nomor 72. Masuk bis, kemudian langsung duduk sebagaimana orang lain.
Perjalanan memakan waktu kisaran setengah jam. Di tengah jalan, ada pemeriksaan
kartu, tapi gak ditanyakan semua. Saya yang megang kartu, bisa menunjukannya ke
petugas. 2 teman saya yang ditanya dan tidak bisa tunjukkan kartu, diarahkan
untuk membeli tiket ke supir. Setelah pengecekan, petugasnya langsung turun
dari bis. Sontak saya bilang, “Gak usah, duduk aja udah, kan petugasnya udah
turun😅”. Dan ya Alhamdulillah sampai akhir, tidak
terjadi apapun. Oh ya, karena kami berada di kota Belgrade, sebagai ibu kota,
tentu saja transportasi umum bisa diketahui di Google Maps. Jadi kemana-mana,
harus naik apa, bisa liat pakai Google Maps. Simple, dan efektif. Kalau di
turki, saya biasa pakai Google Maps untuk mengetahui transportasi apa yang
harus dinaiki, ketika saya berada di Ankara dan Istanbul. Sedangkan di
kebanyakan kota lain, biasanya kita pakai aplikasi Moovit.
Sesampainya di tujuan, kami ingin satu, beli
kartu bis. Tentunya untuk kenang-kenangan dan koleksi aja. Untuk beli itu,
sesuai arahan teman saya, pergi saja ke warung Moj Kiosk. Jujur, saya gak tau
artinya, tapi hampir semua warung pinggir jalan, ada tulisan seperti itu. Di
warung pertama, sayangnya dia tidak menjual kartu bis. Tapi saya senang, dia
bisa bahasa Inggris, jadinya memudahkan kami untuk komunikasi. Di warung
selanjutnya, yang jaga ibu-ibu, dia agak kesulitan bahasa Inggris, jadinya dia
tunjukkin harganya pakai kalkulator. Ibunya asyik sih, kami bercanda pakai
bahasa Serbia modal translate wkwk. Untuk beli kartu beserta isinya, kami bayar
500 Dinar atau kalau di kurs, kisaran 70 ribu rupiah saja. Saya bilang “saja”,
karena ini harga yang relatif murah untuk Eropa. Dari sana, kami menuju ke
apartemen kami. Jalan kesana sekitar 5 menit dari warung tadi, kami juga
sekalian disuguhkan bangunan khas Eropa Timur. Bangunan yang kusam, banyak fandal,
coretan-coretan pilok. Jangan-jangan benar ya, saya pernah dengar kalau Serbia
gak lebih bagus dari Surabaya. Ya mungkin bisa jadi. Kalau lihat bangunannya
yang tua ini. Karena kelihatan sekali seperti apartemen lama yang temboknya
putih kusam, banyak coretan pilok, bahkan banyak yang sudah jamuran. Kesan
pertama saya ke Serbia gak terlalu bagus lah..jpeg)
Kartu tap bus Belgrade, Serbia
Setelah cukup lama
mencari apartemennya, akhirnya kami ketemu juga. Setelah kami kabari host nya
bahwa kami sudah didepan apartemennya, akhirnya dia turun menyambut kami.
Ternyata dia orang Cina. Berkomunikasi dengan saya, pakai Google Translate. Dia
gak bisa bahasa Inggris, dan mungkin juga gak bisa Bahasa Serbia. Karena ketika
saya coba tanya, “apakah ada orang lain di kamar ini yang menginap selain kami?”
menggunakan google translate ke bahasa Serbia, dia hanya tersenyum aja.
Kayaknya gak paham sih. Dia juga sepertinya mengira saya orang Turki karena
selalu berkomunikasi ke saya pakai translate bahasa Turki.
![]() |
| Salah satu gedung di kota Belgrade |
Saat
masuk ke apartemennya, sekitarannnya cukup gelap, liftnya kecil. Termasuk
apartemen tua saya rasa, tampak dari luar gedung juga seperti itu. Masuk ke
dalam apart, kami lepas sepatu lalu kami ganti dengan sendal. Kami masuk ke
sebuah kamar yang ada 4 ranjang tingkat dengan space kosong yang sangat kecil.
Tidak ada ruang tamu, keluar kamar langsung disambut dengan dapur kecil untuk
memasak. Disampingnya ada kamar mandi dengan ukuran sedang. Ada 3 kamar di
apart ini. Satu untuk kami, satu disewakan lagi, satu lagi untuk mereka. Asumsi
saya mereka orang Cina yang menyewa apart ini, lalu menyewakan lagi kamarnya.
Emang ada aja otaknya kalau orang Cina masalah cuan ya. Melihat ini, kami agak
terkejut sih. Kami kurang nyaman dengan kamarnya. Kirain kami akan sendiri
gitu, taunya dapat satu kamar doang dengan ukuran kecil dan ranjang tingkatnya.
Anak-anak yang lain udah mulai menggerutu, pindah aja lah, kata mereka. Wkwkwk,
baru bentar padahal. Ya gimana ya, sangat tidak worth dengan biaya yang kami
bayar. Ya udah lah, kami sabar aja ya kan. Untung reservasi cuman 2 malam. Kami
ambil sisi positifnya aja. Di apart yang kayak gini, mending cuman buat tidur
aja, sisanya abiskan waktu diluar. Nah, kalau kayak gitu kan, bakal jadi
maksimal liburan dan jalan-jalan kami.
![]() |
| Suasana kamar apartemen kami |
Malam itu karena kami
udah lapar banget, kami masak air untuk mie instan yang udah kami bawa dari
Turki. Indomie pastinya. Di tembok, ada kertas bertuliskan ‘No cooking’ sih di
temboknya. Hadeuh, untungnya ya kalo masak mie mah, cukup dengan masak air aja
sih. Kami diberi fasilitas wifi kencang, dan mesin cuci. Untuk mesin cuci gak
mungkin kami pake sih sekarang. Udah lah pokoknya abis makan mie, kami niat
keluar. Lucunya lagi kan, waktu makan mie, karena sendoknya dikit, cuman 2,
jadinya 2 lagi make sumpit, 1 orang pake sendok teh 🤣. Itu
mau nyeruput kuah, yang keambil pun dikit banget hahaha. Setelah makan mie,
karena masih lapar, kami keluar rumah sekitar jam 10 malam. Sekalian juga kami
ingin tau vibes malam disini, juga bangunan-bangunan nya. Kami keluar,
muter-muter aja, niatnya nyari market untuk beli air minum. Tapi kebanyakan
sudah tutup. Akhirnya kami menemukan warung yang menjual air mineral. Setengah
liter air mineral botol plastik dengan harga 80 dinar atau 11 ribu rupiah itu
mahal sekali menurut saya. Tapi ya mau gimana lagi ya kan. Udah pada tutup mini
market juga. Mungkin kami bisa menemukan yang lebih murah disitu. Malam itu,
kami ke pusat kota, kami menemukan ada gedung bagus yang terlihat dari
kejauhan. Kami akan kesana besok, pikir kami. Mungkin setelah lihat gedung-gedung
dengan arsitektur keren semacam itu, pandangan kami ke negeri ini akan jadi
lebih positif. Tentang orang-orangnya? Sejauh ini yang kami temui dan kami
tanya arah jalan misalnya, mereka cukup ramah, dan hangat kepada kami selaku
turis. Mungkin karena tidak banyak turis yang datang kesini, makanya sekalinya
datang, ramah. Mungkin begitu asumsi saya. Atau mereka yang sifat dasarnya
memang ramah barangkali. Hal lain yang bisa kami simpulkan adalah, mereka orang
Eropa yang rata-rata tinggi sekali. Banyak sekali diantara mereka yang
tingginya diatas 1,8 m. Bahkan perempuannya juga. Kalau dilihat di Google sih,
rata-rata tinggi orang Serbia ada diangka 1,74 cm. Jauh diatas tinggi rata-rata
orang kita. Postur mereka yang tinggi ini juga bisa dilihat kalau kalian ke
McDonalds. Malam itu kami kesana, meja dan kursinya tinggi sekali. Untungnya di
meja itu ada bawahannya untuk kami menapakkan kaki. Sedangkan untuk orang
lokal, mungkin kaki mereka bisa sampai lantai. Wkwkwk, tinggi banget emang.
