Budapest, Kota Paling Underrated di Eropa?

Budapest, 15 Februari 2025

            Tak terasa, saya sudah hampir tiga minggu berada di kota ini, kota yang menawarkan keindahan dan kemegahannya. Jadi memang, kalau kita ke Budapest, kita akan merasakan vibes mahalnya kota ini; ketika melihat gedung-gedung megahnya, memandang jembatan yang tergantung di atas Sungai Danube-nya, dan mengagumi gemerlap cahaya yang terpancar dari gedung parlemennya di malam hari. Banyak orang yang mengatakan bahwa Budapest adalah kota paling underrated di Eropa. Orang-orang mulai memilih Budapest sebagai alternatif dari kota-kota yang sudah umum menjadi tempat wisata di Eropa seperti Paris ataupun Amsterdam. Bagi teman-teman yang mungkin sedang belajar di Eropa, atau lagi ada rencana untuk berlibur di Eropa, berkunjung ke Budapest bisa jadi opsi buat teman-teman. Dijamin gak akan menyesal, deh!

            Beberapa hari yang lalu saya kedatangan teman saya, kak Salsa yang juga ketua Konstantinesia, sebuah platform menulis bagi teman-teman PPI Turki. Dia baru selesai studi Erasmus di Polandia dan saat ini sedang menghabiskan sisa masa visa nya dengan liburan. Karena dia datang pagi dan pulang malam, saya meminta bantuan ChatGpt untuk membuat rute jalan-jalan dari jam 9 AM sampai dengan 9 PM, dengan mempertimbangkan jarak dan rute supaya satu kali jalan tanpa harus bolak-balik kesana-sini. Berikut kira-kira itinerary nya:

📍 Budapest One-Day Itinerary (9 AM - 9 PM)

 

🚶 Morning (Buda Side - Historical & Scenic Walks)

🕘 9:00 AM – 9:30 AM | Shoes on the Danube Bank 

Start with this powerful memorial along the river. 

🕤 9:30 AM – 10:15 AM | Liberty Bridge 

Walk across this iconic green bridge, great for photos. 

🕥 10:15 AM – 11:30 AM | Buda Castle & Fisherman’s Bastion 

Take the funicular or walk up for stunning views at Fisherman’s Bastion. 

---

🍽 Midday (Lunch & City Park) 

🕦 11:30 AM – 12:15 PM | Travel to Central Market Hall 

Cross the river and reach the market. 

🕛 12:15 PM – 1:15 PM | Lunch at Central Market Hall 

Enjoy traditional Hungarian dishes. 

🕜 1:15 PM – 1:45 PM | Heroes' Square

Take the M1 metro to see Budapest’s most famous square. 

🕝 1:45 PM – 2:30 PM | Vajdahunyad Castle & City Park 

Explore this fairy-tale-like castle inside the park. 

---

 🌆 Afternoon (Cultural Landmarks & Boat Ride)

🕒 2:30 PM – 3:15 PM | St. Stephen’s Basilica

Return to the city center to visit this grand church. Option to go up for panoramic views. 

🕓 3:15 PM – 4:30 PM | Early Dinner 

Enjoy dinner near the river before the boat ride. 

🕠 4:30 PM – 5:30 PM | Boat Ride on the Danube River (Before Sunset) 

See Budapest’s landmarks *before the sun sets*, catching golden hour views. 

---

 🌃 Evening (Parliament at Night & Free Time) 

🕠 5:30 PM – 6:15 PM | Hungarian Parliament Building 

Admire the Parliament Building fully illuminated after sunset. 

🕡 6:15 PM – 7:30 PM | Free Time (Café, Dessert, or Extra Walks) 

