Welcome to the European Journey! Pengalaman Dua Minggu Pertama di Hongaria

Budapest, 12 Februari 2025

            Saya mulai menulis diary atau catatan ini tepat sepuluh menit sebelum jam 12 malam Waktu Eropa Tengah (CET). Di sela-sela banyak sekali waktu kosong, sayangnya saya belum bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menulis. Ada banyak sekali PR perjalanan yang belum sempat saya tulis untuk melengkapi catatan Notes From Turkiye ini. Seperti cerita tentang kami juara 3 di Athan Cup, cerita pengalaman saya di PPI Eskisehir sebagai ketua perdana organisasi, cerita Volunteering di Sivas -yang aslinya hendak saya tulis sebelum tulisan ini, tapi akhirnya saya memutuskan untuk menceritakan pengalaman saya selama hampir dua minggu di kota Budapest yang indah ini, sebagai mahasiswa Erasmus. Tentunya, catatan tentang Erasmus, rahasia biar bisa dapatnya, proses untuk Visanya akan saya tulis di catatan sendiri. Jadi, semoga saya bisa manfaatkan waktu-waktu kosong yang sangat banyak ini, menyeimbangkan dengan kesibukan kuliah yang sebenarnya gak sibuk-sibuk amat.

            Setelah penantian berhari-hari, lebih tepatnya dua minggu setelah apply visa di AS Visa Solutions -partner resmi Kedutaan Hongaria di Turki untuk mengurus proses Visa, akhirnya Visa saya keluar juga. Agak degdegan memang, karena saya apply barengan dengan teman saya orang Myanmar yang berasal dari kampus yang sama, ESOGU, di tanggal 7 Januari 2025. Nah, visa dia sudah keluar 7 hari kerja setelah proses applying ini -Kami apply di hari Selasa, dan visa dia keluar Kamis minggu depannya-. Dia chat saya kalau dia ditelpon Embassy, dan bilang visanya sudah sampai, tapi mereka gak memberi tahu kalau visanya accepted atau rejected gitu. Di satu sisi kita juga gak expect, bakal keluar secepat ini visanya, tapi di sisi lain juga karena gak kurang persyaratan apapun, kita juga gak ada dugaan bakal ditolak. Dan benar saja, setelah dia datang ke AS Visa Solutions itu untuk mengambil paspornya, dia memberi tahu saya bahwa visanya sudah keluar. Nah itu dia tuh…. Itu… Kok dia udah, kok saya belum??! Apa gara-gara saya ada yang kurang ya? Seingat saya sih gak ada yang kurang ya… Justru dokumen teman saya itu yang berlebih. Gerekinden fazlası. Satu sih yang saya ingat. Di syarat-syarat itu, gak ada persyaratan Learning Agreement untuk dibawa kesana. Untung saya udah print semua-muanya, mengikuti step-step dari si Shinn, teman Myanmar saya itu. Berterima kasih banget saya sama dia, kalo nggak, udah kayak orang bingung saya mau ngapain. Karena emang semua info itu, hampir semuanya lah ya, itu dari dia. Yang berkas-berkas ini bawa, itu bawa, infonya semua dari dia. Karena saya juga bingung, itu emang butuh ya, ini emang butuh ya? Gitu. Selengkapnya di tulisan sendiri deh ntar dibahas. Nah, Learning Agreement yang saya kasih ke mereka itu setelah saya selidiki dan ingat-ingat, itu versi yang belum updated, yang belum ada tulisan ‘action timestamped’ yang artinya versi yang belum ditandatangani. Harusnya kan yang updated itu Learning Agreement nya sudah ditandatangani oleh semua pihak, baik oleh saya, pihak kampus ESOGU, maupun pihak Kampus di Hongaria. Di Learning Agreement yang saya kasih itu, cuman ada tandatangan saya doang. Makanya saya kepikiran, apa gara-gara ini ya? Seminggu tuh ada was-was saya. Dan untungnya, tepat seminggu setelahnya, di hari Kamis juga, tepat ketika saya lagi jadi penerjemah tour guide jamaah Indonesia Umrah plus Turki, saya ditelpon Embassy. Mereka bilang, kalau visa saya sudah jadi dan sudah bisa diambil. Ada cerita lucu disini, ketika itu, hari Kamis, hari terakhir saya meng-guide jamaah. Di bus, ketika memulai tur kita hari itu, saya meminta doa kepada jamaah untuk supaya visa saya cepat keluar dan saya bisa berangkat Erasmus akhir bulan ini (Januari). Dan benar saja, beberapa saat setelah itu, kira-kira sejam setelah itu, ketika kami menyusuri kompleks Masjid Ayyub Al-Anshari, saya mendapat telpon yang sudah seminggu saya tunggu-tunggu. Refleks saya setelah telpon saya tutup, “Alhamdulillah Bapak-Ibu, visa saya sudah jadi”. “Alhamdulillah, selamat mas Ari!”, kata jamaah. Hahaha. Seru banget waktu itu pokoknya. Mungkin terdengar kebetulan, tapi apapun itu, doa calon jamaah umroh insyaAllah baik-baik dan dikabulkan oleh Allah.

Dua hari sebelum keberangkatan, saya mengadakan acara tasyakuran, mengundang banyak anak-anak PPI untuk makan-makan di rumah. Saya bilang ke teman-teman ketika itu, tasyakuran semacam ini memang saya meniru apa yang dilakukan orang tua saya setiap ada rezeki berlebih. Tidak pernah diajarkan secara lisan memang, tapi lebih berbekas di saya karena langsung diajarkan secara tindakan. Di rumah saya, di Lampung, saya dapat kabar dari kakak saya kalau di rumah sedang ada tasyakuran potong kambing (tanggal 27 Januari) di rumah. Tasyakuran ini untuk mensyukuri lulusnya kakak saya di tes CPNS Kementrian Agama, dan keberangkatan saya Erasmus di Hongaria. Kami biasanya mengundang sanak saudara untuk datang, baca Qur’an bersama, berdoa untuk sohibul hajat, dan pastinya makan-makan. Kala acara seperti ini, sanak saudara berkumpul, masak-masak bareng di rumah saya yang membuat hubungan kekerabatan di keluarga kami terbilang erat, baik di sisi ayah maupun ibu. Tentunya ini priviledge yang patut disyukuri karena gak semua mempunyai hubungan keluarga yang akrab semacamah  ini. Terlebih rumah kami memang berdekatan antar keluarga, memudahkan jika ada acara semacam ini. Terkadang pun ya, gak ada sesuatu yang khusus pun, acara tasyakuran juga diadakan. Saat saya tanya misalnya, “Mah, tasyakuran gini emang ada apa?”, tanya saya. Mamah saya jawab, “Ya gak ada, pengen tasyakuran aja”, gitu…. Jadi memang ini yang menginspirasi saya untuk membuat hal serupa, mengundang teman-teman PPI di sini yang sudah saya anggap sebagai sanak saudara saya di Turki.

