Serunya Festival Busójárás: Festival Menyambut Musim Semi di di kota Mohács

Mohács, 01 Maret 2025

            Tanggal 27 Februari sampai dengan 4 Maret 2025 ditetapkan jadi tanggal festival Mohácsi Busójárás 2025, festival untuk ‘mengusir’ musim dingin dan menyambut musim semi yang akan datang. Tiap tahunnya, festival ini mengundang banyak sekali turis untuk datang ke kota Mohács, apalagi ketika Weekend Sabtu-Minggu. Raaamai sekali orang yang datang… Saya gak tau apakah kalau gak ada festival Busójárás, kota ini bakal sepi ya? Soalnya ada ribuan turis yang datang ke festival ini, membuat kota ini, terutama wilayah parade di dekat terminal bus Mohács jadi sangat ramai. Padahal, menurut sensus tahun 2022, penduduk kota Mohács hanya ada sekitar 17000 orang saja. Jadi kebayang seberapa ramai nya festival yang sudah masuk jajaran Warisan Dunia Tak Benda UNESCO ini, kan? Banyak stand makanan yang dibuka di kanan-kiri jalan, lapak oleh-oleh dan souvenir di mana-mana, penampilan tarian tradisional dengan iringan musik biolanya, juga pawai orang-orang Mohács yang memakai kostum Monster Busó dengan topeng monsternya yang khas. Festival ini tuh seeruuu banget! Bisa kalian jadikan itinerary wisata juga deh kalau kalian main ke Hongaria di akhir bulan Februari. Setelah mengunjungi keindahan kota Budapest pastinya, ya….

          Awalnya saya pertama kali tau akan ada festival di Mohács, karena ELB akan mengadakan trip ke sana pada hari Minggu, tanggal 2 Maret nanti. Melihat postingan feed di Instagram mereka, sepertinya festival ini sangat menarik. Tapi, karena ELB bakal menyewa bus sendiri sehingga tripnya jadi mahal, saya memilih untuk berangkat sendiri aja, bareng teman-teman saya. Saya akhirnya mengajak roommate saya, Reza dan Adil untuk berangkat ke sana. Mereka berdua baru tau kalau ada festival semacam ini setelah saya tunjukkan postingan IG ELB. Sebelumnya mereka gak tahu-menahu tentang ini. Makanya mereka sepertinya tertarik. Kami akhirnya berencana untuk naik kereta pada hari Jumat nanti, satu hari sebelum puasa. Obrolan ini ada, kira-kira dua minggu sebelum rencana keberangkatan.

      Hari Senin, tanggal 23 Februari, saya diundang untuk makan malam closingan sebelum puasa Ramadhan bareng anak-anak Indonesia lain di Budapest -Sirkelnya Mbak Novy. Dari sinilah saya kenal dengan lebih banyak lagi mahasiswa Indonesia di Budapest. Mereka juga ternyata punya planning yang sama untuk pergi ke festival, dan berencana untuk berangkat ke Mohács setelah Subuh jam 7 pagi hari Sabtu, 1 Maret nanti. Saya diajak untuk join juga, makanya saya membatalkan ajakan saya ke Adil dan Reza. Gimana lagi ya, kan. Nantinya, transportasi yang dipakai adalah bus rute Budapest-Mohács, yang tiketnya gratis kalau kita punya Hungary Pass. Baru pulangnya nanti, kita akan naik bus Mohács-Pecs, yang juga gratis. Dari terminal Pecs, kita akan jalan ke stasiun kereta Pecs untuk naik kereta rute Pecs-budapest dengan harga 650 HUF. Jadi biaya yang dikeluarkan hanyalah 650 HUF atau 28 ribu rupiah aja. Gak ada biaya makan karena kita puasa di hari itu. Buka puasanya pun rencananya bawa bekal dari rumah. Paling biaya toilet aja kalau kebelet buang air, atau beli oleh-oleh kalau minat. Ada sekitar belasan orang yang bakalan ikut ke trip ini……

