Kupas tuntas 4 hari jalan-jalan di Serbia. Ada apa aja ya?

Foto di depan gedung parlemen di kota Belgrade


Serbia, 17 Februari 2023

              Hari ini beserta 4 hari kedepan kami harus happy, karena kami akan jalan-jalan ke Serbia🥳! Perjalanan sekarang ini adalah rentetan dari kejadian kurang mengenakkan yang kami alami di Turki beberapa minggu ini. Nama teman-teman saya dihapus dari status kemahasiswaan di kampus. Yang buntutnya, application izin tinggal mereka ditolak. Karena ditolak dan masa visa sudah habis, kami terpaksa keluar dari Turki. Konsekuensi harus keluar dari Turki ini memang biasanya dirasakan beberapa mahasiswa yang bermasalah dengan izin tinggalnya, keadaan semacam ini biasa kami sebut dengan , “Giriş-Çıkış” atau artinya kalau di Bahasa Indonesia “Masuk-Keluar”. Karena kejadian yang sangat tidak mengenakkan yang terjadi pada teman-teman saya akhir-akhir ini, saya tuh sampai ke tahap benci. Benci kuliah disini. Merasa gak worthed kuliah disini itu. Sistemnya yang ribet, bahasanya susah, ditambah pengalaman-pengalaman gak mengenakkan seperti ini bikin saya gak suka, bahkan benci sama negeri tempat saya berkuliah saat ini. Ya, saya berharap seiring berjalannya waktu, rasa benci ini bisa berubah lagi jadi cinta kembali seperti di masa-masa awal saya tiba disini. Saya tidak akan banyak menulis tentang itu di tulisan ini. Melainkan saya akan coba tulis di tulisan berikutnya, yang akan menyusul di waktu lain, tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini pada teman-teman terdekat saya. Dan kenapa saya bisa sampai punya rasa kayak gitu. So stay tuned!

              Singkat cerita, teman-teman saya dapat keputusan untuk harus keluar dari Turki dalam waktu 10 hari, dihitung dari keputusan keluar tanggal 9 Februari sore. Awalnya kami berencana untuk keluar ke Georgia, negara yang bagian selatannya berbatasan dengan Turki. Melihat memang ongkosnya yang paling murah dibanding pergi ke negara lainnya. Dan tempat destinasi yang ingin kami kunjungi juga, yaitu Kota Batumi, terletak di tepi pantai sehingga cocok sekali jadi destinasi liburan. Sebagai informasi, dulunya Batumi merupakan bagian dari Turki, ia merupakan salah satu dari 3 wilayah yang biasa disebut sebagai “üç livayaitu kota Kars, Ardahan dan Batumi. Istilah ini mulai dipergunakan sejak tahun 1878, dimana 3 wilayah ini sangat berusaha dipertahankan untuk tetap menjadi bagian dari Turki. Tapi semenjak tahun 1921, melalui perjanjian Kars Antlaşması, diputuskan kota Kars dan Ardahan menjadi bagian dari Turki, sedangkan Batumi menjadi bagian dari Georgia.

              Perjalanan ke kota Batumi, Georgia memakan waktu kurang sekitar 17 jam naik bis dari Ankara, biayanya pun relative masih terjangkau, untuk PP kira-kira maksimal 1300 tl, atau sekitar 1,1 juta rupiah. Visa nya pun relative murah. Untuk visa turis, mereka mematok harga 20 USD, atau sekitar 300 ribuan aja untuk izin stay sepanjang 30-120 hari. Nah, ketika semua sudah pas, baik dari jadwal maupun harga, masalah terjadi di pengajuan visa. Pembuatan visa memakan waktu kurang lebih seminggu. Jadi, kami baru bisa masuk ke Gergia paling cepat tanggal 21 Februari, sedangkan kami harus sudah keluar dari Turki tanggal 19 Februari. Akhirnya kami putuskan untuk mengubah rute, mau gak mau ke negara lain, yang biasanya dikunjungi orang yang kena “Giriş-Çıkış” ini, yaitu Serbia. Serbia dipilih karena negara ini free visa untuk Indonesia. Pemberian free visa bagi turis ini, karena Indonesia tidak mengakui kemerdekaan Kosovo. Tiket ke Serbia mencapai 4,2 juta untuk PP. Kami dapat harga segitu karena baru memesan tiket, satu hari sebelum keberangkatan. Kalau pesan dari jauh-jauh hari, bisa dapat harga yang jauh lebih murah. Kami juga sebenarnya sebelumnya melihat ada seat kosong untuk harga 3,4 juta, tapi eh kok malah waktu pembayaran malah gak bisa. Tidak tersedia. Dan ini terjadi berulang kali di berbagai website yang saya buka. Wah, saya pening banget dah waktu itu, udah H-1, masih belum terpesan juga tiketnya. Akhirnya, tanggal 16 Februari malam, saya berhasil beli juga, itu pun kisaran jam 10 malam. Alhamdulillah, at least saya bisa tenang sedikit. Masalah booking penginapan dan lain-lain itu bisa menyusul nantinya. Yang terpenting tuh tiket pesawat dulu. Kami berangkat ke Serbia tanggal 17 Februari jam 6 sore, dan pulang kembali ke Turki 4 hari kemudian, tanggal 21 Februari jam 7 malam. Jadi kami bakalan disana untuk 4 hari 4 malam. Eh, iya gak sih🧐? Malam ini akhirnya capek saya sedikit terbayar, bisa tidur dengan sumringah. Fix nih, kami ke Serbia!

              Oh ya, saya kenapa mau bela-belain untuk berangkat ke Serbia menemani mereka, padahal saya sendiri gak ada masalah apapun, itu karena saya merupakan penanggung jawab mereka yang ditunjuk oleh agen. Mereka datang kesini itu dengan agensi, dan saya sebagai penanggung jawab mereka di Eskisehir. Istilahnya sih, mentor. Walaupun kesalahan gak di saya yang menyebabkan mereka menimpa kejadian ini, -akan saya ceritakan di lain waktu penyebabnya- tapi saya sebagai penanggung jawab gak akan ninggalin mereka. Mereka yang sudah jadi teman dekat saya disini, bakalan saya bantu sebisa mungkin. Mungkin setelah dipikir, effort saya untuk mengurus problem ini benar-benar mengorbankan waktu saya banget. Dengan uang yang saya terima tidak begitu sebanding, mungkin. Untungnya, untuk perjalanan ke Serbia ini, saya dibayarkan untuk tiket PP nya. Sedangkan mereka pakai biaya sendiri. Untuk penginapan dan jajan, semua pakai uang saya sendiri. Ya walaupun begitu, saya berpikir gak mungkin saya serahkan job ini ke orang lain. Karena saya saat ini yang paling tau masalah mereka, dan paling kenal mereka dibanding penanggung jawab lainnya. Akhirnya ya, saya sanggupin. Ya, kapan lagi juga ke Serbia. Sebenarnya, negara ini gak masuk wishlist negara yang akan saya kunjungi. Makanya bisa jadi ini yang pertama dan terakhir. Saya pun gak tau disana ada apa. Untungnya, minggu sebelumnya, ada teman saya yang pergi kesana untuk jalan-jalan. Jadi bisa tanya-tanya ke dia tentang destinasi yang bisa dikunjungi, transportasi, makanan-makanannya seperti apa. Sekalian saya pinjam kartu bis, dan kartu internet Serbia yang dia beli minggu lalu. Saya juga gak lupa minta itinerary dia, planning jalan-jalan kemana aja waktu kesana. Yah, saya bilang ke mereka, walaupun ke Serbia ini diluar rencana dan aslinya merupakan “hukuman” dalam tanda kutip, tetap saja, jangan sampai 4 juta PP yang dikeluarkan itu sia-sia dan kita gak kemana-kemana. Coba bikin uang yang dikeluarkan itu jadi worthed it dengan destinasi-destinasi keren yang mungkin bisa dikunjungi nanti.

              Tanggal 17 Februari pagi, mereka pergi ke Hoca TOMER untuk minta izin gak masuk kelas untuk 4 hari kedepan. Mereka harus minta izin karena memang kalau sekali lagi mereka absen dari kelas, mereka bakal mengulang lagi untuk level A2 mereka. Sedangkan saya yang memang masih libur kuliah, ya tidur hahaha. Ini lah yang bikin saya persiapan kurang matang, celana panjang ganti, saya gak bawa, alat mandi juga lupa. Saya fokus ke paspor sih, ini yang gak boleh ketinggalan. Setelah mereka sudah dapat izin, kami berangkat ke stasiun menuju Ankara. Untungnya masih ada banyak seat kosong untuk kereta cepat jam 12:30 siang. Jadinya kami bisa sampai di Ankara jam 2, sehingga masih banyak waktu tersisa sebelum keberangkatan kami. Saya sebelumnya cukup khawatir tentang ini sih memang, karena saya belum pernah ke Bandara Ankara. Jadi, ada rasa takut ketinggalan pesawat, apalagi ini penerbangan internasional. Disamping mereka juga harus ke imigrasi dulu untuk proses, ada hukuman dendanya ataupun tidak. Mungkin agak lama ya kan, tapi Alhamdulillah, proses nya cepet, dan mereka tidak kena denda karena bisa keluar dari Turki sebelum tanggal 19 Februari. Alhamdullah sejauh ini lancar, reservasi penginapan untuk 2 hari juga sudah kami booking. Kami hanya ambil 2 hari untuk melihat dulu, apa penginapannya worthed atau nggak, kalau iya, kami lanjut, kalau tidak, kami bakalan pindah. Itulah yang kami bilang ke petugas imigrasi ketika ditanya kenapa reservasinya hanya 2 malam, padahal kami bakal stay sampai 4 hari kedepan. Oh ya, FYI untuk teman-teman yang ingin ke bandara Ankara, bisa pergi naik bis Havaş atau Belko air dari banyak tempat; Kızılay, AŞTİ Otogar, YHT Gar maupun dari beberapa tempat lainnya. Bisa dicek rutenya di website Belko air di Google. Kami sendiri kemarin pake taksi sih, wkwkwk. Karena nunggu bis lama, dan pake taksi juga 300tl sampai bandara, dibagi 5 orang jadinya patungan 60 tl. Gak jauh-jauh kalau kita pake bis soalnya. Melihat jam juga untuk menunjukkan pukul 14.30. Nisbatan-nisbatan, ahsan-ahsan😂.  

