Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Bratislava)


Bratislava-Praha-Wina, 6-8 Maret 2025

            Sudah merupakan niat semua orang yang berangkat Erasmus, terutama dari Turki, untuk spend beberapa harinya buat jalan-jalan ke banyak negara di Eropa -Mumpung punya visa Schengen-. Turki saat ini statusnya, hanya sebagai candidate country sehingga tidak termasuk ke dalam Schengen Area. Meskipun, ada juga sih beberapa pengecualian, negara anggota EU tapi tidak masuk Schengen Area seperti Irlandia, ataupun negara non-EU tapi masuk ke perjanjian Schengen, contohnya Swiss dan Islandia. Maka dari itu, Erasmus, selain kesempatan untuk mendapat pengalaman belajar di lingkungan yang baru, juga merupakan kesempatan untuk explore negara-negara di penjuru Eropa. Iya dong…. Kita punya 5 bulan kurang-lebih di masa pertukaran pelajar ini, pasti ada dong waktu kosongnya buat jalan-jalan. Yang penting tanggung jawab sebagai pelajar, gak ditinggalkan. Setuju?

            Dengan mempunyai Schengen Visa, baik dengan status sebagai pelajar, turis, atau bisnis, kalian bisa untuk pergi ke banyak negara, khususnya 29 negara yang termasuk ke dalam Schengen Area. Dan gak cuman di Eropa aja, beberapa negara di luar Eropa pun memberikan kalian izin untuk masuk ke negara mereka dengan mudah kalau kalian punya Visa Schengen, contohnya Mesir, Meksiko, dan Saudi Arabia. Asalkan masa berlaku Residence Permit atau Visa kalian masih lama (dalam kasus Mesir, kalian bisa masuk kesana tanpa visa jikalau Residence Permit kalian masih tersisa setidaknya 6 bulan). Sayang, karena saya cuman dapat 5 bulan aja untuk izin tinggal, jadinya hal ini gak berlaku buat saya. Jadi, saya kalau mau ke Mesir, ya harus apply Visa dulu. Enak memang privilege mahasiswa yang kuliah di negara EU ya. Dan, sebenarnya saya agak iri dengan teman-teman dari Malaysia, karena Malaysia termasuk dari 64 negara yang bebas visa masuk ke negara Schengen. Jadi kalau mereka mau jalan-jalan di negara Eropa, mereka gak perlu ribet urus visa kayak kita, orang Indonesia. Huhuhu… Emang harus bagusin carut-marut ekonomi dan politiknya dulu sih Indonesia kalau mau kayak negara tetangga.  

            Jadi mahasiswa Erasmus di Hongaria itu privilege, guys. Kenapa? Karena negara-negara sekitarnya itu indah-indah banget. Jadi, bisa banget untuk menghabiskan weekendnya ke banyak negara sekaligus tanpa butuh banyak biaya dan waktu. Dan itulah yang saya lakukan untuk trip edisi pertama saya. Sampai saat ini, saya memiliki planning untuk melakukan 3 edisi trip jalan-jalan Eropa selama masa Erasmus. Edisi pertama, trip ke negara-negara Tetangga, Ceko, Austria, dan Slovakia. Tiga negara ini memang letaknya saling bersebelahan, dan tiket transportasinya pun masih murah. Edisi kedua, trip ke Spanyol dan negara-negara tetangganya. Saya ingin nonton pertandingan Real Madrid langsung di Santiago Bernabeu! Untuk waktunya ini masih menimbang-nimbang jadwal match Real Madrid sendiri, dan juga jadwal kosong kuliah saya. Karena saya rencana ke Madrid nanti naik pesawat, gak mungkin dong jalan-jalan cuman 3 hari kayak trip edisi pertama saya. Makanya nihhh, saya cari waktu kosong yang bisa liburan agak panjang, sekaligus sesuai dengan jadwal match Real Madrid. Karena biasanya Season itu berakhir di akhir Mei, kemungkinan saya ambil trip edisi kedua ini, di akhir April atau awal bulan Mei. Tanggal 11 Mei ada El-Classico nih, tapi mainnya di Camp Nou. Tapi cukup beresiko sih dengan harganya mahal, atau malah gak kebagian tiket karena kehabisan. Bismillah, InsyaAllah tercapai keinginan saya ini, 3 M. Mekkah, Madinah, Madrid. Asyik! Jadi dari Madrid, rencananya sih pengen terus jalan ke Cordoba, lalu ke Barcelona. Dari sana ke atas menuju Marseille (Prancis) sebelum menuju Italia, menemui Teo (teman saya yang ketemu di Marmaray Istanbul sebelum saya berangkat ke bandara) di Milan, lalu jalan-jalan ke kota sekitarnya, macam Florence dan Venezia. Di atas lagi tuh juga ada Swiss loh! Bisa menuju ke Bern dan Zurich, ibukota Swiss. Excited banget, Ya Allah! Alhamdulillah ala kulli hal. Pelan-pelan, InsyaAllah. Edisi trip ketiga, saya akan mengunjungi negara-negara Eropa Barat seperti Prancis, Belanda, dan sekitarnya. Saya ada janji ketemuan sama Bu Prins dan Pak Danang, pasangan World Traveler yang ketemu kami (anak Rumah Berseri) di Serbia dua tahun lalu. Setelah saya beri kabar beliau kalau saya bakal stay di Eropa sampai akhir Juni, Bu Prins langsung ajak saya ketemuan di Amsterdam bulan Juni nanti. Kebetulan, mereka ada jadwal trip Eropa lagi di bulan Juni, keliling ke negara yang entah sudah negara ke berapa, Bosnia. Jadi, bisa sekalian juga ketemuan nanti. Taqabbal yaa kariim. Berilah hambamu ini kesempatan untuk melihat keindahan surga dunia, sebelum melihat keindahan surga akhirat. Aamiin.