Saya membeli tiga ayam, beras 2,5 kg, dan kami juga masih punya persediaan daging kambing, yang dikasih waktu Idul Adha tahun kemarin. Wkwkwk gak abis-abis emang. Dulu, kami dapat sekitar 5 plastik besar, masing-masing plastik, ada 3-5 kg daging atau rusuk hasil kurban. Makanya freezer kami tuh penuh. Waktu ambil visa di Ankara, saya juga tasyakuran di rumah sahabat saya, Ai. Dia yang masak, saya yang beli bahan-bahannya. Dia mengundang teman-teman satu sirkelnya yang juga merupakan teman-teman saya, saya juga undang Ikmal dan Azra supaya ada teman laki-laki yang ikut makan-makan ini. Ya kali saya doang kan laki-lakinya. Kan, gak enakan kita juga ya, haha. Di tasyakuran malam itu, tepatnya tanggal 28 Januari di rumah saya, di Eskisehir, ada sekitar 30-an orang yang datang. Ternyata, masakan kita ludes habis wkwkwk. Kirain bakal ada lebih buat bekal, eh habis semua. Alhamdulillah. Kami buat, ayam kecap, sup daging, nasi -sudah pasti-, bakwan, segala jenis minuman yang ada di market kayak susu, soda, jus-jus kemasan gitu ada semua, terus juga ada yang bawa tiramisu cake, dan kue ulang tahun juga. Semuanya habis hahahaha. Itu aja kalo gak ingat untuk sisain lauk untuk si Om (Hilman), gak ada tuh dia dapat sisa. Dinar aja yang tadinya saya undang, dan dia bilang insyaAllah datang telat, harus saya kabari kalau makanan sudah habis. Untungnya dia belum berangkat. Haduh-haduh. Emang perut karet semua, hahaha.

Tanggal 30 Januari dini hari, saya berangkat ke Istanbul naik kereta. Saya sengaja tidak ambil kereta cepat, biar bisa tidur nyenyak malam hari di kereta yang agak lambat jalannya (6 jam lebih). Sialnya, saya tembus ketiduran. Jadi setelah salat subuh sekitar jam 7 pagi -memang subuh di Istanbul ketika itu jam segituan kalau musim dingin-, saya tidur lagi. Saya kira perjalanan masih jauh, walaupun saya sudah di Pendik, Istanbul. Saya tidur lagi kan, karena saya kira söğütlüçesme -nama stasiun tempat saya berhenti- itu stasiun terakhir kereta yang pastinya saya bakal dibangunin juga nantinya kalau sudah sampai. Tapi saya salah, saya bangun dan tersadar kereta sudah berhenti di stasiun Bakırköy, kelewatan satu stasiun TCDD. Saya yang buru-buru mau turun karena kereta mau jalan lagi, langsung mengangkut tas dan koper saya keluar. Sialnya, tumbler saya ketinggalan di tempat duduk saya. Dan ketika saya mau ambil, keretanya sudah jalan. Ya sudahlah, gimana lagi, ikhlasin aja.

Ketika itu jam 8 pagi dan karena pesawat saya jam 2 siang, saya memang mau mampir dulu ke restoran Indonesia tempat teman saya bekerja. Kami biasa panggil dia, Prof Rigel. Dia ini sempat 6 bulan kira-kira tinggal di rumah saya, dan di situ kami mulai jadi teman dekat. Dia ini lulusan ITB, S2 nya di Brazil. Jadi guru Fisika di Indonesia, gajinya tidak memuaskan dan lingkungan kerjanya gak bagus katanya. Akhirnya dia coba-coba ke Turki cari kerja. Datang pakai visa turis, gak bisa bahasa Turki, di Eskisehir lontang-lantung akhirnya, sempat kerja kasar di beberapa tempat, di pabrik maupun restoran, dan gak pernah lama karena berbagai alasan. Entah itu karena telat dibayar gajinya, dipecat karena sering terlambat, dan alasan-alasan lainnya. Karena memang orang ini gak pantas kerja di tempat kasar. Dia itu cerdas dan luar biasa ahli kalau urusan Fisika. Tapi sayangnya di Indonesia gaji dia jadi guru kecil, dan gak selayaknya kecil. Menurut saya, orang kayak dia, pantas dapat gaji dua dijit. Dia juga udah kayak jadi penyelamat buat Reza, yang benar-benar kesusahan di Pelajaran Kimia maupun Fisika di jurusan Teknik Pertambangan dia, untung ada Prof, banyak terbantu. Btw, Prof Rigel ini teman kakaknya Reza di ITB dulu. Makanya ketika ke Turki, dititipinnya ke Reza, roommate saya. Sekarang, dia kerja di salah satu restoran Indonesia di Istanbul. Walaupun gaji dia dibawah UMR Istanbul, setidaknya dia dapat tempat tinggal dan makan gratis disana, sembari menabung buat bisa pulang ke Indonesia lagi. Dia bilang, suatu saat akan balik lagi ke Brazil. Jadi dosen di sana, atau setidaknya dia pergi ke tempat yang memberikan dia pekerjaan yang layak. Emang secinta itu sih dia sama Brazil. Kami mengobrol sekitar satu jam di resto. Resto jam 9 pagi memang belum buka. Saya sengaja mampir karena memang Prof rencana akan bekerja di sana sampai bulan Juni sebelum balik pulang ke Indonesia. Saya karena Erasmus sampai tanggal 30 Juni, takut tidak bertemu lagi, akhirnya mampir di sana, mengobrol, sekaligus pamitan. Dia sudah jadi teman mengobrol saya ketika masih di rumah kami. Kasihan karena sempat menganggur beberapa waktu di rumah karena gak dapat kerja yang cocok di Eskisehir, sampai harus menunggak bayar rumah juga. Dia juga banyak gak enakannya ke kami, katanya. Makanya terkadang saya juga masak lebih dan makan bareng. Dia bilang dia hutang budi udah dibaikin selama ada di Rumah Berseri -Sebutan untuk rumah kami-. Saya sih yakin ya Prof Rigel ini potensial banget buat sukses di masa depan nanti. 5 tahun lagi lah, udah berubah itu pasti nasibnya, ntah itu di Brazil, maupun di Indonesia, we’ll never know. Serba bisa soalnya dia.

Jam 10 pagi, saya berangkat naik Marmaray ke Bandara Sabiha Gökçen yang ada di Istanbul Anadolu, di daratan Asia. Saya berangkat dari daerah Taksim di Istanbul Eropa. Sengaja saya naik Marmaray daripada naik Havabus (Bus Taksim-Bandara) biar gak terlalu mahal dan menghindari macet. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam sampai di stasiun Pendik, stasiun terdekat dengan bandara. Di Marmaray, saya bertemu dengan Teo, orang Italia yang ternyata juga sedang menuju bandara. Dia 3 hari di Istanbul untuk operasi giginya yang rusak karena cidera. Sekarang giginya putih bersih kayak giginya Firmino, mantan pemain Liverpool. Hahaha, giginya putih banget emang. Dia bilang dia bakal turun di durak Ayrılık çesme atau Kazılıçesme saya lupa. Setelah itu naik taksi. Bro, itu masih jauh dari bandara! Bakal habis berapa duit tuh kalo naik taksi. Saya bilang, ikut saya aja, nanti turun di Pendik. “Ok bro, I follow You”, kata dia. Bareng lah kami ke Bandara. Di sepanjang perjalanan kami mengobrol banyak. Saya bilang ke dia, kalau ada kesempatan, dan semoga aja ada, saya beberapa bulan ke depan, akan mampir ke Milan, tempat dia tinggal. Orang Italia ini pada ekstrovert ya kayaknya, hahaha. Enerjik banget dia. Kalau gak dia ajak ngobrol saya dulu, saya gak bakal tau kalau dia orang Italia dan mau ke bandara juga. Turun di stasiun Pendik, kami makan dulu döner di Maydonoz, salah satu restoran döner terenak di Turki. Dia semua yang bayarin tuh. Kata dia di sini harga apa-apa tuh murah banget, udah kayak gratis, kata dia. Ya memang Turki kalau dibanding dengan negara Eropa lain, dia yang paling murah. Ya, daripada uangnya dia bayar untuk naik Taksi, mending bayar buat ini kan, kenyang kami. Kami juga bungkus satu yang ukuran Large untuk makan di pesawat atau di tempat tujuan nanti. Soalnya, di pesawat gak dapat makan. InsyaAllah, mampir ke Italia, ketemu lagi sama dia, jelajah Milan, Roma, dan sekitarnya, sekaligus wisata kulineran.