          Dan hari Sabtu pun tiba, kami hanya berlima! Hahahaha. Pada cancel orang-orang dengan alasannya masing-masing. Saya, Ramdani, Mas Yasin, Cakra, dan Haekal, sudah stand by di terminal dari jam setengah 7 pagi, menunggu bus yang akan berangkat setengah jam kemudian. Terlihat ramai sekali orang yang mengantri untuk naik bus dengan tujuan Mohács ini. Untungnya, bus yang tersedia juga cukup banyak. Mungkin memang diakomodir untuk orang-orang yang hendak mengunjungi festival. Kami sempat bolak-balik mencari bus mana yang akan kami naiki, sebab orang-orang yang sudah melakukan reservasi tiket sebelumnya, diutamakan untuk naik duluan (harga reservasi tiketnya sekitar 3000an HUF).  Sedangkan kami yang gratisan, menunggu giliran belakangan. Tapi, Alhamdulillah kami bisa dapat seat tepat sebelum jadwal keberangkatan bus di jam 07.05 pagi. Di bus, saya sudah meniatkan dari awal untuk tidur sepanjang perjalanan, karena jam 3 pagi tadi, udah bangun awal untuk masak sahur -kurang tidur-. Di samping itu, memang saya tidur tuh gak nyenyak, karena mikirin keberangkatan Mohács ini. Bukannya apa-apa, tapi takut ketiduran dan kesiangan, terus ditinggalin. Untungnya ya namanya sahur hari pertama, orang-orang pada bangun semua waktu sahur. Termasuk Adil dan Rafi (teman kamar kami yang baru join) yang bangunin saya ketika itu. Kalau Reza sih dia gak puasa, jadi ya tidur.

         Jam 10, saya bangun dari tidur, membuka tirai jendela mencoba untuk memandang pemandangan sekitar. Kota ini tampak jauh lebih cantik daripada kota Esztergom. Rumahnya yang berwarna-warni tersusun rapi di perbukitan samping jalan. Beberapa berwarna pink, dan lainnya berwarna krem dengan tone yang seragam. Kotanya bersih banget. Mungkin teman-teman saya juga bingung waktu saya bilang, “kotanya bagus ya”. Soalnya yang ini lebih Eropa aja gitu, hahaha. Beda sama Esztergom yang saya pikir mirip dengan kota-kota kecil di Turki.

         Saat sudah masuk ke kota Mohács ini, orang-orang mulai berdesakan di bus. Banyak orang yang terpaksa berdiri sempit-sempitan di tengah karena banyaknya penumpang yang masuk, hendak ke festival juga. Setelah sekitar setengah jam orang-orang bersempit-sempitan, akhirnya mobil bus pun sampai di terminal Mohács, yang kebetulan bertempat dekat festival diselenggarakan.

            Kami berdiri sejenak mematung memerhatikan sekitar, sambil menunggu beberapa orang dari kami yang pergi ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, kami mulai bergerak ke arah keramaian. Tak jauh memang dari tempat kami turun dari bus, ada sebuah lapangan yang dikelilingi oleh berbagai food court yang menjajakan makanan-makanan khas Hongaria seperti Langos, Chimney, dan makanan-makanan lainnya; dari yang manis, sampai yang asin; dari cemilan-cemilan ringan, sampai makanan berat yang bikin kenyang. Di tengah-tengah kita bisa melihat tuh berbagai makanan yang menggiurkan ini, dari ujung ke ujung. Di satu sisi lapangan, ada kursi dan meja yang disiapkan untuk orang-orang agar bisa menikmati makanan dan minuman yang dibeli. Hemmmm, salah ini mah datangnya pas banget hari pertama puasa. Ujiannn…. oh….. ujiann. Di sisi bagian depan lapangan persegi panjang ini, terdapat sebuah panggung, yang tampaknya dipakai untuk penampilan-penampilan nantinya. Festival hari ini sepertinya belum dimulai, walaupun musik-musik sudah diputar dan orang-orang mulai berdatangan.

            Kami kemudian jalan lagi lebih jauh menyusuri jalan raya. Di sepanjang jalan raya ini, semua jenis jualan ada. Dari jualan makanan, jualan oleh-oleh, kostum, kerajinan tangan, macam-macam banget. Saya yang suka jajan oleh-oleh, tentunya tergoda melihat gantungan kunci dan tempelan kulkas yang terpajang di stand-stand itu. Tapi nanti lah ya belinya, di akhir aja.

