Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Praha)

 Bratislava-Praha-Wina, 6-8 Maret 2025

              Bagian Praha ini merupakan kelanjutan dari part sebelumnya, part Bratislava. Jadi, kalau belum baca, bisa baca itu dulu ya sebelum lanjut ke Part Praha ini.

            Jam 01.15 dini hari, saya sampai di terminal kota Brno, tempat saya transit selama dua jam ke depan. Terminal Brno tempat saya turun ini, terminal terbuka dengan banyak bangku yang tersedia di sepanjang peron. Di ujung salah satu sisi tempat tunggu ini, ada toilet, yang hanya menerima pembayaran cash. Duh, saya gak pegang cash sama sekali pula, apalagi Euro. Cuaca cukup dingin di luar, sehingga saya masuk ke ruang tunggu kecil tembus pandang yang disediakan di terminal tersebut. Di dalamnya terdapat vending machine serta beberapa bangku yang tersedia untuk pengunjung. Di dalam sini, suhu ruangan cukup hangat, tapi masalahnya, tempat ini bau. Mungkin karena di dalam sini ada homeless yang tidur, jadinya agak bau. Di Eropa memang suatu pemandangan yang cukup normal untuk melihat homeless people tidur di terminal atau di tepi jalan pada malam hari. Jadi, saya coba untuk duduk di dalam selama beberapa menit sambil tutup hidung pakai hoodie yang saya pakai, guna menghangatkan badan sejenak. Untuk menghabiskan waktu, saya sudah download banyak banget video Youtube untuk ditonton atau sebatas didengar sambil jalan. Kebanyakan sih, yang saya download itu podcast Escape-nya Raymond Chin dan Ustadz Felix. Masalah muncul nih, ketika saya kebelet kencing tapi WC otomatis itu gak bisa dibuka sebelum dimasukkin koin Euro, yang saat itu saya gak pegang sama sekali. Akhirnya saya coba muter-muter ke sekeliling, siapa tau ada. Dan ada ternyata, stasiun terminal, yang saya gak tau ini stasiun apa, yang penting sih kita bisa untuk masuk ke dalamnya. Saya cari kemana-mana, kok gak ketemu. Ternyata toiletnya tutup kalau malam. Wah… wah… gimana nih?! Saya keliling lagi, dan nemu ada KFC yang masih buka. Saya langsung masuk ke dalam dan naik ke lantai dua restoran, tempat toilet berada. Eh..eh, ada kodenya dong. Jadi kita harus pesan makanan dulu, baru bisa dapat kode toilet di struk pembayarannya. Gak berapa lama kemudian, ada orang lain yang ingin buang hajat seperti saya datang. Dia bukan pelanggan, cuman mau numpang buang air kecil aja. Akhirnya dia pergi ke tempat sampah sekitar, tempat struk pembelian pelanggan pada dibuang. Dia ambil salah satu struk, dan memasukkan kode yang tertulis di sana. Dan, bisa dong! Ah, lega…. Saya kemudian kembali ke terminal, dan duduk di salah satu pojok bangku di sana (yang di luar ruangan ya, bukan yang di dalam). Di situ saya mojok, baca Al-Qur’an satu juz, untuk isi waktu. Baca satu juz kan bisa menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Lumayan lah, untuk makan waktu sambil nunggu jam 3 pagi. 10 menit sebelum jam 3, setelah saya selesai baca Al-Qur’an, saya mengambil bekal makanan saya dari dalam tas yang sudah saya masak di rumah kemarin, untuk saya makan sahur. Saya masak sederhana saja, pasta macaroni, rebus, tiriskan,  goreng bawang-bawangan, masukkin pastanya, kasih bumbu-bumbu, kecap, terus kasih telur dan sedikit sayuran, udah deh, jadi. Jadi memang, saya sudah siapkan banyak bekal untuk saya sahur maupun berbuka (kalau-kalau di masjid gak ada free iftar). Selain bekal pasta yang saya makan ini, saya juga bawa kurma yang tinggal 3 biji (abis sahur ini, saya buang), roti tawar yang masih banyak beserta selainya, beberapa sachet saos ABC, dan telur dadar serta sosis yang memang saya masak lebih untuk makan besok ketika sahur di Praha. Makanya tas saya agak berat, salah satunya ya gara-gara ini.    

            Jam 3.20, bus saya berangkat ke Praha. Telat 10 menit dari jadwal seharusnya. Yaa gak ngaruh banyak lah. Di bus, saya duduk di sebelah cewek Asia, mungkin dia orang Korea kali, atau Jepang, Cina, atau malah Vietnam. Jujur saya gak bisa bedain, dan karena udah malam juga gak perlu basa-basi, langsung tidur deh.

            Jam 5.30, saya bangun tidur, harusnya sih bus saya sudah sampai di Bus Terminal Roztyly, tempat saya harusnya turun. Dan ternyata memang saya sudah sampai di sana. Lah kok?! Jadi, saya karena baru bangun dan nyawa belum kekumpul, melihat nama Roztyly di terminal itu, cuman diam aja sambil coba menerawang, “ini lagi di mana?”. Dan, gak lama busnya jalan lagi. Yups, saya telat sadar. Saya tanya orang sebelah saya ini, di mana dia bakal turun. Dia bilang, di last stop, Prague Airport, sekitar satu jam lagi dari sekarang. Waduh, jauh amat. Tapi dia bilang, harusnya ada stop lagi abis ini. Setelah saya cek, benar ada. Terminal Bus Florenc dan Prague Main Bus Terminal. Ya udahlah, saya turun di terminal abis ini aja. Saya tayammum, Salat Subuh, dan cek G-Maps lagi lokasi saya saat ini.

            Sekitar jam 6 pagi, bus sampai di Terminal Bus Florenc. Saya turun di sana, dan langsung mencari toilet terdekat. Untungnya walaupun toilet ini hanya menerima pembayaran CZK dan EUR, tapi setidaknya dia menyediakan opsi cashless. Keluar dari toilet, saya coba cari-cari tempat cas-an di sini, tapi sayang gak nemu. Gak jauh dari tempat ini, saya lihat ada tempat yang sepertinya main building terminal ini. Saya masuk ke dalam, ada McD dan tempat duduk makannya di sana. Tau kan kayak food court-food court di mall gitu lah ya, jadi bangku-bangku dan meja makannya ada di depan food court mereka. Saya mojok di salah satu kursi biar gak keliatan (soalnya saya kan puasa, jadi gak bakal pesan makan apa-apa), dan ngecas HP di stop kontak di situ. Rasa-rasanya, terlalu pagi untuk mulai trip sekarang. Jadi saya ngaji lagi satu Juz, sambil nunggu baterai HP terisi penuh juga. Di sini, saya juga mulai memetakan ulang tempat-tempat yang bakal saya kunjungi. Sebab, saya turun di terminal yang bukan seharusnya, tentu rutenya juga berubah. Kebetulan, terminal ini juga ada Free Wi-fi nya, jadinya gak boring lah. Saya juga bisa download video-video youtube lainnya. Oh ya, sekalian juga saya upload story IG lah ya, foto-foto dan video di Bratislava. Lumayan buat hemat kuota. Saya jadi sadar pentingnya dokumentasi sekarang, walaupun kamera HP saat ini gak terlalu bagus, akalin aja pake cara apapun seperti Adobe Lightroom, filter IG, dan lain-lain. Hehe. Sayang-sayang pak, kalau misal udah jauh ke Eropa gak ada dokumentasi yang bisa di-share. Tentunya bukan buat sombong, tapi buat enjoy every moment aja. Alhamdulillah. Kan arsip story IG mah gak bakal hilang, kecuali memang dihapus atau akun hilang.