            Intinya sih, semua bisa dilakukan kalau kita dilandasi ikhtiar dan atas izin Allah. Ikhtiar saya apa saat ini? Ya cari duit, hahaha. Karena butuh banyak persiapan uang dan tenaga ya untuk trip yang banyak ini, saya sendiri saat ini sedang mencari pulang untuk bisa kerja part-time di Budapest. Kami, mahasiswa memang mendapatkan izin untuk kerja, asal tidak lebih dari 24 jam selama seminggu. Alhamdulillahnya, tak berapa lama setelah saya kepikiran hal ini, saya langsung dapat job. Jadi saya dapat tawaran ini ketika saya buka puasa di salah satu Masjid Turki di Budapest. Jadi waktu itu, ada salah seorang bapak-bapak Turki lagi berbincang bareng salah satu orang Indonesia yang juga lagi berbuka di sana, dia dulu pernah kuliah di Turki. Jadi, bapak ini bilang ke Mas Anas, namanya ya, kalau ada yang lagi cari kerjaan, teman kamu, buat jadi tukang kebun, bersih-bersih, bilang ke saya ya. Mas Anas nya sih iyain aja. Nah, karena saya bisa Bahasa Turki, dan ngerti nih apa yang dibicarain, saya langsung nyaut tuh, “Kerjaannya apa, pak? Saya mau lah. Kebetulan saya sedang cari kerja part-time juga”, saya bilang. Alhamdulillah, saya langsung diajak kerja nanti di weekend, nanti bakal dikontak lagi. Cukup cepat ya, gak lama setelah saya ada niat mau part-time loh! Memang berkah Ramadhan ini besar banget. Bersyukur, Alhamdulillah.

            Saya sendiri sebenarnya sudah lama memikirkan rencana trip tiga hari ini ke negara tetangga ini. Tapi, benar-benar bulat untuk menetapkan di awal bulan Maret, bertepatan dengan awal bulan Ramadhan, itu kira-kira dua minggu sebelum hari H. Di malam-malam itu, saya tanya sana-sini tips tempat-tempat yang harus didatangi, melakukan sedikit research tentang kota-kota yang akan saya datangi, berapa harga tiket transportasi umumnya, apa harus ‘beli’?, dimana masjid terdekat tempat kita bisa dapat free iftar, dll. Tak mau pikir terlalu panjang, tak lama setelah menentukan destinasi dan itinerary trip, Saya langsung beli tiket FlixBus -Bus yang murah, salah satu opsi terbaik untuk backpacker-. Thanks berkat bantuan Chatgpt, saya dapat gambaran tempat mana-mana aja yang bisa saya datangi, jadi tempat-tempat yang disebut sama AI itu, saya bisa liat langsung lokasinya di Google Maps dan tandai favorit, biar bisa lihat tuh jarak antar satu lokasi ke lokasi lainnya tuh seberapa jauh. Nah gitu, saya di awal sih minta buatkan itinerary sesuai prompt yang saya mau ya, yang jaraknya berdekatan, satu rute, dan fasting-friendly. Tapi akhirnya, dari Chatgpt, saya hanya ambil rekomendasi tempat-tempatnya, rutenya saya sesuaikan sendiri dari lokasi yang sudah saya tandai favorit di Google Maps.

