Indahnya Van Gölü, ini Turki apa Greenland? Kok Keren Amat?
Van-Erzurum, 19-26 Februari 2024
Destinasi
paling indah yang pernah saya kunjungi di Turki jatuh ke, Van Gölü. Bukan tanpa alasan saya memberi ‘gelar’ ini.
Karena kami beneran menyaksikan ciptaan Allah yang begitu indahnya. Danau biru
luas, ditemani view gunung yang terlapisi salju putih, Wah wah, menakjubkan,
sekeren itu loh! Sedikit spoiler di awal ya.... Yuk, kita simak cerita
perjalanan liburan musim dingin 6 hari ini!
Saya yang sebenarnya belum terlalu
fit amat, memaksakan diri untuk berangkat liburan ke Van. Saat itu saya masih
batuk pilek, sehingga sebenarnya baiknya saya masih istirahat lagi. Tapi karena
liburan musim dingin ini sudah lama direncanakan, dan kayaknya gak ada waktu
lain selain tanggal 20 ini perginya, ya sudah, saya rasa, saya harus pergi.
Setidaknya, pusing dan demam sudah turun. Pilek InsyaAllah minum bodrex lama
kelamaan juga hilang. Batuk doang ini yang belum ada tanda-tanda sembuh,
walaupun tenggorokan sakitnya sudah reda, tapi masih sering merasa gatal, jadinya
batuk kering, batuk berdahaknya udah lewat kemarin-kemarin. Saya juga sudah
melewatkan rapat di Istanbul yang bisa jadi sekalian liburan dan ketemu relasi
baru, makanya bed rest seminggu ini saya rasa cukup. Walaupun nampaknya belum
fit 100% sih.
Alasan lainnya adalah, kereta
menuju kota Van (Van Gölü Express) dari Ankara lewat tiap 5 hari sekali.
Jadi pilihannya antara tanggal 20 atau 25 Februari saja. Nah, tadinya saya dan
Reza, sudah pesan tiket tanggal 20, abis itu karena melihat di tanggal 19-23
itu ders kayıt günleri, tanggal ambil matkul dan bayar semester, itu
jadi masalah buat kami. Soalnya di ESOGÜ, bayar semesteran itu di Bank TEB, dan buat mahasiswa asing, harus
bayar secara langsung di cabang bank tersebut. Nah, kalo kita belum bayar, kita
gak bisa ambil matkul, ribet entar masalah kuliah. Akhirnya kami ubah tiketnya
jadi açık bilet (Open Ticket), lalu beli tiket lagi di tanggal 25,
dengan bayarnya pakai tiket açık bilet tadi. Nah,
besok lusanya kami tahu kalau ternyata pembayaran itu bisa dilakukan sejak
tanggal 19 nya, dan ders kayıt bisa menyusul lah online di laptop.
Lagipula minggu depannya masih bisa nyusul ambil matkul yang belum sempat
keambil sebelumnya, nanti saat Ekle-Sil günleri. Kayaknya tanggal 20
Februari ini waktu yang pas deh, supaya kita bisa balik tanggal 25/26 nya
maksimal. Soalnya, ada acara besar di tanggal 6 Maret nanti, Kültür Günü, acara
pentas kebudayaan Indonesia pertama di Eskişehir. Walaupun di tahun-tahun sebelumnya sudah pernah
semacam penampilan budaya Indonesia seperti itu, kita masih tampilnya
bebarengan dengan negara lain. Sedangkan saat ini, kami tampil dengan konsep
full dari kami, isi acara, dana, operator, semua dari kami, kecuali venue acara
yang diurus oleh International Students Club ESOGÜ.
Jadinya, saya dan Reza sebagai Steering Committee-nya perlu membimbing secara
langsung. Kalau kita pergi tanggal 25, dan kembali di awal Maret misalnya,
sangat gak etis sih. Gak berkontribusi sama sekali. Makanya dengan banyak
pertimbangan di atas, kami memutuskan untuk beli tiket lagi di tanggal 20.
Tiket tanggal 25 sebelumnya, kami ubah lagi ke açık bilet berharap bisa ubah jadwal tiket secara gratis
tanpa pengurangan biaya. Tapi gak tau kenapa, beda dari sebelumnya, tiket
tanggal 25 yang sudah diubah ke açık bilet itu gak bisa dipakai untuk
pembayaran, dan gak bisa juga untuk direschedule. Jadinya hangus itu
hitungannya, huhu. Artinya ya, kami seakan jadi bayar dua kali tiketnya. Agak
nyesek sih. Gak lagi-lagi dah açık bilet, gak tau juga cara kerjanya
gimana. Mending reschedule atau cancel kalau gini mah, walaupun
minus 40tl, tapi seenggaknya gak hangus semua, kan. Oh ya, untuk tiketnya dari
Ankara Gar ke Tatvan Gar, -pemberhentian terakhir Van Gölü Express- dengan perjalanan selama sekitar 26
jam, hanya seharga 360tl saja, atau sekitar 180 ribuan saja (kurs Februari
2024). Makanya karena harganya gak terlalu mahal ini juga, hangus tiket jadi
gak terlalu nyesek lah. Kenapa juga seakan kereta jadi satu-satunya opsi ke
kota Van? Soalnya harga bus dan kereta timpang jauh banget. Bus dari Ankara ke
Van termurah, ada di harga 900tl. Apalagi kalau dari Eskişehir, 1200tl. Hemm,
sangat sangat tidak terjangkau untuk mahasiswa kayak kita. Bus juga hanya
sedikit lebih cepat, rata-rata sekitar 17-19,5 jam perjalanannya dari Ankara.
Beda 6-7 jam dengan nambah bayar 3 kali lipat sih, tetap gak worth it ya. Oh
ya, sebenarnya ya, Van Gölü ini opsi alternatif yang kami berdua ambil setelah
sebelumnya kami kalah war tiket Doğu Express, kereta yang paling diminati untuk
perjalanan musim dingin di Turki. Kereta ini berjalan menuju kota Kars, yang
merupakan tempat terakhir pemberhentiannya. Kenapa kami kalah war tiket? Karena
kami gak mau beli tiket sebelum salju pasti turun pada tanggal itu. Alasan
mayoritas orang naik kereta itu ya, karena pemandangan dari keretanya yang
menakjubkan dengan view gunung-gunung salju di kanan-kiri. Nah, kalau salju gak
turun, ya gak asyik dong! Tapi kami gak menyangka sih, ternyata ini opsi
terbaik yang kami ambil. Van Gölü gacor banget!!! Pokoknya kalian baca dan
lihat foto-foto kami di bawah ya. Tapi harus datang di saat yang tepat juga
biar momennya pas. Kapan? Simak ceritanya sampai akhir ya😁.
Setelah mencari-cari
orang yang mau ikut trip backpacker ini bareng kami berdua, kami akhirnya
berhasil membujuk tiga orang untuk ikut trip bersama kami. Ada Alfi, bang Abror, dan Megiz, temannya Reza
yang kuliah di Izmir. Ni orang bakal susah dilupain karena gaya dan
petakilannya😂. Ngakak aja kalau diingat-ingat. Kami berlima
akhirnya pada tanggal 19 malam, setelah sorenya bayar semesteran, berangkat ke
Ankara dan menginap di rumah teman kami. Kami menginap di sana selama semalam,
lalu paginya, baru berangkat ke Van. Sambil memakai masker, saya masuk ke dalam
kereta, menyusul teman-teman lain yang sudah naik mendahului saya. Sebelum ke
stasiun, kami sarapan dulu di rumah, kemudian ke market dan membeli jajanan
dulu sebagai cemilan di kereta. Kami akan seharian di kereta ini, gak mungkin
gak ada yang dikunyah, kan. Oh ya, kereta kami di setiap barisnya terdapat tiga
kursi, dua kursi di kiri yang berdempet, dan satu kursi sendiri. Kami
kebanyakan pilih yang di kursi berdua itu, tapi sendiri-sendiri, supaya ketika
malam ingin tidur, bisa berbaring ke samping, berharap di samping kita kosong.
Di hari pertama perjalanan,
tanggal 20 Februari ini, gak banyak yang bisa saya ceritakan, kecuali, satu
anak kecil yang…… duh ngeselin banget dah, wkwkwk. Berapa kali dia mukul dan
geplak kepala saya. Hadeuh, kepalanya tuh minta digoset emang. Kami ketemu anak
kampret ini di malam hari ketika kami sedang santai dan memesan makanan di
kantin kereta. Untuk harganya gak terlalu beda dengan di luar. Masih termasuk
masuk akal, sih. Saya yang udah lapar banget, beli Kumru, roti isi sosis
potong kecil-kecil dan keju, dengan harga 70/80 tl gitu. Segituan lah harganya
kira-kira, saya gak terlalu ingat. Masih terjangkau lah. Kembali lagi ke bocil
kematian ini😂, awalnya dia datang kepo dengan kamera yang
Reza bawa. Masih kalem, motret-motret sedikit, tapi lama kelamaan ngeselin,
mukul-mukulin, ngeganggu dah. Sampai agak kesel saya, kalau dia ada, saya
pura-pura ke kamar mandi. Lebih baik dah daripada ketemu si bocil, wkwkwk.
Untungnya ketika besok dia pamit ke kita, Alfi sempat menggeplak kepalanya
sekali, Alhamdulillah wkwkwk. Agak kebalas dikit lah dendam saya ke anak ini.
Bercanda ya, guys!😅. Dia turun di kota Muş, dua kota sebelum kota
Van. Sebelum turun, dia sempat bilang, “Görüşürüz” ke kita. Dia
sepertinya pergi dengan ibu atau neneknya dari Ankara ke Muş. Selama
perjalanan, dia keluyuruan mulu. Gangguin kita, main game sama kita, udah nemu
tempat main dan pelampiasan bosen ke kita, kayaknya. Cil, cil, unyeng-unyeng di
kepalamu dua kayaknya, makanya nakal😂.
Persis beberapa jam sebelum kami sampai di Van, kami melewati pemandangan yang sedari kemarin kami tunggu-tunggu. Yups, vibes musim dingin gunung salju. Karena di Eskişehir salju sedang jarang turun karena krisis iklim, jarang nemuin pemandangan full salju begini. Apalagi saljunya turun ke gunung, beh itu pemandangan yang gak ada obat sih. Kami pun ke lorong kereta, ke samping pintu keluar yang berjendela cukup besar, untuk foto dan video pastinya. Saya banyaknya mengandalkan kamera dan HP mereka sih, soalnya HP saya kurang bagus gitu untuk foto maupun video. Sayang, gak sering-sering soalnya. Momen bagus harus terekam dengan kamera yang bagus juga biar pas.