            Setelah berjalan beberapa saat, kami menemukan sebuah tanah lapang lagi, kali ini lebih besar, dengan panggung yang juga lebih besar, terpasang di bagian depan lapangan. Di belakang panggung, terdapat beberapa bangunan besar berkubah hijau, sepertinya itu gedung pemerintah. Di tengah lapangan, terdapat tumpukan kayu bakar, yang sepertinya bakal dibakar di puncak acara hari Selasa malam nanti. Di satu sisi lapangan, terdapat gereja yang cukup cantik, berdinding putih kekuning-kuningan, dengan kubah setengah lingkaran berwarna hijau. Sekilas, bentuknya mirip masjid sih. Teman-teman saya pada masuk ke dalam, melihat-lihat interiornya. Sedangkan saya, tetap di luar, karena sepertinya gereja tersebut masih aktif difungsikan untuk ibadah orang kristiani. Tidak ada hajat untuk saya masuk ke dalam.

            Beberapa menit berlalu, panggung mulai ramai didatangi orang-orang. Tari Csárdás mulai ditampilkan. Tarian ini merupakan tarian petani Hongaria dari abad ke 18, tapi kemudian juga diadopsi oleh kaum bangsawan. Para penari memakai pakaian khas, laki-laki dengan celana hitam, rompi, kemeja putih dan topi tradisional Hongaria; sedangkan wanita mengenakan rok panjang dengan banyak lipatan, atasan bersulam, dan pita warna-warni. Diiringi dengan biola, Cimbalom (alat musik Hongaria),  dan alat musik lainnya, tarian ini dimulai dengan tempo lambat yang penuh ekspresi, berlanjut ke bagian cepat dan enerjik, di mana penari melakukan hentakan kaki, putaran, dan loncatan. Csárdás ditarikan berpasangan dengan gerakan yang harmonis dan bersemangat, sehingga nuansa yang dihadirkan pun asyik dan ‘rame’. Biasanya tarian ini ditampilkan di berbagai acara rakyat Hongaria, termasuk di festival Busójárás ini.

            Setelah tarian ini usai, penampilan berlanjut. Anak-anak perempuan dengan gaun dan rok panjang berlipit, tapi dengan warna yang lebih cerah daripada yang dikenakan oleh penari dewasa, juga para remaja laki-laki yang berpakaian sama dengan penari dewasa -berpakaian formal- mulai naik ke atas panggung. Saya tanya ke chat GPT sih, sepertinya ini juga tarian Csárdás versi anak-anak, yang serupa tapi lebih sederhana. Btw, durasi tarian Csárdás cukup panjang dengan tempo yang semakin lama, semakin enerjik. 


            Waktu masih menunjukkan pukul 12.30 siang, sedangkan parade baru akan dimulai jam 2 siang nanti. Meskipun, saat ini pun sudah banyak orang dengan kostum Busó nya keluar di jalan-jalan. Untuk mengisi kekosongan ini, kami berlima ingin berkunjung ke Mohács Historical Memorial Site, yang merupakan monumen untuk memperingati peristiwa Battle of Mohács tahun 1526 antara Kerajaan Hongaria dan Kesultanan Ottoman.

Setelah melihat bahwa kami masih punya cukup waktu untuk berkunjung, kami beranjak ke terminal bus untuk berangkat menuju ke sana. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 20 menit. Memorial Site ini terletak tepat di samping jalan raya yang tidak terlalu besar, dengan banyak sawah dan pepohonan yang tumbuh di sekitar -tempat ini tidak berada di pemukiman warga. Di depan gedung, ada sebuah batu berbentuk lempengan persegi panjang, dibentuk seperti semacam prasasti yang menjelaskan sejarah Battle of Mohács. Batu memorial itu menjelaskan bahwa perang yang terjadi pada tanggal 29 Agustus tahun 1526 tersebut merupakan kekalahan telak bagi Kerajaan Hongaria, sehingga Battle of Mohács, sering juga disebut sebagai “Disaster of Mohács”, saking parahnya dampak yang diterima Hongaria ketika itu. Pada saat itu, sekitar 75-80 ribu pasukan Turki Ottoman yang dipimpin oleh Sultan Suleiman I (The Magnificient) berhasil mengalahkan 25 ribu pasukan Kerajaan Hongaria yang dipimpin oleh King Louis II. Haekal yang kayaknya tau banyak tentang Battle ini, bercerita bahwa King Louis II ketika itu masih berumur 20 tahun, sehingga jiwa mudanya masih berkobar-kobar. Karena usianya yang belum matang ini juga, ia ceroboh dalam mengambil keputusan dalam perang, yang menyebabkan kekalahan telak bagi Kerajaan Hongaria saat itu. Usia yang masih sangat muda itu pula berpengaruh besar pada nasib Kerajaan setelah kematiannya. Karena saat itu, King Louis II belum mempunyai keturunan resmi atau putra mahkota, (fakta menariknya, beliau mempunyai seorang ‘illegitimate child’ atau anak haram bernama John atau Janos menurut bahasa setempat. Oleh karena itu, statusnya tidak bisa dihitung sebagai penerus Kerajaan) sehingga perpecahan mengenai siapa penerus Kerajaan pun tak dapat terelakkan. Akibat kekalahan ini, Hongaria terbagi menjadi tiga wilayah, dimana Raja Hongaria hanya berhasil menguasai bagian Barat dan Timur negara tersebut. Status Kerajaan Hongaria sebagai salah satu kekuatan besar di Eropa kala itu pun redup seketika setelah kekalahan mereka di Battle of Mohács ini. Btw, monumen ini merupakan monumen terbuka -outdoor- di sebuah lapangan besar. Tapi, untuk bisa masuk ke sana, kita harus membayar 2000 HUF. Haekal ngebet mau masuk, tapi karena yang lain pada mau simpan uangnya aja buat makan di Tao (Restoran Asia di Budapest yang biasa jadi langganan orang Indonesia), akhirnya gak jadi dia masuk. “Kalau ada yang mau bareng masuk, gas nih gw”, katanya. Tapi ya gak ada…. Hemmm, sayang-sayang duit. Lihat Google aja cukup hehe.