- Try a local dessert at a café 

- Walk along the Danube for final views 

🕗 7:30 PM – 9:00 PM | Head Back & Prepare for Departure 

---

Kurang lebih seperti inilah itinerary kami yang sudah disusun oleh ChatGpt. Bisa diubah aja sesuka hati, misal Vajdahunyad Castle dan Heroes Square ubah di pagi hari, agar sore hari bisa difokuskan untuk ke Buda Castle, melihat pemandangan kota dari atas di malam hari setelah sunset emang magic. Pokoknya yang paling penting, jangan dulu pulang dari Budapest sebelum lihat gedung parlemennya setelah sunset, dimana lampu gedung dinyalakan dan membuatnya kuning bersinar keemasan. Gak ada kamera yang bisa untuk mendeskripsikan keindahan gedung ini di malam hari. Cobalah lihat dengan mata kepala sendiri, minimal diam sejenak 10 detik mengagumi kemegahan dan keindahan gedung parlemen termegah di Eropa ini. Apakah Westminster Abbey (Gedung Parlemen UK) lebih indah dari gedung ini? Mungkin saja, saya tidak tau. Tapi gedung parlemen Hongaria ini bisa saya bilang gedung terindah yang pernah saya lihat. Apakah saya berlebihan? Tidak tau. Yang pasti, kalian akan takjub jika melihatnya juga.

Sebelum memulai trip, pastikan kalian sudah membeli tiket transportasi 24-hour ticket di stasiun. Tiket 24 jam sepuasnya ini jauh lebih murah jikalau kalian punya banyak agenda jalan-jalan dalam sehari, utamanya kalau kalian backpackeran sebelum pergi lagi ke negara lain. Untuk harga tiket 24-hour Budapest ticket ini dijual dengan harga 2500 HUF (sekitar 106 ribu rupiah sesuai kurs 21 Februari 2025). Atau kalau kalian jalan-jalannya agak lama dikit sekitar 2-3 harian, bisa ambil juga 72-hour Budapest ticket dengan harga 5500 HUF atau sekitar 233,5 ribu rupiah satuannya. Emang agak mahal ya kalau bukan pelajar. Tapi dibanding kalian beli tiket tiap ganti transportasi, tentu saja ini adalah opsi yang lebih baik. Apalagi cukup banyak tempat yang harus disambangi dengan dua kali transportasi seperti Heroes Square dan Buda Castle. Tapi ini tergantung dengan itinerary kalian seperti apa ya guys! Yang penting mana yang sesuai kantong aja.

 Kami memulai One Day Trip ini dengan menyusuri Sungai Danube untuk melihat secara langsung “Shoes on the Danube Bank”, ‘memorial’ sepatu-sepatu yang tersusun di salah satu sudut, di tepi Sungai Danube.  Memorial ini dibangun pada tahun 2005 oleh seorang sutradara film bernama Can Togay, ia membangunnya di tepi timur sungai Danube, dengan Gyula Pauer sebagai pemahat. Memorial ini dibangun untuk menghormati orang-orang Yahudi yang dibantai oleh militia fasis Hongaria yang berasal dari the Arrow Cross Party di Budapest saat masa Perang Dunia ke 2. Mereka diminta untuk melepas sepatu mereka (Sepatu dianggap berharga dan bisa dijual oleh pasukan militia setelah itu) sebelum akhirnya ditembak. Tubuh mereka jatuh ke dalam sungai meninggalkan sepatu-sepatu mereka. Memorial ini merepresentasikan sepatu-sepatu mereka yang mereka lepas di pinggir sungai sebelum mereka ditembak oleh militia fasis tersebut.

Saya sendiri sebenarnya baru tau kalau ada memorial ini di pinggir sungai Danube. Benar-benar baru tau setelah melihat list-list tempat apa saja bakal kita kunjungi hari ini dari Kak Salsa.

“Katanya warlok, ri?”

“Gw baru dua minggu, loh!”

 Sayangnya di jembatan Liberty, sedang dilakukan proses syuting film yang kami juga tidak tau film apa. Syuting film ini tampaknya sudah sejak awal bulan Februari dilakukan dan belum juga rampung. Tapi yang pasti, film yang gak tau kapan tayangnya ini merupakan film besar. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena, mereka memakai Helikopter asli di proses syuting mereka. Jadi, di video yang beredar, akan ada scene seseorang yang melompat dari atas jembatan ke arah helicopter yang sedang terbang dan menggantung di sana. Jadi bukan CGI, tapi asli. Keren, kan?! Menurut kabar juga, artis terkenal seperti Keanu Reaves and Emilia Clarke juga dilaporkan terlihat berada di sekitar area syuting. Tentunya menyewa helicopter, Liberty Bridge yang terkenal, dan menggunakan jasa aktor sekaliber Keanu Reaves tidaklah murah budgetnya. Makanya, saya bisa simpulkan film ini film besar.