![]() |
| Gedung yang saya maksud. Keren kan? |
Sekitar jam setengah
12 malam, kami balik ke apart. Setibanya di kamar, udah ada orang Cina gendut
yang berbaring disalah satu Kasur, sambil scroll hp gitu. Wah makin gak nyaman
udah ini mah. Mana dia ngerokok di kamar juga. Fix, pengen cepat-cepat ganti
apart ini mah. Kayaknya orang itu teman atau kerabat si ‘host’nya yang orang
Cina yang menyambut kami itu. Tapi jujur, kami sangat annoying sekali dengan
kehadiran orang itu. Begitulah keadaan kami ketika di kamar untuk 2 malam ke
depan ini. Ya sudah lah, biarkan saja. Besok pagi-pagi kami ingin keluar,
sarapan diluar, ke market beli air, abis itu jelajah kota Belgrade. Kami sudah
planning besok ingin kemana saja. Besok, kami bakal jalan-jalan di Belgrade,
mungkin ke museum atau tempat lain yang bisa dikunjungi. Di hari kedua, kami
akan ke kota yang kata teman saya estetik dan cantik banget, Novi Sad. Dia
memang belum kesana, tapi dia dengar dari kating, kata mereka, itu kotanya
cantik, sangat wajib dikunjungi. Oke, kami masukkan ke list. Hari ketiga kami
akan ke Turkiye Konsosluğu untuk menanyakan perihal masalah izin tinggal
teman-teman saya ini yang bermasalah karena nama dari kampus dihapus yang
menyebabkan application izin tinggal tertolak ketika visa mereka habis, jadinya
harus keluar dari Turki. Lalu di hari terakhir, santai saja, keliling seadanya sebelum
pulang. Malam ini sudahi dulu saja, tidur dulu, semangat besok pagi. Apalagi
subuh di Serbia jam 5. Beda sama Turki yang jam 7. Jadinya harus bangun lebih
cepat.
Sabtu pagi, tanggal
18 Februari, liburan kami baru benar-benar dimulai. Setelah sarapan sup dan
minum teh yang tersedia, kami bersiap-siap untuk keluar. Pokoknya apapun itu,
Sabtu dan Minggu ini kami harus jalan-jalan dan liburan. Baru hari Senin nanti,
mulai selesaikan perkara inti. Kami keluar membawa barang-barang berharga,
jaga-jaga kalau hilang. Soalnya keadaan apart seperti yang saya sudah sebutkan,
bisa kalian bayangkan pasti ada rasa khawatir sesuatu yang hilang. Oleh karena
itu, semua hp dan laptop kami bawa. Hanya baju saja yang kami tinggalkan. Jam 11
pagi, kami keluar dari apartemen. Cuaca diluar cukup cerah dan suhunya gak
sedingin Turki. Bahkan saya yang pakai jaket tebal musim dingin saja merasa
gerah. Suhu stabil diangka 10-17 derajat kira-kira. Jadinya cukup dengan
sweater plus jaket tipis aja kalau mau nyaman. Saya tidak tau ya apakah
kemarin-kemarin disini turun salju atau tidak. Soalnya sekarang sudah tidak ada
jejaknya lagi.
Tempat pertama yang
ingin kami kunjungi pertama kali adalah mini market. Kami ingin beli minum
dulu. Di perempatan kota, kami menemukan mini market namanya ‘Aroma’. Cukup
banyak tersebar dimana-mana market ini. Di depan Aroma, ada tempat bernama ‘PEKARA’
yang mungkin artinya Bakery atau tempat jual aneka roti-rotian gitu. Kenapa
saya bilang gitu, karena tiap toko roti ada tulisan ‘PEKARA’ nya. Disitu
saya beli roti isi sosis ayam. Yang paling aman beli makanan yang ada tulisan
chicken nya sih. Selain itu, ada juga croissant, lalu makanan khasnya bürek. Di Turki juga ada, namanya Börek tapı ukurannya lebih kecil dan lebih murah dari yang di Serbia
ini.
Setelah sarapan di PEKARA,
kami terus jalan ke gedung yang kami lihat tadi malam. Ternyata itu adalah
Gedung Parlemen di Belgrade, dan disebrangnya adalah sejenis gedung
pemerintahan juga. Begitu jawaban ketika saya tanya orang yang lewat sih. Di
depan gedung ada 2 patung orang yang posenya, ntah apa ya, mungkin kelihatannya
sedang mengangkat kuda. Kira-kira seperti itu. Kalian bisa lihat sendiri di
foto yang saya taruh di bawah. Baru nih kelihatan arsitektur Eropa-nya. Karena
indah di mata, tentu saja kami ambil foto-foto disitu.
Setelah bingung mau
kemana, kami liat-liat lagi itinerary, akhirnya kami putuskan ke Museum
National Of Belgrade. Letaknya sekitar 1 km dari tempat kami saat ini. Ketika
kami jalan kesana, kami stop dulu ke depan gedung yang cukup cakep, dengan
patung prajurit berkuda yang pastinya nambah bikin cakep view. Oh ya tadi di
jalan, kami ketemu dengan orang asal India yang bekerja disini. Dia udah 2
tahun disini dan lumayan mengerti Bahasa Serbia. Kami berkomunikasi pakai
bahasa Inggris tentunya. Disini ia mempunyai restoran Biryani dan ia bilang
bisa mengantarkannya ke rumah kami jika mau. Dia juga memberi tahu kami bahwa
nanti sore ada pertandingan Gulat, UFC gitu mungkin ya, maaf kalau salah. Memang
sih di sepanjang jalan juga, iklan tentang pertandingan ini sudah terpampang di
billboard. Dia menyarakan kami untuk datang kesana dan menonton jika kami mau
enjoy. Pertandingannya sekitar jam 4 sore, jadi kalian bisa berangkat mulai
dari jam setengah 4 sore, kata dia kepada kami. Tentu kami berminat, karena
sejujurnya kami juga masih bingung mau kemana lagi hari ini setelah dari
museum. Dengar dari dia juga kalau tiketnya hanya sekitar 200-300 Dinar saja.
Oke, nanti sore kami akan kesana, ucap kami. Dan kalau nanti kami ingin pesan
biryani, kami akan menghubungi dia. Senang rasanya bisa bertemu saudara sesama
Asia, apalagi dia muslim juga seperti kami. Namanya Abdul. Tau gak, waktu
melihat dia pertama kali, kita bicarakan dia, “Itu orang India ya?”, eh tau-taunya
dia nyamperin kami.
Lanjut, kami pergi ke
museum. Agak lumayan ribet nemuin museum ini, karena pintu masuknya di samping
jalan. Kayak, kami masuk itu dari samping gedung, bukan dari depannya. Untuk
memastikannya juga, kami nanya ke penduduk lokal. Ternyata benar, dan memang
sudah ada beberapa orang yang mengantri untuk membeli tiket masuk. Untuk biaya
masuknya bisa dibilang cukup mahal. 600 Dinar atau sekitar 80 ribu itu sudah
termasuk akses ke semua ruangan yang ada di museum. Museum ini banyak
menjelaskan tentang berdirinya Serbia dari abad pertengahan sampai masa
penaklukan Kesultanan Utsmani. Setelah itu, negara ini menjadi bagian dari
Yugoslavia. Sampai pada 1990-an, negara ini bubar. Lalu, Serbia menjadi negara
merdeka sendiri, bergabung dengan Montenegro. Memang, dulu juga saya ingatnya,
nama lengkap negara ini adalah Serbia dan Montenegro. Kemudian, Serbia
‘merdeka’ lagi pada tahun 2006 menjadi Republik Serbia setelah berpisah dari
Montenegro. Pada 2008, Kosovo menyatakan merdeka dari Serbia. Tapi Serbia
mengklaim Kosovo sebagai bagian dari wilayahnya yang berdaulat. Banyak juga
perang saudara yang terjadi di negara ini beberapa tahun lalu yang menyebabkan
Serbia masih berstatus sebagai negara berkembang hingga saat ini. Bisa
diwajarkan lah ya, mereka baru benar-benar membangun belasan tahun yang lalu
sebagai negara. Meskipun begitu, fasilitasnya sudah lumayan maju jika saya
lihat. Banyak mobil bis bertenaga listrik disini. Jadi jikalau dilihat,
beberapa bis, menyambung ke kabel listrik diatasnya. Go food nya juga
pakai sepeda listrik untuk mengantarkan pesanan-pesanannya. Tentu saja bukan Go
food ya, ini supaya gampang dipahami saja, kalau disini saya lihat,
banyaknya bernama Welt. Kalau Go food berwarna hijau, kalo Welt
berwarna khas biru muda. Serbia merupakan tempat lahirnya ilmuwan terkenal
Nikola Tesla, ilmuwan yang sangat berjasa pada teknologi listrik, yang
dampaknya bisa kita rasakan sekarang ini. Mungkin karena itu, banyak mobil atau
kendaraan lain yang bertenaga listrik disini.