 



Singkat cerita, saya sampai di Budapest kira-kira jam setengah 4 sore. Perjalanan Istanbul (SAW) menuju Budapest (BUD) menggunakan pesawat memakan waktu 2 jam 15 menit. Ada delay lebih dari se-jam dari pesawat saya, makanya sampai di Budapest nya pun telat se-jam dari yang seharusnya. Seturunnya dari pesawat, saya dan penumpang lainnya segera menuju imigrasi, di sana paspor kami diberi cap bandara dan diperbolehkan lewat. Ketika hendak keluar, petugas menanyakan saya apakah saya punya rekening koran yang menyatakan kesanggupan finansial saya selama di Hongaria. Saya jawab, saya tidak punya, saya dibiayai oleh kampus sebagai penerima beasiswa pertukaran pelajar Erasmus+. Setelah jawaban saya diterima, saya keluar dari bandara, ke mesin tiket, membeli tiket bus bandara ke kota seharga 2200 HUF atau sekitar 98 ribu rupiah. Seharusnya kalo sesuai nilai tukar XE, 93 Ribuan rupiah, tapi karena saya bayarnya pakai kartu debit atm Bank Indonesia, hitungannya tentu berbeda. Hal ini lah yang semenjak kedatangan saya di negara ini, berusaha saya atasi supaya saya bisa berhemat lebih.

Untuk bisa sampai ke kota dari bandara, buat teman-teman yang barangkali hendak berkunjung ke Budapest, bisa keluar bandara terlebih dahulu dan mencari mesin tiket. Pilih yang ada ikon pesawatnya . Kalau gak ada cash, gak usah khawatir karena mesinnya menerima pembayaran pakai kartu kok. Naik bus nomor 100E, dan turun di destinasi tempat yang kalian tuju. Untuk opsi ini biayanya 2200 HUF. Ada juga opsi lain yang lebih murah, tapi gak disarankan kalau kalian gak ada kuota internet, atau takut nyasar karena belum terlalu familiar dengan sistem transportasi umumnya. Kalian bisa naik bus nomor 200E, lalu turun di stop Kobanya-Kispest, lalu naik lagi metro (kereta bawah tanah) M3, menuju stop terdekat dengan tujuan kalian. Nah untuk biayanya lebih murah, yaitu 450 HUF (tarif bus normal) untuk satu transportasinya. Karena kita setidaknya akan naik dua kali transportasi, maka kita minimal harus beli dua tiket. Jadi memang disini sistemnya beli tiket setiap kali naik transportasi umum -selanjutnya akan disebut sebagai transum-. Jadi kira-kira biayanya 900 HUF untuk dua tiket, atau sekitar 38 ribu sesuai nilai XE. Selain lebih murah, ini juga lebih cepat karena naik metro yang gak bakal macet dan geraknya lebih cepat. Tapi balik lagi, untuk newcomers saya sarankan untuk naik bus 100E yang lebih simple daripada nantinya kebingungan.

Di perjalanan, saya ambil sedikit video dengan HP saya yang innalillahi jelek banget kameranya buat video. Burem iya, goyang-goyang juga iya. Nyesel amat ini mah gak beli dulu HP bagus sebelum berangkat hahaha. Emang pertimbangannya sih lebih baik menabung untuk keliling Eropa nantinya daripada beli HP baru. Cuman emang sayang banget kalo gak bisa mengabadikan momen sebaik-baiknya di sini. Makanya saya kalau jalan-jalan sama orang tuh, saya andalin HP dia buat ambil dokumentasi wkwk. Kanan kiri jalan sudah terlihat bangunan-bangunan dengan arsitektur Eropa yang khas, gerejanya yang megah, dan jalanannya yang mulus dengan transum yang bermacam-macam. Kelak saya tau bahwa fasilitas transum di Budapest adalah salah satu yang terbaik di Eropa.