 


Singkatnya, karena area tepi sungai ditutup karena proses syuting film, kami lanjut ke itinerary selanjutnya, yaitu Fisherman’s Bastion dan Buda Castle. Kami akan berkunjung ke Fisherman dahulu, lalu jalan lurus menuju Buda Castle. Cara ini terbilang lebih efisien dibanding sebaliknya. Karena jalan yang ditutup ini pula, bus dan tranportasi lainnya harus jalan memutar sehingga memakan waktu lebih lama dari biasanya. Tapi gak apa, pemandangannya cakep kok, jadinya gak bosan.

Berbicara sedikit tentang sejarahnya, Fisherman’s Bastion dibangun antara tahun 1895 sampai tahun 1992 untuk merayakan seribu tahun hari jadinya negara Hongaria. Negara Hongaria sendiri memamg memiliki sejarah panjang, dimulai saat Raja pertama mereka, Raja St.Stephen memulai pemerintahannya pada tahun 895 M. Benteng ini dibangun oleh arsitek Frigyes Schulek, yang juga merestorasi Gereja Matthias atau biasa dikenal juga dengan Gereja Our Lady. Benteng ini dibangun untuk menghandirkan teras panorama bagi masyarakat setempat, setelah Buda Castle tidak lagi menjadi tempat militer. Menurut website resmi Fisherman’s Bastion sendiri, proyek menjadikan Budapest sebagai kota indah sudah dimulai sejak akhir abad ke-19. Kereta bawah tanah di Budapest merupakan salah satu yang paling awal dibangun di Eropa. Saat ini, investasi itu telah berhasil dan Budapest menjadi salah satu kota terindah di Eropa saat ini. Di komplek Fisherman’s ini ada café, restoran, dan tempat publik lainnya. Ada juga patung Raja St.Stephen yang sedang menunggangi kudanya. Adanya Fisherman’s Bastion dimaksudkan untuk menambah keindahan Gereja Matthias yang ikonik. Untuk bisa masuk ke gereja ini, kita cukup membayar sebesar 2300 HUF (sekitar 98 ribu rupiah) setelah mendapat diskon pelajar. Untuk harga umumnya sendiri tidak terlalu berbeda, sebesar 2900 HUF (sekitar 123 ribu rupiah) saja. Cukup worth it untuk masuk sekali seumur hidup. Interior gereja ini sangat cantik dengan kursi panjang sebanyak beberapa baris, dialasi oleh karpet merah, gereja ini tampak begitu megah. Kita juga bisa naik ke lantai dua yang berisikan banyak penjelasan sejarah tentang gereja ini. Sepertinya gereja ini sudah beralih fungsi menjadi museum, makanya saya masuk. Saya masuk ke Gereja ini saat jalan-jalan dengan Reza beberapa hari yang lalu. Pemandangan kota dari Fisherman memanglah mewah. 3 M. Mewah, Mahal, Mempesona. Tempat ini jadi salah satu spot foto yang wajib disambangi di Budapest.

Di bagian belakang gereja, ada tugu di tengah-tengah yang diapit dengan gedung lain di sisi kanannya yang kemungkinan juga adalah gereja. Gedung yang cukup indah, tapi saya tidak punya informasi tentang gedung apa ini. Tugu Jogja ini (saya sebut begitu karena warnanya putih, tapi sebenarnya gak mirip karena banyak patung-patungnya) bernama Holy Trinity Statue. Kalian harus foto di sini, karena Church Tower dari gereja Matthias sebagai background sangat membuat tempat ini instagramable.



Jalan terus ke arah kiri, kita akan melewati perumahan warna-warni di sisi kanan kiri jalan. Ada banyak pub dan restoran di jalan kecil ini. Untuk jalan menuju Buda Castle sejauh 850 meter, kurang lebih memakan waktu sekitar 13 menit. Terdapat Museum Nasional Hongaria di sana, yang atapnya berwarna hijau, mengingatkan gedung parlemen Serbia yang pernah saya kunjungi 2 tahun yang lalu. Buda Castle merupakan tempat melihat view terbaik sungai Danube dan sisi Pest dengan Gedung Parlemennya yang bersinar emas. Pemandangan di pagi hari juga indah, tapi di malam hari setelah matahari terbenam, 10x lebih indah.