              Sesudah check-in dan mengurus administrasi di imigrasi, kami menunggu di ruang tunggu sambil main PES di laptop. Tapi sayangnya, baterai habis sebelum kelar match nya. Oh ya, kami ke Serbia ini berlima. Saya, dan 4 orang maba yang saya urus, Hilman, Rama, Lutfi, dan Zulfi. Mereka udah saya anggap teman dekat.Di bandara ini,  Hilman dan Rama beli rokok Marlboro double click di duty free. Satu slop, 38 euro. Gak tau saya itu worthed atau gak ya. Karena katanya Marlboro yang ini cuman ada di beberapa tempat doang. Agak susah ditemuin.

              Jam 18:30 pesawat kami berangkat. Agak delay selama 20 menit. We feel excited! Seperti apa ya, Serbia itu? Gimana ya kotanya? Bismillah, semoga memenuhi ekspektasi kami. Perjalanan kali ini memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sebelum naik pesawat perut saya udah benar-benar keroncongan. Untungnya di pesawat dapat konsumsi sandwich kalkun. Lumayan lah ya. Kami naik pesawat Anadolu Jet, Turkish Airlines. Ibaratnya, Citilink nya Garuda gitu. Yang versi kecilnya. Sekitar jam 7 malam kami tiba di bandara Belgrade, Serbia. Disana kami sempat di imigrasi untuk ditanya-tanya sekitar 15 menit. Kami sampaikan kalau kami turis untuk 4 hari. Mungkin mereka bingung kali ya, ke Serbia ada apa? Mungkin😅. Setelah dibolehkan keluar, pertama-tama kami ke mesin exchange dulu di Bandara. Sebelumnya tanggal 16 kemarin, kami sudah tukar dari Lira ke Euro supaya nanti ketika ditukar ke mata uang sana, charge nya gak terlalu besar, dan lebih gampang juga. Mata uang yang dipakai disana bernama Dinar Serbia, biasanya ditulis dengan RSD atau DIN kalau di market-market. Mahal gak ya harga makanan-makanan disana?

              Keluar dari bandara, banyak taksi yang langsung menawarkan kami tumpangan. Tapi, karena sebelum saya berangkat, saya sudah dikasih kartu bis oleh teman saya, ya walaupun kartunya cuman dua buah sedangkan kami berlima, kata teman saya gapapa. Gak perlu nge-tap, langsung duduk aja, gak akan ada yang peduli. Begitu juga yang dilakukan orang Serbia lokal, begitu masuk, mereka langsung duduk. Kata teman saya, kalaupun nanti diperiksa, ternyata gak ada kartu, disuruh turun doang. Ya udah lah, karena taksi pasti bakalan mahal, karena jaraknya jauh, kami naik bis saja. Kami juga sudah diberi tahu dengan pemilik apart kami menginap, untuk kesana, kami tinggal naik bis nomor 72, nanti turun di pusat kota, berjalan 400 meter, lalu sampai. Btw, kami pesan apartemen di aplikasi AirBnB, per malam berkisar 50 dolar USD. Satu kamar dengan 8 tempat tidur. Kami reservasi untuk 2 malam, karena kami ingin melihat dulu, kalau nanti sesuai harga, kami akan lanjut, tapi kalau tidak, kami akan pindah cari tempat lain.

              Singkat cerita, kami naik bis nomor 72. Masuk bis, kemudian langsung duduk sebagaimana orang lain. Perjalanan memakan waktu kisaran setengah jam. Di tengah jalan, ada pemeriksaan kartu, tapi gak ditanyakan semua. Saya yang megang kartu, bisa menunjukannya ke petugas. 2 teman saya yang ditanya dan tidak bisa tunjukkan kartu, diarahkan untuk membeli tiket ke supir. Setelah pengecekan, petugasnya langsung turun dari bis. Sontak saya bilang, “Gak usah, duduk aja udah, kan petugasnya udah turun😅”. Dan ya Alhamdulillah sampai akhir, tidak terjadi apapun. Oh ya, karena kami berada di kota Belgrade, sebagai ibu kota, tentu saja transportasi umum bisa diketahui di Google Maps. Jadi kemana-mana, harus naik apa, bisa liat pakai Google Maps. Simple, dan efektif. Kalau di turki, saya biasa pakai Google Maps untuk mengetahui transportasi apa yang harus dinaiki, ketika saya berada di Ankara dan Istanbul. Sedangkan di kebanyakan kota lain, biasanya kita pakai aplikasi Moovit.

Sesampainya di tujuan, kami ingin satu, beli kartu bis. Tentunya untuk kenang-kenangan dan koleksi aja. Untuk beli itu, sesuai arahan teman saya, pergi saja ke warung Moj Kiosk. Jujur, saya gak tau artinya, tapi hampir semua warung pinggir jalan, ada tulisan seperti itu. Di warung pertama, sayangnya dia tidak menjual kartu bis. Tapi saya senang, dia bisa bahasa Inggris, jadinya memudahkan kami untuk komunikasi. Di warung selanjutnya, yang jaga ibu-ibu, dia agak kesulitan bahasa Inggris, jadinya dia tunjukkin harganya pakai kalkulator. Ibunya asyik sih, kami bercanda pakai bahasa Serbia modal translate wkwk. Untuk beli kartu beserta isinya, kami bayar 500 Dinar atau kalau di kurs, kisaran 70 ribu rupiah saja. Saya bilang “saja”, karena ini harga yang relatif murah untuk Eropa. Dari sana, kami menuju ke apartemen kami. Jalan kesana sekitar 5 menit dari warung tadi, kami juga sekalian disuguhkan bangunan khas Eropa Timur. Bangunan yang kusam, banyak fandal, coretan-coretan pilok. Jangan-jangan benar ya, saya pernah dengar kalau Serbia gak lebih bagus dari Surabaya. Ya mungkin bisa jadi. Kalau lihat bangunannya yang tua ini. Karena kelihatan sekali seperti apartemen lama yang temboknya putih kusam, banyak coretan pilok, bahkan banyak yang sudah jamuran. Kesan pertama saya ke Serbia gak terlalu bagus lah.

Kartu tap bus Belgrade, Serbia

              Setelah cukup lama mencari apartemennya, akhirnya kami ketemu juga. Setelah kami kabari host nya bahwa kami sudah didepan apartemennya, akhirnya dia turun menyambut kami. Ternyata dia orang Cina. Berkomunikasi dengan saya, pakai Google Translate. Dia gak bisa bahasa Inggris, dan mungkin juga gak bisa Bahasa Serbia. Karena ketika saya coba tanya, “apakah ada orang lain di kamar ini yang menginap selain kami?” menggunakan google translate ke bahasa Serbia, dia hanya tersenyum aja. Kayaknya gak paham sih. Dia juga sepertinya mengira saya orang Turki karena selalu berkomunikasi ke saya pakai translate bahasa Turki.

Salah satu gedung di kota Belgrade

 Saat masuk ke apartemennya, sekitarannnya cukup gelap, liftnya kecil. Termasuk apartemen tua saya rasa, tampak dari luar gedung juga seperti itu. Masuk ke dalam apart, kami lepas sepatu lalu kami ganti dengan sendal. Kami masuk ke sebuah kamar yang ada 4 ranjang tingkat dengan space kosong yang sangat kecil. Tidak ada ruang tamu, keluar kamar langsung disambut dengan dapur kecil untuk memasak. Disampingnya ada kamar mandi dengan ukuran sedang. Ada 3 kamar di apart ini. Satu untuk kami, satu disewakan lagi, satu lagi untuk mereka. Asumsi saya mereka orang Cina yang menyewa apart ini, lalu menyewakan lagi kamarnya. Emang ada aja otaknya kalau orang Cina masalah cuan ya. Melihat ini, kami agak terkejut sih. Kami kurang nyaman dengan kamarnya. Kirain kami akan sendiri gitu, taunya dapat satu kamar doang dengan ukuran kecil dan ranjang tingkatnya. Anak-anak yang lain udah mulai menggerutu, pindah aja lah, kata mereka. Wkwkwk, baru bentar padahal. Ya gimana ya, sangat tidak worth dengan biaya yang kami bayar. Ya udah lah, kami sabar aja ya kan. Untung reservasi cuman 2 malam. Kami ambil sisi positifnya aja. Di apart yang kayak gini, mending cuman buat tidur aja, sisanya abiskan waktu diluar. Nah, kalau kayak gitu kan, bakal jadi maksimal liburan dan jalan-jalan kami.

