Sehari Menjelajah Esztergom: Napak Tilas Sejarah Bangsa Hongaria
Esztergom, 16 Februari 2025
Setelah hari Sabtu kemarin
jalan-jalan keliling Budapest, hari Minggu ini saya bakal one-day trip ke kota
bersejarah untuk orang-orang Hongaria. Esztergom, Ibu kota pertama negara
Hongaria dari abad ke 10-13 M. Kota ini juga merupakan tempat kelahiran Raja
pertama Hongaria, St.Stephen King. Maka dari itu, Esztergom mempunyai nilai
sejarah yang berharga bagi rakyat Hongaria.
One-day trip ini saya lakukan bareng anak-anak Erasmus lainnya,
secara grup dengan total hampir 30 orang. Jalan-jalan kali ini diorganisir oleh
Erasmus Life Budapest (ELB), dengan rencana trip ke Esztergom dan Basilica-nya,
berjalan menyebrangi jembatan ke Slovakia, makan siang, dan mencoba bir khas
sana (tentunya saya gak pesan apa-apa ya..). Butuh waktu dan tanya sana-sini
buat saya akhirnya memutuskan untuk join trip ini. Di satu sisi budget saya
terbatas, tapi di sisi lain saya ingin untuk ikut jalan-jalan bareng
teman-teman Erasmus lainnya, setidaknya sekali. Jadi saya harus memilih antara
trip ke Tata, Gödöllő, ataupun Esztergom. Hampir setiap minggunya, ELB
mengadakan acara trip ke luar kota untuk eksplorasi Hongaria, atau bahkan
keluar negeri seperti ke Polandia, Ceko, atau Slovenia. Dan tentu saja ini gak
gratis, murah bagi orang Eropa pada umumnya, tapi mahal buat saya yang
mengandalkan duit beasiswa Erasmus, plus punya banyak plan jalan-jalan sendiri
juga. Untuk Esztergom misalkan, mereka mengenakan biaya 6000 HUF atau sekitar
258 ribu rupiah (bagi pemilik ELB card + Hungary Pass) bagi yang ingin ikut
trip ini. Padahal aslinya, kita kalau punya Hungary Pass, kita bisa ke sana
secara gratis naik kereta. Kalaupun gak punya, tiket kereta pun sangat murah,
hanya seharga 650 HUF, atau sekitar 28 ribu rupiah saja. Di Hongaria memang,
ada beberapa kota yang tiket transportasi antar kotanya itu gratis bagi pemilik
Hungary Pass, dan kalaupun bayar, biayanya masih sangat murah. Makanya sebagian
besar trip dalam negeri Hongaria saya bakal lebih sering sendiri atau bareng
teman-teman secara pribadi, gak secara grup seperti trip ELB kali ini -untuk
menghemat biaya. Banyak yang menyarankan juga untuk memprioritaskan duitnya
untuk jalan-jalan antar negara saja, daripada eksplorasi dalam negeri
banyak-banyak, mempertimbangkan duit yang terbatas tentunya ya. Kalau ada duit,
ada kesempatan, ya silakan aja. Hehe.
Kami dijadwalkan untuk
berkumpul jam 8.30 pagi di stasiun Nyugati yang terletak di tengah kota
Budapest. Di Metro saya bertemu dengan JK, teman kelas saya orang Finlandia,
dia juga sudah bilang ke saya kalau dia bakal ikut trip kali ini. Di kelas
kami, ada saya, JK, Misato asal Jepang, Elizabet (sebenarnya namanya
Yelizaveta) asal Ukraina, dan satu lagi temannya yang juga orang Ukraina, tapi
saya lupa namanya dan belum pernah kenalan juga, sih. Asilbek, teman saya asal
Uzbekistan, tadinya dia mau ikut, tapi karena lagi sakit -sepertinya karena
cuaca-, akhirnya dia gak jadi ikut. Ada satu teman lagi yang saya baru
berkenalan nanti di trip ini, namanya Zao (walaupun nama aslinya Hoang Duong ya
di Ig sama WA nya. Gak tau dari mana Zao nya berasal, mungkin supaya gampang
diingat). Zao ini kenalannya JK di Doboz, bar yang terafiliasi dengan ELB,
mereka bertemu di sana. Di trip ini, kami bertiga bakalan bareng-bareng terus
sepanjang jalan, sedangkan teman-teman kelas saya yang cewek, mereka
bareng-bareng bentuk kelompok sendiri sesama cewek.