Kembali ke museum, selain tentang sejarah dari negara Serbia sendiri, museum ini juga menampilkan banyak lukisan ciamik nan berkelas. Bagi kalian yang berjiwa seni tinggi, tempat ini cocok buat kalian. Untuk kami yang orang awam, pastilah bilang lukisan ini keren, tapi hanya disitu saja. Kami tidak terlalu paham nilai dan esensi dari lukisan-lukisan tersebut yang harusnya bisa dihargai lebih jika kami pahami itu. Seperti banyak lukisan eropa masa dahulu lainnya, banyak lukisan orang tanpa pakaian di museum ini. Lukisan bangsawan, juga lukisan Yesus serta bunda Maria juga ada di museum ini, jikalau saya tidak salah menyimpulkan. Wajar saja karena mayoritas penduduk sini beragama Kristen Katolik dan Ortodoks. Selain itu, museum ini punya koleksi uang kertas maupun koin yang sudah dipakai dari waktu ke waktu di negara ini. Dari masa berabad-abad lalu, masa Yugoslavia, sampai uang yang dipakai sekarang. Koleksi ini terdapat di suatu ruangan khusus dilantai bawah museum ini. Oh ya, ada juga sedikit peninggalan Mesir kuno disini. Ada salah satu mumi juga yang dipamerkan. Pertama kali dalam hidup saya, melihat mumi secara langsung. Tidak ada penjelasan tentang siapa mumi ini, hidup kapan dan dimana ditemukan. Tapi cukup impresif sih. Saya awalnya meragukan apakah mumi ini benerean mumi atau bukan ya. Tapi setelah saya pastikan, melihat tengkorak kepala dan giginya, seperti nya memang ini mumi sungguhan. Apalagi ini kan museum nasional. Masa iya gak original. Setelah saya cek di Google, ternyata itu adalah mumi pendeta mesir Nesmin. Selebihnya saya tidak mengetahui informasi lain tentang mumi ini
![]() |
| Beberapa koleksi Museum National of Serbia |
Jikalau kalian
ke Belgrade, mungkin tempat pertama yang kalian harus kunjungi adalah museum
ini. Masuk kedalam, dimulai dari lantai dua. Baru setelah semua ter-explore,
turun lagi ke lantai satu. Sebelum keluar, kami tulis nama kami di buku
pengunjung museum, “Rumah Berseri pernah disini”, tulis kami beserta nama kami
masing-masing. ‘Rumah Berseri’ itu sebutan untuk rumah mereka di Eskisehir.
Kalau ke museum Belgrade, jangan lupa cari tulisan kami ya😅. Untuk
lokasi jelasnya, Museum National of Belgrade terletak di Republic Square, di
pusat kota Belgrade.
![]() |
| Koleksi "mumi Pendeta Nesmin" di museum national of Serbia |
Setelah dari museum,
kami makan di restoran Biryani India. Tapi yang ini bukan punya nya si Abdul. Beda
lagi ini mah, letaknya di pinggir jalan. Setelah makan, diluar kami ketemu
dengan orang Pakistan. Dia bilang kalau dia akan ada match sore ini. Ternyata
dia salah satu pemainnya. Memang sih, tulisannya itu international match kalo
buat hari ini. Dia bilang ke kami, “Food in this Indian Restaurant is f***ing
expensive😂”. Ya lumayan mahal sih emang, nasi biryani
ayam seporsi, harganya 70 ribu rupiah ke atas. Cukup normal aja sih sebenarnya.
Walaupun seharusnya ada yang lebih murah lagi disini. Kemudian, kami mencari
masjid untuk sholat Jama’ Dzuhur dan Ashar. Masjid yang mungkin hanya ada satu
di Belgrade. Di masjid ini, ada bendera Pakistan yang dikibarkan. Untuk
menemukan masjid ini, silahkan ketik ‘Masjid’ atau ‘Jamiye’ di Google Maps.
Pasti nanti akan diarahkan kesini.
Setelah sholat, kami
agak sedikit keliling sedikit, ada jalan yang cukup ramai. Banyak orang
nongkrong sambil ngopi disana. Jalan trus lagi, ternyata banyak yang jual
souvenir. Tempelan kulkas wajib saya beli ketika datang ke tempat baru. Saya
sebenarnya ingin beli bajunya, tapi harganya 1200 Dinar, atau kisaran 165 ribu
rupiah. Bahannya kurang bagus, jadinya saya gak jadi beli. Akhirnya di tempat
lain, saya beli topi dengan harga yang sama, 1200 Dinar Serbia. Topi hitam
bertuliskan “The City of Belgrade”. Masih jam setengah 4, sebelum ke
pertandingan, kami ingin ngopi santai dulu di starbucks. Tapi tempat duduknya
pada penuh, akhirnya ya gak jadi. Kami langsung sajalah berangkat ke Stark
Arena, tempat matchnya berlangsung. Kami memang berencana beli tiketnya
langsung di counter. Tempat ini ternyata kayak GOR gitu. Cukup besar. Untuk
kesana, kami naik bis menyebrang sungai Danube, sungai terpanjang di Eropa.
Sesampainya disana,
banyak mobil yang sudah terparkir di bagian bawah stadium. Gak terlalu banyak
juga sih. Setelah kami nanya ke petugas sekitar, mereka bilang counter ticket
ada di bagian atas.
“Excuse me, we want buy 5 tickets for the
match, please!”. Tiketnya ternyata seharga 2600-an Dinar atau sekitar 500 ribu
lebih per orang nya. Jauh lebih mahal dari perkiraan kami yang hanya 200-300
dinar. Ternyata memang, rentetan match UFC ini, -atau kick boxing atau apalah-
sudah dimulai dari tanggal 11 Februari, dan puncaknya hari ini, tanggal 18.
Tanggal 11-17 ini match-match biasa, karena itu harga tiketnya murah. Nah,
match yang kami datangi kali ini adalah yang digembor-gemborkan di billboard,
wajar jika harganya mahal. Duh, padahal sudah banyak ada di bayangan bakalan
seperti apa nonton match UFC. Tapi ya karena harga gak sesuai keinginan,
jadinya kami gak jadi dan memutuskan balik aja. Lagipula ini hanya iseng saja
karena bingung mau kemana.
Awalnya kami ingin coba bersantai nyore di pinggir sungai danube, tapi karena sudah agak capek, kami putuskan untuk langsung balik ke pusat kota saja. Sesampainya di kota, kami berjalan-jalan sedikit, kemudian menemukan gereja besar di pinggir jalan yang arsitekturnya indah banget. Di samping gereja besar itu, ada bangunan kecil berwarna hijau. Kami kira itu semacam mushola. Maka dari itu kami langsung kesana aja, maghriban disana. Eh waktu dilihat, kok didalam tempat itu sedang ada ritual ibadah, jemaat gereja ini mah, atapnya pun ada salipnya ternyata. Gerbangnya juga😅. Ternyata kami salah, itu bukan mushola, ataupun masjid kecil. Susah juga ada masjid di samping gereja besar ini, mungkin katedral bisa dibilang. Asumsi kami gereja besar ini dipakai untuk hari-hari besar saja, sedangkan yang untuk ibadah harian pakai yang kecil itu. Cocokology nih mainnya.
