Leaders Board Conference PPI Turki, Menjelajahi Dunia Leadership di Ujung Utara Daratan Turki
Trabzon, 10-12 September 2024
Setelah Athan Cup selesai, kini
agenda saya beralih. Besok pagi langsung setelah selesai acara pesta rakyat,
saya dan delegasi PPI wilayah Turki lainnya, akan berangkat naik bus bareng
dari Ankara menuju Trabzon, kota indah yang terletak di utara daratan Turki.
Kami akan menghadiri Leaders Board Conference PPI Turki 2024 dari 10-12
September mendatang.
Leaders Board Conference 2024 adalah
acara yang diinisiasi oleh divisi PSDM PPI Turki, yang isinya adalah konferensi
yang dihadiri oleh para delegasi dari berbagai PPI wilayah di Turki dan juga
beberapa perwakilan dari PPI Turki itu sendiri. Acara ini bertujuan untuk
memupuk rasa persatuan (bonding) antara PPI Turki dan PPI wilayahnya. Di sana,
kami akan belajar tentang Leadership, memperbarui niat kami sebagai bagian dari
perjuangan misi Indonesia Emas 2045, dan mengangkat keresahan-kerasahan yang
ada di wilayah masing-masing untuk kemudian ditemukan solusinya bersama.
Utamanya, masalah yang diangkat adalah masalah yang berhubungan dengan
akademik; Rendahnya daya juang para pelajar, Normalisasi IPK rendah, dan
Susahnya bahasa Turki, yang kemudian dijadikan alasan ‘template’ para
pelajar yang mengalami masalah akademik di Turki. Semua diskusi-diskusi dan
pelatihan kepemimpinan yang diadakan nantinya, tentu diadakan dengan tujuan, agar
para delegasi, setelah kembali ke wilayahnya masing-masing, akan membawa
gagasan-gagasan baru dan solusi atas keresahan-keresahan yang terjadi di
lingkup Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki.
Awalnya, acara ini adalah semacam
lokakarya yang ditujukan untuk para ketua dan wakil (presidium) PPI wilayah,
maka dari itu nama acara ini pun Leaders Board Conference kan. Tapi, karena
beberapa alasan, banyak ketua ataupun wakilnya yang berhalangan, yang kemudian
digantikan dengan Badan Pengurus Harian yang lain. Kami pun di PPI Eskisehir
begitu, saya Alhamdulillah bisa hadir, tapi wakil saya berhalangan. Karena itu,
saya mengajak ketua divisi Akademik dan Kajian Strategis (Akastrat), Nanda
untuk ikut. Awalnya dia menyanggupi untuk ikut, sampai ketika H-1
keberangkatan, -ketika itu pesta rakyat di KBRI Ankara- dia mendadak izin,
untuk tidak bisa ikut karena masih sangat kelelahan. Menjadi panitia Athan Cup
sekaligus Pesta Rakyat benar-benar melelahkan, katanya. Ya.. saya tau itu, dan
memakluminya. Tapi, ya tentu saja kami harus cari pengganti secepat mungkin,
besok loh kita berangkatnya. Kami langsung menghubungi ketua divisi Budaya,
Minat, dan Bakat (BMB) kami, yang juga teman sekamar saya, Reza. Saya tau dia
suka banget jalan-jalan, sama kayak saya. Apalagi acaranya di Trabzon yang
pastinya masuk wishlist kota Turki yang harus kami kunjungi. Ketika itu juga
Reza menyanggupi. Tenang lah saya, Alhamdulillah ada teman. Saya kemudian
lanjut cari makanan di stand bazaar pesta rakyat kan, sampai sekitar setengah
jam setelahnya, Reza berubah pikiran. Dia bilang, dia batal untuk ikut karena
masih kecapekan banget usai lomba Athan Cup kemaren. Iya sih, main 7 match
dalam dua hari, pasti ya kecapekan. Saya juga sih, tapi InsyaAllah karena
latihan fisik yang mumpuni sebulan kebelakang, saya yakin dengan istirahat
dikit, raga bisa pulih lagi seperti semula. Ditambah lagi katanya, karena
berita terlalu mendadak ini, dia belum persiapan matang. Baju belum bawa, duit
buat bayar UKT ada di rumah -udah narik cash supaya gak kena limit harian
penarikan-, ditambah minggu depannya, tanggal 22 September nanti, kita bakal ke
Istanbul buat acara istima’ usroh (kumpul keluarga alumni Gontor di
Turki -IKPM Turki-). Saya sudah coba yakinkan dia sebenarnya. Baju, saya bawa
banyak, bisa saya pinjamkan ke dia. UKT, bisa kita bayarkan di bank TEB Ankara
atau Trabzon. Walaupun, karena uangnya udah ditarik cash, bakal agak merepotkan
orang lain untuk memasukkannya lagi ke dalam ATM ulang. Tapi ya bukan problem
banget lah masalah itu. Toh, temen rumah juga sahabat sendiri, tau keadaan kita
juga, bagian dari Perhimpunan juga, tentunya paham dengan urgensi acara Leaders
Board Conference ini, -selanjutnya akan ditulis dengan singkatannya, LBC-. ESOGU,
kampus saya emang agak ribet masalah pembayaran ini. Disaat kampus lain
bekerjasama dengan bank Ziraat atau Vakif, kampus kami bekerjasama dengan bank
TEB -Türkiye Ekonomik Bankası-. Orang Turki gak ada masalah dengan bank ini
karena mereka bisa langsung bayar dari aplikasi M-Banking TEB nya. Tapi buat
kami, pelajar internasional, kami harus bayar secara langsung ke cabang-cabang
banknya dikarenakan bank TEB tidak ditujukan untuk orang asing. Makanya, disaat
mahasiswa lain bisa bayar online dari hp mereka, kami mahasiswa ESOGU harus
datang ke cabang banknya buat bayar UKT. Balik lagi ke topik LBC, umumnya, para
peserta berhalangan untuk ikut hadir ke LBC ini, karena faktor ekonomi,
walaupun Nanda dan Reza gak ada masalah dengan ini, setau saya. Biaya bus dari
Ankara ke Trabzon itu 800 tl, Pulang-pergi 1600 tl. Thanks buat panitia yang
udah buat acara ini banyak gratis-gratisannya dari makan sampai tempat
tinggalnya. Tapi ya biaya-biaya lainnya seperti biaya dari kota masing-masing
ke Ankara, biaya sarapan kalau gak kuat tahan lapar kayak saya, biaya makan di
perjalanan, dan biaya-biaya lainnya sehingga untuk bisa hadir di acara ini,
kita per orang kira-kira harus menyiapkan duit sekitar 2000-an tl atau sekitar
satu juta rupiah. Di saat, masa-masa pembayaran UKT yang mahal seperti ini,
lalu beberapa orang lagi pindahan rumah baru karena kontrak rumahnya udah usai,
ditambah lagi beberapa di antara kami adalah peserta lomba Athan Cup tahun ini
sehingga kami sebelumnya pun sudah keluar duit untuk bisa sampai di Ankara ini,
dan juga bayar penginapan selama kami di sana. Makanya, wajar saja kalau ada
yang berhalangan untuk hadir karena alasan ini. Saya sendiri Alhamdulillah,
karena sempat bekerja di salah satu restoran Burger, saya punya persediaan
tabungan lebih untuk bisa pergi-pergi keluar kota bulan ini. Setelah acara di
Trabzon ini pun, di akhir bulan saya ada volunteering “Mentari di Turki” di
kota Sivas, yang mengharuskan saya untuk keluar duit lagi. Yah, bagi saya
selama rezeki masih ada di tangan, dan kesempatan untuk explore pengalaman
sekaligus jalan-jalan terbuka lebar, saya bakal gas terus.
Singkat cerita, akhirnya saya
berhasil ajak dua orang anggota BPH (Badan Pengurus Harian) PPI Eskisehir yang
lain, Akmal dan Ubay. Satunya anggota divisi Kerohanian, satunya lagi anggota
divisi Ekonomi Kreatif. Mereka berdua termasuk mahasiswa baru yang datang tahun
2023 kemarin. Akan sangat bagus buat mereka berdua untuk ikut. Buat pengalaman
mereka, buat ada regenerasi di organisasi juga. Sebenarnya, saya pengen
idealnya ada salah satu kepala divisi yang hadir supaya dapat nilai-nilai
kepemimpinan dan gagasan-gagasan bagus nanti di LBC. Maksud saya, ya penerus
saya tahun depan lah. Kalau Akmal dan Ubay mungkin dua tahun lagi, sedangkan
kepala divisi saya sekarang kan ya penerus saya jadi ketua periode berikutnya.
But it’s ok, gimana lagi, kalau pada berhalangan kan. Kebetulan, Akmal dan Ubay
semuanya juga sedang di Ankara, setelah hadir di acara Athan Cup dan Pesta
Rakyat KBRI hari ini, mereka langsung bisa ikut rombongan ke Trabzon besok.
“Jangankan 3 orang, kalian berlima pun boleh, asrama masih banyak kamar
kosong”, kata Faiz, ketua panitia acara yang ketemu saya di depan stand bazaar
Pesta Rakyat waktu itu. Yah, tapi yang bisa ikut cuman kami bertiga pada
akhirnya. Sayang sih, saya rasa gak bakal nyesel yang ikut acara ini, dari
pengalaman diskusi nanti, dan tentunya bisa sekalian menikmati keindahan kota
Trabzon, bukan kesempatan yang selalu ada setiap saat. Tau sendiri lah ya,
mengajak orang secara mendadak seperti ini, perjalanan jauh yang juga agak
merogoh kantong, pastinya gak semua orang mau. Kalau gak masalah uang, ya
masalah pakaian yang belum disiapin. Buat cowok masalah pakaian mungkin gak
terlalu masalah karena bisa pinjam sana-sini, toh peserta lainnya temen sendiri
juga. Tapi kalau cewek ya problem banget masalah pakaian ini, kan.
Hari Senin, tanggal 9 September, jam
9, saya dan beberapa teman sudah berkumpul di meeting point, di daerah KIZILAY,
di sberang GAMA İŞ MERKEZİ. Setelah sekitar 15 menit menunggu, datang kabar
kalau meeting point nya dipindah ke depan KIZILAY Mall. Ketika kami hendak
kesana, kami dipanggil oleh beberapa petugas keamanan, untuk dibawa ke mobil
imigrasi untuk dilakukan pengecekan izin tinggal. Memang di Ankara, apalagi di
Istanbul, sedang masif sekali dilakukan pengecekan. Memang tidak ada yang
kurang dari persyaratan kami, tapi lumayan memakan waktu. Gak enak banget dan bikin
malas kan. Terlebih, sepertinya bus bakal datang jam 10, dan saya sebelum
berangkat, ingin membayar UKT dulu di bank TEB, yang kebetulan letaknya gak
lebih dari 100 meter kira-kira dari tempat kami berada. Setelah pemeriksaan
selesai, saya cuman punya waktu 15 menit untuk menyelesaikan pembayaran di
bank. Sebelum berangkat, saya izin dulu ke panitia, supaya gak ditinggal, “15
menit lagi loh bus nya datang”, kata dua orang panitia acara yang bertugas
untuk menghandle para peserta di sana, mengingatkan saya supaya gak lama-lama.