Tempat pertama yang saya tuju tentunya kantor manajemen yang mengurus apartemen yang bakal saya tinggali selama 5 bulan kedepan. Saya harus mengambil kunci apartemennya terlebih dahulu. Untuk itu saya turun di stop Astoria. Petaka untuk saya karena saya gak ada internet. HP tethering saya lobet dan karenanya gak bisa dapat wifi karena HP itu mati. Alhasil, saya sudah nemu bangunannya nih, tapi gak tau ruangannya yang mana, flat nomor berapa, dan saya gak bisa hubungi siapa-siapa karena gak ada internet. Saat itu, kebetulan karena ada orang yang hendak keluar, saya langsung masuk saja ke dalam gedung. Karena saya sebenarnya gak tau nomor yang harus saya pencet belnya nomor berapa. Nah, model bangunan di Hongaria ini unik ya, mereka bentuknya leter U gitu, jadi tengahnya kosong entah buat apa. Hampir semua bangunannya seperti ini. Bangunan yang saya masuki ini memiliki empat lantai dengan tangga dan lift yang bisa dinaiki maksimal oleh empat orang. Berbekal alamat yang diberikan lewat email, saya bertanya ke orang-orang yang lewat sambil berkeliling mencari-cari ruangan yang dimaksud. Ada banyak sekali flat disana dan masalahnya, saya tidak tau cara membaca alamat yang tertera itu. Perusahaan yang mengurus apartemen saya namanya Guest Student Company, opsi yang tersedia memang paling murah di antara yang lainnya. Alamatnya di sini, 1072 Budapest, Rákóczi út 10. 1/3 doorbell 11. Nah tuh gimana cara bacanya? Yang saya tahu, saya sekarang sedang di dalam gedung nomor sepuluh dari jalan Rákóczi út. Lantai berupa gedungnya, nomor berapa ruangannya, saya tidak tau. Ada beberapa orang yang saya tanya dan tidak ada jawaban yang benar. Salah satunya, couple cowo-cewe yang bilang ke saya kalau ini gedung nomor 7, bukan 10. Lahhh?! Dan ketika saya ikut dia keluar gedung, dia menunjukkan ke saya nomor gedung yang tertulis di atas pintu besarnya, 7. HEHH? Kok bisa, saya yakin kok saya masuk nomor 10. Akhirnya mereka menunjukkan saya alamat gedung nomor 10 melalui Google Maps. Dan setelah saya lihat gambar gedungnya, bener ini mah, saya masuk dari sini. “Apa gedung ini saling terhubung ya antar nomornya?”, tanya saya pada mereka. Tentang itu, mereka jawab kalau mereka tidak tau. Saya akhirnya kembali lagi ke depan gedung nomor 10, dan kebetulan lagi ada orang yang keluar, sehingga saya bisa langsung masuk. Memang ya guys, masuk gedung ini tuh udah kayak vibesnya Harry Potter gitu. Bangunan apartemen besar dengan 4 lantai  berletter U (Sebenarnya sih kotak ya kalau di hitung dengan jalan tangga dan liftnya) dan lapangan kosong di tengahnya. Dari luar tampak seperti bangunan tua khas Eropa berwarna putih dengan banyak jendela yang menghiasinya. Untuk kedua kali saya masuk ke gedung ini, saya kali ini berpapasan dengan orang Pakistan (tebakan saya saja sih) dan bertanya tentang alamat Guest Student Company, dia langsung tahu dan menunjukkan saya tempatnya. Naik tangga, belok ke kiri, jalan terus katanya, nanti langsung ketemu. Tentunya semua percapakan saya di sini pakai Bahasa Inggris ya… Saya gak mengerti sama sekali dengan bahasa Hongaria. Setelah sekitar setengah jam ada kali ya… buat cari-cari ruangan ini, akhirnya ketemu juga. Saya sempat memencet belnya, setelah tidak ada tanggapan, saya coba buka pintunya karena saya duga tempat ini adalah kantor, as they said “come to our office” in the email. Tapi setelah membuka sedikit, saya tidak jadi masuk karena ragu. Saya akhirnya memencet belnya lagi. Seseorang terdengar berjalan ke arah pintu, bukan untuk membukakan pintunya, tapi untuk menutup pintu yang sudah saya buka sedikit itu, lalu dia pergi lagi. Hahaha. Apa-apaan sih. Saya pencet belnya kembali. Setelah itu pintu dibuka, dan saya bilang bahwa saya adalah salah satu penyewa di salah satu apartemen mereka. Setelah saya tunjukkan email dari mereka, saya dipersilakan untuk masuk dan ditawari untuk minum. Saya juga minta izin ke mereka untuk menumpang charger HP saya yang sudah sekarat itu. Saya kemudian dipanggil masuk dan menulis nama saya. Kemudian saya diminta untuk menunjukkan bukti pembayaran dan kontrak yang sudah ditandatangani. Setelah mengirim keduanya ke email mereka, saya diberi kuncinya dan diberi tahu bahwa biaya sewa saya sebesar 65000+20000 HUF. 20000 HUF itu untuk utility fee seperti pemanas, listrik, air, wifi, dan cleaning fee. Saya diminta juga untuk datang lagi esok hari untuk pembayaran sewa bulan pertama. Tentunya cleaning di sini hanya dilakukan di ruang tengah saja. Kebersihan kamar menjadi tanggung jawab penghuni masing-masing. Nah, saya ketika itu langsung menginterupsi, saya bilang kalau kontrak saya dengan jelas di situ tertera biayanya 55000 untuk biaya sewa dan 20000 untuk biaya utilitas. Mengenai mereka sudah menaikkan harga, atau salah tulis, atau apapun itu, yang jadi rujukan utama di sini tentu saja kontrak yang sudah ditandatangani, kan. Dan karena saya sudah menunjukkan angka yang tertera dengan jelas di kontrak, mereka akhirnya mengiyakan saya. Sepertinya harganya sudah update sih, karena di papan tulis yang ada di ruangan itu, tertulis biaya sewa mereka 65000+20000 HUF. Beruntung lah saya sudah kontrak sejak akhir November. Saya juga minta mereka untuk pembayaran, diakhirkan jadi minggu depan, bukan besok, karena beasiswa saya belum cair. Lagipula, saya bilang, kontraknya tertulis untuk pembayaran dilakukan sebelum tanggal 5 untuk setiap bulannya. Mengenai itu,  mereka meminta saya untuk mengabari lewat email saja nanti. Kemudian saya keluar untuk pergi ke apartemen saya. Ada satu hal juga yang saya syukuri. Jadi, di kontrak tertera bahwa saya harus membayar deposit untuk kunci apartemen dan kunci kamarnya. Masing-masing kunci depositnya sebesar 20 Euro. Hemm lumayan. Saya juga sempat berpikir tentang deposit macam apa ini, dan kok mahal banget. Eh taunya gak mereka minta. Dan setelah saya tanya roommate saya juga, memang biasanya gak diminta. Baguslah. Btw, ada biaya deposit sebesar dua kali harga sewa (150000 HUF) yang harus dibayar di awal untuk bisa memproses kontrak. Uangnya nanti bisa diambil kembali di akhir kontrak.   

Saya akhirnya sampai juga di depan apartemen Ulloi Ut no 52B, tempat tinggal saya selama 5 bulan ke depan. Saya masuk ke dalam dan bentuknya gedungnya sama saja, kotak dengan lapangan kosong di tengahnya. Tapi kali ini ada beberapa sepeda dan motor yang terparkir di sana. Di alamat saya tertulis bahwa saya tinggal di fsz/1. Fsz/1 artinya ground floor atau lantai dasar, kamar nomor satu seperti itu. Saya akhirnya masuk ke flat nomor satu. Penghuni di dalamnya keheranan karena tidak ada slot kosong di flat mereka. Setelah melihat kunci yang saya pegang, di situ tertulis flat 0 room 1. Artinya bukan flat ini, tapi flat di sampingnya. Thanks buat orang yang sudah membantu mengatasi kebingungan saya ini. Saya kemudian masuk ke dalam dan kali ini benar. Roommate saya, Reza, mahasiswa asal Iran itu bilang bahwa ada dua slot kosong di kamar. 4-bedded room ini, dirancang untuk ditinggali oleh empat orang. Ada dua orang yang tinggal di bawah, dan dua orang tinggal di atas. Di mana ada loft kayu buatan yang memungkinkan dua orang untuk tinggal di atas. Loft ini didukung oleh balok kayu dan diakses melalui tangga kayu, sehingga bisa memanfaatkan ruangan vertikal secara efisien. Setelah mengecek bahwa di atas, keadaannya masih berantakan dan tampak seperti ada dua orang yang tinggal di sana, saya memutuskan untuk mengambil tempat di bawah. Tempat ini sangat strategis karena terletak di samping pemanas dan jendela ruangan yang menghadap ke jalan yang ada di samping gedung. Tiap orang dapat fasilitas kasur, lemari pakaian satu, lemari buku satu (saya fungsikan sebagai lemari bumbu-bumbu dan makanan), meja belajar dan kursi nya yang nyaman (kursi besar yang ada rodanya, kayak yang di kantor-kantor). Di kasurnya sudah ada spreinya tapi tidak ada bantalnya. Saya tanya ke Reza apakah mereka tidak memfasilitasi kita bantal? Tidak ada, katanya. Tapi dia bilang dia punya dua sehingga saya bisa pakai satunya. Tapi saya lihat sih sarung bantalnya sama polanya dengan sprei kasurnya. Ini mah akal-akalan si Reza aja kali, pikir saya. Itu memang harusnya untuk saya, pikir saya kala itu. Jadilah saya bereskan semua pakaian di lemari, mengkondisikan isi koper, mengeluarkan dan menaruhnya di tempat-tempat yang telah tersedia. Saya ketika itu baru sadar kalau sekitar jam setengah 5 itu sudah maghrib dan sekarang sudah jam 7 lewat dan jam segitu tuh sudah Isya. Posisi saya belum salat maghrib, makanya langsung saya qadha ketika itu juga.  Saya yang lapar juga segera membuka tas dan memakan döner yang sudah dingin itu. Yang penting untuk sementara saya bisa kenyang. Di hari-hari pertama ini tampaknya saya harus beli banyak barang seperti piring, sendok, panci, selimut, gayung (karena taulah ya, toilet duduk Eropa itu gak ada flush untuk ceboknya), gelas, pisau dan juga sendal (karena di flat, semua orang menggunakan alas kaki sendal). Untuk sendok dan peralatan masak seperti panci, talenan, dan lain-lain, saya beruntung karena dipinjamkan oleh roommate saya yang lain, Adil, salah satu mahasiswa asal Bangladesh. Saya malam itu juga keluar ke toko Chinese -atau bisa jadi Vietnam- di samping apartemen untuk membeli beberapa barang, termasuk juga beras. Saya di hari-hari pertama ini bakal sering buat nasi goreng tampaknya. Saya bawa banyak bumbu Indo banyak dari Turki yang masih banyak tersisa dari rumah. Royco, bumbu nasi goreng, saus tiram, dan minuman renceng kayak Cappucino dan Energen juga gak ketinggalan. Selain itu saya bawa sunscreen, parfum, juga obat-obatan lengkap dengan vitamin-vitamin yang memang saya selalu siap sedia di Turki.