Orang-orang sudah mulai berkumpul sejak jam 9 pagi di samping
gerbong kereta, tapi karena mungkin banyaknya peserta di luar perkiraan
panitia, jadinya mereka agak kewalahan dalam beli tiket dan pembagian gelang
trip. Makanya tuh, yang harusnya rencana awal berangkat jam 9.21 AM, jadinya
kami mengambil kereta selanjutnya di jam 9.51 AM. Agak kesal sih karena kami
berdiri lebih dari satu jam di sana, di luar, dingin-dingin. Saya, JK, dan Zao
sempat masuk ke dalam gedung stasiun untuk menghangatkan badan. Sebenarnya yang
paling kedinginan sih saya ya… Si JK karena dia orang Finlandia, udah sangat
terbiasa dengan cuaca dingin. Hari ini, cuaca di bawah 0°C, mungkin -1°C atau
-3°C, tapi karena angin yang cukup kencang, jadinya terasa seperti -5°C, tangan
dan tubuh saya menggigil karena ini. JK menyarankan saya untuk berpose seperti
penguin, merapatkan tangan ke tubuh dengan telapak tangan terbuka ke samping,
lalu menaik-turunkan atau mengguncangkan bahu saya secara terus menerus. Agak
terdengar seperti candaan, tapi kata dia, orang Finlandia sering melakukan ini
supaya mereka gak kedinginan. Gerakan ini kata dia, bisa untuk membantu memompa
darah sehingga bisa mengatur suhu tubuh. Saya gak tau gimana secara ilmiahnya,
tapi sepertinya gerakan ini dilakukan untuk supaya kita gerak aja, kalau kita
aktif bergerak, otomatis darah akan tersirkulasi sehingga akan mengurangi efek
kita kedinginan.
Akhirnya setelah lama mengabsen, membagikan tiket, dan gelang ELB
mereka, kami masuk ke dalam kereta. Keretanya pun bukan di kereta yang berada
di samping kami, tapi di gerbong dalam stasiun tempat saya dan JK mencari-cari
peserta lain di awal ketika kami sampai pertama kali tadi pagi. Lah ngapa gak
nunggu di sana aja dari awal? Kami berangkat jam 9.51 pagi. Perjalanan memakan
waktu sekitar 1 jam 5 menit. Saya yang dari awal merasa mengantuk karena kurang
istirahat, akhirnya tertidur pulas di kereta. Tau-tau, udah nyampe aja di Esztergom.
Stasiun Esztergom terbilang kecil, dan kota Esztergom sendiri nampak seperti
sebuah kota kecil yang sepi sejauh yang saya amati.
Kami berjalan keluar dari stasiun terbuka ini, berjalan menyusuri
kota kecil ini. Penduduk kota ini hanya sekitar 28 ribu orang saja. Bandingin
sama Kotabumi, kecamatan tempat saya tinggal di Lampung Utara, itu saja
penduduknya lebih dari 50 ribu orang. Kebayang kan sepinya kota ini. Apalagi
kami datang di hari Minggu, yang sepertinya orang-orang pada libur bekerja.
Esztergom dalam sejarahnya sudah menyaksikan
banyak pengepungan oleh berbagai kekuatan besar pada zamannya seperti Habsburg
dan Ottoman/Utsmani. Kesultanan Turki Utsmani berhasil menaklukkan kota Esztergom
pada tahun 1543 setelah melakukan pengepungan selama dua minggu. Ottoman di
bawah kepemimpinan Sultan Suleyman Al-Qanuni, sebelumnya telah berhasil
menaklukkan Budapest pada tahun 1541 dan berhasil menguasai tanah Hongaria
secara penuh ketika itu. Sempat lepas dari tangan Ottoman pada akhir abad ke
16, kota ini berhasil direbut kembali pada tahun 1605 dan mempertahankan
pemerintahan mereka sampai tahun 1683 M.
Kami pertama datang ke alun-alun bersejarah kota Esztergom, namanya
Ostrihom (nama lain dari Esztergom) Square atau beberapa menyebutnya juga
dengan nama Széchenyi Square. Alun-alun ini dikelilingi oleh bangunan bergaya
arsitektur Barok dan Klasik, mirip seperti yang ada di rumah-rumah warna-warni
Odunpazarı, Eskişehir
tempat saya biasa jalan-jalan bareng teman-teman yang bertamu di Eskişehir.