Karena kalau busnya sudah tiba, kita akan langsung berangkat tanpa menunggu
lebih lama lagi, sebab bisa kena denda nantinya. “Iya, bentar aja kok ini, bank
nya juga masih sepi itu”, jawab saya. Setelah menarik uang dari ATM, saya
ditemani Iqbal, sahabat saya yang juga menjabat sebagai ketua PPI Konya, bergegas
pergi ke bank dan mengambil nomor antrian. Beruntung, antrian bank masih sangat
sepi, sehingga tak beberapa lama menunggu, giliran saya tiba. Prosesnya tidak
lama, hanya menyebutkan nomor pelajar setelah menyerahkan kartu identitas,
membayar tagihan, tanda tangan, selesai. Kami langsung kembali ke tempat awal,
di sana sudah banyak teman-teman lain yang baru datang juga. Saya langsung
menyapa baik mereka. Beberapa di antaranya sudah saya kenal dengan baik,
seperti ketua PPI Kütahya, Ketua PPI Sakarya, dan juga Wakil Ketua PPI Turki,
Adnan Menderes, yang setelah baru kenal beberapa waktu lalu ketika dia
bertamu jadi pembicara di acara diskusi kami di Eskisehir, langsung jadi akrab
karena kejenakaannya, dan kebetulan kami sama-sama fans Real Madrid. Tak lama
setelah menyapa satu sama lain, bus kami datang, dan kami langsung memasukkan
koper dan tas kami ke dalam. Saya hanya mengeluarkan buku ”Indonesia, etc”
karya Elizabeth Pisani saja untuk menemani perjalanan saya ke Trabzon selama
beberapa jam kedepan. Charger sengaja gak saya bawa supaya gak terlalu sering
buka HP, biar lebih sering buka dan baca bukunya. Bus kami bisa menampung
sebanyak 50 orang dengan susunan 2+1 tempat duduk di setiap barisnya. Saya
ambil tempat duduk bersama Iqbal di samping kanan tangga masuk di tengah bus.
Biasanya kalau di bus konvensional, seat nomor 27-28, tergantung penataan
tempat duduk bus nya sih. Sengaja kami pilih disana biar bisa nyender
seenaknya tanpa mengganggu orang di belakang kami. Kan di belakang kami tangga
masuk, jadinya kosong kan, gak ada penumpang di belakang. Enak deh, tuh. Saya
tau ini dari Reza, yang memang kalau naik bus selalu mengincar seat itu.
Setelah kurang lebih 3 jam
perjalanan, kami berhenti di rest area untuk makan dan shalat selama setengah
jam. Makanan di sini mahal-mahal pastinya, tost aja 80 tl yang paling murah,
itu roti tawar dua, di tengahnya diletakkin keju atau sosis, cuman buat ganjal
perut aja. Saya dan Iqbal waktu itu beli masing-masing satu, saya traktir dia
waktu itu, yang baru datang dari kamar mandi. Akmal beli dua, satu di makan di
tempat, satu dibungkus, sedangkan Ubay katanya masih kenyang. Teman-teman yang
lain juga beberapa ikut beli Tost juga, karena tau perjalanan masih ada
beberapa jam ke depan. Lumayan lah, buat ganjal perut. Kami makan tost sekalian
ngobrol dan berkenalan satu sama lain, sekalian ikut nyemil cemilan
juga, hehe. Kami berdua, gak beli air, karena tau di bus masih banyak air
tersisa, lumayan untuk menghemat, bisa buat bayar kamar mandi.
Jalan lagi selama beberapa jam,
sampai di sore menjelang malam, kami berhenti lagi di rest area, di kotanya
saya lupa di mana. Karena malam nanti kami sampai jam 11.30 paling cepat,
rasanya bakal langsung tidur sih, apalagi acara besok dimulai jam 9 pagi, dan
para peserta sudah harus siap keluar asrama se-jam sebelumnya. Makanya, di rest
area ini, kami sempatkan untuk makan malam. Daripada beli roti sandwich, tost
ataupun burger, kami banyak yang lebih memilih untuk membeli nasi dan ayam aja.
Harganya 250 tl sudah dapat roti, nasi, dan ayam atau ati satu porsi. Saya dan
Iqbal memutuskan untuk membeli 1 porsi nasi, lauknya ati (ciğer) -karena terlihat lebih menggoda
bumbunya-, dan ambil roti sebanyak-banyaknya. Air
minum gak perlu beli, karena di bus masih banyak. Kami berdua ambil 6 roti
waktu itu, supaya kenyang. 1 porsi dibagi dua, karena 250 tl (113 ribu rupiah
kira-kira) terlalu mahal untuk makan sendiri, makanya kami makan berdua, sudah
biasalah mahasiswa hehe. Ya lumayan lah, kenyang banget karena rotinya bisa
jadi pengganti nasi. Tapi walaupun lauknya enak, sayangnya porsinya dikit, hehe.
Gini kan, di bus bisa tidur nyenyak. Walaupun ujungnya, saya gak tidur lagi sih
sampai Trabzon. Kami nyanyi dan joget bareng dikomandoi sama pak Waketum, bang
Adnan Menderes. Setelah usai nyanyi dan joget bareng, saya memerhatikan
kota sekitar yang dilewati oleh bus. Kami melewati kota Samsun, Ordu, Giresun
yang terletak di ujung atas Turki. Bukan kota yang terlalu berkesan buat
dilewati untuk saya. Gak banyak bangunan menarik di samping kanan-kiri jalan.
Tapi sepertinya kota-kota ini, sebagaimana gambar yang ditunjukkan di Google,
punya beberapa destinasi indah yang bisa dikunjungi, sama seperti Turki wilayah
utara lainnya. Sebelum lampu bus benar-benar berganti jadi warna kuning untuk
tidur, saya lanjut membaca buku beberapa halaman.
Jam 23.30 kira-kira, kami memasuki
kota Trabzon. Karena sudah sangat malam, saya gak terlalu banyak memperhatikan
pemandangan sekitar. Pertama-tama kami ke asrama putri tempat peserta perempuan
menginap terlebih dahulu. Kami turun menolong membawakan koper mereka ke asrama
yang letaknya cukup menanjak dari tempat bus kami berhenti. Setelah mengantar
mereka, kami lanjut ke asrama tempat kami, para peserta laki-laki tinggal. Kami
tinggal di asrama TUGVA (Türkiye Gençlik Vakfı) di lantai 4 dan 5 nya. Tiap
lantai ada beberapa ruangan yang berisi lorong, yang terdiri dari beberapa
kamar. Tiap kamar terdapat empat kasur, beberapa meja, dan dua lemari. Tiap dua
kasur dan lemarinya, ada skat tembok yang menutupi; layaknya dua ruangan dalam
satu kamar. Para peserta menyebar di beberapa ruangan, dengan masing-masing
kamarnya berisi 3-4 orang. Saya dan Iqbal menempati satu kamar di nomor 405,
bersama dengan Faris, wakil ketua PPI Bartın. Sedangkan Akmal dan Ubay,
menempati salah satu kamar di lantai 5. Setelah shalat dan membersihkan diri,
beberapa dari kami langsung tidur, beberapa lagi ada yang keluar untuk cari
makan, atau sekedar ngopi bareng untuk mengobrol. Kebetulan, masih banyak
banget tempat makan atau nongkrong yang masih buka di tengah malam. Kami berdua
juga awalnya pengen nyusul. Tapi karena, gak terlalu lapar, pengen
ngehemat, plus saya juga udah celana pendekkan, ya udah mager kalau udah
gini. Langsung tidur aja, lah.
Hari Selasa, tanggal 10 September,
pagi-pagi jam 8 kami sudah keluar dari asrama tempat kami menginap. Kami sudah
ditunggu bus putih yang akan mengantarkan kami menuju Hamamizade İhsan Bey
Kültür Merkezi, tempat kami akan melaksanakan konferensi selama dua hari ini.
Sedangkan hari ketiga, kami ada pertemuan dengan Pak Dubes di luar, sekaligus
sesi jalan-jalan sebelum penutupan acara. Gedung tempat kami melaksanakan acara
ini terletak di pusat kota Trabzon. Kita bisa melihat bendera warna biru-merah
maroon tergantung di tali-tali sekitar kota. Warna Biru-Merah Maroon memang
warna kebanggaan masyarakat Trabzon. Simbol kota Trabzon, dan juga warna dasar
dari tim sepakbola kebanggaan mereka, Trabzonspor yang baru saja menjadi juara
liga Turki pada musim 2021/2022 lalu. Sebelumnya di jalan, ada yang membuat
saya tertarik. Selain dengan jalan yang penuh dengan dolmus (Angkot) warna
putih dengan strip garis biru dan merah maroonnya, adalah plang-plang petunjuk
jalan yang bertuliskan bahasa Arab di bawah setiap nama tempatnya yang original
(Bahasa Turki). Ini jelas pemandangan yang gak bakal bisa ditemui di daerah
Anatolia (Anadolu) seperti di Ankara ataupun kota tempat saya tinggal,
Eskisehir. Umumnya, orang-orang Turki sangatlah sensitif dengan orang-orang
Arab, cenderung membenci dan tidak suka. Kebencian ini timbul karena banyaknya
pengungsi yang datang dari negeri tetangga mereka, khususnya Suriah yang memang
sedang tidak baik-baik saja semenjak Arab Spring 2011 lalu. Pengungsi yang
semakin membludak dan beberapa di antara mereka membuat resah masyarakat dengan
perilaku mereka yang dianggap ‘mengotori’ Turki. Kondisi ekonomi Turki
yang sedang tidak baik-baik saja juga turut menjadi faktor sentiment anti-Arab
ini muncul. Sebab, pengungsi yang datang mendapat bantuan finansial dari
negara, di tengah kondisi ekonomi yang sulit, membuat orang Turki sendiri tidak
suka. Sayangnya memang, generalisir terhadap semua orang Arab yang dilakukan
juga gak bijak. Karena Arab gak cuman Suriah saja. Dan gak semua orang Suriah
juga annoying atau membuat resah masyarakat. Tapi tentu saja, sentiment
seperti ini gampang sekali terjadi. Isu Krisis Imigran memang kasus yang
kompleks karena berkaitan dengan kebijakan luar negeri Turki sendiri. Intinya,
kalau di kota-kota lain, terutama di kota-kota pusat seperti Ankara, Istanbul,
apalagi Izmir –yang orang bilang, kota paling sekuler di Turki- tidak akan
mungkin saya rasa ada tulisan Arab di fasilitas umum. Sudah pasti dirobohkan sama
orang lokal Turkinya. Setelah saya amati, memang cukup banyak orang Arab yang
bermukim di sini, dan toleransi orang lokal ke mereka sepertinya cukup tinggi.
Saya juga akhirnya paham kenapa di beberapa komentar di Instagram, ada yang
bilang Trabzon bukanlah Turki Arapzon mereka menyebutnya. Walaupun ini masuk ke
troll anak bola saja ya. Di Instagram, saya mengikuti beberapa akun
fanspage sepak bola seperti Kısapaslar, Transfermarket Türkiye, dan juga
akun klub sepakbola dua rival abadi, Fenerbahce dan Galatasaray. Selain untuk
belajar bahasa Turki, saya juga mencoba untuk mengikuti obrolan-obrolan dan cengcengan
bola orang sini. Dan gak banyak orang yang suka dengan Trabzonspor, kecuali
orang Trabzon itu sendiri. Ini asumsi saya pribadi sebenarnya. Singkatnya, Trabzon
seperti memberikan saya satu sisi lain dari Turki.