Jadi, saya akan berangkat di hari Kamis siang dari Budapest, sampai di Bratislava sore hari menjelang Maghrib, berbuka puasa di masjid terdekat -berharap ada free iftar di sana-, keliling kota sampai jam 11 malam, sebelum akhirnya berangkat ke Praha jam 11.30 malamnya. Saya sengaja ambil rute yang cukup lama, yang pakai transit di Brno, biar saya bisa sahur ketika itu, dan sampai di kota Praha di waktu pagi, sehingga saya bisa habiskan waktu malam di bus tanpa memikirkan akomodasi. Saya ambil waktu yang cukup panjang di Praha karena menurut info yang saya dapat, Praha kota yang paling cakep di antara destinasi yang lain, sehingga gak akan puas kalau hanya beberapa jam. Di samping itu juga, saya merasa harus bermalam di Praha karena tidak ada bus yang berangkat tengah malam dan tiba di pagi hari untuk rute Wina, sehingga gak memungkinkan saya untuk bermalam di bus. Alasan lainnya, sepertinya saya rasa, akan terlalu melelahkan untuk bermalam dua hari berturut-turut di bus, setelah perjalanan panjang, lagi puasa pula, kan. Dannn, yang paling penting, harga penginapan di Praha masing tergolong sangat murah. Saya menginap di a&o Hostel (Salah satu hostel yang paling terkenal di Eropa karena murah dan kenyamanannya) Praha, itu hanya membayar sebesar 4000-an HUF saja, atau sekitar 10 EUR kurang lebih (sekitar 180 ribuan rupiah) per malamnya. Murah, kan?! Sebenarnya tadinya saya mau menginap di ‘Kamar Pelajar’, platform yang menyediakan penginapan murah, biasanya untuk mahasiswa Eropa yang lagi backpackeran. Yang menyewakan pun biasanya, mahasiswa juga. Jadi kamarnya cukup luas untuk menyewakan orang lain selama satu dua hari, dengan biaya yang cukup terjangkau. Nah, di Praha, cuman ada satu yang menyewakan kamarnya di platform ‘Kamar Pelajar’ itu, eh tapi ajuan saya ditolak. Alasan awal saya selain pengen murah (waktu itu, belum tau tentang hostel ini), juga bisa masak sehingga bisa hemat, dan juga dapat teman baru di Praha. Syukurlah, karena ternyata hostel lebih murah. Kalau mau, kalian bisa booking lewat platform jasa akomodasi seperti Booking.com atau langsung aja ke website atau apps a&o Hostel nya langsung. Soalnya, mereka punya banyak banget cabang, termasuk di Jerman, Inggris, maupun di Hongaria. Banyaknya sih di Jerman ya, karena emang originalnya di sana. Lanjut, setelah satu hari penuh di Praha, keesokan paginya, saya berangkat ke Wina. Ada perubahan schedule sedikit sih dari rencana awal. Tadinya, saya mau berangkat dari Praha pagi-pagi banget jam 7 pagi, dan bisa lebih puas di Wina. Eh, kok pas dicek harga tiketnya, tiba-tiba jadi mahal ya? Perasaan kemarin gak segini. (Akibat pake perasaan gini nih). Ya udah, atas pertimbangan supaya saya lebih santai juga, saya ambil keberangkatan dari Praha jam 10 pagi dan sampai di Wina jam 3 sore. Akibatnya juga, jadwal kepulangan saya ke Budapest yang tadinya jam 7 malam, saya tunda jadi jam setengah 12 malam. Intinya, alasan dibalik jam-jam kepergian yang saya pilih, adalah harganya yang paling murah, dan jam nya sesuai dengan itinerary. Kalau ada yang tidak sesuai, ya pertimbangan lagi, mana yang harus diubah tanpa harus mengorbankan budget lebih yang terlalu banyak. Dan jadilah, itinerary final seperti yang tertulis di atas.

Rangkumannya trip saya begini: Pergi Kamis siang setelah kelas, Jum’at dan Sabtu puas-puasin trip, Minggu sudah sampai rumah untuk full istirahat, supaya Senin pagi, masuk kelas, kondisi sudah stabil, dan badan juga sudah fresh lagi.