Saat waktu menunjukkan pukul 12 siang, kami beranjak menuju destinasi selanjutnya, Central Market Hall, pasar tradisional terbesar dan tertua di Budapest. Jangan membayangkan pasar-pasar tradisional di pinggir jalan seperti itu, Market ini seperti namanya terletak di dalam  sbeuah Hall. Lantai satunya menawarkan berbagai souvenir oleh-oleh dan makanan segar yang bisa dibeli. Sedangkan lantai duanya, menawarkan berbagai macam pakaian dan juga terdapat banyak foodcourt makanan autentik Hongaria seperti Goulash Babi maupun Sapi, Lanyos, Chimney Cake, dan makanan-makanan lainnya. Tadinya, tujuan utama Kak Salsa datang kesini karena ingin mencoba Goulash tradisionalnya. Namun, karena gak ada tempat duduk yang ada charger di sampingnya, akhirnya tidak jadi. Hp dia baterainya sekarat soalnya. Dan semua makanan di sini relatif lebih mahal dari pada makanan yang ada di luar, termasuk harga souvenir yang dijual di sini juga. Akhirnya kami keluar dan memutuskan untuk makan street food yang terletak di jalan sebrang Central Market Hall. Ada banyak sekali makanan yang bisa dibeli di sini. Kami berdua sepakat untuk patungan. Dia beli Lanyos, saya nanti beli Chimney Cake. Lanyos itu bentuknya seperti pizza yang diberi toping di atasnya. Bedanya, jikalau pizza adonannya di panggang, kalau Lanyos itu digoreng, rasanya seperti cakwe di Indonesia. Kami memilih topping Sour Cream dan Cheese dengan sedikit bumbu garlic di atasnya. Jujur ini cukup mengenyangkan dan mengganjal perut walaupun kami makan berdua. Rasanya juga enak. Kalian harus coba ini kalau mampir ke Budapest. Chimney Cake sendiri merupakan kue tradisional Hongaria yang berasal dari Transylvania (Dulunya bagian dari Hongaria, sekarang Romania). Kue ini terbuat dari adonan ragi manis yang digulung menjadi potongan panjang, dililitkan di sebuah alat berbentuk silinder dan dilapisi dengan gula. Adonan ini kemudian dipanggang sampai berubah menjadi coklat keemasan, sehingga membuatnya renyah di luar tapi tetap lembut di dalam. Biasanya ada pilihan rasa topping yang ditawarkan seperti Cocoa, Chocolate, Vanilla, Hazelnut, Brown Sugar, dan lain-lain. Kami beli cake ini di samping jalan di depan St.Stephen Basilica di malam hari sebelum ke Gedung Parlemen. Di sini harganya murah, 1000 HUF untuk satu cake nya. Umumnya kalau di toko-toko lainnya, harganya 2000 HUF. Makanya, karena ini murah, jadinya antrinya cukup panjang.

Lanyos. Mirip cakwe, kan?

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, sebentar lagi masuk waktu Ashar. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Corvin. Saya akan pulang ke rumah, masak dan sholat Dzuhur sekalian Ashar (Ashar soalnya sekitar jam 14.40 an), sedangkan Kak Salsa bakal nungguin di Café yang ada di Corvin Plaza, sebuah mall yang berjarak beberapa meter saja di belakang apartemen saya.

Jam 4 sore, kami melanjutkan trip. Kali ini kami akan berkunjung ke kompleks Heroes’ Square yang di sana juga ada Vajdahunyad Castle serta tempat Ice Skating outdoor yang cukup terkenal di Budapest. Untuk bisa menuju ke sana kami naik kereta bawah tanah M3 sebelum pindah ke M1. Saya baru kali ini naik M1 dan kesan saya ke nuansa yang terbentuk di sini tuh kayak apa ya…. Estetik banget gitu. Cakep. Jadi keretanya modelan kereta kecil, berwarna kuning, dengan khas design Eropanya. Nah, vibesnya itu yang bikin dia tambah estetik adalah stop/pemberhentiannya. Setiap pemberhentiannya berlapis dinding keramik putih dengan aksen kayu yang elegan, membuat kita seakan kembali ke masa lalu. Vintage, kata yang paling bisa menggambarkan tempat ini, membuatnya berbeda dari kebanyakan metro yang ada di Budapest. Cobalah kalian pergi dengan pasangan kalian naik kereta M1 ini, kesannya itu romantis dan tenang banget.   