Gedung tempat kami berkumpul terletak di pusat kota, di sekitar
gedung ini, ada banyak sekali toko fnb berjejer. Orang-orang
beraktivitas, sarapan, mengobrol, dan memulai hari mereka. Hamamizade Ihsan Bey
Kültür Merkezi, aula tempat pusat kultur dan budaya Trabzon, disanalah kami
akan berkumpul dua hari kedepan. Nama Hamamizade Ihsan Bey berasal dari seorang
penyair, budayawan, penulis, dan pengajar kelahiran Trabzon yang masyhur pada
tahun 1900-an. Gedung ini terkesan mewah dengan bagian depannya berdinding kaca
besar sehingga kita bisa melihat ke dalam dari luar. Pintu putar di tengah, ala
gedung besar. Di atas tertulis nama gedung, tulisan Hamamizade Ihsan Bey Kültür
Merkezi, berwarna kuning, berlatar hitam, dengan lambang kota Trabzon di
sampingnya. Aula tempat kami berkumpul terletak di lantai -2, sebuah tempat
yang cukup luas dengan kursi biru semacam kursi kuliah yang ada meja hitam
menempel di sisi kanan tangan kita. Ada sekitar 50 orang peserta LBC kali ini
jika ditotal dari para delegasi dan panitia acara. Panitia acara, kebanyakan
adalah para pelajar anggota PPI Trabzon yang menyebar di berbagai kota. Di
Trabzon sendiri, hanya ada 4 mahasiswa saja, dibantu dengan Bang Ibrahim Fauzi,
dan Mbak Naira, para senior yang sudah menetap bertahun-tahun di sana. Mereka
sudah berkeluarga, dan sudah bekerja di sana pula. Sedangkan
mahasiswa-mahasiswa lainnya, tersebar di kota Erzurum, Giresun, dan Gümüşhane. Hilmi Rizky, panitia acara dari kota
Erzurum yang ketika istirahat makan siang baru saya sadari ternyata teman TÖMER
saya di Kütahya dulu, menyapa saya ketika saya mencoba mengingat-ingat, kok
orang ini gak asing ya? Eh ternyata pernah bareng setahun. Saya benar-benar
baru tau dia pindah ke Erzurum. Tau gitu kan, kemaren waktu liburan kesana, gak
usah bingung ya cari tempat tinggal. Hadeuh. PPI Trabzon merupakan salah satu
PPI wilayah Turki yang paling pertama berdiri, sebelum akhirnya para pelajar di
sana mulai pada lulus, tapi jumlah mahasiswa baru tidak bertambah. Sempat
dibekukan tahun kemarin, PPI ini mulai aktif lagi dikepalai oleh Risya, yang
ternyata teman TÖMER saya juga di Kütahya. Wkwkwk. Dia bilang begitu di bus
ketika kita mengelilingi kota selesai acara. Kalau Hilmi saya kenal baik, tapi
Risya, saya gak expect dia pindahan juga dari Kütahya di Trabzon, dan
dia bilang, dia kenal saya. “Gw temen rumahnya April ri!”. April yang mana? Pikir
saya, sebelum akhirnya ingat “Oh, April Humas PPI dulu ya!”, teman sedivisi di
PPI Kütahya dua tahun lalu. Ya begitulah, jumlah mahasiswa yang terlalu banyak,
kita juga gak sekelas, jadi memang kadang lupa. Momen ini juga kejadian ketika
saya sedang jemput mahasiswa baru di bandara Istanbul. Bersama mereka, ada satu
orang yang menyapa saya, saya yang bingung, coba mengingat-ingat, mengernyitkan
dahi, sampai dia akhirnya bilang, “Gw Aghna, teman lu di Kütahya”, haha,
barulah saya kemudian ingat dia siapa. Sangat penting memang untuk mengingat
nama dan sosok orang lain, perilaku terpuji yang saya sedang usahakan. Karena, bagi
tiap orang, nama seseorang yang paling ingin disebut oleh orang lain, adalah
nama dirinya sendiri. Orang akan merasa terhormat ketika namanya diingat dan
disebut orang lain. Setidaknya itulah yang saya pelajari dari buku, “How to Win
Friends and Influence People” karya Dale Carnagie.
Sebelum
acara dimulai, saya dan beberapa teman yang agak sedikit merasa lapar, menyomot
cemilan dahulu yang sudah tersedia di atas meja yang tersebar di depan pintu
ruangan. Teh hangat dan beberapa sachet kopi juga tersedia di samping tembok di
dekat meja tempat kami nyemil sambil berdiri. Setelah beberapa seruput,
dan peserta sudah mulai memasuki ruangan, kami mulai meninggalkan
biskuit-biskuit itu, dan masuk ke dalam ruangan.
Acara
dimulai sekitar jam setengah 10, di awali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an,
Lagu Indonesia Raya, Lagu Kebangsaan Turki İstiklal Marşı, dan Lagu Mars PPI
Turki. Sambutan demi sambutan disampaikan, dari ketua PPI Turki, sahabat saya,
mas Adam, dilanjut dengan sambutan dari berbagai relasi PPI Turki, dari Tugva
Genel Başkan Yardımcısı, sambutan dari Trabzon Uluslararası Öğrenciler Derneği
(TÖDER) yang menaungi para pelajar Internasional di Trabzon, dan dari Managing
Director-nya ID Next Leader yang merupakan partner kolaborasi acara lokakarya
kepemimpinan PPI Turki kali ini. Beliau menyampaikan sambutan dari zoom. Mereka
juga mengirimkan tiga delegasi mereka ke acara kami secara langsung, ada bang
Malik, Bang Ihsan, dan Kak Fika, yang akan berdiskusi bersama kami di ujung
acara hari ini, tentang visi Indonesia Emas 2045. Visi Indonesia Emas 2045 juga
merupakan visi dari kabinet Demi Kita, kabinet mas Adam di PPI Turki tahun ini.
Sambutan lain datang dari Bapak Konsuler Kehormatan Indonesia untuk wilayah
Trabzon, Bapak Kadım Çakıroğlu, yang telah banyak membantu kelancaran acara
ini. Juga ada sambutan dari Bapak Mehmet Kara, selaku kepala Memur-sen Kota
Trabzon, setelah saya searching-searching, kepala Memur-sen itu semacam kepala
PNS. Dengan relasi yang sangat banyak inilah, gak heran jikalau kami mendapat
tumpangan jalan-jalan gratis keliling kota Trabzon menggunakan bus Belediye setelah
acara sore hari nanti. Sambutan dari para pembicara, terutama pembicara orang
penting Turki ini, gak jauh topiknya dari rasa persaudaraan antar sesama negara
muslim. Turki, walaupun mendeklarasikan diri sebagai negara sekuler, sering
menggunakan identitas islam dalam menjalin hubungan bilateralnya dengan negara
lain. Tergabung dalam OKI, organisasi Kerjasama Islam, Turki menjadi kekuatan
penting di antara negara-negara islam yang ada. Yang saya takjub adalah, Lembaga
Sosial macam TUGVA yang merupakan singkatan dari Türkiye Gençlik Vakfı, Lembaga
Pemuda Turki, yang arah geraknya cenderung islamis, sangat berkembang pesat,
padahal baru sepuluh tahun ia berdiri. Dana dan bantuan sangat kencang
mengalir. Kami saja, para delegasi putra, menginap di salah satu asrama TUGVA
di Trabzon. Kami ketika di Eskişehir juga banyak dibantu oleh LSM sejenis
seperti IHH, dan YUDER, organisasi yang menaungi para pelajar internasional di
kota Eskişehir. Banyak bantuan dari uang ataupun barang yang diberi secara
cuma-cuma, dan juga acara camping dan perlombaan yang mereka adakan secara
gratis untuk kami mahasiswa internasional. Ketulusan dan keikhlasan orang-orang
di lembaga-lembaga yang saya sebutkan tadi memang gak perlu diragukan. Banyak
saya belajar dari mereka yang sudah saya anggap sebagai guru. Mungkin, banyak
organisasi muslim di negara kita perlu belajar juga dari mereka, bagaimana
mengelola keuangan, bermanfaat untuk masyarakat luas, mempunyai
planning-planning yang jauh ke depan, sehingga dapat berkembang pesat dan
diakui tidak hanya di level nasional, tapi juga internasional.
Mendekati
jam 12 siang, kami istirahat makan siang dan sholat Dzuhur. Saya yang sudah
lapar, makan terlebih dahulu sebelum pergi ke Mushola untuk Sholat Jamak Dzuhur
dan Ashar. Makan siang kali ini ayam geprek dengan sambal merahnya, lengkap
dengan lalapan timun dan sawinya. Warung Jowo, begitu stiker yang tertempel di
atas tutup sterofoam makan siang kami. Biasanya yang seperti ini itu yang jual
UMKM kota setempat, Mahasiswa atau Gelin, orang Indonesia yang menikah
dengan laki-laki orang Turki, yang menjual produk atau makanan seperti ini ke
sesama masyarakat Indonesia lainnya di kota itu. Jam istirahat makan siang ini
juga dijadikan ajang berkenalan secara non formal antar delegasi yang hadir,
termasuk juga dengan para delegasi ID Next Leader, Bang Malik, Bang Ihsan, dan
Kak Fika. Bang Malik bercerita kepada saya tentang sedikit pengalamannya jadi
mentor leadership bootcamp, dan volunteering mengajar di berbagai daerah di
Indonesia. Dari pengalamannnya itulah, beliau pernah menjadi dosen undangan di
berbagai kesempatan di UGM, salah satu universitas terbaik di Indonesia. Saya
juga sempat berbincang dengan Koordinator PPI Dunia Kawasan Amerika-Eropa, mas
Denizar, yang saat ini berkuliah di Sakarya University, sebuah kota dekat
dengan Istanbul, yang juga merupakan asal tempat kuliah dari ketua PPI Turki,
mas Adam. Mas Denizar saat ini menempuh S3 di bidang Islamic Economy and Finance.
Di Indonesia, beliau merupakan dosen di Universitas Airlangga, Malang. Beliau
satu almameter dengan Mas Thohawi, senior saya di ESOGU, S3 di jurusan Biologi,
yang juga dosen di universitas yang sama dengan mas Denizar. Obrolan berlanjut
dengan para delegasi lain dari berbagai kota lainnya, sambil makan siang dan
ngemil tentunya, sambil ngeteh, obrolan mengalir.
Selepas
Dzuhur, kegiatan berlanjut dengan penyampaian materi ke-PPI-an dari Ketua PPI
Turki, Adam Syaikhul Akbar. Memang beliau ini kalau sudah beretorika, sangat
bisa untuk mengambil hati orang yang mendengarnya. Mungkin banyak orang yang
bertanya, kenapa acara ini dilaksanakan di Trabzon yang jauh sekali dari
mana-mana. Kenapa gak di Ankara atau di Istanbul seperti pada umumnya? “Kami di
PPI di Turki memiliki arah gerak yang jelas, kita ingin memperkuat PPI wilayah.