 Hari kamis, tanggal 6 Maret, jadwal saya untuk berangkat ke Bratislava dari terminal Kelenfold, Budapest tepatnya pada pukul 2 siang. Paginya, saya berniat untuk masuk kelas dulu. Tadinya sih gitu…. tapi karena kemarin saya gak sempat untuk menghadiri Job Fair di BOK Hall, jadinya saya hanya punya waktu hari ini aja, sebelum saya berangkat ke Bratislava. Makanya, pagi setelah saya ambil Tax Number saya di kantor pemerintah sekitar (biasanya kalau mau kerja meskipun part-time di Hongaria, perlu untuk ambil Tax Number terlebih dahulu), saya langsung ke Job Fair -sambil udah bawa tas dengan semua kebutuhan trip, biar kalau udah kelar, langsung berangkat aja ke terminal. Di sana, saya masukkan CV saya ke banyak Perusahaan yang ada di sana. Ya memang gak ada jaminan bakal dipanggil sih… terlebih, kebanyakan kebutuhan perusahaan ada pada bidang IT dan Engineering. Tapi gapapa, setidaknya saya dapat banyak banget souvenir dan aksesoris dari berbagai stand, seperti pembersih laptop, kacamata, totebag, dan juga tumbler. Terkhusus tumbler, saya senang banget sih, inget gak kalau pas di Istanbul kemarin sebelum berangkat ke bandara, tumbler saya ketinggalan di kereta. Nah, Alhamdulillah udah ketemu nih gantinya. Dari acara Job Fair, saya pulang dulu ke rumah untuk taruh souvenir-souvenir ini yang bakalan ribet kalau dibawa ikut trip. Selain itu, saya rasa pundak saya merasa berat banget dengan tas ini. Benar-benar harus dikurangin bebannya. Jadinya, gak sesuai rencana awal, dari Job Fair saya pulang dulu, gak langsung berangkat. Lagipula, setelah liat ulang jadwal, ternyata bus nya berangkat jam 14.45, masih ada banyak waktu. Di rumah, saya salat Dzuhur, taruh souvenir-souvenir itu, kecuali tumbler yang saya bawa, juga mengeluarkan laptop dari tas. Lumayan bisa ngurangin beban sampai 3 kg (estimasi). Kenapa tadinya saya mau bawa laptop? Selain biar apa-apa lebih gampang ya kalau ada laptop, juga untuk alasan keamanan. Khawatir aja tiga hari pergi, gak ada yang jagain -walaupun ada Reza ya, cuman kan ada aja dia tidur-, tau-tau laptop hilang, kan. Naudzubillah. Beberapa hari yang lalu, jaket saya hilang soalnya. Untung itu jaket tipis. Kalau jaket winter kan ribet dah… pake apa lagi kita ntar kalau kedinginan. Memang waktu itu, jaketnya bisa hilang karena saya gantung di ruang tengah, jadi siapapun yang masuk, bisa aja ambil itu. Terlebih, ada cukup banyak gipsy di Budapest. Liat ada jaket dikit, mereka ambil. Harapan mereka, di jaket itu ada dompet atau uang. Yahhh untungnya di jaket itu sih gak ada apa-apa ya… jadinya ikhlasin aja.

Jam 14.30 saya sudah sampai di terminal Kelenfold. International Bus, terminalnya ada di sekitar exit A, ada di ujung lorong terminal. Awalnya, agak pusing nyari terminal rute internasional, harus kesana-sini buat nemuinnya. Di peron tempat bus, saya bertemu dengan Abud, orang Syria yang tinggal di Wina, Austria. Kami sempat tukaran Instagram, tau-tau nanti bisa ketemu di Wina nantinya.

Jam 14.45, bus kami berangkat, tepat waktu. Saya gak langsung tidur, menunggu waktu Ashar terlebih dahulu, supaya sebelum tidur, tanggung jawab salat, sudah ditunaikan. Oh ya, mengenai kuota internet pake apa, ri? Jadi, di negara EU, biasanya kartu sim yang kita pakai itu, mencakup territorial negara EU lainnya juga. Misalnya, saya pakai provider One di Hungary. One ini merek Vodafone yang merger bareng merek lokal. Nah, kuota internet yang saya punya di One, itu bisa juga saya aktifkan di seluruh negara EU, tanpa dikenakan biaya tambahan apapun. Jadi nanti kalau udah nyebrang negara lain, aktifin aja roamingnya. Dan, buat teman-teman yang dari Turki, diharap matikan aja sim Turk Telekom-nya. Karena kadang-kadang dia aktifkan roaming otomatis. Tiba-tiba, mereka nanti kasih tagihan ke kita. Ngaco emang. Oh iya, di Flix Bus juga biasanya ada wi-fi kok, jadi bisa juga kita gunakan sepanjang perjalanan. Walaupun terkadang, ada juga kendala waktu login buat aktifinnya.

Singkat cerita, jam 17.15, saya sudah sampai di terminal Mlynske Nivy Bus Station, Bratislava. Dari sana, saya buka maps untuk liat rute ke masjid terdekat, Islamic Centre Cordoba yang ada di pusat kota Bratislava. Jadi searah tuh dengan destinasi-destinasi yang mau kita kunjungi. Tujuan saya kesana, tentunya ingin salat jamak Maghrib-Isya, sekaligus cari bukaan, seandainya gak ada iftar gratis di sana. Untuk menuju ke sana, saya naik bus kota warna merah nomor 42. Saya gak beli tiket 24 jam di sini, karena niatnya bakal mau jalan aja kemana-mananya, kecuali sekarang ini. Soalnya, kalau jalan, gak bakal terkejar adzan maghrib yang bentar lagi banget, nih. Saya naik aja ke bus nya, tanpa beli tiket. Untungnya gak ada pengecekan. Tapi, teman-teman gak usah tiru ya… cari aman aja hehe. Sesampainya di durak (stop) bus tujuan, saya langsung cari-cari lokasi masjid ini berada. Di sepanjang jalan ini, ada banget restoran kebab Turki, dan yang jualan memang asli orang Turki juga. Saya masuk ke salah satu restoran, dan menanyakan langsung pakai Bahasa Turki, dimana sih masjid Islamic Centre Cordoba itu.

“Oohh, kamu kesana, jalan bentar nanti ada restoran kebab lagi, patokannya di situ. Ntar belok aja di sana, kamu bakal nemu. Atau nanti tanya aja ke orang di restorannya, tau kok mereka.”, kata abi döner itu dengan lengkap.