Makanya sejujurnya saya tidak terlalu terkesan dengan alun-alun ini. Tapi
mungkin jika kita mengetahui nilai sejarah di baliknya, kita akan jauh lebih
menghargai tempat ini tentunya. Setelah periode Ottoman di kota ini runtuh pada
tahun 1683, kota ini mengalami pemulihan, dan Ostrihom Square berkembang
sebagai pusat kehidupan sosial dan budaya. Jalanan berbatu berwarna merah
tersusun rapi secara geometris dengan bingkai garis putih yang mengitarinya, membentuk
pola kotak-kotak, khas pemandangan jalan di Eropa. Bangunan bergaya Barok dan
Klasik yang menghiasi alun-alun mencerminkan pengaruh Austria-Habsburg yang
kuat pada arsitektur kota setelah Ottoman meninggalkan wilayah ini. Di tengah alun-alun, terdapat Trinity Square yang dibangun oleh
György Kiss pada tahun 1900 M, menambah nilai keindahan dan spiritualitas
alun-alun ini. Di salah satu sisi alun-alun, berdiri Esztergom Town Hall, yang
awalnya merupakan kediaman Jenderal Vak Bottyán pada tahun 1689. Bangunan ini
mengalami renovasi pada tahun 1729 dan kembali dibangun setelah kebakaran pada
tahun 1750-an sesuai dengan rencana arsitek Antal Hartmann. Gedung berwarna
kuning ini tampak sepi di hari Minggu. Hemmm, apakah kalau gak hari Minggu rame
ya tempat ini? Soalnya yang saya baca-baca, tempat ini jadi pusat kegiatan
sosial masyarakat Esztergom, terlihat dari Café-café yang ada di sekitar
alun-alun ini.
Kami lanjut berjalan lagi ke depan setelah berfoto di alun-alun ini
beberapa menit. Kami berjalan menyusuri kota kecil ini, yang semakin lama
semakin familiar dengan saya. Kenapa? Karena bangunan-bangunannya sangat mirip
dengan yang ada di Turki. Mirip banget dengan rumah-rumah, apartemen, dan
bangunan yang ada di Turki! Ini mah Konya, atau Kutahya malah! Bedanya kalau di
Turki banyak masjid, kalau di sini gereja.
Kami kemudian menyusuri tempat yang bernama Water Town, terletak di
samping aliran “Little Danube”. Disebut Little Danube karena memang aliran ini
adalah aliran buatan yang berasal dari sungai Danube, yang sengaja dibuat
mengalir sampai ke pusat kota. Water Town adalah daerah pemukiman tertua di
Esztergom. Tour Guide kami menjelaskan tentang ini kepada kami.
Selanjutnya, kami berjalan lagi, kali ini menuju ke Esztergom
Basilica. Untuk mencapai tempat ini, kami perlu untuk mendaki sedikit karena
letaknya ada di bukit. Di sana kami melewati sebuah benteng bersejarah,
Esztergom Castle. Esztergom Castle atau Royal Castle dulunya merupakan tempat
para Raja tinggal. Tembok-tembok benteng berwarna coklat yang kami lewati ini,
merupakan bagian dari kastil itu. Di salah satu gerbang benteng, ada pintu
masuk ke sebuah museum. Museum berukuran satu ruangan kecil ini memamerkan
berbagai koleksi lukisan dan seni lainnya, tampak seperti galeri seni. Atau
mungkin memang ini galeri seni. Saya sendiri tidak mengecek sih ruangan ini tuh
apa. Saya gak bertanya lebih lanjut karena ketika kami masuk ke dalam selama
beberapa menit, saya langsung duduk di salah satu batu berbentuk panggung di
sana. Saya cukup mengantuk dan cukup lelah di sini. Ingat, saya kan baru
jalan-jalan selama berjam-jam kemarin, sekarang udah jalan-jalan lagi. Ditambah
kaki saya agak nyeri sejak lari sore beberapa hari yang lalu. Duduk adalah
pilihan terbaik saat itu. Saya juga jujur gak terlalu mengerti seni, yang
membuat saya tidak begitu tertarik dengan berbagai koleksi lukisan di sana.