            Jam 8 pagi, dari Florenc, saya jalan ke destinasi pertama, Palladium. Sengaja saya gak naik transportasi umum dulu sebelum jam 10 pagi. Biar nanti tiket 24 jam yang saya beli, masih berlaku sampai saya berangkat besok ke Wina. Ke Palladium, butuh waktu sekitar 15 menit jalan kaki dari Florenc, jadi memang jaraknya gak terlalu jauh. Di jalan menuju ke sana, mata saya tergiur dengan toko souvenir yang jual oleh-oleh di sana. Sempat mikir agak panjang saya buat memutuskan untuk beli. Soalnya paling murah aja 50 ribuan untuk satu tempelan kulkas. Tapi gapapa, sekali-kali lah ngeluarin duit lebih. Saya habis 210 CZK atau sekitar 8,4 EUR (150 ribuan rupiah kurang lebih) cuman buat beli tiga tempelan kulkas. Duh duh hati-hati. Entar bokek gara-gara souvenir.

            Palladium itu tuh salah satu pusat perbelanjaan di Praha, yang bentuknya itu cakep banget. Minimalis, warnanya Pink becampur putih, punya empat lantai (kalau dilihat dari luar) dengan jendela-jendela besar yang menghiasinya. Sweet! Dari pusat perbelanjaan aja udah manis gini…apalagi bangunan-bangunan lainnya ya?! Orang bilang, Praha itu kota tercantik di Eropa, -atau bahkan dunia? Ekspektasi ke Praha sangat tinggi nih. Apa iya Praha lebih cakep dari Budapest? Hemmm, let’s see kita buktikan hari ini.

            Tapi, bener-bener dah lu Praha! Dari ujung ke ujung jalan emang cakep-cakep bener bangunannya. Et dah! Coba lihat bangunan normal di bawah ini.

Kayak gini pemandangan di sekitar jalan yang saya lalui tuh. Beh beh beh…. Dari sini aja udah keliatan sih gacornya.

            Dari Palladium, saya jalan ke Wenceslas Square, salah satu alun-alun paling ramai di Praha. Jalan sekitar 15 menitan ke sana. Nah, lagi jalan ke sana juga, saya nemu, bangunan yang tampak seperti gerbang besar, dengan arsitektur Gothicnya yang khas: bentuk fasad gelap, menara runcing, serta ukiran dan patung batu yang detail. Kelak saya tau kalau gerbang ini namanya Prašná brána atau Powder Tower. Gerbang ini dibangun pada abad ke-15 dengan gaya Gothic, sebagai pintu masuk utama menuju Kota Tua Praha dan merupakan bagian dari jalur penobatan raja-raja Bohemia. Nama Powder Tower sendiri berasal dari fungsinya di abad ke-17 sebagai tempat penyimpanan bubuk mesiu.

            Setelah cukup lama berjalan, akhirnya saya sampai di alun-alun Wencesclas. Memang ramai orang lalu-lalang. Tapi sayang, ada perbaikan jalan dan bangunan di sana. Jadi kita gak terlalu bisa leluasa untuk ambil spot foto di sana. Di ujung Square, ada Prague National Museum, yang sesuai dugaan, juga sangat megah. Tapi karena ada perbaikan jalan itu, jadinya kita harus lewat pinggir untuk bisa ke sana. Di sepanjang jalan ini banyak sekali toko souvenir, dan untungnya harga-harganya gak jauh beda sama toko tempat saya beli oleh-oleh tadi. Jadinya, saya gak merasa rugi, hehe. Yang saya perhatikan sih, semua toko souvenir ini yang punya orang Cina, atau mungkin Vietnam, yang penting Asia. Gak ada satupun toko souvenir yang penjaga tokonya orang non-Asia. Setidaknya, sampai yang saya lihat hingga saat ini. Makanya, aksesoris patung kucing melambai yang biasa ada di toko-toko cina tuh, ada semua di toko-toko souvenir ini.

            Museum Nasional ini terletak di samping jalan raya. Ukurannya sangat besar, bahkan salah satu yang paling megah tampaknya di alun-alun ini. Museum ini bergaya arsitektur Neo-Renaissance, dengan fasad yang dihiasi patung-patung bergaya klasik dan ukiran detail yang menambah nuansa megah bangunan ini. Di depan museum, ada air mancur dan patung-patung simbolik, yang melambangkan ilmu pengetahuan, seni, dan sejarah. Museum ini menyimpan banyak koleksi arkeologi, sejarah alam, serta seni dan budaya negara. Tapi kali ini, saya gak masuk. Belajar dari pengalaman di Serbia, saya gak mau duit saya habis buat masuk ke banyak museum, hehe. Cukup liat foto-foto dalamnya di Google aja.

            Di sebrang jalan dan museum, ada patung St.Wenceslas, seorang pangeran Bohemia yang dihormati sebagai santo pelindung Ceko. Karena saya traveling nya sendiri, agak sulit untuk bisa foto bagus depan patung ini. Palingan selfie. Untuk bisa foto depan patung ini, saya minta tolong salah satu emak-emak yang juga lagi foto-foto di sana. Kenapa gak minta yang lebih muda, karena orang-orang pada lagi sibuk sendiri rata-rata. Kebetulan, cuman emak-emak itu yang sendiri foto-fotonya. Dannn, hasilnya ini -foto saya dengan background patung yang kepotong, hahaha. Ya, wajar lah. Gapapa. Selain kepala kuda itu yang kepotong, fotonya sempurna, kok. Makasih, mak!

            Tepat pada jam 10 pagi, dari Wenceslas Square, saya beranjak menuju Benteng Vysehrad. Kalau dilihat di Maps, tempatnya itu letaknya ada di bawah. Jadi, memang sengaja tujuan-tujuannya itu, saya lalui pakai rute memutar biar sekali jalan. Dari terminal, ke kiri, ke bawah, naik ke atas, ke kiri lagi, ke atas lagi, terus ke kanan, ke tempat penginapan. Karena sudah jam 10 juga, saya beli tuh tiket 24 jam transportasi umum (disingkat, transum) Praha. Gak terlalu mahal ya, harganya 120 CZK atau sekitar 4,8 EUR untuk pemakaian transum sepuasnya selama 24 jam ke depan.

Rute trip di Praha

              Untuk ke Vysehrad, saya naik metro C yang dilambangkan dengan garis merah seperti di foto. Saya hanya melewati dua pemberhentian saja dari Station Muzeum ke Station Vysehrad. Kemudian jalan kaki lagi 15 menit.