Tut Wuri Handayani, mendorong, mendukung dari belakang. Kami, para
Presidium semua pernah berproses di PPI wilayah, dan kita tau bahwa PPI
wilayahlah yang langsung bersentuhan dengan para pelajar, bukan PPI Turki. Kita
tau keresahan-kerasahan yang datang dari para pelajar, melalui proses yang
sudah kita jalani di PPI wilayah. Maka dari itu, kami aktif mendengarkan
aspirasi, keresahan, kritik, dan masukan yang datang dari wilayah, sehingga
bisa kita perkuat lagi dukungan yang bisa kita berikan kepada teman-teman
pelajar semuanya. Ketika kami audiensi ke PPI Trabzon, Risya, ketuanya
mengatakan kalau Trabzon butuh ‘kehadiran’ dari PPI Turki. Trabzon letaknya
jauh sekali dari PPI wilayah lainnya, dan dari kegiatan-kegiatan yang umumnya
dilaksanakan PPI Turki di Ankara, Istanbul, Bursa, atau sesekali Konya.
Sehingga memang sangat asing dan jarang sekali tersentuh dengan kehadiran PPI
Turki. Berangkat dari situ, kami akhirnya berikhtiar untuk kemudian melaksanakan
lokakarya, LBC ini di Trabzon. PPI Turki, beserta para delegasi yang datang
dari PPI wilayah, berbondong-bondong datang dari wilayahnya masing-masing,
ataupun dari Ankara maupun Istanbul, berangkat ke Trabzon, sehingga teman-teman
Trabzon bisa merasakan ‘kehadiran’ dan ‘kehangatan’ dari PPI Turki. Begitupun
ketika misalnya PPI Bartın (Sebuah daerah yang juga terletak di wilayah
Karadeniz, jika Trabzon terletak di Timur, maka Bartın ada di barat,),
menyampaikan keresahan bahwa mereka sebagai organisasi dipandang remeh oleh dernek
(yayasan/organisasi/LSM) sekitar, karena tidak pernah kedutaan ataupun PPI
Turki datang mengadakan acara atau berkolaborasi di sana. Berangkat dari
keresahan itu, MIP (Model Indonesian Parliament) kita adakan di Bartın. PPI
Turki selalu berusaha untuk memperkuat PPI wilayah, untuk terus bisa merasakan
kehadiran PPI Turki, bahwa kami selalu ada untuk mensupport PPI wilayah,
sebagai garda terdepan yang langsung bersentuhan dengan para pelajar diaspora
Turki.” Jawaban yang sangat filosofis sekali. Di pikiran saya, acara
dilaksanakan di Trabzon karena sepertinya cocok aja buat bertukar pikiran di
alam yang tenang seperti Trabzon, mumpung Trabzon tahun ini sedang aktif
kembali, setelah di tahun-tahun sebelumnya sempat vakum, bahkan dibekukan
sementara. Saya banyak sekali belajar dari beliau tentang kepemimpinan,
retorika, kerangka berpikir, arah gerak sistematis, dan yang paling penting,
ketulusan dalam mengabdi. Seperti kata orang Turki ya, “Kurban olurum sana”.
Beliau mentor dan panutan saya dalam kepemimpinan. Gak heran ketika dia
memimpin Sakarya dulu, banyak orang-orang, SDM-SDM unggul yang berhasil
dipoles. Mereka saat ini banyak mengisi peran di PPI Turki, dan termasuk yang
paling aktif dalam Lokakarya LBC kali ini. Ya, Sakarya sekarang jadi kota
dengan pelajar paling banyak se-Turki, dengan lebih dari 500 orang pelajar di
universitas yang sama. Dengan kuantitas sebanyak itu, bakal susah sekali untuk
bisa disatukan, dan dikembangkan kualitas SDM nya agar tidak tergerus dengan
kuantitas. Kadang-kadang, ketika kuantitas bertambah, kualitas berkurang. Tapi
di Sakarya, SDM-SDM unggul bermunculan. Baik dari segi akademik maupun non-akademik.
Kalo saya sih sepertinya bakal pusing sekali memimpin orang sebanyak itu,
bahkan enggan lah, tanggung jawabnya besar sekali. Oh ya, selain itu, ada satu
kalimat lagi yang membekas di saya, ketika beliau menyampaikan, bahwa “Kita, di
lingkungan orang-orang Indonesia ini, anak-anak muda (yang berkualitas,)
didorong untuk maju menjadi pemimpin. Tapi, ketika PPI Turki dipimpin oleh anak
S1 (walaupun beliau ini sudah pernah D3 di Malaysia, tapi memang hitungannya
sekarang masih S1), orang-orang sangsi dan meragukan, kan kayak paradoks”.
Yups, benar sekali, saya tahu betul kesulitan yang dihadapi presidium saat ini.
Ketiganya semuanya masih S1, tapi saya tahu betul kualitas mereka. Mereka
putra-putri terbaik dari teman-teman S1 dari berbagai wilayah. Saya banyak
belajar dari mereka bertiga, tentang ketulusan, tentang diplomasi, dan tentang
apresiasi. InsyaAllah mereka berada di jalur yang benar.
Oh ya,
sebelum materi ke-PPI-an dari ketua PPI Turki, ada materi juga dari Stafsus
Kemenpora, Ibu Hasintya Saraswati, yang menyampaikan materi bertema: “Inovasi
Pendidikan di Industri 5.0: Mengintegrasikan Teknologi dan Humanitas”, yang
menyampaikan pentingnya adaptasi pemuda di era 5.0 ini, di era masifnya
personalisasi Teknologi melalui AI. Masyarakat Indonesia memang sudah banyak
yang aware dengan masifnya AI saat ini, tapi
masih banyak yang belum bisa memanfaatkan dan menggunakannya dengan baik.
Materi yang cukup menarik, tapi tidak berlangsung terlalu lama, karena Ibu
Hasintya sedang siap-siap menuju GBK buat nonton langsung timnas Indonesia
melawan Australia sejam lagi.
Setelah itu, ada penyampaian materi
dari Pak Billy Mambrasar, stafsus Presiden RI, yang kesan pertama saya terhadap
foto dan video perkenalan beliau, agak nyentrik. Tapi setelah melihat
background prestasi beliau yang luar biasa, berangkat dari daerah Papua yang
jauh tertinggal di sana, sangat pantas sekali jika beliau berbangga dengan
pencapaian pribadinya yang luar biasa, sehingga saat ini bisa menjadi Staff
Khusus Presiden RI. Tema yang beliau sampaikan kali ini adalah tentang: “Peran
Gen Z dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045”. Beliau banyak menyampaikan tentang
minimnya kesadaran pemuda dalam berdaya saing di era industri 4.0 ini (memang
kita sedang di era antara 4.0 dan 5.0), serta apa yang harus dilakukan para
pemuda sebagai tonggak kemajuan bangsa. Terlebih, saat ini Indonesia sedang di
masa bonus demografi ketika masyarakat Indonesia mayoritas merupakan Gen Z dan
Millenial yang saat ini berada di usia produktif. Beliau menyampaikan materi di
mobil, ketika sedang menuju bandara. Beliau bilang, selalu bersemangat ketika
berdiskusi dengan para pemuda, para calon pemimpin Indonesia di masa depan.
Sementara waktu menunjukkan pukul 3
sore, Timnas Indonesia sedang bertanding melawan Australia, skor masih sama
kuat, 0-0. Karena ini pula, sudah banyak peserta, termasuk saya, yang sudah
kurang fokus, antara mendengarkan pemateri, dan melihat skor timnas. Maka
ketika diskusi berakhir, sesi istirahat 45 menit dipakai untuk menonton timnas
di sisa laga, babak kedua sampai akhir. Seru kami nonton bareng, agak greget
nontonin Arhan, dkk. Apresiasi buat Marten Paes, kiper naturalisasi timnas yang
baru join September ini, luar biasa penampilannya. Gak heran kalau dia dapat
MOTM dua kali berturut-turut di dua laga debutnya. Catatan yang sangat impresif
sekali. Timnas memang kali ini sangat solid di lini belakang, tapi masih sangat
tumpul di lini depan. Sulit sekali memang menemukan striker tajam berkualitas
saat ini. Andai Boaz Solossa dan “El Loco” Gonzalez muncul di era keemasan
timnas saat ini. Right Man in the Wrong Era. Begitu kata teman-teman
fans timnas Indonesia saat ini.
Laga timnas berakhir, kegiatan
berlanjut. Di akhir acara ini, diskusi terakhir disampaikan oleh delegasi dari
ID Next Leader, tentunya tentang visi Indonesia Emas 2045. Kursi-kursi dibuat
melingkar, sehingga pembicara berdiri berbicara di tengah. Ketika diskusi
dimulai dengan pertanyaan, “Disini ada gak, yang gak yakin dengan Indonesia
Emas 2045?”, saya dan beberapa teman angkat tangan. Mereka menyampaikan
pendapatnya masing-masing. Saya sendiri ragu karena melihat kemauan
pemerintahnya yang masih minim. Belum benar-benar ditonjolkan keseriusan dalam
berbenah, walau gagasan Indonesia Emas ini terus digaungkan. Maka dari itu,
selama hal ini masih berlanjut, Indonesia Emas 2045 hanyalah angan-angan. Walau
saya agak pesimis terhadap tercapainya Indonesia Emas 2045, bukan berarti saya
tidak mendukung. Tentu saja saya mendukung 100% dan sangat senang sekali andai
itu bisa tercapai. Saya di PPI wilayah juga berproses dan berkembang, juga
mengembangkan SDM para pelajar diaspora di kota saya, berharap bisa memberikan
sumbangsih yang berarti untuk Indonesia Emas 2045. Yang saya ragu adalah apakah
tercapai tidaknya cita-cita kita ini di tengah gejolak politik, sosial, dan
ekonomi yang tidak terlalu menunjukkan kemajuan signifikkan ke arah Indonesia
Emas 20 tahun lagi. Tapi di satu sisi juga saya berharap, agar Indonesia
setidaknya bisa seperti Turki, yang 20 tahun lalu, keadaannya tak jauh dari
Indonesia saat ini. Penuh suap, ekonomi, dan politik tidak stabil, dll. Saat
ini berkembang pesat sehingga dianggap menjadi salah satu kekuatan besar di
kawasan Asia-Eropa dan Timur Tengah. Selain diskusi tentang peluang Indonesia
Emas 2045, kami juga berdiskusi tentang Ibu Kota Nusantara yang baru. Yang
cacat secara procedural, minim keterlibatan masyarakat, dan terkesan terlalu
terburu-buru. Tapi sekarang, terlalu tanggung seandainya dibatalkan dan
ditunda. Sudah bertriliun rupiah digelontorkan untuk membangun Kota yang
dianggap sebagai simbol Indonesia Emas ini. Antara Pro dan Kontra, saya Pro
pindah ibukota, asalkan di-planning dan dieksekusi dengan baik sehingga bisa
menghasilkan output yang diinginkan. ID Next Leader juga aktif melaksanakan
event-event besar, seperti yang akan mereka laksanakan dekat-dekat ini, FUTURE
LEADER FEST 2 yang akan diadakan di Jakarta nanti. Semoga ikhtiar mereka,
membuahkan hasil di kemudian hari, Amin.
Acara kami selesai di pukul 18.30.