Oke, mantap! Akhirnya saya ketemu juga dengan masjid kecil yang cukup terpencil ini. Saya masuk, memakan kurma yang ditaruh di jendela (yang memang sepertinya disediakan untuk orang berbuka), dan segera masuk ke shaf salat, masbuk ke jamaah yang sudah mulai duluan. Setelah salat Maghrib, saya lanjut salat jamak Isya dua rakaat. Lalu, usai salat, pundak saya dicolek oleh seseorang, yang kemudian mengajak saya untuk keluar, makan. Selain saya, dia juga ajak beberapa orang lainnya yang juga tadi ikut jamaah di masjid. Kami, empat orang, masuk ke salah satu restoran kebab. “Ini, maksudnya, kamu yang bayar?”, tanya saya. “Iya”, kata dia. Wah… kami (hehe) di awal hendak menolak tawaran untuk dibayarin ini, dan memilih untuk bayar sendiri saja, tapi dia memaksa (hehe) kami untuk mau dibayarkan. Dia bilang, “Gapapa. Kita sesama muslim, senang berbagi di bulan Ramadhan. Kalau kamu mau balas saya, nanti besok, kamu ajak aja orang lain yang ada di masjid, traktir dia buka puasa sebagaimana saya traktir kalian hari ini”. MasyaAllah, Tabarakallah.

Orang yang traktir kami hari ini namanya Abdul, dia orang Eritrea yang bekerja di Bratislava. Eritrea itu kalau kalian itu, negara Afrika bekas jajahan Italia yang saat ini dipimpin sama pemerintahan dictator. Internet pun gak boleh masuk, loh! Gila, kan. Saya sempat nonton dokumentasi perjalanan youtuber Joe Hattab ke sana di Youtube. Dan setelah saya tanya, memang benar seperti itu. Kalau mau pakai akses internet, harus ke warnet dulu. Padahal mah, negara ini punya kekayaan alam yang sangat besar dan keindahan kota yang sangat indah. Kalau ke sana, itu kayak kembali ke Italia abad 20. Coba aja deh kalian tonton. Agama mayoritas negara ini sih Kristen, tapi dengan persentase tidak terlalu jauh dengan pemeluk agama islamnya. Untuk bahasa yang mereka gunakan, mereka biasanya bicara pakai bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Tigrinya, dan sebagian kecil orang bisa untuk berbicara bahasa Italia. Makanya, dia ini lancar banget mengobrol sama teman duduk kami yang merupakan orang Mesir, Ahmed.

Ahmed ini, dia orang Mesir, di Bratislava untuk jalan-jalan aja. Tujuan utama dia, untuk dapat kewarganegaraan Austria, kuliah atau kerja di sana. Untuk itu, setelah proses wawancaranya selesai di Wina, apalagi ya kan kalau gak jalan-jalan. Saya juga gak cukup mengerti prosesnya gimana, intinya dia membayar seorang pengacara untuk membantu dia mengurus administrasi hal ini. Dia berani bayar ratusan juta untuk pengacara ini, karena sepertinya sudah ada temannya yang berhasil diproses. Dia bilang, dia ingin mulai hidup baru, penghasilan baru, dll. Padahal, kalau dilihat dari pekerjaan dia di Mesir, dia ini masuk ke kategori orang yang berkecukupan, bahkan kaya mungkin. Tujuan akhirnya, tinggal di negara yang damai seperti Portugal, begitu katanya.

Satu lagi teman kami, Jamshid. Dia orang Uzbekistan yang juga bisa berbahasa Turki. Makanya, saat Abdul dan Ahmed asyik berbincang pakai Bahasa Arab, kami berdua mulai mengobrol pakai bahasa Turki. Dia datang ke sini untuk tujuan kunjungan bisnis. Di umurnya yang baru 27 tahun, dia sudah jadi Chief Manager perusahaan IT terkemuka di Uzbekistan. Meski begitu, dia termasuk orang yang humble banget. Lucunya memang, Jamshid sampai akhir terus memaksa Abdul, supaya gak usah traktir, biar dia sendiri aja yang bayar, haha. Sampai ketika tukeran nomor WA, masih aja dichat, “Brother, Let me pay myself”. Menurutnya, Abdul itu di sini bekerja, dan dia juga pasti kirimkan duit ke keluarganya di Eritrea (Btw, ini dia bilangnya ke saya dan Ahmed nanti ya, ketika jalan-jalan malam). Jadi, dia merasa gak pantas untuk menerima traktiran ini. Setelah diyakinkan oleh Ahmed dan Abdul untuk mau ditraktir, karena gak baik menolak pemberian orang lain, akhirnya dia meng-iya-kan.