Singkat cerita, setelah total 28
jam naik kereta, ngaret 2 jam keretanya, kami sampai juga di stasiun
terakhir, Tatvan Gar. Aahhhh, senang rasanya.. Akhirnya sampai juga setelah
pegal, batuk pilek tak henti-henti di kereta. Uhuk-uhuk aja saya di kereta tuh,
sampai kesal sendiri jadinya. Tiba-tiba hilang, tiba-tiba kambuh gak
berhenti-berhenti. Hadeuh.
Tatvan Gar, ternyata masih
berjarak sekitar sejam perjalanan ke pusat kota Van. Kami harus naik bus untuk
kesana. Tanpa berpikir panjang, kami langsung naik bus yang tersedia. Karena
memang kedatangan mereka ke stasiun mengikuti kedatangan penumpang dari kereta.
Habis ini, gak bakal ada bus lagi yang ke stasiun soalnya. Ya sudah kami naik,
membayar tiket bus sebesar 150 tl, sekitar 75 ribuan rupiah. Gak terlalu mahal,
masih terjangkau. Bus berjalan, menuju pusat Tatvan terlebih dahulu. Ketika
berhenti sebentar, ada penjual tantuni yang masuk
berjualan ke dalam. Saat saya tanya harganya 60 tl, harga normal, gak mahal,
saya langsung beli satu, Reza juga ikutan, dua jadinya. Lumayan buat pengganjal
lapar, hari ini belum makan makanan berat sama sekali soalnya. Setelah mengisi
perut, melanjutkan perjalanan, mengabadikan momen pemandangan yang kerennya gak
main-main. Gunung salju, dannnn Danau Van yang luas nan indah sudah
terlihat saat ini. Di momen dapat pemandangan yang indah ini, saya video call
dengan kakak saya. Bilang kalau sekarang lagi di Swiss, saya bilang lagi
liburan. Dia langsung percaya setelah saya tunjukkan pemandangan sekitar bus.
Hahaha. Tapi emang vibesnya beneran Eropa banget sih. Gak bo’ong. Emang kalau
saya kemana-mana, travelling gitu, yang saya telpon, video call gitu ya kalau
gak orang tua saya, ya kakak saya. Adik saya lagi di pondok, jadi gak bisa
dipamerin pemandangannya. Saya kan gak punya pasangan, guys. Jadinya mau nelpon
siapa lagi, wkwkwk. Chill out. Sekarang memang lebih pas menghabiskan waktu
bareng teman sih saat-saat umur segini mah.
Singkat cerita, setelah sekitar
sejam perjalanan, kami sampai di otogar kota Van. Dari sana kami naik
bus dalam kota. Kami ikut-ikut aja orang lokal yang turun dari bis yang sama
dengan kami barusan. “Ayo, ikut kalau mau ke kota”, kira-kira begitulah ya
katanya dalam Bahasa Turki, hehe. Awalnya karena kami gak ada duit cash, mau
narik uang di ATM dulu, tapi katanya busnya mau langsung jalan, di beşyol ada kok, kata
dia. Ya udah kami langsung naik aja ke dalam. Setelah
beberapa menit, orang yang bersama kami tadi langsung turun, dan gak bayar
apapun. Loh, ini gratis tah? Kami sampai beberapa menit setelahnya di pusat
kota, nama daerahnya beşyol. Disinilah pusat kota Van. Kami pun turun sama kayak
orang sebelum kami, langsung turun aja, gak bayar. Oalah pantas dia bilang, “di beşyol ada kok”, gitu.
Dikiranya kami mau narik duit cash doang. Padahal niat awalnya kami mau narik
cash itu untuk bayar busnya. Eh, taunya gratis. Gak tau sih beneran gratis atau
nggak. Toh, supirnya gak bilang apa-apa waktu kami turun.
Sesampainya di kota,
hal yang pertama kali kami cari adalah restoran, tentu saja. Tau dah,
orang-orang dah pasti pada kelaparan ini dari pagi belum makan. Saya juga
walaupun udah sedikit ada makanan masuk di bus tadi, tapi masih muat rasanya
perut ini. Pas banget gak jauh dari tempat kami turun, ada restoran yang
menawarkan tavuk döner dan lahmacun yang
murah banget. Jadi di restoran mereka, ada tulisan tavuk döner 30 tl dan lahmacun 20 tl. Selain itu, mereka juga pakai speaker yang suaranya kami masih
ingat sampai sekarang. “Lahmacun, 20 tl. Tavuk döner, sadece ve sadece 30
tl”.... Suara ini terus-terusan terulang di depan restoran mereka. Orang-orang
yang jalan gimana gak tergoda coba, kan. Masuk lah kami ke dalam. Dan memang ya,
menunya murah-murah banget. Apalagi kalau dibandingkan dengan restoran di
Eskişehir, harganya bisa dua kali
lipat lebih murah. Saya memesan ciğer döner, harganya 60 tl
kalau tidak salah. Ciğer döner itu döner yang isinya ati ayam, gitu. Mumpung gak mahal,
jadinya pengen nyobain yang belum pernah dicoba aja. Karena saya udah makan tantuni
tadi di bus, jadinya ciğer döner satu aja yang saya
pesan, menekan budget. Lain halnya dengan teman-teman yang lain. Mereka
langsung pesan tavuk döner dua, lahmacun dua biji. Wkwkwkw. Bang
Abror memesan Tavuk Porsiyon. Murah juga harganya, 75 tl, dah dapat enak
dan kenyang banget. Dia pesan itu gara-gara dia lihat ada orang makan menu ini di
bawah tadi, kok enak -kami makan di lantai dua, btw-. Dan biasanya kan harga
murah tuh porsinya dikit , atau kecil gitu kan ya. Tapi ini nggak loh, tetap
porsi normal, dan rasanya juga enak. Ya, kalau kalian ke Van dan ingin makan
murah tapi tetap kenyang dan enak, bisa mampir ke restoran ini. Gampang aja sih
nyarinya, tinggal pergi ke beşyol, sampai kalian
dengar ada suara speaker, “Lahmacun,
20 tl. Tavuk döner, sadece ve sadece 30 tl”. Gak bakal lupa sama suara sound ini,
wkwkwk.
Habis makan, kami
cari tempat menginap, yang paling murah lah pokoknya. Karena kami gak tau
apa-apa tentang kota ini, dan gak ada teman juga yang pernah kesini, jadinya
kami cari tempat penginapan di aplikasi ‘airbnb’. Tapi lumayan mahal ternyata
harganya buat kami. Per orang minimal harus keluar duit 400-500 tl per
malamnya. Buat kami yang budget tipis, ya tentu saja ini kurang bersahabat.
FYI, Hotel disini kebanyakan kamar yang disewakan seperti ‘apart daire’
dengan kapasitas 4 sampai 5 orang gitu. Nah, kebetulan sebelum ke resto, kami melewati
beberapa hotel di tepi jalan. Jadi kami langsung mau bertanya langsung berapa
harga stay per malamnya. Duh, saya lupa nama hotelnya apa, sih. Saya coba tanya
dulu ke dalam, kalau misal lebih murah daripada yang di airbnb, kita ambil. Dan,
Alhamdulillah, per malamnya 1500 tl, per orang 300 tl berarti( sekitar 150 ribu
rupiah). Langsung kami book untuk satu malam.
Di seberang hotel ini juga ada hotel lain, namanya King Suite Hotel, terus ada
tulisan hotelnya dalam tulisan Arab juga. Rencananya, kalau hotel yang kami
datangi ini mahal, kami coba kesana. Tapi karena masih masuk di budget kami.
Tanpa pikir panjang, kami langsung setuju aja dengan harganya. Apalagi, kita
sudah pada capek dengan perjalanan seharian, kan. Di samping itu, memang hotel
depan itu juga agak gelap kesannya, jadi kurang menarik.
Setelah itu kami
langsung naik ke atas dan masuk ke dalam. Hemmm, terbilang bagus sih dengan
harganya. Worth it lah. Ada dua kamar, dapur, satu kamar mandi, dua sofa, tv,
dan wifi. Alhamdulillah bisa istirahat dengan nyaman malam ini. Awalnya, air
panas dan heater-nya gak menyala. Tapi, setelah diperbaiki oleh
resepsionisnya, semua berfungsi normal kembali. Setelah mandi dan salat, teman-teman saya turun
ke bawah, ke minimarket untuk beli bahan-bahan makanan malam ini (ya, kami mau makan
lagi!😅), dan untuk
sarapan besok pagi. Saya gak ikut karena pilek dan batuk saya masih cukup
parah. Minum tolak angin pun belum terlalu kasih efek. Malam itu kami
makan indomie bareng-bareng, sebagai penutup malam aja. Jadi kan, kami beli
ayam, mie, kecap, minyak, bawang-bawangan, dll. Rencana Megiz mau bikin mie
ayam. Nah, taunya gak ada pisau, minta ke resepsionis juga gak ada. Makanya kami
malam itu makan indomie doang. Mikirin ayamnya besok pagi aja lah. Saya tidur
lebih awal untuk merehatkan badan supaya besok bisa fit lagi. Sedangkan mereka,
masih lanjut main Mobile Legend sampai tengah malam.
Besok pagi, saya
bangun, salat subuh, dan mandi. Saya bagian cuci piring aja. Yang masak untuk
sarapan kali ini, Megiz dibantu sama Alfi. Ajaibnya, bisa dia motong ayam pakai
alat seadanya, motong pakai tangan dibantu sendok-sendok. Dan, mie ayam pun
dihidangkan. Mienya kami pakai spagheti yang murah itu, 7 ribuan dapat banyak. Ada
mie, ayam yang udah dikasih kuah bumbu spesial, dan kuah minyak. Rasanya, beuh
mantap. Enak banget loh, ternyata! Mie ayam Megiz paten kali, wey! Nambah
berkali-kali kami sampai mie ayamnya habis, sampai kami kenyang. Habis makan,
saya minum obat batuk tanpa demam dan bodrex untuk pileknya. Sehabis semua
orang mandi, piring kami cuci, dan kamar sudah kami rapihkan, kami check-out
dari hotel sekitar jam 11 pagi. Cuaca cukup dingin waktu itu. Itinerary kami
kali ini ke Van Kedisi Evi, rumah kucing khas kota Van, warna putih, berbulu
cukup lebat, dan memiliki mata yang unik. Mereka memiliki mata berwarna kuning
di salah satu sisinya, dan berwarna biru di mata satunya lagi. Sebenarnya kami
ini ikut itinerary yang udah dibikin Reza aja sih. Karena dia yang sudah ‘research’
duluan Kota Van ini dan tempat-tempat mana aja yang bisa dikunjungi. Setelah
dari sana, baru lanjut ke destinasi utama, ke Pulau Akdamar di Van Gölü. Malamnya,
rencana kami lanjut ke Van Kalesi, ‘Van Castle’. Kata Reza, view malam disini
bagus. Yuk berangkat!!