            Vysehrad ini merupakan salah satu situs yang memiliki nilai sejarah penting untuk Praha dan Ceko. Benteng ini terletak di atas bukit di tepi sungai Vltava dan memiliki sejarah panjang sejak abad ke-10. Fakta menariknya, Vysehrad diyakini sebagai tempat pertama kediaman Kerajaan Bohemia sebelum Istana Praha menjadi pusat pemerintahan. Benteng ini juga saat ini menjadi pemakaman nasional tempat peristirahatan tokoh-tokoh besar Ceko seperti dua komponis terkenal abad ke-19, Bedřich Smetana dan Antonín Dvořák.

            Setelah sekitar 10 menitan jalan kaki, akhirnya saya sampai di jalan, yang udah ada nih nuansa menuju bentengnya. Di depan saya, ada gerbang masuk yang berbentuk sebuah lorong kecil. Sepertinya, dulunya gerbang ini ada pintunya ya. Setelah saya cari tau, ternyata untuk masuk ke Benteng Vysehrad, ada dua gerbang yang bakal saya lewati. Yang pertama, gerbang yang saat ini ada di depan saya, Tabir Gate (Táborská brána). Gerbang ini merupakan gerbang pertahanan utama Benteng Vysehrad pada masa Kekaisaran Habsburg. Dibangun pada abad ke-17, benteng ini memiliki desain arsitektur bergaya Baroque awal dengan bentuk khas benteng pertahanan, yang memiliki lengkungan besar dan dinding yang tebal. Yang kedua, ada gerbang Leopold Gate (Leopoldova brána), yang dibangun pada masa kaisar Leopold I, antara rentang tahun 1653-1672 M. Dulunya, gerbang ini dibangun sebagai bagian dari sistem pertahanan benteng setelah Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648 M).

            Jarak antara Tabir Gate dan Leopold Gate tidak jauh, bahkan terbilang cukup dekat ya… hanya berjarak kurang dari lima menit jalan kaki. Leopold Gate secara ukuran, lebih besar dan lebih tinggi dari Tabir Gate. Gerbang ini memiliki beberapa ukiran patung, khas arsitekur Baroque, -membuatnya lebih elok untuk dilihat secara bentuk, daripada gerbang sebelumnya. Di jalan antara dua gerbang ini, sudah banyak didirikan beberapa bangunan, seperti pusat informasi, café, dan toko souvenir.

            Dari Leopold Gate, hanya beberapa langkah saja, saya melihat sebuah bangunan kecil yang cukup unik bentuknya, dengan salib di atasnya. Setelah cari tau, tempat ini sebutannya Rotunda. Rotunda adalah jenis bangunan yang berbentuk lingkaran atau silinder, biasanya memiliki atap berbentuk kubah. Dalam arsitektur Eropa, biasanya rotunda dipakai sebagai kapel, gereja kecil, atau monumen. Nah, kalau Rotunda yang letaknya di dalam Benteng Vysehrad ini adalah Rotunda St. Martin (Rotunda svatého Martina), yang dibangun pada abad ke-11, membuatnya jadi salah satu bangunan gereja tertua di Praha.

            Saat saya berkunjung ke sana, ada banyak wisatawan yang berfoto di depan gereja kecil ini. Mereka ini sepertinya grup wisatawan dari Korea (atau mungkin juga Cina). Banyak couple-couple muda di grup mereka. Mereka foto berdua, atau yang cowok fotoin yang cewek. Ya gak penting dibahas sih, cuman ya udah lah yaa, hahaha.

            Kemudian saya jalan terus sampai saya tiba di sebuah taman, yang terdapat banyak bangku di sana. Di belakang taman ini, ada pagar yang dari sana sudah terlihat kota Praha dari ketinggian. Di taman ini, ada satu patung yang membuat saya penasaran, patung siapa ini. Ada beberapa ‘sesajen’ diletakkan di bawah patung ini, berupa lilin cairan merah dan bunga. Saya cari tau lagi dong. Dan ternyata, patung ini merujuk kepada sosok Santo Yohanes Nepomuk (St. John of Nepomuk), salah satu orang suci paling terkenal di Ceko. Menurut catatan sejarah, beliau dulunya adalah seorang imam Katolik dan penasihat raja pada abad ke-14. Terkenal karena mati martir (kalau dalam istilah islam, mati syahid), karena menolak mengungkap rahasia pengakuan dosa Ratu, kepada Raja Wenceslaus IV dari Bohemia yang terkenal keras dan menuduh istrinya selingkuh saat itu. Karena penolakan ini, beliau dieksekusi dengan cara dilempar ke Sungai Vltava pada tahun 1393 M. Legenda mengatakan bahwa lima bintang muncul di tempat tubuhnya tenggelam. Oleh karena itu, di patung Santo Yohanes Nepomuk, terdapat lima bintang yang mengitari kepalanya. Patung beliau dapat ditemukan di berbagai tempat seperti di jembatan dan di gereja di seluruh Eropa Tengah, terutama di Praha.

            Dari taman tempat patung ini berada, saya bisa lihat ada menara gereja Gothic yang cantik tak jauh dari tempat saya berada. Sebenarnya dari tadi sih saya lihat dan sepertinya menarik. Ya sudah, saya ke sana lah. Di Maps, tertera nama tempat ini, Saints Peter dan Paul Basilica. Gereja megah dengan dua menara Gothic berwarna hitamnya yang menjulang tinggi. Sayangnya, ketika saya datangi, ternyata sedang ada renovasi di halaman depan gereja ini, sehingga saya gak bisa lihat lebih jelas dari dekat.

            Okelah, saya rasa cukup untuk benteng Vysehrad ini. Saya kemudian turun ke bawah melalui tangga-tangga, menuju stop Tramway terdekat. Tujuan saya selanjutnya adalah The Dancing House (Tančící dům). Seperti sebelumnya, total-total jalan juga 15 menit, plus naik tramway jadinya 17 menitan lah.

            Ketika saya rasa saya sudah sampai di lokasi, kok gak ada apa-apa ya. Setelah saya lihat gambar lokasi di G-Maps, baru saya sadar kalau saya ada tepat di bawah Rumah Menari ini. Nyebrang jalan lah saya supaya bisa lihat dengan jelas. Hemmm, agak aneh emang bentuk gedung ini. Bukannya Rumah Menari, malah kayak Rumah Penyok ini😅. Oke, coba kita baca kenapa bisa tempat yang terletak di samping Sungai Vltava ini menjadi salah satu landmark Kota Praha. (Beberapa menit kemudian)……..Ohhh gitu. Jadi, dulunya lokasi bangunan ini tuh sebelumnya terkena serangan bom pada PD II, dan lahan tersebut kosong sebelum adanya proyek pembangunan gedung ini. Dirancang oleh arsitek Vlado Milunić (Ceko-Kroasia) dan Frank Gehry (Kanada-Amerika), bangunan ini selesai pada tahun 1996. Jadi, kedua arsitek ini sengaja membangun gedung ini dengan bentuk seperti sepasang orang yang sedang menari, terinspirasi oleh pasangan penari legendaris Fred Astaire dan Ginger Rogers. Jadi, bagian gedung sebelah kiri berupa menara kaca yang ramping, melambangkan Ginger, sang penari wanita. Dan bagian sebelah kanan, berupa beton yang kokoh, melambangkan Fred, sang penari pria. Menariknya, dulunya, proyek bangunan ini dikritik karena kontras dengan arsitektur klasik Praha yang dipenuhi dengan bangunan Baroque, Gothic, dan Art Nouveau. Iya sih, nyentrik banget gedung ini dari bangunan sekitarnya. Tapi malah seiring berjalannya waktu, Dancing House menjadi simbol modernisasi kota dan menjadi salah satu landmark kota Praha. Dancing House berisi kantor, galeri seni, hotel, dan restoran di lantai atas dengan pemandangan Sungai Vltava dan Kota Praha. Hemmmm, menarik…menarik. Memang trip tuh akan lebih meaningful kalau kita tau cerita di balik tempat yang kita kunjungi, ya.