Keluar dari metro, kami menyebrangi jalan, bergerak ke tengah-tengah Heroes’ Square. Heroes’ Square ini merupakan square yang paling terkenal di Budapest dengan sejarah yang menyertainya. Tempat ini telah menyaksikan banyak peristiwa politik bersejarah sejak ia mulai dibangun pada tahun 1896, sebagai bentuk perayaan 1000 tahun terbentuknya Hongaria pada tahun 896 M. Oleh karena itu, monumen ini juga disebut dengan Millenium Monument. Tempat ini dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan negara, makanya banyak patung para pahlawan yang terpahat di square ini. Di tengah square, ada tugu tinggi berwarna putih yang di puncaknya, terdapat patung yang menggambarkan Archangel Gabriel (Malaikat Jibril dalam keyakinan umat kristiani) yang memegang Mahkota suci Hongaria dan salib ganda apostolik di kedua tangannya. Di bagian bawah tugu, ada tujuh patung yang menggambarkan ketujuh pemimpin suku bangsa Hongaria yang menempati daratan Carpathian Basin pada tahun 896 M. “Seven chieftains of the Magyars” atau Tujuh kepala suku Bangsa Magyar atau Hongaria ini sangat melekat dalam sejarah didirikannya negara ini. Tujuh kepala suku ini memiliki nama-nama yang berbeda dalam berbagai sumbernya. Tapi saya akan menyebutkan beberapa sumbernya saja di sini. Salah satunya dari Mausoleum Nádasdy, sebuah potret yang berisikan penggambaran dari orang-orang yang pernah memimpin Hongaria dari masa ke masa. Potret ini diterbitkan pada tahun 1664 di Nuremberg atas pembiayaan dari Pangeran Ferenc Nádasdy dengan judul Mausoleum potentissimorum ac gloriosissimorum Regni Apostolici Regum et primorum militantis Ungariae Ducum (The Mausoleum of the Most Powerful and Glorious Apostolic Kingdom and the Kings and Military Leaders of Hungary). Sumber ini menyebutkan ketujuh kepala suku bangsa Hongaria ini adalah: Árpád, Szabolcs, Gyula, Kund, Lehel, Vérbulcsú, dan Örs. Sedangkan sumber kuat lainnya, berasal dari Anonymus, seorang notaris dan pencatat sejarah dari raja Hongaria, Bela III yang hidup pada akhir abad ke 12 hingga awal abad ke 13 M. Dia merupakan penulis buku “Gesta Hungarorum” ("The Deeds of the Hungarians") yang merupakan salah satu buku yang paling awal menceritakan tentang sejarah bangsa Hongaria. Terdapat patung yang didedikasikan untuknya di City Park dekat Heroes’ Square ini. Anonymus menyebutkan nama-nama ketujuh kepala suku ini sebagai berikut; Álmos -ayah dari Árpád-, Előd -ayah dari Szabolcs-, Ond -ayah dari Ete-, Kend (Kond, Kund) -ayah dari Korcán (Kurszán) dan Kaplon-, Tas -ayah dari Lél (Lehel)-, Huba, dan Tétény (Töhötöm) -ayah dari Horka-. Patung-patung ini berwarna hijau yang tampak gagah berdiri di square. Di belakang sisi kanan dan kiri tugu ini, ada pilar yang memanjang ke arah samping sebagai latar belakang. Di kanan dan kiri square, terdapat Museum of Fine Arts dan the Palace of Art di kedua sisinya. Tapi kami memang gak ada niatan masuk museum apapun hari ini.