Kami segera bergegas keluar gedung, melewati jalan tempat dolmus-dolmus
itu terparkir. Kami terus jalan, hingga
sampai di depan gedung Türk Eğitim Vakfı yang tampak sudah sangat tua tapi tetap kokoh berdiri. Tua disini bukan maksudnya reyok atau apa, tapi arsitekturnya
khas abad 19-20 awal yang cantik dan elegan. Setelah beberapa menit menunggu, Bus
berwarna putih dua Tingkat tanpa atap datang. “Waahhhh!”, bergegas kami semua
mengambil beberapa tempat duduk di atas, kecuali beberapa panitia yang stand by
di bawah di dekat supir. Pemandangan sekitar Trabzon begitu jelas di mata kami,
ketika bus membawa kami mengililingi seisi kota Trabzon. Kali ini karena
matahari belum tenggelam, sehingga pemandangan sekitar kota tampak masih begitu
jelas. Samping kiri kami, ada Laut Hitam (Karadeniz) yang terbentang luas dan
cantik, dan tentu saja, warnanya biru ya, guys. Di sisi kanan kami, tata kota
yang rapih, dan taman-taman yang elok tersusun memanjakkan mata kami. Kota Trabzon
ini rasanya kayak gak asing ya tata kota nya, bisa dibilang, mirip dengan
Istanbul jalannya di sisi kanan kiri, tapi bedanya di sini, plong, gak riweuh
dan ramai macet seperti Istanbul. Menikmati keindahan kota Trabzon, dengan
angin sepoi-sepoi, dan sinar matahari yang sebentar lagi akan tenggelam,
Aaahhhh.. Nikmat mana lagi yang kau dustakan… Untuk mengabadikan momen, saya
sih ngandelin Akmal, hehe. Hp saya ini kurang bagus dalam memotret foto atau
merekam video. Lain lagi Hp Akmal yang baru itu, jernih betul. Dari sana juga
sesi keakraban dimulai. Kami bersama-sama PPI Turki, membuat sedikit video,
tipis-tipis aja, buat abadikan momen bareng.
Matahari terbenam, kami akhirnya
sampai di sebuah restoran ikan, setelah berputar-berputar kota Trabzon. Setelah
diamati memang kami sempat dua kali lewat di tempat yang sama. Memang tujuannya
dibuat keliling menikmati keindahan kota ini. Kami, seturunnya dari bus,
berbondong-bondong menuju masjid terlebih dahulu, yang terletak persis di
samping restoran ikan tempat kita makan. Tadi di jalan, saya sempat
bertanya-tanya, apa nih makanan khas Trabzon? Trabzon, karena terletak di
samping laut, terkenal dengan hidangan ikan hamsi nya yang dihidangkan
dengan nasi, dengan salat-salat yang menyertainya. Dan Alhamdulillah, inilah
yang akan kami makan malam ini. MasyaAllah banget.
Kami duduk di kursi berderet yang
tersusun di depan meja yang membentuk garis panjang berhadap-hadapan. Ada tiga
baris yang kami isi. Dua baris tempat laki-laki, dan satu baris lagi tempat perempuan.
Saya duduk di samping mas Ihsan, dan Iqbal pastinya, bareng-bareng mulu kita Di depan saya ada mas Fadi, dari departemen
Jaringan dan Kerjasama PPI Turki, dan mas Jundi, yang
datang jauh dari kota Ağrı sana. Ada ikan hamsi, nasi, salat yang terdiri potongan tomat, timun,
dan sawi, dan juga ada mercimek çorbası berwarna kuning, yang menurut salah
satu survey makanan, termasuk ke top 15 makanan berbentuk sup terenak. No.1
apa? Ya rawon dari Indonesia dong. Emang negara kaya rempah-rempah ini gak pernah
kalah soal makanan, kalah di skor PISA aja wkwk (Pada 2022, skor PISA
Indonesia, sebuah tes tingkat dunia untuk mengukur tingkat literasi,
Matematika, dan Sains, dari 81 negara yang dites, Indonesia ada di rangking 15
terbawah). Tiap orang punya jatah ikan satu piring, sedangkan nasinya bagi dua
ternyata. Tapi sebenarnya pun, pengganti nasi ada roti yang pastinya selalu ada
di hidangan restoran Turki. Urutan makan seperti biasa, roti dicocol ke çorba
sampai habis, lalu dilanjut dengan makanan utama, nasi ikan hamsi nya. Setelah
makan usai, tiba saatnya untuk menantang para delegasi ID Next Leader ini untuk
mencoba minuman kesayangan orang Turki, Ayran. Hehe, bisa nggak nih. Dulu,
ketika saya sampai pertama kali ke Turki, tepatnya di salah satu restoran di
terminal Esenler, Istanbul, saya memesan Ayran dan meminumnya, hanya dua
tegukan saja. Gak kuat saya untuk menghabiskan. Kak Vika dan Mas Malik begitu
mencoba pun sama, agak asem buat mereka. Tapi ketika mas Ihsan coba, “Enak
kok”. Waahhhh, emang agak lain. Kata dia, buat orang yang suka minum yogurt,
ini hanya seperti yogurt asam biasanya saja. Jarang loh, orang Indonesia yang
langsung cocok dengan Ayran di percobaan pertama. Lain semisal udah setahun dua
tahun. Udah biasa tuh lidahnya, ya kayak saya ini. Makanan yang sampai saat ini
belum bisa saya terima di lidah saya at least ada dua yang saya ingat, satu
buah Zaitun karena rasanya pahit banget, sama Salgam Suyu, minuman berwarna
merah keunguan yang terkadang dihidangkan juga sebagai teman minum makanan
berat, rasanya aneh. Aneh banget sampai gak tau saya mendeskripsikannya
bagaimana. Jus yang terbuat dari lobak merah ini memang ‘gak banget’ buat lidah
orang Indonesia.
Selesai
makan, kami keluar ke halaman resto, duduk di sana sambil ngeteh, merokok,
mengobrol, dan lain-lain. Forum bebas sekitar setengah jam, sampai kami semua
berkumpul di depan resto, untuk foto bareng. Saya gak fokus sebenarnya ketika
foto bareng ini, sakit perut. Setelah sesi foto usai, saya bilang ke salah satu
panitia, Aziz, kalo saya udah gak tahan ingin BAB. Sebentar saja kok, bang.
InsyaAllah sempat. Lari saya ke toilet masjid, dan buang hajat secepatnya.
Setelah itu lari menuju bus yang sebentar lagi hendak berangkat. Fiuhh, untung
keburu. Tapi kayaknya ada tanda-tanda nih....
Malam
itu, sekitar jam 10, kami sampai di asrama TUGVA tempat kami menginap, setelah
sebelumnya mengantar peserta perempuan dulu ke asrama mereka yang menanjak
itu. Alhamdulillah, hari yang cukup
melelahkan, tapi menyenangkan. Setelah salat dan mandi, saya tidur duluan,
sementara Iqbal sepertinya masih mengobrol di kamar lain.
Hari
kedua, sebagaimana hari pertama, kami juga memulai acara di jam 9 pagi. Acara
sampai dengan sebelum Dzuhur diisi dengan beberapa speech dan sambutan dari
para pembicara. Ada sambutan MÜSDAV GENÇ Başkanı, Haliz AKÜZÜM yang jauh-jauh
datang ke Ankara untuk bisa bertemu dengan kami semua, memberikan pengenalan
tentang MÜSDAV yang merupakan kepanjangan dari “Uluslararası Müslüman
Topluluklarla Dayanışma Vakfı” (Yayasan untuk Solidaritas Komunitas Muslim
Internasional). MÜSDAV ini juga merupakan organisasi yang belum lama berdiri.
Umurnya masih sekitar 20 tahun tapi arah pergerakannya sudah sangat luas.
Memang organisasi komunitas muslim atau pemuda di Turki, kemandiriannya dan
kemajuan pesatnya sangat bisa kita contoh. Beliau juga menyampaikan tentang
solidaritas antar sesama muslim, sebagaimana yang telah dijalin antara
Indonesia dan Turki yang memiliki latar belakang komunitas muslim yang kuat.
Kerjasama seperti acara sekarang ini selalu terbuka untuk teman-teman diaspora
Indonesia di Turki. Memang, status Turki sebagai salah satu negara muslim
merupakan keuntungan bagi kita diaspora muslim. Walaupun telah berubah menjadi
negara sekuler, namun nilai-nilai islam yang sudah mengakar dalam kehidupan
masyarakat Turki, tentunya tak dapat lepas begitu saja. Saat ini, kebebasan
beragama sudah sangat longgar dan banyak komunitas-komunitas kepemudaaan yang
berlandaskan ajaran islam yang bermunculan. Biasanya kami PPI Turki, maupun PPI
wilayahnya bekerja sama dan berkolaborasi dengan mereka. Karena disini, memang
yang sering mempersatukan adalah background ukhuwwah islamiyyah nya.
Sudah sering kali kami dimudahkan dalam penyelenggaraan berbagai acara
keorganisasian kami. Dalam acara pentas budaya, maupun dalam kegiatan umum
organisasi itu sendiri. Kami, PPI sudah sangat dikenal baik oleh
komunitas-komunitas eksternal, dan kesan yang baik ini sangatlah kami jaga. Selanjutnya,
ada pemaparan dari salah satu sponsor acara ini, yaitu BPJS. Tentunya di rubrik
tanya jawab, pertanyaan tentang pasien BPJS yang terlantar itu sudah pasti ada.
Pemaparan
tentang leadership juga disampaikan kepada kami oleh Ketua PPI Dunia Kawasan
Amerika-Eropa (PPIDK AMEROP), Mas Denizar Abdurrahman, yang juga merupakan
mahasiswa doktoral di Sakarya University. Selain beliau, Sekretaris Jendral PPI
Turki, yang juga teman saya, Naura Arifa, turut memberikan kita refleksi diri
juga sebagai pemimpin. Pengalaman dia di dunia kepemimpinan memang sudah gak
diragukan lagi. Dia juga sangat menjaga nilai spritualitasnya sehingga gak
heran kalau dia cenderung stabil dalam menjalankan aktivitasnya yang terhitung
padat. Refleksi yang dilakukan juga tak lepas dari mengajak kita untuk
muhasabah dan merujuk pada Al-Qur’an. Dari sini, Naura yang mengambil alih
posisi moderator acara sampai nanti kita Forum Group Discussion di siang dan
sore nanti. Beberapa pertanyaan dilontarkan untuk memancing diskusi, mengenai
bagaimana kita, memandang permasalahan, dan bagaimana kita menanggapinya,
terutama dalam kasus lingkungan PPI yang kita bawahi.
Setelah
makan siang, yang kebetulan ayam geprek lagi, jam 2 siang kita mulai masuk ke
dalam topik utama diskusi yang ingin kita adakan. Topik utama lokakarya kita
kali ini adalah “Pendidikan”. Lebih tepatnya tentang krisis akademik di lingkup
pelajar Indonesia di Turki. Bagaimana menangani masalah TOMER (Kursus Bahasa
Turki), daya juang pelajar yang rendah, IPK yang terus turun, Bagaimana Alumni
nanti berkiprah, dll. Kami dibagi ke beberapa kelompok dengan masalah yang akan
dibahas masing-masing. Di akhir, kami per kelompok akan mempresentasikan hasil
dari diskusi kami.
Kelompok
saya mendapatkan jatah membahas tentang permasalahan “Kenapa daya juang pelajar
Indonesia di Turki itu rendah?” beserta solusi-solusi yang coba kami tawarkan.
Saya memimpin sebagai ketua kelompok sekaligus yang akan mempresentasikan nanti
hasil dari diskusi kami ini nanti. Kebanyakan point of view nya diambil dari
sudut pandang PPI Sakarya dengan mahasiswa Indonesia terbanyaknya. Terlebih ada
bang Azril dan Ja’far yang sudah berkecimpung lebih di PPI Sakarya sebelumnya.