Suasana kamar apartemen kami

              Malam itu karena kami udah lapar banget, kami masak air untuk mie instan yang udah kami bawa dari Turki. Indomie pastinya. Di tembok, ada kertas bertuliskan ‘No cooking’ sih di temboknya. Hadeuh, untungnya ya kalo masak mie mah, cukup dengan masak air aja sih. Kami diberi fasilitas wifi kencang, dan mesin cuci. Untuk mesin cuci gak mungkin kami pake sih sekarang. Udah lah pokoknya abis makan mie, kami niat keluar. Lucunya lagi kan, waktu makan mie, karena sendoknya dikit, cuman 2, jadinya 2 lagi make sumpit, 1 orang pake sendok teh 🤣. Itu mau nyeruput kuah, yang keambil pun dikit banget hahaha. Setelah makan mie, karena masih lapar, kami keluar rumah sekitar jam 10 malam. Sekalian juga kami ingin tau vibes malam disini, juga bangunan-bangunan nya. Kami keluar, muter-muter aja, niatnya nyari market untuk beli air minum. Tapi kebanyakan sudah tutup. Akhirnya kami menemukan warung yang menjual air mineral. Setengah liter air mineral botol plastik dengan harga 80 dinar atau 11 ribu rupiah itu mahal sekali menurut saya. Tapi ya mau gimana lagi ya kan. Udah pada tutup mini market juga. Mungkin kami bisa menemukan yang lebih murah disitu. Malam itu, kami ke pusat kota, kami menemukan ada gedung bagus yang terlihat dari kejauhan. Kami akan kesana besok, pikir kami. Mungkin setelah lihat gedung-gedung dengan arsitektur keren semacam itu, pandangan kami ke negeri ini akan jadi lebih positif. Tentang orang-orangnya? Sejauh ini yang kami temui dan kami tanya arah jalan misalnya, mereka cukup ramah, dan hangat kepada kami selaku turis. Mungkin karena tidak banyak turis yang datang kesini, makanya sekalinya datang, ramah. Mungkin begitu asumsi saya. Atau mereka yang sifat dasarnya memang ramah barangkali. Hal lain yang bisa kami simpulkan adalah, mereka orang Eropa yang rata-rata tinggi sekali. Banyak sekali diantara mereka yang tingginya diatas 1,8 m. Bahkan perempuannya juga. Kalau dilihat di Google sih, rata-rata tinggi orang Serbia ada diangka 1,74 cm. Jauh diatas tinggi rata-rata orang kita. Postur mereka yang tinggi ini juga bisa dilihat kalau kalian ke McDonalds. Malam itu kami kesana, meja dan kursinya tinggi sekali. Untungnya di meja itu ada bawahannya untuk kami menapakkan kaki. Sedangkan untuk orang lokal, mungkin kaki mereka bisa sampai lantai. Wkwkwk, tinggi banget emang.

Gedung yang saya maksud. Keren kan?

              Sekitar jam setengah 12 malam, kami balik ke apart. Setibanya di kamar, udah ada orang Cina gendut yang berbaring disalah satu Kasur, sambil scroll hp gitu. Wah makin gak nyaman udah ini mah. Mana dia ngerokok di kamar juga. Fix, pengen cepat-cepat ganti apart ini mah. Kayaknya orang itu teman atau kerabat si ‘host’nya yang orang Cina yang menyambut kami itu. Tapi jujur, kami sangat annoying sekali dengan kehadiran orang itu. Begitulah keadaan kami ketika di kamar untuk 2 malam ke depan ini. Ya sudah lah, biarkan saja. Besok pagi-pagi kami ingin keluar, sarapan diluar, ke market beli air, abis itu jelajah kota Belgrade. Kami sudah planning besok ingin kemana saja. Besok, kami bakal jalan-jalan di Belgrade, mungkin ke museum atau tempat lain yang bisa dikunjungi. Di hari kedua, kami akan ke kota yang kata teman saya estetik dan cantik banget, Novi Sad. Dia memang belum kesana, tapi dia dengar dari kating, kata mereka, itu kotanya cantik, sangat wajib dikunjungi. Oke, kami masukkan ke list. Hari ketiga kami akan ke Turkiye Konsosluğu  untuk menanyakan perihal masalah izin tinggal teman-teman saya ini yang bermasalah karena nama dari kampus dihapus yang menyebabkan application izin tinggal tertolak ketika visa mereka habis, jadinya harus keluar dari Turki. Lalu di hari terakhir, santai saja, keliling seadanya sebelum pulang. Malam ini sudahi dulu saja, tidur dulu, semangat besok pagi. Apalagi subuh di Serbia jam 5. Beda sama Turki yang jam 7. Jadinya harus bangun lebih cepat.

              Sabtu pagi, tanggal 18 Februari, liburan kami baru benar-benar dimulai. Setelah sarapan sup dan minum teh yang tersedia, kami bersiap-siap untuk keluar. Pokoknya apapun itu, Sabtu dan Minggu ini kami harus jalan-jalan dan liburan. Baru hari Senin nanti, mulai selesaikan perkara inti. Kami keluar membawa barang-barang berharga, jaga-jaga kalau hilang. Soalnya keadaan apart seperti yang saya sudah sebutkan, bisa kalian bayangkan pasti ada rasa khawatir sesuatu yang hilang. Oleh karena itu, semua hp dan laptop kami bawa. Hanya baju saja yang kami tinggalkan. Jam 11 pagi, kami keluar dari apartemen. Cuaca diluar cukup cerah dan suhunya gak sedingin Turki. Bahkan saya yang pakai jaket tebal musim dingin saja merasa gerah. Suhu stabil diangka 10-17 derajat kira-kira. Jadinya cukup dengan sweater plus jaket tipis aja kalau mau nyaman. Saya tidak tau ya apakah kemarin-kemarin disini turun salju atau tidak. Soalnya sekarang sudah tidak ada jejaknya lagi.

              Tempat pertama yang ingin kami kunjungi pertama kali adalah mini market. Kami ingin beli minum dulu. Di perempatan kota, kami menemukan mini market namanya ‘Aroma’. Cukup banyak tersebar dimana-mana market ini. Di depan Aroma, ada tempat bernama ‘PEKARA’ yang mungkin artinya Bakery atau tempat jual aneka roti-rotian gitu. Kenapa saya bilang gitu, karena tiap toko roti ada tulisan ‘PEKARA’ nya. Disitu saya beli roti isi sosis ayam. Yang paling aman beli makanan yang ada tulisan chicken nya sih. Selain itu, ada juga croissant, lalu makanan khasnya bürek. Di Turki juga ada, namanya Börek tapı ukurannya lebih kecil dan lebih murah dari yang di Serbia ini.

              Setelah sarapan di PEKARA, kami terus jalan ke gedung yang kami lihat tadi malam. Ternyata itu adalah Gedung Parlemen di Belgrade, dan disebrangnya adalah sejenis gedung pemerintahan juga. Begitu jawaban ketika saya tanya orang yang lewat sih. Di depan gedung ada 2 patung orang yang posenya, ntah apa ya, mungkin kelihatannya sedang mengangkat kuda. Kira-kira seperti itu. Kalian bisa lihat sendiri di foto yang saya taruh di bawah. Baru nih kelihatan arsitektur Eropa-nya. Karena indah di mata, tentu saja kami ambil foto-foto disitu.




              Setelah bingung mau kemana, kami liat-liat lagi itinerary, akhirnya kami putuskan ke Museum National Of Belgrade. Letaknya sekitar 1 km dari tempat kami saat ini. Ketika kami jalan kesana, kami stop dulu ke depan gedung yang cukup cakep, dengan patung prajurit berkuda yang pastinya nambah bikin cakep view. Oh ya tadi di jalan, kami ketemu dengan orang asal India yang bekerja disini. Dia udah 2 tahun disini dan lumayan mengerti Bahasa Serbia. Kami berkomunikasi pakai bahasa Inggris tentunya. Disini ia mempunyai restoran Biryani dan ia bilang bisa mengantarkannya ke rumah kami jika mau. Dia juga memberi tahu kami bahwa nanti sore ada pertandingan Gulat, UFC gitu mungkin ya, maaf kalau salah. Memang sih di sepanjang jalan juga, iklan tentang pertandingan ini sudah terpampang di billboard. Dia menyarakan kami untuk datang kesana dan menonton jika kami mau enjoy. Pertandingannya sekitar jam 4 sore, jadi kalian bisa berangkat mulai dari jam setengah 4 sore, kata dia kepada kami. Tentu kami berminat, karena sejujurnya kami juga masih bingung mau kemana lagi hari ini setelah dari museum. Dengar dari dia juga kalau tiketnya hanya sekitar 200-300 Dinar saja. Oke, nanti sore kami akan kesana, ucap kami. Dan kalau nanti kami ingin pesan biryani, kami akan menghubungi dia. Senang rasanya bisa bertemu saudara sesama Asia, apalagi dia muslim juga seperti kami. Namanya Abdul. Tau gak, waktu melihat dia pertama kali, kita bicarakan dia, “Itu orang India ya?”, eh tau-taunya dia nyamperin kami.

