Berburu Malam Lailatul Qadr sebagai Muslim Minoritas di Budapest, Hongaria
![]() |
| I'tikaf di Masjid At-Taqwa, Budapest, Hongaria |
Budapest,
27 Maret 2025
Ramadhan adalah
bulan yang istimewa bagi seluruh umat muslim di seluruh dunia. Di bulan ini,
pahala dilipatgandakan, dosa-dosa diampuni, dan keberkahan dilimpahkan. Di
antara hal-hal spesial yang ada di bulan Ramadhan, adalah Malam Lailatul Qadr,
malam yang dimana amal ibadahnya, bernilai lebih baik dari ibadah selama seribu
bulan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Qadr (QS.97:1-5) :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul
qadar.(1) Tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? (2) Malam Lailatul qadar
itu lebih baik daripada seribu bulan. (3) Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin
Tuhannya untuk mengatur semua urusan.(4) Sejahteralah (malam) itu sampai terbit
fajar. (5)”
Ada banyak sekali
hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk
menghidupkan malam dan mengisinya dengan amal ibadah, untuk mengejar kemuliaan
malam Lailatul Qadar.
Di antaranya
adalah hadits dari Aisyah RA. ia berkata, “Ketika sepuluh malam terakhir (pada
bulan Ramadhan) tiba, Nabi Muhammad SAW menghidupkan malamnya, membangunkan
keluarganya, dan mengencangkan sarungnya (pakaian bawahnya) (Muttafaq Alaih).
Malam Lailatul
Qadr, terjadi di antara sepuluh malam ganjil terakhir pada Bulan Ramadhan,
berdasarkan pada hadits Nabi SAW, dari Aisyah R.A. bahwa Rasulullah SAW
bersabda: “Carilah Lailatul Qadr pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir
bulan Ramadhan” (HR.Al-Bukhori).
Dikatakan bahwa
Rasulullah SAW, ketika memasuki sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan,
selalu mengisi malam-malamnya dengan melakukan I’tikaf di masjid. Ibadah ini
terus beliau lakukan sampai beliau wafat. Hal ini menunjukkan adanya anjuran
yang benar-benar ditekankan oleh Nabi SAW agar umatnya ‘memburu’ kemuliaan
malam Lailatul Qadr.
Lalu, bagaimana
dengan ibadah Ramadhan bagi umat Muslim yang hidup sebagai minoritas di
negara-negara Eropa? Apakah mereka mengalami kesulitan dalam meraih keutamaan
malam Lailatul Qadr? Dalam tulisan ini, penulis yang merupakan Mahasiswa
Erasmus+ di Kodolanyi Janos University, Budapest, Hongaria, akan membagikan
cerita pengalamannya dalam upaya meraih kemuliaan malam Lailatul Qadr yang ada
di antara sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Budapest adalah ibu kota Hongaria yang terletak di Eropa Tengah. Dengan penduduk lebih dari dua juta jiwa, kota ini telah berkembang menjadi pusat kosmopolitan, yang dihuni oleh orang-orang dengan berbagai latar belakang. Budapest juga telah menjadi salah satu destinasi favorit bagi pelajar internasional yang ingin melanjutkan studinya di berbagai universitas ternama di Eropa. Tak heran jika saat ini, banyak imigran yang menetap di Budapest, baik untuk bekerja, maupun untuk menempuh pendidikan. Di antara imigran-imigran ini pula, terdapat komunitas Muslim yang cukup besar, terutama dari Jazirah Arab, Turki, dan Asia Selatan di kota ini. Kehadiran mereka turut berperan penting dalam menghidupkan suasana Ramadhan di salah satu kota tercantik di Eropa ini.
Di Budapest,
terdapat lebih dari lima masjid yang dapat ditemukan. Seperti di banyak negara
Eropa lainnya, masjid-masjid di Budapest umumnya tidak berbentuk sebagai
bangunan berdiri sendiri dengan kubah dan menara di sampingnya. Sebagian besar
masjid di sini berada di dalam gedung yang menyatu dengan bangunan lain, dengan
hanya sedikit tanda pengenal seperti tulisan Arab atau kata "Masjid"
di pintu depannya. Karena itu, menemukan masjid di kota ini bisa menjadi
tantangan tanpa adanya informasi sebelumnya.