![]() |
| Salah satu gereja besar di pinggir jalan raya Belgrade |
Karena
gak jadi sholat disana, kami lanjut jalan, dan menemukan starbucks. Teman-teman
saya pada ngopi tuh. Saya tidak. Karena, ya saya gak mau aja. Saya orangnya
masih mendang-mending. Untuk ke Serbia ini memang saya sudah atur budget jangan
sampai abis lebih dari 1500tl untuk hidup 5 hari. Kalau untuk beli souvenir
gapapa😂. Starbuck di samping jalan ini memang lah
punya view yang keren. 200 meter didepannya ada gedung parlemen besar dengan
patung kudanya yang menambah ketenangan kalau nongkrong disana.
Sebelum
pulang, kami melipir ke mini market untuk beli roti serta selai untuk sarapan.
Gak lupa juga air putih. Kami putuskan untuk pulang lebih awal karena biar bisa
istirahat cepat dan bisa untuk atur planning besok mau kemana aja, supaya gak
luntang-lantung kayak hari ini.
Besok
kami akan keluar kota, ke kota yang katanya cantik bernama Novi Sad. Apa
benaran cantik kah? Let’s see tomorrow. Malam itu, setelah makan, kami main PES
di laptop beberapa match. Ada juga tuh orang Cina yang sibuk scroll hp nya tuh.
Duh tu orang. Kayak annoying aja gitu, mana ngerokok dalam kamar lagi, sambil
tiduran. Untung malam ini malam terakhir kami di apartemen ini. Untuk itu juga,
kami udah reservasi untuk 2 malam lagi ditempat lain. Lokasinya gak jauh dari
sungai Danube. Apartemen ini seperti nya tidak campur-campur kayak yang saya
tinggali ini. Kami akan dapat 2 kamar plus satu ruang tamu dengan beberapa
fasilitas jika melihat di aplikasinya. Agak ribet sih karena dia butuh fotokan
identitas seperti paspor dan wajah kita. Problemnya karena kamera depan saya rusak,
jadinya saya batalkan prosesnya dan ulang lagi dari awal. Waktu saya ulangi,
tetep gak bisa dan ujung-ujungnya tertolak, padahal saya sudah pakai hp yang
satunya. Akhirnya saya pinta temen saya pesankan pakai hp dia. Dan kok dia
gampang ya pesannya. Alhamdulillah, malam itu, proses reservasi sudah berhasil.
Jadi, ada 2 apartemen yang disarankan teman saya, dia cari di aplikasi AirBnB,
mana yang murah dan lokasinya dekat dengan pusat kota. Salah satunya ini, yang
mengecewakan. Satunya lagi yang kami reservasi untuk 2 malam kedepan. Semoga
bagus lah.
Esok
harinya, seperti biasa, agak ngaret dulu, kebiasaan orang Indonesia ini😅.
Setelah sarapan roti selai, juga sup Serbia. Selain teh, mereka juga
menyediakan sup Serbia, ada sisa 2 sachet disitu, ya saya ambil dua-duanya lah.
Setelah semua siap, makan mandi udah, kami keluar dari apart dengan
meninggalkan tas dan pakaian saja. Sementara semua barang berharga kami bawa.
Untuk ke Novi Sad ini kami akan naik kereta antar kota, sesuai arahan admin IG
PPI Serbia 😅. Untuk rute dari Belgrade ke Novi Sad,
setiap jam tersedia. Jam 11 kami otw ke stasiun naik bis. Ada sekitar 7 stop
kalau tidak salah, yang terlewati. Jam setengah 12, kami beli tiket di
counter. Kata kasirnya, yang tersedia hanya kereta first class, jam 12
tepat berangkatnya. Biayanya sekitar 700-an Dinar atau 130-an tl. Karena masih
terjangkau, tanpa pikir panjang, kami ‘iya’ kan. Perjalanan kesana memakan
waktu 36 menit. First Class nya kereta sini lumayan nyaman sih, dengan 4
kursi yang saling berhadapan dan ada meja ditengahnya. Di tengah perjalanan,
saya dichat dengan host apartment China itu, -tolong no offense ya karena
supaya gampang diingat saja ini- bertanya apakah saya masih akan tinggal malam
ini karena check-out nya jam 12.00 kata dia. Saya jawab, iya saya akan keluar,
tapi di aplikasi tertulis jam terakhir untuk check out adalah 00.00. Kata dia,
itu ada kesalahan di aplikasinya. Tapi untungnya ya sudah, dia akhirnya
membolehkan kami untuk stay sampai jam 12 malam. Dia pun meminta izin untuk
mencuci selimut dan sarung bantal jika kami tidak lanjut stay. Oke, tentu saja,
“alabilirsin”, kata saya. Nanti begitu kami balik dari Novi Sad, kami
langsung ambil barang untuk pindah ke apart kami yang baru.
Jam setengah 1 kami sampai di kota Novi Sad. Pertama, destinasi kami adalah City Museum of Novi Sad. Untuk kesana, kita harus naik bus sekitar 20 menitan. Teman-teman jangan lupa download aplikasi Moovit untuk tau transportasi apa yang harus dinaiki. Untuk destinasi berikutnya, nanti bisa nyusul lah ya. Sebelum naik bus, kami melipir dulu ke PEKARA. Nama PEKARA nya Evropa PEKARA, saya masih ingat. Kali ini saya beli Bürek isi daging. Harganya 200 Dinar, cukup terjangkau dengan ukuran porsi yang sangat sangat bikin kenyang. Sedangkan yang lain, ada yang beli pizza dengan harga yang sama. Kok bisa murah? Karena hanya dapat satu slice saja, tapi satu slices pun itu ukurannya gak nanggung. Yang lainnya lagi pada beli croissant. Ketika saya makan Bürek, wah kok enak banget ya. Daging apa ini? Jangan-jangan babi😅? Tapi kayaknya ini kambing sih. Kalo di Turki itu, ada yang rasanya mirip, namanya Kiymalı Börek, yang isinya potongan-potongan kecil daging kambing. Hanya saja, yang di Turki ini beda bentuk, porsinya lebih kecil, dan harganya lebih murah. Nah kalo yang di Serbia ini, porsinya gak nanggung-nanggung, daging isiannya juga melimpah, tapi harganya sedikit lebih mahal. Besok harus beli lagi ini sih, wajib. Enak banget soalnya.