Sebelum berangkat, kami beli kartu
transportasinya dulu. Kartu Van bagus dan lucu bentuknya. Cocok buat koleksian.
Tapi saya gak beli, dompet kartu saya sudah penuh. Jadinya, saya numpang isi saldo
ke kartu Reza aja. Sebuah tips dari kami guys, kalau ke Van, mau beli kartunya
gapapa, tapi isi saldonya gak usah banyak-banyak. Soalnya kemana-mana naik
dolmuş(angkot), persis kayak di Sakarya. Kami terhitung cuman satu kali pakai
kartunya untuk naik bus, waktu ke otogar di malam hari ini. Sisanya naik
‘angkot’ dan bayarnya pakai cash. Kita lanjutkan perjalanan!
Jarak dari beşyol ke rumah kucing gak terlalu jauh. Sekitar 10 menitan seingat saya. Untuk ke sini kalian bisa naik angkot yang tujuannya ke Kale (Van Kalesi). Rumah kucing ada di beberapa ratus meter sebelum Kale. Atau kalau mau nunggu bus juga bisa. Van seperti kota besar lainnya punya aplikasi transportasi yang bisa kasih kita petunjuk naik bus nomor berapa, busnya masih jauh atau nggak, bisa kita lihat di aplikasi ‘Belvan Kart’ atau aplikasi resmi kota Van, ‘Van Büyükşehir’. Singkat cerita, kami pun sampai di tempat tujuan. Tempatnya kayak di rumah orang kaya gitu, kayu-kayuan. Ternyata itu tempat kerajinan, guys. Banyak barang oleh-oleh kota Van yang dijual disana. Nah, disamping ‘rumah’ tadi itu baru tuh, rumah kucing yang dimaksud. Tempatnya luas, ada dua lantai, tapi sebagian besar kucingnya ada di lantai satu. Di lantai satu selain tempat utama kucing-kucing ini tidur, bersantai, dan makan, ada satu ruangan yang gak dibatasi oleh pintu, ruangan tempat bermain. Sudah kayak ruangan TK/PAUD menurut saya😅. Ruangan ini full kaca di bagian sampingnya sehingga bisa dilihat dengan jelas aktivitas kucing ini dari luar. Untuk bisa masuk, kita harus membayar biaya sebesar 30 tl atau 15 ribuan rupiah. Nanti kita akan di kasih plastik yang melapisi sepatu kita sebagai alas kaki biar lantainya gak kotor. Lalu, kita juga akan diberi semangkuk kecil ‘wishkas’ untuk diberi makan ke kucing-kucing lucu nan imut ini. Ternyata beneran matanya beda warna, loh. Biru dan kuning seperti gambar kucing yang ada di kartu bus kota Van. Walaupun, gak semuanya beda warna matanya. Tapi gapapa, mata full biru juga udah gemes. Saya yang kadang masih batuk-pilek-bersin, masuk ke dalam pakai masker. Sesekali buka buat foto doang. Setelah sekitar hampir sejam bermain dan berfoto bareng kucing ini, saya keluar dari ruangan. Lebih dulu daripada yang lain, karena saya batuk terus di dalam. Saya keluar, langsung bersin dan batuk-batuk yang sudah ditahan sedari tadi. Setelah 5 menit, teman-teman saya yang lain juga ikut keluar. Kami langsung dibersihkan pakai sisir pengambil bulu kucing yang di-roll ke pakaian kami yang masih tertempel bulu kucingnya. Worth sih, untuk ke sini untuk lihat kucing lucu dan unik ini. Saya terganggu dengan batuk aja sebenarnya.
Masih
jam 12, karena merasa masih lama jadwal berangkat ke Akdamar, kami dahulukan
untuk pergi ke Van Kalesi terlebih dahulu. Jaraknya tidak terlalu jauh,
kami berjalan beberapa ratus meter saja ke sana. Setelah sekitar 5-10 menit
jalan kaki, kami sampai di samping jalan di depan Kale. Tapi kami
bingung mau naiknya bagaimana. Karena sepertinya tidak ada petunjuk khusus dari
mana sebenarnya tempat ini bisa dinaiki. Sedikit gambaran, kami ada di samping
jalan, di samping kiri kami, ada taman, sebagaimana taman umumnya, bersebelahan
pas dengan Kale. Tapi sepertinya bukan jalur resmi untuk naik ke atas. Karena
lama bingung, kami akhirnya melewati pagar hitam yang masuk ke taman itu.
Sepertinya naiknya dari sini deh, kayaknya. Pas ketika kami masuk dari pagar
itu, ada salah seorang yang menghampiri kami. Sepertinya orang ini dari etnis
kurdi, karena pengucapan bahasa Turki dan fisiknya yang sedikit berbeda dari
orang Turki kebanyakan. Entah dia adalah orang dari negara tetangga sebelah
yang kabur ke sini, atau memang dia orang Turki yang beretnis kurdi, kami pun
tak tau. Awalnya kami mengikuti dia, lalu tiba-tiba dari atas ada orang yang
memberi isyarat agar kami gak mengikuti dia. Dia membentuk tanda silang di
tangannya. Dari situ kami ragu tuh, akhirnya kami balik lagi ke jalan,
meninggalkan orang itu.
Kami akhirnya mencoba menyusuri
jalan, mencari tau sebenarnya Kale ini tuh naiknya dari mana sih. Akhirnya
setelah kami berjalan beberapa meter ke depan, ada pos satpam disitu. Di sana
kami bertanya pada salah satu security, dia bilang kalau kami bisa naik baik
dari kiri maupun kanan. Yang kiri (tempat kami tadi) itu gratis kalau mau naik
dari sana. Sedangkan ke arah kanan, lurus lagi ke depan, itu tempat masuk
resmi, tapi masuk lewat sana, dikenai biaya 60-70 tl kalau tidak salah. Ya
sudah kami menuju terus ke depan, lebih baik bayar 60 tl dengan aman, daripada
di kiri tadi rasanya kok bahaya gitu. Soalnya kami tau, Van itu terletak di Timur
Turki, dekat dengan perbatasan Iran, dan juga daerah perbatasan Timur itu
identik dengan PKK, kelompok separatis Kurdi yang meminta berpisah dengan
Republik Turki. Sebenarnya agak berlebihan kalau berpikiran sampai ke sana ya.
Cuman ya safety first aja lah. Lanjut, setelah jalan sedikit, ada gerbang hitam
di kiri jalan. Sepertinya ini deh gerbang masuknya. Tapi kok malah tutup, dan
kayaknya gak ada pengunjung yang masuk dari sini. Duh, darimana sih sebenarnya
naiknya? Akhirnya kami putuskan untuk balik ke sisi kiri Kale lagi. Gapapa deh
kayaknya langsung naik aja, tanpa menggubris orang tadi.
Singkat cerita, kami balik lagi ke
tempat tadi, dan orang itu masih ada disana. Kami ketemu sama dia, dan seperti
tadi, dia menuntun kami untuk naik ke atas. Tapi saat kami hendak naik, orang
yang sama yang memperingati kami tadi pula, kembali memberi isyarat ke kami
untuk tidak naik, dia lalu bilang, “No, no, he is dangerous people”, kata dia.
Selain dia, ada beberapa orang juga di dekat orang itu, melihat ke kami. Karena
ragu sekali lagi, akhirnya sudahlah, putar balik aja. “Udahlah wey, balik aja
lah, daripada ditembak kita”, kata saya. Saya bicara itu bercanda campur agak
takut dikit sebenarnya. Kami akhirnya balik ke jalan. Di situ, orang yang
menuntun kami tadi sepertinya kesal dengan orang yang memperingati kami di atas
itu. Mereka berbicara pakai bahasa mereka, yang bukan Bahasa Turki ya,
pastinya. “Lu bilang apa bang ke mereka?”, kira-kira gitulah katanya, wkwkwk. Kami
juga diminta untuk bayar sama dia di awal, awalnya kami bilang lewat sini
gratis kok, gitu kan. Tapi dia bilang, nggak, di sini bayar. Kalian 5 orang,
100 tl lah kata dia. Berarti kan, dari awal, si pengangguran ini udah pungli,
dan gak ada jaminan juga kita di atas nanti bakal di pungliin lagi kan.
Makanya, kami daripada kenapa-kenapa, mending langsung pergi aja dah. Kale nya
nanti malam aja habis dari Akdamar.
Dari Van Kalesi kami ke otogar
naik dolmuş.
Di situ, saya tanya ke supirnya, sebenarnya masuk ke Kale itu darimana sih?
Masih penasaran nih saya ceritanya. Kata dia, disana, sambil nunjuk ke arah
jalan. Sepertinya memang bukan gerbang hitam yang tadi, tapi ke depannya lagi. Berarti
kami kurang jalan ke depan. Kami juga diberi tahu kalau Kalenya buka sampai jam
11 malam. Masih ada waktu berarti, sampai kami berangkat malam ini ke Erzurum.
Setelah jam setengah
1, kami sampai di otogar. Tadinya kami mengira kalau mobil yang menuju
ke Akdamar hanya berangkat di jam tertentu saja, dan jadwal paling dekat adalah
jam 14.30, menurut perkiraan kami. Taunya kami salah. Mobil berangkat tiap
jamnya, dan memang di şehir içi terminal (terminal dalam kota), ada banyak minibus yang bertujuan ke sana.
Setelah bertanya harga, dirasa untuk kami cocok, 45 tl, kami langsung naik ke
dalam mobil. Kami membawa tas masuk ke dalam, kecuali Megiz yang menitipkan
kopernya pada supir atau kernet mobilnya. Nanti diambil ketika sudah balik ke
sini lagi. Kami sampai di tepi danau Van sekitar jam 2 setelah sekitar 45
menitan perjalanan dari otogar. Untuk menuju pulau Akdamar sendiri, kita
harus menyebrang danau menggunakan kapal. Biaya kapalnya relatif murah, 180 tl
sudah termasuk pulang-pergi. Kami waktu itu tidak langsung berangkat, tapi
menunggu rombongan yang lain terlebih dahulu. Ada sekitar setengah jam kami
menunggu. Kami menghabiskan waktu menunggu ini dengan foto-foto di sekitar.
Karena langit cerah dan di latar belakangi gunung salju, view yang didapat pun
sangat cantik. Setelah foto-foto, kami ke café, meminum segelas teh. Jam
setengah 3 siang, kapal kami baru berangkat.