Meskipun hidup
sebagai minoritas di tengah kota Budapest, hal itu tidak menghalangi komunitas
muslim di sini untuk menghidupkan suasana Ramadhan. Setiap hari selama bulan suci
ini, semua masjid di Budapest menyediakan buka puasa gratis saat Maghrib, yang
kemudian dilanjutkan dengan Salat Isya dan Tarawih berjamaah.
Ketika memasuki
sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beberapa masjid, termasuk Masjid
At-Taqwa, yang dipimpin oleh Imam Syekh Ahmad Abdul Aziz, juga memfasilitasi
para jamaah dalam melakukan ibadah I’tikaf di masjid mereka.
Salat Tarawih
di Masjid At-Taqwa dilaksanakan dalam delapan raka’at, dengan kultum singkat
yang disampaikan oleh Imam setelah empat raka’at pertama. Setelah tarawih usai,
banyak Jamaah yang tidak langsung pulang, melainkan menetap di masjid untuk
ber-I’tikaf, dengan harapan mendapat kemuliaan malam Lailatul Qadr.
Pada pukul
12.30 dini hari, Salat Tahajud didirikan, dengan jama’ah yang mulai ramai
berdatangan. Salat Tahajud ini dilaksanakan sebanyak sepuluh raka’at dengan
jeda istirahat di setiap dua raka’atnya. Terkadang, Imam juga menyampaikan
tausiyah setelah empat raka’at pertama. Ibadah Salat Tahajud ini berlangsung
selama dua jam, hingga pukul 2.30 dini hari.
Pada pukul 3
dini hari, para jamaah berkumpul dan membentuk saf rapi yang saling berhadapan,
bersiap untuk menyantap hidangan sahur yang telah disediakan secara gratis oleh
pihak masjid. Hidangan yang disajikan bervariasi setiap harinya, mulai dari
nasi ayam, menemen, udang goreng, dan berbagai hidangan lainnya.
Setelah sahur,
para jamaah menunggu waktu Subuh tiba dengan membaca Al-Qur’an. Setelah Salat
Subuh selesai, mayoritas jamaah pulang ke rumah untuk melanjutkan aktivitas
masing-masing, sementara sebagian lainnya tetap di masjid. Mereka berkumpul
dalam halaqah (setengah lingkaran) untuk membaca Al-Qur'an bersama
Syeikh Ahmad.
Usai halaqah,
para jamaah biasanya berpencar ke sisi-sisi masjid, mengisi waktu dengan
membaca Al-Qur’an atau berdzikir. I’tikaf ditutup dengan Salat Dhuha ketika
waktu syuruq (matahari terbit) tiba. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa
yang melaksanakan shalat subuh secara berjama’ah kemudian dia duduk berdzikir
hingga terbitnya matahari, lalu mengerjakan dua raka’at Salat Dhuha, maka dia
telah mendapatkan pahala yang setara pahala haji dan umrah. Pahala yang
sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi)
Menjadi
minoritas di negeri orang, tidak membuat umat muslim di sini, melupakan
kemuliaan bulan Ramadhan, terutama keutamaan Malam Lailatul Qadr. Semangat kaum
Muslimin di Budapest dalam upaya meraih keberkahan di bulan Ramadhan, dapat
menjadi contoh nyata bagi kita umat muslim di manapun kita berada, agar tidak
menyia-nyiakan fadhilah bulan Ramadhan untuk mengisinya dengan
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan beribadah kepada Allah SWT, khususnya
dengan melakukan I’tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Semoga kita
senantiasa di-ridhoi oleh Allah dan dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan
tahun depan. Amin Ya Rabbal Alamin.



Komentar
Posting Komentar