            Kita gak lama-lama di tempat ini, karena memang hanya satu gedung ini aja yang menjadi landmark. Jadi, kita habis ini, bakalan naik bus, menyebrang sungai, menuju bukit. Kita bakal ke Petrin Hill. Tempat ini juga ada di salah satu list destinasi yang dicantumkan oleh ChatGpt. Tapi ini opsional aja, jadi kalau gak punya waktu, gak perlu. Saya kan punya waktu, jadi gaskeun aja semuanya!

            Kali ini, jaraknya lumayan jauh ya, sekitar setengah jam. Dari naik bus, turun di pemberhentian Stadion Strahov, lalu jalan kaki selama 15 menit. Agak lama nih nunggu bus nomor 176 lewat. Untungnya memang cuaca gak terlalu terik walaupun langit cukup cerah.

            Setelah 15 menit di bus, saya tiba di lokasi pemberhentian, di depan stadion yang tampaknya sudah tidak terpakai lagi ini. Stadion Strahov, adalah salah satu stadion terbesar di dunia yang dulunya digunakan untuk acara olahraga massal seperti Sokol gatherings (pertunjukan senam besar di Cekoslowakia). Kapasitasnya sekitar 250.000 orang, tapi sekarang tidak lagi digunakan untuk pertandingan olahraga besar. Sekarang, stadion ini lebih banyak digunakan sebagai tempat latihan bagi klub sepak bola Sparta Praha dan kadang-kadang untuk acara besar lainnya. Dari luar saja, kita bisa lihat kalau stadion ini sudah seperti terbengkalai dan gak terlalu elok lagi untuk dipandang (untuk selevel Praha ya..). Jadi, wajar kalau memang hanya dipakai sebagai stadion latihan aja.

            Oke, kita jalan lagi sejauh 15 menit. Barulah kita sampai di bukit Petrin. Ada beberapa orang jogging maupun piknik keluarga di sini. Kebanyakan pada piknik di sekitar Petrin Tower, yang merupakan replika Menara Eiffel di Paris. Kita bisa naik juga ke atas, tapi lumayan mahal sih, sekitar 150 ribuan rupiah. Gak worth it menurut saya dengan harga segitu. Di sekitarnya juga ada beberapa bangunan cakep, kayak Gereja St.Lawrence yang cukup unik karena warnanya merah muda dan Mirror Maze yang memiliki desain ala-ala Neo-Gothic dengan atap-atap runcingnya yang berwarna hijau hasil oksidasi. Ada juga Strahov Library yang saya lihat di Google tuh cantik banget. Niatnya saya kesana sekalian mau ngecas juga karena baterai HP udah lemah banget ini. Tapi karena cukup jauh, bayar juga, bahkan kata review orang-orang tuh butuh reservasi, saya gak ke sana.

            Singkat cerita, saya turun dari bukit ini, menyusuri banyak tangga, melewati banyak kebun, demi bisa sampai ke destinasi selanjutnya, Old Royal Palace. Sejujurnya, saya cukup lelah di sini. Saya sama sekali gak merekomendasikan kalian ke Petrin Hill, karena capek banget, yang ditawarkan juga gak terlalu banyak. Jadi sama sekali gak worth it. Saya lebih dari se-jam, jalan aja tuh di sekitar bukit, puasa-puasa, siang-siang -walaupun gak terlalu panas sih-, dan tas saya makin kerasa berat setelah berjam-jam digendong. Maksud saya, apa yang ada di Petrin itu bukan hal yang ingin saya lihat. Mungkin kalau kalian tinggal di Praha, terus mau piknik atau nyore di sana, mungkin oke. Tapi kalau buat backpacker traveler kayak saya yang ke Praha untuk melihat arsitektur-arsitekturnya yang megah, tempat ini sama sekali gak cocok dan sangat melelahkan. Saya sempat membagikan cerita saya ini di story IG. Untung gak mokel, hahaha. Coba lihat foto di bawah ini, itu ada menara kan keliatan ya. Nah saya tuh dari sana. Itupun menara itu letaknya di tengah bukit. Saya tuh jalan dari ujung bukitnya. Kebayang gak jauhnya semana.

            Setelah balik lagi ke ‘jalan yang benar’, melewati gapura dan di baliknya ada jalan dengan bangunan-bangunan cantik di sekitarnya, saya seuneeng banget. Ini loh rek yang kucari tuh di Praha. Hahaha.

            Di jalan menuju kompleks Prague Castle, saya melewati terlebih dahulu alun-alun cantik, Hradcany Square. Ada banyak orang duduk dan bersantai di alun-alun ini. Semua bangunan yang ada di sekeliling alun-alun, caantiik! Ada Matthias Gate dengan ukiran patungnya yang ‘Praha banget’. Ada juga Schwarzenberg Palace yang saat ini menjadi Galeri Nasional Praha. Bangunan ini sangat menarik perhatian saya karena memiliki pola-pola yang unik di dindingnya, sehingga tampak seperti sebuah kuil. Schwarzenberg Palace memiliki gaya arsitektur Renaissance sehingga memberikan kesan khas daripada bangunan lainnya. Di depan bangunan ini, duduk seorang seniman musik jalanan yang memainkan alat musiknya. Hahhh, akhirnya bisa nyantai bentar.

            Baterai HP makin lama makin lemah nih, tinggal 20-an persen. Duh duh, gara-gara lama di Petrin nih. Mana gak punya powerbank pula kan. Cuman gak mungkin juga kan di tempat sebagus ini kita gak pakai HP buat dokumentasi. Kan sayang sayang momennya. Makanya, saya langsung bergegas masuk ke kompleks Prague Castle. Berikut denahnya:

            Untuk masuk ke kompleks Prague Castle ini gratis ya, guys. Kecuali kalau kita mau masuk ke dalam gereja atau istana nya. Cukup ramai ya pengunjung hari ini. Dari mancanegara juga nih, keliatannya. Masih hari Jumat ini padahal, bukan Sabtu. Btw, karena saya musafir dan susah juga untuk menemukan masjid di Praha, saya Salat Jamak Dzuhur-Ashar, gak salat Jumat.