Oh ya, pulau Akdamar ini terkenal
dengan Gereja Katedralnya, yang terletak di tengah pulau. Sedikit info sejarah
tentang Gereja Katedral ini,
Gereja ini dibangun oleh Arsitek Manuel pada rentang antara tahun 915-921 M
atas perintah Raja Gagik I. Gereja ini dianggap sebagai seni Armenia abad
pertengahan yang paling cemerlang dari segi arsitektur. Setelah berjalannya
waktu, gereja ini mengalami beberapa perbaikan dan penambahan bagian, seperti
penambahan kapel dan pembangunan menara lonceng. Setelah terbengkalai selama
beberapa dekade, gereja ini dibuka kembali sebagai museum oleh Kementrian
Budaya dan Pariwisata Republik Turki pada tahun 2007, setelah dilakukan
restorasi. Restorasi ini dilakukan sebagai upaya perbaikan hubungan dengan
orang Armenia di Turki, dan negara Armenia sendiri tentunya. Ada juga cerita
menarik yang berkaitan dengan penamaan Akdamar adası (Pulau
Akdamar) ini. Menurut cerita rakyat setempat, dulu, ada seorang pendeta di
pulau ini yang memiliki putri yang cantik yang bernama, ‘Tamara’. Dikisahkan
ketika itu, ada salah satu pemuda yang bekerja sebagai penggembala di
desa-desa, jatuh cinta pada putri pendeta tersebut. Maka setiap malam, ia
berenang ke pulau untuk bertemu dengan Tamara. Biasanya, Tamara akan
menunggunya dengan senter untuk menunjukkan lokasi dirinya di kegelapan malam.
Mengetahui hal ini, Sang pendeta memutuskan untuk mempermainkan Sang pemuda.
Pada suatu malam yang dimana terjadi badai ketika itu, ia membawa senter ke
ujung pulau sambil terus berpindah tempat. Hal ini menyebabkan Sang pemuda
kelelahan dan akhirnya tenggelam ke dalam danau. Sebelum tenggelam, dia
berteriak, “Ah Tamara!”, mendengar itu, Sang putri langsung menjeburkan
dirinya ke dalam danau. Dari kata ‘Ah Tamara’ inilah kata Akdamar berasal.
Meskipun secara umum lebih dikenal dengan nama Pulau Akdamar, tapi tanda nama
yang terpasang di sekitar pulau, tertulis dengan nama ‘Pulau Ahtamar’. Mungkin
karena lebih gampang diingat dan diucapkan, kata Ahtamar berubah pelan-pelan
menjadi Akdamar oleh masyarakat umum. Legenda ini sangat terkenal sebagaimana
disampaikan pula oleh seorang penyair Armenia, Hovhannes Tumanyan dalam
ceritanya. Namun, ini hanyalah sebuah cerita rakyat belaka yang tidak bisa
disandarkan keabsahannya. Tapi, tak bisa dipungkiri kalau cerita ini membuat
Pulau Akdamar menjadi lebih menarik, kan?!
Saat
menaiki kapal inilah, perjalanan sehari full kami di kereta, uang ratusan ribu
rupiah yang sudah kami keluarkan, benar-benar terbayarkan. Kami benar-benar
datang ke Van di saat yang tepat. Langit cerah, sedikit berangin, danau luas
berwarna biru dihiasi oleh view gunung salju di sekitar. Gacorr bangettt. Ini
merupakan pemandangan terindah yang pernah saya lihat secara langsung.
Benar-benar vibes Eropanya dapat. Momennya benar-benar dapat sih. Di atas
kapal, kami dokumentasi ambil foto, video, sendiri, maupun bareng-bareng.
MasyaAllah, ini Turki apa Greenland ya? Kalau ada waktu dan rezeki, kalian
harus kesini, guys! Terutama untuk mahasiswa Turki, 4-5 tahun kalian di sini,
tapi gak ke Van Gölü tuh rasanya
rugi banget. Ada sekitar setengah jam kapal berlayar sebelum sampai ke pulau.
Sebelum 30 menit juga kami sudah turun dan masuk ke dalam kapal karena
kedinginan. Apalagi saya yang masih batuk-batuk. Duh, untung bawa handwarmer
yang dikasih oleh jamaah kemarin. Jadinya genggam sebentar saja, panas
langsung keluar dari benda itu.
Akhirnya, kami sampai di tepi pulau Akdamar atau Ahtamar ini. Kami diberi waktu satu jam untuk mengeksplorasi pulau kecil ini, sebelum kapal kami kembali daratan utama. Untuk masuk ke pulau ini, ada tiket yang harus dibeli. Kami, mahasiswa yang memang sudah memiliki MuzeKart sebelumnya, langsung meng-scan barcode kartu kami saja, kamudian langsung diperbolehkan lewat, naik ke tangga. Hanya Alfi saja tuh yang belum punya. Jadinya, kami menunggu dia dulu beli kartunya, 60 tl. Memang priviledge pelajar di Turki ini besar banget terutama untuk menikmati fasilitas publik. Dengan kartu 60 tl ini aja kami sudah bisa berkunjung ke banyak museum dan situs-situs budaya dan sejarah, hanya dengan sekali bayar saja. Semoga Indonesia suatu saat nanti bakal memberikan priviledge serupa ke pelajarnya, Aamiin.
Pertama-tama,
kami menaiki tangga, menuju ke atas, ada spot foto yang bagus disana. Foto di
tangga dengan latar belakang gereja juga bagus, loh. Oh ya, pulau ini memiliki fasilitas
cukup lengkap dengan menyediakan musholla dan WC gratis bagi para pengunjung.
Jadi, buat kalian gak perlu khawatir gak ada WC dan tempat salat di sini,
karena semua sudah tersedia. Sayangnya, batuk saya kambuh lagi lebih parah. Gak
berhenti-berhenti uhuk-uhuk, ada rasa gatal gitu di tenggorokan, batuknya
kering gak berdahak, jadinya lama buat sembuh. Ketika saya gak batuk-batuk ini
lah, saya ambil foto-fotonya. Capek sendiri saya meladeni batuk ini. Dah lah.
Setelah foto berlima bareng-bareng, kami pergi ke arah gereja dan foto di depan
gereja itu. Kami tidak foto di depannya langsung, tapi naik lebih dulu ke atas
labirin (atau apalah namanya, bentuknya seperti labirin kecil), berdiri dan
berfoto di situ. Setelahnya, kami baru menuju ke pintu masuk gereja ini.
Sebelum itu, saya menelpon keluarga saya terlebih dahulu seperti biasa kalau menemukan
tempat bagus. Mama dan kakak saya yang mengangkat telfon. Kami video call,
sambil saya menunjukkan pemandangan cantik di sekitar pulau. Mereka langsung
takjub melihat view yang emang MasyaAllah banget ini, “Kapan ya bisa ke
Turki?”, kata Mama saya. InsyaAllah kalau ada rezeki, kata saya. Tapi kalaupun
ke Turki gak bakal ke Van sih, jarang tur turis internasional yang sampai ke
sini. Palingan mentok ke Kapadokya. Tapi itu pun udah bagus banget sih (lihat tulisan
saya sebelumnya). Kakak saya juga sudah berulang kali bilang bakal bulan madu
di Turki sama calon istrinya. Ya udah selama saya masih pelajar di sini dan
dapat izin tinggal mah, hayuk aja kita guide-keun!
Lanjut, kami masuk ke dalam gereja. Karena pintunya yang pendek, kepala saya kejedug, terbentur ke sisi atas pintu. Aduh, sakitnya... Ada-ada aja lah. Masuk ke dalam, ada lukisan Bunda Maria dan mimbar di sana. Kami pun tak lupa mengambil foto di situ. Saat ini, nampaknya gereja ini hanya jadi museum saja. Sepertinya tidak ada aktivitas kegerejaan rutin lagi di sini. Mungkin kalaupun ada itu sifatnya tahunan atau di event-event tertentu saja. Setelah dari gereja, kami coba menghabiskan waktu dengan mengabadikan momen di tempat-tempat yang bisa dijadikan spot foto yang bagus. Karena sudah lewat satu jam dan belum kunjung ada panggilan dari kapal, kami akhirnya salat jamak dzuhur-ashar terlebih dahulu. Setelah salat, barulah para penumpang, mulai kembali ke kapal. Di perjalanan pulang, karena sudah cukup lelah dan kedinginan, kami tak banyak mengambil foto dan video di luar. Para pengunjung lain juga seperti kami, beristirahat di dalam kapal. Teman-teman yang lain pada tidur tuh karena pada capek. Saya masih menghangatkan diri sambil memegang handwarmer di tangan. Sampai tiba di dermaga pun, saya masih terjaga, gak bisa tidur.
Sesampainya di sana, kami menunggu
jemputan dari minibus kami sebelumnya. Sambil menunggu, kita memesan teh di
tempat yang sama dengan sebelum berangkat tadi. Ahhh, hangatnya... Emang
dingin-dingin gini, teh hangat ampuh jadi obat. 15 tl untuk secangkirnya, masih
harga yang wajar. Belum saya habiskan tehnya, eh mobilnya datang. Langsung saya
teguk sampai habis dan bayar ke abi-abi çay nya, lalu langsung jalan
menuju mobil yang sudah menunggu. Biaya yang kami bayarkan sama saja, 45 tl sampai ke otogar. Banyak
dari kami yang tidur lagi di minibus ini. Setelah sekitar 30-45 menit berlalu,
kami sampai di kota, tepatnya di beşyol. Karena kami sudah
kelaparan, kami turun langsung di kota. Sampai lupa satu hal penting. Apa itu?
Nanti kami baru sadar. Kami awalnya mau ke restoran yang kemarin, tapi gak jadi
begitu lihat restoran döner dı tepi jalan. Kami kompak beli hatay üsülü döner, seperti biasa pula saya beli yang zurna,
yang ukurannya jauh lebih besar dari yang biasa. Sekitar satu jam lebih kami di
restoran, sambil mencharge hp, sambil menghangatkan badan pula. Kami berencana
untuk langsung berangkat ke Erzurum malam ini juga. Bus dijadwalkan berangkat
jam 10, kalau masih sempat, kami ingin kembali ke Van Kalesi lagi, menuntaskan
itinerary kami di Van. Tinggal itu doang soalnya yang belum terceklis.
Tapi saking lama nya kami di restoran, tau-tau udah jam 8 lewat aja. Akhirnya
setelah pikir-pikir, bakal makan waktu lama untuk pp ke Kale-nya, kami
memutuskan untuk langsung berangkat ke otogar saja. Lagipula udah puas
banget di Van Gölü tadi, di
samping kami juga yang udah kecapekan sih. Demi mengurangi saldo yang ada di
kartu transportasi kami, kami bela-belain cari bus yang lewat menuju otogar.
