Leaders Board Conference PPI Turki, Menjelajahi Dunia Leadership di Ujung Utara Daratan Turki

 Trabzon, 10-12 September 2024

            Setelah Athan Cup selesai, kini agenda saya beralih. Besok pagi langsung setelah selesai acara pesta rakyat, saya dan delegasi PPI wilayah Turki lainnya, akan berangkat naik bus bareng dari Ankara menuju Trabzon, kota indah yang terletak di utara daratan Turki. Kami akan menghadiri Leaders Board Conference PPI Turki 2024 dari 10-12 September mendatang.

            Leaders Board Conference 2024 adalah acara yang diinisiasi oleh divisi PSDM PPI Turki, yang isinya adalah konferensi yang dihadiri oleh para delegasi dari berbagai PPI wilayah di Turki dan juga beberapa perwakilan dari PPI Turki itu sendiri. Acara ini bertujuan untuk memupuk rasa persatuan (bonding) antara PPI Turki dan PPI wilayahnya. Di sana, kami akan belajar tentang Leadership, memperbarui niat kami sebagai bagian dari perjuangan misi Indonesia Emas 2045, dan mengangkat keresahan-kerasahan yang ada di wilayah masing-masing untuk kemudian ditemukan solusinya bersama. Utamanya, masalah yang diangkat adalah masalah yang berhubungan dengan akademik; Rendahnya daya juang para pelajar, Normalisasi IPK rendah, dan Susahnya bahasa Turki, yang kemudian dijadikan alasan ‘template’ para pelajar yang mengalami masalah akademik di Turki. Semua diskusi-diskusi dan pelatihan kepemimpinan yang diadakan nantinya, tentu diadakan dengan tujuan, agar para delegasi, setelah kembali ke wilayahnya masing-masing, akan membawa gagasan-gagasan baru dan solusi atas keresahan-keresahan yang terjadi di lingkup Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki.

            Awalnya, acara ini adalah semacam lokakarya yang ditujukan untuk para ketua dan wakil (presidium) PPI wilayah, maka dari itu nama acara ini pun Leaders Board Conference kan. Tapi, karena beberapa alasan, banyak ketua ataupun wakilnya yang berhalangan, yang kemudian digantikan dengan Badan Pengurus Harian yang lain. Kami pun di PPI Eskisehir begitu, saya Alhamdulillah bisa hadir, tapi wakil saya berhalangan. Karena itu, saya mengajak ketua divisi Akademik dan Kajian Strategis (Akastrat), Nanda untuk ikut. Awalnya dia menyanggupi untuk ikut, sampai ketika H-1 keberangkatan, -ketika itu pesta rakyat di KBRI Ankara- dia mendadak izin, untuk tidak bisa ikut karena masih sangat kelelahan. Menjadi panitia Athan Cup sekaligus Pesta Rakyat benar-benar melelahkan, katanya. Ya.. saya tau itu, dan memakluminya. Tapi, ya tentu saja kami harus cari pengganti secepat mungkin, besok loh kita berangkatnya. Kami langsung menghubungi ketua divisi Budaya, Minat, dan Bakat (BMB) kami, yang juga teman sekamar saya, Reza. Saya tau dia suka banget jalan-jalan, sama kayak saya. Apalagi acaranya di Trabzon yang pastinya masuk wishlist kota Turki yang harus kami kunjungi. Ketika itu juga Reza menyanggupi. Tenang lah saya, Alhamdulillah ada teman. Saya kemudian lanjut cari makanan di stand bazaar pesta rakyat kan, sampai sekitar setengah jam setelahnya, Reza berubah pikiran. Dia bilang, dia batal untuk ikut karena masih kecapekan banget usai lomba Athan Cup kemaren. Iya sih, main 7 match dalam dua hari, pasti ya kecapekan. Saya juga sih, tapi InsyaAllah karena latihan fisik yang mumpuni sebulan kebelakang, saya yakin dengan istirahat dikit, raga bisa pulih lagi seperti semula. Ditambah lagi katanya, karena berita terlalu mendadak ini, dia belum persiapan matang. Baju belum bawa, duit buat bayar UKT ada di rumah -udah narik cash supaya gak kena limit harian penarikan-, ditambah minggu depannya, tanggal 22 September nanti, kita bakal ke Istanbul buat acara istima’ usroh (kumpul keluarga alumni Gontor di Turki -IKPM Turki-). Saya sudah coba yakinkan dia sebenarnya. Baju, saya bawa banyak, bisa saya pinjamkan ke dia. UKT, bisa kita bayarkan di bank TEB Ankara atau Trabzon. Walaupun, karena uangnya udah ditarik cash, bakal agak merepotkan orang lain untuk memasukkannya lagi ke dalam ATM ulang. Tapi ya bukan problem banget lah masalah itu. Toh, temen rumah juga sahabat sendiri, tau keadaan kita juga, bagian dari Perhimpunan juga, tentunya paham dengan urgensi acara Leaders Board Conference ini, -selanjutnya akan ditulis dengan singkatannya, LBC-. ESOGU, kampus saya emang agak ribet masalah pembayaran ini. Disaat kampus lain bekerjasama dengan bank Ziraat atau Vakif, kampus kami bekerjasama dengan bank TEB -Türkiye Ekonomik Bankası-. Orang Turki gak ada masalah dengan bank ini karena mereka bisa langsung bayar dari aplikasi M-Banking TEB nya. Tapi buat kami, pelajar internasional, kami harus bayar secara langsung ke cabang-cabang banknya dikarenakan bank TEB tidak ditujukan untuk orang asing. Makanya, disaat mahasiswa lain bisa bayar online dari hp mereka, kami mahasiswa ESOGU harus datang ke cabang banknya buat bayar UKT. Balik lagi ke topik LBC, umumnya, para peserta berhalangan untuk ikut hadir ke LBC ini, karena faktor ekonomi, walaupun Nanda dan Reza gak ada masalah dengan ini, setau saya. Biaya bus dari Ankara ke Trabzon itu 800 tl, Pulang-pergi 1600 tl. Thanks buat panitia yang udah buat acara ini banyak gratis-gratisannya dari makan sampai tempat tinggalnya. Tapi ya biaya-biaya lainnya seperti biaya dari kota masing-masing ke Ankara, biaya sarapan kalau gak kuat tahan lapar kayak saya, biaya makan di perjalanan, dan biaya-biaya lainnya sehingga untuk bisa hadir di acara ini, kita per orang kira-kira harus menyiapkan duit sekitar 2000-an tl atau sekitar satu juta rupiah. Di saat, masa-masa pembayaran UKT yang mahal seperti ini, lalu beberapa orang lagi pindahan rumah baru karena kontrak rumahnya udah usai, ditambah lagi beberapa di antara kami adalah peserta lomba Athan Cup tahun ini sehingga kami sebelumnya pun sudah keluar duit untuk bisa sampai di Ankara ini, dan juga bayar penginapan selama kami di sana. Makanya, wajar saja kalau ada yang berhalangan untuk hadir karena alasan ini. Saya sendiri Alhamdulillah, karena sempat bekerja di salah satu restoran Burger, saya punya persediaan tabungan lebih untuk bisa pergi-pergi keluar kota bulan ini. Setelah acara di Trabzon ini pun, di akhir bulan saya ada volunteering “Mentari di Turki” di kota Sivas, yang mengharuskan saya untuk keluar duit lagi. Yah, bagi saya selama rezeki masih ada di tangan, dan kesempatan untuk explore pengalaman sekaligus jalan-jalan terbuka lebar, saya bakal gas terus.

            Singkat cerita, akhirnya saya berhasil ajak dua orang anggota BPH (Badan Pengurus Harian) PPI Eskisehir yang lain, Akmal dan Ubay. Satunya anggota divisi Kerohanian, satunya lagi anggota divisi Ekonomi Kreatif. Mereka berdua termasuk mahasiswa baru yang datang tahun 2023 kemarin. Akan sangat bagus buat mereka berdua untuk ikut. Buat pengalaman mereka, buat ada regenerasi di organisasi juga. Sebenarnya, saya pengen idealnya ada salah satu kepala divisi yang hadir supaya dapat nilai-nilai kepemimpinan dan gagasan-gagasan bagus nanti di LBC. Maksud saya, ya penerus saya tahun depan lah. Kalau Akmal dan Ubay mungkin dua tahun lagi, sedangkan kepala divisi saya sekarang kan ya penerus saya jadi ketua periode berikutnya. But it’s ok, gimana lagi, kalau pada berhalangan kan. Kebetulan, Akmal dan Ubay semuanya juga sedang di Ankara, setelah hadir di acara Athan Cup dan Pesta Rakyat KBRI hari ini, mereka langsung bisa ikut rombongan ke Trabzon besok. “Jangankan 3 orang, kalian berlima pun boleh, asrama masih banyak kamar kosong”, kata Faiz, ketua panitia acara yang ketemu saya di depan stand bazaar Pesta Rakyat waktu itu. Yah, tapi yang bisa ikut cuman kami bertiga pada akhirnya. Sayang sih, saya rasa gak bakal nyesel yang ikut acara ini, dari pengalaman diskusi nanti, dan tentunya bisa sekalian menikmati keindahan kota Trabzon, bukan kesempatan yang selalu ada setiap saat. Tau sendiri lah ya, mengajak orang secara mendadak seperti ini, perjalanan jauh yang juga agak merogoh kantong, pastinya gak semua orang mau. Kalau gak masalah uang, ya masalah pakaian yang belum disiapin. Buat cowok masalah pakaian mungkin gak terlalu masalah karena bisa pinjam sana-sini, toh peserta lainnya temen sendiri juga. Tapi kalau cewek ya problem banget masalah pakaian ini, kan.