Saya, Akmal, dan Ubay juga melengkapi dari sudut pandang kami di PPI Eskisehir.
Menurut
kami, setelah berdiskusi dan bertukar pikiran, kami berasumsi bahwa beberapa
faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi adalah: Budaya beli nilai atau
terbiasa tidak jujur ketika di SMA. Jadi ketika di sini nilainya benar-benar
murni dan tanpa pendongkrakan, kaget; TÖMER tidak kolektif. Seharusnya
masa TÖMER untuk
anak-anak baru itu merupakan masa-masa bareng-bareng dengan teman angkatannya
sehingga tercipta perasaan sebagai suatu kolektivitas yang mendukung untuk bisa
lulus bareng dan tentunya, ketika hal baik ini sudah dibangun sejak awal,
tentunya kemungkinan ia akan baik di tahun-tahun berikutnya lebih besar;
Kurangnya dukungan lingkungan. Lingkungan yang buruk, besar kemungkinan akan
memberikan dampak yang buruk pula kepada individu, terlebih jika dia orang yang
gampang kebawa arus. Lingkungan yang baik sangat mendukung jalannya mindset
akademik; Niat yang salah. Masih banyak sekali mahasiswa Indonesia yang
berkuliah di Turki, datang tidak dengan tekad yang kuat atau bahkan hanya
supaya membawa embel-embel ‘kuliah di luar negeri’ tanpa memikirkan
resiko-resiko yang akan dipikul di kemudian hari. Kuliah di luar negeri berarti
kuliah dengan bahasa asing, kuliah di lingkungan yang cukup asing, kalau dia
mandiri terutama pakai agensi, maka bisa jadi uang yang akan dikeluarkan juga
bisa bikin pusing, kalau tergiur karena di Turki gak ada skripsi, tetap aja
kita harus lulus di setiap pelajaran supaya gak remedial, tinggal kelas, dll.
Dan semua ini gak bakal bisa diatasi kecuali dengan tekad yang kuat dan niat
yang benar sedari awal; Terakhir, dalam beberapa kasus, mahasiswa Indonesia di
Turki, terutama sejak masa inflasi yang semakin parah, cukup struggle dalam
mengatasi urusan finansialnya, sehingga mau tidak mau dia harus
meninggalkan kuliahnya untuk bisa memenuhi kebutuhan finansialnya tersebut. UKT
kampus yang semakin tinggi ini memang kerap menjadi masalah buat para
mahasiswa, terutama mereka yang ketika datang, UKT nya masih 3-4 juta, tapi
sekarang naik jadi 6-7, bahkan 10 juta. Beberapa upaya dilakukan PPI untuk
membantu masalah ini, dengan cara menghubungi KBRI atau pihak lain yang kiranya
bisa melobi masalah ini. Walaupun sedikit yang berhasil, tapi upaya bantuan
seperti ini sangat penting untuk memastikan keberlangsungan pelajar Indonesia
di Turki.
Kami
kemudian menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi masalah-masalah ini:
1. Pemberdayaan
Akademik melalui Komunitas
·
Membentuk grup Whatsapp per jurusan sebagai
wadah diskusi akademik. Sekaligus menunjuk Grup Başkanı nya juga.
·
PPI berperan sebagai fasilitator untuk mengatasi keterbatasan akademik dan mendukung
mahasiswa.
2. Apresiasi dan
Insentif bagi Mahasiswa Berprestasi
·
Memberikan penghargaan kepada mahasiswa
berprestasi melalui media PPI.
·
Mengundang KBRI/KJRI untuk turut
mengapresiasi, meningkatkan motivasi mahasiswa melalui intensif yang diberikan,
guna membangun image yang baik bahwa PPI hadir mendukung mahasiswa yang
berprestasi agar bisa menginspirasi teman-teman lainnya untuk turut berprestasi
juga baik di akademik maupun non akademik.
3. Peningkatan
Fasilitas Belajar dan Standarisasi TÖMER
·
Membangun website catatan berhadiah untuk
mendorong berbagi ilmu dan memberikan intensif bagi pengajar. Meski terdengar
sulit untuk dijalankan, ide ini menarik untuk dikembangkan.
·
Menyeragamkan kurikulum Mini TÖMER serta
mengadakan pelatihan pengajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa
Turki.
Solusi yang kami paparkan ini merupakan
rekomendasi-rekomendasi yang bisa diambil oleh PPI wilayah agar bisa membentuk
lingkungan belajar yang mendukung para pelajar Indonesia di Turki agar memiliki
daya juang yang tinggi sebagai diaspora muda Indonesia di sini.
Masing-masing kelompok juga menawarkan solusi
yang menarik, beberapa diantaranya, ada yang menyarankan untuk mengadakan
semacam COC (Clash of Champions)-nya Ruang Guru di lingkup PPI Turki yang
memang saat itu sedang hype. Kemudian ada juga rekomendasi dari kelompok lain
yang menyarankan agar PPI Turki melalui KBRI ataupun Kedutaan Turki melakukan
filter terhadap calon mahasiswa Indonesia yang hendak belajar ke Turki. Filter
ini dapat berupa semacam tes, wawancara, dll. Sebab, berkuliah di Turki saat
ini terhitung sangat mudah apalagi kalau punya banyak uang. Akses yang
terlampau gampang inilah yang dianggap menjadi salah satu faktor kenapa pelajar
kita punya daya juang yang rendah. Meskipun rekomendasi ini terbilang agak
sulit dalam kondisi saat ini, namun ide ini termasuk cemerlang karena
dibandingkan dengan pelajar negara lain seperti di Jepang atau Jerman, Turki
ini merupakan salah satu negara yang pelajarnya paling terkendala pada bahasa
negara tersebut. Banyak sekali pelajar Indonesia yang terkendala sulitnya
bahasa Turki sehingga semacam kualifikasi seperti yang dipaparkan tadi, dapat
menjadi filter dan penyaring calon pelajar agar lebih serius dan mempersiapkan
dirinya dengan lebih baik lagi sebelum berangkat ke Turki.
Untuk mendukung proses belajar mahasiswa
Indonesia di Turki, PPI Turki bekerjasama dengan IKPM membagikan buku ‘Dilerim
Türkçe’. Buku ini berisi panduan bahasa dari level beginner sampai ke
level advance dilengkapi dengan contoh percakapan sehari-sehari, beberapa
kosakata dan atasöz pilihan yang diharapkan dapat membantu mengatasi
permasalahan yang dianggap merupakan kendala terbesar bagi pelajar Indonesia di
Turki.
PPI Turki sendiri menegaskan bahwa dalam arah geraknya, PPI Turki
‘melangit’ dan ‘membumi’. Dalam arah gerak ‘melangit’, PPI Turki melalui
Simposium dan PUSPITUR-nya (Pusat Studi PPI Turki) menjadi wadah pengembangan
ilmu pengetahuan dan riset mahasiswa Indonesia di Turki guna memberi manfaat
dan sumbangsih kepada negara. ‘Membumi’ berarti walau PPI Turki mempunyai
cita-cita yang tinggi dan besar, ia tetap tidak lupa menyentuh lapisan masalah
bawah yang mendasar seperti TÖMER, dan grup belajar tiap jurusan di PPI wilayah.
Diskusi yang sangat berkesan dan dipenuhi semangat yang
menggebu-gebu ini akhirnya berakhir di sore hari, sekitar jam setengah 6 sore.
Kami berfoto bersama, merapikan kursi dan meja-meja di ruangan, sebab esok hari
agenda kita adalah jalan-jalan mengeksplor keindahan kota Trabzon.
Kami keluar ruangan, bergegas berjalan menyebrang jalan, melewati
rentetan angkot biru merah yang terparkir di sisi jalan. Bus kami sudah
menunggu. Kami kembali menaiki bus kota tanpa atap ini lagi seperti kemarin.
Angin sepoi-sepoi, menikmati pemandangan kota Trabzon di sore hari, ketika matahari
hendak terbenam, burung terbang, Vay be… indah banget. Melewati laut
hitam, juga beberapa peninggalan bersejarah masa lalu menambah rasa keindahan
kota ini.
Bus kami kemudian bergerak ke arah hotel tempat kami akan makan.
Hotel ini milik Bapak konsuler kehormatan untuk Indonesia di Trabzon, Bapak
Kadem Çakıroğlu, beliau senang menyambut kegiatan PPI disini. Dikarenakan memang
jarang sekali ada kegiatan pelajar Indonesia di sini, terutama dalam beberapa
tahun terakhir, bahkan tahun lalu saja, PPI Trabzon sempat dibekukan. Jadi,
pada kesempatan kali ini, Bapak Kadem mengajak kita makan malam bersama di
restoran hotelnya. Kami malam ini makan hidangan khas Trabzon, Akçaabat
köftesi yang ditemani çorba, salad, dan roti yang menemaninya.
Alhamdulillah sekali. Perut kenyang, hati senang. Setelah usai makan, kami foto
bersama dengan beliau dan istrinya (atau asistennya, jujur gak tau, hehe).
Mantap bener emang panitia yang sudah atur sedemikian rupa semuanya. Apresiasi
sebesar-besarnya untuk kalian!
Malam itu, ketika sudah sampai di asrama, setelah mandi dan sholat,
termasuk saya, tidak langsung tidur, tapi ngobrol-ngobrol dulu di salah satu
kamar. Ada sekitar 7-8 orang yang mengobrol saat itu, termasuk saya, ketua PPI
Eskisehir, Iqbal, ketua PPI Konya, Azra, Ketua PPI Ankara, Ardhian, ketua PPI
Sakarya dan wakilnya, Ilham, ada juga Nawawi, ketua PPI Kutahya. Juga ada Ubay
dan Akmal yang ikut menemani. Saya harap mereka berdua bisa belajar banyak
sebagai penerus di Eskisehir nanti. Datang juga ketua PSDM PPIT kala itu, si
Faiz yang ikut mengobrol sebentar, sebelum akhirnya pamit karena harus meet
evaluasi bareng panitia LBC lainnya. Kami mengobrol banyak hal malam itu,
utamanya saling diskusi mengenai jalannya kepengurusan kami di wilayah
masing-masing. Dengan rintangan dan latar belakang yang berbeda yang kami
lalui, kami diskusi dan bertukar pikiran selama beberapa jam. Hingga dirasa
waktu sudah cukup malam, kami kembali ke kamar masing-masing dan kemudian
tidur, bersiap untuk kegiatan esok hari.
Pagi-pagi banget saya sudah bangun tidur, solat subuh, lalu karena
sudah mandi semalam, jadinya gak mandi lagi, hehe. Hari ini pun cuacanya cukup
bagus, tidak dingin, dan gak terlalu panas juga. Jadinya kebanyakan dari kami
hanya pakai kaos untuk trip hari ini. Kali ini kami naik bus belediye
lagi, dua lantai juga, tapi ada atapnya.
Tempat pertama yang akan kami datangi adalah Hagia Sophia. Yups,
Hagia Sophia! Tapi yang ini bukan yang ada di Istanbul, tapi yang ada di
Trabzon. Jadi memang ada banyak Hagia Sophia di Turki guys! Tercatat ada
sembilan Hagia Sophia di Turki dan sebagian besar di antaranya masih beroperasi
sebagai masjid, salah satunya yaaa, Ayasofya Camii yang ada di Trabzon ini.