Sayang aja gitu kalau gak dipake. Tak lama kemudian bus yang kami tunggu lewat
juga. Benar-benar puas sih liburan di Van. Planning sebulan ke belakang
benar-benar terbayar sudah dengan keindahan alam kota ini. Malam ini kami akan
meninggalkan kota ini. Harusnya sih begitu.....
Ketika sampai di otogar,
hal yang pertama kami tuju adalah şehir içi terminalı, tempat
kami naik minibus ke Akdamar tadi siang. Untuk apa ke sana? Untuk ambil
kopernya Megiz. Ini yang kami lupa, kecuali dia sendiri yang ingat. Dan
ternyata, sayangnya terminal kota sudah gelap, kosong, gak ada orang. Kami
sebelumnya mengira kalau terminalnya bakal buka 24 jam atau seenggaknya sampai
malam gitu, ternyata buka cuman sampai maghrib doang. Waduh, gimana nih? Kami
akhirnya pergi ke terminal utama, şehirler arası terminalı, terminal antar kota yang buka 24 jam, siapa tau, kopernya Megiz
dititipkan di sana. Setelah mondar-mandir cek, tanya sana-sini, kami belum
menemukan kopernya juga, kami akhirnya ditanya seorang polisi disana, kami
sedang mencari apa. Setelah saya menjelaskan kalau teman kami kopernya ‘hilang’
sepulang dari Akdamar. Saya cerita kalau kami tadi siang pergi ke pulau
Akdamar, lalu teman kami, si Megiz yang bawa koper, menitipkan kopernya ke
supir, yang kemudian sepertinya ditaruh di dalam terminal. Bukan, bukan hilang
karena dicuri, kami yakin kopernya ada, tapi gak tau dimana. Sepertinya sih ada
di dalam terminal. Kita juga gak bisa berangkat ke Erzurum kalau kopernya belum
kami temukan. Kami memang gak ada rencana balik lagi ke sini, karena jauh
banget kan. Akhirnya sama pak polisi, kami diajak ke ruang CCTV, di dalam kami
mengecek bareng-bareng rekaman CCTV tadi siang di tempat kami naik minibus.
Asli, ini effortnya keren sih polisinya. Pengalaman saya di Eskisehir,
Istanbul, dan Ankara, polisi yang jaga tempat yang ber-CCTV, ribet, dan gak to
the point. Kayak seakan gak ada gunanya itu CCTV. Tapi ini, kami sampai
mengecek bareng di ruangannya, respect pak Pol! Di sela-sela itu, kami
mengobrol dengan polisi lainnya yang juga bertugas di ruangan itu. Sekedar
berbincang, dari mana asal, Indonesia bagaimana, ekonominya bagaimana, kenapa
kuliah di sini? Kata kami, karena murah. Iya kan, mungkin biaya hidup di Turki
lebih tinggi, tapi gak jauh-jauh amat sama di Indonesia. Tapi kalau biaya
kuliah, disini dengan fasilitas yang jauh lebih bagus dan priviledge-nya, Turki
jauh lebih murah. Dengan biaya semesteran 3-6 jutaan, fasilitas kampus sudah
sangat baik, dan dengan hidup di luar negeri, kesempatan dunia karir kami makin
terbuka. Tapi itu tergantung orangnya juga sih mau memanfaatkan itu atau nggak.
Lalu, kemudian kami juga ditanya, kalian mahasiswa, ngapain datang ke Van,
emang di kota ini ada apa? Lah, pake nanya, itu Van Gölü indah banget pak😂! Emang
disana gak dingin? Nggak, lumayan dingin sih, tapi gak terlalu. Memang kami
datang di saat yang paling tepat, sih. Gak terlalu dingin, cerah, gunung masih
berlapis salju putih. Perfect. Ya mungkin karena orang lokal tiap hari lewat
jadinya biasa aja. Tapi bagi kita para traveler, turis yang datang jauh dari
tempat lain, ya menganggap tempat ini tuh, Wonderful ful ful ful😂.
Singkat cerita, setelah memutar
ulang rekaman CCTV di jam dan tempat yang sama dengan ketika kami naik
minibusnya, terungkaplah kalau memang koper yang dititipkan langsung dibawa
masuk ke dalam, dititipkan di sana di sebuah warung (büfe) di dalam terminal. Awalnya pak Polisi coba
menelpon orang terminal yang megang kunci terminalnya, apa bisa datang malam
ini untuk mengambil koper kami. Tapi sepertinya tidak bisa, kami baru bisa
mengambilnya besok pagi, ketika terminalnya dibuka kembali. Sambil menunggu
hari esok, kami disuruh tidur di terminal saja, di bangku. Saya, yang masih
flu-batuk, dan melihat kita semua pada capek juga ya, mumpung masih jam 10
malam, belum terlalu malam, menyarankan agar sebaiknya kita kembali ke Merkez
kota Van, cari hotel atau penginapan murah lagi, terus istirahat di sana, besok
paginya kembali ke Van Kalesi, menyelesaikan itinerary kita yang belum terceklis.
Ketika yang lain setuju, kami langsung mengabari pak Polisi tadi kalau kami
akan menginap di penginapan di kota. Dia kemudian meminta kami untuk datang
besok pagi-pagi. Duh, kalau pagi gak ‘pw’ ini istirahatnya pak, bisa nggak
siang? Hehe. Soalnya kami berencana ke Erzurumnya di siang hari. Tapi beliau
tetap meminta kami untuk datang pagi-pagi jam 8 esok hari. Oke, akhirnya ya,
biar Megiz aja yang ke terminal besok, kami tunggu balik di hotel. Yakin sih soalnya
jam segitu masih pada urang-aring di kasur. Megiz ya mau gak mau harus keluar
pagi-pagi ke terminal, jangan sampai bikin Pak Pol yang udah bantuin kita ini
nungguin kita lama-lama.
Kami kemudian naik angkot ke beşyol, mencari hotel yang
lebih murah daripada yang kemarin. Tapi kalau misalkan tidak ada, ya
seenggaknya harganya sama, atau ya balik lagi aja ke hotel kemarin yang sudah
positif bagus. Di tempat kami turun, ada hotel di sudut jalan, sepertinya
mirip-mirip apartemen gitu seperti hotel kami yang kemarin. Akhirnya, seperti
biasa, saya lagi lah yang masuk dan tanya ke dalam, per malamnya berapa untuk 5
orang. Ternyata sama saja, 300 tl per kepala. Dia bilang, hotel yang paling
murah ya segini, kata dia. Kemudian dia menambahkan, kalau 300 tl ini sudah
include sarapan. Oh, oke, karena ada sarapan besok pagi, kami langsung setuju.
Mereka tidak menerima pembayaran selain cash, jadi saya harus ke ATM dulu untuk
menarik uang. Kamar kami ada di lantai 3, kamar kami berisikan 5 kasur, satu
lemari besar, dan satu kamar mandi. Yah lumayan lah, ‘fena değil’. Karena mereka gak ada menyediakan dapur ini lah, makanya mereka
menyediakan sarapan. Ya, kami juga udah terlalu capek untuk masak. Setelah
bersih-bersih badan, salat, saya minum obat, lalu tidur.
Pagi-pagi saya Salat Subuh, Megiz
gak ada, bang Abror juga gak ada. Sepertinya dia meminta bang Abror untuk
temani. Wajar kan, dia masih baru di Turki, bahasa Turki masih belum terlalu
lancar. Habis salat, saya tidur lagi sampai jam setengah 9, waktu kami sarapan
tiba. Bangun tidur, saya langsung pergi ke ruangan makan di lantai paling atas,
menyusul yang lain yang sudah berangkat ke sana duluan. Sarapan orang Turki
pada umumnya, roti, selai, madu, keju, telur rebus, lalu ada teh hangat yang
selalu menemani hari-hari orang Turki. Kejunya hambar menurut lidah kami, jadi
ya kami mengambil telur rebus dua butir dan roti yang dicocol ke madu selai. Ya
walaupun gak kenyang-kenyang amat, seenggaknya bisa mengganjal perut sampai
siang nanti. Ketika kami sudah menghabiskan makanan kami, selagi kami minum
teh, Alfi baru datang, baru mengambil makanan. Dia memang jadi orang yang
terakhir bangun pagi ini. Wong dia main ML ntah sampai jam berapa tadi
malam, hadeuh. Di luar hujan gerimis, membuat cuaca semakin dingin. Jadwal
check-out kami jam 11 pagi, dan sepertinya kami tidak akan keluar lebih cepat
dari itu. Waktu menunjukkan pukul 9.30 TRT, masih ada satu setengah jam lagi
sampai kami harus keluar dari sini. Sebagian dari kami tidur lagi, yang lain
main HP, sedangkan saya curi start mandi lebih dulu. Satu jam lebih berlalu,
ketika yang lain sudah pada mandi, Alfi masih turu di kasur. Jam 10.50,
pintu kamar kami diketuk, menanyakan pada kami, kapan akan keluar, karena
kamarnya akan dibersihkan.
“Fi, bangun, fi, udah diketuk abla nya loh kita, dia udah mau
bersihin kamarnya, jam 11 harus udah check-out, wey!”.
“Loh, katanya check-out nya jam 1?”, kata dia dengan sok polosnya di
kasur.
“Siapa yang bilang, kocak!”, ada aja kelakuannya ni orang😅. “Ini
kalau kena charge, Alfi yang bayar,
bodo amat”, kata saya sambil bercanda.