Setelah beberapa menit di dalam galeri, kami keluar dan lanjut
berjalan ke atas hingga kami tiba di bagian samping, tempat masuk ke gereja
terbesar di Hongaria itu. Ada banyak pemugaran yang dilakukan di bagian
luarnya. Kami akan menghabiskan waktu kurang lebih selama 45 menit di dalam,
sebelum akhirnya berkumpul kembali di depan gereja pada jam 1 siang nanti.
Masuk ke dalam Basilica, terlihat ada beberapa pemugaran di
berbagai sisi, tapi bagian tengahnya bisa kita kunjungi. Altar besar yang besar
nan indah, dihiasi dengan lukisan-lukisan religius; arsitektur bergaya klasik,
dengan pilar-pilar putih tinggi berornamen emas; Kubah megah setinggi 71,5
meter, dihiasi dengan lukisan dan jendela besar di sekitarnya, kebayang tuh
kita di sini seberapa besar Basilica ini; lantai berpola geometris berwarna
merah dan putih menambah unsur kecantikan tempat ini; serta kursi panjang yang
tersusun rapi untuk para jemaat gereja. Tempat ini, murni merupakan karya
arsitektur yang indah.
Dari lantai dasar, kami naik ke atas menggunakan lift ke lantai
dua, tempat panorama di mana kita bisa melihat pemandangan kota Esztergom dan
juga perbatasan Slovakia dari jendelanya. Di lantai ini, terdapat café serta
toilet, tempat orang-orang mengobrol dan beristirahat. Ada juga papan
penjelasan tentang sejarah gereja ini, yang menyatakan bahwa gereja katedral di
kota ini pertama kali dibangun oleh Keuskupan Agung Esztergom pada tahun 1001
di atas bukit kastil (Castle Hill) pada periode Raja St.Stephen. Pada abad
pertengahan, gereja tersebut mengalami beberapa rekonstruksi akibat banyak
terjadinya kebakaran dan pengepungan. Ide untuk membangun versi Basilica
seperti sekarang ini tercetus pertama kali pada abad ke-18 dan butuh waktu 66
tahun dari 1820-1886 oleh empat Uskup Agung untuk penyelesaian pembangunan. Sejak
saat itu, rekonstruksi dan pemugaran katedral menjadi isu yang krusial, apalagi
dengan terjadinya Perang Dunia II yang menyebabkan kerusakan parah pada gereja
ini. Selain itu, material gereja yang mulai termakan usia, dan sering terdampak
dengan kerusakan air akibat lokasinya, turut menuntut perbaikan secara
terus-menerus gereja ini. Lantai satu (bukan lantai dasar) dari gereja ini
menampilkan berbagai pameran koleksi yang tersimpan di gereja ini, termasuk
kita juga bisa melihat rancangan gereja ini dari masa ke masa. Tapi sayangnya,
karena cukup ramai pengunjung, saya urung ke sana. Di foto penjelasan yang akan
saya tampilkan dibawah ini, itu merupakan penjelasan proses rekonstruksi
Pembangunan Basilica dari tahun 2018-2024.
Ringkasannya sebagai berikut:
· 2018: Perencanaan dan evaluasi oleh sejarawan seni, arsitek, serta ahli
restorasi.
- 2020: Rekonstruksi dome dimulai setelah
perencanaan intensif.
- 2023-2024:
- Lantai
interior diganti
dan direnovasi, termasuk pemasangan sistem suara & pencahayaan baru.
- Elemen
furnitur gereja seperti mimbar dan bangku dikembalikan setelah restorasi.
- South
Tower
direnovasi untuk wisatawan, termasuk akses ke dome dan fasilitas modern.
- North
Tower
diperuntukkan bagi administrasi dan komunitas gereja.
- Organ
besar
dibongkar untuk direstorasi dan akan dikembalikan pada pertengahan 2024.
Dengan dukungan
penuh pemerintah Hongaria, rekonstruksi ini merupakan yang terbesar dalam
sejarah Esztergom Basilica. Akan tetapi, proyek rekonstruksi ini tidak selalu
berjalan mulus. Banyak perselisihan pendapat antar keuskupan yang ingin tetap
mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada di Basilica ini. Oleh karena itu,
banyak proyek yang harus disesuaikan rancangannya agar tetap menopang
nilai-nilai yang sudah ada, meskipun dilakukan pemugaran dan modernisasi di
gereja. Bisa dilihat di lantai satu di dalam gereja, (sayangnya, saya gak lihat
hahaha) di sana terdapat rancangan asli dari rekonstruksi gereja, tapi karena
alasan perselisihan pendapat, juga kurangnya dana, apa yang kami lihat sekarang
saja lah yang bisa dibangun.