              Lanjut, kami pergi ke museum. Agak lumayan ribet nemuin museum ini, karena pintu masuknya di samping jalan. Kayak, kami masuk itu dari samping gedung, bukan dari depannya. Untuk memastikannya juga, kami nanya ke penduduk lokal. Ternyata benar, dan memang sudah ada beberapa orang yang mengantri untuk membeli tiket masuk. Untuk biaya masuknya bisa dibilang cukup mahal. 600 Dinar atau sekitar 80 ribu itu sudah termasuk akses ke semua ruangan yang ada di museum. Museum ini banyak menjelaskan tentang berdirinya Serbia dari abad pertengahan sampai masa penaklukan Kesultanan Utsmani. Setelah itu, negara ini menjadi bagian dari Yugoslavia. Sampai pada 1990-an, negara ini bubar. Lalu, Serbia menjadi negara merdeka sendiri, bergabung dengan Montenegro. Memang, dulu juga saya ingatnya, nama lengkap negara ini adalah Serbia dan Montenegro. Kemudian, Serbia ‘merdeka’ lagi pada tahun 2006 menjadi Republik Serbia setelah berpisah dari Montenegro. Pada 2008, Kosovo menyatakan merdeka dari Serbia. Tapi Serbia mengklaim Kosovo sebagai bagian dari wilayahnya yang berdaulat. Banyak juga perang saudara yang terjadi di negara ini beberapa tahun lalu yang menyebabkan Serbia masih berstatus sebagai negara berkembang hingga saat ini. Bisa diwajarkan lah ya, mereka baru benar-benar membangun belasan tahun yang lalu sebagai negara. Meskipun begitu, fasilitasnya sudah lumayan maju jika saya lihat. Banyak mobil bis bertenaga listrik disini. Jadi jikalau dilihat, beberapa bis, menyambung ke kabel listrik diatasnya. Go food nya juga pakai sepeda listrik untuk mengantarkan pesanan-pesanannya. Tentu saja bukan Go food ya, ini supaya gampang dipahami saja, kalau disini saya lihat, banyaknya bernama Welt. Kalau Go food berwarna hijau, kalo Welt berwarna khas biru muda. Serbia merupakan tempat lahirnya ilmuwan terkenal Nikola Tesla, ilmuwan yang sangat berjasa pada teknologi listrik, yang dampaknya bisa kita rasakan sekarang ini. Mungkin karena itu, banyak mobil atau kendaraan lain yang bertenaga listrik disini.

              Kembali ke museum, selain tentang sejarah dari negara Serbia sendiri, museum ini juga menampilkan banyak lukisan ciamik nan berkelas. Bagi kalian  yang berjiwa seni tinggi, tempat ini cocok buat kalian. Untuk kami yang orang awam, pastilah bilang lukisan ini keren, tapi hanya disitu saja. Kami tidak terlalu paham nilai dan esensi dari lukisan-lukisan tersebut yang harusnya bisa dihargai lebih jika kami pahami itu. Seperti banyak lukisan eropa masa dahulu lainnya, banyak lukisan orang tanpa pakaian di museum ini. Lukisan bangsawan, juga lukisan Yesus serta bunda Maria juga ada di museum ini, jikalau saya tidak salah menyimpulkan. Wajar saja karena mayoritas penduduk sini beragama Kristen Katolik dan Ortodoks. Selain itu, museum ini punya koleksi uang kertas maupun koin yang sudah dipakai dari waktu ke waktu di negara ini. Dari masa berabad-abad lalu, masa Yugoslavia, sampai uang yang dipakai sekarang. Koleksi ini terdapat di suatu ruangan khusus dilantai bawah museum ini. Oh ya, ada juga sedikit peninggalan Mesir kuno disini. Ada salah satu mumi juga yang dipamerkan. Pertama kali dalam hidup saya, melihat mumi secara langsung. Tidak ada penjelasan tentang siapa mumi ini, hidup kapan dan dimana ditemukan. Tapi cukup impresif sih. Saya awalnya meragukan apakah mumi ini benerean mumi atau bukan ya. Tapi setelah saya pastikan, melihat tengkorak kepala dan giginya, seperti nya memang ini mumi sungguhan. Apalagi ini kan museum nasional. Masa iya gak original. Setelah saya cek di Google, ternyata itu adalah mumi pendeta mesir Nesmin. Selebihnya saya tidak mengetahui informasi lain tentang mumi ini



Beberapa koleksi Museum National of Serbia

Jikalau kalian ke Belgrade, mungkin tempat pertama yang kalian harus kunjungi adalah museum ini. Masuk kedalam, dimulai dari lantai dua. Baru setelah semua ter-explore, turun lagi ke lantai satu. Sebelum keluar, kami tulis nama kami di buku pengunjung museum, “Rumah Berseri pernah disini”, tulis kami beserta nama kami masing-masing. ‘Rumah Berseri’ itu sebutan untuk rumah mereka di Eskisehir. Kalau ke museum Belgrade, jangan lupa cari tulisan kami ya😅. Untuk lokasi jelasnya, Museum National of Belgrade terletak di Republic Square, di pusat kota Belgrade.

Koleksi "mumi Pendeta Nesmin" di museum national of Serbia

              Setelah dari museum, kami makan di restoran Biryani India. Tapi yang ini bukan punya nya si Abdul. Beda lagi ini mah, letaknya di pinggir jalan. Setelah makan, diluar kami ketemu dengan orang Pakistan. Dia bilang kalau dia akan ada match sore ini. Ternyata dia salah satu pemainnya. Memang sih, tulisannya itu international match kalo buat hari ini. Dia bilang ke kami, “Food in this Indian Restaurant is f***ing expensive😂”. Ya lumayan mahal sih emang, nasi biryani ayam seporsi, harganya 70 ribu rupiah ke atas. Cukup normal aja sih sebenarnya. Walaupun seharusnya ada yang lebih murah lagi disini. Kemudian, kami mencari masjid untuk sholat Jama’ Dzuhur dan Ashar. Masjid yang mungkin hanya ada satu di Belgrade. Di masjid ini, ada bendera Pakistan yang dikibarkan. Untuk menemukan masjid ini, silahkan ketik ‘Masjid’ atau ‘Jamiye’ di Google Maps. Pasti nanti akan diarahkan kesini.

              Setelah sholat, kami agak sedikit keliling sedikit, ada jalan yang cukup ramai. Banyak orang nongkrong sambil ngopi disana. Jalan trus lagi, ternyata banyak yang jual souvenir. Tempelan kulkas wajib saya beli ketika datang ke tempat baru. Saya sebenarnya ingin beli bajunya, tapi harganya 1200 Dinar, atau kisaran 165 ribu rupiah. Bahannya kurang bagus, jadinya saya gak jadi beli. Akhirnya di tempat lain, saya beli topi dengan harga yang sama, 1200 Dinar Serbia. Topi hitam bertuliskan “The City of Belgrade”. Masih jam setengah 4, sebelum ke pertandingan, kami ingin ngopi santai dulu di starbucks. Tapi tempat duduknya pada penuh, akhirnya ya gak jadi. Kami langsung sajalah berangkat ke Stark Arena, tempat matchnya berlangsung. Kami memang berencana beli tiketnya langsung di counter. Tempat ini ternyata kayak GOR gitu. Cukup besar. Untuk kesana, kami naik bis menyebrang sungai Danube, sungai terpanjang di Eropa.

              Sesampainya disana, banyak mobil yang sudah terparkir di bagian bawah stadium. Gak terlalu banyak juga sih. Setelah kami nanya ke petugas sekitar, mereka bilang counter ticket ada di bagian atas.

“Excuse me, we want buy 5 tickets for the match, please!”. Tiketnya ternyata seharga 2600-an Dinar atau sekitar 500 ribu lebih per orang nya. Jauh lebih mahal dari perkiraan kami yang hanya 200-300 dinar. Ternyata memang, rentetan match UFC ini, -atau kick boxing atau apalah- sudah dimulai dari tanggal 11 Februari, dan puncaknya hari ini, tanggal 18. Tanggal 11-17 ini match-match biasa, karena itu harga tiketnya murah. Nah, match yang kami datangi kali ini adalah yang digembor-gemborkan di billboard, wajar jika harganya mahal. Duh, padahal sudah banyak ada di bayangan bakalan seperti apa nonton match UFC. Tapi ya karena harga gak sesuai keinginan, jadinya kami gak jadi dan memutuskan balik aja. Lagipula ini hanya iseng saja karena bingung mau kemana.

              Awalnya kami ingin coba bersantai nyore di pinggir sungai danube, tapi karena sudah agak capek, kami putuskan untuk langsung balik ke pusat kota saja. Sesampainya di kota, kami berjalan-jalan sedikit, kemudian menemukan gereja besar di pinggir jalan yang arsitekturnya indah banget. Di samping gereja besar itu, ada bangunan kecil berwarna hijau. Kami kira itu semacam mushola. Maka dari itu kami langsung kesana aja, maghriban disana. Eh waktu dilihat, kok didalam tempat itu sedang ada ritual ibadah, jemaat gereja ini mah, atapnya pun ada salipnya ternyata. Gerbangnya juga😅. Ternyata kami salah, itu bukan mushola, ataupun masjid kecil. Susah juga ada masjid di samping gereja besar ini, mungkin katedral bisa dibilang. Asumsi kami gereja besar ini dipakai untuk hari-hari besar saja, sedangkan yang untuk ibadah harian pakai yang kecil itu. Cocokology nih mainnya.

Salah satu gereja besar di pinggir jalan raya Belgrade

              Karena gak jadi sholat disana, kami lanjut jalan, dan menemukan starbucks. Teman-teman saya pada ngopi tuh. Saya tidak. Karena, ya saya gak mau aja. Saya orangnya masih mendang-mending. Untuk ke Serbia ini memang saya sudah atur budget jangan sampai abis lebih dari 1500tl untuk hidup 5 hari. Kalau untuk beli souvenir gapapa😂. Starbuck di samping jalan ini memang lah punya view yang keren. 200 meter didepannya ada gedung parlemen besar dengan patung kudanya yang menambah ketenangan kalau nongkrong disana.

              Sebelum pulang, kami melipir ke mini market untuk beli roti serta selai untuk sarapan. Gak lupa juga air putih. Kami putuskan untuk pulang lebih awal karena biar bisa istirahat cepat dan bisa untuk atur planning besok mau kemana aja, supaya gak luntang-lantung kayak hari ini.