            Hari Senin, tanggal 9 September, jam 9, saya dan beberapa teman sudah berkumpul di meeting point, di daerah KIZILAY, di sberang GAMA İŞ MERKEZİ. Setelah sekitar 15 menit menunggu, datang kabar kalau meeting point nya dipindah ke depan KIZILAY Mall. Ketika kami hendak kesana, kami dipanggil oleh beberapa petugas keamanan, untuk dibawa ke mobil imigrasi untuk dilakukan pengecekan izin tinggal. Memang di Ankara, apalagi di Istanbul, sedang masif sekali dilakukan pengecekan. Memang tidak ada yang kurang dari persyaratan kami, tapi lumayan memakan waktu. Gak enak banget dan bikin malas kan. Terlebih, sepertinya bus bakal datang jam 10, dan saya sebelum berangkat, ingin membayar UKT dulu di bank TEB, yang kebetulan letaknya gak lebih dari 100 meter kira-kira dari tempat kami berada. Setelah pemeriksaan selesai, saya cuman punya waktu 15 menit untuk menyelesaikan pembayaran di bank. Sebelum berangkat, saya izin dulu ke panitia, supaya gak ditinggal, “15 menit lagi loh bus nya datang”, kata dua orang panitia acara yang bertugas untuk menghandle para peserta di sana, mengingatkan saya supaya gak lama-lama. Karena kalau busnya sudah tiba, kita akan langsung berangkat tanpa menunggu lebih lama lagi, sebab bisa kena denda nantinya. “Iya, bentar aja kok ini, bank nya juga masih sepi itu”, jawab saya. Setelah menarik uang dari ATM, saya ditemani Iqbal, sahabat saya yang juga menjabat sebagai ketua PPI Konya, bergegas pergi ke bank dan mengambil nomor antrian. Beruntung, antrian bank masih sangat sepi, sehingga tak beberapa lama menunggu, giliran saya tiba. Prosesnya tidak lama, hanya menyebutkan nomor pelajar setelah menyerahkan kartu identitas, membayar tagihan, tanda tangan, selesai. Kami langsung kembali ke tempat awal, di sana sudah banyak teman-teman lain yang baru datang juga. Saya langsung menyapa baik mereka. Beberapa di antaranya sudah saya kenal dengan baik, seperti ketua PPI Kütahya, Ketua PPI Sakarya, dan juga Wakil Ketua PPI Turki, Adnan Menderes, yang setelah baru kenal beberapa waktu lalu ketika dia bertamu jadi pembicara di acara diskusi kami di Eskisehir, langsung jadi akrab karena kejenakaannya, dan kebetulan kami sama-sama fans Real Madrid. Tak lama setelah menyapa satu sama lain, bus kami datang, dan kami langsung memasukkan koper dan tas kami ke dalam. Saya hanya mengeluarkan buku ”Indonesia, etc” karya Elizabeth Pisani saja untuk menemani perjalanan saya ke Trabzon selama beberapa jam kedepan. Charger sengaja gak saya bawa supaya gak terlalu sering buka HP, biar lebih sering buka dan baca bukunya. Bus kami bisa menampung sebanyak 50 orang dengan susunan 2+1 tempat duduk di setiap barisnya. Saya ambil tempat duduk bersama Iqbal di samping kanan tangga masuk di tengah bus. Biasanya kalau di bus konvensional, seat nomor 27-28, tergantung penataan tempat duduk bus nya sih. Sengaja kami pilih disana biar bisa nyender seenaknya tanpa mengganggu orang di belakang kami. Kan di belakang kami tangga masuk, jadinya kosong kan, gak ada penumpang di belakang. Enak deh, tuh. Saya tau ini dari Reza, yang memang kalau naik bus selalu mengincar seat itu.

            Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, kami berhenti di rest area untuk makan dan shalat selama setengah jam. Makanan di sini mahal-mahal pastinya, tost aja 80 tl yang paling murah, itu roti tawar dua, di tengahnya diletakkin keju atau sosis, cuman buat ganjal perut aja. Saya dan Iqbal waktu itu beli masing-masing satu, saya traktir dia waktu itu, yang baru datang dari kamar mandi. Akmal beli dua, satu di makan di tempat, satu dibungkus, sedangkan Ubay katanya masih kenyang. Teman-teman yang lain juga beberapa ikut beli Tost juga, karena tau perjalanan masih ada beberapa jam ke depan. Lumayan lah, buat ganjal perut. Kami makan tost sekalian ngobrol dan berkenalan satu sama lain, sekalian ikut nyemil cemilan juga, hehe. Kami berdua, gak beli air, karena tau di bus masih banyak air tersisa, lumayan untuk menghemat, bisa buat bayar kamar mandi.

            Jalan lagi selama beberapa jam, sampai di sore menjelang malam, kami berhenti lagi di rest area, di kotanya saya lupa di mana. Karena malam nanti kami sampai jam 11.30 paling cepat, rasanya bakal langsung tidur sih, apalagi acara besok dimulai jam 9 pagi, dan para peserta sudah harus siap keluar asrama se-jam sebelumnya. Makanya, di rest area ini, kami sempatkan untuk makan malam. Daripada beli roti sandwich, tost ataupun burger, kami banyak yang lebih memilih untuk membeli nasi dan ayam aja. Harganya 250 tl sudah dapat roti, nasi, dan ayam atau ati satu porsi. Saya dan Iqbal memutuskan untuk membeli 1 porsi nasi, lauknya ati (ciğer) -karena terlihat lebih menggoda bumbunya-, dan ambil roti sebanyak-banyaknya. Air minum gak perlu beli, karena di bus masih banyak. Kami berdua ambil 6 roti waktu itu, supaya kenyang. 1 porsi dibagi dua, karena 250 tl (113 ribu rupiah kira-kira) terlalu mahal untuk makan sendiri, makanya kami makan berdua, sudah biasalah mahasiswa hehe. Ya lumayan lah, kenyang banget karena rotinya bisa jadi pengganti nasi. Tapi walaupun lauknya enak, sayangnya porsinya dikit, hehe. Gini kan, di bus bisa tidur nyenyak. Walaupun ujungnya, saya gak tidur lagi sih sampai Trabzon. Kami nyanyi dan joget bareng dikomandoi sama pak Waketum, bang Adnan Menderes. Setelah usai nyanyi dan joget bareng, saya memerhatikan kota sekitar yang dilewati oleh bus. Kami melewati kota Samsun, Ordu, Giresun yang terletak di ujung atas Turki. Bukan kota yang terlalu berkesan buat dilewati untuk saya. Gak banyak bangunan menarik di samping kanan-kiri jalan. Tapi sepertinya kota-kota ini, sebagaimana gambar yang ditunjukkan di Google, punya beberapa destinasi indah yang bisa dikunjungi, sama seperti Turki wilayah utara lainnya. Sebelum lampu bus benar-benar berganti jadi warna kuning untuk tidur, saya lanjut membaca buku beberapa halaman.

            Jam 23.30 kira-kira, kami memasuki kota Trabzon. Karena sudah sangat malam, saya gak terlalu banyak memperhatikan pemandangan sekitar. Pertama-tama kami ke asrama putri tempat peserta perempuan menginap terlebih dahulu. Kami turun menolong membawakan koper mereka ke asrama yang letaknya cukup menanjak dari tempat bus kami berhenti. Setelah mengantar mereka, kami lanjut ke asrama tempat kami, para peserta laki-laki tinggal. Kami tinggal di asrama TUGVA (Türkiye Gençlik Vakfı) di lantai 4 dan 5 nya. Tiap lantai ada beberapa ruangan yang berisi lorong, yang terdiri dari beberapa kamar. Tiap kamar terdapat empat kasur, beberapa meja, dan dua lemari. Tiap dua kasur dan lemarinya, ada skat tembok yang menutupi; layaknya dua ruangan dalam satu kamar. Para peserta menyebar di beberapa ruangan, dengan masing-masing kamarnya berisi 3-4 orang. Saya dan Iqbal menempati satu kamar di nomor 405, bersama dengan Faris, wakil ketua PPI Bartın. Sedangkan Akmal dan Ubay, menempati salah satu kamar di lantai 5. Setelah shalat dan membersihkan diri, beberapa dari kami langsung tidur, beberapa lagi ada yang keluar untuk cari makan, atau sekedar ngopi bareng untuk mengobrol. Kebetulan, masih banyak banget tempat makan atau nongkrong yang masih buka di tengah malam. Kami berdua juga awalnya pengen nyusul. Tapi karena, gak terlalu lapar, pengen ngehemat, plus saya juga udah celana pendekkan, ya udah mager kalau udah gini. Langsung tidur aja, lah. 

            Hari Selasa, tanggal 10 September, pagi-pagi jam 8 kami sudah keluar dari asrama tempat kami menginap. Kami sudah ditunggu bus putih yang akan mengantarkan kami menuju Hamamizade İhsan Bey Kültür Merkezi, tempat kami akan melaksanakan konferensi selama dua hari ini. Sedangkan hari ketiga, kami ada pertemuan dengan Pak Dubes di luar, sekaligus sesi jalan-jalan sebelum penutupan acara. Gedung tempat kami melaksanakan acara ini terletak di pusat kota Trabzon. Kita bisa melihat bendera warna biru-merah maroon tergantung di tali-tali sekitar kota. Warna Biru-Merah Maroon memang warna kebanggaan masyarakat Trabzon. Simbol kota Trabzon, dan juga warna dasar dari tim sepakbola kebanggaan mereka, Trabzonspor yang baru saja menjadi juara liga Turki pada musim 2021/2022 lalu. Sebelumnya di jalan, ada yang membuat saya tertarik. Selain dengan jalan yang penuh dengan dolmus (Angkot) warna putih dengan strip garis biru dan merah maroonnya, adalah plang-plang petunjuk jalan yang bertuliskan bahasa Arab di bawah setiap nama tempatnya yang original (Bahasa Turki). Ini jelas pemandangan yang gak bakal bisa ditemui di daerah Anatolia (Anadolu) seperti di Ankara ataupun kota tempat saya tinggal, Eskisehir. Umumnya, orang-orang Turki sangatlah sensitif dengan orang-orang Arab, cenderung membenci dan tidak suka. Kebencian ini timbul karena banyaknya pengungsi yang datang dari negeri tetangga mereka, khususnya Suriah yang memang sedang tidak baik-baik saja semenjak Arab Spring 2011 lalu. Pengungsi yang semakin membludak dan beberapa di antara mereka membuat resah masyarakat dengan perilaku mereka yang dianggap ‘mengotori’ Turki. Kondisi ekonomi Turki yang sedang tidak baik-baik saja juga turut menjadi faktor sentiment anti-Arab ini muncul. Sebab, pengungsi yang datang mendapat bantuan finansial dari negara, di tengah kondisi ekonomi yang sulit, membuat orang Turki sendiri tidak suka. Sayangnya memang, generalisir terhadap semua orang Arab yang dilakukan juga gak bijak. Karena Arab gak cuman Suriah saja. Dan gak semua orang Suriah juga annoying atau membuat resah masyarakat. Tapi tentu saja, sentiment seperti ini gampang sekali terjadi. Isu Krisis Imigran memang kasus yang kompleks karena berkaitan dengan kebijakan luar negeri Turki sendiri. Intinya, kalau di kota-kota lain, terutama di kota-kota pusat seperti Ankara, Istanbul, apalagi Izmir –yang orang bilang, kota paling sekuler di Turki- tidak akan mungkin saya rasa ada tulisan Arab di fasilitas umum. Sudah pasti dirobohkan sama orang lokal Turkinya. Setelah saya amati, memang cukup banyak orang Arab yang bermukim di sini, dan toleransi orang lokal ke mereka sepertinya cukup tinggi. Saya juga akhirnya paham kenapa di beberapa komentar di Instagram, ada yang bilang Trabzon bukanlah Turki Arapzon mereka menyebutnya. Walaupun ini masuk ke troll anak bola saja ya. Di Instagram, saya mengikuti beberapa akun fanspage sepak bola seperti Kısapaslar, Transfermarket Türkiye, dan juga akun klub sepakbola dua rival abadi, Fenerbahce dan Galatasaray. Selain untuk belajar bahasa Turki, saya juga mencoba untuk mengikuti obrolan-obrolan dan cengcengan bola orang sini. Dan gak banyak orang yang suka dengan Trabzonspor, kecuali orang Trabzon itu sendiri. Ini asumsi saya pribadi sebenarnya. Singkatnya, Trabzon seperti memberikan saya satu sisi lain dari Turki.