![]() |
| Bürek Serbia isi daging |
Setelah lumayan kenyang, kami baru lanjut jalan lagi untuk naik bis menuju museum. Setelah sekitar 20 menit perjalanan, kami turun. Kami turun di sebuah jalan yang tidak terlalu besar, kanan kiri ada rumah atau apartemen, dan gedung-gedung yang berwarna-warni. Nah sudah mulai keliatan nih estetika kota ini. Kemudian kami naik ke atas, karena memang museum nya terletak di dataran tinggi. Untuk kesana, harus naik tangga beberapa menit. Ramai orang yang sedang berkunjung hari ini. Maklum, hari ini hari minggu, weekend, libur. Jadi, ternyata tempat ini merupakan kawasan wisata yang gak cuman ada museum nya doang. Ada tempat nongkrong sambil ngopi-ngopi atau pun bar gitu yang ditemani pemandangan sungai Danube beserta jembatannya. Ada juga jam besar yang biasanya jadi spot foto. Kami menyebutnya, ‘Jam Gadang-nya Novi Sad’. Ada juga banyak para penjual souvenir di tempat ini. Saya sudah memantau, pokoknya saya pasti bakal beli. Tapi sebelum itu, kami masuk museum dulu, sekalian numpang ke wc, karena dari tadi udah nahan-nahan kencing😂. Untuk biaya masuk ke dalam museum, kami membayar tiket masuk seharga 400 Dinar. Kami masuk terlebih dahulu dari pintu sebelah kiri, karena kalau pintu sebelah kanan itu sudah terlihat keren banget, jadi kami kira, yang keren itu pasti akhirnya. Nah, museum ini seperti biasa menampilkan sejarah-sejarah yang berhubungan dengan Novi Sad. Mereka juga punya koleksi kapal purba, yang bentuknya benar-benar batang pohon yang dibelah dan dibentuk sebagaimana kapal pada umumnya, tapi bentuknya masih benar-benar sederhana. Kayak, literally kapal gitu. Bisa kalian lihat fotonya dibawah saya sertakan. Uniknya, museum ini juga menyatu dengan sumur yang merupakan sumber pasokan air untuk para prajurit ketika perang. Jadi menyatu dengan tempat berlangsungnya sejarah secara langsung. Ini yang saya kira unik, walaupun mungkin banyak ya yang seperti ini. Tapi jarang saya lihat. Wajar saja sih, dulunya, tempat ini kan juga bagian dari benteng Petrovaradin Fortress. Setelah selesai dibagian kiri, kami mulai untuk masuk kelebih dalam lagi. Sejauh ini, belum ada kesan spesial di museum ini, belum merasa worthed lah dengan harga tiket yang dibayar. Tapi, dalam beberapa menit ke depannya, asumsi saya berubah 360 derajat. Karena untuk bagian selanjutnya dari museum ini, itu gila banget. Keren banget, luar biasa. Mungkin bisa saya bilang, sebagai museum paling keren yang saya kunjungi sebagai ‘orang awam’. Untuk bagian selanjutnya ini, museum ini menceritakan tentang istri dari Albert Einstein yang orang Serbia, yang juga seorang ilmuwan perempuan jenius yang berjasa bersama Einstein dalam menjelaskan ‘Teori relativitas’ dan juga ‘Photo Electric Effect’. Istrinya itu bernama Mileva Maric Einstein. Nah, dari perkawinan mereka ini, terlahir seorang anak bernama Eduard Einstein, yang sayangnya pada masa mudanya terdiagnosa mengidap Skizofrenia, penyakit mental yang membuat penderitanya tidak bisa membedakan mana dunia asli, dan mana dunia khayalan, saking seringnya berhalusinasi. Diceritakan bahwa Albert Einstein merasa sangat terpukul dengan penyakit yang diderita puteranya ini. Pada tahun 1919, atas ajuan dari Einstein, pernikahan antara ia dan istrinya, Mileva Maric berujung pada perceraian. Semenjak itulah, hanya sang ibu seorang diri yang mengurus anaknya, Eduard. Eduard sendiri pernah berkata, “Mungkin satu-satunya masalah yang ayahku give up adalah aku”. Begitu quote-nya yang tertulis di dinding museum. Walaupun begitu, tercatat, hadiah nobel dari jasa Einstein menjelaskan teori ‘Photo Electric Effect’, diberikan kepada Mileva Maric yang kemudian ia investasikan di sebuah property di Zurich nantinya. Sebenarnya ada satu lagi yang menarik, di suatu ruangan khusus, ternyata sebenarnya ada satu orang lagi anak dari mereka berdua. Tapi tidak diketahui seperti apa rupanya, matanya, senyumnya dan lain-lain. Ruangan ini berisikan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dan bagaimana rupa anak mereka? Anak itu merupakan perempuan bernama Lieserl Einstein yang namanya hilang dari sejarah. Ada juga ruangan yang gelap yang isinya kerlap-kerlip lampu kecil saja. Itu tuh keren banget. Agak sulit untuk menggambarkan dengan kata-kata, biar lebih jelasnya, nanti bisa liat foto atau video yang saya cantumkan di bawah.
Karena saya sangat
takjub dengan isi dari museum ini, saya bisa bilang, museum ini sangat worthed
untuk dikunjungi. 10/10 saya kasih rating untuk museum ini. Sekali lagi saya
bilang, museum ini gila, keren banget. Ketika kami keluar dari museum ini,
puluhan orang sudah antri untuk masuk. Wah wah, untung kami datang lebih cepat
ya. Dari museum saya pergi ke pedagang souvenir dan setelah menimbang-nimbang,
saya membeli hiasan piring kecil bertuliskan Serbia berwarna biru untuk
pajangan di rumah. Tau-taunya saya lihat isi dompet, lah tinggal dikit duit
saya wkwkwk. Ini gara-gara kebanyakan ke museum nih kata saya. Abi situ teman saya
langsung menimpali. “Heleh, museum mah baru dua kali. Lu mah abis duit gara
souvenir” 😂. Ya tidak apa-apa, bagi saya, lebih baik duit
abis untuk beli souvenir daripada makan atau lainnya. Karena souvenir selalu
bisa jadi kenangan. Makanya, setelah ini mungkin saya akan lebih hemat karena
masih dua hari lagi saya disini.
Kami kemudian berfoto di depan ‘jam gadang’ sebagaimana orang-orang. Dan juga di pagar-pagar batu berlatar belakang sungai danube. Oh ya, di pagar besi disamping ‘jam gadang’, ada banyak sekali gembok-gembok yang bertuliskan nama orang. Atau pun nama dia dan pasangannya, dengan tanda love di tengahnya. Halah halah, no comment lah saya 😂. Kemudian kami berkeliling sekali dari ujung ke ujung tempat ini. Menikmati pemandangan sore Novi Sad dari ketinggian. Ya, walaupun gak tinggi-tinggi amat, tapi cukup ciamik sih.
Masih jam 3 sore nih,
kemana lagi ya enaknya. Kami memang menjadwalkan untuk pulang ke Belgrade lagi
itu menjelang maghrib. Jadi, setidaknya satu lagi lah tempat destinasi akan
kami kunjungi. Saya kemudian searching di Google, ‘Most Visited Places
in Novi Sad’. Dan secara random saya pilih tempat bernama ‘Dunavska Street’
yang jaraknya hanya sekitar 1 km-an saja dari jarak kami sekarang atau sekitar
4 pemberhentian jika pergi pakai bus (tentu saja kami pakai bus). Saya pilih
karena kalau dilihat di Google, tempat ini cukup estetik.
Dan, ketika kami kesana, ternyata tempatnya indah sekali, masyaAllah. Kami disuguhkan pemandangan yang sejuk kali dipandang mata. Jadi ada seperti square gitu, disebelah kanan ada gereja besar yang cantik banget arsitekturnya, ada patung ditengahnya, dan di kiri ada semacam gedung yang mungkin termasuk gedung pemerintahan sepertinya. Di tengahnya, banyak burung dara dan anak kecil yang bermain, juga banyak pasangan dan keluarga yang datang kesini. Tempat ini sabi parah untuk foto dan video estetik. Di tempat ini pula mungkin bisa dibilang, puncak dari liburan kami di Serbia. Teman-teman kalau ke Serbia, wajib datang kesini. Gak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata saking keren dan estetiknya tempat ini. Jalan ke kanan dikit, ada restoran di kanan dan kiri jalan. Orang-orang makan dan minum di outdoor, di depan restoran sambil menikmati suasana estetika tempat ini. Saya baru benar-benar menyadari, kenapa tempat ini sangat-sangat disarankan oleh teman saya untuk dikunjungi. Puas sekali kami jalan-jalan di kota ini. Padahal cuman ke dua tempat doang, tapi sudah merasa satisfied banget.
Ok, sekarang sudah
jam setengah 5 lebih. Problemnya, di kota ini kayaknya gak ada masjid. Kalaupun
ada, kemungkinan jauh dari sini. Kami belum sholat. Maghrib di Novi sad lebih
awal. Jam 17.11 kalau tidak salah. Sekitar jam segitu lah. Awalnya kami berniat
untuk sholat di kursi di pinggir jalan, tapi karena bis yang kami tunggu sudah
datang, kami akhirnya sholat jama’ dzuhur ashar di dalam bis. Yups, bis yang
menuju ke Novi Sad Railway Station. Kami sudahi perjalanan kami di kota Novi
Sad, maghrib ini. Kali ini kami naik kereta biasa, bukan kereta cepat seperti
ketika kami berangkat. Kereta kali ini open ticket, jadi cepat-cepatan dapat
tempat duduk, dan bebas dimana saja. Kebanyakan di Eropa memang seperti itu
ternyata. Perjalanan kali ini memakan waktu sejam. Tiketnya sedikit lebih
murah, 500 dinar per orang. Beda sedikit sih harganya, tapi pelayanan dan
pengalamannya sangat berbeda antara yang biasa dan yang first class. Walaupun
yang first class pun gak spesial-spesial amat sih.