            Baru lewat satu courtyard aja udah kagum. Bagus banget dah bangunan-bangunannya ya. Eh, masuk courtyard 3 melihat Katedral St.Vitus, Behhhh gilaaa, bagus banget! Saya upload ke Story IG, dan semua teman berpendapat sama. Beneran secakep itu! Buat lah kita kan ya, video singkat gitu dengan backsound ‘Sonne-Ramstein’. Terinspirasi dari salah satu reels yang lewat di beranda IG saya, menampilkan Katedral arsitektur Gothic keren banget di Koln, Jerman. Nah, ini aja saya tau mungkin gak sebesar dan gak secakep yang ada di Koln, tapi ini sudah cukup buat saya kagum banget. Emang arsitektur Gothic ini gila ya. Detail ukiran-ukirannya tuh magical banget. Dan, gak sampai di situ saja, setelah saya terhenyak kagum dengan bagian depan katedral ini, eh taunya dari samping juga cakep dong! Bahkan mungkin lebih cakep dari samping karena lebih luas. Gila…gila… Backsound ‘Sonne-Ramstein’ lagi ini mah, hahaha. Katedral ini terletak berhadap-hadapan dengan Old Royal Palace yang berwarna putih dengan gaya arsitektur Renaissance. Tapi jujur saya lebih tertarik dengan arsitektur Gothic gereja Katedral nya sih.   



            Nah, di sini ada masalah nih. Karena baterai HP saya tinggal 5% doang. Bahaya nih, kalau lobet ntar gak bisa ke hostel karena gak tau jalan kesananya, juga buat booking nanti sulit karena bukti booking nya ada di Email. Saya lihat-lihat di tembok sekitar gak ada tempat stop kontak nih. Ahaaa, Kamar Mandi! Harusnya ada sih stop kontak di kamar mandi. Sekalian juga mau buang air ini. Kebetulan, di samping katedral ada kamar mandi gratis buat umum. Toilet dengan wastafel dan cermin, tempat kencing pria, dan dua bilik WC. Saya masuk ke bilik WC nya, tapi di dalam gak ada stop kontak. Setelah saya cari, ternyata ada satu stop kontak, di belakang pintu masuk, di bawah mesin pengering, yang hembusin udara ke tangan kita itu loh kalau kita taruh di atasnya. Nah, jadinya, saya taruh tas saya di sisi luar dinding toilet, dan saya terpaksa harus berdiri di pintu masuk sambil ngantongin HP saya yang dicas. Soalnya stop kontak itu letaknya di bagian bawah dinding dekat lantai, dan gak ada tempat untuk menaruh HP di situ. Mau gak mau dah. Beberapa orang-orang yang datang ke toilet, mengira saya sedang antri toilet, sebelum saya kasih isyarat mereka untuk lewat aja. Cukup lama tuh saya disitu, ada kali 10-15 menitan. Sampai baterai HP saya menyentuh 25%, barulah saya pergi dari sana. Passs banget momennya. Karena ketika saya cabut charger HP nya dan memasukkan lagi ke dalam tas, petugas pembersih toilet datang dan langsung memakai stop kontak itu untuk menghidupkan mesin pembersihnya. Hoki.

            Tempat terakhir yang ingin saya datangi di Kompleks kastil ini sebelum pergi ke Hostel adalah Lobkowics Palace. Kebetulan juga sekali jalan ke pemberhentian transum terdekat. Kali ini memang saya memutuskan untuk mengubah jadwal trip, yang tadinya selesain semua trip, abis itu baru pergi ke hostel, berubah menjadi, abis Prague Castle, langsung ke hostel, buat istirahat, mandi dan ngecas HP, baru lanjut jalan-jalan lagi abis maghrib. Karena Check-in udah bisa dilakukan mulai jam 3 sore, waktunya sangat pas karena sekarang sudah pukul 2 siang, dan butuh waktu sekitar 45-55 menit untuk ke hostel dari kastil ini.

            Menuju Lobkowics Palace, saya melewati rumah-rumah kecil warna-warni cerah yang menarik untuk jadi spot foto. Ada cukup banyak juga toko-toko dan café di sepanjang jalan ini. Lalu, saya sendiri bingung di mana letak Lobkowics Palace ini. Info di Google juga masuknya bayar, jadi ya udah lah, saya langsung keluar dari kompleks kastil dan menuruni tangga-tangga ke jalan utama. Langsung ke hostel aja. Udah capek juga, HP udah lobet, sekaligus entah kenapa makin lama makin berat aja tas ini.

            Saya naik tramway nomor 15 sebelum transit naik tramway nomor 16. Abis itu jalan kaki 5 menitan. Total-total hampir sejam saya di jalan ke hostel. Transum di Praha cukup bagus sih integrasinya. Jadinya, mau jauh-jauh sekalipun kalau akses transumnya mudah ya, masih Oke banget. Gak perlu lah taksi-taksi gitu, apalagi untuk backpacker kayak kita.

            Singkat cerita, saya sampai di a&o hostel tempat saya menginap. Hostel ini cukup besar, punya puluhan lantai dan ratusan kamar, loh. Setelah proses check-in secara online, saya langsung tunjukkan nomor kamar saya di website kepada resepsionis tanpa harus mengantri seperti yang lain. Setelah dikonfirmasi, saya diberikan kunci kamar berupa kartu seperti di hotel-hotel. Saya langsung naik ke lantai 7 pakai lift, dan masuk ke kamar saya. Di kamar, ada empat bed, artinya ada empat orang yang tinggal di satu kamar. Saya langsung memasang seprai kasur dan sarung bantal yang telah diberikan resepsionis sebelumnya. Saat ini, kayaknya penghuni kamar lagi pada keluar, kecuali ada satu orang di kamar mandi. Saya cas HP saya dan siap-siapin baju untuk mandi. Tapi saya gak lepas celana panjang saya, karena khawatirnya saya sekamar dengan cewek. Karena di hostel-hostel bahkan di flat-flat Eropa, terkadang cowok sama cewek dicampur gitu aja. Kalau cowok semua kan, ya nyantai aja kita pakai celana pendek. Tapi kalau cewek kan, susah. Aurat, bro. Dan benar aja, cewek dong yang keluar dari kamar mandi ini. Setelah saya tanya, dia orang Ukraina. Tapi saya gak nanya lebih lanjut karena jawaban dia juga terdengar cuek. Jadi ya udah, sebatas asal dari mana saja yang saya tanyakan. Setelah itu saya mandi. Selesai mandi, di kamar udah kosong, gak ada orang lagi. Habis itu, saya tidur selimutan pakai celana pendek, terus celana panjang saya taruh di pojokan kasur. Jadi celana panjangnya bisa saya pakai langsung dari bawah selimut waktu bangun. Saya pasang alarm pukul 5 sore, siap-siap buka puasa di Masjid Suleimaniye Prag, yang terletak gak jauh dari hostel. Moga aja ada iftar gratis di sana. Masjid ini kayaknya masjid Turki. Biasanya sih masjid Turki di Eropa tuh menyediakan free iftar harian. Semoga aja.

            Jam 5 sore, saya bangun dari tidur. Kamar masih kosong, penghuninya masih pada di luar. Soalnya ada banyak barang di tiap kasur, makanya saya tau kamar ini memang masih penuh penghuninya. Btw, ranjangnya modelan dua tingkat gitu. Dan saya dapat bed nomor 3, di sisi bawah.