Sekarang saya ingin memberi sedikit info mengenai tempat membeli kebutuhan harian. Kalian bisa pergi ke minimarket macam Aldi, Lidl, ataupun Prima untuk membeli makanan sehari-sehari. Saya belum pernah pergi ke Aldi, setidaknya hingga saya menulis catatan ini, tapi katanya sih harganya mirip dengan Lidl. Saya diberi tahu Reza untuk membeli beras di Aldi karena kualitasnya bagus dan harganya paling murah dari yang lain, sekitar 500-an HUF. Sampai saat ini, beras yang saya temukan paling murah, dijual di Prima dengan harga 599 HUF untuk grade B, dan 649 HUF untuk grade A. Biasanya saya beli yang grade B, karena kelihatannya gak terlalu berbeda kualitasnya dengan grade A. Selain beras, saya tidak beli kebutuhan harian di Prima, biasanya di Lidl. Untuk kebutuhan barang seperti selimut, bantal, gelas dan barang-barang rumahan seperti ini, belilah di Pepco. Saya membeli bantal (kecil sih tapi cukup lah ya) di sana dengan harga 500 HUF, selimut dengan harga 1800 HUF, dan gayung (aslinya sih ini pot bunga hahaha) seharga 400 HUF di sana. Pokoknya Pepco opsi terbaik dan teraman di dompet di antara opsi lain. Walaupun, saya beli piring, gelas, sendal, dan pisau di toko Chinese/Vietnamese sebelah apart sih. Memang masih termasuk murah di sana untuk beberapa barang. Untuk aplikasi seperti Go Food atau Yemek Sepeti kalau di Turki, di Hongaria, ada Wolt (biru) dan Foodora (pink). Oh ya, ada sedikit info unik. Air putih yang dijual di market dibagi menjadi dua, satu yang bungkusnya berwarna Pink, itu artinya air minum Aqua biasa. Satu lagi berwarna biru yang artinya itu air mineral yang kaya akan kandungan mineralnya, atau biasa disebut non-Aqua. Nah, di awal saya salah beli tuh, maunya minum enak, kok malah kayak ada kandungan soda mineralnya. Jadi, jangan salah beli guys! Air putih pun aslinya ya gak harus beli sih karena air dari wastafel flat pun bisa diminum. Jadi semisal tumbler saya gak ketinggalan di kereta ya.... saya pasti isi ulang terus itu dan bawa kemana-mana. Di sini juga ada reward untuk setiap botol yang kita kembalikan ke mesin pengolah botol plastik. Biasanya 50 HUF tiap botolnya dan itu tertera di kemasan.

Nah, saya ingin memperkenalkan sedikit penghuni flat 0 gedung Ulloi Ut 52B ini. Yang pertama roommate saya, Reza, dia orang Iran, sudah tiga tahun kuliah di Hongaria, mandiri non beasiswa. Uang semesteran dia 30000 Euro. Hampir sepuluh kali lipat UKT saya di Turki. Dia jurusan Computer Science. Satu lagi, namanya Adil, orang Bangladesh, dia jurusan Bisnis, dan baru datang tahun lalu. Ukt dia 36000 Euro. Gak ngerti juga kenapa jurusan bisnis lebih mahal dari jurusan komputer. Mereka berdua berkuliah di Universitas top 10 Hongaria dan termasuk salah satu universitas top di Eropa, Eötvös Loránd University, atau biasa lebih dikenal dengan ELTE. Reza cerita ke saya kalau dia beberapa waktu yang lalu, telat untuk bayar biaya semesteran seminggu dari batas waktu yang ditetapkan karena ortunya punya masalah ekonomi di Iran sana sehingga gak bisa untuk kirim uang tepat waktu. Akibatnya status kemahasiswaan dia di-suspend. Reza sudah kirim banding melalui email, tapi sepertinya sambutannya kurang baik. Terakhir, uang dia yang sudah dibayarkan sudah bisa dikembalikan. Tapi masalah untuk dia karena registrasi pelajaran sudah ditutup dan karenanya untuk semester ini, masih belum jelas untuk dia. Apa dia bisa ambil internship untuk mengisi waktu kosongnya semester ini atau gimana, dia juga gak tau. Nanti, dia bilang untuk datang ke kampus lagi untuk menanyakan opsi mendaftar ulang semester depan. Setelah itu dia bisa untuk transfer nilai semester yang sudah ia lalui dan lanjut kembali. Hemm parah sih sebenarnya kampusnya, strict banget. Reza bilang, “They have no compassion, bro. They only care about money. When I have an economic problem and sent the money late, they fu**ed me up and suspend me from the university”. Selain itu, pernah juga dia hendak membayar semesteran, dia dapat email untuk ubah uangnya dari Euro ke Forint (HUF). Tapi kemudian setelah sudah ditukar ke Forint, dia diminta untuk bayar pakai Euro. Padahal jelas-jelas ada emailnya loh, wkwkwk. Ngaco emang. Gara-gara itu, dia hilang sekitar 2000 euro cuman karena biaya exchange ini. Adil juga bilang dia gak bakal selesaikan pendidikannya di ELTE. Dia berencana untuk pindah ke negara lain seperti Jerman, yang kuliahnya gratis. “Gua gak bakal mau ngeluarin 36000 tiap semesternya. Too much, brok!”, katanya. Ya iya sih, mahal banget itu buat kita yang asal dari negara berkembang. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari, mereka berdua ambil part-time sebagai wolt partner, menjadi food delivery. Pelajar memang diizinkan untuk bekerja maksimal 24 jam seminggu, walaupun sebenarnya gak ada yang peduli juga kalau lebih. Adil punya sepeda, sedangkan Reza punya motor. Tapi bukan motor kayak di Indonesia yang bisa boncengan gitu. Motor dia CC nya kecil sehingga gak perlu plat karena gak kencang-kencang juga. Selain itu, gak bisa angkut beban terlalu berat juga. Penghasilan jadi food delivery ini lumayan untuk bisa hidup bulanan, tapi gak bakal bisa menutup besarnya biaya semesteran. Beruntung saya, mereka berdua ini baik dan gak banyak bicara. Reza ini unik dia, kalem, tapi lebih ke lemes sih orangnya, udah kayak pengidap narkoba hahaaha (canda). Tapi dia selalu bantu saya kalau saya butuh. Ntah nanya info-info market murah atau menjelaskan saya tentang seisi flat, kayak cara kerja mesin cuci, pemanas, dan lain-lain. Adil juga orangnya bersih, tampak cerdas, dan sering mengobrol dengan saya banyak hal, dari tentang bagaimana memandang hidup, sampai membahas tentang masak dan buka puasa bareng bulan Ramadhan nanti. Saya pernah buatkan dia bakwan dan dia suka banget. Dia bilang, nanti waktu Ramadhan, saya harus masak sesuatu, dia juga masak masakan negaranya. Sedangkan di kamar sebelah, ada orang-orang India yang mereka di sini datang sebagai pekerja. Umur mereka 20 an sama seperti kami. Tapi mereka baik loh, dan Alhamdulillahnya gak jorok. Ya, saya gak tinggal sekamar sih, jadinya gak tau persis. Dannn, mereka juga suka bakwan yang saya buat.