Bangunan yang dulunya gereja ini diubah menjadi masjid ketika penaklukan
Trabzon dilakukan di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih. Lalu masjid
ini sempat menjadi museum selama beberapa tahun sebelum akhirnya beralih fungsi
kembali menjadi masjid pada tahun 2013. Bangunan ini juga sempat menjadi rumah
sakit dan gudang saat Perang Dunia 1 berlangsung. Silakan baca artikel ini
untuk info lengkap terkait Sembilan Hagia Sophia di Turki (https://www.haber7.com/seyahat/haber/2993995-turkiyenin-ayasofya-camiileri-farkli-sehirlerde-9-tane).
Oh ya, kami di Hagia Sophia ini juga sekalian menyambut kedatangan
pak Dubes Rizal yang bakal memberikan sedikit sambutan untuk kami. Sembari
menunggu, sudah tentu kami foto-foto dahulu, sekaligus baca brosur sejarah yang
ada di masjid. Ketika santai-santai bareng Iqbal dan yang lain, si Faiz datang
dan menunjuk saya menjadi Qori untuk penyambutan pak Dubes nanti. “Lah kok gw,
Iz?”. “Gapapa Bol, aman aja”, kira-kira gitulah proses penunjukannya. Akhirnya
saya pilih surat Al-Fath ayat 1-7 untuk dibacakan pada acara nantinya.
Ketika pak Dubes sampai, kami bergegas berkumpul ke halaman depan
masjid, disitu sudah ada sound system dan tikar yang tergelar. Beliau ditemani
dengan bapak Konsuler kehormatan, bapak Kadem Çakıroğlu. Selain beliau, ada juga ketua TÖDER, dan beberapa orang penting lainnya. Acara dipandu dengan MC
kondang kita, mbak Aqila. Dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh
Qori, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Tentunya yang paling di
highlight adalah sambutan dari pak Dubes itu sendiri. Beliau jauh-jauh datang
dari Ankara, tiba jam 08.40 pagi, bertemu kami pada jam 9.30 pagi, dan kembali
ke Ankara pada jam 12 siang di hari yang sama. Selepas sampai di Ankara pun,
beliau sudah ada agenda diplomasi lagi di tempat lain. Di tengah kesibukan
beliau yang begitu padatnya, beliau masih menyempatkan diri untuk datang ke
acara kami, menghadiri acara penutupan LBC ini dan menyapa kami, PPI Turki
bersama PPI wilayahnya. Beliau menyampaikan bahwa dengan besarnya tantangan
yang dihadapi oleh Indonesia dan Turki, diperlukan calon-calon pemimpin yang
memiliki visi misi masa depan yang kuat, dan beliau percaya bahwa kami adalah
salah satu calon pemimpin itu. Amin. Usai sambutan, beliau diberi cinderamata
jersey Trabzonspor oleh Bapak Kadem. “Bize Her Yer Trabzon!” (Slogan
klub Trabzonspor). Di samping itu, beliau juga ikut menandatangani sebuah
piagam yang dinamakan ‘Piagam Trabzon’. Piagam ini merupakan komitmen dari
Langkah nyata PPI Turki untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat
karakter, dan memperluas kontribusi pelajar Indonesia di Turki. Piagam yang
sudah ditandatangani oleh pak Dubes ini pun kemudian ditandatangani oleh
seluruh delegasi tiap PPI wilayah yang hadir. Piagam Trabzon ini menjadi bukti
keseriusan PPI Turki dan wilayahnya untuk mengatasi masalah akademik yang
terjadi di antara para pelajar Indonesia di Turki.
Setelah acara usai, kami kemudian langsung beranjak naik bus
kembali, menuju destinasi selanjutnya yaitu Atatürk Köşkü (Paviliun Ataturk).
Paviliun ini memiliki gaya arsitektur Eropa Renaissance yang kuat. Dengan
nuansanya yang megah berwarna putih, dengan taman bunganya yang cantik, makin
menambah keindahan bangunan ini. Menurut website Kültür Portalı pemerintah Turki, bangunan ini
dibangun pada abad ke-19 oleh Konstantin Kabayanidis. Sempat menjadi tempat
singgah Mustafa Kemal Ataturk ketika berkunjung ke Trabzon, bangunan ini
akhirnya diwakafkan untuk negara pada tahun 1937. Pada tahun 1943, bangunan ini
beralih fungsi menjadi museum dan terbuka untuk umum hingga saat ini.
Ketika kami sampai disana, banyak turis lain yang sudah datang
berkunjung, sehingga hanya sebagian dari kami saja yang bisa masuk secara
bergantian. Sebagian mendengarkan penjelasan sejarah tentang bangunan ini,
sebagian lagi termasuk saya duduk karena cukup lelah berdiri ramai-ramai.
Setelah menunggu beberapa saat, saya dan beberapa teman lain kemudian masuk ke
dalam. Tampaknya, karpet berwarna merah dan dinding berwarna putih memang
merupakan paduan sempurna bangunan megah, ya! Di lantai dasar paviliun ini,
terdapat ruang tamu, ruang istirahat, ruang makan, dan kamar tamu. Lantai
pertama memiliki ruang belajar, kamar tidur besar, ruang tunggu dan ruang
pertemuan. Sedangkan Lantai kedua memiliki dua ruangan yang lebih kecil,
beserta balkon yang mengarah ke pintu masuk depan. Kami berfoto di balkon itu
menghadap ke bawah tempat bang Azril siap dengan kameranya menuju kami. Setelah
beberapa menit, di dalam, kami kemudian keluar dan berkumpul bersama di sisi
kiri pavilion tersebut. Di sana kami berfoto bersama berlatar belakang bangunan
putih ini.
Ada cerita lucu dan pastinya selalu keinget kalau bicara tentang
LBC ini. Jadi, setelah foto-foto, saya hendak pergi ke toilet, yang berada di
sebrang jalan. Tapi sebelum itu, saya beli sedikit oleh-oleh seperti tempelan
kulkas dulu di sekitar sana, baru setelah itu pergi ke toilet. Setelah kembali
ke toilet, kaget saya, Loh kok busnya gak ada! Saya langsung telfon Risya dan
chat grup WA LBC bilang kalau saya ketinggalan. Keluar dari pavilion saya belok
kiri coba mengejar ke bawah tapi bus sudah terlampau jauh. Saya diminta untuk
naik angkutan umum yang ada di durak untuk turun ke bawah, tapi 10 menit
berlalu tidak ada satu angkutan umum pun yang lewat sama sekali. Memang Atatürk
Köşkü ini letaknya sedikit jauh dari pusat kota dan kebanyakan pengunjung di
sini datang menggunakan mobil pribadi atau bus pariwisata. Wah, jadi gak enakan
saya. Bus juga gak mungkin untuk putar balik karena sudah cukup jauh berada di
bawah dan akan susah untuk memutar naik lagi ke tanjakannya. Akhirnya, Hoca TÖDER bersama
koleganya, datang menjemput saya menggunakan mobil pribadi yang mereka
kendarai. Saya minta maaf dan diam saja di mobil. Mereka tentunya memaafkan,
“Estaghfirullah”, begitu orang Turki biasanya kalau ada yang minta maaf ke
mereka, dan mereka sebenarnya gak ada masalah dengan itu. Sesampainya di tempat
bus nya menunggu, saya turun dan mengucapkan terima kasih. Di sana langsung
disambut bang Fauzi dan menegur saya, “Kok bisa ketinggalan??”. Ketika masuk ke
dalam bus, semuanya langsung menyambut dengan Sholawat Badar wkwk. Kampret
emang. Tapi karena saya masih merasa gak enakan sama yang lain, jadinya saya
langsung ke belakang, duduk di kursi pojok di samping jendela. Ketika bus
berjalan, semuanya lanjut bernyanyi lagu Bernadya yang top hits Spotify itu,
sedangkan Iqbal minta maaf ke saya karena gak sadar kalau saya ketinggalan dan
gak mengingatkan panitia. Saya juga kiranya yang lain masih lama berjalan dan
mengobrol di pavilion makanya saya ke kamar mandi dulu. Ya, begitulah, saya pun
akhirnya karena capek dan udah cukup keringetan lari-lari tadi, tertidur di
kursi belakang.
Setelah beberapa menit tertidur, saya bangun ketika kami sudah
kembali ke kota untuk menukar bus yang kami naiki ini dengan bus lain. Bus yang
akan kami naiki inilah yang akan mengantarkan kami ke Uzungöl, salah satu
tempat yang harus dikunjungi di Trabzon. Bus kali ini bentuknya seperti bus
antar kota, berwarna putih, dan tidak ada lantai duanya. Perjalanan akan
memakan waktu kurang lebih 1,5 jam, waktu yang pas untuk tidur. Kami semua
tertidur sepanjang perjalanan kecuali supir dan beberapa panitia, mungkin.
Karena jalannya juga cukup bikin mabuk ya, karena naik turun, ke kanan dan ke
kiri, jadi lebih baik tidur.
Begitu membuka mata, melihat ke jendela, mata saya langsung takjub
dengan keindahan danau hijau besar yang luar biasa indah ini. Subhanallah! Saya
tidak berlebihan, memang seindah itu Uzungöl Trabzon. Apalagi kita-kita yang tidur sepanjang
perjalanan, bangun-bangun disuguhin pemandangan seindah ini. Di dekat danau
ini, persis di sampingnya, ada sebuah Sekolah Dasar. Wah, enak sekali anak-anak
ini, tiap keluar sekolah matanya langsung segar memandang indahnya ciptaan
Tuhan ini. Kami makan siang di yemekhane sekolah itu, setelah mendapat
akses makan siang dari bapak Memur-sen Kota Trabzon, Mehmet Kara. Kami makan
ikan dan nasi, salad, serta mercimek çorbası.
Ikannya enak banget kali ini, dan ya, saya nambah lagi, hehe.
Setelah makan, kami shalat dzuhur di masjid, lalu kembali lagi ke
tempat makan, karena penutupan resmi acara LBC ini bakal dilakukan di sana.
Saya kembali jadi Qori di acara ini. Awalnya saya tolak, tapi si Faiz
mancing-mancing perihal ketinggalan bus tadi, ya udah lah, di-roasting
terus ini mah, wkwk. Kali ini, saya membaca surat Al-Insyirah dari awal sampai
akhir. Saya pilih karena selain maknanya yang bagus, juga suratnya tidak
terlalu panjang, dan tidak terlalu pendek.