            Momen makan-makan inilah yang bisa dibilang, mengawali trip saya kali ini. Karena, setelah makan, selain Abdul yang pulang ke rumahnya, kami bertiga lanjut jalan bareng. Ahmet, dia lagi free, paling abis ini bakal check-in dulu ke hostel. Sedangkan Jamshid, setelah balik ke hotelnya, dia bilang akan menyusul kami untuk ikut jalan-jalan bareng. Meeting malam ini bisa di-skip, dia bilang.

Ya sudah, setelah selesai menemani Ahmed check-in dan taruh barang-barang, kami keluar jalan-jalan. Sebelumnya, Jamshid juga sudah menyusul kami di hostel, jadi kami sudah bertiga lagi saat ini. Jalan-jalan kali ini, saya yang mimpin, mengikuti arah destinasi yang sudah saya tandai di google Maps. Mereka berdua sudah jalan-jalan sedikit di kota ini, walaupun masih banyak juga tempat yang belum mereka datangi.

Tujuan yang pertama kali kami datangi adalah Main Square kota Bratislava, sebutannya dalam bahasa lokal, Hlavné námestie. Alun-alun paling terkenal di Bratislava, dikenal juga sebagai pusatnya kota. Sambil kesana, nanti sekalian lewat Michael’s Gate dan Cumil Statue.

Sambil jalan, sambil ngobrol. Kota Bratislava tampak cukup gelap di malam hari. Gak banyak juga orang lalu lalang. Ada sih beberapa, tapi jauh dari kata ramai. Jalannya rapi, bangunan-bangunan bertingkat dominan berwarna cerah, tersusun berjejer di sekitar jalan. Di salah satu lorong, ada seorang bapak tua yang memainkan alat musik tradisional. Cukup menemani ketenangan malam di sini. Kami kemudian melewati jalan-jalan kecil, sebuah jembatan, dan sebuah lorong yang tidak terlalu panjang. Kami cari-cari, mana ini Michael’s Gate, karena kami udah lewati tempatnya seperti yang ditunjukkan oleh Google Maps. Setelah kami menghadap belakang, barulah kami sadari…. Oalah, itu toh Michael’s Gate. Gerbang besar-tinggi berwarna putih, ramping dan menjulang tinggi, dengan atap kubah berlapis-lapis berwarna hijau, khas gaya Barok abad ke-18. Karena cukup lebar dan tinggi (51 meter), melewatinya sudah seperti melewati sebuah lorong. Gerbang ini memiliki nilai sejarah yang penting, karena merupakan satu-satunya gerbang kota abad pertengahan yang masih bertahan di Bratislava. Di puncak bangunan ini, terdapat patung St.Michael yang sedang mengalahkan naga, melambangkan perlindungan terhadap kota. Melansir dari info yang tertera di berbagai website, pengunjung bisa masuk ke tempat ini, dan naik ke atas. Karena memang, bagian dalamnya saat ini difungsikan sebagai museum kota. Tapi karena kami datang pada malam hari, kami hanya lihat saja dari kejauhan. Kalaupun buka, gak bakal masuk juga sih, bayar soalnya, hehe.

            Hal yang sama terjadi ketika kami mencari-cari letak Cumil Statue, yang ternyata, ada di simpang jalan. Patung pria dengan helm pekerja yang mengintip dari got ini, merupakan salah satu ikon Kota tua yang dibuat pada tahun 1997. Patung ini memiliki berbagai interprestasi, seperti pekerja yang beristirahat, pengintip wanita, atau symbol optimism pasca-komunisme. Yahh, namanya juga seni, oranglah yang memberi nilai ke sebuah karya, dan tentunya makin lama waktu berlalu, makin berubah-ubah juga penafsirannya. Patung ini jadi salah satu daya tarik wisatawan karena katanya sih, kalau kita sentuh kepalanya, diyakini akan membawa keberuntungan kita. Yaa… gak ada orang yang percaya juga sih, hahaha. Cuman ya tetap aja orang-orang pada foto di sini. Letaknya memang persis di persimpangan jalan, makanya ada rambu khusus yang memperingatkan pengendara yang lewat akan keberadaan patung ini. Patung ini sebenarnya buat saya kok gak asing ya… Ternyata, di Eskisehir juga ada. Teman saya kasih tau ini. Katanya sih, dulu, pak Yılmaz, mantan Gubernur Eskisehir, waktu berkunjung ke Bratislava, senang banget sama patung ini, kemudian dia bangun juga patung yang serupa di Eskisehir.

            Lanjut, kami jalan lagi terus sampai tiba di alun-alun. Keliatan sih, ini gedung-gedungnya pasti bakalan cakep kalau terang. Ada sih penerangan mah, cuman masih aja, nuansanya itu gelap…kalau kita bandinginnya sama Budapest. Alun-alun dengan gedung-gedung cantik dengan dominan warna cerah, di tengah-tengah ada air mancur. Cuman, karena ini sudah malam dan pencahayaan cukup gelap, kamera, bahkan mata kami gak bisa memandang kecantikan itu.