Ada drama sedikit beberapa hari yang lalu, ketika saya dan Reza kembali ke flat setelah kami ambil uang di atm dari Corvin Plaza, di rumah sudah ada orang yang tampak kebingungan. Dia Hasnan, orang Pakistan, lahir di Kuwait, dan mahasiswa yang baru datang tahun kemarin juga di Hongaria. Dia heran siapa yang tinggal di sana, sambil menunjuk kasur tempat saya tidur. Ternyata, dia ini penyewa yang tinggal sebelum saya, dan sebenarnya dia belum keluar dari apartemen ini. Dia cuman pergi selama kurang lebih 20 hari, mengambil semua barang-barangnya, dan kembali lagi. Lah kok…. di tempat tidur dan lemarinya sudah penuh dengan barang orang lain, katanya. Ternyata ada kesalahpahaman dari roommate saya, terutama Reza yang mengira Hasnan sudah pergi dan gak balik lagi kesini untuk tinggal. Oleh karena itu, marah besar lah dia ke Reza, kenapa gak bilang kalau dia masih tinggal di sini dan hanya pergi beberapa hari saja. Memang semua barangnya diangkut karena dia gak punya kunci lemari. Tapi masalahnya, kontraknya pun belum habis. Waduhh. Sprei dan bantal yang saya pakai pun itu punya dia juga ternyata. Dia sepenuhnya menyalahkan Reza dan ada sedikit tensi panas selama beberapa hari ke depan. Namun, Hasnan gak menyalahkan saya sama sekali dalam hal ini. Saya sendiri pun gak keberatan untuk pindah ke atas sebenarnya, karena memang dia ada hak untuk tinggal di tempat saya sampai kontraknya habis. Tapi setelah mengobrol dan dia bilang bahwa awal bulan depan dia akan pindah, dia akhirnya mengalah untuk tinggal di atas. Mungkin dia pikir bakal ribet buat saya untuk pindah ke atas, lalu balik lagi ke bawah setelah dia pindah ya… Tapi beberapa hari setelah itu, kadang-kadang Hasnan melampiaskan kekesalannya lagi pada Reza, dan akhirnya dia pindah lebih cepat sekitar 3 hari setelah dia datang kembali ke sini. Di satu sisi, Hasnan juga pamit ke saya dan bilang kalau kontrak saya habis nanti, segera pindah saja ke apartemen yang lebih baik, dan juga dia bilang, semua ini bukan salah saya, tapi salah Reza, hahaha. Masihhh aja. Di sisi lain, Reza pun ketika itu bilang ke saya untuk stay dan gak perlu untuk pindah ke atas. Salah Hasnan juga gak memberi tahu pengurus apart kalau dia belum pindah, kata Reza. Sebenarnya waktu pecah ribut itu ya, Reza menanggapinya dengan santai dan gak dibalas balik dengan emosi. Saya waktu itu di kamar ikut nyimak aja, ketika mereka adu mulut di ruang tengah. Ya itulah, kata saya juga, kalem, tenang, tapi lebih kayak lemes gitu sih wkwkwk, dan gak pernah emosional. Tapi kadang dia bisa diajak bercanda sih. Dia yang jadi teman ngobrol saya sehari-hari di kamar.

Keesokan harinya di hari Jumat, saya pergi ke kampus untuk orientasi, sekaligus ambil dokumen pelajar biar bisa beli tiket transportasi Discounted Monthly Pass. Karena kalau tiap hari transportasi kita bayar 450 HUF kan bokek juga. Untuk pelajar, ada diskon besar untuk Monthly Pass. Harga normalnya 18900 HUF, sedangkan untuk pelajar, hanya sebesar 1890 HUF (Sekitar 80 ribu rupiah) saja sebulan penuh. Tiket ini untuk Hungary Pass sehingga bisa dipakai di kota manapun di Hongaria. Naik kereta juga gratis ke beberapa kota di sini dengan tiket Hungary Monthly Pass itu. Kalau kalian gak mau kemana-mana selama sebulan penuh, cuman pengen di Budapest aja, beli Pest Monthly Pass yang hanya berlaku di kota Budapest aja. Harganya 945 HUF (Sekitar 40 ribuan rupiah aja) untuk pelajar yang berlaku satu bulan penuh. Tapi untuk kita yang gak berlama-lama di Hongaria dan belum bikin plan trip yang jelas, ya mending Hungary Pass aja. Masih murah banget juga kan. Tapi tiket ini harus kalian bawa ke mana-mana bersama dengan kertas dokumen pelajar kalian (Karena kita pelajar Erasmus yang hanya beberapa bulan, kami hanya diberi dokumen pelajar berbentuk kertas saja, bukan dalam bentuk kartu pelajar. Dokumen ini pun hanya valid dalam waktu dua bulan. Setelah itu harus minta lagi yang baru ke kampus). Kalau gak bawa ya bakal kena denda 12000 HUF di tempat. Kayak saya nih, yang waktu itu lagi lari sore abis maghrib, saya lari cukup jauh dari rumah saya di Corvin sampai ke depan Buda Castle. Jaraknya hampir sejauh 5 Kilometer. Kalau balik kan capek ya, akhirnya saya memberanikan diri untuk naik transum aja lah, walaupun gak bawa tiketnya ataupun dompet. Saya cuman bawa HP, Headset, uang 5000 hasil narik ATM tadi, dan kartu ATM nya si Reza karena saya titip duit 4500 HUF ke rekening dia. Akhirnya setelah lanjut berlari menyebrangi jembatan Buda-Pest dari depan tangga yang berada di bawah Buda Castle itu, saya naik kereta kota nomor 2. Karena saya rasa jarang juga ada pengecekan untuk kereta kota -tramvay- begini, saya akhirnya memutuskan untuk naik itu aja. Eh belum lama ternyata ada yang ngecek. Teng teng, Waduh! “Your ticket, sir?”. Mampus dah! “Sorry, I do have the monthly pass but I don’t bring it because I was running and It’s far away to back again so I decided to take tramvay. But, sorry I don’t bring anything, so…” Akhirnya saya dan dua orang petugas itu, a man and a woman, menyuruh saya untuk turun bersama mereka. Di stop itu mereka meminta saya untuk membayar denda secara langsung di tempat, bisa cash atau pakai kartu. Tapi saya bilang, saya gak bawa cash sebanyak itu dan karena saya lagi running ya saya gak bawa apa-apa. Ada kartu pun, itu punya Reza, bukan punya saya. Walaupun itu gak saya bilang ya, takutnya ntar malah saya dituduh nyolong kartu orang, kan. “Can I do it later because I don’t bring anything with me right now?”, tanya saya. “If so, we need your physical document or call the police”, kata mereka. Ya saya bilang saya gak bawa apa-apa, jadi ya gak bisa nunjukkin apa-apa. Setelah cukup lama berargumen dan menunggu, kedua petugas ini akhirnya sepakat untuk membiarkan saya pergi. “Ok, sir. Do it better next time and go back by running!”. “Thank you. Sorry I did the mistake. Next time I will bring it everywhere”. Alhamdulillah ya Allah! Huhuhu. Udah kepikiran lah itu mampus lah 12000 hilang. Bisa untuk hidup dua minggu itu padahal. Keluar lari sore sekalian mau ambil cash 5000 malah kehilangan 12000 kan apes juga. Untung kali ini, mereka gak mau ambil ribet. Lucky me! Saya pun ketika itu terpaksa untuk pulang dengan lari. Total saya lari sekitar 55 menit dengan jarak tempuh lebih dari 7 Kilometer.