Kami cukup lama berada di sana, karena bus menuju terminal pun lewatnya 20 menit sekali. Sekitar pukul setengah 2 siang, bus sampai ke depan monumen. Tapi kala itu, bus sangat ramai. Penuh bangettt. Meski begitu, kami tetap memaksakan diri untuk masuk. Sebab, kalau kami gak naik bus sekarang, kami bakal ketinggalan parade yang dimulai sebentar lagi. Ya sudah, sempit-sempitan kami selama 20 menit ke depan. Di sini, kami sempat diajak ngobrol oleh salah seorang ibu-ibu lokal, yang tampak ramah. Tapi, dia gak bisa bahasa Inggris, sehingga yang bisa menanggapi dia hanya Cakra dan Ramdani aja. Sisanya, kami cuman bisa berbahasa Inggris. Di Budapest memang gak terlalu butuh untuk bisa bahasa lokal. Hanya jadi poin plus saja. Beda dengan Turki, yang kalau mau apa-apa lancar, harus bisa berbahasa lokal.

Jam 2 kurang 10 menit, kami sampai di terminal. Menit-menit yang cukup panjang yaaa di dalam bus. Sebelum ke parade, kami salat dulu jamak Dzuhur-Ashar di waiting room terminal. Wudhu, kami ambil di wastafel kamar mandi. Fee-nya 200 HUF atau sekitar 0,5 EUR. Pembayarannya pun Cash Only pula. Dari kami, hanya Mas Yasin yang bawa sedikit cash di dompetnya. Makanya, urusan toilet ditalangin dulu semuanya sama dia.

Kami berjalan menuju jalan raya yang kini sudah dipadati oleh orang-orang. Parade tampaknya baru benar-benar dimulai. Banyak sekali orang yang memakai kostum monster berbulu dengan topeng seram bertanduk hitam, baik kostum putih ataupun hitam. Dan orang-orang berkostum ini sangat ramah sekali. Mereka melayani semua orang yang mengajak mereka berfoto, termasuk kami tentunya.

 Semakin lama pengunjung makin ramai, parade gerobak atau mobil pembajak sawah yang dimodif sedemikian rupa, berlalu di depan orang-orang. Mobil-mobil ini mengangkut orang-orang yang memakai kostum Busó, dan juga beberapa wanita cantik yang memakai topeng hitam di matanya. Topeng yang biasanya dipakai orang-orang party itu loh, kalau di film-film. Di salah satu rombongan yang lewat, ada sebuah pasangan Busó yang bergandengan tangan, berjalan di belakang kendaraan pawai. Pasangan ini berhasil kami rekam. Selain mereka, ada juga rombongan yang memakai pakaian serba hitam, dengan dandanan mirip Mak Lampir, mana pas kami videoin dia, dia ketawa sambil julurin lidah lagi, hahaha. Lucu banget dah! Memang banyak orang-orang lawak di sini. Jadinya, parade ini jauh dari kesan kaku, melainkan fun banget.