Jam 8 malam, ketika
kami sampai di Belgrade, kami bergegas kembali ke apartemen Cina untuk
mengambil barang-barang kami. Dengan cepat kami bereskan semua barang dan
setelah mengecek, kami pastikan tidak ada barang tertinggal, kami pamitan
dengan Layne, sang ‘Host’. Sebelum itu, dia pinta saya untuk buka aplikasi
AirBnb untuk kasih rating. Awalnya tangan saya mau kasih ke arah bintang 3,
tapi langsung dicegah sama dia biar dikasih bintang lima. Ya, biar cepet lah,
ratingnya semua nya saya kasih bintang lima. Jujur, sebenarnya agak kurang
ikhlas saya kasih bintang 5. Paling banyak tuh bintang 3. Terlebih karena
temannya yang tidur di tempat kami tuh, walaupun dia diam doang diatas Kasur,
tapi kehadirannya sangat annoying bagi kami. Jika kalian, berada di posisi
kami, pastilah akan merasakan hal yang sama. Tapi ya, ambil positifnya saja,
mungkin ini merupakan salah satu sumber pemasukan mereka. Mereka orang Cina,
ramai-ramai tinggal di apartemen kecil ini. Kalau tidak ada yang menyewa apart
ini, mungkin mereka bakal kesusahan secara ekonomi. Ya, itung-itung sumbangan
untuk mereka lah.
Singkat cerita, kami
langsung saja bergegas ke apartemen kami yang baru, tempat menginap kami 2 hari
kedepan. Nama apartemen nya, Panorama Danube. Bisa diingat nih namanya, karena
apartemen ini keren banget. Fasilitas lengkap, bagaikan fasilitas hotel. Hanya
beda beberapa ratus ribu aja dari apartemen Cina, tapi fasilitas dan ya
semuanya lah, beda jauh! Gokil parah. Semua perabotan lengkap. Bahkan
disediakan kopi dan mesin nya juga, yang kapsul starbuck itu. Di meja tengah
juga disediakan coklat yang enak. Ada minyak, dan macaroni juga. Mesin
pemanggang roti juga ada. Oven pun ada. “Ah, ngapa gak dari kemarin kita
kesini!”, semua dari kami bilang kayak gitu, hahaha🤣. Tapi
ada hikmahnya sih, ambil positifnya aja. Kalau dari awal kita udah disini, kita
gak bakal jalan-jalan sesering ketika di apart Cina. Kalau disana kan gak
nyaman, jadi dipakai cuman buat tidur doang. Tapi sama pusat kota, letaknya
lebih dekat. Jadi nya rasa mager bakalan hilang. Kalau disini, udah tuh, pasti
mager keluar. Terlalu comfy di apartemen ini. Kalau yang kayak gini mah,
jangankan bintang lima, bintang tujuh pun ikhlas saya kasih. AC, pemanas,
tinggal pilih aja mana yang mau dihidupkan. Disamping itu juga ada balkon
dengan suguhan pemandangan sungai danube yang buat makin cakep👍. Kami
malam ini, masak makanan yang banyak. Banyak sekali makanan yang kami beli.
Dari beras, roti, indomie goreng (enak nih rasanya, dijualnya per lima bungkus
dengan harga 50 ribuan), telur, minuman, kentang, sayuran, dan lain-lain.
Itupun per orang, hanya sokongan kisaran 70 ribuan aja. Udah belanja
gede-gedean padahal loh. Setelah makan, gak banyak yang kami lakukan. Saya
sendiri juga, langsung berbaring diatas Kasur, denger youtube, lalu tidur. Kami
esok hari gak ada rencana jalan-jalan banyak. Secara garis besar, planning kami
esok hari hanyalah pergi ke Turkiye Konsosluk, lalu setelahnya ke benteng
Belgrade. Abis itu langsung balik lagi ke apartemen. Pengen lama-lama dulu
disini. Gak mau rugi, pengen ngerasain nyamannya lebih lama. Soalnya hanya 2
malam. Lusa udah jadwal check-out abis itu pulang.
Senin siang, sesuai
jadwal, hari ini kami berencana untuk pergi ke konsosluk-nya Turki di belgrad.
Kami ingin menanyakan perihal izin tinggal kami di Turki. Soalnya, kemarin kan
kami diperintahkan dalam waktu 10 hari harus keluar dari Turki. Nah, sekarang
kami sudah keluar nih, tanggal 21 besok kami ingin pulang lagi ke Turki. Staff
disana menjawab, kalau ada dua kemungkinan. Yang pertama, biasanya orang yang
kena penalty keluar dari Turki itu baru bisa masuk ke Turki lagi setelah 90
hari. Jadi stay dimana dulu gitu atau balik ke Indonesia selama 3 bulan. Atau
yang kedua, jikalau petugas imigrasinya baik, dengan syarat bisa menunjukkan
kalau kami adalah mahasiswa, biasanya akan diberi waktu selama 10 hari untuk
mendaftarkan izin ikamet. Ya, walaupun jawabannya agak mengkhawatirkan,
setidaknya opsi kedua itu bisa jadi jawaban ketika ditanya kenapa balik lagi ke
Turki.
Sekeluarnya dari
gedung itu, tampaknya muka mereka pada lesu. Lalu saya bilang, “Kan kita udah
persiapkan diri, apapun jawabannya, udah siap kan?”. Lagipula, masih ada
jawaban yang menenangkan, yaitu opsi kedua. Ya, ambil saja opsi kedua. Sing
tenang maszeh, kadang kita gak boleh terlalu khawatir tentang apa yang belum
terjadi.
Masih jam 3 sore, saya tidak ingin terlalu cepat pulang. Minimal satu destinasi lagi lah. Destinasi yang saya pilih waktu itu adalah benteng Belgrade. Tidak jauh dari pusat kota, kalian bisa datangi benteng ini, dengan naik bis nomor EKO2 yang berwarna hijau. Lalu jalan sedikit sekitar 5-10 menitan, lalu kalian sudah sampai di bentengnya. Bentuk tempat ini sebagaimana benteng pada umumnya. Tidak terlalu spesial menurut saya, tapi cukup bagus lah untuk bersantai, nyore bareng temen-temen disini. Di tempat ini juga, kami banyak mengabadikan momen bareng, foto, bikin konten, minjem gitar pengamen, lalu kami nyanyi lagu ‘Kabar kepada kawan’, covernya Felix Irwan. Jadi kami pinjam gitar nya untuk kami nyanyi satu lagu, lalu kami bayar pengamennya. Awalnya dia bingung karena gak bisa bahasa inggris. “Who song? I song”, dia bilang kayak gitu 😂. “No, no. he song”, jawab saya🤣. “We will sing one song, after that we will give you money, ok?”, jelas saya. Barulah dia, setelah memahami maksud kami, ia berikan gitarnya ke Hilman. Lalu kami mulai bernyanyi, si bapak pengamen, menonton kami dari depan. Wkwkwk. Semoga enjoy lah ya bapak! Duit yang kami kasih juga mungkin gak seberapa, tapi semoga bisa bikin anda senang. Kami juga senang dong pastinya. Setelah cukup puas, kami pulang ke apartemen. Eh di jalan malah melihat KFC, ya udah minggir dulu, beli dulu 2 ember. Tapi embernya tuh kecil banget. Seember harganya 500-an dinar, dapat beberapa potong ayam. Kami beli yang hot wings dan mix, ditambah kentang goreng.