| Tampak interior Basilica jika tidak dalam keadaaan rekonstruksi |
Setelah puas di atas, saya akhirnya
turun terlebih dahulu dari yang lain dan keluar dari gereja. Di lantai dasar,
saya lihat JK sedang duduk di kursi jemaat, ia sepertinya sedang berdoa. Dari
tadi, saya ingin Salat Jamak Dzuhur dan Ashar. Saya sudah mengitung-hitung
waktu dan jadwal trip kali ini, memang hanya saat inilah waktu yang paling pas
untuk salat. Tinggal 10 menit lagi sebelum jam 1 siang, waktu kita bakal
berkumpul lagi bareng rombongan di depan gereja. Saya langsung mencari space
kosong di rerumputan, di balik dedaunan sehingga tidak terlalu mencolok dengan
sekitar, (walaupun sepertinya ketika Salat ada beberapa orang yang
memperhatikan saya) saya buka Google dan masuk ke website Find Qibla untuk
mencari arah kiblat yang benar, dan salat dengan beralaskan jaket musim dingin
berwarna biru itu. Kebetulan saya masih menjaga wudhu sedari pagi sehingga saya
bisa langsung menunaikan salat. Usai salat dua rakaat Dzuhur-dua rakat Ashar
(Jamak Qoshr untuk musafir), saya langsung mencari toilet karena memang sedari
tadi enggan buang air sebelum salat biar gak perlu wudhu lagi. Di gereja bagian
depan, ada toilet yang terletak di bawah tangga, biaya untuk toilet ini 2 Euro
atau 400 HUF. Tapi saya bilang ke penjaga toiletnya, kalau saya gak bawa cash.
Karena dia juga gak menyediakan opsi cashless, jadinya dia membolehkan
saya untuk pergi tanpa membayar. Sebelum kembali ke rombongan, saya memfoto
bagian depan Basilica, yang di depannya terdapat delapan pilar yang menopang
bagian segitiga dari fasad utama. Di atasnya ada inkripsi berbahasa Latin yang
berbunyi:
“CAPUT, MATER ET MAGISTRA ECCLESIARUM HUNGARIAE”
Yang artinya: “Kepala,
Ibu, dan Guru dari Gereja-Gereja di Hongaria”. Tulisan ini menegaskan peran
penting Esztergom Basilica sebagai gereja utama di Hongaria, baik dari segi
sejarah maupun spiritualitas, karena Esztergom adalah pusat keuskupan tertua dan
memiliki peran penting dalam penyebaran agama Kristen di negara ini.
Setelah berkumpul di luar,
kami kemudian bersama dengan guide lokal, pergi ke sisi samping dari gereja
kembali, kali ini kami akan naik ke puncak tower Basilica, tampaknya ini
merupakan South Tower yang ditujukan untuk para wisatawan. Tower ini cukup
sempit dan terbilang cukup tinggi. Ada total sekitar 413 step tangga kecil yang
perlu dinaiki untuk sampai ke puncak dengan tinggi 73 meter. Teman-teman yang
punya claustrophobia tidak
disarankan untuk naik ke atas. Saya termasuk orang yang paling depan di rombongan,
menaiki tangga sedikit demi sedikit. Kami keluar di pertengahan Tower, yang
memang disediakan untuk beristirahat sejenak sekaligus spot yang bagus untuk
melihat pemandangan dari atas. Jembatan berwarna hijau di atas Sungai Danube
itu, kali ini terlihat sangat jelas dari sini. Setelah beberapa menit berada di
pos ini dan memastikan semua orang telah sampai, kami kemudian lanjut lagi
masuk dan menaiki kembali tangga-tangga kecil ini ke puncak. Kami tidak terlalu
lama berada di sisi luar puncak karena angin yang cukup kencang dan udara yang
begitu dingin. Kami kemudian masuk kembali ke dalam Tower. Tempat ini terlihat
seperti gudang dengan jalan memutar berbentuk lingkaran. Suara kalian akan
terdengar meskipun kalian berada di ujung lain dari lingkaran. Di sinilah kami
mendapat banyak penjelasan tentang rekonstruksi gereja ini, sesuai dengan apa
yang saya tulis di atas. Guide lokal menjelaskan dengan bahasa Hongaria, lalu
crew ELB akan menerjemahkannya kepada kami ke Bahasa Inggris.