            Sekitar setengah jam kemudian, saya berangkat ke masjid Prag Suleymaniye, yang letaknya gak terlalu jauh dari hostel. Saya tetap bawa tas berisi bekal, seandainya memang gak ada free iftar di sana. Tapi isi tasnya saya keluarin dulu biar ringan. Jujur, pundak saya udah kerasa pegal bener. Tidur siang satu jam setengah barusan tuh bikin segar banget. Setelah sehari lebih gak nyentuh kasur, kan. Jarak ke masjid sekitar setengah jam, naik tramway no 19 kemudian transit no 22. Sebenarnya bisa lebih cepet kalau naik bus, tapi jalan kakinya cukup jauh. Jadi, saya lebih pilih tramway.

            Saya sampai di masjid agak telat, beberapa menit setelah Adzan Maghrib. Bentuk masjid ini sederhana, menyerupai gedung-gedung sekolah. Jadi gedung ini punya dua lantai, dengan banyak jendela yang tidak terlalu besar, serta pintu masuk besar di tengah. Orang yang gak tau di sini ada masjid, gak bakal sadar kalau ini masjid. Di pintu masjid ini, ada tulisan Prag Suleymanite berwarna biru dengan latar putih tertempel di sana. Saya gak berhasil mengejar salat dari rakaat pertama, sehingga saya masbuk di rakaat terakhir. Memang gak ada salat Qabliyah Maghrib di masjid Turki, mengikuti madzhab Hanafi. Makanya cepat selesai salatnya. Di Indonesia juga ada kan beberapa masjidnya, yang setelah adzan Maghrib, langsung salat tanpa qabliyah.

Setelah salat Maghrib, saya lanjut salat Jamak Isya dua rakaat. Kemudian saya turun ke bawah, tempat orang-orang udah ambil tempat buat iftar. Karena tempat makannya penuh, jadinya beberapa orang termasuk saya, duduk lesehan di lorong tempat jalan orang-orang, menggelar plastik sebagai alas makan, supaya kalau tumpah dari piring, gak langsung terkena karpet. Yups, Alhamdulillah ada free iftar juga di sini. Berkah…berkah, Alhamdulillah. Sebagaimana orang Turki makan, ada tiga urutan makan dalam iftar di masjid ini: Çorba atau sup untuk makanan pembuka, biasanya dicocol pakai roti; lalu dilanjut dengan makanan utama. Kali ini menunya nasi dengan lauk kacang nohut dan sedikit daging; manisannya ada baklava sebagai makanan penutup.

Oh ya, di masjid saya ketemu dengan dua orang yang saya kira orang Indonesia, taunya orang Malaysia. Mereka mahasiswa pertukaran pelajar Erasmus juga, tapi dari universitas Malaysia. Mereka belum lama ini juga di Praha, baru sekitar satu-dua bulan. Setelah berbincang dengan mereka, taulah saya kalau orang Indonesia, banyak yang berbuka di masjid lain, yaitu Masjid Al-Firdaus. Masjid itu kata mereka jauh lebih besar dari masjid Suleymaniye dan memang mereka berdua juga aslinya sering berbuka di sana. Baru sekali ini buka di masjid Turki ini. Tapi memang cukup jauh sih jaraknya kalau dari hostel saya ke Masjid Al-Firdaus. Jadi memang Prag Suleymaniye Camii ini pilihan terbaik saat ini. Selain itu, kami juga berbincang tentang rencana jalan-jalan dalam waktu dekat ini. Mereka berdua bilang rencana mereka terdekat adalah ke UK (Inggris). Ternyata Malaysia, selain bebas visa ke negara EU, mereka juga bebas visa ke UK. Ya Allah, enak banget! Indonesia boro-boro, ngurus visa ke UK ya susah, apalagi sebagai turis. Karena UK udah keluar dari keanggotaan Uni Eropa, mereka gak lagi masuk ke dalam Schengen Area. Jadi visa ataupun residence permit Hongaria saya gak bakal bisa dipake untuk berkunjung ke sana. Iri saya dengan mereka di sisi ini. Jujur dah, hahaha.

Setelah makan, saya lanjut lagi perjalanan ke destinasi-destinasi yang belum saya datangi, sedangkan mereka berdua pulang ke asrama. Kata mereka, jarak ke asrama cukup jauh, jadinya mereka gak bisa ikut tarawih di masjid, takut pulangnya kemaleman. Kalau saya ya karena saya gak punya waktu banyak malam ini untuk menuntaskan jalan-jalan malam ini, jadinya tarawih terpaksa saya skip.

Sebenarnya sisa destinasi yang belum dikunjungi gak banyak. Hanya Old Town Square dan Charles Bridge yang masuk ke plan utama. Sisanya tambahan aja, sekalian lewat. Jarak dari masjid ke Old Town Square cukup jauh sebenarnya -sekitar setengah jam-, tapi simpel karena cuman naik satu kali tramway, tanpa harus transit lagi. Jadi bisalah habisin waktu sambil pasang headset dengerin video youtube.

Turun dari pemberhentian terdekat, ada sekitar 10 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana dengan jalan kaki. Eittss, ada toko souvenir lagi nih. Kok, saya ngerasa oleh-oleh saya kurang ya. Masuk deh saya ke dalam. Dan setelah menimbang-nimbang mana yang murah dan worth it dengan harganya, saya akhirnya beli cangkir mug warna putih bergambarkan kota Praha dengan warna hitam. Keluar lagi deh duit, kali ini harganya hampir 150 ribu rupiah, Huhuhu. Ya udahlah gapapa daripada kepikiran terus kan, haha. Dan, ini juga nih saya mau bilang, toko ini juga yang jaga orang Asia. Setelah saya tanya, dia orang Vietnam. Ada sekitar 20 ribu orang Vietnam di Praha, katanya. Berarti benar nih, semua toko souvenir (yang saya lihat) di Praha, punya orang Vietnam semua -atau bisa jadi juga China. Menarik. Diaspora kita di luar negeri, apa kurang banyak ya?

 Kita dah sampai nih di Old Town Square. Malam ini, cukup ramai ya orang-orang di sini. Apa memang tiap hari memang ramai ya? Terlebih kan besok libur tuh Sabtu, jadi mungkin memang lebih ramai  dari hari biasa. Mungkin. Wajar sih tempat ini ramai terus, karena emang suasana malam di sini tuh parah…cantiknya. Bangunan-bangunan putih di sekeliling, diterangi cahaya lampu kekuningan membuat kesan malam di Praha jadi elegan dan romantis. Apalagi di bawahnya banyak café-café dan restoran buat duduk santai bareng teman, maupun pasangan. Yang jomblo ya, mantengin aja dari jauh. Hahaha.

Ada banyak landmark kota Praha di Old Town Square ini. Yang paling terlihat mencolok jika dilihat dari tengah Square adalah dua menara kembar gereja bergaya arsitektur Gothic, berwarna hitam, bercahaya putih kebiruan, yang menjulang tinggi, bersembunyi di balik deretan bangunan Baroque dan Renaissance, salah satunya adalah Tyn School, yang dulunya merupakan sekolah gerejawi terkenal sejak abad ke-13, sebelum akhirnya berkembang menjadi kompleks perdagangan dan perumahan saat ini. Gereja yang memikat mata saya ini (karena arsitekturnya) adalah Gereja Our Lady Before Tyn, yang dibangun antara pertengahan abad ke-14 hingga awal abad ke-16 M, dan menjadi pusat komunitas Husite (pengikut Jan Hus) di Praha pada masa reformasi Jan Hus. Jadi, walaupun hampir seluruh bagian gereja tertutup oleh Tyn School, gereja inilah yang paling mencolok, karena kontrasnya gaya arsitektur gereja ini dari bangunan di sekelilingnya, dan cahaya putih kebiruan dari lampu yang menyinarinya. Tapi justru, efek visual inilah yang membuatnya memiliki kesan unik dan khas pada lanskap Old Town Square.