Di apartemen, kami
masak nasi dan mie, lalu dicampur dengan ayam KFC yang tadi kami beli. Gak
kerasa, besok sudah mau pulang aja. Supaya malam ini terasa agak panjang, kami
main PES lagi di laptop. Dan lucunya, kami main pake mode silent. Jadi berusaha
untuk diam. Kalaupun gol, gak sombong, gak koar-koar, soalnya biasanya karma,
abis itu kalah. Alhasil, saya kalah di adu penalty karena tadi sempat ‘ngucap’,
karena Firmino udah didepan gawang malah gak masuk. Selesai match, ketawa yang
dari tadi di tahan, petjah🤣🤣. Simpel sekali untuk buat kami tertawa emang.
Udah silent sepanjang match, eh kalah pula, apa gak kesel😂. Tapi,
di match-match selanjutnya saya menang terus karena udah ketemu counter
formasinya si Hilman. Ya, pake formasi dia juga, tapi yang mode defense.
Formasi yang dia pakai, mode attack. Ketika saya pakai yang mode defense,
menang terus saya, gak pernah tembus pertahanannya😂.Gak
kerasa, kami main udah jam 1 aja. Waktunya tidur. Besok kami check out dari
apart ini jam 11 pagi. Abis itu santai di kota sampai jam 2/3 siang, kemudian
berangkat ke bandara.
Pagi-pagi jam 9, saya sudah mandi, dan beres-beres barang, supaya tidak ada yang tertinggal. Cucian yang kami cuci kemaren juga sudah kering, jangan lupa diangkat. Setelah sarapan, barulah nyantai sambil ngemil roti tawar isi selai yang ditemani kopi susu. Ah, rasanya mager banget sebenarnya untuk keluar. Jam 11 kurang 10 menit kira-kira, kami ambil posisi foto terakhir di apartemen ini. Dengan gaya sigma-sigma gitu. Entah termasuk service atau gak ya, apart ini juga menyediakan 2 atau 3 botol whisky kalau gak salah. Untungnya ya, kami gak ada yang tukang mabok, apalagi saya. Ngerokok aja nggak, apalagi mabok. Useless dan dilarang agama juga. Botol itu cuman kami pakai sebagai hiasan aja buat foto ala-ala gitu🤣. Bisa kalian liat dibawah.
Masih jam 12, karena
bingung mau kemana lagi, ya udah ke starbuck aja. Seperti biasa, saya gak
mesen, saya lebih ingin beli bürek lagi di PEKARA terdekat.
Begitupun dengan reja. Kami pergi ke money changer dulu untuk menukar lira
Turki ke Dinar Serbia, selain untuk beli makanan, tapi juga untuk
kenang-kenangan. Lumayan, 100 lira sudah bisa ditukar dengan 500 dinar kurang
lebih. Setelah menukar uang, kami kembali dulu ke Starbuck lagi untuk naruh
barang, baru ke PEKARA. Ketika kami jalan ke Starbuck dari samping, kami
bertemu dengan sepasang ibu-bapak suami istri. Dia mengenali kami sebagai orang
Indonesia karena si Reja pakai celana batik. Langsung kami saling sapa dan
mulai mengobrol. “Kalian dari mana? Berapa orang kesini?”, tanya ibu itu.
Tampaknya dia sumringah bisa ketemu kami, sesama orang Indonesia di negara yang
orang Indonesianya sedikit sekali ini. “Kami duduk di depan pintu situ bu,
berlima kami datang kesini dari Turki”, saya jawab. Ibu itu langsung minta
untuk duduk bareng saja ke depan. Dan, kami pun mengobrol banyak siang itu,
ber-7.
Sepasang
suami istri ini ternyata adalah world traveler dari Solo. Mereka sudah
berkunjung ke lebih dari 45 negara. Dan banyak negara yang sudah dikunjungi
beberapa kali, seperti Jepang dan USA. Mereka bercerita banyak tentang negara
yang mereka kunjungi. Untuk Eropa trip ini, mereka bilang, salah satu kota yang
cantik banget itu Praha, Republik Ceko. Itu cakep banget. Budapest-nya Hungaria
juga cakep. Bisa nih, minta arahan ke beliau dulu kalau nanti saya keliling
Eropa. Rencananya memang saya akan keliling Eropa nanti waktu Exchange program,
1 atau 2 tahun lagi. Pokoknya ketika punya Visa Schengen, itulah kesempatan
untuk keliling Eropa. Karena negara eropa itu kebanyakan ukurannya kecil, dan
transportasinya bisa pakai kereta semua. Tiketnya juga gak mahal, biasanya
antara 100-150 ribu untuk sekali perjalanan naik kereta itu. Wah, salut saya
sama pengalaman mereka keliling negara ini. Mereka sudah mulai keliling negara
sejak tahun 2010, dan Serbia adalah negara ke-45 mereka. Sebenarnya, kalau
tidak ada pandemi Covid-19 kemarin, negara yang mereka kunjungi harusnya lebih
dari ini. Tempat cantik nan terkenal seperti Maldives merupakan salah satu
contoh tiket pesawat yang kena refund karena Covid-19. Akhirnya sampai sekarang
belum kesampean. Silahkan sebut satu negara, kemungkinan mereka sudah kesana.
Brazil, Argentina? sudah. Rusia, China, Jepang? sudah. India? nah ini. Kami
penasaran, bertanya ke mereka tentang kehidupan dan jajanan disana. Kan India
itu terkenal dengan food street nya yang jorok. Apakah bener sejorok
itu, tanya kami. Lalu, mereka jawab tanpa ragu, “Iya!”. India memang sejorok
itu. Sampah dimana-mana. Bahkan untuk bandara yang harusnya representasi sebuah
negara pun, banyak sampahnya. Di lampu merah ada orang gantung jemuran dan
jemur Kasur. Wkwkwk, gak kebayang. Mereka bilang, “kita salah tujuan negara”😅. Taj mahal itu indah, cukup indah, tapi ukurannya
kecil, kata mereka. Mendengar fakta ini dari mereka, fix India gak masuk
wishlist negara kami. Budapest, Praha, Amsterdam juga yang katanya bagus, bisa
masuk wishlist kami. “Kalo mau bagus tuh, negara disampingnya. Nepal itu bagus,
cantik, indah”, kata ibu Prins, namanya. Gak lupa, wisata dalam negeri juga
mereka kebanyakan sudah, terutama yang terkenal, semacam Nusa Dua, NTT yang
indah banget. Jadi pengen ya! Untuk keluar negeri, saya sebenarnya pengen ke
Madrid, pengen nonton di Santiago Bernabeu. Soalnya, si bapak itu fans berat
MU. Manchunian dia ternyata, sama seperti Hilman. Dia pernah menonton di Old
Trafford, Allianz Arena-nya Bayern Munich, dan stadionnya PSG. Wah, gila sih!
“Yuk kita makan siang,
yuk! Biar nanti saya aja yang bayarin”, kata Ibu Prins. Tentu saja kami mau,
hihihi. Di Serbia ini yang ada sertifikat halalnya itu, KFC. Yang lain belum
pasti. Jadilah, kami berangkat ke KFC, Karena memang dasarnya juga, KFC itu ayamnya
cocok untuk semua lidah. Jadwal pesawat juga jam 7 malam, insyaAllah kekejar,
masih lama juga. Sekarang masih jam 2 siang. Siang itu kita pesan menu di KFC
banyak banget. Awalnya memang kita gak enakan gitu, tapi memang kita disuruh
pesan banyak. “Kalian kan laki-laki, makannya banyak. Pesan lah yang banyak,
gak usah malu-malu gitu”, katanya. Awalnya, hanya pesan 3 Paket ember Hot wings
itu yang seperti tadi malam. Tapi karena, “Eh, kecil banget ya ternyata
embernya, udah pesen lagi aja yang gede”, kata beliau, wkwkwk. Itu sebenarnya
udah cukup banyak sih. Tapi ya, dengan dipesannya lagi yang gede, makin
sumringah senyuman kami. Di akhir juga ibu itu bungkuskan kami burger isi
daging ayam dan keju, masing-masing satu. Untuk kami makan di bandara, kata beliau.