Gedung tempat kami berkumpul terletak di pusat kota, di sekitar gedung ini, ada banyak sekali toko fnb berjejer. Orang-orang beraktivitas, sarapan, mengobrol, dan memulai hari mereka. Hamamizade Ihsan Bey Kültür Merkezi, aula tempat pusat kultur dan budaya Trabzon, disanalah kami akan berkumpul dua hari kedepan. Nama Hamamizade Ihsan Bey berasal dari seorang penyair, budayawan, penulis, dan pengajar kelahiran Trabzon yang masyhur pada tahun 1900-an. Gedung ini terkesan mewah dengan bagian depannya berdinding kaca besar sehingga kita bisa melihat ke dalam dari luar. Pintu putar di tengah, ala gedung besar. Di atas tertulis nama gedung, tulisan Hamamizade Ihsan Bey Kültür Merkezi, berwarna kuning, berlatar hitam, dengan lambang kota Trabzon di sampingnya. Aula tempat kami berkumpul terletak di lantai -2, sebuah tempat yang cukup luas dengan kursi biru semacam kursi kuliah yang ada meja hitam menempel di sisi kanan tangan kita. Ada sekitar 50 orang peserta LBC kali ini jika ditotal dari para delegasi dan panitia acara. Panitia acara, kebanyakan adalah para pelajar anggota PPI Trabzon yang menyebar di berbagai kota. Di Trabzon sendiri, hanya ada 4 mahasiswa saja, dibantu dengan Bang Ibrahim Fauzi, dan Mbak Naira, para senior yang sudah menetap bertahun-tahun di sana. Mereka sudah berkeluarga, dan sudah bekerja di sana pula. Sedangkan mahasiswa-mahasiswa lainnya, tersebar di kota Erzurum, Giresun, dan Gümüşhane. Hilmi Rizky, panitia acara dari kota Erzurum yang ketika istirahat makan siang baru saya sadari ternyata teman TÖMER saya di Kütahya dulu, menyapa saya ketika saya mencoba mengingat-ingat, kok orang ini gak asing ya? Eh ternyata pernah bareng setahun. Saya benar-benar baru tau dia pindah ke Erzurum. Tau gitu kan, kemaren waktu liburan kesana, gak usah bingung ya cari tempat tinggal. Hadeuh. PPI Trabzon merupakan salah satu PPI wilayah Turki yang paling pertama berdiri, sebelum akhirnya para pelajar di sana mulai pada lulus, tapi jumlah mahasiswa baru tidak bertambah. Sempat dibekukan tahun kemarin, PPI ini mulai aktif lagi dikepalai oleh Risya, yang ternyata teman TÖMER saya juga di Kütahya. Wkwkwk. Dia bilang begitu di bus ketika kita mengelilingi kota selesai acara. Kalau Hilmi saya kenal baik, tapi Risya, saya gak expect dia pindahan juga dari Kütahya di Trabzon, dan dia bilang, dia kenal saya. “Gw temen rumahnya April ri!”. April yang mana? Pikir saya, sebelum akhirnya ingat “Oh, April Humas PPI dulu ya!”, teman sedivisi di PPI Kütahya dua tahun lalu. Ya begitulah, jumlah mahasiswa yang terlalu banyak, kita juga gak sekelas, jadi memang kadang lupa. Momen ini juga kejadian ketika saya sedang jemput mahasiswa baru di bandara Istanbul. Bersama mereka, ada satu orang yang menyapa saya, saya yang bingung, coba mengingat-ingat, mengernyitkan dahi, sampai dia akhirnya bilang, “Gw Aghna, teman lu di Kütahya”, haha, barulah saya kemudian ingat dia siapa. Sangat penting memang untuk mengingat nama dan sosok orang lain, perilaku terpuji yang saya sedang usahakan. Karena, bagi tiap orang, nama seseorang yang paling ingin disebut oleh orang lain, adalah nama dirinya sendiri. Orang akan merasa terhormat ketika namanya diingat dan disebut orang lain. Setidaknya itulah yang saya pelajari dari buku, “How to Win Friends and Influence People” karya Dale Carnagie.

            Sebelum acara dimulai, saya dan beberapa teman yang agak sedikit merasa lapar, menyomot cemilan dahulu yang sudah tersedia di atas meja yang tersebar di depan pintu ruangan. Teh hangat dan beberapa sachet kopi juga tersedia di samping tembok di dekat meja tempat kami nyemil sambil berdiri. Setelah beberapa seruput, dan peserta sudah mulai memasuki ruangan, kami mulai meninggalkan biskuit-biskuit itu, dan masuk ke dalam ruangan.  

            Acara dimulai sekitar jam setengah 10, di awali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Lagu Indonesia Raya, Lagu Kebangsaan Turki İstiklal Marşı, dan Lagu Mars PPI Turki. Sambutan demi sambutan disampaikan, dari ketua PPI Turki, sahabat saya, mas Adam, dilanjut dengan sambutan dari berbagai relasi PPI Turki, dari Tugva Genel Başkan Yardımcısı, sambutan dari Trabzon Uluslararası Öğrenciler Derneği (TÖDER) yang menaungi para pelajar Internasional di Trabzon, dan dari Managing Director-nya ID Next Leader yang merupakan partner kolaborasi acara lokakarya kepemimpinan PPI Turki kali ini. Beliau menyampaikan sambutan dari zoom. Mereka juga mengirimkan tiga delegasi mereka ke acara kami secara langsung, ada bang Malik, Bang Ihsan, dan Kak Fika, yang akan berdiskusi bersama kami di ujung acara hari ini, tentang visi Indonesia Emas 2045. Visi Indonesia Emas 2045 juga merupakan visi dari kabinet Demi Kita, kabinet mas Adam di PPI Turki tahun ini. Sambutan lain datang dari Bapak Konsuler Kehormatan Indonesia untuk wilayah Trabzon, Bapak Kadım Çakıroğlu, yang telah banyak membantu kelancaran acara ini. Juga ada sambutan dari Bapak Mehmet Kara, selaku kepala Memur-sen Kota Trabzon, setelah saya searching-searching, kepala Memur-sen itu semacam kepala PNS. Dengan relasi yang sangat banyak inilah, gak heran jikalau kami mendapat tumpangan jalan-jalan gratis keliling kota Trabzon menggunakan bus Belediye setelah acara sore hari nanti. Sambutan dari para pembicara, terutama pembicara orang penting Turki ini, gak jauh topiknya dari rasa persaudaraan antar sesama negara muslim. Turki, walaupun mendeklarasikan diri sebagai negara sekuler, sering menggunakan identitas islam dalam menjalin hubungan bilateralnya dengan negara lain. Tergabung dalam OKI, organisasi Kerjasama Islam, Turki menjadi kekuatan penting di antara negara-negara islam yang ada. Yang saya takjub adalah, Lembaga Sosial macam TUGVA yang merupakan singkatan dari Türkiye Gençlik Vakfı, Lembaga Pemuda Turki, yang arah geraknya cenderung islamis, sangat berkembang pesat, padahal baru sepuluh tahun ia berdiri. Dana dan bantuan sangat kencang mengalir. Kami saja, para delegasi putra, menginap di salah satu asrama TUGVA di Trabzon. Kami ketika di Eskişehir juga banyak dibantu oleh LSM sejenis seperti IHH, dan YUDER, organisasi yang menaungi para pelajar internasional di kota Eskişehir. Banyak bantuan dari uang ataupun barang yang diberi secara cuma-cuma, dan juga acara camping dan perlombaan yang mereka adakan secara gratis untuk kami mahasiswa internasional. Ketulusan dan keikhlasan orang-orang di lembaga-lembaga yang saya sebutkan tadi memang gak perlu diragukan. Banyak saya belajar dari mereka yang sudah saya anggap sebagai guru. Mungkin, banyak organisasi muslim di negara kita perlu belajar juga dari mereka, bagaimana mengelola keuangan, bermanfaat untuk masyarakat luas, mempunyai planning-planning yang jauh ke depan, sehingga dapat berkembang pesat dan diakui tidak hanya di level nasional, tapi juga internasional.    

   

            Mendekati jam 12 siang, kami istirahat makan siang dan sholat Dzuhur. Saya yang sudah lapar, makan terlebih dahulu sebelum pergi ke Mushola untuk Sholat Jamak Dzuhur dan Ashar. Makan siang kali ini ayam geprek dengan sambal merahnya, lengkap dengan lalapan timun dan sawinya. Warung Jowo, begitu stiker yang tertempel di atas tutup sterofoam makan siang kami. Biasanya yang seperti ini itu yang jual UMKM kota setempat, Mahasiswa atau Gelin, orang Indonesia yang menikah dengan laki-laki orang Turki, yang menjual produk atau makanan seperti ini ke sesama masyarakat Indonesia lainnya di kota itu. Jam istirahat makan siang ini juga dijadikan ajang berkenalan secara non formal antar delegasi yang hadir, termasuk juga dengan para delegasi ID Next Leader, Bang Malik, Bang Ihsan, dan Kak Fika. Bang Malik bercerita kepada saya tentang sedikit pengalamannya jadi mentor leadership bootcamp, dan volunteering mengajar di berbagai daerah di Indonesia. Dari pengalamannnya itulah, beliau pernah menjadi dosen undangan di berbagai kesempatan di UGM, salah satu universitas terbaik di Indonesia. Saya juga sempat berbincang dengan Koordinator PPI Dunia Kawasan Amerika-Eropa, mas Denizar, yang saat ini berkuliah di Sakarya University, sebuah kota dekat dengan Istanbul, yang juga merupakan asal tempat kuliah dari ketua PPI Turki, mas Adam. Mas Denizar saat ini menempuh S3 di bidang Islamic Economy and Finance. Di Indonesia, beliau merupakan dosen di Universitas Airlangga, Malang. Beliau satu almameter dengan Mas Thohawi, senior saya di ESOGU, S3 di jurusan Biologi, yang juga dosen di universitas yang sama dengan mas Denizar. Obrolan berlanjut dengan para delegasi lain dari berbagai kota lainnya, sambil makan siang dan ngemil tentunya, sambil ngeteh, obrolan mengalir.