Heroes' Square

Setelah mengambil foto beberapa menit, kami lanjut berjalan ke belakang monumen ini. Di sisi sebelah kanan ada tempat Ice Skating outdoor yang cukup besar. Kita bisa lihat ada ratusan orang yang sedang main ice skating di sana. Untuk main, kita perlu bayar sebesar 3000 HUF atau sekitar 127 ribu rupiah. Ketika musim panas, es akan mencair menjadi sebuah danau yang indah dengan background bangunan berwarna biru ke abu-abuan yang menambah kecantikan view tempat itu. Kami terus berjalan menyebrangi jembatan menuju Vajdahunyad Castle, sebuah kastil yang vibes nya sangat ‘Harry Potter’ sekali. Berwarna putih agak kecoklatan dengan gentengnya yang berwarna merah dan danau hijau yang ada di sekelilingnya, berpadu dengan suasana sore hari menambah lekat nuansa Hogwarts kastil ini. Kastil ini juga dibangun pada tahun 1896 M sebagai salinan dari kastil yang berada di Transylvania, yang juga bernama Vajdahunyad. Jika kita keliling masuk ke kompleks ini, kita akan menemukan bangunan-bangunan ber-tone gelap yang akan bercahaya ketika matahari tenggelam. Oh ya, sebenarnya di dekat sini juga ada Szechenyi Bath, pemandian air panas outdoor yang juga sangat terkenal di Budapest. Tapi kali ini kami tidak ke sana. Lain kali saja. Lagipula harganya cukup mahal. Banyak acara Bath Party, diadakan di sini. Termasuk ELB juga bakal menggelar party bareng anak-anak Erasmus di sini. Saya ya.. gak mungkin ikut.





Beberapa pemandangan di kompleks Vajdahunyad Castle


Waktu sudah menunjukkan pukul 6, sudah maghrib sejak satu jam yang lalu, dan saya gak akan sempat sampai ke masjid tepat waktu sebelum Isya. Akhirnya, saya yang masih punya wudhu, sholat di halaman rumput kosong yang agak jauh dari keramaian. Dengan menggelar jaket biru saya sebagai sajadah, saya tunaikan Sholat Maghrib di sana. Tantangan hidup di Eropa memang seperti ini, sangat sulit mencari tempat untuk sholat, apalagi ketika sedang bepergian di luar.

Setelah menikmati sunset di Heroes’ Square yang enjoyable banget, kami beranjak menuju St. Stephen's Basilica yang tidak jauh dari sana, sekitar 10 menitan jalan kaki, ada Gedung Parlemen yang keindahan dan kemegahannya tuh istimewa banget di malam hari.

Heroes' Square Maghrib

St. Stephen's Basilica di Budapest ini merupakan gereja katolik terbesar (largest) ketiga di Hongaria, dan terbesar di Budapest. Sedangkan gereja terbesar di Hongaria terletak di kota Ezstergom, ibu kota pertama negara Hongaria ketika berdiri, yang saat ini terletak di perbatasan Hongaria-Slovakia. Saya akan ke Ezstergom sehari setelah saya jalan-jalan keliling di Budapest hari ini. Jadi Sabtu bareng kak Salsa keliling Budapest, Minggunya bareng dengan ELB keliling Ezstergom sekaligus menyebrangi jembatan penghubung negara Slovakia. Saya akan buatkan catatan sendiri tentang kota ini.   

St.Stephen Basilica atau nama Hongaria-nya Szent István-bazilika adalah Gereja Romawi besar yang terletak di kota Budapest, Hongaria. Nama Stephen diambil dari nama Raja pertama Hongaria, King St.Stephen. Gereja ini sudah masuk dalam situs warisan budaya UNESCO dan menjadi salah satu tempat wajib untuk didatangi oleh turis yang berkunjung ke Budapest. Jikalau kalian datang di pagi atau siang hari, kalian bisa masuk ke dalam dan naik ke atas dengan membayar sekitar 8 Euro per orangnya. Gereja ini buka dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Kami berdua datang ke depan gereja ini sekitar jam 7 malam, jadi memang niatnya cuman foto dengan latar belakang gereja ini aja. Gak ada niatan masuk juga supaya hemat budget. Room-mate saya Reza, pernah masuk dan naik sekali. Kata dia, worth it untuk masuk sekali sebelum pulang dari Budapest. Hemm, perlu dipertimbangkan.

Selfie depan St.Stephen Basilica, dengan Chimney Cake di tangan

Di sebrang jalan yang menghadap gereja, ada stand yang menjual Chimney Cake. Di sinilah kami beli roti khas Hongaria itu. Di beberapa negara lain seperti Poland juga bisa sih kalian menemukan roti ini. Setelah beli, chimney cake ini kami bawa jalan ke Gedung Parlemen. Sayangnya, chimney cake nya udah dingin duluan waktu sampai ke sana. Duh, padahal enak tuh hangat-hangat makan chimney di udara yang diinginnn banget ini. -1° terasa macam -5°. Gak kebayang dah gimana tangan ini kalau gak pakai sarung tangan. Anginnya tuh nusuk jadinya bikin menggigil.