              Besok kami akan keluar kota, ke kota yang katanya cantik bernama Novi Sad. Apa benaran cantik kah? Let’s see tomorrow. Malam itu, setelah makan, kami main PES di laptop beberapa match. Ada juga tuh orang Cina yang sibuk scroll hp nya tuh. Duh tu orang. Kayak annoying aja gitu, mana ngerokok dalam kamar lagi, sambil tiduran. Untung malam ini malam terakhir kami di apartemen ini. Untuk itu juga, kami udah reservasi untuk 2 malam lagi ditempat lain. Lokasinya gak jauh dari sungai Danube. Apartemen ini seperti nya tidak campur-campur kayak yang saya tinggali ini. Kami akan dapat 2 kamar plus satu ruang tamu dengan beberapa fasilitas jika melihat di aplikasinya. Agak ribet sih karena dia butuh fotokan identitas seperti paspor dan wajah kita. Problemnya karena kamera depan saya rusak, jadinya saya batalkan prosesnya dan ulang lagi dari awal. Waktu saya ulangi, tetep gak bisa dan ujung-ujungnya tertolak, padahal saya sudah pakai hp yang satunya. Akhirnya saya pinta temen saya pesankan pakai hp dia. Dan kok dia gampang ya pesannya. Alhamdulillah, malam itu, proses reservasi sudah berhasil. Jadi, ada 2 apartemen yang disarankan teman saya, dia cari di aplikasi AirBnB, mana yang murah dan lokasinya dekat dengan pusat kota. Salah satunya ini, yang mengecewakan. Satunya lagi yang kami reservasi untuk 2 malam kedepan. Semoga bagus lah.

              Esok harinya, seperti biasa, agak ngaret dulu, kebiasaan orang Indonesia ini😅. Setelah sarapan roti selai, juga sup Serbia. Selain teh, mereka juga menyediakan sup Serbia, ada sisa 2 sachet disitu, ya saya ambil dua-duanya lah. Setelah semua siap, makan mandi udah, kami keluar dari apart dengan meninggalkan tas dan pakaian saja. Sementara semua barang berharga kami bawa. Untuk ke Novi Sad ini kami akan naik kereta antar kota, sesuai arahan admin IG PPI Serbia 😅. Untuk rute dari Belgrade ke Novi Sad, setiap jam tersedia. Jam 11 kami otw ke stasiun naik bis. Ada sekitar 7 stop kalau tidak salah, yang terlewati. Jam setengah 12, kami beli tiket di counter. Kata kasirnya, yang tersedia hanya kereta first class, jam 12 tepat berangkatnya. Biayanya sekitar 700-an Dinar atau 130-an tl. Karena masih terjangkau, tanpa pikir panjang, kami ‘iya’ kan. Perjalanan kesana memakan waktu 36 menit. First Class nya kereta sini lumayan nyaman sih, dengan 4 kursi yang saling berhadapan dan ada meja ditengahnya. Di tengah perjalanan, saya dichat dengan host apartment China itu, -tolong no offense ya karena supaya gampang diingat saja ini- bertanya apakah saya masih akan tinggal malam ini karena check-out nya jam 12.00 kata dia. Saya jawab, iya saya akan keluar, tapi di aplikasi tertulis jam terakhir untuk check out adalah 00.00. Kata dia, itu ada kesalahan di aplikasinya. Tapi untungnya ya sudah, dia akhirnya membolehkan kami untuk stay sampai jam 12 malam. Dia pun meminta izin untuk mencuci selimut dan sarung bantal jika kami tidak lanjut stay. Oke, tentu saja, “alabilirsin”, kata saya. Nanti begitu kami balik dari Novi Sad, kami langsung ambil barang untuk pindah ke apart kami yang baru.

              Jam setengah 1 kami sampai di kota Novi Sad. Pertama, destinasi kami adalah City Museum of Novi Sad. Untuk kesana, kita harus naik bus sekitar 20 menitan. Teman-teman jangan lupa download aplikasi Moovit untuk tau transportasi apa yang harus dinaiki. Untuk destinasi berikutnya, nanti bisa nyusul lah ya. Sebelum naik bus, kami melipir dulu ke PEKARA. Nama PEKARA nya Evropa PEKARA, saya masih ingat. Kali ini saya beli Bürek isi daging. Harganya 200 Dinar, cukup terjangkau dengan ukuran porsi yang sangat sangat bikin kenyang. Sedangkan yang lain, ada yang beli pizza dengan harga yang sama. Kok bisa murah? Karena hanya dapat satu slice saja, tapi satu slices pun itu ukurannya gak nanggung. Yang lainnya lagi pada beli croissant. Ketika saya makan Bürek, wah kok enak banget ya. Daging apa ini? Jangan-jangan babi😅? Tapi kayaknya ini kambing sih. Kalo di Turki itu, ada yang rasanya mirip, namanya Kiymalı Börek, yang isinya potongan-potongan kecil daging kambing. Hanya saja, yang di Turki ini beda bentuk, porsinya lebih kecil, dan harganya lebih murah. Nah kalo yang di Serbia ini, porsinya gak nanggung-nanggung, daging isiannya juga melimpah, tapi harganya sedikit lebih mahal. Besok harus beli lagi ini sih, wajib. Enak banget soalnya.

Bürek Serbia isi daging

              Setelah lumayan kenyang, kami baru lanjut jalan lagi untuk naik bis menuju museum. Setelah sekitar 20 menit perjalanan, kami turun. Kami turun di sebuah jalan yang tidak terlalu besar, kanan kiri ada rumah atau apartemen, dan gedung-gedung yang berwarna-warni. Nah sudah mulai keliatan nih estetika kota ini. Kemudian kami naik ke atas, karena memang museum nya terletak di dataran tinggi. Untuk kesana, harus naik tangga beberapa menit. Ramai orang yang sedang berkunjung hari ini. Maklum, hari ini hari minggu, weekend, libur. Jadi, ternyata tempat ini merupakan kawasan wisata yang gak cuman ada museum nya doang. Ada tempat nongkrong sambil ngopi-ngopi atau pun bar gitu yang ditemani pemandangan sungai Danube beserta jembatannya. Ada juga jam besar yang biasanya jadi spot foto. Kami menyebutnya, ‘Jam Gadang-nya Novi Sad’. Ada juga banyak para penjual souvenir di tempat ini. Saya sudah memantau, pokoknya saya pasti bakal beli. Tapi sebelum itu, kami masuk museum dulu, sekalian numpang ke wc, karena dari tadi udah nahan-nahan kencing😂. Untuk biaya masuk ke dalam museum, kami membayar tiket masuk seharga 400 Dinar. Kami masuk terlebih dahulu dari pintu sebelah kiri, karena kalau pintu sebelah kanan itu sudah terlihat keren banget, jadi kami kira, yang keren itu pasti akhirnya. Nah, museum ini seperti biasa menampilkan sejarah-sejarah yang berhubungan dengan Novi Sad. Mereka juga punya koleksi kapal purba, yang bentuknya benar-benar batang pohon yang dibelah dan dibentuk sebagaimana kapal pada umumnya, tapi bentuknya masih benar-benar sederhana. Kayak, literally kapal gitu. Bisa kalian lihat fotonya dibawah saya sertakan. Uniknya, museum ini juga menyatu dengan sumur yang merupakan sumber pasokan air untuk para prajurit ketika perang. Jadi menyatu dengan tempat berlangsungnya sejarah secara langsung. Ini yang saya kira unik, walaupun mungkin banyak ya yang seperti ini. Tapi jarang saya lihat. Wajar saja sih, dulunya, tempat ini kan juga bagian dari benteng Petrovaradin Fortress. Setelah selesai dibagian kiri, kami mulai untuk masuk kelebih dalam lagi. Sejauh ini, belum ada kesan spesial di museum ini, belum merasa worthed lah dengan harga tiket yang dibayar. Tapi, dalam beberapa menit ke depannya, asumsi saya berubah 360 derajat. Karena untuk bagian selanjutnya dari museum ini, itu gila banget. Keren banget, luar biasa. Mungkin bisa saya bilang, sebagai museum paling keren yang saya kunjungi sebagai ‘orang awam’. Untuk bagian selanjutnya ini, museum ini menceritakan tentang istri dari Albert Einstein yang orang Serbia, yang juga seorang ilmuwan perempuan jenius yang berjasa bersama Einstein dalam menjelaskan ‘Teori relativitas’ dan juga ‘Photo Electric Effect’. Istrinya itu bernama Mileva Maric Einstein. Nah, dari perkawinan mereka ini, terlahir seorang anak bernama Eduard Einstein, yang sayangnya pada masa mudanya terdiagnosa mengidap Skizofrenia, penyakit mental yang membuat penderitanya tidak bisa membedakan mana dunia asli, dan mana dunia khayalan, saking seringnya berhalusinasi. Diceritakan bahwa Albert Einstein merasa sangat terpukul dengan penyakit yang diderita puteranya ini. Pada tahun 1919, atas ajuan dari Einstein, pernikahan antara ia dan istrinya, Mileva Maric berujung pada perceraian. Semenjak itulah, hanya sang ibu seorang diri yang mengurus anaknya, Eduard. Eduard sendiri pernah berkata, “Mungkin satu-satunya masalah yang ayahku give up adalah aku”. Begitu quote-nya yang tertulis di dinding museum. Walaupun begitu, tercatat, hadiah nobel dari jasa Einstein menjelaskan teori ‘Photo Electric Effect’, diberikan kepada Mileva Maric yang kemudian ia investasikan di sebuah property di Zurich nantinya. Sebenarnya ada satu lagi yang menarik, di suatu ruangan khusus, ternyata sebenarnya ada satu orang lagi anak dari mereka berdua. Tapi tidak diketahui seperti apa rupanya, matanya, senyumnya dan lain-lain. Ruangan ini berisikan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dan bagaimana rupa anak mereka? Anak itu merupakan perempuan bernama Lieserl Einstein yang namanya hilang dari sejarah. Ada juga ruangan yang gelap yang isinya kerlap-kerlip lampu kecil saja. Itu tuh keren banget. Agak sulit untuk menggambarkan dengan kata-kata, biar lebih jelasnya, nanti bisa liat foto atau video yang saya cantumkan di bawah.