            Selepas Dzuhur, kegiatan berlanjut dengan penyampaian materi ke-PPI-an dari Ketua PPI Turki, Adam Syaikhul Akbar. Memang beliau ini kalau sudah beretorika, sangat bisa untuk mengambil hati orang yang mendengarnya. Mungkin banyak orang yang bertanya, kenapa acara ini dilaksanakan di Trabzon yang jauh sekali dari mana-mana. Kenapa gak di Ankara atau di Istanbul seperti pada umumnya? “Kami di PPI di Turki memiliki arah gerak yang jelas, kita ingin memperkuat PPI wilayah. Tut Wuri Handayani, mendorong, mendukung dari belakang. Kami, para Presidium semua pernah berproses di PPI wilayah, dan kita tau bahwa PPI wilayahlah yang langsung bersentuhan dengan para pelajar, bukan PPI Turki. Kita tau keresahan-kerasahan yang datang dari para pelajar, melalui proses yang sudah kita jalani di PPI wilayah. Maka dari itu, kami aktif mendengarkan aspirasi, keresahan, kritik, dan masukan yang datang dari wilayah, sehingga bisa kita perkuat lagi dukungan yang bisa kita berikan kepada teman-teman pelajar semuanya. Ketika kami audiensi ke PPI Trabzon, Risya, ketuanya mengatakan kalau Trabzon butuh ‘kehadiran’ dari PPI Turki. Trabzon letaknya jauh sekali dari PPI wilayah lainnya, dan dari kegiatan-kegiatan yang umumnya dilaksanakan PPI Turki di Ankara, Istanbul, Bursa, atau sesekali Konya. Sehingga memang sangat asing dan jarang sekali tersentuh dengan kehadiran PPI Turki. Berangkat dari situ, kami akhirnya berikhtiar untuk kemudian melaksanakan lokakarya, LBC ini di Trabzon. PPI Turki, beserta para delegasi yang datang dari PPI wilayah, berbondong-bondong datang dari wilayahnya masing-masing, ataupun dari Ankara maupun Istanbul, berangkat ke Trabzon, sehingga teman-teman Trabzon bisa merasakan ‘kehadiran’ dan ‘kehangatan’ dari PPI Turki. Begitupun ketika misalnya PPI Bartın (Sebuah daerah yang juga terletak di wilayah Karadeniz, jika Trabzon terletak di Timur, maka Bartın ada di barat,), menyampaikan keresahan bahwa mereka sebagai organisasi dipandang remeh oleh dernek (yayasan/organisasi/LSM) sekitar, karena tidak pernah kedutaan ataupun PPI Turki datang mengadakan acara atau berkolaborasi di sana. Berangkat dari keresahan itu, MIP (Model Indonesian Parliament) kita adakan di Bartın. PPI Turki selalu berusaha untuk memperkuat PPI wilayah, untuk terus bisa merasakan kehadiran PPI Turki, bahwa kami selalu ada untuk mensupport PPI wilayah, sebagai garda terdepan yang langsung bersentuhan dengan para pelajar diaspora Turki.” Jawaban yang sangat filosofis sekali. Di pikiran saya, acara dilaksanakan di Trabzon karena sepertinya cocok aja buat bertukar pikiran di alam yang tenang seperti Trabzon, mumpung Trabzon tahun ini sedang aktif kembali, setelah di tahun-tahun sebelumnya sempat vakum, bahkan dibekukan sementara. Saya banyak sekali belajar dari beliau tentang kepemimpinan, retorika, kerangka berpikir, arah gerak sistematis, dan yang paling penting, ketulusan dalam mengabdi. Seperti kata orang Turki ya, “Kurban olurum sana”. Beliau mentor dan panutan saya dalam kepemimpinan. Gak heran ketika dia memimpin Sakarya dulu, banyak orang-orang, SDM-SDM unggul yang berhasil dipoles. Mereka saat ini banyak mengisi peran di PPI Turki, dan termasuk yang paling aktif dalam Lokakarya LBC kali ini. Ya, Sakarya sekarang jadi kota dengan pelajar paling banyak se-Turki, dengan lebih dari 500 orang pelajar di universitas yang sama. Dengan kuantitas sebanyak itu, bakal susah sekali untuk bisa disatukan, dan dikembangkan kualitas SDM nya agar tidak tergerus dengan kuantitas. Kadang-kadang, ketika kuantitas bertambah, kualitas berkurang. Tapi di Sakarya, SDM-SDM unggul bermunculan. Baik dari segi akademik maupun non-akademik. Kalo saya sih sepertinya bakal pusing sekali memimpin orang sebanyak itu, bahkan enggan lah, tanggung jawabnya besar sekali. Oh ya, selain itu, ada satu kalimat lagi yang membekas di saya, ketika beliau menyampaikan, bahwa “Kita, di lingkungan orang-orang Indonesia ini, anak-anak muda (yang berkualitas,) didorong untuk maju menjadi pemimpin. Tapi, ketika PPI Turki dipimpin oleh anak S1 (walaupun beliau ini sudah pernah D3 di Malaysia, tapi memang hitungannya sekarang masih S1), orang-orang sangsi dan meragukan, kan kayak paradoks”. Yups, benar sekali, saya tahu betul kesulitan yang dihadapi presidium saat ini. Ketiganya semuanya masih S1, tapi saya tahu betul kualitas mereka. Mereka putra-putri terbaik dari teman-teman S1 dari berbagai wilayah. Saya banyak belajar dari mereka bertiga, tentang ketulusan, tentang diplomasi, dan tentang apresiasi. InsyaAllah mereka berada di jalur yang benar.

            Oh ya, sebelum materi ke-PPI-an dari ketua PPI Turki, ada materi juga dari Stafsus Kemenpora, Ibu Hasintya Saraswati, yang menyampaikan materi bertema: “Inovasi Pendidikan di Industri 5.0: Mengintegrasikan Teknologi dan Humanitas”, yang menyampaikan pentingnya adaptasi pemuda di era 5.0 ini, di era masifnya personalisasi Teknologi melalui AI. Masyarakat Indonesia memang sudah banyak yang aware dengan masifnya AI saat ini, tapi masih banyak yang belum bisa memanfaatkan dan menggunakannya dengan baik. Materi yang cukup menarik, tapi tidak berlangsung terlalu lama, karena Ibu Hasintya sedang siap-siap menuju GBK buat nonton langsung timnas Indonesia melawan Australia sejam lagi.

            Setelah itu, ada penyampaian materi dari Pak Billy Mambrasar, stafsus Presiden RI, yang kesan pertama saya terhadap foto dan video perkenalan beliau, agak nyentrik. Tapi setelah melihat background prestasi beliau yang luar biasa, berangkat dari daerah Papua yang jauh tertinggal di sana, sangat pantas sekali jika beliau berbangga dengan pencapaian pribadinya yang luar biasa, sehingga saat ini bisa menjadi Staff Khusus Presiden RI. Tema yang beliau sampaikan kali ini adalah tentang: “Peran Gen Z dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045”. Beliau banyak menyampaikan tentang minimnya kesadaran pemuda dalam berdaya saing di era industri 4.0 ini (memang kita sedang di era antara 4.0 dan 5.0), serta apa yang harus dilakukan para pemuda sebagai tonggak kemajuan bangsa. Terlebih, saat ini Indonesia sedang di masa bonus demografi ketika masyarakat Indonesia mayoritas merupakan Gen Z dan Millenial yang saat ini berada di usia produktif. Beliau menyampaikan materi di mobil, ketika sedang menuju bandara. Beliau bilang, selalu bersemangat ketika berdiskusi dengan para pemuda, para calon pemimpin Indonesia di masa depan.

            Sementara waktu menunjukkan pukul 3 sore, Timnas Indonesia sedang bertanding melawan Australia, skor masih sama kuat, 0-0. Karena ini pula, sudah banyak peserta, termasuk saya, yang sudah kurang fokus, antara mendengarkan pemateri, dan melihat skor timnas. Maka ketika diskusi berakhir, sesi istirahat 45 menit dipakai untuk menonton timnas di sisa laga, babak kedua sampai akhir. Seru kami nonton bareng, agak greget nontonin Arhan, dkk. Apresiasi buat Marten Paes, kiper naturalisasi timnas yang baru join September ini, luar biasa penampilannya. Gak heran kalau dia dapat MOTM dua kali berturut-turut di dua laga debutnya. Catatan yang sangat impresif sekali. Timnas memang kali ini sangat solid di lini belakang, tapi masih sangat tumpul di lini depan. Sulit sekali memang menemukan striker tajam berkualitas saat ini. Andai Boaz Solossa dan “El Loco” Gonzalez muncul di era keemasan timnas saat ini. Right Man in the Wrong Era. Begitu kata teman-teman fans timnas Indonesia saat ini.

            Laga timnas berakhir, kegiatan berlanjut. Di akhir acara ini, diskusi terakhir disampaikan oleh delegasi dari ID Next Leader, tentunya tentang visi Indonesia Emas 2045. Kursi-kursi dibuat melingkar, sehingga pembicara berdiri berbicara di tengah. Ketika diskusi dimulai dengan pertanyaan, “Disini ada gak, yang gak yakin dengan Indonesia Emas 2045?”, saya dan beberapa teman angkat tangan. Mereka menyampaikan pendapatnya masing-masing. Saya sendiri ragu karena melihat kemauan pemerintahnya yang masih minim. Belum benar-benar ditonjolkan keseriusan dalam berbenah, walau gagasan Indonesia Emas ini terus digaungkan. Maka dari itu, selama hal ini masih berlanjut, Indonesia Emas 2045 hanyalah angan-angan. Walau saya agak pesimis terhadap tercapainya Indonesia Emas 2045, bukan berarti saya tidak mendukung. Tentu saja saya mendukung 100% dan sangat senang sekali andai itu bisa tercapai. Saya di PPI wilayah juga berproses dan berkembang, juga mengembangkan SDM para pelajar diaspora di kota saya, berharap bisa memberikan sumbangsih yang berarti untuk Indonesia Emas 2045. Yang saya ragu adalah apakah tercapai tidaknya cita-cita kita ini di tengah gejolak politik, sosial, dan ekonomi yang tidak terlalu menunjukkan kemajuan signifikkan ke arah Indonesia Emas 20 tahun lagi. Tapi di satu sisi juga saya berharap, agar Indonesia setidaknya bisa seperti Turki, yang 20 tahun lalu, keadaannya tak jauh dari Indonesia saat ini. Penuh suap, ekonomi, dan politik tidak stabil, dll. Saat ini berkembang pesat sehingga dianggap menjadi salah satu kekuatan besar di kawasan Asia-Eropa dan Timur Tengah. Selain diskusi tentang peluang Indonesia Emas 2045, kami juga berdiskusi tentang Ibu Kota Nusantara yang baru. Yang cacat secara procedural, minim keterlibatan masyarakat, dan terkesan terlalu terburu-buru. Tapi sekarang, terlalu tanggung seandainya dibatalkan dan ditunda. Sudah bertriliun rupiah digelontorkan untuk membangun Kota yang dianggap sebagai simbol Indonesia Emas ini. Antara Pro dan Kontra, saya Pro pindah ibukota, asalkan di-planning dan dieksekusi dengan baik sehingga bisa menghasilkan output yang diinginkan. ID Next Leader juga aktif melaksanakan event-event besar, seperti yang akan mereka laksanakan dekat-dekat ini, FUTURE LEADER FEST 2 yang akan diadakan di Jakarta nanti. Semoga ikhtiar mereka, membuahkan hasil di kemudian hari, Amin.