Di hari Kamis malam ini, kota ini tampak cukup sunyi, sepi. Orang-orang banyaknya berkumpul di jalan sekitar Michael’s Gate, karena dekat sana memang banyak Café dan restoran.

Setelah jalan-jalan singkat ini, kami lanjut menuju destinasi utama, Bratislava Castle. Di sanalah keindahan kota bisa dilihat dari ketinggian. Jamshid, yang sudah pernah ke sana sebelumnya, menuntun kami menaiki tangga-tangga bukit. Dia bilang, inilah tempat terindah di Bratislava. Oke, feel excited. Dari alun-alun, butuh waktu sekitar 15 menit jalan kaki untuk sampai ke Castle. Dan kebanyakan jalannya menanjak ya. Ya udah pasti sih, kastil letaknya di ketinggian.

Bratislava Castle, dulunya berfungsi sebagai benteng pertahanan yang mengawasi Sungai Danube dan jalur perdagangan utama di Eropa Tengah. Dengan dinding tebal dan menara di tiap sudutnya, kastil ini menjadi pusat kekuasaan penting bagi berbagai Kerajaan, mulai dari Moravia Raya hingga Kekaisaran Habsburg. Bratislava Castle merupakan kastil megah berwarna putih dengan atap merah yang letaknya ada di tengah-tengah benteng. Kastil ini memiliki bentuk persegi simetris dengan empat menara di setiap sudutnya. Kastil ini mulai dibangun pada awal abad ke-9 M, dan mengalami berbagai restorasi seiring jalannya waktu. Saat ini, bagian dalam kastil berubah menjadi museum sejarah Slovakia, sedangkan halamannya dan taman di sekitarnya, menawarkan panorama pemandangan sungai Danube yang indah.

“Saya harus ke sini pagi-pagi. Pasti indah banget”, kata Ahmet. Iyain aja lah, soalnya dari tadi ngeluh ni bapak-bapak karena jalannya cukup jauh. Wajar lah, umurnya sekarang udah 40-an, hahaha. Tapi, dia masih punya semangat juang dan semangat muda, sih. Untuk orang seumuran dia, dia masih kuat untuk jalan jauh. Kalau tinggal di Eropa, mau gak mau memang harus jalan terus kemana-mana. Gak ada motor (dikit doang). Dan memang dibiasakan untuk budaya jalan, makanya lebih sehat.

Dari atas benteng ini kalian bisa melihat pemandangan kota dari kejauhan. Sungai Danube dengan latar belakang perkotaan Bratislava yang cantik. Jembatan Most SNP, kelihatan juga dari sini, dengan UFO nya itu. Yups, UFO! Awalnya juga saya bingung dengan nama destinasi yang pertama kali saya tau dari Chatgpt ini, tapi setelah dilihat, saya baru paham. Jadi, jembatan ini juga biasa dikenal dengan nama UFO Bridge, karena di tengah-tengahnya, ada UFO tower yang bisa dinaiki oleh pengunjung (berbayar pastinya). Di puncaknya, memang ada restoran, sehingga bisa jadi opsi fine dining bagi orang-orang kaya. Dibangun pada rentang tahun 1967 sampai 1972, UFO tower saat ini jadi salah satu landmark kota Bratislava.

Tadinya, saya mau ke sana juga sih. Gak perlu naik, tapi ke jembatannya aja, lihat dari bawah. Tapi karena dirasa cukup deh dilihat dari atas benteng juga udah cakep, saya urungkan rencana saya itu. Lagi pun, jaraknya cukup jauh, dan bakal melelahkan untuk ke sana sekarang. Untung ada kamera HP nya Jamshid, yang masih bisa diandalkan walaupun keadaan gelap di malam hari. HP saya sudah gak bisa diandalkan memang kalau sudah malam. Gak foto, gak video, burem parah. Emang butuh amunisi baru, sih.

Setelah cukup lama berada di atas, sekitar jam setengah 9 malam, kami turun ke bawah. Kami sekarang hendak pergi ke pinggiran Sungai Danube untuk mengobrol lebih santai. Jamshid yang ajak kita untuk itu. Dia bilang memang beberapa hari ini dia di Bratislava, dia gak menemukan teman untuk diajak ngobrol bareng, sebelum bertemu dengan kami. Ahmed awalnya nggak mau ikut karena pengen rehat, tapi setelah pikir ulang, akhirnya dia mau.