Setelah sekitar 10 menitan jalan kaki, akhirnya kami sampai ke depan gedung parlemen yang kali ini, lampunya sudah menyala. Subhanallah. Cantik banget. Tuh kan bener ini mah… Kalau pertama kali melihat gedung ini, minimal 10 detik diam dulu, takjub dengan keindahan dan kemegahannya. Gedung yang terletak di sebelah sungai Danube ini memang sudah menjadi landmark nya Budapest. Bangunan bergaya Neo-Gotik ini merupakan salah satu ikon arsitektur menakjubkan yang ada di Eropa. Dihiasi dengan menara-menara runcing, kubah setinggi 96 meter, serta fasad yang dipenuhi dengan detail pahatan dan patung para raja serta tokoh-tokoh sejarah Hongaria. Dengan cahaya emasnya yang berkilauan, memantulkan keindahan sungai Danube di malam hari, tempat ini benar-benar magis. Cobalah untuk ambil view dari Buda Castle atau Fisherman’s Bastion, the view is unmatchable! Atau cobalah naik kapal menyusuri sungai, the view is unmatchable! Kamera HP kami gak mampu untuk menggambarkan keindahannya. Memang bakal jauh lebih berkesan kalau lihat sendiri. Hehehe, semoga teman-teman ada rezeki buat bisa lihat langsung.

Parlemen di pagi hari

Parlemen di malam hari

Gedung parlemen ini juga bisa kalian masuki dengan membayar tiketnya. Teman-teman saya menyarankan untuk masuk pada hari-hari perayaan kenegaraan saja di mana tempat-tempat seperti ini, dibuka untuk publik secara gratis. Sedikit penggambaran untuk interiornya yang gak kalah menakjubkan, dengan aula yang dilapisi emas, tangga marmer yang elegan, serta ruang sidang yang dihiasi dengan kaca patri warna-warni, tempat ini 10/10 di luar maupun di dalamnya. Di dalam gedung ini, terdapat Mahkota Suci St.Stephen (The Holy Crown of Hungary) yang dahulunya merupakan simbol penguasa kerajaan Hongaria. Copy dari mahkota ini bisa kita lihat di Hungarian National Museum di kompleks Buda Castle. Gedung Parlemen Hongaria memang bukan saja dipandang sebagai tempat pusat politik, tapi melambangkan kekayaan sejarah dan budaya Hongaria yang tak lekang oleh waktu.

Cuaca yang begitu dingin membuat kami harus segera mengakhiri waktu menikmati keindahan gedung ini di luar. Kami kemudian memutuskan untuk langsung pergi ke terminal bus saja dan menghabiskan waktu sambil nongki menunggu jadwal keberangkatan bus. Walaupun sih, ternyata di sana gak ada café yang bisa didatangi. Café di terminal sendiri sudah tutup jam 8 malam. Cepat banget ya… tapi ya sudahlah. Di Turki mah toko-toko terminal buka 24 jam. Pernah tuh makanya di Eskisehir, anak-anak rumah sama beberapa orang ‘ngide’ aja tuh ngeteh di terminal malam-malam. Cari penyakit emang, ahhaha.

Jam 9 malam, kak Salsa pulang dengan naik FlixBus. FlixBus ini memang jadi opsi yang pas untuk kita yang backpackeran, budget pas-pasan. Ke negara lain cuman ratusan ribu doang. Misal dari Budapest ke Berlin dengan waktu tempuh 10-12 jam, bisa kita beli tiketnya dari harga 500-800 ribu rupiah. Makanya kalau negaranya dekat-dekatan mah, naik FlixBus aja. Walaupun Berlin termasuk cukup jauh ya. InsyaAllah saya akan berkeliling ke Praha-Vienna-Bratislava naik Flix Bus bulan depan. Semoga ada rezeki.

Jadi begitulah guys perjalanan sehari keliling Budapest, kota paling underrated di Eropa. Kalian bisa minta buatkan chatgpt aja itinerary jalan-jalannya sesuai dengan to do list kalian. Atau kalian mau ikut cara saya jalan-jalan di atas juga boleh. Pokoknya mah, pastikan diri kalian berlibur jalan-jalan ke Budapest, deh! Dijamin gak akan nyesel!

Bye-bye untuk catatan seru lainnya👋   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?