Orientasi kampus hari itu berisi tentang penjelasan penggunaan Moodle dan Neptun yang merupakan sistem pembelajaran kampus di Hongaria. Neptun untuk registrasi pelajaran dan melihat perkembangan serta jadwal pelajaran tiap minggu, bulan, maupun tahunnya. Sedangkan seluruh modul pelajaran, pengumpulan tugas, dan email dosen, semuanya ada di Moodle. Lalu ada orientasi singkat juga tentang Hongaria dan Kota Budapest. Sejarahnya, destinasi yang bisa dikunjungi, dan transportasinya. Yang menjelaskan adalah coordinator Erasmus kami, seorang perempuan (it’s obvious) berbadan besar dan tinggi, berambut pendek dengan cat rambut warna hijau ke biru-biruan, menggunakan kemeja berwarna hitam yang digulung. Sangat terlihat santai sekali dalam penyampaiannya. Namanya Reka Szalontai. Tapi uniknya, dia di setiap emailnya mengidentifikasi dirinya sebagai He/Him. Dia juga bilang dia lebih suka untuk dipanggil Theo. “I know my name is different with what in the email. But I prefer to be called by Theo”. Begitulah ya. Pertama kali ini saya melihat Perempuan yang mengidentifikasi dirinya sebagai Laki-laki. Biasanya Laki-laki yang feminis dan ada beberapa yang seperti itu kan di Indonesia, tapi kalau ini kebalikannya. Meskipun pasti ada aja sih yang kayak gini, cuman gak umum terjadi aja, dan gak ditunjukin.

Selanjutnya kami juga ada orientasi dan game bareng bersama Erasmus Life Budapest, sebuah komunitas yang menyelenggarakan banyak kegiatan untuk seluruh mahasiswa Internasional, khususnya anak-anak Erasmus di Budapest. ELB bertujuan untuk membuat masa-masa Erasmus mahasiswa Internasional di Budapest menjadi kenangan hidup mereka seperti slogan mereka, “Erasmus is not one year in your life, but your life in one year”. Ya buat orang yang punya cukup uang dan senang dengan party, maka tentu saja masa Erasmus mereka bakal bahagia dengan agenda-agenda yang dibuat ELB. Karena rentetan kegiatan ELB, mostly merupakan party. Setiap minggu setidaknya 2-3 kali ada agenda party yang mereka jadwalkan. Office mereka pun ada di salah satu bar yang bernama Doboz. Ketika siang mereka beroperasi di sana sampai jam 6 sore, ketika tempatnya full berfungsi sebagai bar. Mereka juga membuat ELB card yang sudah berpartner dengan banyak restoran, bar, tempat seni tato, dan gym. Saya membeli kartu mereka yang online seharga 7000 + 250an HUF untuk biaya adminnya. Saya membeli kartunya setelah memutuskan untuk mengikuti ELB Trip to Esztergom pada tanggal 16 nanti. Tentunya saya juga akan menulis pengalamannya nanti dan memasukkannya ke Notes. Saya ikut jalan-jalan sebatas biar banyak teman aja. Explore banyak-banyak dan dapat teman juga banyak-banyak. Karena mustahil saya untuk ikut party malam seperti itu, cara saya ya… dengan ikut jalan-jalan. Dan trip-trip ini akan diberi diskon kalau ada ELB Card. Makanya saya beli, karena mereka menawarkan walking tour gratis bagi pemilik ELB Card dan diskon untuk trip keluar kota. Mungkin saya juga bisa pakai untuk diskon gym nya. After discount price NR1 Gym 23%, gym paket 3 bulan menjadi seharga kurang lebih 32000-an HUF, atau hampir 11000 HUF (hampir 500 ribu rupiah) untuk tiap bulannya. Gym ini juga punya banyak cabang di Budapest. Tapi ini masih opsi karena saya juga full menghemat di sini. Setelah penjelasan kegiatan ELB kedepannya, kami di arahkan untuk duduk berhadap-hadapan dengan dua baris ke samping, untuk bermain game speed friending. Tiap orang akan ada kesempatan mengobrol sebanyak 2 menit dengan pancingan kertas pertanyaan yang diberikan oleh panitia. Setiap orang akan kebagian jatah untuk mengobrol satu sama lain. Teman-teman Erasmus saya ada dari beragam negara. Uzbekistan, Jerman, Belanda, Prancis, Portugal, Finlandia, Albania, Turki, Ukraina, dan pastinya Myanmar (Shinn). Ketika berkesempatan mengobrol dengan orang Portugal, sepertinya mereka pasangan couple, saya mengungkit CR7, Siuuu.. Hahaha. “Everybody knows and Supports Portugal because of him”. Ya, karena pertanyaan yang ada di kertas cenderung membosankan, biasanya kami mengalihkan pembicaraan sendiri, saya sih biasanya ngomongin Sepak bola, dan bilang saya tau kota-kota di Jerman, Belanda, dan Prancis karena tim bola mereka.

Orientasi usai sekitar jam satu siang. Saya sayangnya melewatkan salat Jumat karena gak menemukan masjid. Untuk dua Jumat berikutnya, minggu lalu dan hari ini, hari ketika saya menulis tulisan ini, saya Jumatan di Masjid At-Taqwa, masjid yang terletak di samping jalan, terlihat seperti gedung biasa dari luar dan tulisan arab yang menyertainya, menyatu dengan gedung lain di sekitarnya. Memang seperti ini lah bentuk masjid di sini kebanyakan. Satu lantai gedung biasa yang dimodifikasi menjadi sebuah masjid. Hanya ada satu masjid yang memang seutuhnya dibangun seperti bentuk masjid pada umumnya, Masjid Budapest. Saya belum pernah ke sana sampai saat tulisan ini dibuat.