Karena memang Bratislava ini tidak terlalu besar dan jarak antar tempat itu cukup dekat, jadi kami tempuh semuanya dengan jalan kaki, termasuk ke pinggiran Sungai Danube. HP saya saat itu sudah low battery (lobet), di bawah 20%, padahal saya gak tau di bus nanti ada tempat cas-an atau gak. Jamshid menawarkan saya untuk cas di hotel dia, yang ternyata letaknya sebelahan dengan Sungai Danube. Wah, pantes aja mahal harganya, 100 EUR per malam, loh. Semua pengeluaran dia di kunjungan bisnis ini ditanggung perusahaannya sih. Jadi gak masalah buat dia. Setelah Jamshid turun dari hotel, kami mulai mengobrol di bangku sebrang sungai. Jamshid, yang saya pahami sangat konservatif. Artinya, dia itu family man, suka ngobrol, humble, dan religius juga. Ahmed cerita tentang mantan istrinya 10 tahun yang lalu menikah dengannya. Mantan istrinya ini orang Jerman, yang muallaf karena belajar dari dia. Dulu, mereka bertemu di salah satu hostel di Turki. Mereka bercerai karena ada perbedaan mentalitas antara perilaku rumah tangga antara orang Eropa dan orang Arab. Adanya perbedaan kultur dan budaya antar mereka yang memisahkan mereka. Namun begitu, hubungan mereka masih baik sih. Bahkan ayah dan saudara laki-lakinya pun saat ini juga berstatus muallaf. Masya Allah. Saat ini, Ahmed tidak sedang berkeluarga. Dia hanya punya satu anak yang tinggal dengan mantan istrinya (yang lain) di Mesir. Tapi kalau dia pulang ke Mesir, anaknya tinggal bareng dia. Ya seperti itulah, cukup panjang obrolan berjalan. Gak kerasa, sudah satu jam berlalu. Jam setengah 10, kami akhiri obrolan. Tapi sebelum bubar, saya mau numpang WC dulu di hotelnya Jamshid, saya udah kebelet BAB. Hotel tempat dia menginap sangat nyaman, layaknya hotel bintang 4 pada umumnya. Ahmed membujuk Jamshid untuk check-out dan pindah saja ke hostel dia, yang harganya hampir 10x lipat lebih murah. Di sana ada dapur yang mereka bisa masak bareng untuk Iftar. Saya sendiri gak menyarankan Jamshid untuk pindah ke hostel ya, karena barang bawaan dia banyak banget, dan itu penting-penting juga. Dia juga pasti butuh space tenang untuk meeting bareng timnya. Pindah hotel lain yang lebih murah mungkin iya, tapi kalau ke hostel sih gak cocok untuk dia. Kalau backpackeran kayak saya dan Ahmed sih, iya cocok banget. Dan ternyata, besoknya (saat di Wina) saya dapat kabar dia pindah ke hotel yang lain sih, yang lebih murah.  

Dari hotel Jamshid, kami ke hostel Ahmed. Dia masih berniat untuk membujuk Jamshid pindah bareng dia. Tapi ternyata hostel tutup, dan tamu selain yang menginap, tidak dibolehkan untuk masuk. Ya udah tuh, mereka berdua janjian ketemuan besok pagi aja. Ahmed, pamitan dengan kami dan masuk ke dalam hostel. Jamshid dengan saya juga berpisah di sana. Karena dia masih ada meeting besok dan sudah cukup lelah tampaknya saat itu. Saya sebenarnya, ketika di Castle pun sudah dibujuk untuk reschedule keberangkatan saya ke Prague, dan menundanya besok supaya bisa masak-masak buat Iftar bareng mereka. Tapi saya bilang, saya gak bisa, jadwal yang udah saya buat, gak bisa dan gak mau saya ubah. Terlebih, akomodasi juga saya udah booking, kan.

Sebelum pulang ke terminal, mumpung masih ada waktu, saya mampir dulu ke Old Town, di sana ada Presidential Palace atau Istana Kepresidenan Slovakia. Istana kepresidenan ini berdiri megah persis di samping jalan raya. Dengan warna putih elegan, jendela besar di tiap lantainya, membuat istana ini indah untuk dipandang, terutama buat pejalan kaki yang lewat. Jarak pagar dengan istana terbilang sangat dekat. Jadi sangat jelas terlihat istana itu meski kita berdiri dari depan pagarnya.

 

Fyi, Slovakia ini merupakan salah satu negara maju termuda, dengan sistem pemerintahannya menganut sistem Republik Parlementer-Presidensial, dimana terdapat Presiden sebagai kepala negara dan Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan. Negara ini bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 2004, bersamaan dengan Hongaria dan delapan negara lainnya. Sejak saat itu, negara ini terus berkembang hingga bertransformasi menjadi negara maju seperti saat ini.

Kira-kira jam 11 kurang 15 menit, saya naik bus ke terminal kota. Jam 11 lewat 10, saya sudah sampai di tempat. Sambil menunggu keberangkatan, saya mengaji, nyicil program PPI One day One Juz (ODOJ). Mumpung ada waktu kosong. Siapa tau besok-besok ada kesibukan, jadinya gak sempat untuk selesaikan tanggung jawab ngajinya.

Pukul 23.40, Bus saya berangkat menuju Praha. Tepat waktu. Salut. Gak butuh waktu lama untuk saya buat tidur pulas, hanya beberapa menit setelah masuk bus.

Selanjutnya, part bagian Praha……

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?