            Acara kami selesai di pukul 18.30. Kami segera bergegas keluar gedung, melewati jalan tempat dolmus-dolmus itu  terparkir. Kami terus jalan, hingga sampai di depan gedung Türk Eğitim Vakfı yang tampak sudah sangat tua tapi tetap kokoh berdiri. Tua disini bukan maksudnya reyok atau apa, tapi arsitekturnya khas abad 19-20 awal yang cantik dan elegan. Setelah beberapa menit menunggu, Bus berwarna putih dua Tingkat tanpa atap datang. “Waahhhh!”, bergegas kami semua mengambil beberapa tempat duduk di atas, kecuali beberapa panitia yang stand by di bawah di dekat supir. Pemandangan sekitar Trabzon begitu jelas di mata kami, ketika bus membawa kami mengililingi seisi kota Trabzon. Kali ini karena matahari belum tenggelam, sehingga pemandangan sekitar kota tampak masih begitu jelas. Samping kiri kami, ada Laut Hitam (Karadeniz) yang terbentang luas dan cantik, dan tentu saja, warnanya biru ya, guys. Di sisi kanan kami, tata kota yang rapih, dan taman-taman yang elok tersusun memanjakkan mata kami. Kota Trabzon ini rasanya kayak gak asing ya tata kota nya, bisa dibilang, mirip dengan Istanbul jalannya di sisi kanan kiri, tapi bedanya di sini, plong, gak riweuh dan ramai macet seperti Istanbul. Menikmati keindahan kota Trabzon, dengan angin sepoi-sepoi, dan sinar matahari yang sebentar lagi akan tenggelam, Aaahhhh.. Nikmat mana lagi yang kau dustakan… Untuk mengabadikan momen, saya sih ngandelin Akmal, hehe. Hp saya ini kurang bagus dalam memotret foto atau merekam video. Lain lagi Hp Akmal yang baru itu, jernih betul. Dari sana juga sesi keakraban dimulai. Kami bersama-sama PPI Turki, membuat sedikit video, tipis-tipis aja, buat abadikan momen bareng.

            Matahari terbenam, kami akhirnya sampai di sebuah restoran ikan, setelah berputar-berputar kota Trabzon. Setelah diamati memang kami sempat dua kali lewat di tempat yang sama. Memang tujuannya dibuat keliling menikmati keindahan kota ini. Kami, seturunnya dari bus, berbondong-bondong menuju masjid terlebih dahulu, yang terletak persis di samping restoran ikan tempat kita makan. Tadi di jalan, saya sempat bertanya-tanya, apa nih makanan khas Trabzon? Trabzon, karena terletak di samping laut, terkenal dengan hidangan ikan hamsi nya yang dihidangkan dengan nasi, dengan salat-salat yang menyertainya. Dan Alhamdulillah, inilah yang akan kami makan malam ini. MasyaAllah banget.

            Kami duduk di kursi berderet yang tersusun di depan meja yang membentuk garis panjang berhadap-hadapan. Ada tiga baris yang kami isi. Dua baris tempat laki-laki, dan satu baris lagi tempat perempuan. Saya duduk di samping mas Ihsan, dan Iqbal pastinya, bareng-bareng mulu kita Di depan saya ada mas Fadi, dari departemen Jaringan dan Kerjasama PPI Turki, dan mas Jundi, yang datang jauh dari kota Ağrı sana. Ada ikan hamsi, nasi, salat yang terdiri potongan tomat, timun, dan sawi, dan juga ada mercimek çorbası berwarna kuning, yang menurut salah satu survey makanan, termasuk ke top 15 makanan berbentuk sup terenak. No.1 apa? Ya rawon dari Indonesia dong. Emang negara kaya rempah-rempah ini gak pernah kalah soal makanan, kalah di skor PISA aja wkwk (Pada 2022, skor PISA Indonesia, sebuah tes tingkat dunia untuk mengukur tingkat literasi, Matematika, dan Sains, dari 81 negara yang dites, Indonesia ada di rangking 15 terbawah). Tiap orang punya jatah ikan satu piring, sedangkan nasinya bagi dua ternyata. Tapi sebenarnya pun, pengganti nasi ada roti yang pastinya selalu ada di hidangan restoran Turki. Urutan makan seperti biasa, roti dicocol ke çorba sampai habis, lalu dilanjut dengan makanan utama, nasi ikan hamsi nya. Setelah makan usai, tiba saatnya untuk menantang para delegasi ID Next Leader ini untuk mencoba minuman kesayangan orang Turki, Ayran. Hehe, bisa nggak nih. Dulu, ketika saya sampai pertama kali ke Turki, tepatnya di salah satu restoran di terminal Esenler, Istanbul, saya memesan Ayran dan meminumnya, hanya dua tegukan saja. Gak kuat saya untuk menghabiskan. Kak Vika dan Mas Malik begitu mencoba pun sama, agak asem buat mereka. Tapi ketika mas Ihsan coba, “Enak kok”. Waahhhh, emang agak lain. Kata dia, buat orang yang suka minum yogurt, ini hanya seperti yogurt asam biasanya saja. Jarang loh, orang Indonesia yang langsung cocok dengan Ayran di percobaan pertama. Lain semisal udah setahun dua tahun. Udah biasa tuh lidahnya, ya kayak saya ini. Makanan yang sampai saat ini belum bisa saya terima di lidah saya at least ada dua yang saya ingat, satu buah Zaitun karena rasanya pahit banget, sama Salgam Suyu, minuman berwarna merah keunguan yang terkadang dihidangkan juga sebagai teman minum makanan berat, rasanya aneh. Aneh banget sampai gak tau saya mendeskripsikannya bagaimana. Jus yang terbuat dari lobak merah ini memang ‘gak banget’ buat lidah orang Indonesia.

            Selesai makan, kami keluar ke halaman resto, duduk di sana sambil ngeteh, merokok, mengobrol, dan lain-lain. Forum bebas sekitar setengah jam, sampai kami semua berkumpul di depan resto, untuk foto bareng. Saya gak fokus sebenarnya ketika foto bareng ini, sakit perut. Setelah sesi foto usai, saya bilang ke salah satu panitia, Aziz, kalo saya udah gak tahan ingin BAB. Sebentar saja kok, bang. InsyaAllah sempat. Lari saya ke toilet masjid, dan buang hajat secepatnya. Setelah itu lari menuju bus yang sebentar lagi hendak berangkat. Fiuhh, untung keburu. Tapi kayaknya ada tanda-tanda nih....

            Malam itu, sekitar jam 10, kami sampai di asrama TUGVA tempat kami menginap, setelah sebelumnya mengantar peserta perempuan dulu ke asrama mereka yang menanjak itu.  Alhamdulillah, hari yang cukup melelahkan, tapi menyenangkan. Setelah salat dan mandi, saya tidur duluan, sementara Iqbal sepertinya masih mengobrol di kamar lain.

            Hari kedua, sebagaimana hari pertama, kami juga memulai acara di jam 9 pagi. Acara sampai dengan sebelum Dzuhur diisi dengan beberapa speech dan sambutan dari para pembicara. Ada sambutan MÜSDAV GENÇ Başkanı, Haliz AKÜZÜM yang jauh-jauh datang ke Ankara untuk bisa bertemu dengan kami semua, memberikan pengenalan tentang MÜSDAV yang merupakan kepanjangan dari “Uluslararası Müslüman Topluluklarla Dayanışma Vakfı” (Yayasan untuk Solidaritas Komunitas Muslim Internasional). MÜSDAV ini juga merupakan organisasi yang belum lama berdiri. Umurnya masih sekitar 20 tahun tapi arah pergerakannya sudah sangat luas. Memang organisasi komunitas muslim atau pemuda di Turki, kemandiriannya dan kemajuan pesatnya sangat bisa kita contoh. Beliau juga menyampaikan tentang solidaritas antar sesama muslim, sebagaimana yang telah dijalin antara Indonesia dan Turki yang memiliki latar belakang komunitas muslim yang kuat. Kerjasama seperti acara sekarang ini selalu terbuka untuk teman-teman diaspora Indonesia di Turki. Memang, status Turki sebagai salah satu negara muslim merupakan keuntungan bagi kita diaspora muslim. Walaupun telah berubah menjadi negara sekuler, namun nilai-nilai islam yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Turki, tentunya tak dapat lepas begitu saja. Saat ini, kebebasan beragama sudah sangat longgar dan banyak komunitas-komunitas kepemudaaan yang berlandaskan ajaran islam yang bermunculan. Biasanya kami PPI Turki, maupun PPI wilayahnya bekerja sama dan berkolaborasi dengan mereka. Karena disini, memang yang sering mempersatukan adalah background ukhuwwah islamiyyah nya. Sudah sering kali kami dimudahkan dalam penyelenggaraan berbagai acara keorganisasian kami. Dalam acara pentas budaya, maupun dalam kegiatan umum organisasi itu sendiri. Kami, PPI sudah sangat dikenal baik oleh komunitas-komunitas eksternal, dan kesan yang baik ini sangatlah kami jaga. Selanjutnya, ada pemaparan dari salah satu sponsor acara ini, yaitu BPJS. Tentunya di rubrik tanya jawab, pertanyaan tentang pasien BPJS yang terlantar itu sudah pasti ada.

            Pemaparan tentang leadership juga disampaikan kepada kami oleh Ketua PPI Dunia Kawasan Amerika-Eropa (PPIDK AMEROP), Mas Denizar Abdurrahman, yang juga merupakan mahasiswa doktoral di Sakarya University. Selain beliau, Sekretaris Jendral PPI Turki, yang juga teman saya, Naura Arifa, turut memberikan kita refleksi diri juga sebagai pemimpin. Pengalaman dia di dunia kepemimpinan memang sudah gak diragukan lagi. Dia juga sangat menjaga nilai spritualitasnya sehingga gak heran kalau dia cenderung stabil dalam menjalankan aktivitasnya yang terhitung padat. Refleksi yang dilakukan juga tak lepas dari mengajak kita untuk muhasabah dan merujuk pada Al-Qur’an. Dari sini, Naura yang mengambil alih posisi moderator acara sampai nanti kita Forum Group Discussion di siang dan sore nanti. Beberapa pertanyaan dilontarkan untuk memancing diskusi, mengenai bagaimana kita, memandang permasalahan, dan bagaimana kita menanggapinya, terutama dalam kasus lingkungan PPI yang kita bawahi.

            Setelah makan siang, yang kebetulan ayam geprek lagi, jam 2 siang kita mulai masuk ke dalam topik utama diskusi yang ingin kita adakan. Topik utama lokakarya kita kali ini adalah “Pendidikan”. Lebih tepatnya tentang krisis akademik di lingkup pelajar Indonesia di Turki. Bagaimana menangani masalah TOMER (Kursus Bahasa Turki), daya juang pelajar yang rendah, IPK yang terus turun, Bagaimana Alumni nanti berkiprah, dll. Kami dibagi ke beberapa kelompok dengan masalah yang akan dibahas masing-masing. Di akhir, kami per kelompok akan mempresentasikan hasil dari diskusi kami.  