Kami keluar hotel jam 11.15 pagi, tidak ada charge denda apapun. Kami juga sudah mengira gak bakalan ada sih, tadi mah bercanda aja. Ditambah, gak enakan sama orang yang mau membersihkan kamar kami. Kami gak ingin membuat dia menunggu lebih lama. Dari hotel, kami langsung menuju durak terdekat, naik ke angkot yang sudah terparkir menunggu penumpang yang datang. Kalian memang harus sedia cash banyak di Van, sama seperti di kota Sakarya, mayoritas transportasi nya adalah angkot atau dolmuş. Setelah 15 menit perjalanan, kami sampai di depan Kale. Cuaca agak mendung, sepertinya mau hujan. Mungkin karena inilah, gak ada orang sok asyik yang kemarin itu. Awalnya, kami ingin ke jalur masuk resmi, ke arah sisi kanan Kale, tapi karena sepertinya harus jalan cukup jauh, dan kebetulan di sisi kiri gak ada siapa-siapa, kami akhirnya nekat saja memilih untuk naik dari sana. Tanjakannya cukup terjal di beberapa tempat di awal. Bakalan cukup sulit sepertinya untuk perempuan di jalur ini. Kami pun sedikit kesulitan, apalagi Megiz naik sambil bawa kopernya😅. Kita gak mau dia ninggalin kopernya lagi, siapa tau kita turunnya dari sisi kanan, ribet lagi ngambilnya. Atau ketika kita di atas, ada yang ngambil, kan gak ada yang tau. Makanya ditenteng itu koper ke atas. Ketika sampai di atas Kale, adzan berkumandang, hari itu hari Jumat, orang-orang terlihat berbondong ke masjid. Kami, karena musafir dan jadwal keberangkatan kami di jam 15.30, kami memilih untuk mengambil rukhsoh salat jamak dzuhur-ashar nanti di terminal. Hujan gerimis turun kala itu, langit agak berkabut sehingga menghalangi pandangan kami ke pemandangan gunung salju nan indah dari kejauhan, ditambah di bawah Kale ini, tepat di sisi kiri kami, adalah padang rumput tempat menggembala domba-domba. Padahal kalau gak berkabut, instagramable banget itu viewnya, hehe. Kami terus lanjut maju ke depan menyusuri Kale, sampai kami tiba di jalan buntu. Ternyata, sisi kiri dan kanan tidak terhubung, kami tidak sampai ke puncak Kale. Akhirnya, kami habiskan waktu dengan foto-foto di atas. Gerimis membuat cuaca kala itu cukup dingin, saya kembali mengeluarkan handwarmer saya untuk menjaga suhu tubuh. Setelah puas berfoto, kami kembali ke tempat semula, turun dari tempat kami naik tadi. Lah, kalau gini mah sebenarnya koper bisa ditinggal😂. Cuman ya, mencegah selalu lebih baik dari mengobati. Yang penting semua aman, kan. Sedikit info, di dekat Van Kalesi, ada museum yang mungkin bisa juga kalian kunjungi. Kami lihat, turis turun dari bus tur mereka dan masuk ke museum ini. Tapi, karena museum ini memang dari awal gak masuk ke itinerary kami, ya kami skip. Mungkin kalian yang suka peninggalan-peninggalan sejarah dan sejenisnya, bisa menambahkan museum ini ke dalam list kalian. Ada satu lagi yang sebenarnya ingin kami datangi, Ulu Camii, kami pun gak tau bentukannya bagaimana. Yang kami juga tidak tau, saya sendiri juga baru sadar ketika menulis catatan ini, kalau bekas bangunan tua, reruntuhan menara dan bangunan coklat yang ada di tengah padang rumput itu adalah Eski Ulu Camii, Masjid Agung Lama. Reruntuhan itu sepertinya tidak terpakai lagi, tapi memang ada sih masjid yang letaknya sangat dekat dari tempat itu. Mungkin itu penggantinya kali ya, orang-orang berbondong-bondong salat Jumat di sana tadi. Tapi kalau kata ‘Van Hakimiyet Gazetesi’, salah satu media berita lokal, masjid bersejarah ini akan direstorasi atau dibangun kembali.
Setelah kami rasa cukup, kami kembali lagi ke
Merkez kota Van untuk makan siang, tujuan kami kali ini ke restoran murah
tempat pertama kali kami makan kemarin. Di sana, saya memesan Tavuk Döner 30 tl dan air 5 tl, lalu untuk makan malam,
saya membungkus pulang dua Lahmacun, 40 tl. Total semuanya saya hanya
menghabiskan 75 tl untuk dua kali makan. Sangat murah untuk kami yang tinggal di Eskişehir,
apalagi untuk Megiz yang tinggal di Izmir yang memang kota mahal. Jam 14.45
siang, kami berangkat ke otogar. Kami harus mengejar bus jam 15.30,
selain karena harganya paling murah dibanding yang lain, 400tl, memang gak ada
bus yang berangkat lagi sampai jam 19.00. Sesampainya di otogar, kami
langsung ke loket firma tujuan kami untuk beli tiket. Mereka malah ragu karena
kami foreigner dan meminta tolong polisi untuk mengecek ikamet/kartu izin tinggal kami. Setelah
dicek, mereka mempermasalahkan Alfi dan Megiz yang bukan mahasiswa aktif.
Apasih, kok ribet banget, mereka kan emang masih TÖMER, belum masuk fakultas, masih kelas bahasa
Turki. Setelah beberapa menit, baru lolos tuh. Yang tambah kesal lagi, kan di
aplikasi O bilet harga tiketnya 400 tl, mereka bilang harganya 500 tl. 400 tl
mungkin harga setelah diskon aplikasi, kata mereka. Saya membantah, mana ada
seperti itu, dimana-mana harga di O bilet sama di loket ya pasti sama. Ya udah,
kamu pesan langsung lewat aplikasi aja, kata orang firma-nya. Lah, sekarang
udah jam 15.35, yang artinya udah lewat waktu jadwal, gak tersedia lagi di
aplikasi. Harusnya lu suruh dari awal sebelum lu minta polisi untuk kita
diperiksa ribet segala macam. Kami memang gak langsung memesan tiket aplikasi
dari awal karena tadinya kami takut telat datang sehingga tiket kami hangus.
Makanya biar aman, kami beli di tempat. Eh malah kejadiannya kayak gini, ya
lumayan bete juga, kan. Kami pun para penumpang awalnya naik ke minibus dulu
selama beberapa menit sampai akhirnya pindah ke bus di salah satu pom bensin.
Awalnya kami heran, loh kok minibus, tapi buat mindahin penumpang doang
ternyata, Alhamdulillah busnya sebagaimana biasanya, nyaman.
Neyse, kita coba
lupakan kejadian tadi, mencoba menikmati pemandangan samping kiri jalan yang
full berwarna putih, gunung-gunung dan dataran kanan-kiri tertutupi oleh salju.
Apalagi ketika matahari tenggelam, dibalik dataran putih bersalju, menyejukkan
mata dan hati. Ademmm…. Sedikit mau bercerita, di daerah ini, mungkin karena
dekat dengan daerah perbatasan negara lain, para penumpang beberapa kali
menjalani pemeriksaan identitas oleh tentara setempat. Mungkin ini sih salah
satu alasan pemeriksaan ribet di awal tadi, firma bus gak mau bertanggung jawab
kalau ada penumpangnya yang bukan penduduk legal Turki. Ya, masuk akal. Agak
ngeselinnya karena harganya beda sih dengan di aplikasi. Dikirain bakal lebih
murah 100 tl dari yang lain, eh taunya sama saja. Kami tetap bayar 500 tl. Oh
ya, perjalanan kami dari Van ke Erzurum memakan waktu kurang lebih 6 jam. Waktu
tempuh yang cukup lama karena bus mengambil rute memutar untuk menjangkau
wilayah lain di sebelah Timur macam Kota Ağrı. Di Kota Ağrı ini ada PPI Ağrı, salah satu PPI wilayah Turki yang baru
berdiri, yang secara letak paling pojok di Timur, membuatnya sangat jauh dari
wilayah PPI yang lain, apalagi dari Istanbul, pojok ke pojok dong. Gak nyangka
saya bakal ke sini, walau hanya ke otogar
nya aja. Kalau kami DM Instagram PPI Ağrı mau mampir, kayaknya mereka bakal senang deh
kedatangan tamu dari kota lain. Soalnya pasti jarang banget kan, mahasiswa
Indonesia kota lain yang mampir ke sana. Duh, kepedean sih kalau ini mah, wkwk.
Bye bye Ağrı, gak tau bakal lewat sini lagi atau nggak. Btw, kota Ağrı ini tempat Gunung Ararat berada loh, guys!
Gunung tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS setelah banjir bandang besar yang
menenggelamkan penduduk kafir kala itu. Jauh banget sih kalo niatnya ke sini
doang, mending sekalian aja ke Iran, dikit lagi sampai sana, free visa juga
untuk kita orang Indonesia. Tapi kalau mau ke ibukotanya, Teheran, ya masih
jauh. Iran lumayan besar ternyata. Selain berbatasan dengan Iran, sisi Timur
Turki juga berbatasan dengan Armenia, negara yang dikenal memiliki hubungan
historis yang cukup buruk dengan negara Turki.
Singkat cerita lagi, biar cepat, kami sampai di
kota Erzurum setelah 6 jam perjalanan lamanya. Kami sampai di sana jam setengah
10 malam. Untungnya masih ada bus yang beroperasi, jadi gak perlu
taksi-taksian. Kami mengikuti salah satu mahasiswa yang berkuliah di Ataturk
University di Erzurum yang tadi satu bus perjalanan dengan kami. Kebetulan dia
juga mau ke Merkez, kami sekalian ikut dia aja. Alhamdulillahnya, bus Erzurum
bisa pakai tap kartu bank temasız. Jadi bisa pakai kartu ATM temasız Ziraat
atau apapun itu, guys. Pakai kartu debit indo juga bisa. Saya karena gak punya ATM
temasız bank Turki, jadinya nge-tap pakai kartu debit bank Indonesia.
Murah juga loh, cuman 10 tl untuk orang umum. Untuk pelajar berapa ya? pasti
lebih murah lagi. Jadi di Erzurum, kita gak perlu buat kartu bus lagi karena
udah bisa lewat cara tadi.
Sesampainya di Erzurum, kami langsung menuju ke
Öğretmen Evi, tempat menginap yang
disediakan oleh pemerintah, berbayar tapi murah dan aman. Itu kata teman
sekelas saya di kampus yang orang asli Erzurum. Liburan kali ini dia stay di
Eskişehir, jadinya gak bisa temani kami jalan-jalan
tur kota. Saya jadinya hanya bisa bertanya-tanya via wa aja ke dia. Menginap di
Öğretmen
Evi juga saran dari dia. Bangunannya bagus, kayak hotel gitu. Di bayangan kami
kan, mungkin ini semacam wisma yang berebut tempat gitu ya, kayak di Indonesia.
Ternyata nggak, elit gini tempatnya, harganya pun mahal untuk kami, per orang
600tl-an per malam. Ini mah mahal wey, kanka! Wkwkwk. Ya gak mau dong, kami
dengan harga segitu. Liat durak ada ruangannya, kayaknya bisa tidur di
situ, tapi ya ntar dibangunin polisi, dikira pengungsi ntar kita😅.
Janganlah, cari lagi yang lain! Kami ke hotel Bintang 3 di samping jalan raya,
dia kasih harga 2000tl (per orangnya, 400 tl) untuk suit room, saya dikasih
tunjuk dulu kamarnya untuk review dahulu siapa tahu suka lalu ambil. Ya tentu
saja saya suka, tapi dompet saya tidak. Sebenarnya harga 2000tl itu udah diskon
dari harga aslinya, 3000tl. Memang untuk berlima sih itu. Tapi karena kami kali
ini cari yang semurah mungkin, cukup buat tidur yang penting, mah. Gak perlu
mewah-mewah, nyaman buat tidur udah cukup. Kami lanjut ke hotel sekitar yang
ternyata harganya juga kurang bersahabat. Kami diberi tahu salah satu petugas
hotel, di belokan gang depan, ada pansiyon (hostel) gitu yang murah. Ketika
jalan menuju ke sana, di salah satu gang, kami ketemu apartemen yang secara
ukuran gak besar. Kayaknya murah nih, pikir kami. Kebetulan ada yang baru masuk
dari luar ke dalam apart, jadinya kami ikut masuk juga ke atas. Tapi kok, gak
ada kayak office resepsionisnya gitu ya? Apa reservasinya harus lewat
telpon? Di pintu depan memang ada nomor hpnya, saya coba telpon, tapi gak
diangkat. Sudah malam juga, sih. Akhirnya kami lanjut jalan, dan memang ada
plang petunjuknya, belok ke kiri ada pansiyon. Kami tanya harga ternyata sama
aja, 400 tl. Kami coba tawar, 350 tl dia kasih. Katanya kalau ada yang murah,
itu kotor, di sini bersih. Ya emang ini yang paling murah katanya. Kami tetap
gak mau, dan ketika kami keluar, dia bilang, ya udah 300tl gapapa. Kami tetap
gak mau, wkwk. Dan tepat di samping hotel itu, ada sebuah hotel yang kayak
bukan hotel. Kecil gitu dia kalau dilihat space-nya dari depan. Wah, ini pasti
murah nih, gak pakai lama, kami langsung masuk dan naik ke atas. Resepsionis
hotel tadi yang lihat kami masuk ke penginapan yang namanya ‘Börekli Otel’ ini, cuman bisa geleng-geleng kepala aja. Di
lantai 1 hotel, tempat penjaga penginapan berjaga, kami bertanya dulu harga
permalamnya. Dan ternyata murah beneran, 100tl per malam (sekitar 50 ribu
rupiah) buat satu orang. Karena kami berlima, jadinya harus dibagi ke dua
kamar. Satu kamar buat bertiga, satunya buat berdua, menyesuaikan total ranjang
dan kasur yang ada di kamar. It’s ok, buat kami. Saya berdua dengan Reza.
Sedangkan mereka bertiga bisa main Mobile Legend bareng di satu kamar. Setuju.
Kami bayar dulu untuk satu malam, dan kami berlima sepakat jika penginapan ini
cukup nyaman, besok paginya kami bakal langsung perpanjang satu malam lagi,
supaya jalan-jalan bisa tanpa bawa-bawa barang. Untungnya juga, penginapan ini
ada Wi-finya, dan ada kamar mandi nya juga tiap lantainya. Kamarnya memang
kecil dengan dua ranjang di dalamnya, tapi cukup bagi kami. Ada teko dan gelas
kosong juga yang diletakkan di meja kecil di kamar. Di kamar mereka yang
bertiga, yang letaknya satu lantai di bawah kamar kami berdua, ukurannya agak
sedikit luas dengan tiga ranjang di dalamnya. Ya, memang kami datang buat tidur
doang juga sih. Selama ada kasur, penghangat ruangan menyala, dan kamar mandi
tersedia, ditambah lagi ada wifi, sudah lebih dari cukup kup kup bagi kami.
Malam itu, saya dan Reza tidur cepat untuk cukup istirahat esok hari,
banyak tempat yang harus kami kunjungi besok hari.
Figure1.Hotel kami dari depan
Pagi-pagi jam 10 kami sudah keluar penginapan, sebelumnya kami juga
sudah perpanjang stay kami di sini satu malam lagi. Jadi ya, enak gitu,
jalan-jalan gak bawa-bawa barang. Oh ya, sebelum itu juga, saya ditelpon oleh
teman sekelas saya itu, menanyakan saya menginap dimana. Saya bilang di Börek Hotel gitu, tempatnya di gang samping jalan, dan
kecil gitu, tapi murah banget. Lalu dia memperingatkan kami untuk mengunci
semua pintu dan jendela, menutup hordengnya juga, sebagai jaga-jaga hal yang
tak diinginkan. Soalnya di hotel atau penginapan murah begitu agak rawan. Di
malam hari memang tenang, karena mereka banyak beraksi di siang hari. Tapi
Alhamdulillah sih, sampai kami besok keluar hotel, barang kami aman. Hotel ini
cocok aja sih buat anak backpackeran. Lalu dia memberi saya rekomendasi
beberapa tempat bagus di Erzurum: ‘Erzurum evleri, yakutiye medresesi, çifte
minareli medresi, Üç kümbetler, palandöken dağı(kayak için), Atatürk evi, buz
müzesi(Atatürk üniversitesi içinde)’. Yang pasti, kami hari
akan mengunjungi Gunung Palandoken, mau main ski atau tidak, kami gak tau,
lihat harga dulu aja, kalo cocok gass! Sisa tempat-tempat yang lain akan kami
datangi satu persatu, melihat sikon -situasi dan kondisi- pastinya.
Setelah sarapan di Hot Döner, kami mengawali destinasi kami dengan pergi ke Atatürk evi/Rumah Ataturk. Kami pergi ke sini terlebih dahulu karena memang letaknya di pusat kota, di tepi salah satu jalan yang umum dilewati banyak orang. Kami juga memang berencana untuk pergi ke satu-dua destinasi terlebih dahulu sebelum ke gunung salju, supaya bisa dapat sunset-nya.
Sedikit memperkenalkan, Erzurum Atatürk evi, adalah rumah dua lantai yang dulunya dimiliki oleh seorang asal Erzurum yang kaya raya pada abad ke-19. Pada tahun 1915-16, tempat ini pernah menjadi Gedung Konsuler Jerman. Lalu setelah kemerdekaan kota Erzurum pada tahun 1918, tempat ini menjadi Valiliği-nya kota Erzurum, semacam tempat perwakilan pemerintah di daerah. Tempat ini menjadi bernilai sejarah tinggi ketika dijadikan tempat menginap dan tempat persiapan ‘Erzurum Kongresi’ oleh Mustafa Kemal Ataturk, Huseyin Rauf Orbay, beserta kolega-koleganya pada masa kemerdekaan tahun 1919. Saat ini, tempat ini dikelola oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata Republik Turki sejak tahun 1984. Di dalam rumah ini yang kini menjadi museum, banyak teks-teks dokumen kongres bersejarah, juga biografi-biografi tokoh penting yang mengikuti kongres saat itu, seperti Kazım Karabekir Paşa yang merupakan Komandan Front Timur pada masa era perang kemerdekaan. Kalian bisa dengan mudah menemukan rumah ini di tengah kota, dan masuknya pun gratis.
Setelah dari Atatürk evi, kami melanjutkan itinerary kami ke Yakutiye medresesi, situs bersejarah lainnya yang jaraknya kurang dari 500 meter dari tempat kami saat ini. Kami pun berjalan ke sana selama kurang lebih 5 menit, dan kemudian menemukan sebuah bangunan yang bentuknya seperti masjid, dari marmer berwarna abu-abu, ada dua Menara di kanan dan kirinya, dengan Menara kanannya yang lebih tinggi. Bangunan ini dibangun pada abad ke-14 masehi di era Ilhanlı atas perintah Yakut Hoca, pemerintah saat itu. Nama Yakutiye ini pun berasal dari namanya. Bangunan ini pada zamannya adalah salah satu tempat pendidikan terpenting di Anatolia, dan kini menjadi salah satu simbol kota Erzurum. Saat ini, tempat ini menjadi salah satu museum penting di kota Erzurum. Kalian harus punya MuzeKart untuk bisa masuk ke dalam. Dan, pastikan juga kalian sudah mengunduh aplikasi MuzeKart, jaga-jaga kalau QR Code kartu kalian gak terbaca. Seperti saya dan bang Abror, kami harus membuat QR Code baru di aplikasi untuk kemudian di-scan oleh penjaga museum. Ada banyak ruangan di dalam bangunan ini, tiap ruangan berisi koleksi berbeda-beda, seperti koin-koin yang digunakan sebagai mata uang beberapa abad yang lalu, juga koleksi pakaian tradisional masyakat Anatolia. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini. Berfoto, mengambil video, membaca deskripsi sejarah di tiap ruangan. Sekilas untuk orang awam, bangunan ini terlihat lebih menarik daripada destinasi sebelumnya.
Yups, jam setengah 3 sore kira-kira, kami akhirnya berangkat ke Gunung
Palandoken. Untuk ke sana, kami naik bus dari durak di depan Erzurum
Lisesi. Kami menunggu bus cukup lama, karena sepertinya bus ini jarang lewat,
setengah jam sekali mungkin, ya. Perjalanan menempuh waktu kurang lebih 15
menit. Kami turun tepat di depan ‘pintu masuk’ gunungnya. Hari itu gunung ramai
oleh pengunjung yang berpakaian lengkap hendak berselancar ski. Kami disana
bertemu dengan salah satu turis dari Malaysia, dia sudah berpakaian lengkap
dengan ski di tangan. Dia kemudian menunjukkan kami tempat penyewaan
perlengkapan ski-nya. Yuk, kita lihat dulu ke dalam harganya berapa.
Di dalam, banyak orang bersiap-siap berpakaian ski secara lengkap. Kami
melihat harganya yang kok murah? Hanya 360 tl aja? Kalau cuman segini mah,
hayuk! Tanpa pakai lama kami langsung memilih jaket dan pantolon kami,
lalu memilih ukuran ski yang akan kami bawa berselancar, plus helm. Tapi…..
ketika kami bayar, kok malah 570tl? Ternyata oh ternyata 360 itu hanya include
ski dan Sepatunya aja, belum termasuk jaket, pantolon, dan helmetnya.
Memang 570 tl (hampir 300 ribu rupiah) buat main ski bukan termasuk biaya yang
mahal sih, tapi karena udah hari penghabisan, jadinya budget udah menipis. Alfi
dan Megiz yang duitnya gak cukup, akhirnya kami talangin dulu, yang penting
semuanya main. Jangan sampai malah ada yang nungguin doang. Gampang masalah
ganti duitnya mah, bisa nanti. Tapi kapan lagi bisa ke sini, mumpung ada
kesempatan, gas dulu aja.
Akhirnya kami keluar bareng-bareng membawa ski, memakai sepatu yang begitu besarnya ini menyusuri salju. Kami gak pergi ke tempat yang jauh-jauh amat, hanya ke tempat yang tinggi sedikit, kalau cukup bisa meluncur ke bawah, kami akan meluncur dari sana. Saya di awal begitu kesusahannya naik ke atas karena belum terbiasa dengan sepatu ini, sehingga memang ada rasa sedikit sakit di tulang kering yang tertekan sepatu terus. Teman-teman saya sudah pada siap hendak meluncur, sedangkan saya masih buka tutup sepatu, tapi gak ada pengaruhnya. Ya udah, saya paksakan saja, dan lama-lama, akhirnya saya terbiasa juga dengan rasa gak nyaman ini. Ekhemm. Saya nampaknya jadi orang terakhir yang bisa untuk meluncur. Soalnya, susah banget guys memakaikan sepatu ke skinya kalau belum tau caranya. Ditambah, batuk saya kambuh lagi, dan lebih parah malahan yang jadinya bikin saya makin kesal saja. Tapi, setelah diajarkan Alfi, saya tau caranya, saya coba meluncur, makin turun makin kencang, kami panik, reflek langsung jatuhkan diri. Takut menabrak orang di bawah. Begitu terus di awal, tapi kami terus mencoba, supaya bisa lebih baik. Sudah bayar 500 tl lebih, harus bisa selesai dengan puas, yuk! Saya coba meluncur di sisi yang datar terlebih dahulu untuk bisa mengendalikan badan supaya gak jatuh. Di percobaan pertama, saya terjatuh di tikungan ujung jalur. Di percobaan kedua, saya meluncur, lalu di tikungan, saya meluncur dengan sempurna tanpa jatuh. Itu rasanya, bangga banget, guys😂! Setelah susah payah, akhirnya ‘sedikit’ berhasil. Saya mulai mengerti cara mengendalikan skinya. Setelah percobaan di sisi datar sudah lumayan berhasil, saya beranikan diri ke turunan utama di sebelah kanan, yang cukup luas. Di beberapa percobaan, saya jatuhkan diri karena takut menabrak orang. Lalu setelah mencoba dan mencoba, saya usahakan tenang terlebih dahulu, lalu meluncur ke bawah. Seru banget, nget, nget! Saya bahkan bisa menghindari ibu-ibu dan anaknya di depan saya, mereka agak panik tadi dikiranya bakal tertabrak. Alhamdulillah saya bisa menghindar dengan mulus dan sampai ke bawah, walaupun saya di bawah menjatuhkan diri juga, sih. Still Proud! Wkwkwk. Di balik kebahagiaan kami ini, sayang sekali Megiz gak bisa meluncur, dan hanya memfoto dan memvideokan kami dari jauh saja. Katanya, ketika menekukkan kaki, ada suara ‘krek’ gitu di lututnya, takut cedera ACL nya kambuh lagi , dia akhirnya gak jadi meluncur. Padahal atribut sudah lengkap, sudah di atas gunung juga, tapi apalah daya, daripada terjadi apa-apa ntar. Sementara kami turun ke bawah, selesai setelah sekitar 2 jam main ski, tim SAR Gunung Palandoken sibuk bolak-balik dari atas ke bawah membawa orang yang cedera, ataupun yang sudah kedinginan di atas. Mereka menjemput dan membawa orang-orang itu dengan motor ski. Seru gitu sih sejujurnya melihat itu, ya.
Setelah semua atribut ski kami lepas, kami bergegas ke mescid/mushola
untuk salat Ashar yang waktunya tinggal 10 menit lagi. Memang kami tadi mulai
main ski sebelum ashar sehingga belum salat terlebih dahulu tadi.
Alhamdulillah, musholanya hangat, saya juga kembali mengeluarkan handwarmer
untuk menghangatkan badan. Kami menunggu sampai maghrib disana karena kami
ketinggalan bus sebelumnya. Jadinya, kami harus menunggu sekitar 20 menitan
lagi sampai bus berikutnya datang.
Singkat cerita, kami turun di Merkez setelah naik bus sekitar 15 menit. Ketika jalan di Merkez untuk mencari makan malam, di sisi kiri jalan, kami melihat Erzurum Kalesi yang indah banget di malam hari. Sumpah, kastil megah yang dihiasi lampu di langit malam ini, benar-benar memanjakan mata. Tapi ketika difoto dengan kamera atau HP, keindahannya belum tergambar secara sempurna karena gak bisa ambil gambar dari ujung ke ujung kastil. Tapi sebelum itu, kami makan dulu, karena rasa lapar yang udah gak ketolong lagi. Setelah makan, kami keluar resto, ada yang membuat kami penasaran, di depan kami ramai orang-orang keluar dari masjid, dan ada bagi-bagi kotak bingkisan kecil di situ, isinya coklat dan manisan. Sepertinya setelah salat Isya, ada acara gitu di masjid, makanya ramai. Nah, ketika kami lanjut jalan terus ke depan, mata kami kembali dimanjakan dengan arsitektur bangunan keren lainnya. Ternyata di depan kami, adalah Çifte Minareli Medrese, simbol kota Erzurum yang gambarnya terpampang di aplikasi transportasi umum Kota Erzurum. Bangunan yang didirikan pada abad ke 13 dengan arsitektur Kerajaan Seljuk nya yang ikonik ini, di malam hari, dengan gelapnya malam dan cahaya lampu sekitar, menakjubkan banget. Serius. Gak bohong. Beautiful. Kami semua ambil foto satu-satu di depan bangunan yang keren banget ini. Aslinya saya pengen banget kami foto bareng-bareng di depan bangunan ini , cuman ya gak ada yang fotoin. Ditambah masing-masing malah pada asyik sendiri. Ya udah, gak ada foto berlima bareng kecuali di depan Van Gölü, di depan stasiun Tatvan Gar, dan Erzurum Gar nanti.
Setelahnya, kami masuk ke dalam Ulu Camii
yang letaknya tepat di samping Çifte Minareli Medrese itu. Ya sebagaimana Masjid
Agung Turki pada umumnya, bagus. Setelah itu, kami menelusuri kastil di sebrang
jalan. Mengintip keindahannya dari dekat. Tapi setelah mendekat, sepertinya
melihat dari jauh lebih baik, ya. Saya juga gak bisa menggambarkan banyak hal
sih, terlebih ketika itu saya berjalan sambil menjawab telpon. Ada hal lain
yang urgent dibahas waktu itu sehingga saya sibuk di telpon aja sampai yang lain
sudah pada selesai foto-foto. Saya di akhir, hanya mengambil foto satu-dua kali
aja di sedikit tempat, di sekitar kastil.
Sebelum kembali ke penginapan, saya membeli
manisan khas Erzurum, Kadayıf
Dolması. Rasanya unik, cukup enak sih, tapi ya masih biasa saja di lidah saya.
Tapi menurut teman-teman saya yang lain, yang saya beri, mereka bilangnya enak
banget. Sebenarnya, ada dua makanan khas Erzurum yang teman sekelas saya
rekomendasikan untuk coba, Kadayıf
Dolması dan Çağ
Kebab.
Satunya manisan, satunya kebab daging, makanan berat. Karena harga çağ kebab sepertinya cukup mahal,
saya hanya beli makanan satunya saja. Lumayan, mengatasi penasaran saja.
Tanggal 25 Maret 2024,
hari terakhir kami edisi jalan-jalan musim dingin kali ini. Kami pulang menaiki
kereta Doğu Express yang berangkat dari Kota Kars menuju Ankara. Berbeda dengan Van Gölü Express yang ada hanya 5 hari sekali,
kereta satu ini selalu ada setiap harinya, di jam 12.21 siang. Tiketnya juga
murah, hanya 305 tl (sekitar 150 ribu rupiah saja) untuk perjalanan selama 21
jam. Sebelum berangkat, saya ingat satu hal, video ucapan Selamat dan Sukses
‘Drama Arena’ yang udah diminta teman saya sejak lebih dari seminggu yang lalu.
Entah kenapa saya selalu lupa untuk buat padahal 5 hari ini tempat yang
dikunjungi bukan main-main indahnya. Akhirnya saya hanya taking di depan
stasiun kereta dengan view gunung salju yang untungnya sedikit terlihat dari kejauhan.
Satu kali taking, cukup bagus, kirim langsung.
Di perjalanan, saya habiskan waktu dengan menulis cerita perjalanan saya di
Kapadokya yang memang belum sempat saya selesaikan. Kami kali ini lebih prepare
dalam persiapan bekal makanan. Sebelum berangkat, kami sudah beli döner untuk
makan siang dan malam. Lalu makanan ringan, minum, wafer-wafer, lengkap untuk
persiapan perjalanan sampai besok pagi. Rute perjalanan kali ini berbeda dengan
perjalanan kami sebelumnya, sehingga tidak ada pemandangan gunung salju di
sekitar. Sedikit info juga, tidak seperti seat keberangkatannya yang selalu
full di musim dingin, seat Doğu Express relatif sepi sehingga saran saya, pilihlah kursi yang berdua dan di
sampingnya tidak ada siapa-siapa. Sehingga waktu malam, kita bisa tidur nyenyak
membaringkan badan ke samping. 20 jam lebih perjalanan kami tidak terlalu
terasa karena kebanyakan diisi dengan tidur dan istirahat. Sampai di Ankara jam
11, kami harus menunggu hingga jam 5 sore karena hanya itulah kereta menuju
Eskişehir
yang tersedia. Karena cukup lama, kami menumpang dulu ke rumah teman saya yang
jaraknya hanya tiga durak dari Ankara Gar. Kami langsung pulang ke Eskişehir karena kami juga harus ikut latihan persiapan acara ‘Culture
Day’ 10 hari lagi, di tanggal 6 Maret nanti. Gak enakan kalau lama-lama
jalan-jalan, sedangkan yang lain sibuk mempersiapkan acara.
Fiuhh, saya menulis
cerita ini juga capek, tapi senang akhirnya bisa membagikan pengalaman liburan
kali ini. Liburan yang cukup menyenangkan bagi kami. Untuk budget, saya sendiri
menghabiskan kira-kira 3000 tl atau sekitar 1,5 juta rupiah untuk tur satu
minggu kali ini. Hitung-hitungan ini sudah termasuk tiket perjalanan
Eskişehir-Ankara-Tatvan-Van-Erzurum-Ankara-Eskişehir, lalu makan, penginapan,
ski, naik kapal di danau Van, dan biaya-biaya lainnya. Cukup murah menurut saya
dan sangat worth it dengan destinasi-destinasi keren yang sudah kami kunjungi.
Intinya biar murah ya, naik kereta. Biar nyaman tidurnya, pilih yang dua
bangkunya, tapi di sebelah kalian pastikan tidak ada siapa-siapa. Cari juga
penginapan yang murah, tapi aman. Kami karena backpackeran, -walaupun kayaknya
gak terlalu backpacker-backpacker amat- sebisa mungkin budget kami cukup, tapi
tetap have fun dan nyaman. Lagipun, memang perjalanan ini sudah direncanakan sejak
lama dan kita juga sudah menabung cukup untuk ini.
Oke sekian untuk
perjalanan kali ini. Cerita yang cukup panjang juga. Stay tune untuk trip
destinasi berikutnya, bye-bye! ✌️🙌






.jpg)
uhuy
BalasHapus