Setelah itu ada sambutan dari Ketua PPI Trabzon, Risya Shofia, Ketua PPI
Turki, Adam Syaikul Akbar, dan juga sambutan mengharukan dari ketua PSDM PPI
Turki, Faiz Arhasy, selaku penanggung jawab acara LBC ini. Faiz membuka
sambutan dengan sajak rimanya yang mungkin dia sudah hafalkan sejak lama. Asyik
gitu dengernya. Dia kemudian berterima kasih kepada para panitia, dan PPI
Trabzon yang sudah mengeluarkan tenaga dan pikirannya untuk acara ini. Di sini
dia mulai menangis dan terharu. Bisa terbayang sih dengan keterbatasan
kuantitas panitia, acara ini bisa sukses dan memberikan kami, -para peserta,
fasilitas yang begitu luar biasa. Dia kemudian mengumumkan kalau acara ini akan
menjadi acara terakhir yang berada di bawah tanggung jawabnya sebagai Ketua
PSDM PPI Turki. Saya kira alasannya karena dia bakal Erasmus, taunya bukan, dan
saya baru tau alasan sebenarnya di esok hari ketika sudah di Ankara. Setelah
penutupan, kami ada waktu sampai jam 6 sore untuk eksplorasi danau ini. Kami
akhirnya bersama berjalan mengitari salah satu danau terbesar di Turki dengan
panjang 1000 meter dan lebar 500 meter ini. Kami berfoto di jembatan yang
memang tampaknya sangat instagramable buat foto. Setelah itu, kami
menaiki tangga di tebing untuk sampai ke tempat foto di atas yang menawarkan
view indah uzungöl dengan rumah-rumah dan bangunan-bangunan cantiknya, yang menambah
keindahan pemandangan alam ini. Sumpah, ini indah banget. Kalian yang kuliah di
Turki, minimal sekali lah main ke Trabzon, terus mampir ke sini. Mantap banget!
Di atas, juga ada teropong, untuk pakai ini kita harus memasukkan beberapa
koin, dan bisa meneropong dengan jelas apa yang ada di bawah kita. Benar-benar
penutup yang sempurna untuk perjalanan di Trabzon kali ini.
Menjelang Maghrib kami kembali pulang ke asrama. Sebelum kembali ke
asrama, saya, Iqbal, dan beberapa teman lain mampir ke restoran döner terlebih
dahulu untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan ini. Setelah makan, kami
kembali ke asrama, dan siap-siap packing untuk pulang. Setelah barang semua
sudah diletakkan di bawah, kami dapat kabar bahwa busnya akan sedikit telat
untuk datang. Jadinya kami mandi dulu, solat dulu, santai-santai dulu, ngecas
hp dulu, sekitar setengah jam. Baru setelah itu, bapak Memur-sen datang menemui
kami dan berpamitan. Kami senang sekali dan berterima kasih atas segala bantuan
yang telah beliau berikan dalam memfasilitasi acara ini. Akhirnya kami juga
berpamitan dengan Risya dan Azka, kami berterima kasih telah dijamu dengan baik
oleh tuan rumah, PPI Trabzon. Beberapa sudah pulang duluan naik pesawat,
teman-teman Sakarya. Sisanya kebanyakan naik bus bareng ke Ankara, sebelum
pulang ke kota masing-masing.
Sesampainya di Ankara, saya, Ubay, dan Iqbal pergi ke kompleks
Melike Hatun, di belakang masjid ada tempat thrifting yang murah-murah
dan bagus-bagus di sana. Saya beli jas dan celananya hanya 250 lira. Saya juga
beli celana dan kemeja. Total saya kurang lebih habis sekitar 500 lira kalau
tidak salah. Ubay juga beli celana, sedangkan Iqbal gak beli apa-apa, hanya
menunggu kami. Di sana untuk mengganjal perut, kami beli ekmek köfte gerobakan yang ada di samping jalan. Baru kemudian kami menuju
rumah sahabat kami, Ai, yang bakal masak-masak di rumah. Kami sempat salah naik
bus sehingga harus jalan jauh kalau mau sampai sana, atau naik bus lagi, nunggu
lagi. Karena cuacanya yang cukup panas kala itu, kami memutuskan untuk naik
taksi saja bertiga ke rumah Ai, 100 tl bagi tiga, not bad lah. Sekitar 20 menit jalan kaki dari tempat kami naik
taksi.
Di sana sembari menunggu Ai masak, kami tidur. Pada kecapekan semua
nih orang-orang. Setelah perjalanan panjang 10 jam lebih Trabzon-Ankara.
Lumayan setengah jam untuk tidur. Bangun tidur, saya langsung buka laptop untuk
ders kayıt (Ambil Pelajaran) semester ini. Beberapa saat kemudian, masakan
sudah jadi, Hemmm, nikmat! Enak banget emang kalo lagi lapar, lelah begini.
Kami sempat mengobrol beberapa jam sebelum akhirnya pulang ke kota kami
masing-masing. Jarang-jarang memang kami bisa berkumpul di waktu dan tempat
yang sama seperti ini, makanya wajar kalau excited, kan.
Saya ingin sedikit membahas polemik tentang pengunduran diri Faiz
sebagai ketua PSDM PPI Turki. Satu hari setelah LBC berakhir, Faiz cukup
menggemparkan publik PPI Turki dengan mengatakan bahwa dirinya tidak dihargai
dan bahwasanya Presidium PPI Turki selalu menyalahkan, tidak mengapresiasi,
cari muka, orientasi politik, kepentingan pribadi dan lain-lain. Perlu waktu
lama saya untuk mencerna apa yang terjadi. Karena ini konflik internal yang
kami para peserta tidak tau kronologinya. Dikarenakan hal ini, banyak yang
menyerang presidium PPI Turki, atau bahkan kepengurusan PPI Turki tahun ini.
Beberapa di antaranya bahkan menyerang secara personal. Kritik tajam datang
dari berbagai kalangan, utamanya dari beberapa pengurus kabinet tahun lalu.
Saya sebagai orang yang berada di tengah, mengenal presidium dengan baik
sebagai teman dan ketua saya, merasa kata-kata cari muka, tidak tulus,
kepentingan pribadi dan lain-lain yang tertulis itu rasanya tidak tepat
ditujukan kepada Adam Syaikhul Akbar. Justru sebaliknya, dia saya kenal sebagai
orang yang tulus niat untuk mengabdi, tanpa kepentingan politik partai atau
apapun yang dituduhkan itu. Dia seorang idealis, tapi bisa akrab dengan mudah
juga dengan orang lain.
Setelah mengetahui akar permasalahan, sesuai yang saya duga, duduk
perkaranya terdapat pada miskomunikasi makan siang gratis di hari pertama yang
sempat saya dan beberapa peserta lain pertanyakan. Kami bertanya ke presidium,
bukannya janjinya makan itu sudah ditanggung selama di Trabzon. Lalu keluhan
kami kemudian diteruskan oleh presidium
ke Faiz selaku penanggung jawab. Faiz bilang gak ada yang menjamin makan
nya bakalan gratis, tapi bakal diusahakan. Tapi sepertinya, penyampaian
Presidium kurang pas, dan cenderung menyalahkan. Presidium di satu sisi tidak
ingin memberatkan para peserta yang sudah menyisihkan duitnya untuk
transportasi pulang-pergi ke Trabzon yang tentunya tidak sedikit, tapi salahnya
terlalu membebankan perihal ini ke panitia. Memang benar, di sini Presidium
tidak bijak dalam bersikap dan komunikasi nya juga tidak pas sehingga membuat
panitia sakit hati karena ini. Dapat dibayangkan ketika panitia yang jumlahnya
tidak banyak ini, telah mengusahakan tenaga dan pikirannya untuk LBC ini, voluntarily
tanpa dibayar sepeserpun, malah tidak mendapat apresiasi yang layak dan
perlakuan yang pantas. Saya bisa bayangkan itu. Mediasi telah dilakukan untuk
meredakan polemik ini. Presidium juga sudah sampaikan secara terang-terangan
kalau dia meminta maaf.
Saya tidak mau masuk masalah ini terlalu jauh, karena kedua pihak
sama-sama teman baik saya, dan figur yang baik dalam kepemimpinan dan
organisasi. Presidium memang salah dalam bersikap di LBC ini kepada panitia.
Tentu sebagian besarnya, dilakukan tanpa disadari, dan semoga bisa menjadi
pembelajaran. Namun, kesalahan di satu event tidak bisa menggambarkan gaya
kepemimpinan secara keseluruhan. Tidak sesimpel itu untuk menyederhanakan
karakter kepemimpinan seseorang sepanjang kepengurusan berdasarkan kesalahan di
satu event. Mengatakan bahwa sepanjang kepengurusan, dia orangnya seperti ini
dan seperti itu. Saya memandang Presidium bukan orang yang seperti itu, tapi
saya juga tidak bisa menyalahkan Faiz yang menyatakan argumennya karena sudah
terlanjur kecewa terhadap sikap presidium terhadap dia dan teman-teman di
belakangnya. Kata Faiz dalam pidato penutupan acara LBC kemarin di samping
Uzungöl, Trabzon, “Pemimpin adalah yang berjuang paling depan (yang awal),
dan yang menikmati hasil perjuangan itu paling akhir (yang akhir)”, dan
menurutnya, Presidium tidak mencerminkan ini ketika menjadi Ketua Umum PPI
Turki, khususnya di LBC ini. Tapi, saya merasa keputusan Faiz mengundurkan diri
adalah keputusan yang tepat dan memang perlu diambil, karena dia diangkat menjadi
Sekretaris Jendral PPI DK Amerika-Eropa, yang akan sangat berat rasanya untuk
mengemban sekaligus jabatan sebagai ketua PSDM PPI Turki. Di isu ini, Faiz
benar, tapi menilai keseluruhan kinerja Presidium berdasarkan dari kesalahan
yang dilakukan di LBC rasanya kurang tepat. Yah, semoga menjadi pelajaran yang
baik kedepannya. Kritik yang datang pun gak lama pergi. Menjadi pemimpin bukan
hal yang mudah, tapi sangat harus dilatih. Toh, semua orang bakal jadi pemimpin
juga pada akhirnya, setidaknya untuk dirinya sendiri. Organisasi mengajarkan
banyak hal, utamanya tentang kepemimpinan, kerjasama tim, dan komunikasi. PPI
Turki mempunyai kultur organisasi pelajar yang sangat kuat dibandingkan dengan
PPI negara lain. Dan itu merupakan hal yang positif bila bisa dimanfaatkan
dengan baik. Saya gak bisa menilai atau membanding-bandingkan antara kabinet
tahun ini dengan tahun lalu, karena saya gak berkecimpung langsung dengan
kabinet tahun lalu. Tapi, kabinet tahun ini, saya ikut berproses bersama,
melihat dari dalam sebagai seorang ketua PPI wilayah. Gagasan ‘ingin memperkuat
PPI wilayah’ yang kemudian menjadi arah gerak utama Kabinet ini, datang dari
ketiga orang presidium yang telah berproses di PPI wilayahnya masing-masing.
Mereka tau kekurangan dan kendala yang ada di PPI wilayah sebagai PPI yang
langsung bersinggungan dengan para pelajar di kota masing-masing (Konteks PPI
Turki). Saya rasa apa yang dilakukan sudah benar dan tepat secara general.
Namun kita sebagai manusia tak luput dari kesalahan. Apalagi kan PPI memang
dirancang sebagai wadah untuk belajar orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Perjalanan tiga hari Leaders Board Conference di Trabzon ini sangat
berkesan bagi saya, baik sebelum, ketika, maupun sesudah acara. Acara yang
berbobot, diskusi yang penuh semangat membara, bisa dipertemukan dengan
orang-orang hebat, jalan-jalan bareng di kota Trabzon yang keindahannya luar
biasa, merupakan pengalaman yang tak terlupakan buat saya. Saya yakin,
orang-orang yang terlibat di LBC ini dari peserta maupun panitianya, bakal
menjadi orang besar di kemudian hari. Itu harapan kami bersama dan semoga bisa
tercapai. Amin.
Sampai jumpa di cerita Notes From Turkiye selanjutnya, kali ini
tentang pengalaman volunteering di Sivas yang pastinya asyik banget. Bye.

Komentar
Posting Komentar