            Kelompok saya mendapatkan jatah membahas tentang permasalahan “Kenapa daya juang pelajar Indonesia di Turki itu rendah?” beserta solusi-solusi yang coba kami tawarkan. Saya memimpin sebagai ketua kelompok sekaligus yang akan mempresentasikan nanti hasil dari diskusi kami ini nanti. Kebanyakan point of view nya diambil dari sudut pandang PPI Sakarya dengan mahasiswa Indonesia terbanyaknya. Terlebih ada bang Azril dan Ja’far yang sudah berkecimpung lebih di PPI Sakarya sebelumnya. Saya, Akmal, dan Ubay juga melengkapi dari sudut pandang kami di PPI Eskisehir.

            Menurut kami, setelah berdiskusi dan bertukar pikiran, kami berasumsi bahwa beberapa faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi adalah: Budaya beli nilai atau terbiasa tidak jujur ketika di SMA. Jadi ketika di sini nilainya benar-benar murni dan tanpa pendongkrakan, kaget; TÖMER tidak kolektif. Seharusnya masa TÖMER untuk anak-anak baru itu merupakan masa-masa bareng-bareng dengan teman angkatannya sehingga tercipta perasaan sebagai suatu kolektivitas yang mendukung untuk bisa lulus bareng dan tentunya, ketika hal baik ini sudah dibangun sejak awal, tentunya kemungkinan ia akan baik di tahun-tahun berikutnya lebih besar; Kurangnya dukungan lingkungan. Lingkungan yang buruk, besar kemungkinan akan memberikan dampak yang buruk pula kepada individu, terlebih jika dia orang yang gampang kebawa arus. Lingkungan yang baik sangat mendukung jalannya mindset akademik; Niat yang salah. Masih banyak sekali mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Turki, datang tidak dengan tekad yang kuat atau bahkan hanya supaya membawa embel-embel ‘kuliah di luar negeri’ tanpa memikirkan resiko-resiko yang akan dipikul di kemudian hari. Kuliah di luar negeri berarti kuliah dengan bahasa asing, kuliah di lingkungan yang cukup asing, kalau dia mandiri terutama pakai agensi, maka bisa jadi uang yang akan dikeluarkan juga bisa bikin pusing, kalau tergiur karena di Turki gak ada skripsi, tetap aja kita harus lulus di setiap pelajaran supaya gak remedial, tinggal kelas, dll. Dan semua ini gak bakal bisa diatasi kecuali dengan tekad yang kuat dan niat yang benar sedari awal; Terakhir, dalam beberapa kasus, mahasiswa Indonesia di Turki, terutama sejak masa inflasi yang semakin parah, cukup struggle dalam mengatasi urusan finansialnya, sehingga mau tidak mau dia harus meninggalkan kuliahnya untuk bisa memenuhi kebutuhan finansialnya tersebut. UKT kampus yang semakin tinggi ini memang kerap menjadi masalah buat para mahasiswa, terutama mereka yang ketika datang, UKT nya masih 3-4 juta, tapi sekarang naik jadi 6-7, bahkan 10 juta. Beberapa upaya dilakukan PPI untuk membantu masalah ini, dengan cara menghubungi KBRI atau pihak lain yang kiranya bisa melobi masalah ini. Walaupun sedikit yang berhasil, tapi upaya bantuan seperti ini sangat penting untuk memastikan keberlangsungan pelajar Indonesia di Turki.

            Kami kemudian menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi masalah-masalah ini:

1.     Pemberdayaan Akademik melalui Komunitas

·       Membentuk grup Whatsapp per jurusan sebagai wadah diskusi akademik. Sekaligus menunjuk Grup Başkanı nya juga.

·       PPI berperan sebagai fasilitator untuk mengatasi keterbatasan akademik dan mendukung mahasiswa.

2.     Apresiasi dan Insentif bagi Mahasiswa Berprestasi

·       Memberikan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi melalui media PPI.

·       Mengundang KBRI/KJRI untuk turut mengapresiasi, meningkatkan motivasi mahasiswa melalui intensif yang diberikan, guna membangun image yang baik bahwa PPI hadir mendukung mahasiswa yang berprestasi agar bisa menginspirasi teman-teman lainnya untuk turut berprestasi juga baik di akademik maupun non akademik.

3.     Peningkatan Fasilitas Belajar dan Standarisasi TÖMER

·       Membangun website catatan berhadiah untuk mendorong berbagi ilmu dan memberikan intensif bagi pengajar. Meski terdengar sulit untuk dijalankan, ide ini menarik untuk dikembangkan.

·       Menyeragamkan kurikulum Mini TÖMER serta mengadakan pelatihan pengajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Turki.

Solusi yang kami paparkan ini merupakan rekomendasi-rekomendasi yang bisa diambil oleh PPI wilayah agar bisa membentuk lingkungan belajar yang mendukung para pelajar Indonesia di Turki agar memiliki daya juang yang tinggi sebagai diaspora muda Indonesia di sini.

Masing-masing kelompok juga menawarkan solusi yang menarik, beberapa diantaranya, ada yang menyarankan untuk mengadakan semacam COC (Clash of Champions)-nya Ruang Guru di lingkup PPI Turki yang memang saat itu sedang hype. Kemudian ada juga rekomendasi dari kelompok lain yang menyarankan agar PPI Turki melalui KBRI ataupun Kedutaan Turki melakukan filter terhadap calon mahasiswa Indonesia yang hendak belajar ke Turki. Filter ini dapat berupa semacam tes, wawancara, dll. Sebab, berkuliah di Turki saat ini terhitung sangat mudah apalagi kalau punya banyak uang. Akses yang terlampau gampang inilah yang dianggap menjadi salah satu faktor kenapa pelajar kita punya daya juang yang rendah. Meskipun rekomendasi ini terbilang agak sulit dalam kondisi saat ini, namun ide ini termasuk cemerlang karena dibandingkan dengan pelajar negara lain seperti di Jepang atau Jerman, Turki ini merupakan salah satu negara yang pelajarnya paling terkendala pada bahasa negara tersebut. Banyak sekali pelajar Indonesia yang terkendala sulitnya bahasa Turki sehingga semacam kualifikasi seperti yang dipaparkan tadi, dapat menjadi filter dan penyaring calon pelajar agar lebih serius dan mempersiapkan dirinya dengan lebih baik lagi sebelum berangkat ke Turki.

Untuk mendukung proses belajar mahasiswa Indonesia di Turki, PPI Turki bekerjasama dengan IKPM membagikan buku ‘Dilerim Türkçe’. Buku ini berisi panduan bahasa dari level beginner sampai ke level advance dilengkapi dengan contoh percakapan sehari-sehari, beberapa kosakata dan atasöz pilihan yang diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan yang dianggap merupakan kendala terbesar bagi pelajar Indonesia di Turki.

PPI Turki sendiri menegaskan bahwa dalam arah geraknya, PPI Turki ‘melangit’ dan ‘membumi’. Dalam arah gerak ‘melangit’, PPI Turki melalui Simposium dan PUSPITUR-nya (Pusat Studi PPI Turki) menjadi wadah pengembangan ilmu pengetahuan dan riset mahasiswa Indonesia di Turki guna memberi manfaat dan sumbangsih kepada negara. ‘Membumi’ berarti walau PPI Turki mempunyai cita-cita yang tinggi dan besar, ia tetap tidak lupa menyentuh lapisan masalah bawah yang mendasar seperti TÖMER, dan grup belajar tiap jurusan di PPI wilayah.

Diskusi yang sangat berkesan dan dipenuhi semangat yang menggebu-gebu ini akhirnya berakhir di sore hari, sekitar jam setengah 6 sore. Kami berfoto bersama, merapikan kursi dan meja-meja di ruangan, sebab esok hari agenda kita adalah jalan-jalan mengeksplor keindahan kota Trabzon.

Kami keluar ruangan, bergegas berjalan menyebrang jalan, melewati rentetan angkot biru merah yang terparkir di sisi jalan. Bus kami sudah menunggu. Kami kembali menaiki bus kota tanpa atap ini lagi seperti kemarin. Angin sepoi-sepoi, menikmati pemandangan kota Trabzon di sore hari, ketika matahari hendak terbenam, burung terbang, Vay be… indah banget. Melewati laut hitam, juga beberapa peninggalan bersejarah masa lalu menambah rasa keindahan kota ini.

Bus kami kemudian bergerak ke arah hotel tempat kami akan makan. Hotel ini milik Bapak konsuler kehormatan untuk Indonesia di Trabzon, Bapak Kadem Çakıroğlu, beliau senang menyambut kegiatan PPI disini. Dikarenakan memang jarang sekali ada kegiatan pelajar Indonesia di sini, terutama dalam beberapa tahun terakhir, bahkan tahun lalu saja, PPI Trabzon sempat dibekukan. Jadi, pada kesempatan kali ini, Bapak Kadem mengajak kita makan malam bersama di restoran hotelnya. Kami malam ini makan hidangan khas Trabzon, Akçaabat köftesi yang ditemani çorba, salad, dan roti yang menemaninya. Alhamdulillah sekali. Perut kenyang, hati senang. Setelah usai makan, kami foto bersama dengan beliau dan istrinya (atau asistennya, jujur gak tau, hehe). Mantap bener emang panitia yang sudah atur sedemikian rupa semuanya. Apresiasi sebesar-besarnya untuk kalian!

Malam itu, ketika sudah sampai di asrama, setelah mandi dan sholat, termasuk saya, tidak langsung tidur, tapi ngobrol-ngobrol dulu di salah satu kamar. Ada sekitar 7-8 orang yang mengobrol saat itu, termasuk saya, ketua PPI Eskisehir, Iqbal, ketua PPI Konya, Azra, Ketua PPI Ankara, Ardhian, ketua PPI Sakarya dan wakilnya, Ilham, ada juga Nawawi, ketua PPI Kutahya. Juga ada Ubay dan Akmal yang ikut menemani. Saya harap mereka berdua bisa belajar banyak sebagai penerus di Eskisehir nanti. Datang juga ketua PSDM PPIT kala itu, si Faiz yang ikut mengobrol sebentar, sebelum akhirnya pamit karena harus meet evaluasi bareng panitia LBC lainnya. Kami mengobrol banyak hal malam itu, utamanya saling diskusi mengenai jalannya kepengurusan kami di wilayah masing-masing. Dengan rintangan dan latar belakang yang berbeda yang kami lalui, kami diskusi dan bertukar pikiran selama beberapa jam. Hingga dirasa waktu sudah cukup malam, kami kembali ke kamar masing-masing dan kemudian tidur, bersiap untuk kegiatan esok hari.

Pagi-pagi banget saya sudah bangun tidur, solat subuh, lalu karena sudah mandi semalam, jadinya gak mandi lagi, hehe. Hari ini pun cuacanya cukup bagus, tidak dingin, dan gak terlalu panas juga. Jadinya kebanyakan dari kami hanya pakai kaos untuk trip hari ini. Kali ini kami naik bus belediye lagi, dua lantai juga, tapi ada atapnya.