Wah ketika cuci tangan di toilet bawah, kami semua pasang muka full senyum yang
dari tadi berusaha kami tahan. “Full senyum maszeh. Pertama kalinya mukbang di
KFC cuy!🤣”. Ya iyalah, biasanya mah, nahan-nahan
buat hemat kalau mau makan di tempat ini. Tapi kali ini, atas izin Allah, kami
dipertemukan dengan beliau berdua. Karena ini juga, saya dan Reja gak jadi ke PEKARA,
mungkin Allah menyuruh kita untuk makan di KFC yang udah pasti halalnya. Bisa
jadi.
Sebelum berpamitan, kami
berterima kasih banyak dan mendoakan mereka berdua juga untuk selalu lancar
rezeki. Obrolan diatas itu hanya versi singkatnya saja dari obrolan kami.
Sebenarnya ilmu dan informasi nya banyak sekali. Tentang TKI yang kerja di
Poland yang dulunya ditemui di Singapura, dengan duit pas-pasan berangkat kerja
ke Eropa, sekarang sudah punya 2 mobil. Atau tentang orang-orang yang ‘buang
paspor’ di Amerika Serikat. Banyak sekali pokoknya. Untungnya, tadi kami di
Starbuck sudah mutualan IG, sekalian foto bareng juga. Keren sih mereka, mungkin
mereka ini orang terkaya yang pernah duduk semeja dan mengobrol bareng saya.
Bener-bener udah financial freedom. Ya, pastinya semua hasil kerja keras. Gak
mungkin hidupnya lancar-lancar aja dari awal, pasti udah banyak ujian yang
dilalui. Live is never flat, bro!. Beliau juga menawarkan kami untuk
mampir ke rumahnya di Solo waktu sudah di Indonesia. “InsyaAllah”, jawab kami.
Musim panas ini, mereka bilang akan mengunjungi negara ke-46 dan 47. Afrika
Selatan dan Brunei Darussalam. Wah, definisi world traveler yang sebenarnya.
Kira-kira jam 3.30 sore,
kami berangkat ke bandara naik bis. Ada kisah lucu disini, kami ke Bandara naik
bis nomor 71, setelah beberapa pemberhentian, sesuai arahan Google, kami turun
dan berjalan ke arah dalam tanda kutip, ‘Airport City Belgrade’. Benar, ada
plang petunjuk masuk kedalam untuk pergi ke ‘Airport City Belgrade’. Tapi kok
aneh ya, pertama, kayaknya jarak dari kota ke bandara gak sedekat ini. Kedua,
kok bandara ini gak ada lahan kosong. Bandara mana yang gak ada lahan parkir
pesawatnya coba?😅 Ternyata, setelah kami tanya orang
sekitar, kami salah tujuan. Memang iya, ini tuh bandara, tapi sudah tidak
beroperasi lagi sejak 1962. Kini, tempat ini berfunsi sebagai business park dan
commercial neighborhood. Tapi namanya tetap sama, gak berubah; ‘Airport
City Belgrade’.
“Who told you the
airport is here? Whom did you asked to?”
“Google told us😅”
“Awsh*t, F**k Google.
No, Here is not the airport which you want to go to. The airport is about 10 KM
from here. You can go by bus number 72. İt goes straight to the Airport. When
is your flight?”
“7 PM”
“Aaa, you still have
time”
“Thanks for the
information, sir”
Begitulah kira-kira percakapan kami dengan dua orang bapak-bapak yang kami temui. Memang benar sih, dari awal juga sebenarnya kami kurang yakin. Kami dari bandara ke kota kemarin kan naik bus nomor 72. Harusnya ke arah sebaliknya pun pakai bus dengan nomor 72 juga, Bukan 71. Tapi Alhamdulillahnya, di pinggir jalan tampat kami turun dari bus sebelumnya, merupakan jalur untuk bus nomor 72 juga. Setelah menunggu beberapa menit, bus kami datang. Barulah ini yang benar. Karena perjalanannya cukup lama. Belasan pemberhentian kami lewati. Jam 5 sore kami baru sampai. Setelah kami check-in kedalam. Kami segera berwudu dan sholat di kursi ruang tunggu, karena sepertinya tidak ada masjid atau mushola disini. Sambil menunggu, kami makan chicken sisa tadi siang. Tuh, saking banyaknya pun belum abis chicken kami😅. Jam 7 pas, pesawat kami berangkat. Kami naik pesawat yang sama, Anadolu Jet. Tapi sekarang, penumpang nya jauh lebih sedikit dari saat kami berangkat. Sangat banyak seat yang kosong di depan maupun belakang kami. Dari langit kami ucapkan, “Good bye, Serbia! Thank you for the moments.”
Jam 11 malam, kami
sampai di bandara Esenboğa, Ankara. Kami ditahan beberapa lama di
imigrasi. Tebakan kami benar, kami ditanya kenapa kesini, sedangkan visa sudah
abis dan belum ada kartu izin tinggal. Kami jawab pakai jawaban kedua dari
Turkiye Konsosluk kemarin. Dalam waktu 10 hari, kami akan meng-apply izin
tinggal kembali. Barulah setelah mendengar jawaban itu, kami diberi surat dan
diperbolehkan untuk lewat. Karena bus Belko air sudah tidak beroperasi saat
ini, mau gak mau kami naik taksi ke otogar. Kami berlima langsung naik
di satu taksi yang sama. Awalnya supir taksi menolak, katanya maksimal
penumpang 4 orang. Tapi setelah saya bilang, nanti akan kami tambah bayarannya,
barulah dia mau. Sesampainya di otogar, tanpa lama menunggu, kami
langsung pesan tiket ke Eskisehir jam 01.30 AM. Sambil menunggu bus datang,
kami memakan burger yang sudah dibelikan di KFC tadi. Dan rasanya, enak banget
guys😂👍. Mungkin karena saya jarang atau mungkin
gak pernah beli burger mahal kali ya.
Jam 1.30 dini hari, bus
kami berangkat. Perjalanan kira-kira menghabiskan waktu 3 jam 30 menit.
Sialnya, duduk di bus dalam kondisi capek dan sudah malam ini juga, saya gak
bisa tidur. Karena tangisan bayi yang gak berhenti-berhenti. Ya Allah, pengen
tidur😭. Mau kesel tapi ya gimana, masih bayi🤣.
Singkat cerita, kami
sampai di terminal Eskisehir jam 5 pagi, belum subuh, karena subuh jam 6.
Sangat tepat waktu sekali. Kenapa tepat waktu banget sih, ucap kami. Karena
masih jam 5, tramvay belum beroperasi. Masa harus naik taksi lagi sih? Mau gak
mau nunggu dulu sampai tramvay nya datang. Alhamdulillah tanpa menunggu lama,
jam 5.30 pagi, sudah ada tramvay yang jalan. Saya langsung pulang kerumah. Pagi
itu, setelah solat subuh dan menaruh barang-barang, saya langsung terkapar
diatas kasur.
Fiuh, perjalanan saya ke
Serbia cukup disini, guys! Menarik gak menurut kalian? Bagi saya pribadi,
walaupun liburan ini tanpa ada rencana yang matang, bahkan terkesan mendadak.
Pesan tiket pun h-1 keberangkatan. Tapi, anyway, jalan-jalan kali ini cukup
berkesan. Kami sendiri memaknai perjalanan kami ke Serbia ini sebagai kunci
awal untuk menjelajahi negara lainnya, khususnya Eropa. In case, kalau
kita gak memasukkan Turki sebagai Eropa ya. Karena Turki masih setengah Asia,
setengah Eropa. Ada di tengah-tengahnya. Sedangkan Serbia ini sudah sepenuhnya
masuk kedalam benua Eropa. Baik wilayah maupun kulturnya. Ditambah ketemu sama
pasangan World Traveler kemarin, hasrat menjelajahi dunia sangat bertambah.
Dalam salah satu ayat
Al-Qur’an juga, dalam surah Al-Mulk ayat ke-15, berbunyi,
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ
مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah
dijelajahi, maka
jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.
Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. “
Jadi gimana teman-teman?
Makasih sudah baca cerita ini sampai habis ya. Semoga bermanfaat dan sampai
jumpa di cerita berikutnya😁✌️.




.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar