Menginap di Mushola Pom Bensin Kapadokya, Gimana Ceritanya?

Nevşehir, 9-12 Februari 2024

Cerita kali ini menurut saya merupakan salah satu cerita perjalanan saya yang paling seru dan melelahkan. Sampai membuat saya jatuh sakit selama seminggu ngedrop karena kecapekan. Februari ini, untuk ketiga kalinya, rombongan dari Jamaah Umroh plus Turki binaan bibi saya akan datang. Bedanya, jika rombongan sebelumnya, hanya berkunjung ke destinasi semacam Istanbul-Bursa saja, maka untuk rombongan kali ini, itinerary-nya akan lebih panjang dengan memasukkan Ankara, Kapadokya, dan Kayseri, dengan menghilangkan destinasi kota Bursa. Saya tentu saja sangat excited dengan kabar ini, karena seperti biasa, saya akan ikut nemenin jamaah jalan-jalan juga. Dan yang terpenting, destinasi sejauh itu bakalan gratis!!  Nah ini sih poin pentingnya.

Jamaah kali ini juga berbeda dalam urutan perjalanan umroh mereka. Jika dua perjalanan sebelumnya, para jamaah langsung terbang ke Turki untuk berlibur, kemudian ditutup dengan ibadah Umroh di Makkah dan Madinah, maka para Jamaah kali ini terlebih dahulu melaksanakan umroh dan menetap di Mekkah dan Madinah selama kurang lebih 10 hari. Mereka berangkat dari Indonesia pada tanggal 29 Januari dan baru berangkat ke Turki pada tanggal 8 Februari malam. Sepertinya memang mengambil evaluasi dari trip sebelumnya, terutama perihal bagasi, supaya bagasi jamaah tidak full di awal dengan belanjaan di Turki, tapi lebih ke oleh-oleh dari tanah suci macam Air Zam-zam dan coklat Arab. Juga agar liburannya lebih santai karena dilakukan usai ibadah khidmat di Baitullah. Ini hanya asumsi saya pribadi sih sebenarnya, tapi ya besar kemungkinan memang seperti itu.

Seminggu sebelum perjalanan dari Indonesia, semua barang-barang sudah dititipkan oleh orang tua saya ke bibi saya. Seperti semua perjalanan sebelumnya, biasanya jika ada umroh plus Turki, pasti orang tua saya titip barang-barang yang diperlukan untuk dikirim ke saya, seperti bumbu dapur Indonesia, kecap-saus, sambal terasi, minuman sachet, dan keripik pisang khas Lampung. Biasanya juga Mama saya masak dendeng buat saya, terus dititipkan. Ini, jujur enak banget sih, guys. Tapi, karena perjalanannya ke Mekkah terlebih dahulu selama 10 hari, takutnya dendengnya basi di jalan. Maka dari itu, saya sayang sekali harus menunda mencicipi kelezatan dendeng Mama saya. Saya juga biasa titip satu-dua buku bacaan. Kali ini saya titip buku Novel Tere Liye yang lagi booming, ‘Teruslah Bodoh, Jangan Pintar’, novel yang sangat relate dengan ketidakadilan politik yang terjadi di Indonesia, khususnya pada rakyat kecil. Lalu buku kedua yang saya titip untuk dibawakan adalah bukunya Dale Carnagie, “How to Win Friends and Influence People in the Digital Age”, saya beli buku ini untuk menambah skill komunikasi yang sangat penting dalam dunia kepemimpinan. Mengingat saya kali ini dipercaya menjabat sebagai ketua PPI Eskişehir -PPI merupakan singkatan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia, PPI ada sebagai wadah pelajar Indonesia di luar negeri dan ada di hampir tiap negara yang ada mahasiswa Indonesianya. Nah, biasanya di negara yang mahasiswa nya belajar di kota yang berbeda-beda seperti Turki, Inggris, dan Jerman, PPI negara ini mempunyai PPI wilayah yang menjadi wadah pelajar Indonesia di kota PPI wilayah itu sendiri, dan PPI Eskişehir itu merupakan salah satu PPI wilayah bawahan dari PPI Turki- , tips-tips soft skill yang ada di buku ini, tentulah bisa memberikan manfaat lebih ke saya secara pribadi, maupun dalam praktik kepemimpinan saya di PPI nanti. Mumpung saya masih sangat baru jadi ketua PPI. Saya baru dilantik tanggal 5 Februari 2024 kemarin, beberapa hari sebelum kedatangan bibi saya. Ya, walaupun sebelum jadi PPI, saya merupakan ketua dari FORMASIE (Forum Masyarakat Indonesia di Eskişehir) yang adalah versi non-formal nya dari PPI Eskişehir itu sendiri, jadi saya sebenarnya dengan kata lain sudah memulai jabatan ketua ini semenjak bulan November tahun lalu. Meskipun begitu, dengan berubahnya organisasi ini menjadi formal, kami akan berintegrasi dengan PPI wilayah lainnya di bawah naungan PPI Turki, tentu saja ini akan memberikan kami pengalaman dan koneksi yang lebih luas lagi dari sebelumnya. Dengan diberikan kepercayaan amanah kepada saya sebagai ketua, apalagi memimpin sebuah PPI wilayah yang baru berdiri, saya tentunya ingin memberikan kontribusi sebaik-baiknya pada organisasi yang saya pegang. Tapi, dengan harapan agar ketua selanjutnya lebih baik dari saya supaya organisasi ini berkembang tiap tahunnya. Duh, jadi cukup jauh gini ya ceritanya. Mungkin nanti lain waktu akan saya bagi pengalaman jadi ketua PPI Eskişehir, yang saya rasa bakal berpengaruh besar ke perjalanan karier maupun hidup saya kedepannya. Selain itu guys, memang sampai dua minggu sebelum keberangkatan, belum keluar tanggal fix kapan rombongan bibi saya berangkat ke Turki-nya, jadi saya juga menyesuaikan tanggal peresmian PPI Eskişehir ini supaya gak tabrakan dengan kedatangan bibi saya. Dengan datangnya kabar kalau jamaah bakal ke Saudi Arabia dulu 10 hari, akhirnya saya bisa tenang, karena peresmian PPI Eskişehir nantinya gak akan bertabrakan dengan kedatangan bibi saya nanti.

Singkat cerita, hari ini sudah tanggal 8 Februari, saya sudah pesan tiket kereta ke Ankara, karena di itinerary terakhir yang saya lihat, ada Ataturk Musoleum disitu, atau biasanya lebih dikenal dengan nama Anıtkabir, makamnya Mustafa Kemal Ataturk. Saya berpikir, jika nanti jamaah akan kesana, maka lebih baik saya ketemuan di Ankara saja karena lebih dekat jaraknya dari Eskişehir, lebih murah ongkosnya, dan lebih mudah juga untuk saya mencari akomodasi tempat tinggal, karena saya cukup punya banyak teman di Ankara daripada di Istanbul. Tiba-tiba sekitar satu jam sebelum jadwal keberangkatan ke Ankara, bibi saya memberi kabar kalau setelah sampai ke Istanbul, akan langsung ke Bosphorus, kemudian setelah usai, akan langsung menuju Kapadokya. Wah, lumayan panik dong saya, mau gak mau saya harus batalkan tiket kereta saya ke Ankara dan menukarnya jadi tiket kereta ke Istanbul. Sayangnya, tiket Ankara saya harus hangus karena waktu keberangkatan kurang dari satu jam lagi. Andai saja tiket saya ubah minimal satu jam sebelum keberangkatan, tiketnya masih bisa di-reschedule atau di refund. Tapi gapapa lah, tiketnya gak terlalu mahal juga, 200 tl atau 100 rb rupiah-an saja. Selanjutnya saya mencari tiket kereta ke Istanbul, dan hanya ada tiket pagi esok hari jam 6.30 TRT. Saya harus memaksakan diri bangun pagi kalau begini caranya. Soalnya, Adzan Subuh saja di jam 6, berarti langit masih lumayan gelap di jam segitu. Persiapan mandi dan lain-lain 30 menit sampai satu jam, berarti jam 5 pagi sudah harus bangun. Dan Alhamdulillah, mungkin karena otak sudah menyetting kalau jam 5 harus bangun, saya bangun, bahkan sebelum alarm saya hidup. Alarm yang kalau sudah berdering, satu rumah bangun kecuali saya sendiri️. Setelah semua barang siap, saya berangkat ke stasiun dan naik kereta YHT atau kereta berkecepatan tinggi. Perjalanan yang harusnya harus ditempuh selama 5-6 jam, dengan kereta cepat ini, perjalanan Eskişehir-Istanbul bisa ditempuh dengan waktu 3-3,5 jam saja. Saya dijadwalkan sampai di Istanbul tanggal 9, jam 10 pagi, waktu yang pas ketika saya lihat jadwal kedatangan jamaah pada pukul 8 pagi. Tentu saja proses keluar bandara cukup lama, mungkin sekitar satu jam. Jadi menurut perkiraan saya, jika benar setelah dari bandara, mereka sarapan, kemudian lanjut menuju selat Bosphorus, kami akan sempat bertemu di sana, dan saya akan aman karena sudah masuk bus jamaah. Saya juga sudah konfirmasi ke bibi saya kalau saya lebih baik ke Bosphorus saja, karena setelah berkabar di jam 10 pagi setelah saya sampai di stasiun Istanbul, jamaah sedang sarapan di sebuah restoran di daerah Kadıköy, daerah yang sangat jauh dari stasiun Söğütlüçesme tempat saya berada saat ini. Makanya, ketemuan di selat Bosphorus lebih baik menurut saya.

Sayangnya, kesialan dimulai ketika saya sudah sampai di Eminönü, salah satu sisi Selat Bosphorus, tempat biasanya turis naik private boat selat Bosphorus. Baru turun dari Marmaray, salah satu transportasi umum kereta bawah tanah di Kota Istanbul, saya ditelpon bibi saya kalau setelah sarapan, jamaah akan langsung berangkat ke Kapadokya tanpa tour Bosphorus terlebih dahulu. Waduh!! Gimana ini? Bibi saya juga bingung bagaimana, karena dari guidenya juga tiba-tiba memberi kabar seperti itu. Saya coba bicara dengan guidenya yang orang Turki, dia bilang bus mereka sudah jalan menuju Kapadokya. Kalau mau, kata dia, saya bisa menyusul naik bus atau pesawat ke Kapadokya, dan bertemu disana, atau menunggu sampai hari Minggu di Istanbul ketika mereka kembali dari sana. Jelas opsi kedua saya tolak karena saya juga mau liburan ke Kapadokya bareng jamaah. Naik pesawat juga sepertinya bukan ide yang bagus karena terlalu mepet di hari H, saya juga tidak bawa passport, kalau-kalau diperlukan. Jadi saya langsung cari tiket bus Istanbul-Nevşehir, Oh ya, Nevşehir itu nama kota tempat wisata Kapadokya ada ya guys! Jadı kalau mau ke Kapadokya, kalian naik bus turunnya di terminal kota Nevşehir. Saya lihat tiket bus di aplikasi O bilet, bus Istanbul-Nevşehir hanya ada di jam 11.15 TRT, yang artinya setengah jam lagi dari sekarang. Sedangkan, tiket lain semuanya berangkat di malam hari. Perjalanan bus Istanbul-Nevşehir memakan waktu sekitar 12 jam, yang artinya jika saya berangkat jam 8 malam, saya akan sampai disana jam 8 pagi. Jam 8 pagi akan sangat telat, karena kemungkinan besar jamaah akan berangkat dari hotel ke Kapadokya sekitar jam 6-7 pagi karena itu memang waktu terbaik untuk ke sana, saat balon udara mulai terbang. Saya agak dilema ketika itu, karena jarak dari tempat saya berdiri saat ini ke Ataşehir Dudullu Terminalı, terminal tempat bus Kamil koç berangkat, memakan waktu 30 menit naik mobil. Bakalan mepet banget kalaupun naik taksi. Tapi, saya rasa saya gak punya banyak waktu untuk berpikir. Makanya saya coba kejar waktu naik taksi, meskipun mahal sekali biayanya 800 tl. Yang terpenting saat ini saya bisa berangkat ke Kapadokya pagi atau siang hari ini. Bibi saya juga ingin saya agar malam ini juga bisa sampai ke Kapadokya dan bertemu dengan jamaah, makanya beliau langsung transfer saya satu juta rupiah waktu itu juga untuk saya naik transportasi apapun ke sana. Jumlah ini sebenarnya lebih dari cukup kalau saya tidak naik taksi😩😩. Saya naik taksi tanpa membeli tiket bus terlebih dahulu, takutnya taksi ini gak bisa mengejar busnya, double saya ruginya ntar. Taksi bayar mahal, bus pun hangus. Gak mau kan saya amit-amit kalau kejadian. Dan benar saja, taksi sampai di terminal jam 11.12, mepet banget dengan waktu keberangkatan. Turun dari taksi, saya berlari ke dalam terminal, tapi gak menemukan firma bus Kamil koç yang saya cari. Habis sudah harapan, karena memang bus itu saja yang berangkat pagi ini. Setelah saya cari tahu, ternyata terminal ini agak sedikit terpencar. Memang sebagian besar firma bus ada di titik terminal tempat saya saat ini, tapi beberapa firma bus lain seperti Pamukkale dan Kamil koç ada di titik lain, sekitar 800 meter dari tempat saya berada. Nambah pusing lah saya, Bus sudah lewat, duit 800 tl sia-sia, cuaca panas, mana belum sarapan pula ya kan. Gimana ya, supaya bisa berangkat siang ini? Saya baru kepikiran ide ini beberapa saat kemudian. Memang, bus Istanbul-Nevşehir berangkat di malam hari, tapi bus Istanbul-Ankara selalu ada setiap jam. Dari Ankara, saya bisa berangkat naik bus ke Nevşehir. Kenapa baru kepikiran sekarang sih?! Bus Ankara-Nevşehir terakhir hari ini berangkat jam 8 malam. Itu artinya, saya harus sampai di Ankara sebelum jam 8. Tanpa lama, saya menuju ke terminal Istanbul Europe (Esenler) untuk mengejar bus Istanbul-Ankara tercepat. Jarak dari tempat saya menuju Esenler memakan waktu sekitar 1 jam lebih 20 menit. Drama terjadi lagi ketika saya menunggu bus di durak menunggu bus kota yang pergi menuju Esenler, kok gak datang-datang. Padahal, jika berpedoman ke Google Maps, durak ini sudah benar. Tau-taunya, setelah saya tanya orang, dia bilang, disini gak lewat bus itu. Kalau mau naik bus yang kesana, disebrang sana tuh, katanya. Duh, Google sesat emang, udah 20 menitan saya tunggu di durak pantesan gak lewat-lewat. Benar aja, gak berapa lama, bus yang saya tunggu pun datang. Di bus, saya cari tempat duduk kosong dan langsung makan bekal burger home-made saya. Dua burger langsung saya habiskan di tempat. Burger jadi-jadian sih kalau bisa dibilang, dari roti kantin kampus yang gratisan dan ambil sepuasnya itu, belah tengah lalu goreng pakai margarin, lalu tengahnya diisi dengan piliç salam, semacam sosis yang kita belah jadi bagian-bagian kecil, dikasih saus tomat dan dilapisi dengan sawi sebagai sayuran tambahan isi. Dengan kondisi lapar, dua burger itu, dengan satu botol air minum udah lebih dari cukup untuk mengisi perut saya yang udah kerocongan dari tadi pagi. Setelah makan, saya cek kembali Google Maps, masih satu jam lagi untuk sampai ke Esenler, sekitar jam 13.30, itupun kalau gak macet. Perjalanan dari Istanbul Europe ke Ankara berkisar antara 6-7,5 jam tergantung bus nya apa. Kalau saya sampai di Esenler lebih dari jam 2 siang, saya gak akan sempat untuk sampai di Ankara tepat waktu sebelum jam 8 malam. Ditengah-tengah memikirkan ini, saya jadi kepikiran lagi, Oh ya, Kapadokya kan di Asia, mungkin karena Esenler itu Istanbul bagian Eropa, makanya jadi lebih lama. Kenapa saya gak naik dari terminal Istanbul Anatolia/Anadolu yang ada di bagian Asia, mungkin bakal lebih cepat. Dan benar aja, setelah cek aplikasi O bilet lagi, kalau dari terminal Dudullu (salah satu terminal di Istanbul Anatolia), bakal lebih cepat, hanya sekitar 5-6 jam aja. Saya turun dari bus dan kembali lagi ke titik awal saya naik bus tadi, padahal udah 10 durak saya lewati😕. Tapi ini satu-satunya cara agar bisa sampai tepat waktu di Ankara. Sampai di Dudullu Terminal jam 13.15, saya langsung cari firma bus Istanbul Seyahat yang berangkat jam 13.30, yang perjalanan ke Ankara-nya hanya sekitar 5 jam 30 menit. Tapi setelah sampai disana, nampaknya Istanbul Seyahat punya titik yang berbeda pula. Saya mencari yang jalan jam 13.30 atau yang mendekati itu dengan jam perjalanan di bawah 6 jam. Ketemu lah firma Pamukkale yang berangkat jam 15.45 dengan waktu perjalanan 5 jam 15 menit. Bingung saya waktu itu karena Istanbul Seyahat gak ada di Google Maps, sedankan Pamukkale ada, berjarak sekitar 800 meter dari pusat Terminal. Ketika saya sudah hampir sampai di depan cabang firma Pamukkale, ternyata di belokan sebelah, ada bus Istanbul Seyahat yang sudah siap-siap berangkat. Ternyata, cabang mereka disana. Saya memutuskan untuk naik Istanbul Seyahat aja.

“Abi, bu otobüs Ankara’ya gidiyor mu?”

“Evet, bilet aldın mı?”

“Yok, almadım ben, hemen içeride alayım, abi”, ketika saya masuk hendak membeli tiket ke dalam ternyata bayarnya harus cash sedangkan saya gak megang cash sama sekali.

“Tamam sen gir otobüse, sana ibana atacak”, saya pun disuruh masuk ke bus, dan nanti melakukan pembayaran via transfer m-banking. Setelah memasukkan koper ke bagasi, saya masuk kedalam bus dan tak perlu waktu lama untuk saya untuk tertidur. Lelah nya perjalanan, bolak-balik muter-muter kelaperan sambil bawa koper dan menggendong tas, membuat satu jam tidur saya gak terasa sama sekali. Tetapi, sepanjang perjalanan saya mencoba menikmati karena saya berharap perjalanan kali ini akan berakhir manis. Capek dan drama di Istanbul ini, saya anggap sebagai tambahan bumbu cerita perjalanan saja.

Singkat cerita, bus saya sampai di Ankara jam 19.20, telat sekitar 20 menit dari estimasi kedatangan. Memang ada sedikit macet sih tadi di jalan, makanya agak telat. Tanpa basa-basi, saya langsung berlari mencari stand firma Kamil Koç, bus saya yang akan berangkat menuju ke Nevşehir. Bus saya akan berangkat jam 19.30, 7 menitan lagi, dan saya belum tau bus nya berangkat dari peron nomor berapa. Untuk tau itu, saya harus ke stand firmanya dulu bertanya ke CS yang menjaga. Setelah sampai di peron keberangkatan dan ada bus saya disana, saya baru sadar kalau koper saya masih tertinggal di bus sebelumnya, lupa saya ambil. Setelah minta ke supir nya untuk menunggu saya dan jangan berangkat dulu sebelum saya datang, karena saya harus ke lantai atas dulu untuk ambil koper di bus sebelumnya, “Tamam, koş, çabuk!”, saya langsung berlari ke atas dan mengambil koper saya dari bus. Untung busnya belum beranjak dari tempat, jadi bisa langsung saya ambil.

“Nasıl valizini unuttun sen?”

“Pardon abi, acele ettim de otobüsüm saat 7 büçükte kalkıyor

Jadi guys, terminal Ankara terbilang luas dengan peron keberangkatan yang terdiri dari dua lantai. Bus saya sebelumnya, berhenti di peron lantai dua, sedangkan bus saya yang menuju Nevşehir berangkat dari peron di lantai satu. Jadilah saya lari-larian tuh. Karena kondisi perut saya sangat lapar, saya melipir dulu ke salah satu büfe dan membeli sandwich siap jadi di sana, lalu langsung lari menuju bus yang sudah menunggu saya tadi. Alhamdulillah, perut saya aman karena bisa makan sandwich, air minum juga ada karena bisa minta ke abang-abang busnya. Di bus, saya hanya tertidur sekitar dua jam saja, kemudian tidak bisa tidur pulas lagi. Jam setengah 10 malam, bus sampai di terminal kota Kırıkkale, di sana ramai sekali, seperti sedang melepas tim bola kesayangan, terompet ditiup, dan yel-yel dinyanyikan. Jujur saya kurang tau ada apa, cuman sedikit menghibur saja. Sampai nanti di Nevşehir, saya gak tidur lagi dan hanya baca komik webtoon sambili sesekali memandang malam dari jendela. Bus saya sampai jam 00.50,  telat sekitar 20 menit dari estimasi. Di terminal Nevşehir juga ada ramai-ramai, sepertinya ada pelepasan beberapa pemuda untuk ikut wajib militer dilihat dari jubah yang dipakai. Mereka dilepas oleh anggota keluarganya. Setelah memvideokan momen ini, saya masuk ke dalam berharap masih ada restoran atau warung yang jual makanan. Dan Alhamdulillah masih ada yang buka, saya langsung pesan köfte dan makan dı tempat. Untungnya tidak terlalu mahal, 100tl. Dengan perut lapar kayak gini, 200 tl pun kayaknya masih saya beli saking laparnya. Setelah kenyang makan, saya keluar cari transportasi ke hotel tempat bibi saya dan jamaah menginap. Jam segini sudah tidak ada lagi bus umum, hanya taksi satu-satunya transportasi yang bisa dinaiki. Setelah liat di Maps jarak dari otogar ke hotel sekitar 23 km, wah siap-siap bayar mahal ini mah. Dan benar aja, belum apa-apa udah 300 tl ke atas. Sesampainya di depan hotel, tagihan nya 700 tl. Mahal amat ya Allah, tapi ya udah lah, saya keluarkan kartu kredit saya dan ternyata dia hanya menerima pembayaran cash, saya tanya apa bisa via transfer, dia bilang lupa password m-bankingnya, saya tanya lagi apa bisa kirim ke temannya gitu misalnya, dia bilang gak bisa. Duh, ini mah akal-akalan dia aja kayaknya. Ya udah gimana lagi, kita cari atm, yang ternyata adanya di Merkez atau pusat kota. Setelah ke atm dan balik lagi ke hotel, tagihan taksinya nambah jauh dong dari 700 ke 1000tl. Kesal banget saya malam itu, tapi gimana lagi, udah malam, capek juga, saya ingin cepat-cepat istirahat di hotel. Sekitar jam 2 malam saya sampai di hotel. Sepertinya bibi saya juga sudah tidur. Saya masuk ke hotel dan pergi ke resepsionis, bilang kalau saya akan menginap di kamar bibi saya. Saya sebutkan nomor kamar dan kalau bibi saya orang Indonesia, menginap malam ini di kamar tersebut. Kemudian resepsionis tersebut bertanya ke saya apa kamu sudah reservasi atas nama kamu, dia tanya.  Saya bilang ya belum tentu saja, tapi kamar itu atas nama bibi saya, saya akan menumpang tidur disana. Saya coba menelpon bibi saya, karena saya tidak diizinkan menginap disini. Lalu, bibi saya turun ke lobi. Kelihatan kalau beliau sudah lelah banget. Saya juga gak mau merepotkan beliau sebenarnya. Ketika coba jelaskan, ada dua kasur di kamar itu, tetap gak dibolehin. Kata resepsionis, bukan masalah ada dua kasur, tapi itu kamar untuk satu orang. Dalam hati kesel banget saya, kalau kasur ada dua, terus satunya buat apa? Kami coba nego-nego, kalau misal nambah pembayaran, bisa gak? Gak bisa dia bilang, lagipun gak ada info dari agen travelnya kata dia. Ya… sudah jam 2.30 malam, pasti sudah tidur juga guide-nya. Kita juga gak enakan untuk menelpon malam-malam. Mau buka kamar baru, harganya 2500 tl. Yang bener aja, rugi dong! Tinggal 4 jam lagi juga harus menunggu, sangat gak worth it buka kamar baru. Akhirnya saya dan bibi saya duduk saja di lobi ruang tengah hotel. Sebenarnya kami sudah tanya apa boleh saya tunggu di ruang tengah ini sampai pagi, gak dibolehin, dong! Tapi, ya sudahlah, bodo amat. Kami tetap duduk di sofa. Setengah jam berlalu, bibi saya kembali ke kamar karena merasa pusing. Saya juga sudah dari tadi sebenarnya minta beliau kembali ke kamar saja, biar saya menunggu disini saja. Sebenarnya tinggal nunggu waktu saja sampai benar-benar diusir dari hotel. Saya duduk di sofa, sambil scroll ig dan tiktok, berharap waktu cepat berlalu, cepat pagi. Setelah usiran verbal saya tanggapi dengan anggukan aja, akhirnya pada jam 4 dini hari, (subuh soalnya jam 6, guys) resepsionis menelpon security untuk membawa saya keluar dari hotel. Ketika security datang, saya langsung berdiri menenteng tas dan keluar dari hotel. Pasrah saja. Toh, security cuma melaksanakan tugasnya. Sampai ke gerbang depan hotel saya tanya ke security itu adakah masjid atau mushola terdekat. Dia bilang tidak tau, tapi mungkin di petrol -pom bensin- disana ada, sambil menunjuk ke petrol warna hijau sekitar 500 meter dari hotel. Saya langsung menuju kesana, mencari-cari dimana mushola berada. Alhamdulillah ketemu, Musholanya bersih, dan kosong. Juga cukup hangat kalau dibandingin dengan cuaca diluar yang dibawah 5°C. Jikalau tau ada mushola disini, dari jam 3 ketika gak dibolehin nginep di hotel itu, harusnya saya langsung kesini saja, jauh lebih nyaman dibanding ngantuk di sofa sampai nunggu waktu untuk diusir. Saya disana selama kurang lebih dua jam, tiduran sambil baca webtoon. Jujur saya gak berani tidur, takutnya kebablasan. Tapi saya tetap mencoba untuk tidur untuk mengistirahatkan badan barang sejam pun cukup. Alarm sudah saya nyalakan untuk mencegah saya tembus. Tapi, dipaksa pun tetap gak bisa tidur. Walhasil saya berfokus menghabiskan waktu dengan HP sampai subuh tiba, kemudian saya sholat. Ketika itu saya ditelpon bibi saya agar kembali ke hotel, jamaah sedang siap-siap mau sarapan. Sebentar lagi berangkat ke Kapadokya. Saya setelah solat subuh, bergegas kembali ke hotel. Sampai di gerbang, saya ditahan oleh security tadi malam. Saya bilang, bus kami akan berangkat sebentar lagi, bus kami di dalam. Dia kemudian meminta saya untuk menunggu sampai ada konfirmasi kalau saya boleh masuk ke dalam. Saya kemudian duduk di depan pos satpam depan gerbang. Setelah melihat saya kedinginan di luar, saya disuruh untuk masuk dan duduk di dalam pos satpam tersebut. Di dalam, saya duduk dekat penghangat listrik di sudut ruangan. Kemudian dia memberi saya sebuah apel. Saya makan apel itu, karena kebetulan saya cukup lapar dan haus setelah kejadian semalam. Tenaga saya cukup terisi setelah makan apel itu. Tak lama kemudian, security tadi mendapat telpon, kemudian memperbolehkan saya pergi masuk ke hotel. Di hotel, para jamaah sudah berkumpul di lobi hendak sarapan. Ada bibi saya juga yang prihatin setelah tau saya benar diusir dan tidur di mushola. Ya gapapa bi, pengalaman. Setelah itu saya sarapan bersama jamaah lain di hotel. Saya ambil banyak makanan karena perut posisi sedang lapar. Gak mau rugi juga, mumpung bisa makan di hotel bintang lima. Gratis.

Hari ini, tanggal 10 Februari, itinerary kami hari ini menuju Kapadokya, lanjut ke Göreme, yaitu peninggalan kota kuno bawah tanah dan juga pegunungan batu yang dilubangi. Setelahnya kami akan lanjut ke Gunung Erciyes di kota Kayseri. Cukup banyak itinerary kali ini.

Setelah sarapan, kami keluar dari dalam hotel, dan sudah banyak mobil jeep terparkir. Katanya, awalnya hanya beberapa jamaah saja yang ingin naik jeep, karena memang opsional dan dikenai biaya tambahan. Tapi karena melihat yang lain naik jeep, jemaah yang lain mau juga. Ya sudah ujung-ujungnya semua naik jeep. Beberapa jamaah yang sudah berumur, memilih untuk menetap di hotel karena tidak kuat dengan cuaca dingin diluar. Di jeep, sangat seru sekali karena supirnya sengaja menyetir zig-zag supaya kami terasa sensasi goyang-goyang karena tanah menuju Kapadokya tuh bergelombang. Lagu di mobil yang dihidupkan pun lagu dj remix Indonesia. Tau aja dia biar seru. Melihat langit Kapadokya, MasyaAllah, indah banget. Langit biru, dihiasi oleh balon udara besar yang baru terbang. Wow!! Kalian juga ketika berkunjung kesini, pasti akan takjub memandangnya. Luar biasa. Keren. Turun dari jeep kami berfoto di destinasi pertama, tempat balon terbang. Dari info yang saya dapat, hanya dua jamaah saja yang naik balon udara-nya Kapadokya. Maklum, 5 juta per-orangnya. Lebih mahal dari biaya semesteran saya di ESOGU. Foto di depan balon pun udah cukup buat kami. Ada salah satu supir jeep yang bagus teknik fotonya, dia memantulkan cahaya dari hp yang dia taruh melebar dibawah kamera hp yang dipakai buat memfoto kami. Hasilnya, dibawah kami seakan ada pantulan bayangan dari kami dari atas, bagai ada sungai yang memantulkan gambar kami dari bawah. Karena ini pulalah, dia yang paling sering dimintai foto oleh jamaah. Jarang-jarang soalnya orang Turki hasil fotonya bagus. Gak salah memang Kapadokya jadi salah satu destinasi favorit, karena memang gak berlebihan kata dari mbak-mbak di series ‘Layangan putus’, “it’s my dream, mas!” . Saya juga punya mimpi untuk ajak istri saya nanti naik balon udara Kapadokya. Ya makanya, cari duit dulu, baru cari pasangan. Setelah puas di pos pertama, kami pergi ke pos kedua. Disana ada toko kecil pernak-pernik dan makanan-minuman. Mereka menyetel lagu dangdut Indonesia. Sepertinya, akhir-akhir ini banyak turis asal Indonesia yang kesini. Disini juga kami banyak mengambil foto di berbagai sudut. Di pos ketiga, nah ini yang bikin saya ketawa ngakak. Jadi, para supir jeep berdiri di atas bagian depan jeep, memanggil jemaah ke depan jeep sambil memegang botol sampaigne warna hijau. Isi cairannya warna merah. Katanya sih halal, rasanya pun kayak fanta. 

Turun dari jeep kami berfoto di destinasi pertama, tempat balon terbang. Dari info yang saya dapat, hanya dua jamaah saja yang naik balon udara-nya Kapadokya. Maklum, 5 juta per-orangnya. Lebih mahal dari biaya semesteran saya di ESOGU. Foto di depan balon pun udah cukup buat kami. Ada salah satu supir jeep yang bagus teknik fotonya, dia memantulkan cahaya dari hp yang dia taruh melebar dibawah kamera hp yang dipakai buat memfoto kami. Hasilnya, dibawah kami seakan ada pantulan bayangan dari kami dari atas, bagai ada sungai yang memantulkan gambar kami dari bawah. Karena ini pulalah, dia yang paling sering dimintai foto oleh jamaah. Jarang-jarang soalnya orang Turki hasil fotonya bagus. Gak salah memang Kapadokya jadi salah satu destinasi favorit, karena memang gak berlebihan kata dari mbak-mbak di series ‘Layangan putus’, “it’s my dream, mas!” . Saya juga punya mimpi untuk ajak istri saya nanti naik balon udara Kapadokya. Ya makanya, cari duit dulu, baru cari pasangan. Setelah puas di pos pertama, kami pergi ke pos kedua. Disana ada toko kecil pernak-pernik dan makanan-minuman. Mereka menyetel lagu dangdut Indonesia. Sepertinya, akhir-akhir ini banyak turis asal Indonesia yang kesini. Disini juga kami banyak mengambil foto di berbagai sudut. Di pos ketiga, nah ini yang bikin saya ketawa ngakak. Jadi, para supir jeep berdiri di atas bagian depan jeep, memanggil jemaah ke depan jeep sambil memegang botol sampaigne warna hijau. Isi cairannya warna merah. Katanya sih halal, rasanya pun kayak fanta.



 

“One, two, three, Cheers!”, Dua orang menyemprotkan botol berisi ‘fanta’  tadi ke kami. Wuuhhh, ramai kita ketawa, hahaha. Gak bisa berhenti ketawa saya ketika setiap orang dapat cangkir gelas dan diisi kan fanta merah tadi. Semua bersulang, rasanya enak ternyata, dan mirip fanta! “Halal, halal, halal, halal”, sambil meniru meme orang Malaysia yang menyicip makanan banyak-banyak di Arab. “Halal, halal, halal, halal, halal”. Keasyikan ini sangat menghibur banget, wajar jemaah banyak yang menaruh tips di cangkir gelas, yang memang sudah disediakan oleh mereka para guide diatas mobil jeep mereka. Setelah sekitar dua jam bersenang-senang di Kapadokya, kami lanjut ke destinasi selanjutnya, Göreme, salah satu kota dari Provinsi Nevşehir. Biasanya memang travel tour setelah selesai dari Kapadokya, lanjut ke sini. Fiuuhh! Alhamdulillah, semua cobaan dan drama mulai selesai dengan senyuman sedikit demi sedikit.

 

Göreme menjadi salah satu ikon dari Provinsi Nevşehir bersama Kapadokya. Sejak tahun 1985, Taman Nasional Göreme telah masuk ke daftar situs warisan UNESCO. Tapi kami kali ini tidak masuk kesana. Akan tetapi dari kejauhan saja, melihat lembah yang terdapat batu yang dipahat dari zaman Byzantium di dalamnya, serta rumah, desa, gua, dan kota-kota bawah tanah yang merupakan sisa-sisa habitat manusia sejak abad ke-4 masehi ini sudah cukup bagi kami. Sudah terasa keindahannya. Mungkin lain kali nanti saya akan ke Museum outdoor, yang menawarkan kota bawah tanah kuno, seni Byzantium, dan formasi bebatuan "cerobong peri" itu. Kalo lihat di website resminya sih, tiket masuknya seharga 480 tl. Itu untuk harga turis, dan untuk student seperti kita yang punya muzekart, sepertinya bakal jauh lebih murah. Mungkin gratis malah kalau punya muzekart. Mungkin. Kayaknya.

Kami selanjutnya mampir sebentar ke toko batu perhiasan, batu akik, cincin, dan bermacam perhiasan lainnya ada di toko ini. Saya selalu senyum pengen ketawa kalau udah jamaah masuk ke toko lalu mendengarkan penjelasan dari pekerja tokonya. Selalu ada aja yang bisa ditertawakan. Mereka juga selalu ramai dan gak bisa diam. Hahaha, suka saya yang kayak gini sebenarnya mah. Jadi gak kaku. Jamaah dari Lampung emang gak bisa diam. Hahaha. Untuk mempermurah paket perjalanan, biasanya memang travel-travel melakukan kerjasama dengan toko perhiasan semacam ini. Mereka membawa pelanggan dari luar, dan apabila ada yang membeli di toko mereka, mereka akan sharing profit ke tour travel ini sebagai kesepakatan. Itu sebabnya tour travel yg beramai-ramai seperti ini, berhari-hari di Turki tidak akan terlalu mahal. Masih sesuai budget di kantong kita.

Lanjut, sebelum makan siang, kami masuk ke salah satu rumah bawah tanah yang masih ada di kompleks Göreme. Kami memasuki ruangan yang ada satu persatu. Kami turun melalui tangga, dan mulai mendengarkan penjelasan dari Mehmet Abi, Tour guide kita yang sudah lancar bahasa Indonesia-nya. Menurut penjelasannya, rumah semacam ini yang sedang kami kunjungi, merupakan salah satu rumah yang paling awal dalam peradaban di bumi Anatolia ini. Rumah yang terbentuk dari lahar ini digali oleh orang-orang zaman dahulu. Dikarenakan lahar lebih lembut, memudahkan mereka untuk membuat ruangan demi ruangan di rumah bawah tanah ini. Untuk menghindari hewan buas di luar, para penduduk juga menjaga ternak-ternak nya di rumah bawah tanah mereka. Di ruangan selanjutnya, Mehmet abi menunjukkan ruangan tempat penyimpanan bahan makanan. “Ini kulkas alami kita”, katanya. Karena walaupun di luar panas, di dalam, suhu lebih stabil sehingga ruangan bisa difungsikan sebagai ‘kulkas’. Buah-buahan, wine, air, gandum-gandum disimpan diruangan ini. Air-air umumnya diambil oleh masyarakat dari sungai Kızılırmak, sungai yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka tinggal. Sungai ini termasuk yang terpanjang di Turki, dengan panjangnya sekitar 20-25 km jauhnya. Air-air dan wine disimpan dalam sebuah tembikar yang juga terbuat dari lahar. Ini salah satu kerajinan mereka yang paling terkenal. Untuk pintu masuk ruangan, mereka membuat lubang yang tidak begitu besar, lalu ada batu besar didepannya yang berfungsi sebagai pintu penutup ruangan tersebut. Pintu-pintu ini dibuat untuk melindungi diri mereka dari musuh-musuh yang datang dari luar. Untuk ke ruangan selanjutnya kami melewati lorong pendek, kami harus menunduk untuk bisa lewat, cukup gelap walaupun ada lampu penerang disana. Ruangan kali ini merupakan ruangan yang cukup besar. Ada winery (şaraphane) disana. Sebagaimana diketahui, anggur merupakan salah satu symbol dari Agama Kristen. Sangat identik dengan Kristen di zaman Romawi dulu. Mehmet abi kemudian menjelaskan cara orang dahulu membuat wine nya di tempat ini. Setelah mereka mengumpulkan anggur-anggur dari luar, mereka taruh di winery tadi, kemudian mereka injak-injak, kemudian dari sari anggur-anggur tadi mengalir wine, dan sudah ada tembikar dibawahnya yang siap untuk menjadi wadah wine yang sudah jadi. Kemudian sari anggur tadi difermentasikan selama kurang lebih 5 bulan hingga benar menjadi wine yang lezat. Di atas ruangan ini, ada cerbong semacam ventilasi udara untuk menetralisir gas-gas beracun yang mungkin masuk ke ruangan bawah tanah mereka. Ruangan-ruangan seperti ini juga mereka fungsikan sebagai gereja, maupun kuburan.

Mehmet Abi sedang menjelaskan salah satu ruangan rumah bawah tanah

Ada lebih dari 1000 rumah bawah tanah di Kapadokya, sehingga banyaknya rumah ini membentuk sebuah kota, kota bawah tanah bersejarah yang penduduknya beragama Kristen Ortodoks dari zaman Kerajaan Byzantium, Romawi Timur. Ada sekitar 60 ribu penduduk yang dahulu tinggal di kota bawah tanah ini. Dengan kedalaman sekitar 300-400 meter, di kota ini mereka melakukan berbagai aktivitas mereka. Menurut beberapa ilmuwan, bahkan kita bisa masuk dari kota bawah tanah Kapadokya ini, lalu keluar-keluar sudah di China saking luas dan panjangnya kota bawah tanah ini. Jujur, saya tidak tahu kevalidan informasi ini, saya hanya mengutip penjelasan dari Mehmet Abi saja.

Setelah foto-foto bareng, kami keluar dari rumah bawah tanah ini. Mehmet abi bilang, di pintu keluar ada toko souvenir oleh-oleh. “Silahkan kita belanja untuk membantu keluarga-keluarga, usaha-usaha kecil (UMKM). Saya tidak bilang yang 200 dolar, 100 dolar. Tapi, yang 50 lira, 100 lira. Kita bantu ya bapak-ibu, bapak-ibu, bagi-bagi rezeki”, katanya dengan jargon bapak-ibu, bapak-ibu nya yang khas. Di toko souvenir yang terletak di pintu keluar, saya membeli gantungan kunci dan tempelan kulkas. Total-total yang saya beli sekitar 150 tl kalau saya tidak salah. Ketika saya ingin bayar dengan kartu kredit, ternyata alat gesek nya tidak berfungsi. Kemudian Mehmet abi bilang, “Al, ben ödüyörüm, sen öğrencisin, bizlersin”. Dia mentraktir saya oleh-oleh yang saya hendak bayar tadi. Awalnya saya sempat menolak, tapi dia bilang gapapa. Sambil berkata ke yang jual kalau saya mahasiswa disini, tamu kita, bagian dari kita, gak usah ngeluarin duit, katanya. Ini yang saya suka dari dia, selanjutnya pun saya makin mantap menetapkan kalau Mehmet Abi ini tour guide Turki  jamaah Al-Azhar wisata terbaik sejauh ini. Walaupun bahasa Indonesia-nya bukan yang terbaik, tapi attitude, kesabaran, candaan, dan enjoyment dia ketika bertugas, keren sih. Walaupun ya, dia kadang bilang ke saya kalau capek banget menghadapi jemaah, bapak-bapak dan ibu-ibu ini. Tapi, di akhir dia selalu bilang, “Seviyorum onları, onlar iyi insanlar”. Belum saya temui guide Turki yang attitudenya baik banget seperti ini. Bukan berarti yang lain jelek, tapi beliau nya yang keren.  

Kami makan siang di salah satu restoran di kota, nama restorannya ‘Dede Efendi Kaya Restaurant’. Di dalam restaurant kami dilihatkan pameran bakar-bakar langsung daging yang ‘katanya’ daging kuda. Tapi pas kami cobain sih ini mah daging ayam. Katanya ada daging kudanya yang nyempil diantara daging ayamnya. Memang gak mungkin juga sih full daging kuda. Mau berapa harganya nanti kalau full daging kuda semua. Di mangkok saya sih, kayaknya full ayam, wkwkwk. Nasib…

Ini daging kuda apa ayam ya?

Dari restoran kami langsung lanjut ke destinasi utama lainnya yaitu Gunung Erciyes yang ada di kota sebelah, Kayseri. Sebagai info tambahan, di Kayseri ini ada salah satu univ top terkenal, Erciyes University. Masuk ke top 20 universitas negeri di Turki. Dulu, saya juga sempat mau daftar disini, tapi gak jadi karena satu dan lain hal. Perjalanan menuju Gunung Erciyes memakan waktu sekitar 1 setengah jam naik bus. Hampir semua dari kami, termasuk Mehmet Abi tidur di perjalanan, setelah menjelaskan sedikit tentang situs di kanan-kiri jendela kami pada awal perjalanan kesana.   

View gunung salju emang gak pernah mengecewakan. Selalu bikin takjub dengan ciptaan-Nya. Dari waktu di jalan, kami sudah bisa melihat keindahan pemandangan dari kejauhan. Apalagi ketika sudah sampai, naik keatas, putih dimana-mana, gak pernah mengecewakan pokoknya kalau berhubungan dengan view gunung berlapis salju kayak gini. Terlebih buat jamaah yang baru pertama kali ketemu salju, pasti jadi pengalaman seru buat mereka. Gunung Kayseri adalah tempat bermain ski terbaik di Turki. Orang Turki maupun mancanegara lain, termasuk kita para mahasiswa Indonesia, opsi pertama kita untuk bermain ski ya disini. Treknya bagus, luas, dan aksesnya juga sudah gampang. Bahkan sudah ada orang Indonesia yang menyediakan jasa belajar ski dan pricelist peminjaman alat ski semuanya. Kali ini, kami tidak akan bermain ski. Hanya foto-foto dan mengambil momen selama sekitar setengah jam saja. Wajar, kebanyakan jamaah memang sudah tidak muda lagi untuk bisa main ski. Lagipula cuaca dingin dan waktu yang sudah sore juga menambah ketidakmungkinan untuk main meluncur main ski. Baiklah, tidak perlu juga, segini juga sudah puas. Lain kali, mungkin saya bisa balik lagi kesini, siap meluncur dengan ski. Sepertinya bakal asyik sih.


 
Sad😭

Waktu maghrib tiba, beberapa orang sholat di space kosong di bawah deket tempat duduk-duduk. Sebagian lagi, termasuk saya yang sudah kedinginan memutuskan untuk solat di bus saja. Setelah satu setengah jam perjalanan kembali ke hotel, kami akhirnya sampai disana sekitar jam 8 malam. Tadinya, saya berencana untuk booked kamar baru di hotel ini, atau di hotel terdekat yang lebih murah harganya. Tapi, waktu liat yang jaga resepsionis bukan orang yang kemarin, saya gak jadi booking kamar baru, dan masuk ke salah satu kamar jamaah yang satu kasurnya kosong. Memang di situlah harusnya saya menginap kemarin. Apalah daya saya harus berakhir di mushola pom bensin. Sepertinya dia jaga shift malam. Mumpung belum jaga, setelah taruh barang di kamar, saya langsung ke tempat makan hotel. Ternyata belum waktunya, kami dapat giliran makan jam setengah 9. Menunggu bentar, kemudian balik lagi ke tempat makan. Gak mau rugi, saya ambil sebanyak-banyaknya. Emang mahasiswa, kalau ada yang gratisan, plus enak, dan tau kalau diluar harganya mahal, sikat semua. Ayam goreng, köfte, telur, nasi, cake, manisan. Semua yang keliatan enak saya ambil. Tapi, gara-gara ayamnya hambar, tipe-tipe ayam guling Turki yang kayak gak ada rasanya, saya kekenyangan, dan hampir ingin muntah. Padahal biasanya, kalau memang makanannya enak, saya bisa gak berhenti untuk mengunyah. Akhirnya saya habiskan yang lain terlebih dahulu, yang memang lezat dan nikmat, baru habiskan ayam hambar tadi. Jam 9 malam saya kembali ke kamar, mandi, sholat, kemudian minum susu kambing Etawa yang dibawa bibi saya dari Indonesia. Lumayan untuk menghangatkan dan merilekskan badan setelah cukup penatnya hari. Sebelum tidur, saya memindahkan barang titipan ortu saya di koper bibi saya, ke koper yang saya bawa. Setelah makanan, minuman sachet, bumbu-bumbu, buku, dan lain-lainnya sudah saya susun di koper. Saya kembali ke kamar, lantas tidur tak lama kemudian.

 

Saya bangun jam 6 pagi ketika jamaah yang lain sepertinya sudah pada bangun. Wajar, kan disini jam 6 baru subuh, sedangkan di Indonesia sudah terbit matahari. Sesuai kebiasaan lingkungan aja sih sebenarnya. Sekitar jam setengah 8 saya sarapan. Yang jaga di meja resepsionis ternyata orang yang sama dengan yang ngusir saya. Ya udah, saya jalan cepat, fokus jalan kedepan dari kamar, dari balik tiang-tiang ruang tengah, berharap dia gak lihat saya. Begitupun sebaliknya dari sarapan. Ketika keluar dari hotel pun, saya yang pertama. Aman dah. Alhamdulillah tidak ada tambahan duit yang harus keluar. Mengingat dulu saya dan teman saya yang ikut trip jamaah, kami buka kamar baru yang harganya di atas satu juta, waktu trip plus Turki jamaah yang kedua, tahun 2023 awal lalu di Bursa. Kan jadi gak enakan sama bibi saya yang bayar. Sekitar jam 9 atau 10 pagi kami check-out dari hotel.

Hari ini, tanggal 11 Februari hari Minggu, jadwal kami balik ke Istanbul. Ternyata setelah saya tanya, tidak ada itinerary ke Ataturk Musoleum seperti yang saya kira. Kata Mehmet abi, kita sampai di Ankara saja sore, dan bakal memakan waktu lama kalau harus kesana dulu, nanti nambah malam lagi sampai ke hotel di Istanbul, kasian Jamaah. Masuk akal. Hanya saja, nanti kami akan makan siang di Tuz Gölü, ‘Danau Garam’. Letaknya ada di wilayah Anatolia Tengah, 150 km ke arah Tenggara dari Ankara. Danau terbesar kedua di Turki ini kalau dilihat di Google bakalan bagus banget, warnanya pink, dengan syarat kalau dikunjungi di musim yang pas.

Sebelum menuju Istanbul, kami sempat mampir ke tempat kerajinan keramik dan tembikar khas daerah Kapadokya dan sekitarnya. Di awal kami sempat dijelaskan sejarah kerajinan di kota ini. Lalu di ruangan selanjutnya, ada pertunjukan pembuatan tembikarnya langsung dari tanah liat. Original nya mereka putar alatnya pakai teknik khusus, tapi sekarang sudah pakai bantuan listrik. Sambil mendengarkan penjelasan dari salah satu petugas yang berbicara bahasa Inggris, dia bilang tanah liat yang dipakai ini dari sungai, tapi tanah liat yang putih asalnya dari gunung vulkanik. Kalau kata Mr.Mehmet, yang putih dari Gunung Erciyes. Dijelaskan juga bahwa di tradisi dahulu, pemuda umur 15 ke atas yang sudah bisa membentuk tembikar, itu artinya dia sudah siap untuk menikah. Kemudian salah satu di antara kami ada yang diminta untuk maju ke depan dan langsung mempraktikan, membentuk tanah liat menjadi tembikar. Kelihatannya sih susah susah gampang. Enjoy kami melihat praktik seperti ini, apalagi masing-masing dari kami disuguhi teh apel dengan cangkirnya yang tentu saja dari kerajinan tanah liat. Di ruangan selanjutnya, setelah melewati lorong, ada toko koleksi kerajinan keramik yang tentu saja harganya tidak sesuai dengan kantong saya, wkwkwk. Ada beberapa jamaah yang membeli sedikit kerajinan untuk koleksi maupun oleh-oleh. Btw, nama tempatnya, Aldag Seramik, bertempat di kota Nevşehir.


Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan. Usai dua jam perjalanan, sekitar jam 12 siang, kami sampai di Tuz Gölü. Kami akan ishoma (Istirahat-sholat-makan) disini. Saya sempat beli gantungan kunci juga disini sebagai buah tangan. Soalnya gantungan kunci balon Kapadokya yang bagus, gak ada di Ankara maupun Istanbul, apalagi daerah yang lain. Kalaupun ada, gak terlalu bagus. Habis itu, saya jalan ke tepi danau. Anginnya cukup kencang waktu itu. Tidak ada yang spesial dari danau ini sejujurnya, menurut saya. Warna airnya agak kecoklatan. Mungkin memang karena waktu kedatangan kami yang tidak pas. Oh ya, jamaah waktu berangkat ke Kapadokya juga sempat mampir ke sini. Tapi karena saya ketinggalan bus mereka, saya belum kesini. Itu sebabnya mereka memilih untuk duduk di restoran saja. Selain karena alasan anginnya yang kencang tentu saja.

Setelah berjam-jam perjalanan, kami akhirnya sampai juga di Istanbul sekitar pukul 10 malam. Semua orang sudah pada capek dan ngantuk. Kami sudah makan malam tadi ketika di jalan. Jadi malam ini tinggal tidur saja. Memang gak banyak itinerary untuk hari Minggu ini. Lebih banyak waktu yang habis di jalan karena jarak kota Nevşehir-Istanbul sendiri memang jauh, sekitar 791 km. Kami lekas tidur saja begitu pembagian kamar dilakukan. Eit, mandi dan sholat dulu, deng. Baru tidur. Besok pagi-pagi jam 9.30 kami sudah harus check-out dari hotel. Itinerary kami cukup banyak karena besok merupakan hari terakhir dari trip Turki kali ini. Hagia Sophia, Bosphorus, Hippodrome, dan Taksim Square untuk beberapa tempat yang akan kami kunjungi besok.

Tanggal 12 Februari, hari terakhir trip kami kali ini. Pagi-pagi setelah sarapan, kami sudah berangkat naik bus yang sudah terparkir di depan hotel. Seperti biasa, perjalanan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Pak Ustadz. Selalu memang setiap perjalanan kami diawali dengan doa terlebih dahulu agar perjalanan kami berkah dan selamat. Kami melewati tepi Laut Marmara, menyusuri kota, kemudian menuju kompleks Hagia Sophia. Di dekat sana ada restoran Indonesia bu Deden. Kami mampir untuk makan siang. Di sebelahnya ada toko manisan Baklava, Turkish Deligh dan lain-lain untuk oleh-oleh. Setelah senang akhirnya ketemu masakan Indonesia lagi, kami lanjut berjalan menuju Hagia Sophia. Seperti biasanya, kami masuk dari belakang, melewati Hippodrome terlebih dahulu. Dulunya, Hipodrom Konstantinopel adalah sebuah sirkus yang merupakan pusat sosial dan olahraga di Konstantinopel, ibukota dari Kekaisaran Byzantium. Saat ini merupakan sebuah lapangan yang dinamakan SultanAhmet Meydanı, terletak beberapa ratus meter saja dari Hagia Sophia. Di sisi selatan dari lapangan, ada sebuah ‘tugu’ yang biasa jadi spot foto para turis, yaitu Obelisk Theodosian, bahasa Turkinya, ‘Dikilitaş’. Tugu ini dibawa dari Mesir oleh Kaisar Romawi Theodosius I pada tahun 390 M dan didirikan di lokasinya saat ini. Tentu saja kami berfoto dulu disini, juga di jalannya. Ibu-ibu pada ramai bikin video jalan bareng . Enaknya seru-seruan bareng ya!

Kemudian, pas ketika waktu Dzuhur tiba, kami mengantri masuk ke masjid Hagia Sophia. Sejak awal 2024 ini, kini turis yang hendak masuk Hagia Sophia dikenai biaya 25 Euro per orang. Tapi, untuk muslim yang ingin menunaikan sholat, bisa masuk tanpa dikenai biaya apapun. Oleh karena itu, kami memang sedari tadi menunggu waktu Dzuhur untuk bisa masuk ke dalam secara gratis. Ini kesekian kalinya saya masuk ke masjid bersejarah ini, tapi gak pernah bosan dengan interior di dalamnya. Suasana di dalamnya benar-benar menyejukkan. Keagungan masjid ini gak pernah lekang oleh zaman. Oh ya, untuk kita para muslim yang hendak sholat, pintu masuk dari depan sebagaimana biasa. Tapi, untuk teman-teman turis non-muslim atau yang masuk diluar waktu sholat, pintu masuk nya dari samping kiri-belakang, dari depan gerbang masuk Museum Topkapı.

Setelah keluar dari Hagia Sophia, kami pergi ke depan taman Blue Mosque. Yups, kami gak masuk ke masjid Sultan Ahmet yang berwarna biru itu. Hanya berfoto dari kejauhan saja. Seperti sebelum-sebelumnya, kami foto dan bikin video yel-yel bareng. “Al-Azhar wisata, barokah, Allahu Akbar!”. Dengan yel-yel ini pula, sontak attention banyak orang ke arah kami. Kami tanggapi dengan halo dan ketawaan saja. Pede aja kalau emak-emak mah, wkwkwk. Gapapa asal bener dan bawa senyum orang banyak.

Jamaah berfoto di depan Hagia Sophia

Dari sana kami jalan bareng-bareng ke depan Museum Topkapı. Ternyata kami baru dapat kabar dari Mr.Mehmet, tour travel dari mereka tidak memasukkan museum ini ke dalam list itinerary. Jadi, yang ingin masuk ke dalam pun harus bayar sendiri. Bibi saya mendesak untuk bisa masuk, kasihan Jamaah yang ingin melihat peninggalan Nabi Muhammad di dalam. Dari itu, bibi saya menawarkan, yang ingin masuk akan dibayarkan oleh bibi saya dan Ustadzah Henny, yang juga mengurus tour ini dari Indonesia. Ada 10 orang yang ingin masuk, termasuk saya sendiri. Tapi saya bilang, saya tidak perlu dibayarin, karena saya punya MuzeKart, jadi bisa masuk langsung. Apesnya, ternyata waktu saya coba masuk ke dalam, Stok pengunaan kartu saya sudah habus. Jadi saya harus beli lagi tiket masuknya (60 tl). Tapi, ketika ingin balik lagi ke loket, saya langsung disuruh masuk ke dalam oleh Mr.Mehmet. Awalnya saya menolak, karena harga tiket turis mahal banget, 1500 tl. Tapi sepertinya ada tiket lebih, jadi saya langsung disuruh masuk ke dalam saja sama dia. Masuk ke dalam, tanpa ke ruangan pakaian dan perhiasan sultan, kami langsung ke Kutsal Emanetler, tempat peninggalan para Nabi dan Sahabatnya. Seperti yang sudah paparkan di tulisan blog saya yang sebelumnya, kalian bisa baca dan lihat foto-fotonya di sana. Mehmet abi gak masuk ke dalam. Hanya saya dan beberapa jamaah tadi. Saya lah yang menjelaskan isi di dalam ruangan ini. Tongkat Nabi Musa, Replika Kaki Nabi Muhammad, dan berbagai peninggalan lainnya, saya coba jelaskan sebisa saya. Salah satu jamaah menangis ketika melihat peninggalan Nabi Muhammad tersebut, termasuk helai janggut beliau dan pedang beliau. Beliau bilang, kalau dirinya sudah tua. Gak tau lagi kapan bisa balik lagi ke sini atau nggak, makanya dia pengen banget masuk ke museum ini. Dan Alhamdulillah bisa kesampaian. Gimana pak? Tanya saya ke salah satu jamaah. “Merinding saya, ri”, jawabnya. Memang ketika kita mundur ke belakang mengingat pengorbanan Para Nabi dan Sahabat untuk meninggikan Agama Islam, hampir mustahil gak merinding. Tertegun. Hikmat.  

Kami gak berlama-lama di dalam, gak enakan sama yang nunggu di luar. Keluar dari kompleks yang bayar, ada taman di sana, dan toko souvenir juga. Para jamaah pada duduk di luar toko souvenir itu. Setelah semua orang berkumpul, kami keluar menuju bus. Ketika berjalan keluar, Mehmet abi bilang ke saya, kalau bibi saya orang baik, saya suka kebaikan dia, dia bilang. Saya bilang, memang beliau orang baik, di Indonesia juga beliau Ustadzah (Hoca). Alhamdulillah, saya punya bibi yang baik seperti beliau.

Itinerary kami kali ini, berlayar di kapal mengarungi selat Bosphorus. Agak lebay ya bahasanya. Ya intinya kami akan Tour Selat Bosphorus. Tour ‘wajib’ bagi para turis Turki yang jalan-jalan di Istanbul. Ntah kenapa, tour kali ini kok lama sekali. Kami seperti bolak-balik 3 kali Selat Bosphorus dari sisi ke sisi. Biasanya sih hanya memakan waktu 20-30 menit saja, tapi private tour kali ini dihitung-hitung, sejam pun lebih. Makanya, setelah sekitar setengah jam foto-foto, mengabadikan momen, bikin video bareng, setengah jam sisanya, kami hanya duduk di dalam kapal, karena angin yang makin kencang. Untung ada yang jual kopi ataupun air panas doang di dalam kapal. Bibi saya bawa susu kambing bubuk Etawa sachetnya. Lumayan, pas banget buat ngangetin badan. Ada jamaah yang muntah karena dinginnya cuaca dan mabuk laut karena goyangan ombak di kapal. Untungnya ada minyak kayu putih dan freshcare yang kiranya bisa meringankan mabuk laut jamaah tersebut. Akhirnya, setelah sejam berlalu, kira-kira jam setengah 5 sore, kami turun dari kapal. Saya lupa tempat naik dan turunnya dari daerah mana. Soalnya agak beda daerahnya dari tempat naik private tour biasanya. Neyse, önemli değil.

Foto bareng di kapal Bosphorus tour
Destinasi kami selanjutnya, Taksim Square. Kami dibebaskan kemana-mana selama satu jam. Jam 7, kami harus balik lagi di titik awal kami berpisah nanti, di samping masjid Taksim. Di saat ini pula, kami berpisah dengan Mr.Mehmet, the best tour guide sejauh ini. Sebelum berpisah, banyak jemaah yang meminta foto dengan dia. Saya juga pengen sebenarnya, cuman saya kebelet kencing. Saya akhirnya pamitan dengan dia. Bilang terima kasih, InsyaAllah kita bakal ketemu lagi, kerjasama bareng lagi. Saya juga sudah simpan nomornya. Oh ya, ada satu dompet jamaah yang ketinggalan di hotel Kapadokya kemarin. Mehmet abi lah yang bantu untuk hubungi pihak hotel dan nanti akan dikirimkan ke apartemen saya. Alhamdulillah, beberapa hari sebelum saya menulis cerita ini, dompetnya sudah sampai ke tangan saya. Mehmet abi sudah berhasil bawa vibes yang asyik ke tour ini. Beliau juga Amanah, saya terkesan. Saya yakin, tour kali ini sangat berkesan buat dia, apalagi buat jamaah. Walaupun melelahkan, tapi berkenang dan berakhir menyenangkan. Jamaah orang baik, Mehmet abi juga orang baik. Ya, Alhamdu-lillahi-rabbil-alamin namanya kalo gini.

Jadinya karena kami akan berpisah selama sejam gini, saya sudah digandeng jamaah untuk temani mereka shopping di Taksim. Walaupun gak ketemu sih yang diinginkan. Saya juga gak tau apa ada Zara atau Louis Vitton dan sejenisnya di Istiklal Caddesi-nya Taksim. Jadi mereka suami-istri ingin shopping pakaian gitu, tapi mumpung udah disini, jadi sekalian yang ‘ori’ aja. Tapi, sayangnya gak ketemu yang diinginkan. Ya, seenggaknya, sudah pada nyobain kebab asli Turki. Walaupun saya rasa, Kebab Taksim (yang dimaksud di sini Tavuk Döner ya. Kan Döner itu kebab disebutnya oleh orang luar) rasanya tuh kalah jauh dengan restoran kebab yang sudah terkenal kayak Donas, Öncü, Hot Döner, dan nama-nama familiar lainnya di kita para mahasiswa. Mereka harusnya coba kebab dari nama-nama diatas. Tapi memang, ntah kenapa memang susah nyarinya di Istanbul. Kalaupun ada, gak bakalan bisa ditemuin di tempat-tempat ramai kayak Taksim dan Kompleks Hagia Sophia gitu. Ama, yeter onlar için. Kebab Taksim juga enak kok. Walaupun nama-nama di atas lebih enak.

Saya lupa ngasih tahu kalau Mehmet Abi pergi agak awal karena ingin jemput rombongan selanjutnya dari Malaysia di bandara. Yang menggantikan dia, ada Doğan abi. Dia belum bisa bahasa Indonesia, tapi bahasa Inggrisnya bagus. Soon dia bilang bakal belajar Bahasa Indonesia di Jakarta langsung. Memang, karena tahun-tahun sekarang ini banyak turis dari Indonesia, khususnya jamaah umroh plus Turki, demand pada guide yang bisa bahasa Indonesia naik drastis. Makanya banyak dari travel yang mengutus langsung guidenya ke Indonesia untuk belajar langsung bahasa Indonesia di tanah aslinya. Beberapa tour guide seperti Mehmet abi, dan juga tour guide Al-Azhar Wisata sebelumnya, Ahmet abi, mereka belajar otodidak bahasa Indonesia di Turki. Mungkin juga ikut kursus bahasa Indonesia private. Hasilnya bagus. Dengan seringnya praktek dan tuntutan pekerjaan, gak butuh waktu lama buat mereka untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa kita. Terlebih memang level Bahasa Indonesia yang terbilang cukup mudah jika dibandingkan dengan bahasa lain.

Dari Taksim, kami langsung berangkat ke bandara Istanbul untuk siap-siap check-in. Makan malam juga di bandara. Sudah dibungkuskan nasi ayam goreng sambal buat tiap-tiap orang. Saya tadinya ingin pulang jam 11 malam naik kereta ke Eskişehir, tapi tidak sempat karena saya sibuk bantu jamaah buat check-in. Agak kesulitan buat Doğan abi untuk bantu karena gak bisa bahasa Indonesia. Jadinya, saya yang banyak bantu, gimana caranya gak kena charge atau denda kelebihan bagasi. Soalnya bayarnya mahal, pake Euro juga. Mending banyakin di kabin aja. Setelah berpamitan, saya gak langsung pulang, tapi menunggu dulu di kursi tempat orang biasa duduk, sampai saya dapat kabar dari bibi saya kalau semuanya aman, semua barang berhasil lewat. Karena kadang kabin diperiksa beratnya, kadang tidak. Malahan terkadang hanya salah satu di antara tas atau koper saja yang bisa dibawa ke dalam pesawat. Sisanya tinggal di bandara. Tapi untungnya, itu gak kejadian. Semua aman sesuai harapan, tanpa charge bagasi sama sekali. Setelah mendengar kabar aman itu, baru saya pulang. Dari bandara naik bus havaist ke terminal Esenler, kemudian pulang ke Eskişehir. Saya sampai di Eskişehir jam 6 subuh, langit masih gelap, cuaca cukup dingin karena anginnya juga kencang. Setelah sholat subuh, saya makan, lalu tidur sekitar jam 9 paginya.

Tapiii, bangun tidur saya langsung ngedrop. Badan panas, kepala pusing, pilek, batuk, sakit tenggorokan semua jadi satu. Sepertinya saya kecapekan banget abis perjalanan ini. Padahal tanggal 14 nya ada acara Kabinet, Muda Berdaya Insight, semacam acara leadership untuk Badan Pengurus Harian organisasi kita. Saya coba paksakan datang, walaupun telat. Itupun masih batuk-batuk dan sedikit menggigil. Pulang dari acara, ternyata turun gerimis, saya kehujanan. Malamnya, demam saya naik lagi. Untung ada bye-bye fever dan handwarmer yang dikasih salah satu jamaah. Sedikit bisa turunkan demam saya, walaupun setelah itu naik lagi. Karena demam saya yang belum turun, tenggorokan masih sakit, dan tubuh saya yang belum fit ini pula, saya tidak jadi pergi ke Istanbul. Sebelumnya, saya ada jadwal ke Istanbul tanggal 16-18 Februari untuk menghadiri Musyawarah Tahunan PPI Turki 2024, mewakili PPI Eskişehir yang baru berdiri. Tapi Qadarullah, saya gak bisa, akhirnya digantikan dengan teman saya yang lain.

Di tanggal 19 ini sebisa mungkin saya sudah harus sembuh, nih. Karena ada planning liburan yang sudah kita rencanakan sejak sebulan yang lalu, pergi berlibur musim dingin ke Van Gölü. Bulan ini merupakan waktu yang paling tepat untuk berlibur kesana. Saya harus sembuh, seenggaknya demamnya sudah hilanglah. Batuk dikit mah saya masih hayuk aja. Ya kalau nanti ada catatan perjalanan ke kota Van, berarti saya jadi berangkat. Tapi, kalau gak ada, berarti saya gak jadi kesana karena masih sakit. Stay tune untuk cerita selanjutnya guys! Görüşürüz .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?