Tempat pertama yang akan kami datangi adalah Hagia Sophia. Yups, Hagia Sophia! Tapi yang ini bukan yang ada di Istanbul, tapi yang ada di Trabzon. Jadi memang ada banyak Hagia Sophia di Turki guys! Tercatat ada sembilan Hagia Sophia di Turki dan sebagian besar di antaranya masih beroperasi sebagai masjid, salah satunya yaaa, Ayasofya Camii yang ada di Trabzon ini. Bangunan yang dulunya gereja ini diubah menjadi masjid ketika penaklukan Trabzon dilakukan di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih. Lalu masjid ini sempat menjadi museum selama beberapa tahun sebelum akhirnya beralih fungsi kembali menjadi masjid pada tahun 2013. Bangunan ini juga sempat menjadi rumah sakit dan gudang saat Perang Dunia 1 berlangsung. Silakan baca artikel ini untuk info lengkap terkait Sembilan Hagia Sophia di Turki (https://www.haber7.com/seyahat/haber/2993995-turkiyenin-ayasofya-camiileri-farkli-sehirlerde-9-tane).

Oh ya, kami di Hagia Sophia ini juga sekalian menyambut kedatangan pak Dubes Rizal yang bakal memberikan sedikit sambutan untuk kami. Sembari menunggu, sudah tentu kami foto-foto dahulu, sekaligus baca brosur sejarah yang ada di masjid. Ketika santai-santai bareng Iqbal dan yang lain, si Faiz datang dan menunjuk saya menjadi Qori untuk penyambutan pak Dubes nanti. “Lah kok gw, Iz?”. “Gapapa Bol, aman aja”, kira-kira gitulah proses penunjukannya. Akhirnya saya pilih surat Al-Fath ayat 1-7 untuk dibacakan pada acara nantinya.

Ketika pak Dubes sampai, kami bergegas berkumpul ke halaman depan masjid, disitu sudah ada sound system dan tikar yang tergelar. Beliau ditemani dengan bapak Konsuler kehormatan, bapak Kadem Çakıroğlu. Selain beliau, ada juga ketua TÖDER, dan beberapa orang penting lainnya. Acara dipandu dengan MC kondang kita, mbak Aqila. Dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Qori, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Tentunya yang paling di highlight adalah sambutan dari pak Dubes itu sendiri. Beliau jauh-jauh datang dari Ankara, tiba jam 08.40 pagi, bertemu kami pada jam 9.30 pagi, dan kembali ke Ankara pada jam 12 siang di hari yang sama. Selepas sampai di Ankara pun, beliau sudah ada agenda diplomasi lagi di tempat lain. Di tengah kesibukan beliau yang begitu padatnya, beliau masih menyempatkan diri untuk datang ke acara kami, menghadiri acara penutupan LBC ini dan menyapa kami, PPI Turki bersama PPI wilayahnya. Beliau menyampaikan bahwa dengan besarnya tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dan Turki, diperlukan calon-calon pemimpin yang memiliki visi misi masa depan yang kuat, dan beliau percaya bahwa kami adalah salah satu calon pemimpin itu. Amin. Usai sambutan, beliau diberi cinderamata jersey Trabzonspor oleh Bapak Kadem. “Bize Her Yer Trabzon!” (Slogan klub Trabzonspor). Di samping itu, beliau juga ikut menandatangani sebuah piagam yang dinamakan ‘Piagam Trabzon’. Piagam ini merupakan komitmen dari Langkah nyata PPI Turki untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat karakter, dan memperluas kontribusi pelajar Indonesia di Turki. Piagam yang sudah ditandatangani oleh pak Dubes ini pun kemudian ditandatangani oleh seluruh delegasi tiap PPI wilayah yang hadir. Piagam Trabzon ini menjadi bukti keseriusan PPI Turki dan wilayahnya untuk mengatasi masalah akademik yang terjadi di antara para pelajar Indonesia di Turki.



Setelah acara usai, kami kemudian langsung beranjak naik bus kembali, menuju destinasi selanjutnya yaitu Atatürk Köşkü (Paviliun Ataturk). Paviliun ini memiliki gaya arsitektur Eropa Renaissance yang kuat. Dengan nuansanya yang megah berwarna putih, dengan taman bunganya yang cantik, makin menambah keindahan bangunan ini. Menurut website Kültür Portalı pemerintah Turki, bangunan ini dibangun pada abad ke-19 oleh Konstantin Kabayanidis. Sempat menjadi tempat singgah Mustafa Kemal Ataturk ketika berkunjung ke Trabzon, bangunan ini akhirnya diwakafkan untuk negara pada tahun 1937. Pada tahun 1943, bangunan ini beralih fungsi menjadi museum dan terbuka untuk umum hingga saat ini.

Ketika kami sampai disana, banyak turis lain yang sudah datang berkunjung, sehingga hanya sebagian dari kami saja yang bisa masuk secara bergantian. Sebagian mendengarkan penjelasan sejarah tentang bangunan ini, sebagian lagi termasuk saya duduk karena cukup lelah berdiri ramai-ramai. Setelah menunggu beberapa saat, saya dan beberapa teman lain kemudian masuk ke dalam. Tampaknya, karpet berwarna merah dan dinding berwarna putih memang merupakan paduan sempurna bangunan megah, ya! Di lantai dasar paviliun ini, terdapat ruang tamu, ruang istirahat, ruang makan, dan kamar tamu. Lantai pertama memiliki ruang belajar, kamar tidur besar, ruang tunggu dan ruang pertemuan. Sedangkan Lantai kedua memiliki dua ruangan yang lebih kecil, beserta balkon yang mengarah ke pintu masuk depan. Kami berfoto di balkon itu menghadap ke bawah tempat bang Azril siap dengan kameranya menuju kami. Setelah beberapa menit, di dalam, kami kemudian keluar dan berkumpul bersama di sisi kiri pavilion tersebut. Di sana kami berfoto bersama berlatar belakang bangunan putih ini.

Ada cerita lucu dan pastinya selalu keinget kalau bicara tentang LBC ini. Jadi, setelah foto-foto, saya hendak pergi ke toilet, yang berada di sebrang jalan. Tapi sebelum itu, saya beli sedikit oleh-oleh seperti tempelan kulkas dulu di sekitar sana, baru setelah itu pergi ke toilet. Setelah kembali ke toilet, kaget saya, Loh kok busnya gak ada! Saya langsung telfon Risya dan chat grup WA LBC bilang kalau saya ketinggalan. Keluar dari pavilion saya belok kiri coba mengejar ke bawah tapi bus sudah terlampau jauh. Saya diminta untuk naik angkutan umum yang ada di durak untuk turun ke bawah, tapi 10 menit berlalu tidak ada satu angkutan umum pun yang lewat sama sekali. Memang Atatürk Köşkü ini letaknya sedikit jauh dari pusat kota dan kebanyakan pengunjung di sini datang menggunakan mobil pribadi atau bus pariwisata. Wah, jadi gak enakan saya. Bus juga gak mungkin untuk putar balik karena sudah cukup jauh berada di bawah dan akan susah untuk memutar naik lagi ke tanjakannya. Akhirnya, Hoca TÖDER bersama koleganya, datang menjemput saya menggunakan mobil pribadi yang mereka kendarai. Saya minta maaf dan diam saja di mobil. Mereka tentunya memaafkan, “Estaghfirullah”, begitu orang Turki biasanya kalau ada yang minta maaf ke mereka, dan mereka sebenarnya gak ada masalah dengan itu. Sesampainya di tempat bus nya menunggu, saya turun dan mengucapkan terima kasih. Di sana langsung disambut bang Fauzi dan menegur saya, “Kok bisa ketinggalan??”. Ketika masuk ke dalam bus, semuanya langsung menyambut dengan Sholawat Badar wkwk. Kampret emang. Tapi karena saya masih merasa gak enakan sama yang lain, jadinya saya langsung ke belakang, duduk di kursi pojok di samping jendela. Ketika bus berjalan, semuanya lanjut bernyanyi lagu Bernadya yang top hits Spotify itu, sedangkan Iqbal minta maaf ke saya karena gak sadar kalau saya ketinggalan dan gak mengingatkan panitia. Saya juga kiranya yang lain masih lama berjalan dan mengobrol di pavilion makanya saya ke kamar mandi dulu. Ya, begitulah, saya pun akhirnya karena capek dan udah cukup keringetan lari-lari tadi, tertidur di kursi belakang.

Setelah beberapa menit tertidur, saya bangun ketika kami sudah kembali ke kota untuk menukar bus yang kami naiki ini dengan bus lain. Bus yang akan kami naiki inilah yang akan mengantarkan kami ke Uzungöl, salah satu tempat yang harus dikunjungi di Trabzon. Bus kali ini bentuknya seperti bus antar kota, berwarna putih, dan tidak ada lantai duanya. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam, waktu yang pas untuk tidur. Kami semua tertidur sepanjang perjalanan kecuali supir dan beberapa panitia, mungkin. Karena jalannya juga cukup bikin mabuk ya, karena naik turun, ke kanan dan ke kiri, jadi lebih baik tidur.

Begitu membuka mata, melihat ke jendela, mata saya langsung takjub dengan keindahan danau hijau besar yang luar biasa indah ini. Subhanallah! Saya tidak berlebihan, memang seindah itu Uzungöl Trabzon. Apalagi kita-kita yang tidur sepanjang perjalanan, bangun-bangun disuguhin pemandangan seindah ini. Di dekat danau ini, persis di sampingnya, ada sebuah Sekolah Dasar. Wah, enak sekali anak-anak ini, tiap keluar sekolah matanya langsung segar memandang indahnya ciptaan Tuhan ini. Kami makan siang di yemekhane sekolah itu, setelah mendapat akses makan siang dari bapak Memur-sen Kota Trabzon, Mehmet Kara. Kami makan ikan dan nasi, salad, serta mercimek çorbası. Ikannya enak banget kali ini, dan ya, saya nambah lagi, hehe.

Setelah makan, kami shalat dzuhur di masjid, lalu kembali lagi ke tempat makan, karena penutupan resmi acara LBC ini bakal dilakukan di sana. Saya kembali jadi Qori di acara ini. Awalnya saya tolak, tapi si Faiz mancing-mancing perihal ketinggalan bus tadi, ya udah lah, di-roasting terus ini mah, wkwk. Kali ini, saya membaca surat Al-Insyirah dari awal sampai akhir. Saya pilih karena selain maknanya yang bagus, juga suratnya tidak terlalu panjang, dan tidak terlalu pendek.  Setelah itu ada sambutan dari Ketua PPI Trabzon, Risya Shofia, Ketua PPI Turki, Adam Syaikul Akbar, dan juga sambutan mengharukan dari ketua PSDM PPI Turki, Faiz Arhasy, selaku penanggung jawab acara LBC ini. Faiz membuka sambutan dengan sajak rimanya yang mungkin dia sudah hafalkan sejak lama. Asyik gitu dengernya. Dia kemudian berterima kasih kepada para panitia, dan PPI Trabzon yang sudah mengeluarkan tenaga dan pikirannya untuk acara ini. Di sini dia mulai menangis dan terharu. Bisa terbayang sih dengan keterbatasan kuantitas panitia, acara ini bisa sukses dan memberikan kami, -para peserta, fasilitas yang begitu luar biasa. Dia kemudian mengumumkan kalau acara ini akan menjadi acara terakhir yang berada di bawah tanggung jawabnya sebagai Ketua PSDM PPI Turki. Saya kira alasannya karena dia bakal Erasmus, taunya bukan, dan saya baru tau alasan sebenarnya di esok hari ketika sudah di Ankara. Setelah penutupan, kami ada waktu sampai jam 6 sore untuk eksplorasi danau ini. Kami akhirnya bersama berjalan mengitari salah satu danau terbesar di Turki dengan panjang 1000 meter dan lebar 500 meter ini. Kami berfoto di jembatan yang memang tampaknya sangat instagramable buat foto. Setelah itu, kami menaiki tangga di tebing untuk sampai ke tempat foto di atas yang menawarkan view indah uzungöl dengan rumah-rumah dan bangunan-bangunan cantiknya, yang menambah keindahan pemandangan alam ini. Sumpah, ini indah banget. Kalian yang kuliah di Turki, minimal sekali lah main ke Trabzon, terus mampir ke sini. Mantap banget! Di atas, juga ada teropong, untuk pakai ini kita harus memasukkan beberapa koin, dan bisa meneropong dengan jelas apa yang ada di bawah kita. Benar-benar penutup yang sempurna untuk perjalanan di Trabzon kali ini.