Ada beberapa info lagi terkait ATM dan bagaimana mengelola duit di negara yang bukan EuroZone ini. Negara non-Eurozone artinya mereka memakai mata uang sendiri sebagai transaksi hariannya, walaupun Hongaria adalah salah satu negara EU. Pertama, banyak ATM tanpa nama yang tersebar di seluruh penjuru kota Budapest, yang biasanya di layarnya tertulis HUF dan EUR. Ada juga biasanya tulisan ‘Change’ di sekitar ATM tersebut. Disarankan jangan ambil atau tukar duit di ATM seperti itu karena chargenya bakal gede banget. Saya belum pernah coba, jadinya gak tau berapa chargenya ya. Tapi semua teman bilang seperti itu, jadi don’t do that! Kalau mau ambil duit di ATM, ambil di ATM yang terhubung dengan bank lokal, biasanya bank OTP atau MBH. Itupun sebenarnya masih mahal ya. Misal kemarin saya gak jadi ambil uang di ATM OTP dengan memakai kartu Ziraat Bankasi saya karena untuk 50 Euronya saja, ada charge sebesar 6 Euro. Wah lumayan segitu buat sekali narik uang yang gak banyak-banyak amat. Tadinya saya mau bikin akun Revolut, pakai kode yang dikirim Reza. Lumayan juga ternyata dari undang teman buat pakai Revolut itu rewardnya 17500 HUF loh. Kata dia, nanti biaya kartu fisik dan apapun itu akan ditanggung dia. Ya gapapa lah saya pikir, bantu-bantu ya kan. Lagipula saya butuh. Nah tapi, akhirnya gak jadi karena untuk buka akun, perlu nomor pajak. Sebenarnya tinggal ambil aja ke kantor pajak, tapi ketika itu hari Selasa siang, kantor sudah tutup dan masa rewardnya habis di hari itu juga. Ya udah gimana lagi. Emang aneh sih kantor pajaknya, Kalo Senin buka sampai jam 6 sore, kalo Selasa buka sampai jam 12 siang doang. Begitupun dengan hari Rabu yang tutupnya jam 6 sore dan Kamis jam 12 siang. Jumat mereka tutup lebih awal jam 11.30. Apakah untuk salat Jumat, hehe? Weekend ya tutup. Jadinya, atas saran Mbak Novy dan Mbak Mita, mahasiswi Indonesia S3 yang kuliah di sini, yang saya temui untuk ngopi di Mon cheri (tempat nongkinya orang-orang Indonesia di Hongaria), saya akhirnya menggunakan Wise. Saya membuka akun Euro dan Forint di Wise. Jadi prosesnya nanti, uang beasiswa saya yang sudah masuk dalam bentuk Euro di akun Euro Ziraat saya, saya alihkan dulu ke akun TL saya (Kalau Euro ke TL mah, biaya adminnya murah, paling 5-10 tl), kemudian uang di Ziraat, saya transfer terlebih dahulu ke Papara, lalu dari Papara saya transfer ke Wise. Sampai kartu fisik Wise saya sampai ke apartemen, saya masih pakai Papara untuk pembayaran apapun di market. Kenapa gak pakai Ziraat? Karena Ziraat saya bukan contactless sehingga terkadang sulit untuk bayar apa-apa. Seperti ketika bayar kartu sim One (Vodafone-nya Hongaria), kartu Ziraat saya ditolak, padahal ada tanda Visa di kartunya. Btw, murah ya untuk buka kartu di sini, hanya 1500 HUF (sekitar 65 ribu rupiah) doang loh. Itu juga udah dapat 2GB internet gratis selama sebulan. Bayangin sama di Turki yang harus merogoh kocek sampai 1000 TL (sekitar 450 ribu rupiah) hanya untuk buka kartu sim baru. Nah, dengan menggunakan Wise, kita jadi bisa melakukan pembayaran menggunakan kartunya tanpa harus khawatir kena biaya admin terus-menerus. Karena saya sudah buka akun Forint dan Euro di Wise, jadi uang saya bakal dibayar menggunakan mata uang tersebut yang bikin dia jadi lebih hemat. Sebenarnya bisa aja sih bayar pakai opsi kartu dijital Wise tanpa harus membeli kartu fisiknya (Btw, harga kartu fisiknya 1404 HUF) menggunakan NFT yang terhubung dengan Google Pay. Tapi saya lebih memilih kartu fisik saja. Selain karena memang murah, saya juga gak mau terjadi kayak yang di One tadi. Oh ya, buka akun wise syaratnya cuman isi saldo minimal aja ya di situ, 6000 HUF atau 20 Euro saja. Gak perlu nomor pajak seperti di Revolut. Tapi ini mungkin beda-beda tiap negara ya. Karena saya buka akunnya di Hongaria, jadinya segitu aja syaratnya. Saya juga baru tau malah Wise bisa berfungsi seperti bank. Siapa yang baru tau juga nih? Dengan Wise sebagai bank yang bisa saya pakai untuk menekan charge biaya tukar mata uang dan juga menghitung semua pengeluaran di aplikasi Money+ dengan detail, saya bisa sudah menemukan solusi dari permasalahan gimana cara saya bisa berhemat 5 bulan kedepan. Bukan apa-apa, seminggu pertama saya stress kok pengeluaran banyak banget ya, hahaha. Wajar sih namanya bulan pertama masih meraba-raba dan mengira-mengira pengeluaran.

Sebagai gambaran untuk teman-teman kenapa saya harus menghemat walaupun dapat uang beasiswa dari kampus, sini saya kasih paparannya. Kampus memberikan saya beasiswa sebesar 2619 Euro secara keseluruhan. Angka ini termasuk uang pesawat (309 Euro), beasiswa bulanan (450 euro perbulan) plus 60 euro yang gak tau biaya apa. Pokoknya total saya dapat 2619 Euro (Sekitar 44,5 juta rupiah). Dannnnn beasiswa ini gak 100% langsung turun semua, guys! Hanya sebesar 70% yang bakal kita terima di awal, sedangkan 30% akan kita terima ketika kembali ke Turki nanti, dengan syarat semua studi diselesaikan dengan lancar. Artinya, ada 1883 Euro yang saya terima saat ini. Sekarang, untuk penggunaannya: 309 Euro akan saya pakai untuk biaya pesawat dan 184 Euro x 5 bulan untuk biaya sewa. Jadi uang yang bisa saya pakai untuk hidup adalah 1883 Euro (70% dari beasiswa yang turun) - 1229 Euro (uang pp pesawat + uang sewa selama lima bulan) = 654 Euro dibagi lima bulan= 130,8 Euro per bulannya atau sekitar 52,5 ribu HUF (sekitar 2,2 juta rupiah) saja. Untuk di Eropa, angka segini tentunya kecil. Makanya, mungkin saya akan ambil marjin dari tiket pesawat. Kita ambil Pegasus Airlines yang paling murah. Jangan Turkish Airlines karena mahal, walaupun mereka kasih diskon ke anak Erasmus. Mungkin saya ambil di angka 200 Euro, jadi ada 100 Euro yang bisa jadi tambahan (20 Euro per bulannya). Karena kita pengen jalan-jalan juga ya keliling Hongaria dan negara-negara lain di Eropa, jadinya kita butuh uang lebih. Saya di sini bakal jarang banget jajan di luar. Mau gak mau masak terus supaya ada dana lebih untuk jalan-jalan. Amannya sih, siapkan 10 juta uang dingin untuk membekali kalian di program Erasmus. Saya sendiri pun segitu udah habis segituan di awal. 6 jutaan untuk deposit apartemen, 2 jutaan untuk bayar Visa pelajar, 425 ribu untuk asuransi, Untuk transportasi PP Ankara untuk proses Visa, dan Transportasi ke Istanbul itu bulatkan saja jadi satu juta. Sisanya, ya buat makan-makan tasyakuran. Untung saja saya punya uang lebih dari kerja freelancer saya beberapa bulan ke belakang. Ya begitulah, mumpung masih di Eropa dan dibayarin juga, jadinya gapapa juga kalau mau coba pengalaman sebanyak-banyaknya, keliling Eropa sepuas-puasnya. Mumpung masih banyak teman di PPI. Lagi pun transportasi antar negara Eropa itu murah, yang bikin mahal itu akomodasi menginap dan makan di luarnya. Bismillah, Amsterdam, Roma, Paris, Praha, I am coming!!

Informasi tambahan, gimana cara gampangnya menghitung nilai HUF. Misal menilai barang ini mahal atau murah di Lidl atau Aldi ya. Cara gampangnya, dengan menghilangkan nilai 0 di belakang harga, seperti misalkan, beras harganya 599 -bulatkan jadi 600-, berarti harganya gak jauh dari 60 tl, tapi kurangin dikit. 600 HUF itu setara dengan 56 TL (Kurs 14 Februari 2025). Nah karena 1 TL itu gak jauh dari 500 rupiah (tepatnya di angka 447 rupiah per 14 Februari 2025), tinggal bagi aja setengahnya. Jadi harga beras di Hongaria yang paling murah per kg nya ada di angka 25 ribu rupiah (56:2 dikurangi sedikit).

Kira-kira begitulah dua minggu saya di Hongaria yang bisa saya bagikan. Mengenai kemegahan gedung parlemen Hongaria dan Indahnya pemandangan Kota Budapest dengan jembatan sungai Danubenya dilihat dari Buda Castle, tentunya saya akan buat catatan khusus. Tadinya sih mau disatuin, tapi ternyata terlalu banyak yang mau saya ceritakan, jadi stay tune di cerita berikutnya .      

 

   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?