Sedikit informasi untuk tiket masuk Esztergom Basilica nih, guys!
Untuk harga masuk meliputi akses ke dome, treasury exhibition, dan
sub-church, dijual dengan harga 4200 HUF per orang. Discounted Price seharga
2000 HUF bisa diakses untuk warga Hongaria dan EEA (European Economic Area) dan
pelajar di negaranya, seperti kami. Untuk harga grup dengan maksimal 50 orang,
bisa lebih murah lagi, mulai dari 19000 HUF dengan paket tour guide berbahasa
Hongaria seperti yang kami dapatkan tadi dan 25000 HUF untuk tour guide
berbahasa asing (baca: Bahasa Inggris). Karena crew ELB nya orang lokal, jadi
kita gak perlu tour guide berbahasa Inggris.
Waktu menunjukkan pukul 2 siang, saatnya kami makan siang. Kami
beramai-ramai pergi menuju ke salah satu restoran bernama ‘Smoke and Smell
BBQ’. Ada dua menu yang bisa kami pilih pada lunch kali ini, yaitu Pork Burger
atau Vegan Tortilla. Gak usah ditanya saya pilih yang mana. Gak mungkin saya
pilih Pork Burger. Kenapa mereka gak coba sediain Chicken Burger aja, sih? Di
luar dugaan ternyata Vegan Tortilla ini enak, guys! Isinya sayur-sayuran
tentunya seperti wortel, bulgur, sawi, dan lain-lain. Saus nya itu yang bikin enak,
sih. Karena giliran Vegan Tortilla duluan yang dapat jatah makan daripada yang
pilih Pork Burger, saya langsung mencari bangku kosong untuk bisa makan lebih
nyaman (Karena tempat di dalam restoran gak muat). Saya duduk di samping salah
satu peserta tour, dia mahasiswi asal Jerman, tepatnya dari kota Dortmund. Kota
yang tidak asing di telinga. Orang yang suka bola tentu tau dengan Borussia
Dortmund. Dia pertukaran pelajar Erasmus seperti saya di ELTE, salah satu
universitas top di Budapest, dengan jurusan kuliah Literatur Jerman di sini.
Sebenarnya dia jurusan pendidikan, tapi karena adanya penyesuaian mata kuliah,
dia akhirnya mengambil Literatur Jerman yang pastinya mudah buat dia. Dia
bilang dia bakal jadi guru setelah lulus nanti. Memang teacher banget
sih perawakan mbak-mbak ini. Saya bertanya ke dia apakah dia seorang vegan, dan
dia jawab iya. Itulah alasan dia memilih Vegan Tortilla. Sedangkan saya memilih
Vegan Tortilla karena saya gak bisa makan babi. Awalnya sih saya bilang, karena
lebih suka tortilla aja, tapi ketika kami mengobrol tentang cuaca di Jerman,
dia mulai bahas tentang Natal dan perayaannya yang menyenangkan, dan menanyakan
ke saya apa saya merayakan Natal juga, saya jawab nggak. “Are you a moslem?”,
tanyanya. “Yes, I am”, jawab saya. “Oh, berarti kamu merayakan Ramadhan
ya?”, tanya nya lagi. Yups, Ramadhan bulan depan, bentar lagi banget. Dia tau
sedikit karena ada beberapa muridnya yang muslim. Mantap, bu guru! Tampaknya
mbak-mbak cantik ini bakalan jadi guru yang baik beberapa tahun lagi.
Setelah semua selesai makan, rombongan kemudian melanjutkan trip ke
Slovakia. Yups, kita bakalan pindah negara dan menghabiskan sisa sore kita di
sana. Untuk sampai ke sana, kita akan menyebrang jembatan besar berwarna hijau
yang dari tadi kita lihat dari kejauhan. Jembatan penghubung antara Esztergom
di Hongaria dan Štúrovo di Slovakia ini bernama Jembatan Maria Valeria, diambil
dari nama putri terakhir Kaisar Austria, Franz Joseph I. Jembatan ini dibangun
pertama kali pada tahun 1893 dan dibuka untuk umum pada tahun 1895. Sempat
hancur di Perang Dunia I, jembatan ini dibangun kembali pada tahun 1926.