Karena pesona dari menara kembarnya yang ‘mengintip’ dari balik bangunan-bangunan Baroque ini jugalah, yang membuat gereja cantik lainnya yang ada di Old Town Square ini redup dan sering terlupakan, padahal cakep juga. Gereja yang saya maksud adalah Gereja St. Nicholas berwarna putih dengan gaya arsitektur Baroque nya yang elegan. Atapnya berwarna hijau akibat pengaruh oksidasi tembaga, seperti pada banyak bangunan Baroque di Eropa. Gereja ini dihiasi dengan berbagai patung dan elemen dekoratif, membuatnya makin elegan dan menarik untuk dilihat. Tapi menurut saya, walaupun cakep juga, memang wajar sih gereja ini tertutupi pamornya oleh arsitektur Gothic-nya Gereja Our Lady.

Selain dua gereja ini, ada juga monumen-monumen ikonik, di antaranya adalah Monumen Jan Hus dan Kolom Maria (Mariánský sloup). Patung besar berwarna hitam di atas batu yang bisa kita lihat dengan mudah di tengah alun-alun, adalah monumen Jan Hus, seorang reformis agama yang berpengaruh di Ceko yang hidup pada abad ke-14 akhir hingga abad ke-15 awal. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap Gereja Katolik Roma di abad ke-15 karena menentang praktik korupsi gereja, khususnya penjualan indulgensi (surat pengampunan dosa) dan penyimpangan dalam kepemimpinan gerejawi. Patung ini memiliki nuansa dramatis, menggambarkan Hus dan para pengikutnya, yang berjuang untuk reformasi gereja saat itu. Patung ini berdiri sebagai simbol kebebasan, nasionalisme Ceko, dan perlawanan terhadap penindasan. Cahaya lampu kota di malam hari, membuat patung ini semakin menonjol, menciptakan kesan yang penuh makna historis.

Sedangkan monumen berwarna putih yang menjulang tinggi, dengan patung Bunda Maria di puncaknya, adalah Kolom Maria (Mariánský sloup). Kolom Maria dulunya didirikan pada tahun 1650 M oleh Kaisar Ferdinand III sebagai tanda Syukur atas kemenangan Praha melawan Swedia pada Perang Tiga Puluh Tahun. Kolom asli dihancurkan pada tahun 1918 oleh massa anti-Habsburg karena dianggap sebagai simbil penindasan Habsburg, sebelum akhirnya Kolom Maria direkonstruksi kembali pada tahun 2020. Detail ukiran malaikat di sekelilingnya menambah kesan keindahan Baroque yang elegan, terutama saat terkena cahaya malam.

Ke kompleks Old Town Square, belum afdhol tampaknya kalau belum mengunjungi landmark kota satu ini, Prague Astronomical Clock. Dibangun pertama kali pada tahun 1410 M, Prague Astronomical Clock adalah salah satu jam astronomi tertua di dunia yang masih berfungsi. Yang membuat situs ini sangat mempesona tentu saja adalah arsitektur gaya Gothic nya yang tampak misterius dan megah. Jika kalian paham tentang cara kerja jam astronomi, tentulah kalian akan mengagumi visual jam ini. Jam astronomi ini menampilkan posisi matahari dan bulan di langit, waktu matahari, waktu bintang, serta berbagai fase bulan. Latar belakangnya terdiri dari warna biru untuk langit siang, hitam untuk malam, dan jingga untuk waktu senja. Ada juga cincin zodiak yang menunjukkan tanggal dalam kalender astrologi. Jika kalian perhatikan, ada empat figur unik di sisi jam yang maing-masing melambangkan makna filosofis: Kematian (kerangka/tengkorak memegang lonceng), Keserakahan (pria dengan kantong emas). Kesenangan Duniawi (pemuda melihat cermin), dan orang Turki (melambangkan ancaman Kekaisaran Ottoman terhadap Eropa Kristen saat itu. Dengan keindahannya dan nilai sejarah dibaliknya, wajar jika Prague Astronomical Clock menjadi salah satu landmark kota Praha paling terkenal saat ini.

     

Masih jam setengah 9 nih, waktu malam cukup panjang. Saya lihat lagi G-maps, mencari tempat-tempat yang belum saya tandai, sambil saya ambil jalur memutar ke Charles Bridge nanti. Wah, ada nih, Prague Jewish Quarter dan The Old-New Synagogue. Sepertinya kompleks sekitar sana itu pusat komunitas Yahudi. Yuk, ke sana! Dari Old Town Square, cukup jalan kaki aja 5 menit, nyampe deh. Agak sulit ya untuk menemukan Sinagog ini karena lumayan tertutup dan kurang terlihat dari jalan raya. Old-New Synagogue (Staronová Synagoga) adalah salah satu sinagoga tertua di Eropa dan bahkan yang tertua di Eropa Tengah. Dibangun pada akhir abad ke-13, sinagoga ini menjadi saksi bisu sejarah panjang komunitas Yahudi Praha. Jadi, dalam sejarahnya, sinagoga ini dibangun sekitar tahun 1270 dalam gaya Gothic awal, menjadikannya salah satu sinagoga tertua di Eropa yang masih aktif. Awalnya disebut “New Synagogue”, karena menggantikan sinagoga yang lebih tua. Namun, ketika sinagoga baru lainnya dibangun, namanya berubah menjadi “Old-New Synagogue”. Ketika Nazi menduduki Praha pada PD II, banyak sinagoga dihancurkan, tetapi Old-New Synagogue selamat karena Hitler konon ingin menjadikannya bagian dari ‘Museum Ras yang Punah’ (Museum of the Extinct Race), Yah walaupun menurut The Czech Memorial Scroll Trust, informasi ini gak pernah terbukti, sih. Jika bicara arsitekturnya, sinagoga ini memiliki bentuk yang unik, di mana bangunan ini dibangun dari batu dengan desain persegi panjang (rectangular). Yang paling mencolok sih atap pelana ganda segitiganya yang tinggi berwarna coklat, dengan genting berwarna oranye di belakangnya. Di malam hari, tempat ini tampak sepi dan cukup gelap. Gak tau dah kalau pagi dan siang. Sampai saat ini, sinagoga ini masih menjadi salah satu tempat ibadah terpenting bagi umat Yahudi di Praha.