              Karena saya sangat takjub dengan isi dari museum ini, saya bisa bilang, museum ini sangat worthed untuk dikunjungi. 10/10 saya kasih rating untuk museum ini. Sekali lagi saya bilang, museum ini gila, keren banget. Ketika kami keluar dari museum ini, puluhan orang sudah antri untuk masuk. Wah wah, untung kami datang lebih cepat ya. Dari museum saya pergi ke pedagang souvenir dan setelah menimbang-nimbang, saya membeli hiasan piring kecil bertuliskan Serbia berwarna biru untuk pajangan di rumah. Tau-taunya saya lihat isi dompet, lah tinggal dikit duit saya wkwkwk. Ini gara-gara kebanyakan ke museum nih kata saya. Abi situ teman saya langsung menimpali. “Heleh, museum mah baru dua kali. Lu mah abis duit gara souvenir” 😂. Ya tidak apa-apa, bagi saya, lebih baik duit abis untuk beli souvenir daripada makan atau lainnya. Karena souvenir selalu bisa jadi kenangan. Makanya, setelah ini mungkin saya akan lebih hemat karena masih dua hari lagi saya disini.

              Kami kemudian berfoto di depan ‘jam gadang’ sebagaimana orang-orang. Dan juga di pagar-pagar batu berlatar belakang sungai danube. Oh ya, di pagar besi disamping ‘jam gadang’, ada banyak sekali gembok-gembok yang bertuliskan nama orang. Atau pun nama dia dan pasangannya, dengan tanda love di tengahnya. Halah halah, no comment lah saya 😂. Kemudian kami berkeliling sekali dari ujung ke ujung tempat ini. Menikmati pemandangan sore Novi Sad dari ketinggian. Ya, walaupun gak tinggi-tinggi amat, tapi cukup ciamik sih.

              Masih jam 3 sore nih, kemana lagi ya enaknya. Kami memang menjadwalkan untuk pulang ke Belgrade lagi itu menjelang maghrib. Jadi, setidaknya satu lagi lah tempat destinasi akan kami kunjungi. Saya kemudian searching di Google, ‘Most Visited Places in Novi Sad’. Dan secara random saya pilih tempat bernama ‘Dunavska Street’ yang jaraknya hanya sekitar 1 km-an saja dari jarak kami sekarang atau sekitar 4 pemberhentian jika pergi pakai bus (tentu saja kami pakai bus). Saya pilih karena kalau dilihat di Google, tempat ini cukup estetik.

              Dan, ketika kami kesana, ternyata tempatnya indah sekali, masyaAllah. Kami disuguhkan pemandangan yang sejuk kali dipandang mata. Jadi ada seperti square gitu, disebelah kanan ada gereja besar yang cantik banget arsitekturnya, ada patung ditengahnya, dan di kiri ada semacam gedung yang mungkin termasuk gedung pemerintahan sepertinya. Di tengahnya, banyak burung dara dan anak kecil yang bermain, juga banyak pasangan dan keluarga yang datang kesini. Tempat ini sabi parah untuk foto dan video estetik. Di tempat ini pula mungkin bisa dibilang, puncak dari liburan kami di Serbia. Teman-teman kalau ke Serbia, wajib datang kesini. Gak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata saking keren dan estetiknya tempat ini. Jalan ke kanan dikit, ada restoran di kanan dan kiri jalan. Orang-orang makan dan minum di outdoor, di depan restoran sambil menikmati suasana estetika tempat ini. Saya baru benar-benar menyadari, kenapa tempat ini sangat-sangat disarankan  oleh teman saya untuk dikunjungi. Puas sekali kami jalan-jalan di kota ini. Padahal cuman ke dua tempat doang, tapi sudah merasa satisfied banget.



              Ok, sekarang sudah jam setengah 5 lebih. Problemnya, di kota ini kayaknya gak ada masjid. Kalaupun ada, kemungkinan jauh dari sini. Kami belum sholat. Maghrib di Novi sad lebih awal. Jam 17.11 kalau tidak salah. Sekitar jam segitu lah. Awalnya kami berniat untuk sholat di kursi di pinggir jalan, tapi karena bis yang kami tunggu sudah datang, kami akhirnya sholat jama’ dzuhur ashar di dalam bis. Yups, bis yang menuju ke Novi Sad Railway Station. Kami sudahi perjalanan kami di kota Novi Sad, maghrib ini. Kali ini kami naik kereta biasa, bukan kereta cepat seperti ketika kami berangkat. Kereta kali ini open ticket, jadi cepat-cepatan dapat tempat duduk, dan bebas dimana saja. Kebanyakan di Eropa memang seperti itu ternyata. Perjalanan kali ini memakan waktu sejam. Tiketnya sedikit lebih murah, 500 dinar per orang. Beda sedikit sih harganya, tapi pelayanan dan pengalamannya sangat berbeda antara yang biasa dan yang first class. Walaupun yang first class pun gak spesial-spesial amat sih.  

              Jam 8 malam, ketika kami sampai di Belgrade, kami bergegas kembali ke apartemen Cina untuk mengambil barang-barang kami. Dengan cepat kami bereskan semua barang dan setelah mengecek, kami pastikan tidak ada barang tertinggal, kami pamitan dengan Layne, sang ‘Host’. Sebelum itu, dia pinta saya untuk buka aplikasi AirBnb untuk kasih rating. Awalnya tangan saya mau kasih ke arah bintang 3, tapi langsung dicegah sama dia biar dikasih bintang lima. Ya, biar cepet lah, ratingnya semua nya saya kasih bintang lima. Jujur, sebenarnya agak kurang ikhlas saya kasih bintang 5. Paling banyak tuh bintang 3. Terlebih karena temannya yang tidur di tempat kami tuh, walaupun dia diam doang diatas Kasur, tapi kehadirannya sangat annoying bagi kami. Jika kalian, berada di posisi kami, pastilah akan merasakan hal yang sama. Tapi ya, ambil positifnya saja, mungkin ini merupakan salah satu sumber pemasukan mereka. Mereka orang Cina, ramai-ramai tinggal di apartemen kecil ini. Kalau tidak ada yang menyewa apart ini, mungkin mereka bakal kesusahan secara ekonomi. Ya, itung-itung sumbangan untuk mereka lah.

              Singkat cerita, kami langsung saja bergegas ke apartemen kami yang baru, tempat menginap kami 2 hari kedepan. Nama apartemen nya, Panorama Danube. Bisa diingat nih namanya, karena apartemen ini keren banget. Fasilitas lengkap, bagaikan fasilitas hotel. Hanya beda beberapa ratus ribu aja dari apartemen Cina, tapi fasilitas dan ya semuanya lah, beda jauh! Gokil parah. Semua perabotan lengkap. Bahkan disediakan kopi dan mesin nya juga, yang kapsul starbuck itu. Di meja tengah juga disediakan coklat yang enak. Ada minyak, dan macaroni juga. Mesin pemanggang roti juga ada. Oven pun ada. “Ah, ngapa gak dari kemarin kita kesini!”, semua dari kami bilang kayak gitu, hahaha🤣. Tapi ada hikmahnya sih, ambil positifnya aja. Kalau dari awal kita udah disini, kita gak bakal jalan-jalan sesering ketika di apart Cina. Kalau disana kan gak nyaman, jadi dipakai cuman buat tidur doang. Tapi sama pusat kota, letaknya lebih dekat. Jadi nya rasa mager bakalan hilang. Kalau disini, udah tuh, pasti mager keluar. Terlalu comfy di apartemen ini. Kalau yang kayak gini mah, jangankan bintang lima, bintang tujuh pun ikhlas saya kasih. AC, pemanas, tinggal pilih aja mana yang mau dihidupkan. Disamping itu juga ada balkon dengan suguhan pemandangan sungai danube yang buat makin cakep👍. Kami malam ini, masak makanan yang banyak. Banyak sekali makanan yang kami beli. Dari beras, roti, indomie goreng (enak nih rasanya, dijualnya per lima bungkus dengan harga 50 ribuan), telur, minuman, kentang, sayuran, dan lain-lain. Itupun per orang, hanya sokongan kisaran 70 ribuan aja. Udah belanja gede-gedean padahal loh. Setelah makan, gak banyak yang kami lakukan. Saya sendiri juga, langsung berbaring diatas Kasur, denger youtube, lalu tidur. Kami esok hari gak ada rencana jalan-jalan banyak. Secara garis besar, planning kami esok hari hanyalah pergi ke Turkiye Konsosluk, lalu setelahnya ke benteng Belgrade. Abis itu langsung balik lagi ke apartemen. Pengen lama-lama dulu disini. Gak mau rugi, pengen ngerasain nyamannya lebih lama. Soalnya hanya 2 malam. Lusa udah jadwal check-out abis itu pulang.