Kemudian pada Perang Dunia II, pasukan Jerman yang sedang mundur dari medan
perang, menghancurkan jembatan ini pada tahun 1944. Setelahnya, jembatan ini
tidak dibangun kembali hingga tahun 2001, ketika jembatan ini akhirnya dibuka
kembali untuk umum. Sejak tahun 2007, ketika Hongaria dan Slovakia masuk ke
dalam Schengen Area, jembatan ini bisa dilewati tanpa adanya pengecekan apapun.
Sebelum itu, warga yang hendak menyebrang, perlu menyebrang dengan naik perahu
atau kapal.
Jembatan ini terbilang cukup panjang dan besar. Kalau kita berjalan
dari arah Hongaria, di tengah jembatan di bagian atas, terlihat gambar bendera
Slovakia, yang artinya setelah melewatinya, kita akan berpindah ke wilayah
negara Slovakia. Sebaliknya jikalau ketika kita kembali dari Slovakia, di atas
jembatan akan terlihat bendera Hongaria, mengartikan kita sudah berada di
Hongaria kembali setelah melewati bendera tersebut. Itu artinya bisa saja
tangan kanan kita berada di Hongaria sedangkan tangan kiri kita di Slovakia,
hehe. Di tengah jembatan, kami berfoto bersama. Btw, jembatan ini merupakan
spot yang sempurna untuk melihat pemandangan Esztergom Basilica dan Royal Castle
dari kejauhan. Jembatan berwarna hijau dengan panjang 518 meter ini memiliki
struktur yang unik, di mana jembatan ini terdiri dari 5 bentang panjang yang
berbeda. Hal ini dikarenakan kondisi geologi dasar Sungai Danube yang tidak
memungkinkan untuk memuat bentuk yang simetris dan panjang yang sama untuk
semua bentang jembatan.
Di kota Štúrovo, Slovakia ini jujur sepertinya gak ada yang bisa
dikunjungi ya. Dia sama seperti Esztergom merupakan kota kecil. Bedanya
Esztergom punya sejarah yang melekat untuk negaranya. Adanya Basilica dan Royal
Castle nya bikin Esztergom masih layak untuk dijadikan objek wisata hingga saat
ini. Sedangkan Štúrovo, saya kira menyebrang ke sana saja sudah cukup buat
pengalaman berjalan lintas negara menikmati pemandangan dari atas jembatan.
Kami di Štúrovo pun langsung pergi menuju sebuah Pub. Saya kira
kita akan bermain game di sini, ternyata tidak. Kita cuman minum ataupun makan
di sini bagi yang mau. Saya dan Zao gak memesan apa-apa. Bokek juga gak ada
duit kan, haha. JK dan beberapa orang lainnya memesan satu gelas bir. Dia ini
memang sangat suka bir. Tipikal orang yang hidup di negara yang dingin.
Finland, tentu salah satunya. Apalagi bagi dia, harga bir-bir di sini murah,
gak seperti di negaranya yang apa-apa mahal. Saya jujur gabut ya di sini. Mana…
HP gak ada sinyal juga karena kuota saya kuota domestik. Sialnya, roaming Turk
Telekom saya secara otomatis aktif karena saya berada di negara lain lagi. Hemm
emang kampret lah Turk Telekom ini. Jadi kena tagihan ratusan TL lagi saya.
Sejak kapan coba dia jadi aktif otomatis gini. Akhirnya saya matiin tuh mode
roaming otomatisnya di aplikasi. Tapi tetap kena yang ini, udah terlanjur.
Hadeuh… Ngawur emang. Untungnya di Pub ini ada wifi, saya bisa lah scroll dikit
menghabiskan waktu di sini.
Sampai akhirnya Maghrib tiba, kami pulang. Masing-masing dengan
caranya sendiri, beberapa orang naik Taxi karena memang sudah terlanjur jauh
jarak ke stasiun, beberapa orang seperti saya dan Zao berjalan hingga ke
Esztergom terlebih dahulu, sebelum akhirnya naik bus kota ke stasiun. Sedangkan
JK dia mau jalan-jalan beli bir Slovakia yang enak dulu di Štúrovo.
Sekitar jam 6 sore, kereta berangkat menuju Budapest kembali.
Weekend yang cukup melelahkan, ya! Besok pagi hari Senin jam 8.30 saya ada
kelas lagi. Begitulah ya hari Senin, cukup berat. Gimana, guys…… ada yang mau
ke Esztergom kapan-kapan?
Komentar
Posting Komentar