Kami lanjut jalan terus menuju ke sungai. Yups, gak salah lagi, Sungai ini yaaa Sungai Danube, yang kalau kita ikuti arusnya bakal sampai juga ke Serbia. Di sana kami berfoto bareng dengan latar sungai. Ada banyak orang jual bendera kecil Hongaria dengan harga murah. Mas Yasin, satu-satunya orang yang pegang cash pun beli. Saya juga bakal beli sih kalau ada cash, wong jualnya cuman 10 ribuan rupiah aja loh dia. Setelah berfoto, kami dipanggil oleh seorang bapak-bapak di atas, (posisi sungai berada di bawah setelah sedikit turunan) ketika kami menoleh, kami dilempari beberapa permen. Permen karet, permen kopi, dan sejenisnya. Wah, mantap. Köszönöm!

Kami kemudian kembali lagi ke keramaian, ke parade yang semakin meriah. Di sana kami mengajak foto lagi orang-orang berkostum itu, yang selalu diterima dnegan baik oleh mereka. Ini gak tau apa sistemnya orang-orang ini punya kostumnya sendiri di rumah, atau mereka menyewa, atau mereka memang dipinjamkan pemerintah untuk meramaikan festival ini. Apapun caranya, festival ini terbilang sangat sukses. Karena festival ini telah masuk jajaran warisan dunia oleh UNESCO, acara tahunan ini pun kabarnya didanai juga oleh PBB.

Ada satu hal yang saya perhatikan dari tadi, ada satu mainan pistol dari kayu, yang kalau kita putar-putar, keluar suara unik yang nyaring. Mainan ini dibawa oleh banyak sekali orang, dari anak-anak sampai bapak-bapak. Pengen beli juga rasanya…. Tapi harganya lumayan, 800 sampai 1000 HUF. Cukup saya rekam video saya sendiri sambil mainin itu aja lah ya… Hahaha. Mending duitnya buat beli souvenir lain seperti tempelan kulkas aja. Saya beli itu dua, dengan total harga 1100 HUF atau sekitar 2,75 EUR. Dan segini doang juga yang saya keluarkan untuk menghadiri acara ini. Mungkin kalau saya gak puasa, bakal banyak makanan yang udah saya coba. Tapi karena puasa ya mesti sabar sabar… Bukaan-nya pun pakai bekal yang sudah dingin, hasil masakan tadi subuh + ada makanan Pakistan yang saya lupa namanya apa, tapi enak dan bikin kenyang, dikasih sama Adil dan temannya, Shami.

Jam setengah 4 sore, kami kembali naik bus, pulang ke Budapest. Ini sebenarnya di luar rencana kami, yang rencana awalnya, bakal pulang naik kereta dari Pecs. Eh ternyata ada bus langsung jurusan Mohács-Budapest, gratis pula pakai Hungary Pass, ya gass lah!

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Sehingga ketika Maghrib tiba, kami masih di jalan. Kami buka puasa dengan makan kurma yang saya beli di Kashmir Bazaar beberapa hari yang lalu. Tapi sepertinya, yang bawa bekal makanan berat untuk buka puasa kali ini hanya saya sendiri.

Jam setengah 7 malam, kami sampai di terminal Nepliget. Mereka berempat, mau lanjut buka puasa di Tao, sedangkan saya, yang sudah kenyang, pulang langsung ke rumah, pengen cepet istirahat biar bangun sahur besok gak telat.

Overall, festival Busójárás di Mohács sangat worth it untuk dikunjungi, apalagi untuk yang berkesempatan tinggal atau studi di Hongaria. Festival tahunan ini dilaksanakan setiap akhir musim dingin, menjelang musim semi. Update info tentang festival ini tersedia kok di website mereka, www.MohácsiBusójárás.hu beserta penjelasan singkat tentang tradisi suku Sokacs Mohács yang berakar pada abad ke 18 ini. Walaupun unsur tradisional nya sudah banyak yang hilang, tapi festival ini sangat-sangat dibikin asyik, menyesuaikan kebutuhan Tourism saat ini.

Mantap, Mohács! Thanks juga buat teman-teman yang sudah menemani seharian ini.

Selanjutnya, InsyaAllah catatan perjalanan Bratislava-Praha-Wina. Semoga terus istiqomah merekam semua jejak perjalanan seru lainnya. See you di catatan berikutnya!   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelajahi Keindahan Kota-kota Cantik di Eropa -Edisi 1- (Part Wina)

Erasmus: Kesempatan Besar bagi Para Pelajar Indonesia di Turki

Lake Bled, Pemanasan Sebelum ke Swiss?