Oh, Old-New Synagogue ini ternyata merupakan bagian dari kompleks Prague Jewish Quarter itu sendiri, guys. Jadi kita dari tadi udah masuk ke kompleks nya. Prague Jewish Quarter, memiliki nilai historis yang tinggi bagi komunitas Yahudi, dan telah masuk dalam list UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1992. Selain Old-New Synagogue, ada Old Jewish Cemetery, yang juga menjadi situs kunjungan utama lainnya di sini. Tapi ya, ngapain ke kuburan malam-malam, kan. Mending lanjut aja terus ke depan, kita lihat ada apa lagi di Maps. Jalan lurus terus ke depan, ternyata ada Sungai Vltava, ada Boat Cruises, jadi bisa lihat kapal yang lewat malam-malam. Darisana, kita bisa menyebrang jembatan, naik tangga menuju Letna Park yang cukup luas. Tapi kita gak akan ke semua sisinya, cukup ke spot view pemandangan terbaiknya aja. Kan kalau di G-Maps ada logo kamera tuh, ya tempat-tempat ini yang kita datangi. Barulah, dari sana kita naik transum ke Charles Bridge sebagai penutup jalan-jalan di Praha. Oke, Let’s go.

Gak sampai 10 menit jalan kaki, saya sudah tiba di tepi sungai Vltava. Saat ini kapal-kapal ini sudah gak beroperasi lagi, karena sudah malam. Tapi cukup bagus kalau kita foto, scenenya pas. Sungai yang tenang berpadu dengan kapal layar putih yang terparkir rapih di bawah jembatan kecil.

Saya kemudian jalan lagi lurus ke depan, menyebrangi jembatan, kemudian naik tangga ke atas -kita akan melihat Praha dari ketinggian. Google Maps mengarahkan saya ke satu spot foto yang ditandai dengan nama Vhylidka na Letne. Sebenarnya ada banyak Best point of view di Letna Park, tinggal kalian pilih aja yang paling sesuai. Tempat yang saya datangi ini menyediakan bangku dan pagar setengah lingkaran yang bikin kita gampang untuk memotret dari atas. Tempat ini terletak di depan sebuah bangunan yang saya gak tau ini tuh apa. Tapi atap Baroque nya cakep sih. Ada beberapa payung besar juga yang sudah ditutup, mungkin itu cafetaria kali. Yahhh, sejujurnya cukup enjoy sih duduk di sini. Tapi karena saya sendiri yaaa, tujuan nya buat foto-foto doang. Dan sayangnya, kamera sangat tidak mendukung untuk memotret view kota dari atas di malam hari, buremnya minta ampun, dah! Apalagi video, wkwk. Di dekat tempat ini ada danau yang sepertinya cukup bagus di siang hari, tapi di malam hari gak ada pencahayaan jadinya ya gelap aja gitu. Saya sebenarnya sempat jalan terus cari-cari tempat spot foto lain, tapi gak ada yang pas. Memang kalau view dari ketinggian tetap Budapest sih juaranya. Dah lah, langsung turun aja.

Dari pemberhentian terdekat, saya naik tramway nomor 17. Jaraknya gak jauh, sekitar 15 menitan aja, sudah termasuk dengan jalan kaki juga. Tramway Praha ini lucu sih bentuknya, kayak Thomas and Friends, tau gak? Ukurannya kecil, warna merah dan putih minimalis. Jadi unyu gitu dia kesannya, hahaha.

Charles Bridge (Karlův most) mungkin bisa dibilang sebagai salah satu landmark kota Praha paling terkenal, atau malah yang paling terkenal. Jembatan ini terkenal karena sejarahnya yang kaya, arsitekturnya yang megah, serta pemandangan indah yang ditawarkannya. Jembatan ini memiliki sejarah yang panjang dan karenanya punya nilai yang penting bagi kota Praha. Dibangun pertama kali oleh Raja Charles IV pada tahun 1357, jembatan ini memainkan peran penting dalam menghubungkan Kota Tua (Old Town) dan Lesser Town (Malá Strana), menjadikannya jalur perdagangan utama di Bohemia. Jembatan ini dibangun dengan arsitektur Gothic yang megah, terlihat dari gapuranya sangat besar, dengan banyak detail ukiran dan patung yang menghiasinya. Yang bikin daya tarik wisatanya makin hidup, ada banyak seniman jalanan, musisi, dan pedagang souvenir di sekitar jembatan, membuat tempat ini selalu ramai, termasuk malam ini juga. Tapi sih, sepertinya tingkat keramaian saat ini masih relatif aman. Karena, kata teman saya yang ke Praha pas tahun baru, Charles Bridge penuh banget, sampai orang gak lewat. Waduh…kebayang, sih. Soalnya jembatan ini ukurannya kecil, dan memang diperuntukkan untuk pejalan kaki saja saat ini.

Sebenarnya, waktu terbaik untuk berkunjung ke jembatan ini tuh menjelang sunset sih, karena langit masih sore, dan pemandangan view sekitar juga masih jelas, ditambah cahaya matahari yang terbenam, ya ajib, pak! Ini karena saya datangnya malam, bangunan-bangunan sekitar gak terlalu terlihat jelas. Apalagi di kamera HP saya, makin gak jelas lagi. Hahaha.

Di sepanjang jembatan, terdapat 30 patung bergaya Baroque yang ditambahkan pada abad ke-17 dan abad ke-18. Yang paling terkenal, tentu saja Patung St.John of Nepomuk, sang santo pelindung Ceko. Legenda mengatakan, bahwa jika seseorang menyentuh patungnya, mereka akan kembali ke Praha suatu hari nanti. Ya, kita mah gak percaya lah yang gitu-gituan, kan?! (Eh, tangan gak sengaja nyentuh, hehe).

            Mari akhiri trip kita malam ini di Charles Bridge ini. Sekarang juga sudah jam 10 lewat, sudah waktunya pulang istirahat, biar besok kita fresh lagi di Wina. Cerita sedikit, saya kelewatan Tramway yang harus saya naiki, akhirnya harus nunggu lagi cukup lama. Abis itu, saya juga sempat salah naik tramway waktu transit ke nomor yang lain. Sok tau aja gitu, ngiranya bisa juga, padahal beda jalur. Ujung-ujungnya naik bus. Dan saya baru sampai di hostel jam 12 malam. Di kamar, selain cewek Ukraina itu, ada teman cowoknya juga, yang sepertinya juga orang Ukraina karena mereka mengobrol pakai bahasa mereka. Saat ini, karena sudah malam, saya sepertinya gak bakal bangun waktu sahur. Sahur sekarang aja lah. Saya buka bekal, ada roti tawar beberapa lapis yang bisa saya makan. Roti ini saya tumpuk jadi 4 tingkat dengan isian telur dan sosis, dengan topping saus ABC. Alhamdulillah, segini udah kenyang banget, -enak pula. Bismillah, tidur.

            Bangun pagi, saya Salat Subuh ketika semua orang di kamar masih tidur. Kemudian saya mandi, beres-beres, dan ngaji lagi, satu juz. Lumayan bisa cukup menghabiskan waktu sambil nunggu jam 10. Gak lupa juga upload story di IG, mumpung masih dapat Wi-fi hostel yang kencang.

            Jam 10.55 pagi, bus saya berangkat dari terminal Florence, menuju Wina. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam 20 menit. Saya dijadwalkan untuk sampai di Wina jam 15.15 sore. Waktu yang cukup banyak untuk beristirahat.

            Selanjutnya di part Wina…..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?