              Senin siang, sesuai jadwal, hari ini kami berencana untuk pergi ke konsosluk-nya Turki di belgrad. Kami ingin menanyakan perihal izin tinggal kami di Turki. Soalnya, kemarin kan kami diperintahkan dalam waktu 10 hari harus keluar dari Turki. Nah, sekarang kami sudah keluar nih, tanggal 21 besok kami ingin pulang lagi ke Turki. Staff disana menjawab, kalau ada dua kemungkinan. Yang pertama, biasanya orang yang kena penalty keluar dari Turki itu baru bisa masuk ke Turki lagi setelah 90 hari. Jadi stay dimana dulu gitu atau balik ke Indonesia selama 3 bulan. Atau yang kedua, jikalau petugas imigrasinya baik, dengan syarat bisa menunjukkan kalau kami adalah mahasiswa, biasanya akan diberi waktu selama 10 hari untuk mendaftarkan izin ikamet. Ya, walaupun jawabannya agak mengkhawatirkan, setidaknya opsi kedua itu bisa jadi jawaban ketika ditanya kenapa balik lagi ke Turki.

              Sekeluarnya dari gedung itu, tampaknya muka mereka pada lesu. Lalu saya bilang, “Kan kita udah persiapkan diri, apapun jawabannya, udah siap kan?”. Lagipula, masih ada jawaban yang menenangkan, yaitu opsi kedua. Ya, ambil saja opsi kedua. Sing tenang maszeh, kadang kita gak boleh terlalu khawatir tentang apa yang belum terjadi.

              Masih jam 3 sore, saya tidak ingin terlalu cepat pulang. Minimal satu destinasi lagi lah. Destinasi yang saya pilih waktu itu adalah benteng Belgrade. Tidak jauh dari pusat kota, kalian bisa datangi benteng ini, dengan naik bis nomor EKO2 yang berwarna hijau. Lalu jalan sedikit sekitar 5-10 menitan, lalu kalian sudah sampai di bentengnya. Bentuk tempat ini sebagaimana benteng pada umumnya. Tidak terlalu spesial menurut saya, tapi cukup bagus lah untuk bersantai, nyore bareng temen-temen disini. Di tempat ini juga, kami banyak mengabadikan momen bareng, foto, bikin konten, minjem gitar pengamen, lalu kami nyanyi lagu ‘Kabar kepada kawan’, covernya Felix Irwan. Jadi kami pinjam gitar nya untuk kami nyanyi satu lagu, lalu kami bayar pengamennya. Awalnya dia bingung karena gak bisa bahasa inggris. “Who song? I song”, dia bilang kayak gitu 😂. “No, no. he song”, jawab saya🤣. “We will sing one song, after that we will give you money, ok?”, jelas saya. Barulah dia, setelah memahami maksud kami, ia berikan gitarnya ke Hilman. Lalu kami mulai bernyanyi, si bapak pengamen, menonton kami dari depan. Wkwkwk. Semoga enjoy lah ya bapak! Duit yang kami kasih juga mungkin gak seberapa, tapi semoga bisa bikin anda senang. Kami juga senang dong pastinya. Setelah cukup puas, kami pulang ke apartemen. Eh di jalan malah melihat KFC, ya udah minggir dulu, beli dulu 2 ember. Tapi embernya tuh kecil banget. Seember harganya 500-an dinar, dapat beberapa potong ayam. Kami beli yang hot wings dan mix, ditambah kentang goreng.


              Di apartemen, kami masak nasi dan mie, lalu dicampur dengan ayam KFC yang tadi kami beli. Gak kerasa, besok sudah mau pulang aja. Supaya malam ini terasa agak panjang, kami main PES lagi di laptop. Dan lucunya, kami main pake mode silent. Jadi berusaha untuk diam. Kalaupun gol, gak sombong, gak koar-koar, soalnya biasanya karma, abis itu kalah. Alhasil, saya kalah di adu penalty karena tadi sempat ‘ngucap’, karena Firmino udah didepan gawang malah gak masuk. Selesai match, ketawa yang dari tadi di tahan, petjah🤣🤣. Simpel sekali untuk buat kami tertawa emang. Udah silent sepanjang match, eh kalah pula, apa gak kesel😂. Tapi, di match-match selanjutnya saya menang terus karena udah ketemu counter formasinya si Hilman. Ya, pake formasi dia juga, tapi yang mode defense. Formasi yang dia pakai, mode attack. Ketika saya pakai yang mode defense, menang terus saya, gak pernah tembus pertahanannya😂.Gak kerasa, kami main udah jam 1 aja. Waktunya tidur. Besok kami check out dari apart ini jam 11 pagi. Abis itu santai di kota sampai jam 2/3 siang, kemudian berangkat ke bandara.

              Pagi-pagi jam 9, saya sudah mandi, dan beres-beres barang, supaya tidak ada yang tertinggal. Cucian yang kami cuci kemaren juga sudah kering, jangan lupa diangkat. Setelah sarapan, barulah nyantai sambil ngemil roti tawar isi selai yang ditemani kopi susu. Ah, rasanya mager banget sebenarnya untuk keluar. Jam 11 kurang 10 menit kira-kira, kami ambil posisi foto terakhir di apartemen ini. Dengan gaya sigma-sigma gitu. Entah termasuk service atau gak ya, apart ini juga menyediakan 2 atau 3 botol whisky kalau gak salah. Untungnya ya, kami gak ada yang tukang mabok, apalagi saya. Ngerokok aja nggak, apalagi mabok. Useless dan dilarang agama juga. Botol itu cuman kami pakai sebagai hiasan aja buat foto ala-ala gitu🤣. Bisa kalian liat dibawah.


              Masih jam 12, karena bingung mau kemana lagi, ya udah ke starbuck aja. Seperti biasa, saya gak mesen, saya lebih ingin beli bürek lagi di PEKARA terdekat. Begitupun dengan reja. Kami pergi ke money changer dulu untuk menukar lira Turki ke Dinar Serbia, selain untuk beli makanan, tapi juga untuk kenang-kenangan. Lumayan, 100 lira sudah bisa ditukar dengan 500 dinar kurang lebih. Setelah menukar uang, kami kembali dulu ke Starbuck lagi untuk naruh barang, baru ke PEKARA. Ketika kami jalan ke Starbuck dari samping, kami bertemu dengan sepasang ibu-bapak suami istri. Dia mengenali kami sebagai orang Indonesia karena si Reja pakai celana batik. Langsung kami saling sapa dan mulai mengobrol. “Kalian dari mana? Berapa orang kesini?”, tanya ibu itu. Tampaknya dia sumringah bisa ketemu kami, sesama orang Indonesia di negara yang orang Indonesianya sedikit sekali ini. “Kami duduk di depan pintu situ bu, berlima kami datang kesini dari Turki”, saya jawab. Ibu itu langsung minta untuk duduk bareng saja ke depan. Dan, kami pun mengobrol banyak siang itu, ber-7.

              Sepasang suami istri ini ternyata adalah world traveler dari Solo. Mereka sudah berkunjung ke lebih dari 45 negara. Dan banyak negara yang sudah dikunjungi beberapa kali, seperti Jepang dan USA. Mereka bercerita banyak tentang negara yang mereka kunjungi. Untuk Eropa trip ini, mereka bilang, salah satu kota yang cantik banget itu Praha, Republik Ceko. Itu cakep banget. Budapest-nya Hungaria juga cakep. Bisa nih, minta arahan ke beliau dulu kalau nanti saya keliling Eropa. Rencananya memang saya akan keliling Eropa nanti waktu Exchange program, 1 atau 2 tahun lagi. Pokoknya ketika punya Visa Schengen, itulah kesempatan untuk keliling Eropa. Karena negara eropa itu kebanyakan ukurannya kecil, dan transportasinya bisa pakai kereta semua. Tiketnya juga gak mahal, biasanya antara 100-150 ribu untuk sekali perjalanan naik kereta itu. Wah, salut saya sama pengalaman mereka keliling negara ini. Mereka sudah mulai keliling negara sejak tahun 2010, dan Serbia adalah negara ke-45 mereka. Sebenarnya, kalau tidak ada pandemi Covid-19 kemarin, negara yang mereka kunjungi harusnya lebih dari ini. Tempat cantik nan terkenal seperti Maldives merupakan salah satu contoh tiket pesawat yang kena refund karena Covid-19. Akhirnya sampai sekarang belum kesampean. Silahkan sebut satu negara, kemungkinan mereka sudah kesana. Brazil, Argentina? sudah. Rusia, China, Jepang? sudah. India? nah ini. Kami penasaran, bertanya ke mereka tentang kehidupan dan jajanan disana. Kan India itu terkenal dengan food street nya yang jorok. Apakah bener sejorok itu, tanya kami. Lalu, mereka jawab tanpa ragu, “Iya!”. India memang sejorok itu. Sampah dimana-mana. Bahkan untuk bandara yang harusnya representasi sebuah negara pun, banyak sampahnya. Di lampu merah ada orang gantung jemuran dan jemur Kasur. Wkwkwk, gak kebayang. Mereka bilang, “kita salah tujuan negara”😅. Taj mahal itu indah, cukup indah, tapi ukurannya kecil, kata mereka. Mendengar fakta ini dari mereka, fix India gak masuk wishlist negara kami. Budapest, Praha, Amsterdam juga yang katanya bagus, bisa masuk wishlist kami. “Kalo mau bagus tuh, negara disampingnya. Nepal itu bagus, cantik, indah”, kata ibu Prins, namanya. Gak lupa, wisata dalam negeri juga mereka kebanyakan sudah, terutama yang terkenal, semacam Nusa Dua, NTT yang indah banget. Jadi pengen ya! Untuk keluar negeri, saya sebenarnya pengen ke Madrid, pengen nonton di Santiago Bernabeu. Soalnya, si bapak itu fans berat MU. Manchunian dia ternyata, sama seperti Hilman. Dia pernah menonton di Old Trafford, Allianz Arena-nya Bayern Munich, dan stadionnya PSG. Wah, gila sih!