Menjelang Maghrib kami kembali pulang ke asrama. Sebelum kembali ke asrama, saya, Iqbal, dan beberapa teman lain mampir ke restoran döner terlebih dahulu untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan ini. Setelah makan, kami kembali ke asrama, dan siap-siap packing untuk pulang. Setelah barang semua sudah diletakkan di bawah, kami dapat kabar bahwa busnya akan sedikit telat untuk datang. Jadinya kami mandi dulu, solat dulu, santai-santai dulu, ngecas hp dulu, sekitar setengah jam. Baru setelah itu, bapak Memur-sen datang menemui kami dan berpamitan. Kami senang sekali dan berterima kasih atas segala bantuan yang telah beliau berikan dalam memfasilitasi acara ini. Akhirnya kami juga berpamitan dengan Risya dan Azka, kami berterima kasih telah dijamu dengan baik oleh tuan rumah, PPI Trabzon. Beberapa sudah pulang duluan naik pesawat, teman-teman Sakarya. Sisanya kebanyakan naik bus bareng ke Ankara, sebelum pulang ke kota masing-masing.

Sesampainya di Ankara, saya, Ubay, dan Iqbal pergi ke kompleks Melike Hatun, di belakang masjid ada tempat thrifting yang murah-murah dan bagus-bagus di sana. Saya beli jas dan celananya hanya 250 lira. Saya juga beli celana dan kemeja. Total saya kurang lebih habis sekitar 500 lira kalau tidak salah. Ubay juga beli celana, sedangkan Iqbal gak beli apa-apa, hanya menunggu kami. Di sana untuk mengganjal perut, kami beli ekmek köfte gerobakan yang ada di samping jalan. Baru kemudian kami menuju rumah sahabat kami, Ai, yang bakal masak-masak di rumah. Kami sempat salah naik bus sehingga harus jalan jauh kalau mau sampai sana, atau naik bus lagi, nunggu lagi. Karena cuacanya yang cukup panas kala itu, kami memutuskan untuk naik taksi saja bertiga ke rumah Ai, 100 tl bagi tiga, not bad lah. Sekitar 20 menit jalan kaki dari tempat kami naik taksi.

Di sana sembari menunggu Ai masak, kami tidur. Pada kecapekan semua nih orang-orang. Setelah perjalanan panjang 10 jam lebih Trabzon-Ankara. Lumayan setengah jam untuk tidur. Bangun tidur, saya langsung buka laptop untuk ders kayıt (Ambil Pelajaran) semester ini. Beberapa saat kemudian, masakan sudah jadi, Hemmm, nikmat! Enak banget emang kalo lagi lapar, lelah begini. Kami sempat mengobrol beberapa jam sebelum akhirnya pulang ke kota kami masing-masing. Jarang-jarang memang kami bisa berkumpul di waktu dan tempat yang sama seperti ini, makanya wajar kalau excited, kan.

Saya ingin sedikit membahas polemik tentang pengunduran diri Faiz sebagai ketua PSDM PPI Turki. Satu hari setelah LBC berakhir, Faiz cukup menggemparkan publik PPI Turki dengan mengatakan bahwa dirinya tidak dihargai dan bahwasanya Presidium PPI Turki selalu menyalahkan, tidak mengapresiasi, cari muka, orientasi politik, kepentingan pribadi dan lain-lain. Perlu waktu lama saya untuk mencerna apa yang terjadi. Karena ini konflik internal yang kami para peserta tidak tau kronologinya. Dikarenakan hal ini, banyak yang menyerang presidium PPI Turki, atau bahkan kepengurusan PPI Turki tahun ini. Beberapa di antaranya bahkan menyerang secara personal. Kritik tajam datang dari berbagai kalangan, utamanya dari beberapa pengurus kabinet tahun lalu. Saya sebagai orang yang berada di tengah, mengenal presidium dengan baik sebagai teman dan ketua saya, merasa kata-kata cari muka, tidak tulus, kepentingan pribadi dan lain-lain yang tertulis itu rasanya tidak tepat ditujukan kepada Adam Syaikhul Akbar. Justru sebaliknya, dia saya kenal sebagai orang yang tulus niat untuk mengabdi, tanpa kepentingan politik partai atau apapun yang dituduhkan itu. Dia seorang idealis, tapi bisa akrab dengan mudah juga dengan orang lain.

Setelah mengetahui akar permasalahan, sesuai yang saya duga, duduk perkaranya terdapat pada miskomunikasi makan siang gratis di hari pertama yang sempat saya dan beberapa peserta lain pertanyakan. Kami bertanya ke presidium, bukannya janjinya makan itu sudah ditanggung selama di Trabzon. Lalu keluhan kami kemudian diteruskan oleh presidium  ke Faiz selaku penanggung jawab. Faiz bilang gak ada yang menjamin makan nya bakalan gratis, tapi bakal diusahakan. Tapi sepertinya, penyampaian Presidium kurang pas, dan cenderung menyalahkan. Presidium di satu sisi tidak ingin memberatkan para peserta yang sudah menyisihkan duitnya untuk transportasi pulang-pergi ke Trabzon yang tentunya tidak sedikit, tapi salahnya terlalu membebankan perihal ini ke panitia. Memang benar, di sini Presidium tidak bijak dalam bersikap dan komunikasi nya juga tidak pas sehingga membuat panitia sakit hati karena ini. Dapat dibayangkan ketika panitia yang jumlahnya tidak banyak ini, telah mengusahakan tenaga dan pikirannya untuk LBC ini, voluntarily tanpa dibayar sepeserpun, malah tidak mendapat apresiasi yang layak dan perlakuan yang pantas. Saya bisa bayangkan itu. Mediasi telah dilakukan untuk meredakan polemik ini. Presidium juga sudah sampaikan secara terang-terangan kalau dia meminta maaf.

Saya tidak mau masuk masalah ini terlalu jauh, karena kedua pihak sama-sama teman baik saya, dan figur yang baik dalam kepemimpinan dan organisasi. Presidium memang salah dalam bersikap di LBC ini kepada panitia. Tentu sebagian besarnya, dilakukan tanpa disadari, dan semoga bisa menjadi pembelajaran. Namun, kesalahan di satu event tidak bisa menggambarkan gaya kepemimpinan secara keseluruhan. Tidak sesimpel itu untuk menyederhanakan karakter kepemimpinan seseorang sepanjang kepengurusan berdasarkan kesalahan di satu event. Mengatakan bahwa sepanjang kepengurusan, dia orangnya seperti ini dan seperti itu. Saya memandang Presidium bukan orang yang seperti itu, tapi saya juga tidak bisa menyalahkan Faiz yang menyatakan argumennya karena sudah terlanjur kecewa terhadap sikap presidium terhadap dia dan teman-teman di belakangnya. Kata Faiz dalam pidato penutupan acara LBC kemarin di samping Uzungöl, Trabzon, “Pemimpin adalah yang berjuang paling depan (yang awal), dan yang menikmati hasil perjuangan itu paling akhir (yang akhir)”, dan menurutnya, Presidium tidak mencerminkan ini ketika menjadi Ketua Umum PPI Turki, khususnya di LBC ini. Tapi, saya merasa keputusan Faiz mengundurkan diri adalah keputusan yang tepat dan memang perlu diambil, karena dia diangkat menjadi Sekretaris Jendral PPI DK Amerika-Eropa, yang akan sangat berat rasanya untuk mengemban sekaligus jabatan sebagai ketua PSDM PPI Turki. Di isu ini, Faiz benar, tapi menilai keseluruhan kinerja Presidium berdasarkan dari kesalahan yang dilakukan di LBC rasanya kurang tepat. Yah, semoga menjadi pelajaran yang baik kedepannya. Kritik yang datang pun gak lama pergi. Menjadi pemimpin bukan hal yang mudah, tapi sangat harus dilatih. Toh, semua orang bakal jadi pemimpin juga pada akhirnya, setidaknya untuk dirinya sendiri. Organisasi mengajarkan banyak hal, utamanya tentang kepemimpinan, kerjasama tim, dan komunikasi. PPI Turki mempunyai kultur organisasi pelajar yang sangat kuat dibandingkan dengan PPI negara lain. Dan itu merupakan hal yang positif bila bisa dimanfaatkan dengan baik. Saya gak bisa menilai atau membanding-bandingkan antara kabinet tahun ini dengan tahun lalu, karena saya gak berkecimpung langsung dengan kabinet tahun lalu. Tapi, kabinet tahun ini, saya ikut berproses bersama, melihat dari dalam sebagai seorang ketua PPI wilayah. Gagasan ‘ingin memperkuat PPI wilayah’ yang kemudian menjadi arah gerak utama Kabinet ini, datang dari ketiga orang presidium yang telah berproses di PPI wilayahnya masing-masing. Mereka tau kekurangan dan kendala yang ada di PPI wilayah sebagai PPI yang langsung bersinggungan dengan para pelajar di kota masing-masing (Konteks PPI Turki). Saya rasa apa yang dilakukan sudah benar dan tepat secara general. Namun kita sebagai manusia tak luput dari kesalahan. Apalagi kan PPI memang dirancang sebagai wadah untuk belajar orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Perjalanan tiga hari Leaders Board Conference di Trabzon ini sangat berkesan bagi saya, baik sebelum, ketika, maupun sesudah acara. Acara yang berbobot, diskusi yang penuh semangat membara, bisa dipertemukan dengan orang-orang hebat, jalan-jalan bareng di kota Trabzon yang keindahannya luar biasa, merupakan pengalaman yang tak terlupakan buat saya. Saya yakin, orang-orang yang terlibat di LBC ini dari peserta maupun panitianya, bakal menjadi orang besar di kemudian hari. Itu harapan kami bersama dan semoga bisa tercapai. Amin.

Sampai jumpa di cerita Notes From Turkiye selanjutnya, kali ini tentang pengalaman volunteering di Sivas yang pastinya asyik banget. Bye.

                 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?