              “Yuk kita makan siang, yuk! Biar nanti saya aja yang bayarin”, kata Ibu Prins. Tentu saja kami mau, hihihi. Di Serbia ini yang ada sertifikat halalnya itu, KFC. Yang lain belum pasti. Jadilah, kami berangkat ke KFC, Karena memang dasarnya juga, KFC itu ayamnya cocok untuk semua lidah. Jadwal pesawat juga jam 7 malam, insyaAllah kekejar, masih lama juga. Sekarang masih jam 2 siang. Siang itu kita pesan menu di KFC banyak banget. Awalnya memang kita gak enakan gitu, tapi memang kita disuruh pesan banyak. “Kalian kan laki-laki, makannya banyak. Pesan lah yang banyak, gak usah malu-malu gitu”, katanya. Awalnya, hanya pesan 3 Paket ember Hot wings itu yang seperti tadi malam. Tapi karena, “Eh, kecil banget ya ternyata embernya, udah pesen lagi aja yang gede”, kata beliau, wkwkwk. Itu sebenarnya udah cukup banyak sih. Tapi ya, dengan dipesannya lagi yang gede, makin sumringah senyuman kami. Di akhir juga ibu itu bungkuskan kami burger isi daging ayam dan keju, masing-masing satu. Untuk kami makan di bandara, kata beliau. Wah ketika cuci tangan di toilet bawah, kami semua pasang muka full senyum yang dari tadi berusaha kami tahan. “Full senyum maszeh. Pertama kalinya mukbang di KFC cuy!🤣”. Ya iyalah, biasanya mah, nahan-nahan buat hemat kalau mau makan di tempat ini. Tapi kali ini, atas izin Allah, kami dipertemukan dengan beliau berdua. Karena ini juga, saya dan Reja gak jadi ke PEKARA, mungkin Allah menyuruh kita untuk makan di KFC yang udah pasti halalnya. Bisa jadi.

              Sebelum berpamitan, kami berterima kasih banyak dan mendoakan mereka berdua juga untuk selalu lancar rezeki. Obrolan diatas itu hanya versi singkatnya saja dari obrolan kami. Sebenarnya ilmu dan informasi nya banyak sekali. Tentang TKI yang kerja di Poland yang dulunya ditemui di Singapura, dengan duit pas-pasan berangkat kerja ke Eropa, sekarang sudah punya 2 mobil. Atau tentang orang-orang yang ‘buang paspor’ di Amerika Serikat. Banyak sekali pokoknya. Untungnya, tadi kami di Starbuck sudah mutualan IG, sekalian foto bareng juga. Keren sih mereka, mungkin mereka ini orang terkaya yang pernah duduk semeja dan mengobrol bareng saya. Bener-bener udah financial freedom. Ya, pastinya semua hasil kerja keras. Gak mungkin hidupnya lancar-lancar aja dari awal, pasti udah banyak ujian yang dilalui. Live is never flat, bro!. Beliau juga menawarkan kami untuk mampir ke rumahnya di Solo waktu sudah di Indonesia. “InsyaAllah”, jawab kami. Musim panas ini, mereka bilang akan mengunjungi negara ke-46 dan 47. Afrika Selatan dan Brunei Darussalam. Wah, definisi world traveler yang sebenarnya.



              Kira-kira jam 3.30 sore, kami berangkat ke bandara naik bis. Ada kisah lucu disini, kami ke Bandara naik bis nomor 71, setelah beberapa pemberhentian, sesuai arahan Google, kami turun dan berjalan ke arah dalam tanda kutip, ‘Airport City Belgrade’. Benar, ada plang petunjuk masuk kedalam untuk pergi ke ‘Airport City Belgrade’. Tapi kok aneh ya, pertama, kayaknya jarak dari kota ke bandara gak sedekat ini. Kedua, kok bandara ini gak ada lahan kosong. Bandara mana yang gak ada lahan parkir pesawatnya coba?😅 Ternyata, setelah kami tanya orang sekitar, kami salah tujuan. Memang iya, ini tuh bandara, tapi sudah tidak beroperasi lagi sejak 1962. Kini, tempat ini berfunsi sebagai business park dan commercial neighborhood. Tapi namanya tetap sama, gak berubah; ‘Airport City Belgrade’.

              “Who told you the airport is here? Whom did you asked to?”

              “Google told us😅

              “Awsh*t, F**k Google. No, Here is not the airport which you want to go to. The airport is about 10 KM from here. You can go by bus number 72. İt goes straight to the Airport. When is your flight?”

              “7 PM”

              “Aaa, you still have time”

              “Thanks for the information, sir”

              Begitulah kira-kira percakapan kami dengan dua orang bapak-bapak yang kami temui. Memang benar sih, dari awal juga sebenarnya kami kurang yakin. Kami dari bandara ke kota kemarin kan naik bus nomor 72. Harusnya ke arah sebaliknya pun pakai bus dengan nomor 72 juga, Bukan 71. Tapi Alhamdulillahnya, di pinggir jalan tampat kami turun dari bus sebelumnya, merupakan jalur untuk bus nomor 72 juga. Setelah menunggu beberapa menit, bus kami datang. Barulah ini yang benar. Karena perjalanannya cukup lama. Belasan pemberhentian kami lewati. Jam 5 sore kami baru sampai. Setelah kami check-in kedalam. Kami segera berwudu dan sholat di kursi ruang tunggu, karena sepertinya tidak ada masjid atau mushola disini. Sambil menunggu, kami makan chicken sisa tadi siang. Tuh, saking banyaknya pun belum abis chicken kami😅. Jam 7 pas, pesawat kami berangkat. Kami naik pesawat yang sama, Anadolu Jet. Tapi sekarang, penumpang nya jauh lebih sedikit dari saat kami berangkat. Sangat banyak seat yang kosong di depan maupun belakang kami. Dari langit kami ucapkan, “Good bye, Serbia! Thank you for the moments.”


              Jam 11 malam, kami sampai di bandara Esenboğa, Ankara. Kami ditahan beberapa lama di imigrasi. Tebakan kami benar, kami ditanya kenapa kesini, sedangkan visa sudah abis dan belum ada kartu izin tinggal. Kami jawab pakai jawaban kedua dari Turkiye Konsosluk kemarin. Dalam waktu 10 hari, kami akan meng-apply izin tinggal kembali. Barulah setelah mendengar jawaban itu, kami diberi surat dan diperbolehkan untuk lewat. Karena bus Belko air sudah tidak beroperasi saat ini, mau gak mau kami naik taksi ke otogar. Kami berlima langsung naik di satu taksi yang sama. Awalnya supir taksi menolak, katanya maksimal penumpang 4 orang. Tapi setelah saya bilang, nanti akan kami tambah bayarannya, barulah dia mau. Sesampainya di otogar, tanpa lama menunggu, kami langsung pesan tiket ke Eskisehir jam 01.30 AM. Sambil menunggu bus datang, kami memakan burger yang sudah dibelikan di KFC tadi. Dan rasanya, enak banget guys😂👍. Mungkin karena saya jarang atau mungkin gak pernah beli burger mahal kali ya.

              Jam 1.30 dini hari, bus kami berangkat. Perjalanan kira-kira menghabiskan waktu 3 jam 30 menit. Sialnya, duduk di bus dalam kondisi capek dan sudah malam ini juga, saya gak bisa tidur. Karena tangisan bayi yang gak berhenti-berhenti. Ya Allah, pengen tidur😭. Mau kesel tapi ya gimana, masih bayi🤣.

              Singkat cerita, kami sampai di terminal Eskisehir jam 5 pagi, belum subuh, karena subuh jam 6. Sangat tepat waktu sekali. Kenapa tepat waktu banget sih, ucap kami. Karena masih jam 5, tramvay belum beroperasi. Masa harus naik taksi lagi sih? Mau gak mau nunggu dulu sampai tramvay nya datang. Alhamdulillah tanpa menunggu lama, jam 5.30 pagi, sudah ada tramvay yang jalan. Saya langsung pulang kerumah. Pagi itu, setelah solat subuh dan menaruh barang-barang, saya langsung terkapar diatas kasur.

              Fiuh, perjalanan saya ke Serbia cukup disini, guys! Menarik gak menurut kalian? Bagi saya pribadi, walaupun liburan ini tanpa ada rencana yang matang, bahkan terkesan mendadak. Pesan tiket pun h-1 keberangkatan. Tapi, anyway, jalan-jalan kali ini cukup berkesan. Kami sendiri memaknai perjalanan kami ke Serbia ini sebagai kunci awal untuk menjelajahi negara lainnya, khususnya Eropa. In case, kalau kita gak memasukkan Turki sebagai Eropa ya. Karena Turki masih setengah Asia, setengah Eropa. Ada di tengah-tengahnya. Sedangkan Serbia ini sudah sepenuhnya masuk kedalam benua Eropa. Baik wilayah maupun kulturnya. Ditambah ketemu sama pasangan World Traveler kemarin, hasrat menjelajahi dunia sangat bertambah.

              Dalam salah satu ayat Al-Qur’an juga, dalam surah Al-Mulk ayat ke-15, berbunyi,

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

              Jadi gimana teman-teman? Makasih sudah baca cerita ini sampai habis ya. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di cerita berikutnya😁✌.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?